VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI PENINGKATAN PELAYANAN KESEHATAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) DI PUSKESMAS KOTA TENGAH PROVINSI GORONTALO Wiwi Susanti Piola1. Sofiyah Tri Indrianingsih2. Dewi Modjo3 1,2,3 Program Studi Ners. Universitas Muhammadiyah Gorontalo *e-mail: ns. wiwi@gmail. ABSTRACT Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) is an integrated or unified approach in the management of sick toddlers with a focus on child health. The optimal level of health will be seen from the quality of life elements as well as the mortality elements that influence it, namely morbidity and nutritional Nurses in their service to the community have an important role in improving the quality of children's health, especially in providing MTBS (Integrated Management of Sick Toddler. services at the primary health service level. Community service with the title "Increasing the Knowledge and Skills of Nurses in Integrated Management Health Services for Sick Toddlers (MTBS) at the Puskesmas Kota Tengah. Gorontalo Province" was carried out for 2 days, namely on Thursday. November 23 and Saturday. November 25 2023, able to increase the knowledge and skills of nurses student so that It is hoped that quality MTBS services will be created at the puskesmas. Keywords: Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Nurse ABSTRAK Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan suatu pendekatan yang terintegrasi atau terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus pada kesehatan anak. Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur-unsur mortalitas yang memengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Perawat dalam pengabdiannya kepada masyarakat memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas kesehatan anak, khususnya pada pemberi layanan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. di tingkat layanan kesehatan primer. Pengabdian masyarakat dengan judul AuPeningkatan Pelayanan Kesehatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Puskesmas Kota Tengah Provinsi GorontaloAy dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada Kamis, 23 November dan Sabtu, 25 November 2023 mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa perawat sehingga diharapkan terciptanya layanan MTBS yang berkualitas di puskesmas. Kata kunci: Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), perawat PENDAHULUAN Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) merupakan suatu pendekatan yang terintegrasi atau terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus pada kesehatan anak usia 0-59 bula. secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan atau cara penatalaksanaan balita sakit. Konsep pendekatan MTBS yang pertama kali diperkenalkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization. merupakan suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang. Derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas. E-ISSN 2614-8927 VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental. Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsurunsur mortalitas yang memengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas yang digunakan sebagai indikator adalah angka harapan hidup waktu lahir (L. Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator yaitu angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian pneumonia pada balita per 1000 balita, angka kematian diare pada balita per 1000 balita per 1000 balita dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 1000 Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup, maka 340 ribu anak meninggal pertahun sebelum usia lima tahun dan diantaranya 155 ribu adalah bayi sebelum berusia satu tahun. Dari seluruh kematian tersebut sebagian besar saluran pernapasan akut, diare dan gangguan perinatal/neonatal (Manajemen Terpadu Balita Sakit, 2. Meskipun penerapan MTBS sudah lama di Indonesia tetapi masih ada beberapa hambatan dalam penerapan MTBS, contohnya terbatasnya jumlah tenaga kesehatan yang dapat mengikuti pelatihan MTBS, serta pengetahuan dan kemampuan mahasiswa perawat yang belum terpapar dengan form MTBS terbaru (Maryunani, 2. Berdasarkan data di atas maka penulis melakukan pengabdian kepada mahasiswa perawat dan masyarakat di Puskesmas Kota Tengah dengan tema AuPeningkatan Pelayanan Kesehatan Manajemen Terpadu Balita SakitAy yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas layanan MTBS di puskesmas tersebut. Adapun tujuan dari kegiatan pengabdian ini merupakan salah upaya yang ditujukan untuk menurunkan secara signifikan angka kesakitan dan kematian global yang berkaitan dengan penyebab utama penyakit pada balita, melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar dan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan perkembangan kesehatan anak. Harapannya, mahasiswa perawat yang mengikuti kegiatan ini, mampu untuk : Menjelaskan konsep manajemen terpadu balita sakit Melakukan tata laksana balita sakit umur 2 bulan Ae 5 tahun Melakukan tata laksana bayi muda umur kurang dari 2 bulan Melakukan penerapan manajemen terpadu balita sakit di puskesmas Kegiatan ini di harapkan dapat