Faktor Penentu Partisiasi Petani Pada Program UPSUS. (Oeng Anwarudi. FAKTOR PENENTU PARTISIPASI PETANI PADA PROGRAM UPAYA KHUSUS (UPSUS) PADI DI KABUPATEN MANOKWARI. PAPUA BARAT Participation Determinant Factors on Special Effort Program (UPSUS) in Regency of Manokwari. West Papua Oeng Anwarudin* Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Manokwari *Korespondensi penulis. E-mail: oenganwarudin@gmail. Diterima: Februari 2017 Disetujui terbit: April 2017 ABSTRACT Villagers with a majority of people living in livelihoods as farmers are still the main pockets of Efforts to reduce poverty have been done through special rice program to support food self-sufficiency and improve farmers' welfare. The objective of the study is to analyze descriptively the participation of farmers in the rice special efforts program, to analyze factors related to participation. The research was conducted at Masni. Manokwari. West Papua in The sample of this research is farmers who are members of farmer group and farmer group association as many as 60 people using stratified random sampling technique. Data were analyzed using descriptive statistics and correlation analysis. The results of research on farmer participation rate is high. Social status, economic status, innovative behavior and economic morale of farmers can be a determinant of farmer participation. The strengthening of farmer groups, combined farmer groups and the involvement of relevant agencies can be a determinant of farmers participation. Extension worker and external companions can be a determinant of peasant participation. Participation of farmers is also determined by the program factors of special efforts of rice. Keywords: participation, special efforts of rice, farmer groups, extension workers ABSTRAK Desa dengan mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani masih menjadi kantong utama kemiskinan. Upaya mengurangi kemiskinan telah dilakukan melalui program upaya khusus padi untuk mendukung swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Penelitian bertujuan menganalisis secara deskriptif partisipasi petani dalam program upaya khusus padi, menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan Penelitian telah dilaksanakan di Distrik Masni. Manokwari. Papua Barat pada 2015. Sampel penelitian adalah petani yang menjadi anggota kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapokta. sebanyak 60 orang menggunakan teknik stratified random sampling. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis korelasi. Hasil penelitian mengenai tingkat partisipasi petani adalah tinggi. Status sosial, status ekonomi, perilaku inovatif dan moral ekonomi petani dapat menjadi penentu partisipasi petani. Penguatan kelompok tani, gabungan kelompok tani dan keterlibatan dinas terkait dapat menjadi faktor penentu partisipasi Penyuluh pendamping dan pendamping eksternal dapat menjadi penentu partisipasi Partisipasi petani juga ditentukan oleh faktor program yaitu upaya khusus padi. Kata kunci: partisipasi, program upaya khusus padi, kelompok tani, penyuluh pendamping Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 12 No. Mei 2017 PENDAHULUAN Desa sebagai petani masih tetap menjadi kantong utama kemiskinan. Persentase kemiskinan hingga saat ini masih lebih besar terjadi di pedesaan dibanding Badan Pusat Statistik . menampilkan penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2014, 14,17 persen tinggal di pedesaan lebih besar dibanding 8,34 persen yang tinggal di Selanjutnya September 2014 penduduk miskin di Indonesia, 13,76 persen di pedesaan berbanding terbalik 8,16 persen di perkotaan. Demikian juga pada Maret 2015 penduduk miskin di Indonesia, 14,21 persen tinggal di pedesaan masih lebih besar daripada 8,28 persen yang tinggal di perkotaan. Realita tersebut selalu menjadi isu penting Beberapa membuktikan bahwa penyuluhan yang memberdayakan telah terbukti mampu mengurangi kemiskinan di pedesaan (Eastwood et al 2017. Hauser et al Pemberdayaan dalam setiap kegiatan dan program (Hauser et al 2. Belajar dari pembangunan pertanian dan perdesaan Indonesia memperhatikan konsep pemberdayaan bahkan sejak era otonomi daerah Pada pemberdayaan berjalan selaras dengan kegiatan penyuluhan sehingga menjadi penyuluhan yang memberdayakan. Pada kegiatan penyuluhan yang memberdayakan ini, partisipasi petani menjadi pilar keberhasilan penyuluhan. Partisipasi petani merupakan komponen yang paling krusial dalam mengelola dan melestarikan program. Partisipasi petani dalam kegiatan pemberdayaan diharapkan selalu terpacu, konsisten dan terpelihara. Rai dan Smucker . menyatakan bahwa partisipasi minimal harus memenuhi tahapan Untuk menciptakan ketahanan pangan dan swasembada pangan mulai tahun 2008. Kementerian Pertanian Program pemberdayaan yang pernah bergulir yaitu Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dan dilanjutkan (UPSUS) padi sebagai bagian dari program UPSUS PAJALE (Padi. Jagung dan Kedela. pada tahun 2015. Program ini merupakan terobosan Kementerian Pertanian kemiskinan dan penciptaan lapangan mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah pusat dan daerah serta antar subsektor. Partisipasi UPSUS padi menjadi komponen penting untuk dikedepankan. Namun demikian, partisipasi tidak serta merta terjadi melainkan senantiasa ada faktor-faktor Penelitian menganalisis secara deskriptif tingkat partisipasi petani dalam mendukung swasembada pangan melalui program UPSUS padi dan menganalisis faktorfaktor yang berhubungan dengan METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Distrik Masni. Kabupaten Manokwari. Papua Barat. Waktu kegiatan penelitian pada Juli sampai dengan Agustus 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian survai yang mengambil data Faktor Penentu Partisiasi Petani Pada Program UPSUS. (Oeng Anwarudi. dari sejumlah individu yang representatif data sekunder berupa monografi desa, mewakili populasinya. Berdasarkan dokumen dan foto kondisi desa dan tujuannya, penelitian ini merupakan gabungan kelompok tani atau kelompok tani yang sebelumnya sudah tersedia menemukan keterkaitan suatu variabel yang mendukung kegiatan penelitian. dengan variabel yang lain. Selanjutnya Sumber data primer adalah responden menurut sifatnya penelitian ini adalah yang menjadi sampel dalam penelitian penelitian kuantitatif yang memusatkan Sedangkan sumber data sekunder pada pengumpulan data kuantitatif yang berasal dari balai desa, gabungan berupa angka-angka untuk kemudian kelompok tani atau kelompok tani dan dianalisis dengan menggunakan analisis lembaga/dinas terkait. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini Populasi penelitian ini adalah adalah teknik analisis statistik deskriptif petani yang menjadi anggota kelompok dan analisis korelasi rank spearman. tani dan gabungan kelompok tani (Gapokta. di Distrik Masni. Kabupaten Manokwari. Karena besarnya jumlah individu pada populasi, dalam penelitian ini dilakukan pengambilan sampel. Berdasarkan teknik stratified random HASIL DAN PEMBAHASAN sampling, banyaknya sampel dalam Partisipasi Petani penelitian ini 60 . nam pulu. Berdasarkan data penelitian Data dalam penelitian ini terdiri yang telah dikumpulkan, diperoleh data dari data primer dan data sekunder. partisipasi petani. Sebaran data. Data primer diperoleh langsung oleh deskripsi data penelitian variabel peneliti melalui pengumpulan data yang partisipasi petani tersaji pada Tabel 1. menggunakan kuesioner. Sedangkan Tabel 1. Distribusi tingkat partisipasi petani dalam mendukung ketahananan pangan melalui program upaya khusus padi Responden No. Kategori Orang 38,33 Sangat Tinggi 28,33 Tinggi 33,33 Rendah Sangat Rendah Total Tinggi Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai tengah tingkat partisipasi petani berada pada kriteria tinggi. Namun demikian bila dilihat dari distribusi responden porsi partisipasi petani ternyata paling besar berada pada kategori sangat tinggi . ,33%), disusul rendah . ,33%) dan tinggi . ,33%). Data tersebut menunjukkan bahwa responden tersebar pada tingkat partisipasi rendah sampai sangat tinggi. Namun demikian nilai tengah partisipasi petani berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian yang memperlihatkan adanya partisipasi petani yang bervariasi cenderung kearah tinggi diharapkan dapat berpotensi positif pada proses pemberdayaan sehingga memperkuat pernyataan Taylor dan Grieken . bahwa partisipasi merupakan komponen Adanya partisipasi petani yang cenderung kearah tinggi diharapkan dapat berimbas pada kesejahteraan petani sebagaimana Rai dan Smucker . menyatakan bahwa partisipasi masyarakat petani untuk meningkatkan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 12 No. Mei 2017 kesejahteraan hidupnya. Partisipasi budaya dan kekuatan kelompok. seseorang sebagai elemen penting Dengan demikian partisipasi petani yang dapat meningkatkan kapasitas mengantarkan kelompok tani pada Selanjutnya dijelaskan pula bahwa partisipasi merupakan kegiatan internal petani sebagai apresiasi dan Hubungan Faktor Internal dengan alat pemberdayaan untuk mewujudkan Partisipasi Petani inisiatif, pengendalian dan koreksi Faktor internal pada penelitian ini umur, status sosial, status kegiatan yang lebih akurat dan relevan. ekonomi, perilaku inovatif dan moral Melalui partisipasi dalam kelompok tani Hasil analisis statistik melalui menurut Ofuoku and Isife . muncul uji korelasi antara faktor internal dengan rasa saling memahami diantara anggota partisipasi petani seperti tertera pada kelompok yang berorientasi pada fokus Tabel 2. kepentingan ekonomi dan menjaga nilai. Tabel 2. Hubungan antara faktor internal dengan partisipasi petani Uraian Koefisien p-value Keterangan