Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 CERMINAN KRITIK SOSIAL TERHADAP LANSIA DI JEPANG DALAM FILM PLAN 75 KARYA CHIE HAYAKAWA Wisnu Dwi Prabowo1. Metty Suwandany2. Tia Martia3 Program Studi Bahasa Dan Kebudayaan Jepang Fakultas Bahasa Dan Budaya Universitas Darma Persada Email : suwandanymetty@gmail. orressponding autho. Melalui penelitian ini penulis menganalisis film Plan 75 karya Chie Hayakawa yang merupakan film bergenre fiksi ilmiah-distopia atau yang berarti penggambaran sebuah kemungkinan masa depan yang buruk. Film ini menceritakan tentang negara Jepang di masa depan saat populasi lansia semakin banyak hingga mendesak pemerintah untuk menyelenggarakan sebuah program khusus untuk para lansia berusia 75 tahun ke atas. Program ini disebut sebagai Plan 75, yaitu sebuah program untuk membantu para lansia mengakhiri hidup mereka dengan cara melakukan praktik euthanasia. Tujuan penelitian ini untuk memahami kritik sosial yang tercermin dalam film Plan 75 yang ditelaah melalui pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Data dikumpulkan melalui metode simak catat dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Plan 75 ini mengkritik adanya masalah sosial yang terjadi pada masyarakat Jepang, khususnya pada para lansia seperti tindak kejahatan terhadap lansia, diskriminasi, kemiskinan, dan disorganisasi keluarga. Keywords - dehumanisasi, diskriminasi, euthanasia, kemiskinan, film Plan 75 PENDAHULUAN Jepang merupakan salah satu negara maju di benua asia yang mengalami permasalahan dalam hal Fenomena demografi kematian dan migrasi. Permasalahan demografi di Jepang dengan penurunan jumlah angka kelahiran serta jumlah penduduk lansia yang terus meningkat. Chiba . menyatakan bahwa jumlah lansia berusia 65 tahun ke atas pada tahun 2023 mencapai 32,23 juta orang, yang mana 0,1 persen lebih tinggi dibanding tahun 2022. Jumlah penduduk lansia tersebut didominasi oleh kaum perempuan, yang mana diperkirakan berjumlah 20,51 juta jiwa, sedangkan laki-laki berjumlah 15,72 jiwa. Peningkatan penduduk lansia ini sangat memengaruhi kondisi perekonomi negara Jepang. Hal ini disebabkan oleh biaya perawatan untuk lansia yang semakin membengkak. Jumlah generasi muda yang dapat mengisi sehingga dana yang diperoleh negara Jepang semakin berkurang dan negara pun mengeluarkan biaya ekstra untuk program sosial dan . ttps://w. com/id/satu-dari-1 0-orang-jepang-berusia-80-tahun/a66864. Permasalahan ini pun menjadi sangat genting, karena bila hal ini terus berlanjut, maka keadaan ekonomi di Jepang akan semakin Permasalahan ini pun memunculkan pendapat yang sangat ekstrim untuk mengatasi keadaan Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 yang dihadapi oleh Jepang tersebut. Pada bulan desember 2021 di salah satu program berita online bernama Abema, asisten profesor dari Universitas Yale yaitu Yasuke Narita mengatakan bahwa kemungkinan salah satu cara untuk mengatasi permalasahan ini adalah bunuh diri massal atau Seppuku secara massal. Pada 2022. Narita pun kembali menyatakan sebuah pernyataan yang mengandung sebuah praktik yang masih ianggap illegal di Jepang yaitu euthanasia atau dalam bahasa Jepang disebut sebagai anrakushi/O u. Narita berpendapat bahwa euthanasia berkemungkinan akan dilegalkan di negara Jepang pada masa yang akan datang bila permasalahan ini terus berlanjut . ttps://diamond. jp/articles/-/316. Bila dilihat dari penjelasan tersebut, terlihat jelas bahwa euthanasia memiliki hubungan yang erat dengan hak seorang individu. Hak yang dimiliki seorang individu ini dalam bahasa Jepang disebut jikoketteiken/No, dalam bahasa Indonesia berarti hak untuk menentukan atas dirinya sendiri atau nasibnya sendiri. Apabila tindakan seppuku massal tersebut benar terjadi, maka itu menandakan hilangnya martabat atau hak seorang lansia. Karena belum tentu seseorang ingin mengakhiri hidupnya karena murni keinginan mereka, melainkan karena faktor eksternal seperti adanya tekanan sosial dari masyarakat atau masalah ekonomi yang dihadapi para lansia. Film plan 75 ini berkisah