EconBank: Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 7 Nomor 1, 2025 Pengaruh Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Sektor Consumer Non-Cyclicals Periode 2019-2023 dengan Kepemilikan Institusional sebagai Faktor Moderasi Ihya Ulummudin1. Tri Handayani2. Dian Murdianingsih3. Arif Rahman4 12,3,4 Institut Teknologi dan Bisnis Adias Pemalang email: ihyaulummudin683@gmail. ABSTRACT This journal reviews the earnings management factor with institutional ownership as moderation in noncyclical consumer sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange. This study aims to prove that financial distress, tax planning, and leverage affect earnings management with institutional ownership as a moderation. The type of research is quantitative design with a correlational study Thirteen companies are used as samples. The researcher uses MRA (Moderated Regression Analysi. as an analysis tool. The results are Financial Distress. Tax Planning, and Leverage affect Earnings Management. Institutional Ownership has the ability to weaken Tax Planning and Leverage, but is unable to weaken Financial Distress in influencing Earnings Management. Keywords: Financial Distress. Tax Planning. Leverage. Earnings Management. Institutional Ownership ABSTRAK Jurnal ini mengulas tentang faktor manajemen laba dengan kepemilikan institusional sebagai moderasi di perusahaan sektor consumer non-cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan financial distress, tax planning, dan leverage mempengaruhi manajemen laba dengan kepemilikan institusional sebagai moderasi. Jenis penelitiannya desain kuantitatif dengan pendekatan studi korelasional. Tiga belas perusahaan digunakan sebagai sampel. Peneliti menggunakan MRA (Moderated Regression Analysi. sebagai alat analisisnya. Adapun hasilnya adalah Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage mempengaruhi Manajemen Laba. Kepemilikan Institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan Tax Planning dan Leverage, tetapi tidak mampu melemahkan Financial Distress dalam mempengaruhi Manajemen Laba. Kata kunci: Financial Distress. Tax Planning. Leverage. Manajemen Laba. Kepemilikan Institusional Pendahuluan Persaingan di era globalisasi yang semakin maju, setiap hari perusahaan bersaing untuk merebut pangsa pasar, menarik pelanggan, dan mempertahankan eksistensinya di tengah dinamika pasar yang terus berubah. Laporan keuangan adalah dokumen penting yang berisi informasi finansial selama periode tertentu yang mencerminkan keadaan kondisi Laba terdapat dalam perusahaan merupakan sebagai data pendukung investor untuk proses pengambilan keputusan investasi. Kebaikan suatu perusahaan hanya bergantung pada keuntungannya. Semakin banyak laba yang dicapai, semakin baik kinerja bisnis. Dengan hal tersebut, pihak eksternal akan beringinan untuk menginvestasikan sahamnya. Akan tetapi, tidak bisa mencegah manajemen mengambil tindakan yang dapat menambah atau mengurangi EconBank: Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 7 Nomor 1, 2025 keuntungan perusahaan. Kegiatan tersebut akan memicu pihak internal untuk memanipulasi laporan keuangan dengan tidak sesuai prinsip akuntansi. Salah satu strategi dalam akuntansi yang bermanfaat untuk mengubah pendapat pemangku kepentingan tentang kinerja dan keadaan perusahaan dikenal sebagai manajemen laba (Sulistyanto, 2. Hubungan antara manajer dengan stakeholder yang mempunyai keterikatan dalam kerjasama merupakan hal yang memunculkan manajemen laba. Ketika pihak tertentu memiliki informasi lebih akan memiliki keleluasan manajemen dengan memanipulasi dalam akuntansi perusahaan. Fenomena manipulasi laba dengan kasus di PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk dari dua anak perusahaannya ialah PT Jati Sari Rejeki dan PT Indo Beras Unggul, diketahui melakukan pelanggaran dengan menjual beras yang tidak sesuai dengan labelnya. Akibat tindakan tersebut, harga saham perusahaan mengalami penurunan drastis, sehingga manajemen berupaya memperbaiki citra perusahaan melalui manipulasi laporan keuangan tahun 2017. Setelah melakukan audit oleh Ernst dan Young Indonesia atas permintaan Bursa efek Indonesia, terungkap bahwa perusahaan meningkatkan beberapa