TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 GAMBARAN VISUS MATA PASCA PEMBELAJARAN DARING PADA ANAK SEKOLAH Bangkit Pangestu1. Ratna Agustiningrum2*. Puput Risti Kusumaningrum3. Devi Permatasari4 1,2,3,4Fakultas Kesehatan Dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Klaten Email: ratna@umkla. id2*, puput@umkla. id3, devi@umkla. Abstract Pandemic Covid-19 has been spreading continuously since March 2020 in Indonesia. Online learning has been used as a solution to reduce the spread of the Covid-19 pandemic. However, the habit of frequently using smartphones during online learning for school-age children can disrupt eye health and lead to a decrease in visual acuity. Visual acuity abnormalities in school-age children's vision become a significant problem that needs immediate detection as early as possible so as not to affect the child's focus during the learning process. To understand the post-online learning visual perception of elementary school children. The research design employs a quantitative descriptive research method with a cross-sectional approach. The study population consists of students in grades 4, 5, and 6 at SDN 2 Sukorejo, totaling 43 respondents. The sampling technique used total sampling with exclusion criteria, resulting in a total of 38 respondents. Data analysis is conducted using frequency distribution. The characteristics of the elementary school children who were respondents had an average age of 11. 18 years, with a minimum age of 10 years and a maximum of 13 years. The majority of respondents were female, totaling 21 children . 3%). The results of this study revealed that the visual acuity of the right eye was normal in 33 children . 8%), and the visual acuity of the left eye was normal in 36 children . 7%). The post-online learning visual perception of elementary school children at SDN 2 Sukorejo mostly indicated normal vision. Keywords: Visual Acuity. Online Learning. Elementary School Children Abstrak Pandemi Covid-19 terus saja menyebar sejak maret 2020 di Indonesia. Pembelajaran secara daring ini dijadikan solusi dalam menurunkan penyebaran pandemi Covid-19. Namun, kebiasaan yang sering tidak disadari karena terlalu sering menggunakan handphone pada saat pembelajaran pada anak usia sekolah maka kesehatan mata menjadi terganggu dan menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan. Kelainan tajam pada penglihatan anak usia sekolah menjadi masalah yang sangat penting dan perlu segera dideteksi sedini mungkin sehingga tidak akan memepengaruhi kefokusan anak saat mengikuti proses pembelajaran. Untuk mengetahui bagaimana gambaran visus mata pasca pembelajaran daring pada anak sekolah dasar. Desain penelitian menggunakan metode penelitian defkriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah siswa -siswi kelas 4, 5, dan 6 di SDN 2 Sukorejo sebanyak 43 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan kriteria eksklusi dan total menjadi 38 responden. Analisa data dilakukan menggunakan distribusi frekuensi. Karakteristik anak sekolah dasar yang menjadi responden ini rata Ae rata berusia 11,18 tahun dengan usia minimal 10 tahun dan maksimal 13 tahun. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 anak . ,3%). Hasil penelitian ini didapatka anak sekolah dasar dengan visus mata penglihatan normal pada mata kanan sebanyak 33 mata anak . ,8%) dan penglihatan normal mata kiri sebanyak 36 mata anak . ,7%). Hasil visus mata pasca pembelajaran daring pada anak sekolah dasar di SDN 2 Sukorejo sebagian besar adalah penglihatan normal. Keyword : Visus Mata. Pembelajaran Daring. Anak Sekolah Dasar Pendahuluan Pandemi Covid-19 terus saja menyebar sejak maret 2020 di Indonesia. Situasi ini sangat berdampak pada beberapa aturan pada pembelajaran, sekolah mendapat imbas dari peraturan baru pemerintahan yakni social distancing sebagai bentuk pencegahan penularan virus Covid-19. Pembelajaran secara daring telah ditetapkan oleh pemerintah pada semua jejang pendidikan mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Kebiasaan baru pada masa pandemi Covid-19 banyak merubah pola hidup dan perkembangan pada anak usia sekolah . Pembelajaran online . adalah metode baru dalam proses belajar-mengajar yang menggunakan perangkat elektronik, terutama internet, untuk menyampaikan materi. Pembelajaran online sepenuhnya bergantung pada akses internet. Menurut Imania . , pembelajaran online . adalah bentuk