memberikan manfaat yaitu mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa perawat tentang pengetahuan manajemen terpadu balita sakit, dapat memberikan konsultasi dan dapat memberikan rasa bahagia kepada pasien dan keluarga serta peningkatan kepuasan pasien dan peningkatan kesehatan anak dan balita. METODE Kegiatan pengabdian ini di laksanakan dengan cara memberikan edukasi dan keterampilan mengenai MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. dengan metode E-ISSN 2614-8927 VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI ceramah dan demontrasi. Pengabdian dibagi menjadi 2 hari, yaitu hari Kamis, 23 November 2023 dan Sabtu, 25 November 2023. Hari pertama meliputi peningkatan pengetahuan dan keterampilan calon mahasiswa perawat dalam pelaksanaan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. Hari kedua adalah praktik pelaksaan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. Peserta kegiatan ini adalah mahasiswa keperawatan berjumlah 4 orang serta ibu atau careviger utama anak balita yang sedang melakukan kunjungan di Puskesmas Kota Tengah, berjumlah 10 orang. Adapun langkah Ae langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: . melakukan pretest pengetahuan mahasiswa perawat dalam MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. , . setelah itu dilakukan edukasi MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. pada mahasiswa perawat . post test dan praktik pelaksanaan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. pada ibu atau caregiver pasien anak. Tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan untuk mahasiswa perawat dan pada balita melalui orang tuanya dilaksanakan kurang lebih selama 120 menit mulai dari persiapan peserta, pelaksanaan kegiatan, terakhir evaluasi dan dokumentasi. Adapun aktifitasnya adalah sebagai berikut : Tahap persiapan Setelah ditetapkan waktu dan tempat pelaksanaan pengabdian masyarakat disepakati bahwa pelaksanaanya pada tanggal Kamis, 23 November 2023 dan Sabtu, 25 November 2023. Sebelum memulai kegiatan, tim Pengmas melakukan persiapan ruangan, setting tempat, media yang digunakan, dan mengumpulkan orang tua dan anaknya. Tahap pelaksanaan Tahapan pelaksanaan pada pengabdian ini, dibagi menjadi 2 hari, yaitu : Pada hari pertama hari Kamis, 23 November 2023 mahasiswa perawat akan dilakukan penilaian pengetahuan sebelum dilakukan kegiatan pengabdian. Selanjutnya mahasiswa perawat akan diberikan review kembali materi terkait MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. Adapun materi yang diberikan pada hari pertama adalah konsep MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. , melakukan tata laksana balita sakit umur 2 bulan Ae 5 tahun, dan melakukan tata laksana bayi muda umur kurang dari 2 bulan. Adapun aktifitas yang dilakukan pada hari kedua. Sabtu, 25 November 2023 adalah praktik penalaksanaan pasien anak dengan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. Tahap evaluasi dan dokumentasi Pada tahap evaluasi meliputi post test pengetahuan dan keterampilan mahasiswa perawat, serta akitifitas menanyakan kepuasan atau perasaan Orang tua balita setelah mengikuti kegiatan. Selanjutnya melakukan dokumentasi proses pelaksanaan dari Kegiatan yang dilakukan HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik mahasiswa perawat Karakteristik E-ISSN 2614-8927 Hasil VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI Umur 20-30 tahun 4 . %) >35 tahun 0 . %) Materi/Praktik MTBS sebelumnya Sudah pernah 1 . %) Belum pernah 3 . %) Sumber : Data Primer. November 2023 Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh peserta berada pada rentang usia 20 Ae 30 Dan 1 dari 4 peserta belum pernah mendapatkan materi/praktik MTBS Seorang mahasiswa yang sudah mendapatkan materi sebelumnya, adalah mahasiswa yang sudah memiliki pengalaman kerja, namun materi terkait MTBS terbaru belum didapatkan. Ibu serta bayi dan balita yang mengikuti kegiatan ini adalah ibu yang memiliki anak usia 0-5 tahun. Total ada 10 ibu serta bayi dan balita yang mengikuti kegiatan ini. Tabel 2. Pengetahuan mahasiswa perawat dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Aspek Pengetahuan Mahasiswa perawat dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Kegiatan Indikator Pre Post Praktik Pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Sumber : Data Primer. November 2023 Table 2 menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan dalam pengabdian ini pada pengetahuan Pengetahuan mahasiswa perawat dalam Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) mencapai tingkat keberhasilan 85. 00% dari hasil pre test yaitu 61. 66 %, hal ini sudah melebihi indikator keberhasilan yaitu 75. Hal ini menunjukkan bahwa E-ISSN 2614-8927 VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI edukasi pelaksaan MTBS yang dilaksanakan dengan metode yang menarik dan praktikal mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa perawat. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa Praktik merupakan upaya untuk memberi kesempatan kepada peserta mendapatkan pengalaman langsung. Ide dasar belajar berdasarkan pengalaman mendorong peserta pelatihan untuk merefleksi atau melihat kembali pengalaman-pengalaman yang mereka pernah alami (Susilowati, 2. Tahapan pelaksanaan pada pengabdian ini, dibagi menjadi 2 hari, yaitu pada hari pertama hari Kamis, 23 November 2023 mahasiswa perawat akan diberikan review kembali materi terkait MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. Adapun materi yang diberikan pada hari pertama adalah : konsep MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. , melakukan tata laksana balita sakit umur 2 bulan Ae 5 tahun, dan melakukan tata laksana bayi muda umur kurang dari 2 bulan. Adapun aktifitas yang dilakukan pada hari kedua. Sabtu, 25 November 2023 adalah praktik penalaksanaan pasien anak dengan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. Gambar 1. Pelaksaan kegiatan hari pertama Pada hari kedua, manfaat dalam penerapan MTBS yang dilakukan oleh mahasiswa perawat yang telah diberikan materi sebelumnya dirasakan oleh pasien. Hal ini sejalan dengan penelitian bahwa Mahasiswa perawat yang telah memiliki pengetahuan dan keterampilan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Saki. yang baik mampu menunjukkan kemampuan yakni mengkombinasikan pemeriksaan lima penyakit yang dominan diderita oleh balita, serta terdapat sembilan penyakit yang harus dicegah pada balita. Mahasiswa perawat juga melakukan pemantauan status gizi pada balita untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi, pada balita yang sudah terdiagnosis gizi buruk. Mahasiswa perawat melakukan konseling kepada ibu mengenai pemberian makanan pada anak, pemberian ASI (Air Susu Ibu. Meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan. Adanya buku bagan MTBS dapat menurunkan tingkat kesalahan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan (Maryunani, 2. E-ISSN 2614-8927 VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI Gambar 2. Pelaksaan Praktik MTBS hari kedua Terdapat tiga tindakan inti dalam buku bagan MTBS yang menjadi fokus utama praktik pada hari kedua kegiatan ini, diantaranya pengobatan, pada pengobatan ini mahasiswa perawat mampu mengkomunikasikan kepada ibu bagaimana cara pemberian obat kepada anak ketika di rumah . osis dan obat apa yang harus di minu. Yang kedua adalah konseling, konseling bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai cara pemberian obat lokal, mengajari ibu cara menyusui yang baik, cara meningkatkan produksi ASI, dan edukasi lain mengenai penanganan balita sakit ketika di rumah. Yang ketiga adalah mahasiswa perawatan di rumah dan kapan kembali, tindakan yang dilakukan pada tindakan ini hampir sama dengan konseling, mengedukasi ibu mengenai mahasiswa perawatan 13 balita sakit di rumah dan kapan seharusnya kunjungan berikutnya ke Puskesmas (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Pelaksaan kegiatan pengabdian ini tujuan utamanya adalah untuk mencapai kepuasan orangtua pasien terhadap pelayanan karena anak mereka tertangani dengan baik, dan sudah sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Kitapci. Akdogan, & Dortyol . Dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat lima dimensi kualitas layanan yakni: Tangibles . enampilan fisik, peralatan yang digunakan untuk melakukan pelayanan, penampilan dari pemberi layana. Reliability . emampuan untuk melakukan pelayanan sesuai dengan standart dan akurat. Responsiveness . esediaan untuk membantu klien dan menyediakan layanan yang cepa. Assurance . engetahuan, kesopanan pemberi layanan, kemampuan untuk mebuat klien percaya, kepercayaa. Empathy . erawat dan memberikan perhatian kepada klie. Dalam penelitian disebutkan bahwa kelima dimensi kualitas layanan diatas berhubungan dengan kepuasan klien, apabila klien puas dengan layanan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan, maka klien akan mempromosikan layanan kesehatan tersebut dari mulut ke mulut dan akan kembali ke fasilitas kesehatan tersebut saat mereka membutuhkan layanan kesehatan. KESIMPULAN Dari hasil kegiatan ini dapat disimpulkan hasil pengetahuan mahasiswa perawat meningkat melebihi indikator keberhasilan yaitu mencapai 85. Pada proses E-ISSN 2614-8927 VOLUME 2 No. https://jurnal-adaikepri. id/index. php/JUPADAI pelaksanaan kegiatan ini tidak terdapat hambatan atau masalah yang menggangu proses kegiatan. Saran untuk kedepannya puskesmas dapat mengadakan kegiatan serupa dan terjadwal, agar mampu meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mahasiswa perawat dalam pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) sehingga berefek pada kualitas kesehatan bayi dan balita di wilayah tersebut. Strategi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) juga membutuhkan kerjasama antara petugas kesehatan, keluarga, dan masyarakat. Dengan kerjasama antara ketiga pihak tersebut, maka pelaksaan MTBS memungkinkan keikutsertaan orang tua anak dan masyarakat dalam peningkatan derajat UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih kepada Universitas Muhammadiyah Gorontalo, khususnya program Studi Ners yang telah memberikan dana internal serta turut membantu proses pengabdian ini dan terimakasih kepada puskesmas Kota Tengah yang telah bersedia memfasilitasi kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA