Reconstructing Welfare through the Capability Approach: A Critique of Consumption Rationality in Behavioral Economics Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan dalam Perspektif Capability Approach: Kritik terhadap Rasionalitas Konsumsi dalam Ekonomi Perilaku Rahmat Saputra1. Fata Habiburrahman2. Rahmat Nazli3. Karisma Dewi4. Zulpri5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Hikmah Aceh Barat. Aceh. Indonesia Email Korespondensi: rahmat@staidarulhikmah. Abstract This study aims to reconstruct the concept of welfare through the integration of the capability approach developed by Amartya Sen and insights from Behavioral Economics. The background of this research lies in the limitations of the utilitarian framework in conventional economics, which tends to measure welfare based on consumption and utility while neglecting the dimensions of freedom and human This study employs a qualitative method using a library research design, with philosophical and conceptual approaches. The findings indicate that individual economic behavior is not fully rational but is influenced by cognitive biases, emotions, and social structures, implying that consumption does not necessarily reflect true welfare. On the other hand, the capability approach emphasizes that welfare should be understood in terms of individualsAo real opportunities to achieve valuable ways of living. The integration of these two perspectives provides a more comprehensive analytical framework that not only explains how individuals behave but also normatively evaluates the quality of life. This study concludes that welfare should be reoriented from a utility-based perspective toward a multidimensional capability-based approach, highlighting the importance of strengthening individual capacities in navigating the complexity of choices in the modern era. 80 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 Keywords: Capability Approach. Behavioral Economics. Welfare. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep kesejahteraan melalui integrasi capability approach yang dikembangkan oleh Amartya Sen dengan perspektif Ekonomi Perilaku. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada keterbatasan pendekatan utilitarian dalam ekonomi konvensional yang cenderung mengukur kesejahteraan melalui indikator konsumsi dan utilitas, tanpa mempertimbangkan dimensi kebebasan dan kemampuan individu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. , serta pendekatan filosofis dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku ekonomi individu tidak sepenuhnya rasional, melainkan dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, dan struktur sosial, sehingga konsumsi tidak selalu mencerminkan kesejahteraan yang sesungguhnya. Di sisi lain, capability approach menegaskan bahwa kesejahteraan harus dipahami sebagai kemampuan nyata individu untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Integrasi kedua pendekatan ini menghasilkan kerangka analisis yang lebih komprehensif, yang tidak hanya menjelaskan bagaimana individu bertindak, tetapi juga menilai kualitas hidup secara normatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesejahteraan perlu direorientasi dari pendekatan berbasis utilitas menuju pendekatan berbasis kapabilitas yang lebih multidimensional, serta menekankan pentingnya penguatan kapasitas individu dalam menghadapi kompleksitas pilihan di era Kata kunci: Capability Approach. Ekonomi Perilaku. Kesejahteraan. Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 81 Pendahuluan Diskursus meningkatnya kompleksitas kehidupan sosial dan ekonomi di era Paradigma dominan dalam Ekonomi Pembangunan secara historis cenderung mengidentikkan kesejahteraan dengan pertumbuhan ekonomi. Ukuran-ukuran tersebut kemudian direduksi dalam bentuk agregat seperti Produk Domestik Bruto (PDB), yang dianggap mampu merepresentasikan tingkat kemakmuran suatu masyarakat. Namun demikian, pendekatan ini semakin menuai kritik karena gagal menangkap dimensi kualitatif kehidupan manusia, termasuk kebebasan, martabat, dan kemampuan individu dalam menentukan pilihan hidupnya. Kritik menemukan momentumnya dalam pemikiran Amartya Sen melalui konsep capability approach (Ayuningsasi et al, 2. Sen menolak pandangan bahwa kesejahteraan dapat direduksi semata-mata pada akumulasi sumber daya atau tingkat utilitas. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya kapabilitas, yakni kemampuan nyata individu untuk mencapai fungsi-fungsi kehidupan yang mereka nilai berharga. Dalam kerangka ini, kesejahteraan tidak lagi dipahami sebagai Auapa yang dimilikiAy, melainkan Auapa yang dapat dilakukan dan menjadiAy . hat people are able to do and to b. Perspektif ini secara fundamental menggeser fokus analisis dari hasil ekonomi menuju kebebasan substantif manusia. 82 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 Di sisi lain, perkembangan Ekonomi Perilaku turut menggugat asumsi klasik mengenai rasionalitas manusia. Model homo economicus yang diasumsikan selalu rasional, konsisten, dan berorientasi pada maksimalisasi utilitas, terbukti tidak sepenuhnya mencerminkan realitas empiris. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keputusan ekonomi individu sering kali dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, norma sosial, serta keterbatasan informasi (Mufidah et al, 2023. Alifya, 2. Fenomena ini menjadi semakin kompleks dalam konteks ekonomi digital, di mana individu dihadapkan pada limpahan pilihan konsumsi yang justru dapat memperkuat ilusi kebebasan, alih-alih memperluas kapasitas reflektif dalam pengambilan Pertemuan antara pendekatan kapabilitas dan ekonomi perilaku membuka ruang analisis yang menarik sekaligus Di satu sisi, ekonomi perilaku mampu menjelaskan bagaimana individu bertindak dalam kondisi keterbatasan Namun di sisi lain, pendekatan tersebut belum secara memadai menjawab pertanyaan normatif mengenai apa yang seharusnya menjadi ukuran kesejahteraan manusia. sinilah relevansi pemikiran Sen menjadi krusial, karena ia menawarkan kerangka evaluatif yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga normatifAimenilai kualitas hidup berdasarkan kebebasan nyata yang dimiliki individu. Meskipun demikian, integrasi antara kedua pendekatan ini masih relatif terbatas dalam kajian akademik, khususnya dalam konteks analisis kesejahteraan dan perilaku konsumsi. Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 83 Banyak studi dalam ekonomi perilaku berhenti pada identifikasi bias dan anomali keputusan, tanpa melanjutkan pada refleksi lebih mendalam mengenai implikasinya terhadap konsep kesejahteraan itu sendiri. Sebaliknya, kajian mengenai capability approach sering kali bersifat normatif dan filosofis, tanpa cukup mempertimbangkan dinamika psikologis yang memengaruhi pilihan individu dalam praktik sehari-hari. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep kesejahteraan melalui integrasi antara capability approach dan ekonomi perilaku. Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan utama: . bagaimana keterbatasan rasionalitas dalam ekonomi perilaku memengaruhi pemaknaan kesejahteraan. bagaimana sintesis antara kedua pendekatan tersebut dapat memberikan kerangka analisis yang lebih komprehensif dalam membaca fenomena konsumsi Tinjauan Pustaka Kesejahteraan Tradisi Ekonomi Klasik Utilitarianisme Konsep kesejahteraan dalam tradisi ekonomi klasik berakar pada utilitarianisme yang memandang kesejahteraan sebagai agregasi kepuasan atau utilitas individu (Zainul Bahri & Aprilianti, 2. Dalam kerangka ini, individu diasumsikan 84 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 sebagai agen rasional yang secara konsisten berupaya memaksimalkan kepuasan melalui pilihan-pilihan ekonomi yang Oleh karena itu, indikator seperti pendapatan, konsumsi, dan preferensi individu dijadikan dasar utama dalam mengukur tingkat kesejahteraan. Paradigma ini kemudian berkembang dalam Ekonomi Pembangunan modern melalui penggunaan indikator makro seperti Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, pendekatan