tentang negara Jepang di masa depan saat populasi lansia semakin banyak dan hal tersebut mendesak pemerintah program khusus untuk para lansia Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 berusia 75 tahun ke atas. Program ini disebut sebagai Plan 75, yaitu sebuah program untuk membantu para lansia untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara melakukan praktik Film ini disutradarai oleh Chie Hayakawa memenangkan banyak penghargaan iantaranya adalah AuCriticAos Choice AwardAy dan AuYouth Jury AwardAy di festival film internasional Fribourg. Cerita film ini diawali dengan peristiwa pembunuhan seorang lansia di sebuah panti jompo yang dilakukan oleh salah seorang perawat. Tindakan ini didorong karena pemikiran bahwa para orang yang sudah tua merupakan beban ekonomi bagi negara. Insiden ini pun mendesak pemerintahan untuk penduduk lansia yang semakin Sebuah stasiun radio pun mengabarkan bahwa pada akhirnya pemerintahan Jepang mengadakan serta mendanai program AuPlan 75Ay, yaitu sebuah program yang membantu para lansia berusia 75 tahun atau lebih . Cerita pun berlanjut dengan menceritakan tokoh utamanya yang bernama Michi Kakutani, seorang lansia berusia 78 tahun yang menjalani hidup seorang diri dengan bekerja di sebuah hotel. Konflik mulai ialami Michi pekerjaannya sebagai room attendant karena ada aduan dari pelanggan bahwa kasihan melihat para lansia masih bekerja. Lalu ketika ia pulang ke apartemen ada selebaran pengumuman yang ditempelkan di dinding tentang batas waktu penyewaan apartemennya. Kondisi ini memaksa Michi untuk mencari apartemen baru untuk disewa. Keadaan semakin buruk karena sulit untuk mencari pekerjaan dan juga tempat tinggal yang menerima seorang Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 Michi. Kedan bertambah buruk ketika Michi melihat dengan mata kepala sendiri bahwa teman baiknya itu sudah tiada, sendirian di rumahnya. Michi pun merasa tidak memiliki apapun lagi dan dalam keterpurukan itu pun akhirnya mengambil tunjangan kesejahteraan untuk lansia di balai kota, namun sayangnya departemen yang mengurus itu tutup, sedangkan bagian untuk program plan 75 tetap tersedia dan buka selama 24 jam untuk saluran Tokoh lainnya adalah Hiromu Akabe yang bekerja di balai kota sebagai petugas pendaftaran plan 75 serta memasang brosur iklan plan 75. Ia secara tiba-tiba diserang oleh orang tak dikenal, dilempari balon air yang berisi cairan, sebagai bentuk protes terhadap program tersebut. Pada malam harinya Hiromu menemukan sebuah perusahaan limbah industrial yang bekerja sama dengan program plan 75 dan mengetahui bahwa perusahaan tersebut juga mengurusi Berikutnya adalah tokoh Maria, dari Filipina. Pekerjaan barunya di program plan 75 sebagai pengelola barang peninggalan yang dibawa para klien sebelum jasad mereka nanti dikremasi. Pekerjaan barunya ini menciptakan imajinasinya bahwa putrinya merupakan salah satu klien plan 75, karena terbesit dipikirkannya bahwa program ini bukan untuk lansia saja, dapat juga untuk semua orang yang sudah tak mampu lagi hidup karena penyakit seperti yang ialami oleh putrinya. Michi sudah bertekad bulat untuk mengikuti program plan 75 berangkat ke tempat euthanasia dilakukan. Hiromu mengantarkan pamannya Yukio ke Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 tempat yang sama. Yukio pun akhirnya meninggal dalam keadaan tidur akibat Michi yang melihat hal memutuskan keluar dari fasilitas itu. Hiromu akhirnya memutuskan untuk memberhentikan pamannya namun ternyata terlambat dan memutuskan untuk membawa jasadnya agar dapat dikremasi di tempat yang ia inginkan. Kemiripan film tersebut dengan realitas yang sedang terjadi di Jepang saat ini, yaitu terjadinya peningkatan penduduk lansia, maka penulis ingin menjadikan film ini sebagai objek METODE Metode metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Penulisan ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang didapat dari film Plan 75 dengan metode simak catat. Teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan yang bersumber data