Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : Pembentukan Kejujuran Sosial Santri Melalui Internalisasi Nilai-Nilai TaAolim al-MutaAoallim di Era Globalisasi Ahmad Yusron Hafizi 1. Muhammad Asadullah Akbar 2. Muhammad Jaelani 3 Universitas Islam Negeri Mataram. Mataram. Indonesia Universitas Islam Negeri Mataram. Mataram. Indonesia Universitas Islam Negeri Mataram. Mataram. Indonesia 240401023@uimataram. id1, 240401041@uinmataran. id2, 240401026@uinmataram. Submit : 30 Maret 2025 Revised: 11 Mei 2025 Accepted: 30 Mei 2025 Publised: 4 Juni 2025 Corresponding author: Email : 240401023@uinmataram. No HP (WA) : 087858487084 Abstrack The declining quality of studentsAo respect and manners toward teachers in various educational institutions, including Islamic boarding schools . , raises concerns over the erosion of moral values in Islamic education. This study aims to analyze how the teaching of TaAolim alMutaAoallim shapes studentsAo social honesty at Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek. This research employed a qualitative case study approach, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The data were analyzed thematically through coding and theme formulation. The results indicate that values such as honesty, responsibility, and respect for teachers are effectively internalized by students through consistent traditional teaching methods and the exemplary conduct of teachers. Senior students demonstrated a higher level of social honesty compared to new students, highlighting the importance of sustained value internalization. This study concludes that TaAolim al-MutaAoallim remains relevant as a character-building medium for students, especially in cultivating social honesty, through an integrative approach that bridges classical Islamic values and contemporary social dynamics. Keyword: Classical Text. Character. Islamic Boarding School. Social Honesty. Student Ethics Abstrak Menurunnya kualitas adab peserta didik terhadap guru di berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren, menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya nilai-nilai moral dalam proses pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim membentuk kejujuran sosial santri di Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Data dianalisis secara tematik melalui proses pengkodean dan penarikan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap guru berhasil diinternalisasi oleh santri melalui metode pembelajaran tradisional yang konsisten dan keteladanan ustadz. Santri senior menunjukkan tingkat kejujuran sosial yang lebih tinggi dibandingkan santri baru, menandakan pentingnya kesinambungan dalam proses internalisasi nilai. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kitab TaAolim alMutaAoallim relevan sebagai media pembentukan karakter santri, khususnya dalam konteks kejujuran sosial, melalui pendekatan integratif antara nilai klasik dan dinamika sosial modern. Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : Kata kunci: Adab Santri. Karakter. Kejujuran Sosial. Kitab Klasik. Pesantren PENDAHULUAN Fenomena menurunnya kualitas adab peserta didik terhadap guru di berbagai institusi pendidikan, termasuk pesantren, merupakan tantangan serius dalam pendidikan Islam modern. Sikap hormat, tawadhuAo, dan penghargaan terhadap guru yang dulunya menjadi ciri khas dunia pesantren kini semakin luntur, tergantikan oleh pola hubungan yang cenderung setara bahkan kadang kurang Kondisi ini juga diidentifikasi dalam berbagai penelitian yang menunjukkan melemahnya relasi etik antara santri dan guru akibat pengaruh budaya instan dan keterbukaan digital (Nurhidayah & Choiri, 2. Di tengah krisis moral ini, pesantren tetap menjadi benteng terakhir yang mengajarkan nilai-nilai akhlak klasik, salah satunya melalui pengajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Kitab ini mengajarkan nilai-nilai etika belajar, akhlak terhadap guru, pentingnya kejujuran, dan niat yang lurus dalam menuntut ilmu (Zaitun, 2. Namun, tantangan besar muncul ketika nilai-nilai tersebut dihadapkan dengan realitas sosial santri di era globalisasi dan digitalisasi yang sarat dengan budaya instan dan minim keteladanan. Beberapa pesantren telah mulai merumuskan kembali strategi pengajaran kitab klasik agar sesuai dengan konteks kekinian, tetapi implementasinya masih belum merata dan mendalam (Iin Suriya Ningsih et al. , 2. Penelitian ini hadir dengan kebaruan pada upaya mengintegrasikan konsep kejujuran sosial . ocial honest. dalam konteks pendidikan pesantren, dengan kitab TaAolim al-MutaAoallim sebagai media utama pembentukan nilai tersebut. Kebaruan lainnya terletak pada pendekatan interdisipliner antara kajian kitab klasik dan teori-teori psikologi sosial kontemporer mengenai kejujuran dan relasi Studi serupa yang dilakukan di pesantren Al-Ihsan dan Ibnunnafis menunjukkan bahwa kitab ini dapat menjadi hidden curriculum efektif dalam pembentukan karakter santri, meskipun fokusnya masih terbatas pada dimensi moral dan etika umum (Maulana & Fuad, 2. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang lebih menyoroti aspek normatif-advisory kitab ini (Huda, 2. , studi ini secara spesifik meneliti pengaruh aktual pembelajaran TaAolim al-MutaAoallim terhadap perilaku sosial santri, terutama dalam relasi guru-murid. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini difokuskan di Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek, sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional di Lombok Tengah yang masih mengajarkan kitab ini secara intensif kepada santri-santrinya (Hamdani et al. , 2. Beberapa studi sebelumnya telah menunjukkan pentingnya kitab TaAolim al-MutaAoallim dalam membentuk karakter santri. Al Ainiyah . meneliti konsep interaksi sosial dalam kitab tersebut, sementara Suryadin . menganalisis kontribusinya dalam pendidikan akhlak santri. Penelitian oleh Baihaqi . juga membahas pengaruh kitab ini terhadap perilaku taAodzim santri terhadap guru. Penelitian lainnya menemukan bahwa internalisasi nilai-nilai kitab ini berperan dalam pembentukan sikap disiplin, kesungguhan belajar, dan penghargaan terhadap ilmu (RifAoah et al. , 2. Namun, belum ada penelitian yang secara eksplisit mengaitkan pembelajaran kitab ini dengan pembentukan kejujuran sosial sebagai dimensi penting dalam pendidikan karakter. Selain itu, belum ditemukan studi yang menyoroti perbedaan pemahaman nilai adab antara santri baru dan santri lama dalam satu institusi yang sama. Padahal, perkembangan karakter sangat bergantung pada proses internalisasi nilai dalam jangka waktu tertentu (Aziz et al. , 2. Dari tinjauan literatur tersebut, tampak jelas adanya kesenjangan. Pertama, belum ada studi yang menempatkan kejujuran sosial sebagai variabel utama dalam mengukur dampak pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim. Kedua, belum ada eksplorasi mendalam tentang bagaimana kitab ini diaplikasikan secara kontekstual untuk menjawab tantangan etika sosial modern. Ketiga, kajian lokal terhadap dinamika sosial santri dalam pesantren wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok. Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : masih sangat terbatas, padahal pesantren di wilayah ini memiliki sistem pembelajaran khas dan komunitas yang kuat (Nafilah et al. , 2. Berdasarkan latar belakang dan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim membentuk sikap kejujuran sosial santri di Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan metode pembelajaran kitab, mengidentifikasi nilai-nilai moral yang ditanamkan, serta mengkaji perbedaan internalisasi nilai tersebut antara santri baru dan santri lama. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini menggali pengalaman, persepsi, dan praktik harian dalam proses pembelajaran di lingkungan pesantren (Farhanudin & Muhajir, 2. Kontribusi penelitian ini bersifat teoritis dan praktis. Secara teoritis, studi ini memperluas cakupan kajian pendidikan Islam dengan memadukan kitab klasik dan teori kejujuran sosial kontemporer dalam satu kerangka analisis. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi para pendidik pesantren untuk merancang pendekatan pengajaran kitab yang lebih kontekstual dan responsif terhadap tantangan zaman. Di tengah krisis moral dan disintegrasi nilai sosial, penelitian ini menjadi langkah awal untuk menempatkan kembali pesantren sebagai pelopor pendidikan karakter dan etika sosial berbasis ajaran Islam yang otentik dan aplikatif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, yang difokuskan pada Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek di Desa Prako. Lombok Tengah. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti memahami secara mendalam bagaimana pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim membentuk sikap kejujuran sosial santri, khususnya dalam hubungan antara santri dan guru. Studi kasus kualitatif memungkinkan pemotretan realitas sosial dan nilai-nilai pesantren secara holistik (Faizah et al. , 2. Sumber data dibagi menjadi primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan ustadz pengampu kitab, santri senior . ebih dari dua tahun muki. , dan santri baru . urang dari satu tahu. Informan dipilih secara purposif untuk memperoleh kedalaman pengalaman yang bervariasi . akaria & Kholilurrahman, 2. Data sekunder diperoleh dari dokumen pesantren seperti jadwal pengajian, kurikulum, catatan kegiatan, dan dokumentasi visual. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur, sementara observasi dilaksanakan selama pengajian kitab berlangsung, terutama saat metode bandongan digunakan. Observasi ini mengungkap bagaimana nilai kejujuran ditanamkan secara langsung dan melalui keteladanan (Suwandi et al. , 2. Dokumentasi memperkuat validitas melalui bukti tertulis dan visual. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik, dimulai dari membaca transkrip, melakukan pengkodean, menyusun dan meninjau tema, hingga menyusun narasi akhir. Teknik ini dinilai tepat dalam mengungkap makna tersembunyi dari narasi pengalaman santri dan guru (Rosyidah, 2. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, serta keterlibatan aktif peneliti di lapangan selama satu bulan penuh, sebagaimana disarankan dalam pendekatan naturalistik [(Sugiyono, 2. Melalui rancangan metodologis ini, penelitian diharapkan mampu mengungkap tidak hanya praktik pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim, tetapi juga transformasi nilai kejujuran dan adab santri secara nyata dalam kehidupan pesantren. Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembelajaran Kitab TaAolim al-MutaAoallim di Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek Berdasarkan hasil observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan ustadz pengampu serta para santri, proses pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim di Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek berlangsung dalam suasana yang sarat nilai-nilai keilmuan sekaligus kehangatan spiritual. Pembelajaran kitab ini dilaksanakan melalui metode tradisional pesantren, yaitu bandongan dan wetonan, yang telah terbukti efektif dalam mentransfer pengetahuan sekaligus menanamkan adab kepada para penuntut ilmu. Kegiatan pengajian biasanya dilaksanakan pada waktu-waktu yang memiliki nilai religius tinggi, yaitu setelah salat Subuh dan Magrib. Pemilihan waktu ini tidak semata-mata karena ketersediaan jadwal, melainkan juga mencerminkan upaya pesantren dalam membangun suasana pembelajaran yang khusyuk, penuh khidmat, dan sarat keberkahan. Dalam pengajian, ustadz membacakan teks Arab dari kitab, menerjemahkannya secara lafdziyah . , lalu memberikan penjelasan makna secara mendalam dengan menggunakan bahasa lokal (Sasa. dan Bahasa Indonesia. Penjelasan ini tidak hanya mencakup aspek kebahasaan, tetapi juga muatan moral dan spiritual yang terkandung dalam teks. Para santri pun aktif mencatat langsung penjelasan tersebut di lembaran kitab masing-masing, sebagai bentuk taAoalluq . antara teks, guru, dan murid yang menjadi ciri khas tradisi pesantren. Dari sisi partisipasi, mayoritas santri menunjukkan antusiasme yang tinggi dan perhatian yang penuh selama proses pembelajaran berlangsung. Santri senior, yang telah lebih lama bermukim di pesantren, tampak lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan dan berdialog secara kritis namun santun dengan ustadz. Sementara itu, santri baru cenderung mengambil peran sebagai pendengar dan pencatat yang tekun. Perbedaan ini menggambarkan dinamika pembelajaran yang bersifat progresif, di mana internalisasi nilai-nilai keilmuan dan spiritual terjadi