komponen yang ada di laporan keuangannya (Wareza, 2. Financial distress, tax planning dan leverage merupakan beberapa variabel yang dapat mempengaruhi manajemen laba. Financial Distress adalah sebuah keadaan ketika belum bisa memenuhi kewajiban keuangan dan bila tidak segera diatasi dapat berujung likuidasi perusahaan (Altman et al. , 2. Hasil penelitian dari Kannangara & Buvanendra . financial distress mempengaruhi manajemen laba. Melainkan, hasil dari Shafira Nurulita & Tri Utami . dalam penelitiannya financial distress tidak mempengaruhi manajemen laba. Tax Planning merupakan strategis yang dilakukan oleh individu atau perusahaan untuk mengelola kewajiban kepada negara tanpa melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh negara (Suandy, 2. Hasil penelitian dari Mulia & Setiawati . tax planning mempengaruhi manajemen laba. Melainkan, hasil dari Bramasta & Budiasih . dalam penelitiannya tax planning tidak mempengaruhi manajemen laba. Leverage menurut Kasmir . merupakan sejauh mana pendanaan perusahaan berasal dari utang, baik melalui aset maupun ekuitas. Dengan kata lain, leverage menunjukkan besarnya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan modal. Hasil penelitian dari Ruwanti et al. leverage mempengaruhi manajemen laba. Melainkan, hasil dari Bramasta & Budiasih . dalam penelitiannya leverage tidak mempengaruhi manajemen laba. Variabel moderat dalam penelitian ini yaitu kepemilikan institusional yang berperan memoderasi financial distress, tax planning, dan leverage terhadap manajemen laba. Kepemilikan Institusional menurut Tamrin. dan Maddatuang . adalah komposisi saham pihak eksternal yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan. Adanya investor institusional meningkatnya pengawasan pihak internal dalam memonitor kinerja keuangannya. Semakin besar persentase saham yang dimiliki investor institusional akan semakin sulit pihak internal melakukan manipulasi keuangannya. Karena memiliki posisi lebih besar kepemilikan sahamnya daripada pihak internal. Teori agensi menjadi dasar dalam memahami awal terjadinya manipulasi laporan keuangan dengan adanya penerimaan informasi yang berbeda dari pihak manajemen maupun pemilik saham. Menurut Jensen & Meckling . teori agensi adalah kerangka kerja yang menjelaskan hubungan kontraktual antara prinsipal dan agen, di mana agen diberikan wewenang untuk bertindak atas nama prinsipal. Salah satu penyebab antara agen dan prinsipal Pengaruh Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage. (Ulummudin et al. , :28-. yaitu sebuah informasi yang berbeda dimana salah satu pihak memiliki informasi yang lebih banyak mengenai suatu bisnisnya. Hal tersebut yang menyebabkan pihak internal bisa memanfaatkan fleksibilitas dalam penyusunan laporan keuangan untuk memperbaiki citra perusahaan atau memenuhi kepentingan pribadi seperti menaikkan laba untuk menarik investor, menaikkan harga saham dan bisa juga menurunkan laba untuk menghindari pajak yang tinggi. Dalam teori agensi, kesulitan keuangan dapat menimbulkan konflik kepentingan di mana manajer sebagai agen cenderung mengambil keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri, bukan pemegang saham. Apabila suatu bisnis mengalami kesulitan keuangan, maka prinsipal mempersepsikan hal tersebut sebagai ketidakmampuan manajer . sebagai pengelola perusahaan. Menurut penelitian oleh Mambuhu et al. dan Kannangara & Buvanendra . bahwa financial distress mempengaruhi manajemen laba. H1 : Financial Distress mempengaruhi Manajemen Laba Pemerintah memiliki kepentingan terhadap laba yang didapatkan oleh perusahaan dalam menentukan pajak penghasilan. Semakin besar keuangannya, akan memanfaatkan celah Namun, muncul kecenderungan untuk meminimalkan pembayaran pajak demi mempertahankan laba perusahaan (Rohmah et al. , 2. Menurut penelitian oleh Mulia & Setiawati . dan Kumalaputri et al. bahwa tax planning mempengaruhi manajemen H2 : Tax Planning mempengaruhi Manajemen Laba Modal bisa dikatakan sebagai pondasi utama dalam membangun perusahaan yang Tanpa modal cukup, akan sulit bagi suatu perusahaan untuk berjalan dan bertahan. Maka dari itu perusahaan perlu adanya leverage. Tingkat utang yang semakin besar lebih cenderung rekayasa laporan keuangan yang mengakibatkan risiko yang signifikan. Dalam penelitian oleh Ruwanti et al. dan Rizki . bahwa leverage mempengaruhi manajemen laba. H3 : Leverage mempengaruhi Manajemen Laba Ketika terjadi kesulitan keuangan, risiko konflik ini meningkat karena manajemen mungkin lebih terdorong untuk menyelamatkan posisi mereka melalui earnings management. Jika pemilik institusional memiliki kepentingan yang signifikan, mereka dapat menekan manajemen untuk fokus pada solusi jangka panjang daripada mengandalkan manipulasi jangka pendek. Dengan kepemilikan institusional yang tinggi dapat memperlemah financial distress dalam mempengaruhi manajemen laba. Menurut penelitian Sari & Hermi . dan Sovia et al. menyatakan kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan financial distress dalam mempengaruhi manajemen laba. H4 : Financial Distress mempengaruhi Manajemen Laba dengan Kepemilikan Institusional sebagai faktor moderasi Strategi perencanaan pajak yang baik, ketika perusahaan memanfaatkan hal tersebut memungkinkan pembayaran pajak penghasilan yang sedikit kepada negara yang mengakibatkan penyelewengan dari aturan perpajakan. Maka dengan hal ini kepemilikan institusional sangat mempengaruhi dalam melakukan pengawasan kepada manajemen untuk melakukan tax planning yang baik. Menurut penelitian NisaAo & Ernandi . dan Syofnita EconBank: Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 7 Nomor 1, 2025 et al. menyatakan kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan tax planning dalam mempengaruhi manajemen laba. H5 : Tax Planning mempengaruhi Manajemen Laba dengan Kepemilikan Institusional sebagai faktor moderasi Leverage mencerminkan penggunaan utang untuk membiayai operasi, dan sering kali dikaitkan dengan tekanan untuk memenuhi kewajiban keuangan seperti pembayaran bunga dan pelunasan utang. Ketika terjadi kesulitan pembayaran utang, manajemen memanipulasi laporan keuangan demi mengurangi risiko besar terutama pengaruhnya terhadap keputusan Monitoring yang lebih ketat oleh kepemilikan institusional perusaan lebih cenderung menggunakan leverage secara hati-hati untuk menghindari risiko yang besar. Menurut penelitian Angelina & Atiningsih . dan Saraswati & Atiningsih . menyatakan kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan leverage dalam mempengaruhi manajemen laba. H6 : Leverage mempengaruhi Manajemen Laba dengan Kepemilikan Institusional sebagai faktor moderasi Materi dan Metode AuPopulasi terdiri dari perusahaan sektor consumer non-cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang mencakup periode 2019-2023 (Tabel . Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mnganalisis data dalam penelitian ini. Tabel 1. Kriteria Sampel Penelitian Keterangan Tidak Kriteria Perusahaan Sektor Consumer Non-Cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2019-2023 Perusahaan Sektor Consumer Non-Cyclicals yang termasuk dalam kategori papan utama dan pengembangan di Bursa Efek Indonesia Perusahaan Sektor Consumer Non-Cyclicals yang menerbitkan Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan secara lengkap Periode 2019-2023 Perusahaan Sektor Consumer Non-Cyclicals yang mendapatkan laba secara berturut-turut selama Periode Periode Penelitian 2019-2023 Jumlah Sampel Penelitian . x 5 tahu. Sampel Pengaruh Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage. (Ulummudin et al. , :28-. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan diperoleh 13 perusahaan dengan teknik purposive sampling sebagai sampel penelitian dengan penelitian 5 periode, jadi total ada 65 data. Berikut ini adalah pengukurannya untuk setiap variabel yang diteliti. Tabel 2. Definisi Operasional AuVariabelAy Manajemen Laba (Y) AuDefinisiAy Manajemen laba adalah upaya manajer suatu perusahaan untuk memanipulasi informasi dalam laporan keuangan untuk mengubah pendapat pemangku kepentingan tentang kinerja dan keadaan perusahaan (Sulistyanto, 2. AuIndikatorAy TAC DAycnyc = [A ycnycOe1 ] Oe NDAycnyc Keterangan : TACycnyc = NIycnyc Oe CFOycnyc TAycnyc = 1 (A ) AycnycOe1 ycnycOe1 OIycIyceyc ycnyc ycEycEyaycnyc ) 3 ( ) yuA ycnycOe1 ycnycOe1 NDAycnyc = 1 (A OIycIyceyc ycnyc 2 ( A ycnycOe1 ycEycEyaycnyc 3 ( A Kepemilikan Institusional (Z) Financial Distress (X. Tax Planning (X. Leverage (X. Kepemilikan Institusional adalah kepemilikan saham yang dimiliki oleh lembaga keuangan non bank yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan (Tamrin. dan Maddatuang. Financial Distress adalah sebuah memenuhi kewajiban keuangan dan bila tidak segera diatasi dapat (Altman et al. , 2. Tax planning adalah strategis yang dilakukan oleh individu atau kewajiban pajak secara legal dengan memanfaatkan peraturan perpajakan yang berlaku (Suandy, 2. Leverage adalah sejauh mana pendanaan perusahaan berasal dari utang, baik melalui aset maupun Dengan kata lain, leverage menunjukkan besarnya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan modal (Kasmir, 2. ycnycOe1 ycnycOe1 OIycIyceyca ycnyc Oe A ycnycOe1 AZ = 0,012X1 0,014X2 0,033X3 0,006X4 0,999X5Au Keterangan: AuX1 = Modal Kerja / Total AsetAy AuX2 = Laba ditahan / Total AsetAy AuX3 = Laba sebelum pajak / Total AsetAy AuX4 = Nilai kapitalisasi pasar / Nilai UtangAy AuX5 = Penjualan / Total asetAy EconBank: Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 7 Nomor 1, 2025 Hasil Penelitian Uji Normalitas Uji normalitas mencoba menganalisis sebaran data dalam suatu kumpulan data atau variabel, apakah sebaran data tersebut berdistribusi normal atau tidak (Ghozali, 2. Hasil pengujian normalitas dengan grafik normal probability plot dan one-sample kolmogorov smirnov adalah sebagai berikut: Ay Au Gambar 2. Uji Normalitas Data Dari Gambar 2 dapat diketahui bahwa data berdistribusi normal karena titik-titik ploting selalu mengikuti dan mendekati garis diagonal. Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-sminorve dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Uji Normalitas dengan Kolmogorove-Smirnove Unstandardized Residual Normal Parameters Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Hasil pengujian output SPSS tabel 3 di atas, mempunyai arti Asymp. sig sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05 sehingga memenuhi syarat uji normalitas K-S maka diartikan data tersebut distribusi normal. Pengaruh Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage. (Ulummudin et al. , :28-. Uji Multikolinearitas Tujuan dari uji multikolinearitas adalah untuk mengetahui apakah terjadi korelasi diantara variabel independen pada model regresi. Pengujian dapat dilakukan dengan memeriksa nilai toleransi dan faktor inflasi varians. Berikut ini adalah hasil uji Tabel 4. Uji Multikolonieritas Collinearity Statistics Variabel Bebas Tolerance 0,715 VIF 1,399 Tax Planning 0,889 1,125 Leverage 0,756 1,322 Kepemilikan Institusional 0,882 1,134 Financial Distress Sumber: Data sekunder diolah, 2025 Hasil pengujian output SPSS tabel 4 di atas, mempunyai arti semua variabel independen antara lain financial distress, tax planning, leverage, kepemilikan institusional memiliki nilai toleransi lebih dari 0,01 dan faktor inflasi varians kurang dari 10 maka tidak terdapat masalah Uji Heteroskedastisitas Pengujian ini mengetahui ada tidaknya ketidaksamaan variabel antara residual satu observasi dengan observasi lain dalam suatu model regresi (Ghozali, 2. Berikut hasil uji menggunakan scatterplot dan uji glejser sebagai berikut:Ay Gambar 3. Uji Heteroskedastisitas Hasil pengujian output SPSS gambar 3 di atas, mempunyai arti titik-titik tidak membentuk pola tertentu seperti bentuk gumpalan sehingga tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. EconBank: Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 7 Nomor 1, 2025 Tabel 4. Uji Glejtser Variabel Bebas Financial Distress Tax Planning Leverage Kepemilikan Institusional Sig. 0,132 0,804 0,408 0,990 Sumber: Data sekunder diolah, 2025 Hasil pengujian dari tabel 5 di atas, mempunyai arti bahwa financial distress, tax planning, leverage, kepemilikan institusional memiliki probabilitas lebih dari 0,05 sehingga tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi Uji Durbin-Watson (D-W) dapat digunakan untuk menentukan apakah model regresi linier ada korelasi kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya. Tabel 6 berikut hasil uji autokorelasi dari output SPSS: Tabel 5. Uji Autokorelasi AuR R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 0,741 0,549 0,518 0,04888 2,154 Sumber: Data sekunder diolah, 2025 Hasil pengujian pada tabel 6 di atas, nilai DW adalah 2,154 dengan 65 sampel penelitian . yaitu 65 dan 4 variabel bebas, maka dari output SPSS menunjukkan batas luar . L) yaitu 1,4709 dan batas dalam . U) adalah 1,7311. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai DW berada pada rentang 1,7311 < 2,154 < 2,2689 yang berarti tidak terjadi autokorelasi. Analisis Regresi AuUntuk mengetahui pengaruh antara financial distress, tax planning, dan leverage terhadap manajemen laba maka dilakukan analisis regresi. Hasil pengujian regresi dapat dilihat dibawah ini:Ay Tabel 6. Rangkuman Analisis Regresi Variabel Bebas Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta (Constan. 0,590 0,086 Financial Distress 0,026 0,010 Tax Planning -1,126 0,114 Leverage -0,017 0,008 Dependent Variable : Manajemen Laba Fhit : 33,003 Sig. : 0,000 Adjusted R : 0,518 Sumber: Data Sekunder diolah, 2025 0,238 -0,799 -0,203 6,836 2,587 -9,881 -2,238 Sig. 0,000 0,012 0,000 0,029 Pengaruh Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage. (Ulummudin et al. , :28-. Hasil pengujian dari tabel 7 di atas, dapat dijelaskan Financial Distress memiliki nilai thitung sebesar 2,587 dengan probabilitas 0,012 < 0,05 artinya Financial Distress mempengaruhi Manajemen Laba. Variabel Tax Planning memiliki nilai thitung -9,881 dengan probabilitas 0,000 < 0,05 artinya Tax Planning mempengaruhi Manajemen Laba. Variabel Leverage memiliki nilai thitung -2,238 dengan probabilitas 0,029 < 0,05 menunjukkan bahwa Leverage mempengaruhi Manajemen Laba. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis satu, dua, tiga mempengaruhi manajemen laba. Nilai Adjusted R2 dari tabel di atas adalah sebesar 0,518 hal ini berarti sebesar 51,8 % mempengaruhi manajemen laba dari variabel independen yang diteliti sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor variabel lain. Analisis Regresi Moderasi Pengujian moderasi dilakukan untuk memperjelas kekuatan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang diteliti. Hasil pengujian Moderated Regression Analysis (MRA) adalah sebagai berikut: Tabel 7. Rangkuman Hasil Uji MRA Hubungan Moderasi Koefisien Financial Distress * Kepemilikan Institusional -0,146 Tax planning * kepemilikan institusional 1,997 Leverage * Kepemilikan Institusional -0,176 -1,994 3,200 -2,890 Sig. 0,051 0,002 0,005 Sumber: Data Sekunder diolah, 2025 Pengujian interaksi pada tabel 7 menunjukkan bahwa Financial Distress dan Kepemilikan Institusional memiliki koefisien probabilitas 0,051 > 0,05 artinya kepemilikan institusional tidak mampu memeoderasi pengaruh Financial Distress terhadap Manajemen Laba. Sedangkan interaksi tax palnning dan kepemilikan institusional memberikan nilai probabilitas Sig. 0,002 < 0,05 artinya kepemilikan Institusional memoderasi pengaruh Tax Planning terhadap Manajemen Laba. Demikian juga interaksi antara variabel Leverage dan Kepemilikan Institusional memberikan nilai probabilitas Sig. 0,005 < 0,05 yang berarti Kepemilikan Institusional mampu memeoderasi pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data, financial distress mempengaruhi manajemen laba. Suatu bisnis yang sering mengalami penurunan usahanya manajer segera bertindak untuk mengatasi masalah ini. Perusahaan dapat menggunakan teknik manajemen laba, seperti memalsukan data laporan keuangan, untuk mengatasi tantangan keuangan. Tingkat penggunaan teknik manajemen laba meningkat seiring dengan tingkat kesulitan keuangan Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa keinginan manajer untuk memberikan data keuangan utama terkait dengan pengelolaan bisnis yang dioptimalkan sebagaimana ditunjukkan oleh laba yang diperoleh. Hasil ini sejalan dengan penelitian Mambuhu et al. dan Kannangara & Buvanendra . bahwa financial distress mempengaruhi manajemen laba. Berdasarkan hasil analisis data, tax planning mempengaruhi manajemen laba. Perencanaan pajak menjadi salah satu sumber manfaat manajer untuk bisa mengurangi kemampuan ekonomis yang dibayarkan. Pembayaran wajib pajak kepada pemerintah semakin EconBank: Journal of Economics and Banking ISSN 2685-3698 Volume 7 Nomor 1, 2025 berkurang dengan manipulasi keuangan yang baik tanpa melanggar perpajakan. Dalam hal