Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 5. Edition 2. Desember 2025 DOI https://doi. org/10. 36086/maternalandchild. Original article StudentAos Competence To Determine The Uterine Fundal Height Between The Use Of The Silicone Abdominal Phantoom And The Burtas Phantoom Lily Novianti1. Nurul Komariah1 Department of Midwifery. Health Polytechnic Of Palembang. Palembang. Indonesia Corresponding author: Name: Lily Novianti Address: Sudirman. Palembang. Indonesia E-mail: lilynegoro@gmail. Abstract Postpartum hemorrhage is the most common cause of maternal death. About 2324% are caused by retained placenta. Suspicion of the presence of retained placenta can be identified by palpating the abdomen, to monitor contractions and uterine fundal height. Assessing uterine fundal height in postpartum women is one of the competency that must be achieved by Diploma i Midwifery This research was a cross sectional study with data collection techniques through observation to compare studentAos competence to determine the uterine fundal height between the use of a silicone abdominal phantoom and a burtas phantoom. The research subjects were all 95 of 3rd semester students of the Diploma i Midwifery Study Program at the Health Polytechnic of Palembang. The research instruments were a silicone abdominal phantoom, a burtas phantoom and a checklist sheet. The research results showed that from the 95 students . %) who used burtas phantoom to assess the uterine fundal height, 72 students . 8%) were competen and 23 students . 2%) were not competen to do the assesment. The p value was 0. 001, it means that there was a difference in studentAos competence in assessing uterine fundal height on the two Students are more competen to asses uterine fundal height by using burtas phantoom than silicone phantoom. The OR value was 0. It means that using a silicone phantoom, the risk was 0. 091x students not competen to assess the uterine fundal height compared to a burtas phantom. Keywords: Burtas Phantoom. StudentAos Competence INTRODUCTION Kejadian perdarahan postpartum diperkirakan sebesar 3Ae5%. Data SDKI . menyatakan bahwa perdarahan postpartum menjadi urutan tertinggi menyumbang angka kematian ibu (AKI) . Penyebab terbanyak perdarahan postpartum adalah dikarenakan atonia uteri sebanyak 50-60%, sebanyak 23-24% sisa plasenta, retensio plasenta sebanyak 16-17%, 4-5% laserasi jalan lahir, dan 0,5- 0,8% akibat gangguan pembekuan darah atau faktor koagulasi. Author: Lily Novianti. Nurul Komariah. Vol. Ed. Desember, 2025 | 73 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 5. Edition 2. Desember 2025 DOI https://doi. org/10. 36086/maternalandchild. Kecurigaan adanya sisa plasenta dapat diketahui dengan melakukan palpasi pada fundus uteri, untuk memeriksa kontraksi dan tinggi fundus uteri. Pada kasus uterus mengalami kegagalan dalam involusi uterus maka dipastikan akan terjadi subinvolusio uteri[ 4 ] . Proses pembelajaran praktik menuntut peserta didik untuk mampu menggunakan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis dan menghadapi setiap persoalan, issue, dan harapan serta kenyataan dalam kebidanan, sehingga dapat mengetahui fenomena yang ada di lapangan. Laboratorium keterampilan kebidanan memegang peranan penting dalam meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri dosen dan mahasiswa melalui pelatihan keterampilan klinis tanpa risiko bagi pasien. Real setting praktikum di laboratorium harus mampu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpraktik sesering mungkin sampai pada tahap mampu secara mandiri melakukan skill lab sesuai target kompetensi yang ditetapkan. Pemeriksaan Involusi uterus melalui penilaian tinggi fundus uteri merupakan salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh lulusan Program Studi Diploma i Kebidanan . Penentuan Tinggi Fundus Uteri dilakukan dengan melakukan palpasi dan mengukur TFU pada puncak fundus dengan lebar jari dari umbilicus atas atau bawah . Untuk meningkatkan kompetensi tersebut, diperlukan manekin atau simulator yang dipakai untuk latihan keterampilan di laboratorium . Penggunaan manikin atau alat peraga meningkatkan tingkat kepercayaan diri, pemahaman dan keterampilan, mengurangi risiko ketidaknyamanan bagi pasien serta mampu memberikan gambaran standar dan dapat dilakukan berulang. Alat peraga alternatif secara efektifitas tidak berbeda dengan simulator lainnya . Terdapat sejumlah penelitian tentang pengembangan alat peraga alternatif yang bisa digunakan dalam praktikum asuhan kebidanan nifas, seperti SMART Abdominal Model untuk penilaian tinggi fundus uteri pada ibu nifas dikembangkan oleh dosen Poltekkes Jakarta i dan Phantom Involusio Uteri Burtas untuk menentukan involusi uteri dikembangkan oleh tenaga kependidikan dan dosen Poltekkes Kemenkes Palembang . Manekin untuk menilai tinggi fundus uteri yang dimiliki laboratorium Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palembang berupa model abdomen berbahan silikon dengan uterus 1 ukuran saja yaitu ukuran normal. Jadi, dalam pembelajarannya, mahasiswa hanya dapat memperkirakan tinggi fundus uteri dan tidak bisa memastikan berapa tinggi fundus uteri yang sebenarnya sesuai dengan kondisi ibu nifas. Phantom involusio uteri Burtas terbuat dari bahan dasar bubur kertas dilengkapi dengan uterus berbagai ukuran menjadi alat peraga alternatif bagi dosen dan mahasiswa di Program Diploma i Kebidanan sejak dikembangkannya produk hasil penelitian ini di tahun Penelitian ini bertujuan membandingkan kemampuan mahasiswa menentukan tinggi fundus uteri antara penggunaan phantom abdomen silikon dengan phantom involusio uteri burtas. METHOD Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan tekhnik pengumpulan data melalui observasi, dimana subjek penelitian adalah semua mahasiswa semester i Program Studi Diploma i Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palembang berjumlah 95 orang dengan menggunakan instrumen penelitian berupa phantom abdomen, phantom involusi uteri burtas dan lembar checklist. Subjek penelitian homogen. Pengumpulan data dilaksanakan dari bulan September sampai dengan bulan November di Laboratorium Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palembang. Analisa data menggunakan uji Author: Lily Novianti. Nurul Komariah. Vol. Ed. Desember, 2025 | 74 Journal of Maternal and Child Health Sciences (JMCHS) Volume 5. Edition 2. Desember 2025 DOI https://doi. org/10. 36086/maternalandchild. chi-square berdasarkan hasil penilaian kemampuan mahasiswa menentukan tinggi fundus uteri ibu nifas pada media phantom RESULT Adapun hasil penelitian dijelaskan pada tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Perbandingan Kemampuan Mahasiswa Melakukan Pemeriksaan TFU antara Phantom Burtas dengan Phantom Silikon Kemampuan Melakukan Pemerikasaan TFU Phantoom Tidak Jumlah Mampu Value* (IK) 95% 0,001 0,091 Mampu Burtas Silikon ,046-0,. *Chi-Square Berdasarkan tabel 1, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 95 orang . %) mahasiswa pada phantom burtas terdapat 72 orang . ,8%) mampu melakukan pemeriksaan TFU dan 23 orang . ,2%) yang tidak mampu melakukan pemeriksaan. Hasil P value 0,001 yaitu terdapat perbedaan kemampuan mahasiswa dalam melakukan pemeriksaan TFU pada kedua phantom. Mahasiswa lebih mampu melakukan pemeriksaan TFU dengan menggunakan phantom burtas. Nilai OR adalah 0,091. Pada penggunaan Phantom silikon berisiko sebesar 0,091x mahasiswa tidak mampu melakukan pemeriksaan tinggi fundus uteri dibandingkan phantom burtas. Phantom involusio uteri burtas ini terbuat dari bahan kertas dan bubur kertas. Phantom ini dilengkapi dengan uterus dengan berbagai ukuran yang disesuaikan dengan ukuran uterus 6 jam postpartum . eraba 3 jari di bawah pusa. uterus 1 minggu postpartum . eraba 1/2 pusat Ae uterus 2 minggu postpartum . eraba 2 jari di atas sympisi. Hal inilah yang membedakan phantom involusio uteri burtas dengan phantoom abdominal silikon yang ada di laboratorium Jurusan kebidanan yang belum dilengkapi dengan uterus berbagai ukuran. Perbedaan komponen phantom mempengaruhi terhadap kemampuan mahasiswa dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan. DISCUSSION