Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026 (Hal: 1-. https://ojs. id/index. php/jbfi ISSN 2828-1411 (Onlin. THE INFLUENCE OF FINANCIAL LITERACY AND FINANCIAL TECHNOLOGY ON PERSONAL FINANCIAL MANAGEMENT AMONG GENERATION Z IN SUBANG REGENCY Rea Aprila Sobandi1 Dian Pelita Sari2 1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja. Indonesia 2 Universitas Subang. Indonesia rea2022@stiesa. INFO ARTIKEL Histori Artikel: Tgl. Masuk: 13/11/2025 Tgl. Diterima: 13/11/2025 Tersedia Online: 30/04/2026 Keywords: Financial Literacy. Financial Technology. Personal Financial Management. Generation Subang Regency ABSTRACT This study investigates the influence of financial literacy and financial technology . on personal financial management among Generation Z in Subang Regency. Employing a quantitative approach, primary data were collected from 51 respondents through an online The findings reveal that financial literacy has a positive and significant impact on personal financial management, while financial technology, although positively related, does not show a statistically significant However, both variables together exert a significant influence on financial behavior. The results highlight the importance of strengthening financial knowledge and promoting responsible fintech usage to improve the financial decision-making and independence of Generation Z in the digital era. This research provides insights for educators, policymakers, and fintech providers in designing more effective financial education and technological solutions tailored to the needs of young digital natives. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah membawa perubahan kehidupan, termasuk dalam pengelolaan keuangan pribadi. Kemudahan akses terhadap berbagai produk dan layanan keuangan digital, seperti pembayaran elektronik, investasi online, dan aplikasi perencanaan keuangan, telah mengubah keuangannya sehari-hari. Transformasi ini menuntut adanya pemahaman dan keterampilan baru dalam mengelola keuangan agar individu dapat mengambil keputusan finansial yang tepat dan terhindar dari risiko keuangan yang tidak Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan adalah literasi Literasi keuangan mencakup pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep keuangan dasar, termasuk cara mengelola pendapatan, pengeluaran, menabung, berinvestasi, serta memahami risiko dan produk keuangan yang tersedia di pasar. Tingkat literasi keuangan yang baik dapat membantu individu untuk menghindari kesalahan dalam pengelolaan keuangan, mengembangkan kebiasaan finansial yang sehat, dan mempersiapkan Volume 05. No. masa depan secara lebih terencana. Penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki dampak besar terhadap kemampuan individu dalam menangani masalah keuangan secara efektif. Generasi Z, yang lahir di era digital dan tumbuh bersama perkembangan teknologi, menghadapi tantangan keuangan yang semakin kompleks. Generasi ini dikenal keinginan daripada kebutuhan, serta paparan yang tinggi terhadap berbagai tawaran produk keuangan digital. Meski memiliki akses informasi yang luas, rendahnya literasi keuangan di kalangan Generasi Z dapat menyebabkan perilaku keuangan yang kurang bijak, seperti kecenderungan berutang untuk mengikuti tren dan minimnya alokasi untuk tabungan Oleh peningkatan literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak bagi Generasi Z agar mampu menghadapi tantangan keuangan di masa depan. Di sisi lain, kehadiran financial technology . memberikan peluang sekaligus tantangan bagi Generasi Z dalam mengelola keuangan pribadi. Fintech mengakses layanan keuangan, mulai dari pembayaran digital, pinjaman online. Penelitian menunjukkan bahwa fintech dapat mendorong Generasi Z untuk lebih mandiri dalam mengelola keuangan, namun juga menimbulkan risiko seperti kecanduan belanja dan peningkatan utang apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Oleh karena itu, sinergi antara literasi keuangan dan pemanfaatan fintech sangat penting untuk membentuk perilaku keuangan yang sehat di kalangan Generasi Z. Kabupaten Subang sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan representasi penting untuk mengkaji pengaruh literasi keuangan dan financial keuangan pribadi pada Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana literasi keuangan dan pemanfaatan fintech berperan dalam keuangan pribadi pada Generasi Z di Kabupaten Subang. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merancang program edukasi keuangan dan pengembangan inovasi fintech yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda di era digital saat ini. KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Literasi Keuangan Literasi Keuangan adalah kemampuan seseorang untuk memahami prinsipprinsip dasar dan risiko dalam aktivitas pengetahuan tersebut untuk membuat keputusan finansial yang bijaksana dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi Pada kalangan anak muda, rendahnya literasi keuangan sering memicu perilaku berlebihan, dan ketiadaan perencanaan jangka panjang Ae temuan ini didukung oleh penelitian dari Aidil Fadli et al. dan Susanto et al. , yang sama-sama mencatat dampak negatif kurangnya literasi finansial bagi generasi Z di Indonesia. Menurut Susanto et al. , literasi keuangan terdiri dari beberapa dimensi utama: pengetahuan, sikap, keterampilan, komponen ini saling mempengaruhi dalam ekonomi yang rasional. Tanpa komprehensif tentang fungsi keuangan pribadi, seseorang berpotensi terjerat dalam keputusan keuangan yang tidak optimal dan tidak seimbang (Susanto et al. Financial Technology Financial technology . adalah menyediakan layanan keuangan secara digital, mencakup e-wallet, pembayaran Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) QR, pinjaman P2P, investasi lewat aplikasi, hingga crowdfunding. Arner. Barberis, dan Buckley . menggambarkannya sebagai kekuatan revolutionary yang mendisrupsi sistem finansial tradisional melalui peningkatan efesiensi, aksesbilitas, dan penurunan Menurut Gomber. Koch, dan Siering . , fintech menawarkan manfaat seperti kemudahan transaksi tanpa uang tunai, pengajuan pinjaman secara instan, dan investasi rendah biaya lewat aplikasi. Namun, risiko tetap hadir. Zetzsche et . mengingatkan bahwa rendahnya literasi keuangan digital bisa membuat pengguna terbawa arus konsumtif, bahkan terperangkap utang berbasis fintech. Pengelolaan Keuangan Pribadi Pengelolaan keuangan pribadi adalah proses sistematis di mana individu mengatur pendapatan dan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan memastikan kesiapan finansial di masa Kapro et al. menyatakan bahwa kegiatan ini mencakup perencanaan pengalokasian dalam investasi, serta pengelolaan utang secara bijak. Hasil studi menunjukkan bahwa manajemen yang terstruktur dapat meningkatkan stabilitas ekonomi, mencegah krisis finansial, dan membangun pondasi untuk dana darurat, pendidikan, dan pensiun. Selanjutnya, penelitian oleh Lathiifah dan Kautsar . mengungkap bahwa literasi keuangan, sikap finansial positif, teknologiAiseperti aplikasi fintechAiberhubungan erat dan memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan individu, termasuk generasi muda. Model kuantitatif dari Elsalonika dan Ida . pada Generasi Z juga menunjukkan bahwa literasi keuangan sementara fintech dan efikasi diri keuangan juga berkontribusi secara Dengan demikian, terdapat hubungan keuangan . , dan manajemen keuangan pribadiAidimana mendukung pemanfaatan teknologi fintech untuk pengelolaan keuangan offline maupun online secara efektif. Kerangka Pemikiran Alur logika digunakan sebagai dasar dalam penelitian ini dan menjadi pedoman Kerangka pemikiran penelitian tersebut disajikan pada gambar berikut. Gambar 1 Kerangka Pemikiran Sumber: Peneliti, 2025 Hipotesis Penelitian H1. Literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan pribadi pada Generasi Z di Kabupaten Subang. H2. Financial technology berpengaruh pengelolaan keuangan pribadi pada Generasi Z di Kabupaten Subang. H3. Literasi keuangan dan financial berpengaruh positif dan signifikan pribadi pada Generasi Z di Kabupaten Subang. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pendekatan kuantitatif dengan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada responden dari kalangan Generasi Z di Kabupaten Subang. Data yang dikumpulkan bersumber dari individu yang tergolong Generasi Z, yakni mereka yang berusia antara 17 hingga 28 tahun, mengelola keuangan secara mandiri. Volume 05. No. berdomisili di Kabupaten Subang, serta aktif menggunakan layanan keuangan Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Non-Probability Sampling Convenience Sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kemudahan akses terhadap responden yang memenuhi Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25, dengan tahapan analisis meliputi: analisis deskriptif, uji kualitas data, uji asumsi klasik, serta uji regresi linear berganda. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan secara parsial maupun simultan untuk mengidentifikasi pengaruh masing-masing variabel secara terpisah maupun bersama-sama. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan karakteristik responden serta proses pengambilan sampel. Peneliti memperoleh data dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama, yang disebarkan secara daring melalui platform Google Form. Penyebaran secara online melalui aplikasi WhatsApp untuk menjangkau responden yang sesuai dengan kriteria penelitian. Informasi responden yang dikumpulkan mencakup jenis kelamin, usia, dan status . eperti status pekerjaan atau pendidika. , yang kemudian digunakan untuk keperluan analisis data lebih lanjut. Responden dalam penelitian ini adalah individu yang termasuk dalam kategori Generasi Z dan berdomisili di Kabupaten Subang. Penyebaran kuesioner dilakukan selama periode 30 Mei hingga 18 Juni 2025 melalui media daring. Ringkasan data kuesioner yang telah dikumpulkan dan memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian disajikan pada tabel berikut. Tabel 1 Distribusi Kuesioner Keterangan Kuantitas Presentasi Total yang dibagikan Total yang tidak dapat Total yang dapat diolah Sumber: Data Diolah, 2025 Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah total kuesioner yang berhasil dikumpulkan sebanyak 51 responden. Seluruh memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, sehingga tidak terdapat kuesioner yang didiskualifikasi atau tidak dapat diolah. Dengan demikian, jumlah kuesioner yang dapat dianalisis dan dijadikan sebagai sampel penelitian adalah sebanyak 51 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik data dari masing-masing variabel penelitian, yaitu literasi keuangan, financial technology, dan pengelolaan keuangan pribadi. Parameter statistik yang digunakan dalam analisis ini meliputi nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata . , serta standar Hasil dari analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum mengenai sebaran data dan tingkat kecenderungan pusat dari setiap variabel yang diteliti. Tabel 2 Hasil Uji Statistic Descriptive Std. Variable N Minimum Maximum Mean Deviation PKP Valid N 34,69 5,101 31,27 6,954 32,96 5,834 Sumber: Data Diolah, 2025 Uji Kualitas Data Uji Validitas Ghozali . menjelaskan bahwa uji validitas digunakan untuk menilai sejauh mana kuesioner secara akurat mengukur konstruk yang dimaksud. Suatu instrumen dianggap valid jika setiap pernyataan Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) dalam kuesioner memang mencerminkan variabel yang hendak diukur. Dalam menggunakan korelasi Pearson, yaitu dengan membandingkan nilai r hitung dari setiap item dengan nilai r tabel. Berdasarkan jumlah sampel 51 responden, derajat kebebasan dihitung sebagai df = 51 Ae 2 = 49. Berdasarkan tabel r, nilai r kritis pada tingkat signifikansi dua arah = 0,05 adalah 0,281. Jika r hitung > 0,281, maka pernyataan dianggap valid. Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Literasi Keuangan Pernyataan R Hitung LK. 0,809 LK. 0,786 LK. 0,824 LK. 0,735 LK. 0,837 LK. 0,836 LK. 0,830 LK. 0,785 R Tabel Keterangan 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan hasil uji validitas pada variabel Literasi Keuangan, seluruh item pernyataan dinyatakan valid. Hal ini ditunjukkan oleh nilai r hitung masingmasing item yang lebih besar daripada nilai r tabel, sehingga seluruh pernyataan dalam instrumen tersebut secara sah mampu mengukur variabel yang dimaksud. Tabel 4 Hasil Uji Validitas Variabel Financial Pernyataan R Hitung FT. 0,720 FT. 0,823 FT. 0,804 FT. 0,834 FT. 0,827 FT. 0,791 FT. 0,789 FT. 0,892 R Tabel Keterangan 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan hasil uji validitas pada variabel financial technology, seluruh item pernyataan dinyatakan valid. Hal ini ditunjukkan oleh nilai r hitung masingmasing item yang lebih besar daripada nilai r tabel, sehingga seluruh pernyataan dalam instrumen tersebut secara sah mampu mengukur variabel yang dimaksud. Tabel 5 Hasil Uji Validitas Variabel Pengelolaan Keuangan Pribadi Pernyataan R Hitung PKP. 0,824 PKP. 0,784 PKP. 0,791 PKP. 0,779 PKP. 0,638 PKP. 0,786 PKP. 0,842 PKP. 0,892 R Tabel Keterangan 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID 0,280 VALID Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan hasil uji validitas pada variabel pengelolaan keuangan pribadi, seluruh item pernyataan dinyatakan valid. Hal ini ditunjukkan oleh nilai r hitung masing-masing item yang lebih besar daripada nilai r tabel, sehingga seluruh pernyataan dalam instrumen tersebut secara sah mampu mengukur variabel yang dimaksud. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas bertujuan untuk mengukur konsistensi internal dari suatu instrumen atau kuesioner. Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila nilai CronbachAos Alpha yang diperoleh minimal mencapai 0,60 untuk penelitian eksploratif, dan Ou 0,70 untuk penelitian konfirmatori (Hair et al. Ghozali, 2. Semakin tinggi nilai alpha, maka semakin tinggi tingkat konsistensi antar item dalam instrumen. Tabel 6 Hasil Uji Reliabilitas N of CronbachAo Variabel Item Kriteria Keterangan s Alpha LK (X. 0,920 0,60 Reliabel FT (X. 0,921 0,60 Reliabel PKP (Y) 8 0,914 0,60 Reliabel Sumber: Data diolah, 2025 Uji Normalitas Uji mengetahui apakah data pada variabel independen dan dependen dalam model regresi memiliki distribusi normal. Distribusi normal penting dalam regresi linier karena asumsi dasar dari model tersebut mengharuskan adanya distribusi residual Menurut Volume 05. No. Kurniawan . , data yang tidak menyebabkan hasil uji statistik menjadi tidak akurat atau menyesatkan. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan histogram untuk memvisualisasikan distribusi residual dari model regresi. Tujuan dari uji ini adalah untuk mengevaluasi apakah residual terdistribusi secara mendekati normal. Distribusi residual yang normal menjadi salah satu syarat penting dalam pemenuhan asumsi regresi linear klasik. Gambar 2 Hasil Uji Normalitas Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan hasil uji normalitas yang ditampilkan melalui histogram, terlihat cenderung simetris meskipun sedikit condong ke kanan. Sebagian besar nilai residual terkonsentrasi di sekitar angka nol, dan kurva normal . erwarna hita. cukup mengikuti pola batang histogram. Selain itu, tidak terdapat lonjakan maupun penurunan ekstrem yang menyimpang dari bentuk distribusi normal . urva loncen. , sehingga dapat disimpulkan bahwa data residual mendekati distribusi normal. Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas digunakan untuk melihat apakah model regresi ditemukan adanya korelasi dari variable bebas model regresi yang baik tidak terjadi suatu korelasi pada variable bebas. Hasil atau uji multikolinieritas melalui IBM SPSS Statistics 25 adalah sebagai berikut. Tabel 7 Hasil Uji Multikolineritas Variable Colliearity Statistics Tolerance . /VIF) VIF . /Tolerance Valu. LK (X. FT (X. Dependent Variable: PKP Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan hasil uji multikolinearitas yang ditunjukkan pada tabel di atas, diketahui bahwa seluruh variabel memiliki nilai tolerance lebih dari 0,10. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat korelasi tinggi antarvariabel independen. Selain itu, nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk setiap variabel berada di bawah angka 10, yang menguatkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas dalam model regresi. Dengan demikian, analisis regresi dapat dilanjutkan ke tahap Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengidentifikasi apakah varians residual dalam model regresi bersifat tidak konstan antar pengamatan . Jika varians residual tetap, kondisi ini Untuk memastikan model regresi yang baik, penting untuk menggunakan asumsi homoskedastisitas, karena keberadaan heteroskedastisitas dapat menyebabkan estimasi koefisien tetap tidak bias, namun menghasilkan standard errors yang bias, sehingga mengganggu validitas uji statistik (BreuschAePagan & White, 2022. Dalam heteroskedastisitas dilakukan melalui scatter plot residual terhadap nilai prediksi. Metode ini digunakan untuk memeriksa menunjukkan pola varians yang konsisten atau tidak. Jika scatter plot memperlihatkan pola seperti kerucut atau pola menyebar, menganggu efektivitas dan keabsahan model regresi. Gambar 3 Hasil Uji Heterokedastisitas Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan heteroskedastisitas yang ditampilkan pada gambar di atas, scatter plot menunjukkan bahwa model regresi memenuhi asumsi Hal ini terlihat dari pola penyebaran titik-titik residual yang acak dan tidak membentuk pola tertentu, seperti pola kipas . , bentuk lengkung . ola U), maupun pola sistematis lainnya. Sebaran titik tampak merata dan mengelilingi garis horizontal nol . pada sumbu Y, tanpa menunjukkan adanya konsistensi arah atau pola hubungan dengan nilai prediksi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat sehingga model regresi layak untuk digunakan dalam analisis lebih lanjut. Analisis Regresi Linear Berganda Uji Regresi linear berganda memiliki tujuan untuk menguji hipotesis ketiga (H. yaitu literasi keuangan dan financial technology secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan pribadi pada Generasi Z di Kabupaten Subang. Ringkasan hasil analisis regresi berganda adalah sebagai Tabel 8 Rangkuman Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Variabel Dependen: PKP Variabel Ekpektasi Koefisien Sig. Konstanta LK (X. H1 = FT (X. H2 = Fhitung Ftabel F test sig. Koefisien Determinasi (R. Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,474. Artinya, sebesar 47,4% variabilitas dalam variabel pengelolaan keuangan pribadi dapat dijelaskan oleh variabel literasi keuangan dan financial Sementara itu, sisanya sebesar 52,6% dijelaskan oleh faktor lain di luar model yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Persamaan Regresi Berganda Berdasarkan nilai koefisien dan nilai konstanta pada table di atas, maka dapat disusun persamaan regresi sebagai Y = 4. 887 0,650X1 0,177X2 Persamaan menunjukkan bahwa jika nilai Literasi Keuangan (XCA) dan financial technology (XCC) dianggap konstan atau tidak mengalami perubahan, maka nilai PKP adalah sebesar 4. 887 satuan. Jika XCA . iterasi keuanga. meningkat sebesar satu satuan, maka PKP akan meningkat sebesar 0. 650 satuan, dengan asumsi nilai XCC tetap. Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh pengelolaan keuangan pribadi karena nilai 000 (< 0. Jika XCC . inancial meningkat sebesar satu satuan, maka PKP akan meningkat sebesar 0. 177 satuan, dengan asumsi nilai XCA tetap. Namun, nilai signifikansi variabel ini sebesar 0. 089 (> , sehingga pengaruhnya terhadap PKP tidak signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 5%, meskipun arah pengaruhnya tetap positif. Uji Parsial (Uji T) Menurut Priyatno . , uji t digunakan untuk menguji apakah variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen secara Jika nilai signifikansi < 0,05, maka independen tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Volume 05. No. Berdasarkan pengujian hipotesis secara parsial adalah sebagai berikut: Uji Hipotesis Variabel Literasi Keuangan (HCA). Literasi Keuangan terbukti berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Pengelolaan Keuangan Pribadi. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai koefisien regresi positif sebesar 0,650. Uji Hipotesis Variabel Financial technology (HCC). Financial technology tidak berpengaruh secara parsial Pengelolaan Keuangan Pribadi. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,089 > 0,05, meskipun memiliki arah koefisien positif sebesar 0,177. Uji Simultan (Uji F) Menurut Priyatno . , uji F digunakan untuk menguji kelayakan model regresi, yaitu apakah variabel independen bersama-sama signifikan terhadap variabel dependen. Jika nilai signifikansi uji F lebih kecil dari 0,05, maka model regresi tersebut layak digunakan untuk analisis lebih lanjut karena memiliki pengaruh yang signifikan secara simultan. Berdasarkan tabel hasil regresi, diketahui bahwa Fhitung = 23,497 > Ftabel = 2,802, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel Literasi Keuangan (XCA) dan financial technology (XCC) terhadap Pengelolaan Keuangan Pribadi (PKP). Dengan demikian, model regresi ini layak digunakan untuk analisis, dan hipotesis ketiga (HCE) yang menyatakan bahwa kedua variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen dapat diterima. Pembahasan Pengaruh Literasi Keuangan terhadap Pengelolaan Keuangan Pribadi Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan pada hipotesis pertama (H. dapat diketahui bahwa variable Literasi Keuangan memiliki pengaruh positif terhadap variable pengelolaan keuangan pribadi. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh analisis regresi berganda dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 5% atau 0,05 yaitu 0,000 . ,000 < 0,. yang berarti variable X1 berpengaruh secara signifikan terhadap variable Y, serta nilai koefisien regresi menunjukkan arah hubungan positif sebesar 0,650 sehingga H1 diterima. Literasi kemampuan individu untuk memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait keuangan pribadi dengan baik. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997Ae 2012, adalah kelompok usia yang kini mulai memasuki dunia perkuliahan dan kerja, dan mereka dihadapkan pada berbagai tantangan keuangan, termasuk pengelolaan pendapatan, penggunaan fintech, serta keputusan menabung dan Menurut penelitian oleh Alimah dan Lestari . terhadap Generasi Z di Surabaya, ditemukan bahwa literasi keuangan yang baik berbanding lurus dengan kemampuan generasi ini dalam mengelola keuangannya secara bijak. Generasi Z yang memiliki tingkat literasi membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat anggaran, dan menabung secara Hal senada juga disampaikan oleh Firmansyah dan Ramadhani . yang melakukan penelitian terhadap mahasiswa (Generasi Z) di Kota Bandung. Mereka menemukan bahwa literasi keuangan berperan penting dalam mencegah perilaku konsumtif dan meningkatkan pengelolaan keuangan yang sehat, terutama di era digital yang menawarkan banyak kemudahan transaksi sekaligus Pentingnya literasi keuangan bagi Generasi Z tidak hanya menyangkut aspek teknis seperti menghitung bunga atau memahami produk perbankan, tetapi juga terkait pembentukan perilaku finansial Dengan bekal literasi keuangan yang baik. Generasi Z mampu menghadapi tantangan keuangan masa depan dengan lebih siap dan mandiri. Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) Pengaruh Financial Technology Pengelolaan Keuangan Pribadi Berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis kedua (H. , diketahui bahwa variabel financial technology (Fintec. memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pengelolaan keuangan Hasil ini ditunjukkan dari uji regresi berganda, di mana nilai signifikansi sebesar 0,089 > 0,05, dengan koefisien regresi positif sebesar 0,177. Meskipun arah pengaruh menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan fintech maka semakin baik pula pengelolaan keuangan pengaruhnya belum signifikan pada taraf kepercayaan 95%, sehingga hipotesis H2 Fintech telah berkembang menjadi salah satu teknologi yang sangat akrab dengan Generasi Z. Kemudahan akses, kecepatan transaksi, dan fitur-fitur yang menarik membuat platform fintech seperti dompet digital, mobile banking, serta aplikasi investasi dan pinjaman online semakin populer. Generasi Z yang umumnya lebih adaptif terhadap teknologi ini dan menggunakannya dalam kehidupan keuangan sehari-hari. Namun, penelitian oleh Maulida dan Fauziah . menunjukkan bahwa penggunaan fintech oleh mahasiswa Generasi Z cenderung bersifat konsumtif. Banyak memanfaatkan fasilitas fintech untuk transaksi non-produktif seperti belanja daring berlebihan, pemakaian fitur paylater tanpa perencanaan, dan minimnya kontrol terhadap pengeluaran harian. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun fintech mudah diakses, tanpa literasi dan kesadaran keuangan yang memadai, memberikan dampak positif terhadap pengelolaan keuangan. Penelitian lain oleh Prasetya dan Wibowo . juga menyimpulkan bahwa pengaruh fintech terhadap pengelolaan keuangan pribadi akan signifikan apabila pengguna memiliki kemampuan literasi digital dan finansial yang baik. Dalam Generasi Z di beberapa perguruan tinggi, ditemukan bahwa mahasiswa yang memahami cara kerja aplikasi fintech memanfaatkan fitur-fitur perencanaan keuangan yang disediakan, menunjukkan pengelolaan keuangan pribadi yang lebih sehat dan tertata. Fintech sebenarnya memiliki potensi besar untuk membantu Generasi Z mengelola keuangan. Beberapa aplikasi fintech menawarkan fitur pencatatan keuangan otomatis, pengingat tagihan, perencanaan anggaran. Jika dimanfaatkan secara maksimal, fitur-fitur tersebut dapat meningkatkan kesadaran finansial dan membantu pengguna membuat keputusan keuangan yang lebih rasional dan bertanggung jawab. Pengaruh Literasi Keuangan dan Financial Technology Pengelolaan Keuangan Pribadi Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menguji apakah Literasi Keuangan (XCA) dan Financial Technology (XCC) secara Pengelolaan Keuangan Pribadi (Y) pada Generasi Z. Berdasarkan hasil uji F dalam analisis regresi berganda, diperoleh nilai Fhitung sebesar 23,497, yang lebih besar dari nilai Ftabel sebesar 2,802, serta dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 . ebih kecil dari 0,. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara simultan, kedua variabel independen tersebut pengelolaan keuangan pribadi, dan hipotesis HCE diterima. Hasil keberhasilan dalam mengelola keuangan Generasi bergantung pada kombinasi antara pemahaman terhadap konsep keuangan serta kemampuan dalam menggunakan teknologi keuangan modern. Literasi keuangan memberikan landasan kognitif yang kuat bagi seseorang dalam anggaran, mengambil keputusan investasi. Sementara itu, fintech memfasilitasi keputusan-keputusan tersebut melalui kemudahan akses dan efisiensi digital. Volume 05. No. Generasi Z merupakan kelompok demografis yang tumbuh dalam ekosistem Mereka lebih cepat beradaptasi dengan inovasi teknologi, termasuk dalam hal keuangan. Namun, adaptasi terhadap fintech tidak otomatis mencerminkan perilaku finansial yang sehat, apalagi jika tidak dibarengi oleh literasi keuangan yang Seperti yang diungkapkan oleh Santoso dan Lestari . , dalam studinya terhadap mahasiswa Generasi Z di Jabodetabek, bahwa meskipun akses terhadap aplikasi keuangan digital semakin luas, tanpa pemahaman tentang risiko dan pengelolaan uang, pengguna berisiko melakukan kesalahan finansial seperti pengeluaran impulsif atau pemanfaatan fitur kredit tanpa pertimbangan matang. Penelitian oleh Rahmawati dan Alfiansyah . juga menegaskan bahwa kedua faktor ini Ai literasi keuangan dan fintech Ai harus saling melengkapi. Dalam penelitiannya terhadap 200 mahasiswa Generasi Z di Jawa Tengah, ditemukan bahwa pengaruh positif penggunaan fintech terhadap pengelolaan keuangan baru menjadi signifikan jika individu tersebut memiliki tingkat literasi keuangan yang baik. Mereka mampu menggunakan fitur-fitur monitoring transaksi, hingga investasi mikro secara lebih efektif dan terarah. Lebih lanjut, hasil penelitian ini juga memperkuat teori perilaku keuangan modern yang menyatakan bahwa perilaku keuangan individu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal . engetahuan dan sika. , tetapi juga oleh faktor eksternal kemudahan akses layanan keuangan (Lusardi & Mitchell, 2017. diperbarui dalam konteks Indonesia oleh Rahmawati & Alfiansyah, 2. Dalam Generasi pengelolaan keuangan menjadi lebih kompleks karena adanya distraksi digital, dorongan konsumsi sosial di media sosial, serta tren hidup instan yang difasilitasi oleh teknologi keuangan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut: Literasi Keuangan (XCA) berpengaruh Pengelolaan Keuangan Pribadi (Y) pada Generasi Z. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat literasi keuangan seseorang, maka semakin baik pula kemampuannya dalam mengelola keuangan, seperti membuat anggaran, menabung, menghindari utang konsumtif, serta membuat keputusan keuangan yang bijak. Temuan ini sejalan dengan penelitian membentuk perilaku keuangan yang Financial technology (XCC) berpengaruh positif namun tidak signifikan secara Pengelolaan Keuangan Pribadi (Y). Meskipun arah penggunaan teknologi keuangan oleh Generasi Z belum sepenuhnya memberikan dampak yang nyata pribadi mereka. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perilaku konsumtif, kurangnya pemahaman terhadap fitur fintech, atau pemanfaatan fintech yang konsumtif, bukan untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Secara simultan. Literasi Keuangan dan Financial Technology berpengaruh signifikan terhadap Pengelolaan Keuangan Pribadi. Kedua variabel tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap kemampuan Generasi Z dalam mengelola keuangan pribadinya. Ini keuangan pribadi yang baik memerlukan kombinasi antara pengetahuan keuangan dan kemampuan memanfaatkan teknologi keuangan secara efektif. Secara keseluruhan, penelitian ini keuangan sebagai fondasi utama dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat, serta perlunya edukasi lebih lanjut dalam pemanfaatan fintech yang bertanggung Bagi Generasi Z yang hidup di era digital, penguatan kedua aspek ini menjadi Journal of Banking and Financial Innovation (JBFI) kunci dalam menciptakan manajemen keuangan pribadi yang mandiri, bijak, dan berkelanjutan. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Implikasi Penelitian Hasil penelitian ini memberikan sejumlah implikasi teoritis dan praktis yang penting bagi berbagai pihak, khususnya dalam konteks peningkatan pengelolaan keuangan pribadi di kalangan Generasi Z: Implikasi Teoritis: memperkuat teori perilaku keuangan yang menyatakan bahwa pengetahuan . dan sarana . merupakan dua komponen penting dalam membentuk perilaku finansial Literasi keuangan terbukti sedangkan fintech menjadi instrumen dipengaruhi oleh tingkat pemahaman finansial pengguna. Temuan ini terhadap literatur yang membahas perilaku finansial digital di era ekonomi Implikasi Praktis n Bagi Institusi Pendidikan: Hasil ini menunjukkan perlunya penguatan program literasi keuangan berbasis digital di lingkungan kampus. Perguruan memasukkan modul keuangan pribadi dan penggunaan fintech yang bertanggung jawab ke dalam kurikulum, seminar, atau kegiatan n Bagi Pemerintah Daerah dan Regulator Keuangan: Pemerintah, khususnya di tingkat kabupaten seperti Subang, dapat merancang program edukasi keuangan yang melalui media digital, pelatihan, dan kerja sama dengan lembaga keuangan dan fintech. n Bagi Pelaku Industri Fintech: Perusahaan meningkatkan fitur edukatif dalam n aplikasi mereka agar pengguna, khususnya Generasi Z, tidak hanya menggunakan layanan secara praktis tetapi juga memahami konsekuensi dan risiko keuangan dari setiap keputusan yang diambil. Bagi Generasi Z itu sendiri: Hasil ini menjadi cerminan penting bahwa pemanfaatan teknologi keuangan harus disertai dengan pengetahuan menunjang kehidupan finansial yang sehat, bukan sebaliknya menjerumuskan pada kebiasaan konsumtif yang tidak terkontrol. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat menjadi catatan bagi penelitian selanjutnya: Cakupan Wilayah Terbatas: penelitian ini hanya dilakukan pada Generasi Z di Kabupaten Subang, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan secara luas ke seluruh wilayah Indonesia yang memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan teknologi yang Penggunaan Instrumen Kuantitatif Tertutup: menggunakan kuesioner dengan skala Likert, yang cenderung membatasi responden dalam menjawab secara Pendekatan ini belum mampu menggali secara menyeluruh persepsi, motivasi, atau pengalaman subjektif individu terkait penggunaan fintech dan pengelolaan keuangan. Variabel Lain yang Tidak Diteliti: penelitian ini hanya fokus pada dua variabel independen, yaitu literasi keuangan dan financial technology. Padahal, dipengaruhi oleh faktor lain seperti pendapatan, pendidikan orang tua, dan nilai-nilai pribadi yang tidak dianalisis dalam model ini. Aspek Kualitas Penggunaan Fintech Tidak Tergambar Penuh: meskipun fintech menjadi salah satu variabel dalam penelitian ini, studi ini belum membedakan secara spesifik jenis fintech yang digunakan . -wallet. Volume 05. No. pinjaman online, investasi digital, dll. frekuensi penggunaannya, maupun orientasi penggunaannya . onsumtif vs REFERENCES