primer dari film Plan 75 karya Chie Hayakawa dan didukung oleh data sekunder yang bersumber dari buku, e-book, jurnal maupun artikel, skripsi, e-book, mendapatkan informasi yang relevan dengan penulisan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tokoh dalam film Plan 75 ini terdiri dari 1 orang tokoh utama, yaitu Michi Kokutani, dan 5 orang tokoh bawahan, yaitu Ineko Maki. Yukio Okabe. Hiromi Okabe. Maria. Youko Narimiya. Film ini menggunakan alur progresif atau biasa disebut sebagai alur maju, dengan latar belakang Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 negara Jepang di masa depan, di mana Jepang melegalkan euthanasia untuk semua warga yang telah mencapai usia 75 Sedangkan latar tempatnya terjadi di panti jompo, balai kota, dan Kritik Sosial Pada Film Plan 75 Film Plan 75 merupakan sebuah film yang mengangkat keadaan sosial dan juga masalah-masalah sosial yang sedang terjadi di Jepang. Masalah sosial utama yang menjadi latar belakang film ini adalah masyarakat yang sedang menuju penuaan, atau masyarakat dengan penduduk lansia lebih banyak dari pada yang masih Akibat masalah-masalah Masalah sosial tersebut disampaikan melalui film Plan 75 sebagai kritik sosial agar masyarakat menjadi lebih peka terhadap permasalahan yang sedang terjadi di negara Jepang. Berdasarkan dari data-data yang penulis dapatkan, terdapat beberapa masalah sosial yang menjadi sebuah kritik sosial pada film ini yaitu kritik sosial kependudukan, kritik sosial kejahatan, kritik sosial kemiskinan, kritik sosial pelanggaran norma, dan kritik sosial disorganisasi keluarga. Namun selain kritik sosial tersebut, terdapat juga kritik sosial akan bagaimana bila masalah sosial tersebut program plan 75 sebagai sebuah AU Kritik Sosial Kependudukan Dalam film ini tidak diperlihatkan secara jelas akan bagaimana mengalami penuaan ini, namun masalah ini lah yang menjadi akar Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 dari semua permasalahan yang AoAIAUueEAiCUCUU AUIuAuAaOAiCe AooUniaUAAOuuoEA nCeiuACCACUucA AUoaEaC (Plan 75, 00:05:44-00:05:. Akoureisha ga shuugeki sareru jiken ga zenkoku de aitsugu naka shinkokusa wo masu bapponteki na taisaku wo seifu ni motomeru kokumin no koe ga takamatte imashita. Amasyarakat Pemerintah mengambil langkah segera populasi lansia, yang menjadi semakin serius di tengah serangkaian serangan terhadap para lansia di seluruh negeri. Narasi di atas adalah berita yang disampaikan melalui sebuah radio. Berita ini mengatakan banyak menangani permasalahan lansia yang terjadi di negara Jepang. Hal ini menunjukkan betapa gentingnya menimbulkan beberapa tindak kejahatan yang ditujukan kepada Menurut Biro Statistik Kementrian Dalam Negeri dan Komunikasi . mengatakan bahwa penduduk lansia per 15 September 2023 mencapai 36. juta jiwa, dan dinyatakan bahwa satu dari sepuluh orang di Jepang sudah berusia 80 tahun. Sedangkan penduduk berusia di bawah 15 tahun berjumlah 14,17 juta jiwa, dan penduduk berusia 15-64 tahun berjumlah 75 juta jiwa. Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 AU Kritik Sosial Kejahatan Kejahatan adalah sebuah tindakan yang merugikan secara perorangan maupun kelompok atau juga dapat iartikan sebagai dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, atau merupakan sebuah kelalaian yang berujung kepada hukuman. Pada film Plan 75 kejahatan ini ditampilkan pada awal film. Kejadian ini juga awal program plan 75 tersebut. U oAOaUAe AuAiCeua AyA oEAuAIAUu AIAUaAcAAECUACAA aeCUuO oAEcAACOa AEAAoAACAAuACOAAu uAAEAIAAoiAUCO uAACaeA CeNCOAAyAIcaU COAACaeAUNAC CuiAUAsAAUAcAA COAAoIAUuAna AeAuAAuyuAUoaCU aCUAeACeEAUCOoA AAECUAC (Plan 75, 00:03:07-00:03:. Kaigoshi : Fue sugita rsjin ga kono appakushi, sono shiwayose wa subete wakamono ga Rsjin tachi datte, kore ijs shakai no meiwaku ni naritakunai hazuda. Nazenara, nihonjin to iu no wa mukashi kara kokka no tame ni shinu koto wo hokori ni omou minzoku Watashi no kono yki aru ksds ga kikkake to nari, minna ga hone de noAmirai ga akaruku naru koto wo kokoro kara negatte Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 Perawat : Meningkatnya jumlah orang tua memberikan tekanan pada keuangan negara, orang tua seharusnya tidak ingin Orang Jepang selalu bangga untuk mati demi negaranya. Saya sangat berharap bahwa tindakan berani saya ini akan memicu semua orang untuk berdiskusi secara jujur dan masa depan negara ini menjadi lebih cerah. Dari monolog yang dilakukan oleh pembunuh lansia di panti jompo itu kita dapat mengetahui bahwa adanya suatu kebencian Pembunuh ini merasa bahwa hanyalah beban bagi ekonomi negara, sehingga tidak tindakannya dan malah berharap surat yang ditinggalkannya nanti menjadi sebuah titik awal terjadinya perubahan dalam menindaklanjuti permasalahan kependudukan tersebut. Insiden kejadian nyata yang terjadi di negara Jepang tahun 2016 . Insiden buruk ini terjadi pada sebuah panti rehabilitasi sosial penyandang disabilitas bernama Tsuki Yamayuri en di kota Samigahara. Pelakunya adalah seorang pria berusia 26 tahun mantan perawat di fasilitas tersebut, pria ini bernama Satoshi Uematsu. Uematsu masuk ke dalam fasilitas itu secara paksa menyebabkan 19 orang tewas dan 26 orang terluka. Tindakan Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 Uematsu sendiri sangat tidak masuk akal dan egois, karena ia berkata bahwa perawatan itu merupakan hal yang sia-sia, tidak . ara disabilita. untuk hidup, dan ini . ttps://mainichi. jp/english/article s/20191209/p2a/00m/0na/012000 Bahkan sebelum melakukan mengirimkan surat ke parlemen Jepang yang berisikan kalau ia depan para euthanasia, dengan persetujuan wali, ketika mereka tidak bisa melakukan kegiatan rumah tangga dan sosial. Kejahatan ini pun dipandang sebagai kejahatan paling keji yang pernah dilakukan oleh seorang individu di Jepang. Menurut data dari penelitian yang dilakukan Yuhara . pelaku paling banyak adalah laki-laki . ,8%), berdasarkan hubungan pelaku dengan korban, anak laki-laki dan Menurut Yuhara . alasan utama mereka adalah karena adanya depresi yang muncul di antara perawat dan juga yang dirawat. Para perawat merasakan lelah dalam mengurusi para lansia, kelelahan secara mental. Lalu keadaan makin buruk ketika lansia yang depresi berupa keinginan untuk merasa tidak berguna, memohon untuk dibunuh, dan di beberapa kasus adalah adanya faktor demensia pada lansia yang Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 kekerasan (Yuhara, 2011:48-. AU Kritik Sosial Pelanggaran Norma Masyarakat Diskriminasi perlakuan yang ditunjukkan kepada suatu kelompok, individu ataupun berdasarkan sesuatu secara tidak seimbang, yang biasanya bersifat kategorikal atau atribut yang khas seperti ras, kesukubangsaan, agama atau kelas-kelas sosial (Theodorson dan Therodorson, dalam Saludung, 2019:. Namun diskriminasi juga dapat ditujukan kepada perbedaan usia dalam suatu kelompok masyarakat, jenis diskriminasi ini disebut sebagai ageism atau suatu bentuk diskriminasi berdasarkan usia seseorang. EEA oAUECOCeEsAUAuACOAUCaAEAyAIAAsAA U oAyCeAAcAC ooaEEuEIEAA AiaUCeACOAiCEECAE AoCEAAE. (Plan 75, 00:37 49-00:38 . Michi : AyToshiyori kawaisouda" tte. Sanae: Sonnano usouso. Hisae : Kaisha no iiwake yo. Hoteru no naka de sa, hito ga shindara sa, imeji warui Michi : Kasihan membuat orang tua bekerja, katanya. Sanae : Itu omong kosong Hisae : itu hanya alasan perusahaan. Kalau ada orang meninggal di hotel, kan citranya jadi Percakapan di atas terjadi setelah Michi teman-temannya diberhentikan dari pekerjaan mereka di hotel. Ini merupakan sebuah menganggap bahwa lansia itu hanyalah beban, maka lebih baik Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 menggantikannya dengan yang lebih Hal ini mengkritik keadaan di menganggap bahwa lansia itu hanya akan menjadi sebuah beban dalam Banyak perusahaan lebih memilih untuk mencari tenaga kerja yang lebih muda, lalu berpikir bahwa membutuhkan dana lebih untuk menggaji para senior, dan yang terakhir adalah pikiran bahwa para lansia tidak dapat beradaptasi dengan . ttps://zenbird. meia/age-discriminati on-limiting-jobopportunities-for-japanese-elderly/). sUiiUoCCACCAACAEACCAOnA