penyampaian materi pembelajaran konvensional yang dikemas dalam format digital melalui internet. Pembelajaran online dianggap sebagai satu24 TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 satunya cara untuk menyampaikan materi antara guru dan siswa selama masa pandemi. Bagi guru di sekolah dasar yang sebelumnya tidak terbiasa dengan pembelajaran online, kondisi ini menimbulkan tantangan dalam persiapan pembelajaran. Perubahan yang terjadi dengan cepat dan tiba-tiba akibat penyebaran Covid-19 memaksa semua orang untuk menguasai teknologi. Melalui teknologi, pembelajaran online menjadi satu-satunya cara untuk menghubungkan guru dan siswa tanpa harus bertatap muka . Mata merupakan panca indera yang sangat penting dan mempunyai fungsi yang paling vital. Pada saat memasuki masa usia sekolah, penglihatan anak menjadi suatu hal yang sangat penting. Mata yang sehat maka penglihatan akan menjadi baik, dimana untuk menerima pengetahuan informasi dalam proses belajar adalah penglihatan . Kelainan tajam pada penglihatan anak usia sekolah menjadi masalah yang sangat penting dan perlu segera dideteksi sedini mungkin sehingga tidak akan memepengaruhi kefokusan anak saat mengikuti proses pembelajaran. Lingkungan dari pembelajaran yang tidak baik pada saat pembelajaran secara daring pada anak usia sekolah merupakan indikasi salah satu terjadinya penurunan ketajaman pada penglihatan Seperti menatap layar handphone terlalu lama, atau posisi duduk anak yang tidak ergonomik, atau jarak pandang mata dengan handphone atau laptop yang terlalu dekat pada saat pembelajaran daring . Gangguan penglihatan yang tidak terkoreksi akibat masalah refraksi adalah penyebab utama keburaman di seluruh dunia. Dalam program kerjasama VISION 2020 antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan (IAPB), sekitar 153 juta orang di seluruh dunia mengalami masalah penglihatan pada tahun 2014 karena gangguan refraksi yang tidak diatasi. Sekitar 13 juta di antaranya adalah anak-anak berusia 5-15 tahun, dengan Asia Tenggara memiliki prevalensi tertinggi. Sejak tahun 2004. WHO telah bergandengan tangan dengan Lions Clubs International untuk membangun jaringan global dari 45 pusat kebutaan anak di 35 negara atau wilayah. Tujuannya adalah untuk melindungi, memulihkan, atau memperbaiki penglihatan bagi anak-anak dan anak-anak yang mengalami kebutaan total . Hasil penelitian American Academy of Ophthalmlogy (AOA) bahwa pemakaian handphone terlalu lama mengakibatkan kelelahan pada mata, kemerahan, kaburnya penglihatan, miopa, dan gejala mata lain. Gangguan kesehatan akibat dari penggunaan gawai adalah kelelahan pada mata karena durasi lama pemakaian handphone atau laptop mengakibatkan gejalan kelelahan pada mata yang juga disebut Computer Vision Syndrome (CVS). Efek buruk bagi kesehatan mata dan fisik akibat penggunaan handphone yang berlebihan sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan beristirahat setelah menggunakan handphone. Upaya lain juga perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan mata dari layar handphone. Dampak dari pembelajaran secara daring ini dijadikan solusi dalam menurunkan penyebaran pandemi Covid-19, namun orang tua dan anak harus tetap berusaha untuk mencegah penurunan ketajaman penglihatan pada anak . Akibat dari pandemi covid-19 pemerintah Indonesia mewajibkan para siswa untuk belajar secara daring guna untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19. Siswa-siswi harus melaksanakan pembelajaran daring dirumah dengan menatap layar handphone lebih dari 2 jam Dengan durasi screen time lebih dari 2 jam ini bisa mempengaruhi kerja optimal dari mata sehingga mengalami penurunan tajam penglihatan. Kabupaten klaten merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah, yang memiliki 26 kecamatan, 391 desa dan 10 kelurahan. Kabupaten Klaten sendiri juga menerapkan pembelajaran secara daring mulai dari TK. SD. SMP. SMA, hingga Perguruan tinggi . Hasil studi pendahuluan pada 5 desember 2022 yang dilakukan peneliti di SD Negeri 2 Sukorejo dengan metode wawancara kepada kepala sekolah dan wali kelas 4, 5, dan 6 mengatakan bahwa sekolah tersebut menerapkan sistem pembelajaran secara daring selama pandemi Covid-19 berlangsung sejak maret 2020 sampai februari 2022 dengan menggunakan media handphone dari rumah. Durasi pembelajaran daring untuk satu mata pelajaran adalah 35 Dalam sehari siswa-siswi dapat melakukan pembelajaran daring dua sampai