Journal of Pharmacy Tiara Bunda E-ISSN : 3032-3657 Volume 5 . Nomor 1 . Februari 2025 . Page 22-27 Doi : https://doi. org/xx. x/jptb. Website : https://jurnal. id/index. php/jptb TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG ANTIBIOTIK PADA MAHASISWA Ika Aulia Rahmi1. Politeknik Tiara Bunda Ikaaulia99@gmail. ABSTRACT Antibiotics are widely prescribed drugs. The relatively high and inappropriate use of antibiotics can cause various problems consequently becomea global threat to health, especially due to bacterial resistance. The purpose of this study was to determine the level of studentsAo knowledge on the use of antibiotics and correlate between the level of knowledge of antibiotics with the frequency of using antibiotics without a prescription for students at the Politeknik Tiara Bunda. The study used a descriptive method with cross-sectional design. was conducted from May to June, 2021 Respondents were 250 students from Politeknik Tiara Bunda. , selected by using proportional samplingtechnique. The results of this study showed 4% of the students at Politeknik Tiara Bunda. had moderate, 27. 2% good and 20. less of knowledge about antibiotics, while the frequency of use of antibiotics without prescription at 44. Chi-square test results showed that the studentsAo level of knowledge was affected by origin of faculty . < 0. , whereas gender, age and origin of place does not significantly affect the studentsAo level of knowledge . > 0. The correlate between the pharmacy with non-pharmacy studentsAo knowledge was at . < 0. , as well as the correlate between studentsAo knowledge with the frequency of use of antibiotics without prescription, thus proving that there was a significant correlation between pharmacy with non-pharmacy studentsAo knowledge and between studentsAo level of knowledge with the frequency of use of antibiotics without prescription. Keywords : Antibiotics, resistance, knowledge, students ABSTRAK Antibiotika adalah obat yang diantaranya banyak diresepkan. Penggunaan antibiotika yang relatif tinggi dan tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah sehingga menjadi ancaman global bagi kesehatan terutama akibat resistensi bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap penggunaan antibiotika dan melihat hubungan antara tingkat pengetahuan antibiotik dengan frekuensi penggunaan antibitik tanpa resep dokter pada mahasiswa Politeknik Tiara Bunda Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif Cross-Sectional. Responden adalah mahasiswa dari Politeknik Tiara Bunda. Jumlah responden sebanyak 250 orang dipilih dengan teknik Proportional Random Sampling. Penelitian dilaksanan pada bulan Mei-Juni 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa Politeknik Tiara Bunda terhadap antibiotika tergolong cukup yakni sebesar52,4%, 27,2% baik dan 20,4% kurang, sedangkan frekwensi penggunaan antibiotika tanpa resep dokter sebesar 44,8%. Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa dipengaruhi oleh asal fakultas . < 0,. , sedangkan jenis kelamin, usia, dan tempat asal tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan mahasiswa secara bermakna . > 0,. Hubungan antara tingkat pengetahuan mahasiswa bidang farmasi dengan bidang non-farmasi diperolehnilai . < 0,. begitu pula hubungan antara tingkat pengetahuan dengan frekwensi penggunaan antibiotika tanpa resep dokter, sehingga membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan mahasiswa bidang farmasi dengan bidang non-farmasi dan tingkat pengetahuan dengan frekwensi penggunaan antibiotika tanpa resep dokter. Kata Kunci : Antibiotik, resistensi, pengetahuan, mahasiswa Journal of Pharmacy Tiara Bunda PENDAHULUAN Penggunaan antibiotika yang tidak tepat merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama dalam hal resistensi bakteri. Antibiotik merupakan obat yang banyak dikenal masyarakat, namun penggunaan antibiotika sering kali tidak tepat, yang dapat berakibat pada peningkatan resistensi bakteri terhadap Resistensi merupakan kemampuan bakteri dalam menetralisir dan melemahkan daya kerja antibiotika. Pada awalnya resistensi terjadi di tingkat rumah sakit, tetapi lambat laun berkembang juga di lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumonia (SP). Streptococcus aureus, dan Escherichia coli (Menkes RI, 2. Belakangan ini banyak dijumpai kasus penggunaan antibiotika tanpa menggunakan resep dokter. Pengobatan dengan antibiotika tanpa resep dokter tidak hanya terjadi di negara-negara sedang berkembang, tetapi juga di negara- negara maju. Selebihnya di Negara-negara Eropa seperti Romania, dan Lithuania juga ditemukan prevalensi yang tinggi pada pengobatan sendiri dengan antibiotika(Al-Azzam, 2. Sekretariat Jendral Kementrian Kesehatan RI . mengatakanberdasarkan data WHO tahun 2009 bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 27 negara yang banyak didapati kasus resistensi bakteri terhadap antibiotika, hal ini disebabkan karena penggunaan antibiotika yang tidak rasional. WHO menyebutkan bahwa terdapat 480. 