aOCOAAoUuAAoAC ACA O OAAoAUACAoAEAAu CeACACaCNAA aiuNA CeAAoAcAACAOa 78 AAu aEaOaoACAyAIACe AAoCOAOACAOAOayAeCe ACeAAU AOoAEAAsAAEAAoAUAANACAIA AieuaEACeAAoCOAOACA AEAAEACACAA ACUaCNAA IaiAEAACEeOI IO OiAEaEacCUACOAOECO ACCAUAsaICeAAoAc AAC (Plan 75, 00:39:53-00:. Fudousanya : Moshi moshi. Itsumo osewa ni natte Wakabayashi desu. Aa, ima daijoubu desuka. Suimasen ano, chotto mata gosoudan nandesu kedo. EetoA nana juu hassai, josei, mushoku, ohitori desu. Sou nan desu yo. Ee, soko wo nantoka onegai dekinai desuka nee. Uchi de gokenme mitai nandesu yo. Hai. Aa, naruhodo, chotto matte kudasai yachin ninen bun senbarai shite itadakeru nara otoshiyori demo AuOKAy datte iru ndesu kedo Agen Properti : Halo. Terima kasih atas semua Saya. Wakabayashi. Ah, apakah anda sedang sibuk? Maaf. Begini, saya ingin berkonsultasi lagi. Umm. 78 tahun, perempuan, tidak bekerja, tinggal sendiri. Betul. Ya, bisakah Anda membantu dengan itu? Sepertinya ini adalah penolakan kelima Ya. Ah, begitu ya, tunggu Mereka bilang tidak masalah jika orang tua membayar sewa dua tahun di Dari penyewaan rumah dengan Michi dapat diskriminasi yang dilakukan oleh Awalnya menanyakan keadaan Michi terlebih dahulu, namun setelah mengetahui kesulitan yang dihadapi Michi, ia justru memberikan sebuah syarat berupa pembayaran di muka untuk dua bulan, dan bila bisa membayarnya ia baru akan mengizinkan Michi untuk Bahkan pegawai ini pun menawarkan untuk mencoba apartemen bersubsidi. Michi menolak saran tersebut dengan alasan ingin berjuang sedikit lagi, namun juga dapat diartikan Michi tidak mau tersebut karena merasa malu bila Keadaan yang dialami oleh Michi ini adalah sebuah kritikan akan sulitnya mendapatkan tempat tinggal baru karena tindakan diskriminasi. Pada sebuah wawancara yang dilakukan pada sebuah artikel persuahaan real estate di Jepang, seorang lansia mengatakan bahwa ada beberapa kesulitan yang dihadapi para lansia akan sebuah tempat tinggal dan penyewaannya. Kesulitan yang dihadapi di antaranya adalah adanya pemberitahuan mendadak untuk segera pindah karena akan dilakukan Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 penggusuran, diberikan saran tempat tinggal yang kurang layak seperti memiliki anak tangga yang banyak, dan bahkan sebuah properti yang dulunya pernah menjadi tempat terjadinya . ttps://prtimes. jp/main/html/rd/p/0000 Kesulitan para lansia untuk mencari sebuah tempat tinggal sendiri merupakan hal yang sering dijumpai di Jepang, banyak para pemilik properti yang tidak suka kalau ada seorang lansia yang ingin menyewa properti mereka, terlebih lagi apabila lansia yang ingin menyewa hidup Menurut pertahanan 70% dari pemilik properti ragu untuk menyewakan kepada para lansia dan penyandang disabilitas dengan alasan karena tidak yakin dapat menjaga keharmonisan antara tetangga yang menyewa dengan yang tinggal di tempat penyewaan lain atau di rumah . ttps://w. com/ajw/articles/149 Berdasarkan hasil wawancara pada sebuah jurnal yang ditulis oleh Yamada . 1:138-. banyak pandangan buruk yang dilontarkan kepada seseorang yang menerima bantuan sosial, misalnya adanya pandangan buruk dari tetangga, direndahkan oleh pemilik apartemen, diperlakukan beda pada pemandian umum, , perilaku kurang mengenakkan saat di rumah Film ini juga mengkritik bahwa euthanasia merupakan suatu tindakan yang melanggar norma karena sama saja dengan tindakan pembunuhan massal para lansia. Euthanasia atau O sering dianggap sebagai mati yang bermartabat bagi sebagian Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki hak untuk hidup dengan bermartabat, berarti setiap orang juga berhak memiliki hak untuk mati secara Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 75 uOAoAIACeAA OCesCAiaAoCUOaoAuEE E 75AyACAACoOeOyAUCOO CeAUCCaEasAUUiAUCO EAeCOCUaUaeAeAyuACOAI CEaOaUAACOaCOsUAA AEAeaniUAUCOCCuCeuI CAuuAoUniaUCeAoCU aCUAeAAUuIAiCUAAoAC (Plan 00:05:23-00:06:. Nana juu-sai ijou no kourei- sha ni shi o erabu kenri o mitome shien suru seido, tsuushou 'Puran nana [A]. Hatsuandocho kara butsugi o kamoshi, hageshii hantai undou ga