utilitarian menyimpan sejumlah keterbatasan mendasar. Pertama, ia mengabaikan distribusi kesejahteraan dan hanya berfokus pada agregasi total utilitas. Kedua, pendekatan ini tidak sensitif terhadap perbedaan kondisi individu dalam mengonversi sumber daya menjadi kesejahteraan Dua individu dengan tingkat pendapatan yang sama belum tentu memiliki kualitas hidup yang setara karena adanya faktor Ketiga, utilitarianisme cenderung mengabaikan dimensi kebebasan dan martabat manusia, karena fokus utamanya adalah pada hasil akhir . , bukan pada proses atau kemampuan untuk memilih. Kritik terhadap pendekatan ini kemudian membuka ruang bagi pengembangan konsep kesejahteraan yang lebih substantif, yang tidak hanya mempertimbangkan hasil, tetapi juga kondisi yang memungkinkan individu mencapai kehidupan yang Capability Approach: Reorientasi Konsep Kesejahteraan Sebagai respons terhadap keterbatasan utilitarianisme. Amartya Sen mengembangkan capability approach sebagai kerangka alternatif dalam memahami kesejahteraan. Dalam Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 85 karya utamanya. Development as Freedom. Sen menegaskan bahwa kesejahteraan seharusnya diukur berdasarkan kapabilitas individu, yaitu kebebasan nyata untuk mencapai berbagai fungsi kehidupan . yang mereka nilai penting (Miletzki & Broten, 2. Dalam pendekatan ini, terdapat pembedaan penting antara resources, functionings, dan capabilities. Resources merujuk pada sumber daya yang dimiliki individu, seperti pendapatan atau aset. Functionings adalah kondisi aktual yang dicapai, seperti menjadi sehat, terdidik, atau berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Sementara itu, capabilities mengacu pada himpunan peluang nyata yang tersedia bagi individu untuk mencapai berbagai functionings tersebut. Dengan demikian, fokus analisis bergeser dari kepemilikan sumber daya menuju kebebasan substantif dalam memilih kehidupan yang bernilai. Pendekatan kebebasan bukan sekadar ketiadaan hambatan formal, melainkan kemampuan nyata yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan institusional. Oleh karena itu, ketimpangan tidak hanya dipahami sebagai perbedaan pendapatan, tetapi juga sebagai ketimpangan dalam kapabilitas. Dalam konteks ini, pembangunan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai kebebasan manusia. Meskipun memiliki kekuatan normatif yang tinggi, pendekatan ini kerap dikritik karena kurang memberikan penjelasan empiris mengenai bagaimana individu benar-benar 86 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 membuat keputusan dalam kondisi nyata. Di sinilah relevansi integrasi dengan perspektif lain menjadi penting. Ekonomi Perilaku dan Kritik terhadap Rasionalitas Berbeda dengan asumsi rasionalitas dalam ekonomi klasik. Ekonomi Perilaku menawarkan perspektif yang lebih realistis mengenai perilaku manusia (Thaler. R, 2. Pendekatan ini menunjukkan bahwa individu sering kali tidak bertindak secara rasional dalam arti sempit, melainkan dipengaruhi oleh berbagai bias kognitif, emosi, dan konteks Konsep keterbatasan informasi, waktu, dan kapasitas kognitif membuat individu tidak selalu mampu mengoptimalkan pilihan mereka. Selain itu, berbagai bias seperti loss aversion, framing effect, dan present bias menunjukkan bahwa keputusan ekonomi sering kali menyimpang dari prediksi model rasional. Dalam konteks konsumsi, hal ini tercermin dalam perilaku impulsif, preferensi jangka pendek, serta kecenderungan mengikuti norma sosial atau Perkembangan teknologi digital semakin memperkuat dinamika ini. Algoritma, iklan personalisasi, dan desain platform dirancang untuk memengaruhi perhatian dan preferensi individu, sehingga pilihan yang diambil tidak sepenuhnya otonom. Dalam situasi ini, banyaknya pilihan tidak selalu berarti meningkatnya kebebasan, melainkan dapat menciptakan beban kognitif dan ilusi kontrol. Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 87 Meskipun ekonomi perilaku berhasil mengungkap berbagai anomali dalam pengambilan keputusan, pendekatan ini cenderung bersifat deskriptif dan kurang memberikan kerangka normatif untuk menilai apakah suatu kondisi dapat dianggap sebagai AusejahteraAy. Dengan kata lain, ekonomi perilaku menjelaskan bagaimana manusia bertindak, tetapi tidak secara eksplisit menjawab apa yang seharusnya menjadi tujuan dari tindakan tersebut. Sintesis Teoretis: Menuju Konsep Kesejahteraan yang Lebih Komprehensif Keterbatasan masing-masing pendekatan membuka ruang bagi sintesis teoretis antara capability approach dan ekonomi perilaku. Pendekatan kapabilitas menawarkan kerangka kebebasan substantif, sementara ekonomi perilaku memberikan pemahaman empiris mengenai bagaimana individu membuat keputusan dalam kondisi keterbatasan rasionalitas. Integrasi kedua pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih komprehensif terhadap kesejahteraan. Di satu sisi, kita dapat memahami bahwa individu tidak selalu mampu memanfaatkan peluang yang tersedia karena adanya bias dan keterbatasan kognitif. Di sisi lain, kita juga dapat mengevaluasi apakah struktur sosial dan ekonomi yang ada benar-benar memperluas atau justru membatasi kapabilitas individu. Dalam konteks konsumsi modern, sintesis ini menjadi sangat relevan. Banyaknya pilihan barang dan jasa sering kali dianggap sebagai indikator kebebasan, padahal dalam praktiknya 88 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 pilihan tersebut dapat dimanipulasi atau dibatasi oleh faktor Oleh karena itu, analisis kesejahteraan perlu melampaui ukuran konsumsi dan mempertimbangkan apakah individu benar-benar memiliki kapasitas reflektif dan kebebasan substantif dalam menentukan pilihan hidupnya. Dengan demikian, tinjauan pustaka ini menegaskan pendekatan multidimensional yang tidak hanya menggabungkan dimensi normatif dan empiris, tetapi juga mampu membaca dinamika sosial kontemporer secara kritis. Integrasi antara pemikiran Amartya Sen dan ekonomi perilaku menjadi langkah strategis untuk membangun kerangka analisis yang lebih relevan dalam memahami kompleksitas kesejahteraan di era modern. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. , yang berfokus pada analisis konseptual terhadap pemikiran Amartya Sen, relevansinya dengan Ekonomi Perilaku. Pendekatan ini dipilih karena tujuan penelitian bukan untuk menguji hipotesis empiris, melainkan untuk merekonstruksi dan mensintesis konsep kesejahteraan secara teoretis. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur. Data tersebut meliputi: Sumber primer, yaitu karya-karya dari Amartya Sen, serta tulisan-tulisan lain yang secara langsung membahas Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 89 capability approach. Sumber sekunder, berupa artikel jurnal ilmiah, buku, dan publikasi akademik yang membahas Ekonomi Perilaku, teori kesejahteraan, serta kritik terhadap rasionalitas dalam ekonomi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi, yaitu dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan mengorganisasi literatur yang relevan dengan fokus Proses ini dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan kredibilitas sumber, relevansi topik, serta kontribusi teoretis terhadap pembahasan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan beberapa tahapan: Analisis isi . ontent analysi. , untuk mengidentifikasi konsep-konsep utama seperti kapabilitas, rasionalitas, dan kesejahteraan dalam berbagai literatur. Analisis kritis, untuk mengevaluasi keterbatasan masing-masing pendekatan serta merumuskan sintesis konseptual yang lebih komprehensif. Hasil dan Pembahasan Hasil Keterbatasan Rasionalitas sebagai Realitas Perilaku Ekonom Temuan pertama menunjukkan bahwa asumsi rasionalitas penuh dalam ekonomi klasik tidak mampu menjelaskan perilaku ekonomi aktual. Literatur dalam ekonomi perilaku secara konsisten menunjukkan bahwa individu beroperasi dalam kondisi bounded rationality, di mana keterbatasan informasi, 90 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 kapasitas kognitif, dan tekanan lingkungan