000 kasus Multi Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB) di dunia. Data ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotika memang telah menjadi masalah yang harus segera diselesaikan (WHO, 2. Faktor-faktor penggunaan antibiotika diantaranya adalah, lingkungan dan tingkat pengetahuan individu mengenai antibiotik. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa tingkat pengetahuan sangat berpengaruh terhadap penggunaan antibiotika, seperti penelitian di Manado diperoleh hasil profil pengetahuan masyarakat kota Manado mengenai antibiotika amoksisilin yakni 49,3%. Responden masyarakat kota Manado yang dibagi ke dalam tiga kelompok besar yakni: Kelompok tenaga kesehatan memiliki pengetahuan tinggi yakni 70%, mahasiswa kesehatan memiliki pengetahuan CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. sedang yakni 68% dan masyarakat non kesehatan juga memiliki pengetahuan sedang yakni 52% mengenai antibiotika amoksisilin (Pandean, 2. Penelitian mahasiswa kesehatan dan non kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta juga rata-rata pengetahuan, sikap dan perilaku responden mahasiswa kesehatan di UMS baik sedangkan responden mahasiswa non kesehatan cukup (Fatmawati, 2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat mengkhawatirkan peningkatan jumlah resistensi bakteri di semua wilayah di dunia. Oleh karena itu, untuk menciptakan koordinasi global. WHO mengeluarkan Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance, yaitu dokumen yang ditujukan kepada para pembuat kebijakan agar mendesak pemerintah di berbagai Negara untuk melakukan tindakan dan berbagai usaha yang dapat mencegah terjadinya resistensi antibiotika (WHO, 2. Indonesia juga telah melakukan beberapa usaha untuk tujuan ini. Salah satu dari usaha tersebut adalah di berlakukannya undangundang tentang penjualan antibiotik yang diatur dalam undang-undang obat keras St. No. 419 tgl 22 Desember 1949 pada pasal 3 ayat 1 (Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Selain diberlakukannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011 tentang pedoman umum penggunaan antibiotika (Menkes RI, 2. Mahasiswa merupakan salah satu mempunyai pengetahuan tinggi tetapi kurang memahami mengenai masalah yang berkaitan dengan penggunaan antibiotika, oleh karena itu perlu diketahui tingkat pengetahuan mahasiswa salah satunya mahasiswa di Politeknik Tiara Bunda tentang penggunaan kebijakan atau anjuran yang tepat dan benar tentang penggunaan antibiotika di kalangan Terdapat beberapa program studi di Politeknik Tiara Bunda dan latar belakang tempat asal mahasiswa pada umumnya yang berbedabeda serta tidak ada data penelitian sebelumnya mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa tentang antibiotika membuat peneliti tertarik melakukan penelitian ini. Journal of Pharmacy Tiara Bunda CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. Penjelasan dapat dilihat pada Gambar 4. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif Cross-Sectional. Responden adalah mahasiswa dari Politeknik Tiara Bunda. Jumlah responden sebanyak 250 orang dipilih dengan teknik Proportional Random Sampling. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang terlebih Analisis data secara univariat dan bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Cara Memperoleh dan Sumber Informasi MengenaiAntibiotika Cara memperoleh antibiotika Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cara memperoleh antibiotika paling banyak berdasarkan resep dokter . ,2%) dan sisanya tanpa resep dokter . ,8%) yakni 29,2% dengan membeli tanpa resep dokter serta 15,6% diberi oleh keluarga atau teman. Penjelasan dapat dilihat pada Gambar 4. Iya Diberi oleh Resep Membeli Iya Media Penga Tenaga Gambar 4. 