kurihirogeraremashita ga, koko e kite youyaku no seiritsu to narimashita. Zerei no nai kono kokoromi wa sekai kara mo chumoku o atsumete Nihon no koureika mondai o kaiketsu suru itoguchi ni naru koto ga Sistem yang mendukung hak untuk memilih kematian bagi orang lanjut usia berusia 75 tahun ke atas, yang dikenal sebagai "Plan 75", telah disetujui di Parlemen hari ini. [A]. Sejak awal pengusulan, sistem ini telah menimbulkan kontroversi dan gerakan penolakan yang kuat, namun akhirnya telah disahkan. Upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menarik perhatian dunia dan diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi masalah penuaan di Jepang. Berita itu disampaikan melalui Pada akhirnya pemerintah melegalkan euthanasia bahkan memberikan dana untuk dibuatnya program plan 75. Hal ini menjadi kritik bahwa euthanasia adalah Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 mengambil jalan cepat dengan membuat para lansia bunuh diri secara sukarela. Dilegalkannya euthanasia melalui plan 75 ini juga menciptakan sebuah pergeseran norma dalam masyarakat. dari adanya persetujuan untuk melegalkan euthanasia karena terjadilah sebuah penurunan value dari nyawa seorang manusia. Hal ini disebut sebagai dehumanisasi, pernedahan nilai diri seorang individu dan dapat dikatakan pelanggaran norma. Selain itu ada beberapa indikasi dehumanisasi dalam program plan 75 tersebut, yaitu pemberian intensif 000 yen yang bebas Seolah-olah siapapun yang bersedia untuk mati akan diberikan hadiah berupa uang yang bebas digunakan untuk apa saja, jadi seperti menukar Lalu dehumanisasi juga terlihat pada AuaOaU eAy . encana bersam. , yaitu dan penguburan dilakukan secara bersamaan dengan orang lain yang tidak dikenal. Ini menunjukkan bahwa nilai seorang individu sudah tidak ada lagi maknanya, semua sama saja bila sudah mati. Selain itu plan 75 tidak berharganya sebuah nyawa manusia. neaiACUaCUoCA aEAUCOaCAA A oCaCCAIAoCAaCOAEA NOIaCUAeAAUAAsA COaEAEACsAIayA aCNAA NOIAAyAIAE AIAnaEAIAACACU Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 AeAAUAAsACOOEa AyaCeAAECCAAUA aoACuAsAAeACEa CECOAAEAeACEaUAEAE iaCeAoCEAAEAsA aIAAyAICOAIAAC (Plan 75, 00:19:50-00:20:. Ningen wa ne, umaretekuru toki wa erabenai kara, ano. Shinu toki wa ne, mou shinu toki gurai wa jibun de erabu koto ga dekitara, ii darou naa to omotte, chotto jibun de souiu shinikata tte iu no wa kimeru koto ga dekitara anshin da naa to omotte, nan no mayoi mo nakatta desu. Suki na koto yatte, yaritai koto yatte, "ii jinsei datta n ja nai?" tte iu to omou you na. Manusia itu kan, tidak bisa memilih saat dilahirkan, jadi. Saat meninggal, saya pikir, setidaknya kita bisa memilih bagaimana kita ingin mati, itu akan bagus, jadi saya sedikit merasa tenang jika saya bisa memutuskan cara saya mati, saya tidak ragu sama sekali. Saya melakukan apa yang saya suka, melakukan apa yang ingin saya lakukan, saya pikir saya akan berkata, "Ini adalah kehidupan yang baik. Hal ini menggambarkan usaha pemerintahan untuk meyakinkan para lansia bahwa plan 75 merupakan suatu pilihan yang paling Penempatan iklan plan 75 ini juga sesuatu yang kurang etis dan beretika, di mana mereka menaruh brosur, banner ataupun menayangkan iklan plan 75 di puskesmas khusus untuk para lansia yang ingin melakukan pemeriksaan. Hal ini seakan-akan memberikan sugesti Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 mendaftarkan dirinya ke program plan 75 saja dari pada harus melakukan pemeriksaan rutin dan tidak mengetahui sampai kapan mereka bisa hidup. AUe 75AsnUUAUCOeACAi AAnAAcneCAeciA CUayAAUOOuAciA CCACaCUAAEAAoACiuAO U 10 CeAUAca Ce 65 AAiAsUAeCUAeACe uaEAAoACniUAuACC AAECEiEEOAoUnAUACe AAsAuuAoaCUAEIIAAUU AOAAsAACnAACOAAoAC (Plan 75, 00:55:06-00:55:. Puran nana juu go kaishi kara san nen. Samazama na minkan saabisu mo umare, sono keizai kouka wa ichi chou en to mo iwarete imasu. Seifu wa kongo juu nen wo kakete, taishou nenrei wo roku juu go sai made hikisageru koto wo kentou shite imasu. Sekai de mottomo hayai supiido de koureika ga susunde kita nihon ni akarui kizashi ga