memengaruhi proses pengambilan keputusan. Dalam konteks konsumsi, individu tidak selalu bertindak berdasarkan pertimbangan optimal, melainkan sering kali dipengaruhi oleh bias seperti preferensi jangka pendek, efek framing, dan tekanan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pilihan konsumsi tidak sepenuhnya merefleksikan preferensi yang stabil dan otonom, tetapi merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal. Lebih lanjut, dalam ekosistem digital, struktur pilihan yang dihadapi individu tidak netral. Algoritma, desain antarmuka, dan strategi pemasaran berperan aktif dalam membentuk preferensi dan perilaku (Syah Abadi Mendrofa. Dengan demikian, keputusan yang diambil individu sering kali berada dalam ruang yang telah AudirekayasaAy, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pilihan tersebut benar-benar mencerminkan kebebasan. Redefinisi Kesejahteraan: Dari Utilitas ke Kapabilitas Temuan kedua menegaskan bahwa pendekatan utilitarian yang mendasarkan kesejahteraan pada utilitas atau kepuasan konsumsi memiliki keterbatasan konseptual. Dalam kerangka capability approach yang dikembangkan oleh Amartya Sen, kesejahteraan dipahami sebagai fungsi dari kapabilitas individu, yaitu kemampuan nyata untuk menjalani kehidupan yang Analisis Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 91 menggunakannya secara efektif. Individu dengan tingkat konsumsi yang tinggi belum tentu memiliki kapabilitas yang luas, terutama jika pilihan mereka dibatasi oleh faktor struktural atau dipengaruhi oleh distorsi perilaku. Pendekatan kesejahteraan bersifat multidimensional, mencakup aspek kesehatan, pendidikan, partisipasi sosial, dan kebebasan Dengan demikian, konsumsi hanya merupakan salah satu sarana, bukan tujuan akhir dari kesejahteraan. Ketegangan antara Banyaknya Pilihan dan Kebebasan Substantif Temuan ketiga menunjukkan adanya ketegangan antara konsep kebebasan dalam ekonomi modern dengan realitas perilaku individu. Dalam paradigma ekonomi konvensional, banyaknya pilihan sering kali diasumsikan sebagai indikator Namun, peningkatan jumlah pilihan tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebebasan substantif. Dalam perspektif ekonomi perilaku, terlalu banyak pilihan justru dapat menimbulkan choice overload, yang menghambat kemampuan individu dalam mengambil keputusan yang reflektif (Tulipa, 2. Sementara itu, dalam kerangka capability approach, kebebasan tidak hanya diukur dari jumlah opsi yang tersedia, tetapi dari kemampuan nyata individu untuk memilih secara bermakna. Dengan demikian, fenomena konsumsi modern dapat dipahami sebagai ruang di mana kebebasan formal . anyaknya 92 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 piliha. tidak selalu bertransformasi menjadi kebebasan substantif . apabilitas untuk memilih secara otonom dan Keterbatasan Pendekatan Tunggal dalam Menjelaskan Kesejahteraan Temuan keempat menunjukkan bahwa baik capability approach maupun ekonomi perilaku memiliki keterbatasan jika digunakan secara terpisah. Pendekatan kapabilitas unggul dalam kesejahteraan, tetapi kurang memberikan penjelasan empiris mengenai bagaimana individu membuat keputusan. Sebaliknya, ekonomi perilaku mampu menjelaskan dinamika keputusan individu secara empiris, tetapi tidak secara eksplisit menawarkan standar normatif mengenai kesejahteraan. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa pendekatan tunggal tidak cukup untuk memahami kompleksitas kesejahteraan dalam konteks modern. Diperlukan integrasi antara dimensi normatif dan deskriptif agar analisis yang dihasilkan lebih komprehensif. Potensi Integrasi: Menuju Kerangka Kesejahteraan yang Komprehensif Temuan terakhir menunjukkan bahwa terdapat potensi integrasi antara capability approach dan Ekonomi Perilaku dalam membangun kerangka analisis kesejahteraan yang lebih Integrasi kesejahteraan tidak hanya bergantung pada ketersediaan pilihan, tetapi juga pada kemampuan individu untuk mengelola dan Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 93 Dalam kerangka ini, kapabilitas dapat dipahami tidak hanya sebagai peluang objektif, tetapi juga sebagai kapasitas subjektif yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Sebaliknya, temuan dalam ekonomi perilaku dapat digunakan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang menghalangi individu dalam mengaktualisasikan kapabilitasnya. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan pendekatan yang menggabungkan evaluasi normatif terhadap kualitas hidup dengan pemahaman empiris mengenai perilaku Integrasi ini menjadi landasan penting untuk mengembangkan analisis yang lebih relevan dalam membaca dinamika konsumsi dan kesejahteraan di era kontemporer. Pembahasan Kritik Konsumsi Indikator Kesejahteraan Temuan penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan konsumsi sebagai indikator utama kesejahteraan merupakan Dalam konvensional, peningkatan konsumsi sering kali diasumsikan sebagai refleksi langsung dari peningkatan utilitas dan, pada gilirannya, kesejahteraan. Namun, perspektif Ekonomi Perilaku menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak selalu dihasilkan 94 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 dari preferensi yang stabil dan rasional, melainkan dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, serta tekanan sosial. Dalam konteks ini, konsumsi kehilangan validitasnya sebagai indikator normatif kesejahteraan, karena ia tidak selalu merepresentasikan pilihan yang otonom dan reflektif. Individu dapat saja meningkatkan konsumsi bukan karena kebutuhan atau nilai yang diyakini, melainkan karena dorongan impulsif atau pengaruh eksternal. Dengan demikian, hubungan antara konsumsi dan kesejahteraan menjadi tidak linear dan bahkan berpotensi ilusioner. Pendekatan yang dikembangkan oleh Amartya Sen melalui capability approach memberikan kritik mendasar terhadap asumsi tersebut. Sen menempatkan kesejahteraan bukan pada tingkat konsumsi, tetapi pada kemampuan individu untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Dalam perspektif ini, konsumsi hanya memiliki nilai instrumental sejauh berkontribusi pada perluasan kapabilitas, bukan sebagai tujuan Ilusi Kebebasan dalam Struktur Konsumsi Modern Salah satu implikasi penting dari integrasi antara ekonomi perilaku dan capability approach adalah munculnya konsep Auilusi kebebasanAy dalam masyarakat konsumsi modern. Secara formal, individu dihadapkan pada beragam pilihan barang dan jasa, yang secara kasat mata menunjukkan adanya kebebasan. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan tersebut sering kali bersifat semu. Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 95 Dalam perspektif ekonomi perilaku, banyaknya pilihan dapat menghasilkan choice overload, yang justru menurunkan kualitas pengambilan keputusan. Individu menjadi cenderung memilih secara impulsif atau mengikuti pola yang paling mudah, bukan yang paling bernilai. Selain itu, struktur digital yang didorong oleh algoritma mempersempit ruang pilihan secara tidak terlihat, sehingga preferensi individu dibentuk oleh sistem yang tidak sepenuhnya transparan. Dalam kerangka capability approach, kondisi ini menunjukkan bahwa kebebasan formal . ersedianya banyak piliha. tidak identik dengan kebebasan substantif . emampuan nyata untuk memilih secara bermakn. Dengan kata lain, individu mungkin memiliki banyak opsi, tetapi tidak memiliki kapasitas reflektif atau kondisi struktural yang memungkinkan mereka memanfaatkan opsi tersebut secara optimal. Oleh karena itu, evaluasi kesejahteraan harus mempertimbangkan kualitas kebebasan, bukan sekadar kuantitas pilihan. Integrasi Normatif dan Empiris: Menuju Kerangka Analisis yang Lebih Utuh Pembahasan ini menunjukkan bahwa integrasi antara capability approach dan Ekonomi Perilaku memberikan kontribusi signifikan dalam membangun kerangka analisis kesejahteraan yang lebih komprehensif. Ekonomi perilaku menyediakan dasar empiris untuk memahami bagaimana AusAnya keterbatasan rasionalitas. Sementara itu, pendekatan kapabilitas 