Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Mikhal Melawan Maskulinitas Pembacaan Sosio-Ideologis Atas Kisah Mikhal dalam 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 Yogi Fitra Firdaus Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta firdaus@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This article examines the story of Michal in 1 Samuel 18:18-30 and 2 Samuel 6:16-23 through a socio-ideological reading to uncover how Michal represents the violence women often experience within patriarchal family structures and political contexts. Michal, as an object of political interests of her father, husband, and even her brother, reflects male dominance in ancient Israelite society. Drawing on the ideas of Esther Fuchs and Kevin Harris, the study demonstrates that women like Michal are strategically placed within the biblical narrative to support ideologies of masculinity that oppress women. By applying Gale YeeAos socio-ideological approach, this article interprets the texts in Samuel while considering the social and political background that influenced the formation of these narratives. Michal, as a female figure, is not only a victim of cultural, religious, and political forces but also a symbol of the ideological tensions that reflect the oppression of women. Keywords: Michal, political marriage, masculinist ideology, socio-ideological reading. Abstrak Artikel ini mengkaji kisah Mikhal dalam Kitab 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 melalui pendekatan tafsir sosio-ideologis untuk mengungkapkan peran Mikhal sebagai gambaran kekerasan yang dialami perempuan dalam struktur rumah tangga patriarkal dan politik. Mikhal, yang sering menjadi objek kepentingan politik baik oleh ayah, suami, maupun kakak Mikhal Melawan Maskulinitas: Pembacaan Sosio-Ideologis Atas Kisah Mikhal dalam 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. kandungnya, mencerminkan dominasi laki-laki dalam masyarakat Israel kuno. Berdasarkan pemikiran Esther Fuchs dan Kevin Harris, penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan seperti Mikhal sengaja diposisikan dalam narasi Alkitab untuk mendukung ideologi maskulinitas yang menindas perempuan. Menggunakan pendekatan sosio-ideologis yang diusulkan oleh Gale Yee, artikel ini menafsirkan teks-teks Kitab Samuel dengan mempertimbangkan latar belakang sosial dan politik yang mempengaruhi pembentukan narasi tersebut. Mikhal, sebagai figur perempuan, tidak hanya menjadi korban budaya, agama, dan politik, tetapi juga menunjukkan ketegangan ideologis yang menggambarkan penindasan terhadap perempuan. Kata-kata kunci: Michal, pernikahan politik, maskulinitas, pembacaan sosio-ideologi. Pendahuluan Pada tanggal 10 Maret 2018 silam dirilis sebuah film pendek berjudul Elegi Melodi yang menceritakan kisah seorang perempuan Tionghoa berusia 60 tahun bernama Melodi. Ia divonis menderita penyakit kanker stadium akhir dan di sisa-sisa hidupnya itu. Melodi memutuskan untuk berjuang mewujudkan impiannya sejak muda yaitu menjadi seorang penyayi. Selain itu ia juga berkeinginan untuk membuat sebuah video klip dari lagu ciptaannya yang akan ditayangkan pada saat upacara kematiannya (Antelope 2. Film berdurasi 27 menit tersebut merekam dialog-dialog yang menggambarkan perasaan seorang perempuan yang impiannya terhempas sejak memasuki jenjang pernikahan. Misalkan pada dialog antara ia dengan anak laki-laki bungsunya yang bernama Rio. AuRio mama tuh telat sekali yaA sejak SMP kamu punya cita-cita jadi