miete kita to senmonka wa Tiga tahun telah berlalu sejak dimulainya Plan 75. Berbagai mencapai 1 triliun yen. Dalam 10 tahun ke depan. Pemerintah kelayakan menjadi 65 tahun. Para ahli mengatakan bahwa ini adalah pertanda positif bagi Jepang, populasi dengan penuaan tercepat di dunia. Ini merupakan berita di televisi bahwa plan 75 merupakan sebuah Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 meningkatkan ekonomi negara walau baru 3 tahun berjalan. Bahkan menurunkan umur minimal untuk para lansia yang ingin mengikuti program, dari usia 75 tahun menjadi 65 tahun. Hal ini menunjukkan sebuah sisi kapitalisme pemerintahan yang mencari sebuah keuntungan dengan cara mengorbankan para lansia yang dianggap beban oleh Penurunan usia minimal untuk melakukan tindak euthanasia ini pun menjadi salah satu bentuk dehumanisasi di mana nilai dari nyawa seseorang hanyalah sekedar Lalu ini juga membuka sebuah kemungkinan keserakahan pemerintah yang bisa mendorong untuk terus menerus mengganti syarat agar para lansia itu dapat mengikuti program plan 75 tersebut. Michi melakukan tindakan euthanasia berjenis bunuh diri dengan bantuan dokter. Euthanasia ini sama sekali tidak dapat ditolerir karena melarang seseorang untuk seseorang untuk bunuh diri, dapat dijerat hukuman penjara. Pasien Euthanasia jenis bunuh diri ini juga masih dalam keadaan sehat sehingga tidak memenuhi salah satu syarat penting untuk melakukan euthanasia yaitu pasien harus dalam keadaan sakit keras. Jadi dapat dilihat bahwa merupakan hal yang baik, karena praktiknya bertentangan dengan undang-undang. AU Kritik Sosial Kemiskinan Kemiskinan merupakan suatu ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan primer mereka seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan pendidikan. Dalam film Plan 75 kemiskinan digambarkan Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 melalui kehidupan para tokohnya . Mereka tinggal di danchi/uu. umah Danchi dulu dibangun dengan tujuan untuk mengimbangi permintaan perumahan yang diakibatkan oleh lonjakan penduduk pasca Perang Dunia II (Martia, 2020:. Interior dari bangunan ini pun termasuk sederhana, karena biasanya hanya terdiri dari dua Harga sewa dari danchi juga tidak terlalu mahal dan masih terjangkau, sehingga dapat dikatakan Michi merupakan seseorang yang berada pada kalangan berpenghasilan menengah ke bawah. Ketika kondisi ekonomi Michi semakin buruk. Michi terpaksa mencoba mengajukan permohonan kesejahteraan, namun tidak tersedia pada hari itu. Michi duduk dekat dapur sosial enggan untuk meminta makanan, karena merasa malu. Michi merasa bahwa ia sudah tak sanggup lagi untuk menunjang kehidupan dirinya sendiri, lalu memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Plan 75. Selain itu juga memperlihatkan kehidupan sulit dari tokoh Yukio yang bekerja sebagai pemungut sampah sehari-hari. Ia memakan makanan dari dapur sosial yang disediakan oleh program plan 75 di balai kota. Yukio mendaftarkan dirinya ke program plan Keadaan Yukio dan Michi ini mengkritik akan bagaimana sulitnya hidup sebagai lansia yang tak bekerja di Jepang. Hasil survei garis kemiskinan di Jepang tahun 2019, biaya rata-rata untuk kehidupan selama setahun mencapai 10. 000 dolar atau sekitar 1 juta yen, sedangkan uang pensiunan yang didapatkan oleh para lansia hanya sekitar 6. 000 dolar Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 . ttps://thediplomat. com/2023/01/surv iving-old-age-isgetting-harder-in-japan/). Selain itu pemerintah juga masih belum cukup sehari-hari para lansia. Seorang lansia berusia 78 tahun dalam sebuah artikel juga menyampaikan keluh kesahnya akan kurangnya tunjangan yang ia Ia menyatakan bahwa tunjangan yang didapat adalah sebesar 000 yen, namun harus digunakan untuk biaya sewa rumah 43. 