2 Diagram perbandingan distribusi antibiotika yang digunakan responden Pandean . dalam penelitiannya mengenai profil pengetahuan masyarakat kota Manado terhadap antibiotika amoksisilin, memperoleh informasi tentang antibiotika amoksisilin dari dokter. Hal ini dapat disebakan adanya hubungan interpersonal antara pasien dan dokter, yang mempengaruhi kepercayaan pasien bahwa dokter bertindak mengatasi masalah medis. Tingkat Pengetahuan Responden Hasil penilaian kuesioner bagian kedua diperoleh nilai rata-rata 16,11, maka dapat disimpulkan tingkat pengetahuan responden Berdasarkan tingkat pengetahuan masingmasing, responden dalam penelitian ini dibagi dalam 3 kategori yaitu, kategori baik . ,2%), cukup . ,4%) dan kurang . ,4%). Data responden dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 4. Bai Gambar 4. 1 Diagram perbandingan distribusi frekwensi cara memperoleh antibiotika yang digunakan oleh 250 responden Sumber infomormasi mengenai antibiotika Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informasi mengenai antibiotikayang digunakan responden paling banyak diperoleh dari tenaga kesehatan (Dokter. Apoteker, petugas apote. diikuti dengan pengalaman penggunaan antibiotika sebelumnya dan media elektronik. Gambar 4. 3 Diagram perbandingan tingkat pengetahuan responden tentang antibiotik WHO menjelaskan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh pengalaman seseorang, faktor-faktor di luar orang tersebut seperti lingkungan, baik fisik maupun non fisik dan Journal of Pharmacy Tiara Bunda sosial budaya yang kemudian pengalaman tersebut diketahui, dipersepsikan, diyakini sehingga menimbulkan motivasi, niat untuk bertindak dan akhirnya menjadi perilaku (Notoadmodjo, 2. Berdasarkan data yang diperoleh, 10 dari 13 pertanyaan pada kuesioner bagian tingkat pengetahuan dapat dijawab dengan benar oleh mahasiswa. Penggunaan Antibiotika Responden Keseluruhan antibiotika dideskripsikan pada Tabel 4. Tabel 4. 3 Distribusi frekwensi responden dalam penggunaan antibiotika Penggunaan Jumlah (N=. Persentase (%) Jenis antibiotika Amoxcicillin Ciprofloxacin Peniciline Lain-lain Efek samping antibiotika Alergi Tidak ada efek samping Tidak tahu Lain-lain Penggunaan antibiotika tanpa resep Dokter Pernah Tidak pernah Tempat memperoleh antibiotika tanpa resep Dokter Warung Toko obat Apotek Lain-lain Alasan menggunakan antibiotika tanpa resep Dokter Lebih murah tanpa harus ke dokter 20 Sudah tahu jenis antibiotiknya Tidak mengetahui jika antibiotik 24 harus berdasarkan resep dokter Lain-lain Tabel 4. 3 di atas menunjukkan . ,4%) mahasiswa menggunakan jenis antibiotika Amoxcicillin dan . ,4%) mahasiswa tidak mengetahui apa efek samping yang ditimbulkan dari antibiotika itu sendiri. Dari 250 penelitian ini, sebanyak 112 mahasiswa . ,8%) pernah menggunakan antibiotika Namun dibandingkan dengan penelitian Suaifan . yang dilakukan pada mahasiswa di Yordania, persentase frekwensi penggunaan antibiotika tanpa resep dokter oleh mahasiswa Politeknik Tiara Bunda menunjukkan angka yang lebih rendah. Pada penelitian Suaifan . 63,9% CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. menggunakan antibiotika banyak memperoleh antibiotika dari apotek dengan persentase sebesar 54,5%, kemudian lain-lain yang bisa diperoleh dari kerabat, keluarga atau antibiotika sisa yang ada di rumah sebesar 34,8% dan 10,7% dari toko obat. Tabel 4. 3 di atas juga menunjukkan bahwa Amoksisilin adalah obat antibiotika yang paling banyak dikonsumsi dan paling sering digunakan karena sudah umum ditelinga masyarakat, dan beberapa apotek juga dapat dikatakan masih banyak kita jumpai yang terdapat menjual obat antibiotika Amoksisilin ini secara bebas. Penggunaan antibiotika tanpa resep yang dilakukan oleh responden . dapat dijadikan sebagai cerminan perilaku masyarakat yang salah, karena penggunaan antibiotika tanpa resep merupakan penggunaan antibiotika yang tidak rasional. WHO menyebutkan terdapat lebih dari 50% obat-obatan di dunia diresepkan dan diberikan secara tidak tepat, tidak efektif dan tidak efisien. Dari data yang diperoleh WHO, penggunaan obat di Indonesia sejauh ini masih belum rasional terutama untuk penggunaan antibiotika (Menkes RI, 2. Perilaku tidak rasionalnya seorang individu seperti pembelian antibiotika tanpa resep dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tingkat pengetahuan dan kepercayaan sosial individu tersebut (Widayati. Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa penggunaan antibiotika tanpa resep dokter dapat dikarenakan para responden menyimpan sisa antibiotika yang pernah diresepkan sebelumnya di rumah sehingga saat gejala penyakit yang sama timbul, mereka menggunakan antibiotika sisa (Abasaeed. Kondisi mendesak dan kesulitan mendapatkan pertolongan dari ahli juga dapat memicu penggunaan antibiotika tanpa resep (Khan, 2. Penggunaan antibiotika tanpa resep juga dapat dikarenakan masyarakat mendapatkan hasil yang baik dengan digunakannya sehingga dapat digunakan kembali untukpenyakit yang sama atau gejala penyakit yang sama (Fernandez, 2. Pengaruh Faktor-faktor Karakteristik Responden Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotika Hasil uji Chi-Square Test suatu variabel . terhadap variabel lain . jika diperoleh hasil dimana Level of Significance Journal of Pharmacy Tiara Bunda nilai p < alpha . Setelah dilakukan pengujian diperoleh hasil bahwa asal fakultas memiliki nilai p < alpha . , sedangkan usia, jenis kelamin dan tempat asal memiliki nilai p > alpha . Dapat disimpulkan bahwa asal fakultas mempengaruhi tingkat pengetahuan dari responden . , sedangkan usia, jenis kelamin, dan tempat asal tidak Pengaruh Mahasiswa Bidang Farmasi dan Non-Farmasi Terhadap Tingkat Pengetahuan tentang Antibiotika Hasil uji Chi-Square antara mahasiswa bidang kesehatan dan non-kesehatan dengan tingkat pengetahuan diperoleh nilai p < alpha . yaitu 0,039. Datalebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. 5 Distribusi frekwensi hasil Chi-Square Test antara mahasiswa bidang farmasi dan non-farmasi terhadap tingkat pengetahuan tentang antibiotika Bidang Farmasi Non-farmasi Tingkat pengetahuan responden Jumlah P Baik Cukup Kurang 75,0% 25,0% 0,0% 100% 0,039 22,1% 55,3% 22,6% 100% Tabel 4. 5 menunjukkan bahwa bidang kuliah yang mahasiswa ambil mempengaruhi tingkat pengetahuan tentang antibiotika. Mahasiswa pengetahuan yang lebih baik . ,0%) dibandingkan denganmahasiswa bidang nonfarmasi yang memiliki pengetahuan cukup tentang antibiotika. Hal ini dikarenakan mahasiswa di bidang farmasi lebih memahami dan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kesehatan termasuk informasi mengenai antibiotika. Hasil yang diperoleh pada mahasiswa bidang non-farmasi di Politeknik Tiara Bunda ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Pulungan . tentang penggunaan antibiotika pada mahasiswa non medis di USU yang hasilnya berada dalam kategori baik . ,1%), hal ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan tersedianya fasilitas sebagai sumber informasi yang benar dan tepat tentang penggunaan antibiotika yang rasional. Pengetahuan seseorang juga dipengaruhi oleh apa yang diperoleh melalui mata dan telinga individu itu sendiri yang merupakan faktor utama CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. terbentuknya suatu sikap atau tindakan. Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Frekwensi Penggunaan Antibiotika Tanpa Resep Dokter oleh Responden Hasil uji Chi-Square antara tingkat pengetahuan dan frekwensi penggunaan antibiotika tanpa resep dokter diperoleh nilai p < alpha . yaitu 0,043. Data lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. 6 Distribusi frekwensi hasil Chi-Square Test tingkat pengetahuan terhadap frekwensi penggunaan antibiotika tanpa resep dokter Tingkat pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Jumlah Penggunaan antibiotika tanpa resep dokter Pernah Tidak pernah 0,043 Tabel 4. 6 menunjukkan bahwa tingkat penggunaan antibiotika tanpa resep dokter. Hal ini dapat membuktikan bahwa hipotesis nol (H. Perilaku kesehatan tidak hanya dipengaruhi olehpengetahuan, tetapi juga oleh beberapa faktor individual lainnya, seperti sikap dan nilai-nilai yang dianut oleh individu yang bersangkutan (Notoadmodjo, 2. Hasil penelitian yang sama juga dibuktikan oleh Lim dan Teh . yang menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan antibiotika. Pengetahuan tinggi adalah predikator positif bagi pengetahuan yang memadai dan sikap yang tepat untuk penggunaan antibiotika. Akan tetapi hasil penelitian yang dilakukan oleh Yarza . pada masyarakat Padang Selatan menunjukkan hasil yang berbeda, yakni tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotika tanpa resep dokter. Hal ini disebabkan karena banyaknya responden yang berpengetahuan baik dan bersikap positif tidak menjamin bahwa mereka tidak akan menggunakan antibiotika tanpa resep dokter. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan Journal of Pharmacy Tiara Bunda Politeknik Tiara Bunda tentang antibiotika yaitu baik . ,2%), cukup . ,4%) dan kurang . ,4%). faktor yang mempengaruhi tingkat kalangan mahasiswa Politeknik Tiara Bunda adalah asal fakultas, sedangkan usia,jenis kelamin dan tempat tinggal asal tidak mempengaruhinya. terdapat perbedaan tingkat pengetahuan Farmasi mahasiswa Non-Farmasi antibiotik di kalangan mahasiswa Politeknik Tiara Bunda. terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan tentang antibiotik dengan frekwensi penggunaan antibiotik tanpa resep dokter di kalangan mahasiswa Politeknik Tiara Bunda. DAFTAR PUSTAKA