tiga mata Hasil wawancara dengan wali kelas didapatkan kelas 4 terdapat 1 anak yang menggunakan kacamata, dan kelas 6 terdapat 4 anak yang memakai kacamata, sedangkan dari kelas 5 tidak ada anak yang menggunakan kacamata. Beberapa orang tua anak juga melaporkan TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 pada saat pengambilan raport bahwa anak mereka sering dengan posisi yang tidak ergonomic ketika melakukan pembelajaran daring. Hasil wawancara kepada beberapa siswa- siswi juga mengatakan bahwa mereka biasanya melakukan pembelajaran daring dengan posisi tiduran dikarenakan merasa nyaman. Selama ini belum ada pemeriksaan visus mata setelah dilakukannya pembelajaran daring di sekolah tersebut. Sekaligus sebagai skrining pencegahan penururnan visus mata bagi siswa-siswi tersebut. Metode Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan penelitian cross-sectional. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel total sampling dengan kriteria eksklusi. Total populasi siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 yang bersekolah di SDN 2 Sukorejo yang berjumlah 43 anak. Terdapat 5 anak yang menggunakan kacamata bantu penglihatan yang kemudian kelima anak tersebut dimasukan ke dalam kriteria ekslusi dan total sampel menjadi 38 anak. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas, variabel tunggal yaitu gambaran visus mata. Definisi Operasionalnya nilai baik buruknya fungsi mata secara keseluruhan untuk melihat jelas pada suatu benda. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian menggunakan snellen chart. Tempat penelitian di SDN 2 Sukorejo. Etika penelitian yang digunakan yaitu Formulir Persetujuan (Informed consen. Anonimity . anpa nam. Confidentiality . Hasil dan Pembahasan 1 Karakteristik responden berdasarkan usia Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia di SDN 2 Sukorejo tahun 2023 . Variabel Min Max Mean Usia 11,18 0,955 Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa rata-rata usia responden di SDN 2 Sukorejoadalah 11,18 tahun dengan standar deviasi 0,955 tahun, serta usiaminimal 10 tahun san maksimal 13 tahun. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di SDN 2 Sukorejo tahun 2023 . Variabel Laki-laki Perempuan Total Frekuensi Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa dari 38 responden anak sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 21 responden . ,3%). Karakteristik responden berdasarkan hasil pemeriksaan visus mata Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Visus Mata di SDN 2 Sukorejo tahun 2023 . Variabel Frekuensi Hasil pemeriksaan visus . ata k. 6/7,5 6/12 Total Hasil pemeriksaan visus . ata k. 6/7,5 6/12 Total TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa dari 38 responden anak sebagian besar Hasil pemeriksaan visus mata kanan sebagian besar 6/6 sebanyak 30 responden . ,9%), dan hasil pemeriksaan visus mata kiri sebagian besar 6/6 sebanyak 26 responden . ,4%). Gambaran visus mata pasca pembelajaran daring pada anak sekolah dasar Tabel 4. Distribusi Frekuensi Nilai Visus Mata Responden di SD N 2 Sukorejo Tahun 2023 . Kategori Frekuensi Mata Kanan Penglihatan normal Penglihatan hampir normal Low vision sedang Low vision berat Total Mata kiri Penglihatan normal Penglihatan hampir normal Low vision sedang Low vision berat Total Tabel 4 di atas maka dapat diketahui bahwa nilai visus mata pada anak usia sekolah dasar di SD N 2 Sukorejo sebagian besar adalah penglihatan normal yaitu sebanyak 33 mata anak . ,8%) pada mata kanan, sebanyak 36 mata anak . ,7%) pada mata kiri dan penglihatan hampir normal seanyak 5 mata anak . ,2%) pada mata kanan, sebanyak 2 mata anak . ,3%) pada mata kiri. Pembahasan Karakteristik responden berdasarkan usia. Berdasarkan tabel 1 penelitian ini mendapatkan hasil bahwa rata-rata usia responden di SDN 2 Sukorejo adalah 11,18 tahun dengan standar deviasi 0,955 tahun, serta usiaminimal 10 tahun san maksimal 13 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia responden merupakan kategori usia sekolah. Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai . pada usia 12 tahun . Anak Usia Sekolah adalah anak umur lebih dari 6 tahun sampai sebelum berusia 18 tahun . Tahapan - tahapan perkembangan moral Piaget membagi tahap perkembangan moral menjadi dua, yaitu moralitas heteronom dan moralitas otonom. Moralitas heteronom . sia 4 sampai 7 tahu. yaitu tahap di mana anak memahami keadilan dan peraturan sebagai sesuatu yang berada di luar kendali manusia. Moralitas otonom . sia 10 tahun ke ata. yaitu tahap di mana anak sadar bahwa peraturan dibuat oleh manusia sehingga dalam menilai suatu tindakan harus mempertimbangkan niat pelaku dan konsekuensinya . Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata responden telah memasuki tahapan perkembangan moralitas otonom dimana tahap di mana anak sadar bahwa peraturan dibuat oleh manusia sehingga dalam menilai suatu tindakan harus mempertimbangkan niat pelaku dan Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata responden telah memasuki tahapan perkembangan moralitas otonom dimana tahap di mana anak sadar bahwa peraturan dibuat oleh manusia sehingga dalam menilai suatu tindakan harus mempertimbangkan niat pelaku dan konsekuensinya. Para siswa-siswi sekolah dasar harus melaksanakan pembelajaran secara daring, yang dimana sreentime yang lebih dari 2 jam sehari dan posisi yang tidak ergonomic saat melakukan pembelajaran daring menggunakan handphone dalam jangka panjang dapat mempengaruhi ketajaman penglihatan anak. Anak yang mengalami penurunan ketajaman penglihatan akan mengganggu dalam proses pembelajaran serta dapat mengganggu prestasi pada anak. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan tabel 2 penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dari 38 responden anak sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 21 responden . ,3%). Belajar merupakan pemberian pengalaman secara luas pada seluruh aspek perkembangan. Oleh karena itu, dalam mengatasi hambatan seperti kurangnya motivasi belajar anak, maka dapat dilakukan dengan membuka pengalaman secara TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 luas sehingga dapat mendorong seluruh aspek perkembangan anak secara komprehensif dan dilakukan sejak dini dengan penggunaan media pembelajaran yang mampu memotivasi anak untuk belajar. Semakin tinggi motivasi, maka semakin tinggi keberhasilan yang dicapai . Siswa laki laki dengan siswa perempuan memiliki motivasi belajar yang berbeda. Motivasi belajar siswa perempuan lebih baik jika dibandingkan dengan siswa laki-laki. Tanggung jawab siswa perempuan selama pandemi juga lebih baik. Siswa perempuan cenderung memiliki kemampuan untuk memonitor diri sendiri pada aspek pola pikir, perasaan, dan perilaku untuk mencapai tujuan belajar . Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin responden, anak perempuan dan anak laki-laki, seharusnya tidak mengalami kelainan refraksi mata yang berbeda jauh. Kelainan refraksi pada anak perempuan biasanya lebih besar daripada anak laki-laki, dengan perbandingan 1,4:1. Hal ini disebabkan karena anak perempuan dikaitkan dengan aktivitas melihat dekat sangat tinggi dibandingkan anak laki-laki . Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi dan tanggungjawab belajar anak perempuan lebih baik dari pada anak laki-laki. Motivasi dan tanggungjawab belajar merupakan dorongan atau kekuatan internal anak yang menyebabkan kegiatan dan arah belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Anak akan terdorong belajar dengan sungguh-sungguh jika memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi belajar yang tinggi ini menyebabkan anak selalu fokus untuk belajar secara daring dengan durasi screentime lebih dari 2 jam sehari dan posisi tidak ergonomic dapat mengakibatkan tergganggunya ketajaman pada mata anak tersebut. Gambaran visus mata pasca pembelajaran daring pada anak sekolah dasar. Berdasarkan tabel 4 penelitian ini mendapatkan hasil bahwa nilai visus mata pada anak usia sekolah dasar di SD N 2 Sukorejo sebagian besar adalah penglihatan normal yaitu sebanyak 33 mata anak . ,8%) pada mata kanan, sebanyak 36 mata anak . ,7%) pada mata kiri dan penglihatan hampir normal seanyak 5 mata anak . ,2%) pada mata kanan, sebanyak 2 mata anak . ,3%) pada mata kiri. Berdasarkan analisis data tersebut maka disimpulkan bahwa visus mata pada anak pasca pembelajaran daring di SDN 2 Sukorejo adalah penglihatan normal. Anak usia sekolah merupakan sebuah investasi berharga pada suatu negara sebagai generasi penerus bangsa. Masa depan bangsa ditentukan oleh generasi muda. Upaya peningkatan derajad kesehatan anak menjadi sesuatu yang harus diperhatikan sejak dini untuk mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan . Gangguan tajam penglihatan merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan dalam usia sekolah. Oleh karena itu pemeriksaan rutin untuk mendeteksi apakah terjadi gangguan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan sedini mungkin . Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki VODS (Visus Oculi Dextra Sinistr. normal sebesar 59%. Hasil pemeriksaan ketajaman mata pada anak dapat diketahui bahwa 25 anak . ,5%) setelah dilakukan pemeriksaan dengan snellen chart termasuk dalam kategori ketajaman mata yang normal, sedangkan sisanya sebanyak 15 anak . ,5%) dalam kategori mata yang tidak normal. Hal ini merujuk pada usia responden yang sudah menginjak usia 6 tahun ke atas karena di usia tersebut perkembangan tajam penglihatan anak sudah berkembang secara sempurna. Jika anak memiliki ketajaman penglihatan yang normal dengan VSOD 6/6, maka proses belajar yang diterimanya akan baik dan lancar . Kelainan refraksi juga menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan pada anak, terutama usia 5-15 tahun. Sekitar 90% anak biasanya mengalami kelainan refraksi, terlebih miopia yang meningkatsecaratajam. Saat ini prevalensi kelainan refraksi pada anak meningkat tajam, salah satunya di bagian Asia Tenggara. Menurut Kementerian Kesehatan RI, kasus kelainan refraksi mencakup 70% dari seluruh penyebab kebutaan. Masalah penglihatan yang dapat diobati pada anak sering terjadi dengan prevalensi 13%-23% . Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) mencatat 20% anak usia sekolah di Indonesia mengalami kelainan mata pada usia dini bahkan 80% telah tercatat menggunakan kaca mata. Miopi adalah epidemi yang berkembang yang akan mempengaruhi setengah dari populasi global pada tahun 2050 dan menimbulkan kehilangan penglihatan yang tidak dapat TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. Juli 2024. Hal. P-ISSN 2089-1. E-ISSN 2685-1660 Hal ini akan mempengaruhi setiap aspek termasuk pendidikan, pekerjaan dan keselamatan . Ketajaman penglihatan atau visus adalah kemampuan untuk membedakan bagian - bagian detail yang kecil, baik terhadap objek maupun terhadap permukaan. Kelainan ketajaman penglihatan merupakan gejala yang paling umum ditemukan oleh seseorang yang mengalami gangguan lintasan visual. Tajam penglihatan adalah salah satu masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah . Kelainan ketajaman penglihatan pada anak usia sekolah merupakan masalah kesehatan yang penting. Deteksi dini dan publikasi mengenai prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan kelainan tajam penglihatan pada pelajar sekolah dasar di Indonesia masih sangat jarang dilakukan . Pada masa pandemi kekhawatiran akan kesehatan mata pada anak meningkat. Sejak kegiatan pembelajaran pada anak dilakukan secara daring, intensitas anak dalam pembelajaran beralih menggunakan handphone . Hal ini berpengaruh pada kesehatan mata anak karena mata rentan lelah dan mengalami kekeringan sehingga dapat mengalami gangguan ketajaman Tajam penglihatan merupakan kemampuan seseorang dalam melihat sebuah objek dalam satu jarak tertentu. Skrining pemeriksaan tajam penglihatan pada anak perlu dilakukan secara dini dan berkala mengingat berhubungan dengan proses belajar yang diterima di Jika anak memiliki penurunan tajam penglihatan,proses belajar akan terganggu, anak tidak dapat menyerap materi pelajaran dengan baik, dan kecerdasan anak akan menurun. Selain Itu, jika tidak tertangani secara dini justru akan memperberat kerusakan mata yang dialami oleh anak setiap tahunnya. Perlunya tindakan skrining ini di lingkungan sekolah untuk mencegah permasalahan tersebut. Pemeriksaan visus termasuk indikator utama dari kesehatan mata pada anak. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah Karakteristik anak sekolah dasar di SDN 2 Sukorejo rata Ae rata berusia 11,18 tahun dengan standar deviasi 0,955 tahun dengan umur minimal 10 tahun dan umur maximal 13 tahun. Sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 anak . ,3%). Hasil visus mata pasca pembelajaran daring pada anak sekolah dasar di SDN 2 Sukorejo sebagian besar adalah penglihatan normal pada mata kanan sebanyak 33 mata anak . ,8%) dan mata kiri sebanyak 36 mata anak . ,7%). Ucapan Terimakasih Peneliti mengucapkan terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Klaten karna telah memberikan Support dan memberikan Dana demi terselenggaranya Penelitian ini, ucapan terimakasih juga peneliti sampaikan kepada Kepala Sekolah SD N Sukorejo yang telah memberikan ijin melakukan penelitian. Daftar Pustaka