000 yen belum termasuk listrik, makanan, dan biaya lainnya sehingga memaksa . ttps://w. tokyo-np. jp/article/22 Keadaan sulitnya mencari pekerjaan menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan seseorang. Pada tahun 2023, 50% lansia yang berusia 60 sampai 74 tahun tidak walaupun mereka masih ingin bekerja . ttps://w. jp/busines s/2023/08/18/companies/elderlyemploymentsurvey/#::text=Over 50% of those in,country faces a labor shortage. AU Kritik Sosial Disorganisasi Keluarga Keluarga merupakan lingkup sosial paling kecil tapi paling berdampak pada kehidupan seseorang. Hal ini karena keluarga lah yang Tiap anggota keluarga harus peduli satu dengan yang lainnya agar keharmonisasian tetap terjaga, apabila tidak rentan akan terjadinya disorganisasi keluarga. Disorganisasi keluarga pada film ini benar-benar diperlihatkan dampaknya, seperti dalam kutipan di bawah ini. EEA uoAiCe IE aEA a oACCoaeaEACaACCAU Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 AEaCAECO EEA oCAAEAAcAUiA (Plan 75, 00:26:09-00:26:. Michi : Musume-san zenzen renraku nai no? Ineko : mago ni mo atta koto nai. Kodomo ga itatte sabishii mon yo. Michi : sabishii dake ga jinsei da. Michi : Putri mu sama sekali tidak menghubungi mu? Ineko : Aku bahkan belum pernah Walaupun punya anak tetap kesepian. Michi : Hanya kesepian, itu lah hidup. Ineko tidak pernah dihubungi oleh anaknya sampai saat ini, dan bahkan belum pernah melihat cucunya. Hal ini menggambarkan sebuah kesepian yang mendalam yang dialami oleh para lansia karena ditinggalkan begitu saja oleh anaknya. Dampak dari hilangnya figure keluarga dalam kehidupan lansia ini pun sangat buruk, karena berujung terhadap perasaan terasingkan dan menyebabkan terjadi isolasi diri. Ineko pun kemudian ditemukan meninggal dalam keadaan Kematian Ineko disebabkan karena kondisi kesehatan Ineko yang buruk, namun juga karena tidak adanya pengawasan serta perawatan yang dilakukan oleh keluarganya sendiri sehingga berujung kematian. Ini pun mengkritik betapa tidak berdayanya seorang lansia tanpa adanya bantuan dari orang lain, dan bertanggung jawab oleh seorang anak. Di negara Jepang, fenomena seperti ini bukan lah hal yang langka ditemui dan bahkan menjadi sebuah hal umum diketahui banyak orang. Insiden ini disebut fenomena kodokushi yang mencapai 22. orang dan diperkirakan oleh badan kepolisian nasional akan mencapai 000 kasus pada akhir tahun nanti Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 . ttps://w. com/world/ar ticle/2024/jul/01/life-at-theheart-of-japans-solitary-deaths-epidem ic-i-would-be-lying-if-i-said-iwasnt-worrie. Kodokushi terjadi multigenerasi pada keluarga Jepang terjadinya kurangnya anggota keluarga yang mampu menopang tanggung jawab berat akan orang tuanya. Berdasarkan data dari menteri kesejahteraan wanita berusia 65 tahun ke atas pada tahun 2018 ada sekitar Hal ini diperburuk karena tidak ada keluarga yang dapat membantu finansial mereka. Pada tahun 2022, hanya 34% lansia yang berusia 65 tahun ke atas hidup dengan anaknya . ttps://asia. com/Spotlight/Data watch/Older-single-women-facegrowing-risk-of-poverty-in-Japa. KESIMPULAN Film Plan 75 ini hadir sebagai cerminan bentuk kritik sosial yang ingin Chie Hayakawa tentang keadaan penduduk Jepang didominasi oleh lansia. Keadaan ini diakibatkan karena menurunnya angka kelahiran, dan generasi Baby Boomers telah mencapai usia lansia. Akibatnya ketidakseimbangan antara jumlah penduduk muda dan Masalah-masalah lambat laun mempengaruhi aspek lain seperti pembunuhan terhadap lansia di panti jompo, kesulitan para lansia itu mencari pekerjaan dan tempat tanggal karena adanya diskriminasi terhadap mereka, kemiskinan hingga fenomena U . , artinya mati seorang diri atau mati karena kesepian. Kodokushi sering sekali terjadi terhadap lansia yang ditinggalkan hidup sendirian oleh keluarga mereka. Dalam film ini Jurnal Sosial Humaniora Vol. 03 No. P-ISSN : 3025-381 Penerbit : LPPM Unsada Tanggal : 31 Januari 2025 pemerintah berusaha mengatasi jumlah lansia yang semakin banyak dengan cara Plan mengiming-imingi para lansia itu untuk melakukan euthanasia. Seakan-akan hanya euthanasia lah pilihan satusatunya. Memang tidak ada unsur paksaan dalam plan 75, namun mereka memanipulasi pikiran para lansia bahwa pilihan mengikuti program plan 75 dan satu-satunya yang paling benar. REFERENSI