manajemen aktivitas tersebut membantu untuk bisa mengurangi beban wajib pajak, tapi bagi pemerintah hal tersebut sebuah kebutuhan dana untuk kegiatan penyelenggaraan Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ruwanti et al. dan Rizki . bahwa leverage mempengaruhi manajemen laba. Berdasarkan hasil analisis data, leverage mempengaruhi manajemen laba. Leverage menjadi salah satu tujuan perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya. Hal ini sangat membantu jika bisa mengelola leverage dengan baik. Bila leverage tinggi akan mempengaruhi keputusan investasi yang menjadikan investor tidak mau bekerjasama atau menanamkan Maka dari itu manajemen melakukan manipulasi laporan keuanganya agar pihakpihak yang berkepentingan tidak mengetahui yang terjadi di internal. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sari & Hermi . dan Sovia et al. menyatakan kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan financial distress dalam mempengaruhi manajemen laba Berdasarkan hasil analisis data, kepemilikan institusional tidak mampu memoderasi pengaruh financial distress terhadap manajemen laba. Hal ini dapat dijelaskan bahwa ketika terjadi kesulitan uang, manajemen akan berpikir untuk bisa melaporkan keadaan yang baik apalagi tekanan dari kepemilikan institusional yang ingin setiap kinerjanya menunjukkan hal yang bagus. Karena keadaan tersebut bisa mempengaruhi investor untuk pengambilan Hasil ini berbeda dengan penelitian Sari & Hermi . dan Sovia et al. menyatakan kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan financial distress dalam mempengaruhi manajemen laba. Berdasarkan hasil analisis data, tax planning mempengaruhi manajemen laba yang dilemahkan oleh kepemilikan institusional. Perencanaan pajak memang bisa dimanfaatkan oleh manajemen untuk mengelola beban wajib pajak yang ditanggung. Maka manajemen akan melakukan perencanaan pajak yang baik tanpa melanggar apalagi ada pengawasan dari pihak kepemilikan institusional yang selalu melakukan pengawasan yang optimal kepada pihak Sehingga membantu untuk tidak melanggar karena bisa mengakibatkan perusahaan tidak baik di mata investor. Hail ini sejalan dengan penelitian NisaAo & Ernandi . dan Syofnita et al. menyatakan kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan tax planning dalam mempengaruhi manajemen laba Berdasarkan hasil analisis data, leverage mempengaruhi manajemen laba yang dilemahkan oleh kepemilikan institusional sebagai faktor moderasi. Dengan adanya leverage sangat membantu perusahaan mengembangkan bisnisnya, jika bisa dikelola dengan baik. Ketika tidak bisa dikelola dengan baik manajemen akan mencari cara dengan hal manipulasi laporan keuangnnya agar tidak terlihat leverage tinggi, akan tetapi ada kepemilikan institusional yang mengawasinya dalam aktivitas manajemen yang dilakukannya karena adanya kepemilikan saham yang berusaha tidak adanya kecurangan dalam mengelola Sehingga hal tersebut mengurangi kegiatan yang bisa merusak pengelolaan Hasil ini sejalan dengan penelitian Angelina & Atiningsih . dan Saraswati & Atiningsih . yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan leverage dalam mempengaruhi manajemen laba Pengaruh Financial Distress. Tax Planning, dan Leverage. (Ulummudin et al. , :28-. Simpulan Berdasarkan output SPSS dan analisisnya, simpulannya financial distress, tax planning dan leverage mempengaruhi manajemen laba. Kepemilikan Institusional mempunyai kemampuan untuk melemahkan tax planning dan leverage, tetapi tidak mampu melemahkan financial distress dalam mempengaruhi manajemen laba. Penelitian yang telah dilakukan ini masih memiliki beberapa keterbatasan terutama pada sampel penelitian yang digunakan hanya berjumlah 13 perusahaan sektor consumer non-cyclicals. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperbesar sampel dan objek penelitian yang memiliki kasus lainnya dengan informasi terbaru di dunia ekonomi karena mempunyai gambaran hasil penelitian yang lebih Selain itu, peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk menambah atau mengganti variabel lain yang dipengaruhi oleh manajemen laba dengan kepemilikan institusional sebagai faktor moderasi misalnya seperti Ukuran Perusahaan. Profitabilitas. Referensi