96 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 menawarkan standar normatif untuk menilai apakah kondisi tersebut dapat dianggap sebagai sejahtera. Integrasi ini memungkinkan analisis dua lapis. Pertama, pada tingkat deskriptif, kita dapat mengidentifikasi berbagai distorsi dalam pengambilan keputusan yang menghambat individu dalam memaksimalkan potensi mereka. Kedua, pada tingkat normatif, kita dapat mengevaluasi apakah struktur sosial dan ekonomi yang ada mendukung atau justru menghambat perluasan kapabilitas. Dengan demikian, kesejahteraan tidak lagi dipahami sebagai hasil akhir yang statis, tetapi sebagai proses dinamis yang melibatkan interaksi antara individu dan struktur. Pendekatan ini juga membuka ruang untuk memahami bahwa peningkatan sumber daya atau pilihan tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan, jika tidak disertai dengan peningkatan kapasitas individu dalam mengelola dan memaknai pilihan tersebut. Reorientasi Konsep Kesejahteraan Dari sisi teoretis, hasil penelitian ini mengarah pada kebutuhan untuk mereorientasi konsep kesejahteraan dari pendekatan yang berbasis hasil . utcome-base. menuju pendekatan yang berbasis kemampuan . apability-base. Reorientasi ini menuntut perubahan dalam cara kita memahami hubungan antara individu, pilihan, dan struktur sosial. Pertama, kesejahteraan harus dipahami sebagai fenomena multidimensional yang tidak dapat direduksi pada satu indikator Kedua, analisis kesejahteraan perlu memasukkan dimensi psikologis dan sosial yang memengaruhi perilaku Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 97 Ketiga, evaluasi terhadap kebijakan ekonomi harus mempertimbangkan sejauh mana kebijakan tersebut benar-benar memperluas kapabilitas, bukan sekadar meningkatkan output Dalam konteks ini, pemikiran Amartya Sen menjadi relevan sebagai landasan normatif, sementara ekonomi perilaku berfungsi sebagai alat diagnostik untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan empiris dalam realisasi kesejahteraan. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep kesejahteraan yang selama ini didominasi oleh pendekatan utilitarian dan indikator konsumsi memiliki keterbatasan mendasar, baik secara konseptual maupun empiris. Dalam praktiknya, peningkatan konsumsi tidak selalu mencerminkan peningkatan kesejahteraan, terutama ketika keputusan ekonomi individu dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, dan tekanan struktural sebagaimana Ekonomi Perilaku. Temuan mengindikasikan bahwa asumsi rasionalitas penuh dalam ekonomi klasik tidak lagi memadai untuk memahami dinamika kesejahteraan dalam konteks modern. Sebagai dikembangkan oleh Amartya Sen menawarkan kerangka normatif yang lebih komprehensif dengan menempatkan kebebasan substantif sebagai inti dari kesejahteraan. Dalam perspektif ini, kesejahteraan tidak diukur dari apa yang dimiliki individu, melainkan dari kemampuan nyata mereka untuk 98 | Economia: Journal of Economics and Management. Volume 5 . Number 1. January 2026 Namun pendekatan ini perlu dilengkapi dengan pemahaman empiris mengenai bagaimana individu membuat keputusan dalam kondisi keterbatasan rasionalitas. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi antara capability approach dan Ekonomi Perilaku kesejahteraan yang lebih utuh. Integrasi ini memungkinkan pemahaman bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pilihan, tetapi juga oleh kapasitas individu untuk mengelola dan memaknai pilihan tersebut secara reflektif. Dalam mencerminkan kebebasan yang sesungguhnya, melainkan dapat menghadirkan ilusi kebebasan yang justru membatasi kapabilitas Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada reorientasi konsep kesejahteraan dari pendekatan berbasis utilitas Secara praktis, temuan ini mengimplikasikan perlunya perubahan dalam arah kebijakan pembangunan dan pendidikan ekonomi, dengan menekankan penguatan kapabilitas individu, bukan sekadar peningkatan konsumsi. Rahmat Saputra et al. Rekonstruksi Konsep Kesejahteraan. | 99 Daftar Pustaka