secara bertahap sesuai dengan kedalaman interaksi santri dalam lingkungan pesantren. Dengan demikian, proses pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim di pesantren ini bukan hanya merupakan aktivitas transmisi ilmu, tetapi juga ruang pengasuhan ruhani yang membentuk karakter santri sebagai pribadi yang berilmu, beradab, dan menghargai proses pencarian ilmu dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Internalisasi Nilai-Nilai Kitab terhadap Sikap Sosial Santri Hasil pengamatan dan wawancara menunjukkan bahwa kitab ini memainkan peran yang sangat penting sebagai media pembentukan karakter santri, khususnya dalam aspek kejujuran sosial dan tata krama terhadap guru. Kitab yang diajarkan tidak hanya menyampaikan pesanpesan moral secara tekstual, tetapi juga berfungsi sebagai alat transformatif yang secara bertahap membentuk kepribadian santri melalui proses internalisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai utama yang berulang dalam pengajaran kitab ini antara lain keikhlasan dalam menuntut ilmu, penghormatan yang tulus kepada guru sebagai pintu keberkahan, serta pentingnya kejujuran baik dalam ucapan maupun tindakan. Proses penguatan nilai-nilai ini tidak hanya berlangsung melalui ceramah formal, tetapi lebih dalam melalui keteladanan perilaku dan dialog reflektif yang menggugah kesadaran moral dari dalam diri santri. Hal ini sejalan dengan temuan Fahrur Rozi et al. , yang menyatakan bahwa penerapan pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim secara sistematis dapat menumbuhkan karakter religius melalui tahapan pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga evaluasi akhlak secara rutin di lingkungan pesantren (Fahrur Rozi & Khasanudin, 2. Dukungan senada juga muncul dalam kajian Naim . , yang menunjukkan bahwa pembelajaran kitab ini Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : melibatkan tiga tahap pentingAitransformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi karakterAiyang memungkinkan nilai-nilai adab dan kejujuran menyatu secara alami dalam kehidupan santri (Naim, 2. Santri yang telah mengikuti proses pembelajaran kitab ini selama lebih dari satu tahun memperlihatkan perkembangan sosial yang mencolok. Mereka menunjukkan sikap jujur dalam berkomunikasi, bertanggung jawab dalam menjaga amanah, santun dalam menyampaikan pendapat, serta rendah hati dalam berinteraksi. Perubahan ini terjadi tidak secara instan, melainkan merupakan hasil dari proses pembiasaan nilai yang berulang dan berkelanjutan. Lebih jauh, santri senior juga memperlihatkan keberanian untuk mengakui kesalahan tanpa rasa takut, yang menjadi indikator penting dari tumbuhnya integritas pribadi. Fakta ini mengindikasikan bahwa pembelajaran kitab ini telah menjangkau ranah afektif, bukan sekadar Penelitian Ramdhani dan Zulfa . mendukung hal ini, dengan menemukan bahwa pemahaman santri terhadap kandungan kitab TaAolim al-MutaAoallim memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penguatan karakter, khususnya pada aspek etika sosial dan spiritual dalam kehidupan pondok (Ramdhani et al. , 2. Demikian pula. Junedi et al. menegaskan bahwa kitab ini berperan penting dalam menanamkan moralitas di tengah krisis etika, dengan menekankan pada niat yang lurus dan orientasi belajar yang berlandaskan keikhlasan dan adab (Junedi et al. , 2. Di sisi lain, santri yang baru memulai proses pembelajaran kitab menunjukkan karakteristik yang berbeda. Mereka cenderung lebih tertutup, pasif dalam komunikasi, serta mengalami hambatan dalam mengekspresikan pendapat. Tingkat kepercayaan diri yang masih rendah dan keterbatasan dalam memahami konsep adab menjadi tantangan tersendiri dalam tahap awal pembelajaran. Temuan ini memperlihatkan bahwa proses internalisasi nilai membutuhkan waktu, ruang dialog, dan pendekatan pedagogis yang kontekstual dan Keberhasilan pendidikan karakter, dalam hal ini, tidak terlepas dari konsistensi lingkungan pesantren dalam membangun kultur keteladanan dan pembiasaan nilai. Dalam konteks ini, penelitian Nafis . memberikan pandangan bahwa kitab klasik seperti Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim menjadi fondasi penting dalam menjawab tantangan pendidikan karakter di era modern, melalui pendekatan yang menekankan penghormatan terhadap guru, adab dalam belajar, serta kolaborasi nilai antara guru dan murid sebagai bentuk kesalehan sosial yang kontekstual (Nafis, 2. Pembentukan Kejujuran Sosial Santri melalui Kitab TaAolim al-MutaAoallim Salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa kitab TaAolim al-MutaAoallim secara efektif menjadi sarana pembinaan karakter santri, khususnya dalam membentuk kejujuran sosial dan adab terhadap guru. Nilai-nilai seperti keikhlasan dalam menuntut ilmu, penghormatan terhadap guru sebagai sumber keberkahan ilmu, serta kejujuran dalam ucapan dan tindakan sehari-hari secara konsisten ditanamkan dalam setiap sesi pengajian. Penguatan nilai tersebut tidak hanya disampaikan melalui penjelasan lisan ustadz, tetapi juga diperkuat melalui keteladanan dalam keseharian. Hal ini menciptakan proses internalisasi nilai yang tidak bersifat instan, tetapi bertahap dan menyeluruh, karena santri mengalami langsung penerapan nilai-nilai tersebut dalam praktik kehidupan komunitas pesantren. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Jumsar et al. yang menyatakan bahwa pembelajaran TaAolim al-MutaAoallim di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Tarbiyatuna mampu menumbuhkan kejujuran santri dalam relasi spiritual dan sosial, termasuk kepada guru dan sesama teman (Jumsar et al. , 2. Penelitian lain oleh Langeningtias et al. juga menunjukkan bahwa kitab ini efektif dalam membentuk akhlak dan sikap santri melalui internalisasi nilai moral dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari (Langeningtias et al. , 2. Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : Namun, berbeda dengan penelitian tersebut yang lebih menyoroti hubungan vertikal antara santri dan guru, penelitian ini memberikan dimensi baru bahwa kejujuran sosial juga terwujud dalam dinamika horizontal antar santri, seperti keterbukaan dalam komunikasi, kesediaan mengakui kesalahan, serta kemampuan menjaga amanah dalam kehidupan bersama. Dari perspektif teoritik, hasil penelitian ini selaras dengan teori behavioristik yang dikembangkan oleh Skinner, di mana penguatan sosial berupa pujian atau pengakuan dari guru terhadap perilaku jujur menjadi stimulus yang mendorong pengulangan perilaku serupa oleh Pola pembelajaran yang berlangsung secara terus-menerus dalam lingkungan pesantren memberikan ruang bagi terbentuknya kebiasaan baik melalui proses pengulangan dan Namun demikian, teori behavioristik tidak sepenuhnya dapat menjelaskan fenomena ini, karena nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya dipraktikkan karena adanya reward, melainkan karena tumbuh dari kesadaran moral internal. Di sinilah teori pembelajaran sosial dari Bandura menjadi relevan, bahwa santri meniru perilaku ustadz bukan karena tekanan eksternal, tetapi karena adanya identifikasi nilai dan internalisasi makna yang mendalam. Hal ini senada dengan temuan Atikah et al. yang menunjukkan bahwa keteladanan guru merupakan faktor krusial dalam membentuk karakter santri secara intrinsik dan berkelanjutan (Atikah Salma Hidayati et al. , 2. Lebih lanjut, penelitian ini secara langsung menjawab tujuan yang telah dirumuskan dalam pendahuluan. Pertama, bahwa pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim di Pondok Pesantren Miftahul Khair berlangsung melalui metode tradisional khas pesantren seperti bandongan dan wetonan, yang terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai adab dan Kedua, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kitab tersebut berhasil diinternalisasi secara nyata dalam perilaku santri, baik secara verbal maupun nonverbal. Hal ini terlihat dari perilaku jujur, sopan, terbuka, dan bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh santri, terutama mereka yang telah mengikuti pengajian kitab selama lebih dari satu tahun. Sebaliknya, santri baru masih dalam proses adaptasi dan menunjukkan pemahaman nilai yang belum mendalam, menandakan bahwa transformasi karakter merupakan proses jangka panjang yang bergantung pada intensitas interaksi dan keteladanan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkuat temuan sebelumnya, tetapi juga memberikan kontribusi teoritis dan praktis yang baru. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya kajian pendidikan Islam dengan pendekatan integratif antara ajaran klasik dan teori psikologi pendidikan kontemporer. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa kitab TaAolim al-MutaAoallim tetap relevan sebagai perangkat pedagogis dalam menjawab tantangan pendidikan karakter santri di era globalisasi dan disrupsi moral. tengah melemahnya nilai kejujuran di masyarakat luas, pesantren dengan sistem pembelajarannya yang khas masih mampu menjaga dan menumbuhkan nilai-nilai kejujuran sosial melalui pendekatan yang menyentuh dimensi kognitif, afektif, dan moral secara SIMPULAN Berdasarkan hasil temuan di lapangan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kitab TaAolim al-MutaAoallim memiliki kontribusi nyata dalam membentuk karakter santri, khususnya dalam aspek kejujuran sosial. Kitab ini bukan sekadar teks pengajaran, melainkan menjadi fondasi nilai yang ditanamkan secara perlahan namun mendalam melalui metode tradisional seperti bandongan dan wetonan yang sarat makna. Nilai-nilai seperti keikhlasan, ketulusan, dan kejujuran bukan hanya diajarkan secara verbal, tetapi dihidupkan melalui praktik keseharian, terutama melalui keteladanan ustadz dan interaksi sosial di lingkungan pesantren. Maharah: Journal Of Islamic Education Teaching and Learning Magister PAI Pascasarjana UIN Mataram Universitas Islam Negeri Mataram Vol. No. Tahun 2025. Hlm: 88-96 PISSN : | EISSN : Penelitian ini menjawab secara tegas permasalahan yang diajukan sejak awal: bahwa di tengah tantangan globalisasi dan krisis keteladanan, kitab TaAolim al-MutaAoallim masih relevan dan mampu menjadi sarana pendidikan karakter yang kontekstual dan transformatif. Santri yang terlibat aktif dan telah menjalani proses pembelajaran kitab dalam jangka waktu yang cukup menunjukkan perkembangan signifikan dalam hal integritas, keberanian bersikap jujur, dan kemampuan menjalin hubungan sosial yang etis. Sementara itu, santri baru memperlihatkan dinamika adaptasi yang menunjukkan pentingnya kesinambungan dan pendampingan dalam proses internalisasi nilai. Secara teoritis, penelitian ini menguatkan integrasi pendekatan behavioristik dan pembelajaran sosial: pengulangan dan penguatan nilai melalui pengalaman langsung, serta proses identifikasi santri terhadap figur guru, menjadi jalur utama terbentuknya karakter jujur dan beradab. Dengan demikian, pendidikan nilai tidak cukup disampaikan dalam bentuk nasihat, tetapi harus ditanamkan dalam sistem sosial yang mendukung transformasi perilaku. Adapun implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya revitalisasi pengajaran kitabkitab klasik di pesantren, bukan hanya sebagai bagian dari tradisi, tetapi sebagai respon terhadap krisis karakter dalam masyarakat modern. Para pengasuh dan pengelola pesantren perlu memperkuat pendekatan keteladanan, membangun lingkungan yang reflektif, serta menyusun strategi pengajaran yang adaptif terhadap kebutuhan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai luhur. Selain itu, penting untuk memperluas penelitian ini ke konteks lain dan kelompok santri yang lebih beragam, agar pengembangan model pendidikan karakter berbasis kitab klasik dapat terus berlanjut dan menjawab tantangan generasi ke depan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam proses pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada pengasuh, ustadz pengampu kitab, serta para santri Pondok Pesantren Miftahul Khair NW Pemantek yang telah bersedia menjadi informan dan memberikan waktu serta keterbukaan dalam berbagai sesi wawancara dan observasi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Mataram atas dukungan akademik dan arahan ilmiah yang konstruktif selama proses penyusunan karya ilmiah ini. Tidak lupa, penulis menghargai bantuan teknis dan motivasi dari rekan-rekan sejawat, keluarga, dan pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang turut berperan dalam menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Semoga segala bentuk bantuan dan kerja sama yang diberikan menjadi amal jariyah dan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Aamiin. DAFTAR PUSTAKA