gamer sekarang sudah tercapai. Sementara mama sampai matipun gak bisa jadi seperti mama mau. Ay Ucap Melodi. Pernikahan yang seharusnya menjadi gerbang menuju kebahagian tetapi justru merenggut sukacitanya. Hal ini terlihat dari lirik lagu yang diciptakan oleh Melodi yang dijadikan original soundtrack dari lagu tersebut: Yang ada di halamanku adalah debu Kutanam bahagia yang tumbuh duka Kuberikan hidup hilang jiwanya seketika Kutebar kasih yang tumbuh murka1 Penggalan syair lagu tersebut menjadi ekspresi atas pengalaman dari sebagian perempuan setelah menjalani kehidupan rumah tangga. Perempuan acapkali kehilangan banyak hal dalam hidupnya karena dianggap harus memberikan seluruh keberadaan dirinya. Lagu tersebut berjudul Angan Sederhana diciptakan oleh Dayu Wijanto sebagai original soundtrack dari film Elegi melodi. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Tidak hanya tubuh melainkan juga jiwanya karena keberadaan dirinya kini telah menjadi milik dari seorang laki-laki. Tentu hal ini menjadi gambaran realitas dari banyak perempuan di Indonesia. Pernikahan masih dianggap sebagai solusi atas permasalahan hidup bahkan kunci menuju kebahagiaan yang sejati. 2 Bagi sebagian orang pernikahan menjadi ukuran keberhasilan dalam hidup. Maka tak heran jika ada banyak perempuan yang memilih untuk menikah muda baik karena kesadaran diri maupun melalui perjodohan. Tetapi pada kenyataannya pernikahan justru membuat sebagian perempuan kehilangan Tak jarang perempuan hanya dijadikan sebagai objek seksual, alat untuk mendapatkan keturunan, sumber keuntungan pribadi bahkan sasaran tindakan kekerasan. Oleh sebab itu tidak heran jika media massa sering kali memuat berita mengenai kekerasan di dalam rumah tangga, termasuk suami yang tega menjual istrinya sebagai pelacur. 3 Pada akhirnya nyanyian-nyanyian cinta pada waktu pesta pernikahan berubah menjadi sebuah elegi Kisah serupa juga dialami oleh Mikhal istri dari Raja Daud. Kisahnya terekam dalam Kitab 1 dan 2 Samuel. Mikhal adalah putri bungsu dari Saul, raja pertama Israel yang berkuasa dengan restu dari TUHAN . Sam. Narator 1 dan 2 Samuel menggambarkan Mikhal sebagai tokoh yang aktif, misalkan ketika Mikhal yang secara jujur mengatakan bahwa dia mencintai Daud . Sam. serta aksinya dalam menyelamatkan Daud dari rencana pembunuhan oleh Saul . Sam. Tetapi Mikhal juga berada di posisi yang pasif ketika Saul memberikannya kepada Palti bin Lais . Sam. dan diambil kembali oleh Daud sebagai negosiasi politik . Sam. Narator menceritakan bahwa 2 Samuel 6 menjadi akhir dari kisah tentang Mikhal. Pada bagian ini ia digambarkan sebagai perempuan yang buruk karena memandang rendah suaminya, padahal saat itu seharusnya menjadi kegembiraan bersama karena tabut perjanjian telah dibawa kembali ke kota Daud. Bahkan secara kasar narator menyebutkan jika Mikhal tidak mendapatkan anak sampai hari matinya. Mikhal menjadi contoh dari sikap seorang istri yang tidak menghormati suaminya, meskipun di sepanjang kisah hidupnya. Mikhal menjadi putri dan istri yang diabaikan. Mikhal menjadi gambaran yang utuh atas kekerasaan yang dialami perempuan dalam rumah tangga mereka. Mikhal menjadi objek kepentingan politik dari laki-laki baik itu ayah, suami maupun kakak kandungnya sendiri. Esther Fuch dalam bukunya Sexual in the Biblical Narratives menjelaskan bahwa tindakan ini lazim digunakan Monarki Israel sebagai Penulis masih menemukan adanya konsep tersebut di kalangan pemuda perempuan di wilayah urban tempat penulis melayani sebagai pembina komisi pemuda dan remaja. Salah satu contoh kasus yang terjadi pada tahun 2022 lalu. (AuSuami Menjual Istri Ke Teman Dan Dintip Saat Berhubungan. Polisi: Pelaku Ada Penyimpangan Seksual,Ay n. Mikhal Melawan Maskulinitas: Pembacaan Sosio-Ideologis Atas Kisah Mikhal dalam 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan (Fuchs 2003, . Lebih lanjut Kevin Harris mengungkapkan bahwa para perempuan di dalam PL termasuk Mikhal, dengan sengaja diangkat oleh para laki-laki dengan berfokus pada seks dan gender. Tujuannya adalah untuk mendukung ideologi maskulinitas yang merepresi perempuan (Harris 1984, . Oleh sebab itu melalui makalah ini penulis akan mengangkat kisah Mikhal dalam Kitab 2 Samuel 6:11-23 dengan menggunakan metode tafsir sosio-ideologis. Gale Yee menyebutkan bahwa pendekatan sosio-ideologis menggunakan dua langkah yakni menafsirkan narasi dalam teks dan mengkaji latar belakang sosial dan politik dari teks tersebut (Yee 1995, . Pola penafsiran seperti ini dapat digunakan untuk melihat secara jelas jika teks-teks Alkitab tidak bersifat univocal melainkan berisikan ketegangan-ketegangan yang bersifat politis dan seringkali merepresi perempuan (Castelli et al. 1995, 278Ae. Robert Setio melihat pentingnya kritik ideologi sebagai counter ideology terhadap hegemoni ideologi yang tidak adil, tidak etis dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan (Setio 2004, 401Ae. Sehingga tercipta pembacaan yang emansipatoris serta memberikan suara kepada perempuan yang menjadi korban penindasan laki-laki. Mikhal di dalam Kitab Samuel memperlihatkan jika perempuan tidak hanya dipermainkan oleh kepentingan budaya dan agama tetapi juga politik. Kekuasaan politik menjadi alat menunjukkan maskulinitas dari kaum laki-laki. Pernikahan Mikhal merupakan elegi baginya sebab penulis Kitab 1 dan 2 Samuel membungkan anak perempuan Saul itu sampai akhir hayatnya. Tetapi apakah Mikhal hanya berdiam diri saja? Ataukah sebenarnya dia adalah simbol perlawanan terhadap ideologi maskulinitas yang menindas? Kitab Samuel: Di Antara Ketegangan Politis Kitab 1 dan 2 Samuel menggambarkan kehidupan Bangsa Israel dari masa para hakim kepada bentuk kekuasaan monarki. Kitab ini berpusat pada tiga tokoh yaitu Nabi Samuel. Raja Saul dan Raja Daud. Kisah-kisah hidup dari Daud sebelum menjabat sebagai seorang raja juga terkait erat dengan kedua tokoh lainnya tersebut (Gordon 1993, . Seperti kitab-kitab dalam PL lainnya, 1 dan 2 Samuel membawa pesan agar umat Israel taat kepada TUHAN. Hal ini menjadi semacam syarat agar bangsa itu mengalami keberhasilan dalam kehidupannya (Bdk. 1 Sam. Tema yang paling mencolok dari Kitab 1 dan 2 Samuel adalah mengenai ketegangan politis di antara tokoh-tokoh yang diceritakan. Robert P. Coote dalam bukunya menjelaskan jika 1 dan 2 Samuel merupakan karya dari kelompok deutoronomis yang mengusung ideologi Israel Raya di bawah kekuasaan Dinasti Daud (Coote 2018, . Maka tak heran jika kitab ini sangat menyanjung tinggi ketokohan Daud dan memberikan gambaran negatif atas kepemimpinan wangsa Saul. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Persaingan politik antara Saul dan Daud sudah terlihat dari awal Kitab Samuel. Saul merasa tersaingi oleh kehadiran Daud yang seringkali dianggap sebagai pahlawan. Apalagi saat itu kekuasaan Saul sudah mulai terancam dengan hilangnya dukungan dari Samuel sebagai seorang pemimpin agama (Keener 2014, . Keberadaan seorang nabi di lingkaran kekuasaan sangatlah penting. Sandra L. Gravett menyebutkan bahwa dalam kelompok deutoronomistik terdapat pemahaman tentang ideologi temple & king complex. Ideologi ini sangat menekankan pentingnya keberadaan Bait Suci dan istana sebagai tanda bahwa raja merupakan wakil dari pemerintahan TUHAN atas umat-Nya (Gravett et al. 2008, . Oleh sebab itu keberadaan tabut perjanjian menjadi penting bagi Daud sebab dapat melegitimasi kepemimpinannya. Kisah Daud serta tabut perjanjian ini menjadi klimaks dari ketertindasan Mikhal sebagai seorang perempuan dan istri. Narator Kitab 2 Samuel ingin melegitimasi kekuasaan politik dari Daud dengan berhasil membawanya dari tangan musuh sekaligus menyingkirkan kaum keluarga Saul dengan memberikan citra buruk kepada Mikhal (Brenner. Archie C. Lee, dan Gale A. Yee 2023, . Puncak ketegangan politik antara Daud dengan keluarga Saul berada pada peristiwa tersebut, ketika Mikhal berani menegur suaminya. Di situ juga menjadi akhir dari kisah Mikhal, istri pertama Daud tersebut. Pertarungan Maskulinitas . Samuel 18:6-. 1 Samuel 18 dibuka dengan kisah persahabatan antara Daud dan Yonatan. Yonatan merupakan anak dari Raja Saul penguasa Kerajaan Israel. Kisah itu tidak hanya menceritakan persahabatan antara dua orang laki-laki tersebut, melainkan juga menggambarkan kehebatan Daud sebagai seorang pahlawan perang. Bahkan Saul mengangkatnya menjadi kepala prajurit . Sam. Narator tampaknya dengan sengaja menggambarkan keunggulan dari Daud sebagai cara untuk menunjukkan bahwa Daud merupakan calon yang ideal sebagai pengganti dari Saul (McKenzie 2000, . Bagi kelompok deutoronomis, pemegang kekuasaan yang sah hanya berasal dari wangsa Daud saja. Nama Mikhal pertama kali muncul pada 1 Sam. 18:20 di tengah persaingan politik antara Saul, ayahnya dengan Daud seorang pahlawan perang yang dikasihi Israel (Bdk. 1 Sam. Narator menceritakan jika semula Saul hendak memberikan Merab putri tertuanya kepada Daud dengan syarat harus terus berperang atas nama Tuhan. Padahal itu merupakan taktik dari Saul supaya Daud terbunuh di medan perang . Sam. 1 Sam. 18 ini juga menjadi awal dari ketegangan politis antara Saul dan Daud. Di satu sisi Saul sendiri yang memilih Daud sebagai kepala prajurit tetapi ketika Daud berhasil mengalahkan Filistin, dia menjadi iri. Kebencian Saul berawal dari puji-pujian para perempuan kepada Daud. Di ayat 7 disebutkan bahwa AuSaul mengalahkan beribu-ribu Mikhal Melawan Maskulinitas: Pembacaan Sosio-Ideologis Atas Kisah Mikhal dalam 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. Ay Jika memperhatikan narasi dari ayat 6 hingga 7, jelas bahwa kekalahan Saul atas Daud tidak hanya pada kepiawaian dalam berperang tetapi juga pada aspek maskulinitas. Maskulinitas seorang laki-laki digambarkan melalui daya pikatnya terhadap para perempuan (Sharp 2009, . Di dalam teks tersebut para perempuan dari penjuru kota keluar untuk menyongsong Raja Saul sambil menyanyi dan menari. Tentu sebagai seorang lakilaki hal itu menjadi sebuah kebanggan bagi Saul. Namun, teks menceritakan bahwa pujian yang ditujukan bagi Daud lebih besar dari padanya, sehingga timbul amarah dari Saul. Teks tersebut seolah-olah menjadi ejekan bagi Saul karena telah kehilangan daya pikatnya dari para perempuan (Fuchs 2003, . Persaingan maskulinitas di antara dua orang laki-laki sangatlah mengerikan, mereka bisa saling membunuh satu dengan yang lain. Persaingan ini terlihat dari ayat 10-13 ketika Saul mencoba membunuh Daud dengan menggunakan tombak sebanyak dua kali tetapi gagal. Selanjutnya Saul berusaha memusnahkan Daud dengan cara mengirimkannya ke medan perang sebagai kepala pasukan seribu . Sam. Melalui cara itu. Saul berharap bisa membunuh Daud tanpa harus menggunakan tangannya sendiri (Bailey 1990, . Upaya jahat dari Saul tentunya tidak membuahkan hasil sebab di dalam teks disebutkan jika AuTUHAN senantiasa menyertai DaudAy . Bahkan seluruh orang Israel dan Yehuda semakin mengasihi Daud, karena ia memimpin segala gerakan mereka . Apabila merujuk pada ideologi temple & king complex dapat dipastikan jika kalimat TUHAN senantiasa menyertai sebagai tanda pemilihan Daud sebagai raja yang dikehendaki-Nya. Demikian juga dengan penyebutan semua orang Yehuda yang terpisah dari kata Isreal seolah-olah ingin menunjukkan bahwa kelak Suku Yehuda yang akan memegang tampuk kekuasaan (Coote 2018, . Awal dari Elegi bagi Mikhal . Samuel 18:18-. Seperti yang dituliskan oleh narator, 1 Samuel 18 menceritakan jika Saul tidak berhasil dalam melakukan siasatnya untuk melenyapkan Daud, meskipun sudah mengirimkannya ke medan Malah sebaliknya, nama Daud semakin mahsyur sebagai seorang pahlawan perang yang berhasil mengalahkan musuh-musuh Israel. Kali ini Saul menggunakan cara lain untuk mengalahkan Daud yaitu memberikan anak perempuannya yang bernama Merab . Samuel 17:. Saul tentu memahami jika ingin memenangkan persaingan maskulinitas antar sesama laki-laki adalah dengan memberikan lawan seorang perempuan. Hal ini lazim dilakukan agar lawan menjadi tunduk kepadanya, pola demikian disebut sebagai pernikahan politik (KirkDuggan 2003, . Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Daud tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Walaupun ia tahu jika Saul membencinya, narator menceritakan bahwa Daud bersedia menikahi Merab. Bahkan disebutkan bahwa itu merupakan sebuah kehormatan bagi Daud karena bisa menjadi menantu seorang Hal itu terlihat dari perkataan Daud AuSiapakah aku dan siapakah sanak saudaraku, kaum ayahku, di antara orang Israel, sehingga aku menjadi menantu raja?Ay . Sam. Athalya Benner dalam tafsirannya mengungkapkan bahwa Daud juga sepakat dengan pernikahan politik tersebut karena ini menjadi jalan baginya untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan (Brenner. Archie C. Lee, dan Gale A. Yee 2023, . Saul dan Daud berada di dalam pemahaman yang sama mengenai pernikahan politik yang umum digunakan oleh bangsa-bangsa di Timur Dekat Kuno. Keduanya menggunakan perempuan sebagai alat mencapai kekuasaan. Ambisi Daud untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan sangat terlihat pada 1 Sam. 18: 19-30. Ketika menjelang waktu yang ditentukan ternyata Saul memberikan Merab kepada Adriel orang Mehola . Sam. Tetapi sebagai gantinya Saul setuju untuk menikahkan Mikhal dengan Daud sebagai rencana politik selanjutnya. Saul berpikir bahwa Mikhal dapat menjadi jerat bagi Daud agar dimusnahkan oleh orang Filistin . Sam. Menariknya meskipun Daud mendapatkan tantangan untuk menyerahkan 100 kulit khatan orang Filistin, dia bersedia melakukannya. Steven L. McKenzie menyoroti bahwa tindakan Daud ini tidak hanya didorong oleh kekuasaan tetapi juga seksual (McKenzie 2000, . Tindakan Daud tidak dilandasi oleh cintanya kepada Mikhal, melainkan demi alat pemuas nafsu belaka (Brenner 2000, . Hal ini berlawanan dengan ketulusan cinta dari Mikhal yang ditunjukkannya melalui kisah penyelamatan yang dia lakukan walaupun mendatangkan murka dari ayahnya. Di dalam pernikahan politik, hubungan seksual menjadi simbol kekuasaan serta penaklukan bagi kaum keluarga yang memiliki strata sosial lebih tinggi seperti yang muncul pada 1 Sam. 18: 23. Apabila membaca perikop berikutnya di 1 Samuel 19. Mikhal sudah mengalami penderitaan dari awal pernikahannya. Saul tetap ingin membunuh Daud, orang yang dikasihi Mikhal . Sam. Sebagai seorang perempuan, sesungguhnya Mikhal berada di dalam kondisi yang dilematis. Ia menjadi korban persaingan maskulinitas dari dua orang pria yang terkait erat dengan kehidupannya. Mikhal mengetahui rencana jahat dari ayahnya dengan memberitahukan hal itu kepada Daud . Sam. Mikhal melakukan tindakan aktif dengan menyelamatkan Daud, bahkan dia mengelabui ayahnya sendiri . Samuel 19:. Apa yang dilakukan oleh Mikhal dilandasi oleh cintanya kepada Daud seperti pada 1 Sam. 18:20. Meskipun demikian tidak serta merta menjadikan kisah ini tanpa adanya tendensi ideologi patriarkis. Sebab tindakan aktif Mikhal kepada Daud itu bisa juga didasari oleh budaya patriarkis yang menjadikan istri adalah milik dari seorang suami (Brenner 2000, . Mikhal Melawan Maskulinitas: Pembacaan Sosio-Ideologis Atas Kisah Mikhal dalam 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Peristiwa pernikahannya dengan Daud ini menjadi awal dari elegi atau nyanyian kesedihan dari Mikhal. Peristiwa-peristiwa tragis dalam kehidupannya terus berlangsung sebagai seorang perempuan yang dijadikan alat politik oleh para laki-laki terdekatnya. Bahkan setelah Saul meninggalpun, saudara laki-lakinya menjadikan Mikhal sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan. Mikhal sebagai Kritik Atas Ideologi Maskulin . Samuel 6:16-. 2 Samuel 6 yang seringkali dianggap sebagai puncak dari kisah Mikhal dibuka dengan peristiwa pengambilan tabut perjanjian dari rumah Abinadab . yat 1-. Tabut perjanjian menjadi hal yang penting untuk melegitimasi kekuasaan dari Daud sebagai pemimpin Israel. Ekspresi kegembiraan atas hadirnya tabut perjanjian ditunjukan dengan tarian yang dilakukan oleh Daud berserta seluruh kaum Israel . Tarian sukacita Daud itu terus berlanjut hingga tabut perjanjian tiba di Yerusalem. Yerusalem menjadi tempat penting, sebab di sana terdapat kediaman raja dan Rumah TUHAN. Gagasan Yerusalem sebagai pusat dari Israel sangat ditekankan oleh kaum Deutoronomis dalam mengukuhkan kekuasaan wangsa Daud (Brenner. Archie C. Lee, dan Gale A. Yee 2023, . Terdapat peristiwa yang sering disorot oleh para penafsir Alkitab yaitu perlakukan Mikhal terhadap Daud yang dianggap memandang rendah suaminya itu. Pada ayat 16 dituliskan AuKetika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya. Ay Sikap memandang rendah tersebut dalam pengamatan penulis merupakan ekspresi dari penindasan yang Mikhal alami selama Daud tidak pernah bersukacita dengan Mikhal karena hanya dijadikan sebagai alat pemuas Mikhal dipakai untuk sekadar menyokong ideologi maskulinitas yang ada pada diri Daud (Clines 1995, . Nehama Aschkenasy dalam bukunya Woman at the Window: Biblical Tales of Oppression and Escape menjelaskan bahwa 2 Sam. 6: 11-23 yang seringkali dianggap sebagai sikap kurang ajar dari seorang istri kepada suami yang dipilih Tuhan merupakan kritik terhadap ideologi maskulin yang diusung oleh kelompok deutoronomis (Aschkenasy 1998, . Mikhal melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu dari jendela sebagai sesuatu yang memalukan. Daud menari-nari hingga telanjang di hadapan para budak perempuan . Sam. Lebih lanjut Aschkenasy di dalam penelitiannya mengungkapkan jika jendela adalah simbol dari pengekangan kebebasan perempuan sebagai properti kepunyaan laki-laki termasuk ketubuhan Laki-laki dianggap wajar ketika mempertontonkan aktivitas seksual secara publik sedangkan bagi perempuan hal itu adalah merupakan area privat yang menimbulkan rasa malu (Aschkenasy 1998, . Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Hubungan seksual memang menjadi salah satu konstruksi dari ideologi maskulinitas di dalam Perjanjian Lama. Menurut David J. Clines, maskulinitas laki-laki dipandang dari aktivitas seksual dan juga ketertarikan mereka terhadap hubungan seks (Clines 1995, . Maka tak heran jika kelompok deutoronomis sebagai penulis dari Kitab 1 dan 2 Samuel menggambarkan Daud sebagai laki-laki yang berhasil menaklukkan banyak perempuan. Catatan yang ditulis secara implisit maupun eksplisit, setidaknya ada 18 istri atau gundik Raja Daud: Mikhal . Samuel 19:11-18. 25:44. and 2 Samuel 3:13-14. 6:20-. Abigail . Samuel 25:. Ahinoam dari Yizreel . Samuel 25:. Egla . Samuel 3:. Maakha . Samuel 3:. Hagit . Samuel 3:. Abital . Samuel 3:. Batsyeba . samuel 11:. serta 10 gundik yang tercatat . Samuel 15:16. 16:21-. Selain itu Daud juga mengambil lagi beberapa istri dan gundik . Samuel 5:13, 1 Tawarikh 14:. Cheryl Kirk Durgan dalam bukunya Pregnant Passion: Gender. Sex and Violence mengatakan bahwa ideologi maskulinitas ini membentuk sikap manipulatif terhadap Mereka dijadikan objek seksual dan alat penghasil keturunan bagi penguasa (KirkDuggan 2003, . Hal ini juga disampaikan oleh Randal C. Bailley yang menyebutkan bahwa nafsu Daud untuk berperang tidak dapat dipisahkan dengan hasrat seksualnya termasuk ketika dia memanipulasi Betseba (Bailey 1990, . Maka gambaran negatif terhadap Mikhal pada 2 Samuel 6 tersebut berkaitan dengan ketiadaan keturunan. Mikhal dianggap gagal dalam menjaga masukilinitas suaminya, padahal Daud sendiri yang secara sengaja membuat Mikhal untuk tidak hamil demi menghapus keturunan Saul (McKenzie 2000, . Tindakan aktif Mikhal yang menyatakan perasaan cintanya terhadap Daud juga misi penyelamatan Daud dari ancaman ayahnya ini menjadi perlawanan terhadap ideologi maskulinitas itu. Hal ini menjadi sikap yang tidak bisa diterima oleh budaya patriarki yang mengharuskan perempuan bersikap pasif. Maka narasi akan Mikhal ini dianggap sebuah ancaman bagi ideologi narator (Clines 1995, . Sikap Mikhal yang memandang rendah Daud merupakan keberanian menyatakan sikap. Kirk Duggar, menyoroti bahwa Mikhal menjadi marah kerena beberapa alasan seperti Mikhal yang diambil kembali oleh Daud sebagai alat politik, kehilangan seluruh anggota keluarganya dan nasibnya berubah drastis. Ekspresi ini yang selama ini ditahan oleh Mikhal sebagai perempuan yang diabaikan (Kirk-Duggan 2003, . Elegi Melodi untuk Mikhal dan Para Perempuan Melodi dan Mikhal menjadi secuplik kisah yang dialami oleh banyak perempuan di dunia ini. Pernikahan yang seharusnya membawa sukacita justru menjerumuskan perempuan ke dalam lingkaran penindasan. Melodi kehilangan impiannya setelah menikah, ia hanya dijadikan sebagai alat untuk memperoleh keturunan bagi suaminya. Sebagai seorang perempuan Mikhal Melawan Maskulinitas: Pembacaan Sosio-Ideologis Atas Kisah Mikhal dalam 1 Samuel 18:18-30 dan 2 Samuel 6:16-23 Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Tionghoa, dia dipaksa patuh kepada suaminya. Istri adalah milik dari seorang suami. Melodi pada akhirnya dapat mencapai impiannya, menjadi seorang penyanyi dan memiliki video klipnya sendiri. Lagu yang ia gubah itu akhirnya ditampilkan pada saat ibadah kedukannya. Menjadi elegi sekaligus kesempatan terakhirnya untuk menyuarakan isi hati yang selama ini ia Melodi gambaran perempuan Indonesia yang impiannya terhempas ketika memasuki biduk rumah tangga. Demikian juga dengan Mikhal, pernikahan menjadi awal elegi dalam kehidupannya. Sebagai seorang perempuan, ia mencintai suaminya dengan tulus. Namun, kenyataan yang ia terima sebaliknya. Bukan kasih sayang melaikan hanya alat untuk mencapai kekuasaan. Pernikahan yang dia jalani hanya membawanya pada penderitaan demi penderitaan. Di akhir narasi kehidupannya. Mikhal berani bersuara dengan menegur suaminya itu. Bukan sekadar bersuara melainkan sebuah perlawanan atas maskulinitas yang hanya menjadikan perempuan sebagai objek kepentingan laki-laki. Narator 2 Samuel menutup kisah Mikhal dengan hal yang begitu kasar dengan menyebutkan bahwa ia tidak memiliki anak sampai akhir hayatnya. Kembali konstruksi budaya patriarkis dan maskulinitas yang dikenakan bagi perempuan. Istri harus memberikan keturunan bagi laki-laki. Kisah-kisah tersebut masih terjadi hingga pada masa kini. Ketika perempuan masih dijadikan objek bagi kepentingan laki-laki. Di dalam pengalaman di tengah jemaat, penulis pernah berjumpa dengan seorang pria yang secara terus terang menikahi istrinya karena harta Dengan cara itu, ia bisa naik status sosial. Hal serupa seperti yang Daud lakukan ketika menikahi Mikhal. Di lain kesempatan, penulis juga menjumpai seorang perempuan yang dipaksa untuk menyetujui suaminya menikah lagi karena tidak dapat melahirkan seorang anak. Tekanan yang ia terima tidak hanya dari suaminya melainkan juga mertuanya. Perempuan tersebut dianggap memperlamukan nama keluarga besar. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa bagi seorang perempuan pernikahan tidak hanya membawa kebahagiaan tetapi juga bisa menjadi pengalaman yang menindas bagi mereka. Kesimpulan Kisah Mikhal menjadi gambaran dari pembungkaman terhadap perempuan yang banyak di dalam teks-teks Perjanjian Lama. Budaya patriarkis kerap kali digunakan untuk menindas Penulis 2 Samuel 6: 16-23 dengan sengaja membangun citra buruk dari Mikhal dengan menganggapnya sebagai perempuan yang kurang ajar karena memandang rendah suaminya yang sedang bersukacita karena kehadiran tabut perjanjian. Tindakan Mikhal adalah perlawanan terhadap ideologi maskulinitas yang ada pada diri Daud yang menjadikan perempuan sebagai alat pencapai kekuasaan dan objek seksual. Yogi Fitra Firdaus Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Pengalaman kehidupan Mikhal menjadikan dia di akhir kisahnya sebagai perempuan yang berani bersuara. Elegi kehidupan yang diawali dari pernikahan politik membuatnya berani menentang penindasan terhadapnya. Gambaran dari penulis teks juga berkaitan dengan ideologi dari kelompok deutoronomis yang menjadikan Mikhal sebagai korban dari ketegangan politik antara Saul dan Daud. Hingga masa kini perempuan seringkali dijadikan sebagai alat dalam kontestasi politik serta persaingan maskulinitas. Berdasarkan kisah Mikhal dapat ditarik kesimpulan juga bahwa pernikahan tidak selamanya membawa kebahagiaan tetapi juga bisa menjadi kesedihan bagi banyak Banyak impian yang direnggut dari perempuan ketika mereka memasuki kehidupan rumah tangga. Teks mengenai Mikhal ini sering digunakan oleh para pengkhotbah untuk melegitimasi budaya patriarkis. Ideologi patriarkis dan yang menjunjung tinggi maskulinitas perlu dibongkar sehingga memberikan suara kepada perempuan-perempuan yang tertindas dalam Alkitab. Daftar Pustaka