Korelasi antara umur dengan 0,06 0,240 Tidak berhubungan Korelasi antara status sosial dengan 0,76 0,003 Memiliki hubungan Korelasi antara status ekonomi dengan 0,32 0,046 Tidak berhubungan Korelasi antara perilaku inovatif 0,78 0,008 Memiliki hubungan dengan partisipasi Korelasi antara moral ekonomi dengan 0,58 0,016 Memiliki hubungan Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa beberapa variabel memiliki hubungan dengan partisipasi petani. Variabel tersebut adalah status sosial, status ekonomi, perilaku inovatif dan moral ekonomi. Hubungan tersebut bersifat positif yang bemakna adanya hubungan searah atau sebanding. Semakin tinggi status sosial petani maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi petani tersebut dalam UPSUS padi. Hal yang sama terjadi juga pada status ekonomi, perilaku inovatif dan moral ekonomi seorang petani dimana semakin tinggi status, perilaku dan moralnya maka tingkat partisipasi petani akan semakin tinggi. Nilai koefisien korelasi diantara variabel tersebut bervariasi. Semakin tinggi nilai koefisien tersebut, maka hubungan diantara keduanya semakin erat. Status sosial dan ekonomi yang pendidikan, besarnya pendapatan dan status sosial pada masyarakat menjadi faktor penentu berhubungan erat dengan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian ini sama dengan temuan Agboola et al . dan Tewodros . bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik sosial ekonomi petani dengan partisipasi praktik pertanian. Sehubungan dengan tingkat pendidikan. Minh et al . secara sederhana menyatakan bahwa hakekat pendidikan adalah untuk meningkatkan kemampuan manusia agar dapat mempertahankan atau keberadaannya agar menjadi semakin Pada tataran filosofis, proses pembangunan manusia seutuhnya atau untuk memanusiakan manusia. Upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk untuk menggali dan mengembangkan Faktor Penentu Partisiasi Petani Pada Program UPSUS. (Oeng Anwarudi. keunggulan-keunggulan manusia . ang belaja. , baik sebagai individu maupun sebagai . Selanjutnya mengenai perilaku inovatif yang berhubungan erat dengan partisipasi petani. Mardikanto . menjelaskan bahwa sifat menggali/mencari, menemukan atau menerapkan ide-ide baru maupun yang bersifat petualangan sehingga dengan sendirinya akan muncul dalam jiwa petani untuk berusaha ikut terlibat atau ambil bagian dalam berbagai kegiatan di masyarakat. Menurut Tewodros . partisipasinya tinggi dapat mengadopsi inovasi sehingga sifatnya menjadi lebih inovatif dan lebih dapat bertahan jika ada guncangan cuaca dan harga. Mengenai moral ekonomi petani yang berhubungan sangat erat dengan partisipasi petani menunjukkan bahwa semakin seorang petani bersikaf rasional maka partisipasinya semakin tinggi dan sebaliknya bila masih bersikap subsisten maka partisipasinya semakin rendah. Eastwood et al mengutamakan selamat dan tidak Setiap alternatif perubahan selalu dipandangnya sebagai sesuatu yang mengandung resiko yang justru akan memperburuk keadaannya yang sudah buruk. Berbeda dengan ciri-ciri petani subsisten. Hauser et al . justru mengemukakan bahwa petani rasional selalu ingin memperbaiki dengan mencari dan peluang-peluang mungkin dapat dilakukannya. Hubungan Faktor Kelembagaan dengan Partispasi Petani Faktor kelembagaan terdiri dari penguatan kelompok tani, penguatan keterlibatan dinas terkait. Hasil analisis statistik melalui uji korelasi antara faktor kelembagaan dengan partisipasi petani tertera pada Tabel 3. Tabel 3. Hubungan antara faktor kelembagaan dengan patisipasi petani Uraian Koefisien p-value Keterangan Korelasi antara penguatan kelompok 0,004 Memiliki hubungan tani dengan partisipasi petani Korelasi antara penguatan gabungan kelompok tani dengan partisipasi 0,74 0,011 Memiliki hubungan Korelasi antara keterlibatan dinas 0,60 0,013 Memiliki hubungan terkait dengan partisipasi petani Berdasarkan hasil uji korelasi, diketahui bahwa faktor kelembagaan yang meliputi penguatan kelompok tani, penguatan gabungan kelompok tani dan keterlibatan dinas terkait memiliki hubungan yang sangat erat dengan partisipasi petani. Hasil uji korelasi tersebut bersifat positif yang bemakna Semakin tinggi penguatan gabungan kelompok tani maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi petani tersebut dalam UPSUS padi. Hal yang sama terjadi juga pada dinas terkait dimana semakin tinggi keterlibatannya maka tingkat partisipasi petani akan semakin tinggi. Nilai koefisien korelasi diantara variabel tersebut sangat tinggi yang menunjukkan hubungan diantara keduanya sangat erat. Penguatan memiliki kegiatan berupa peningkatan kemampuan menganalisis pasar dan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 12 No. Mei 2017 mengelola usaha tani secara komersial dan melaksanakan kegiatan simpan pinjam untuk modal usaha yang sekaligus merupakan indikator dalam penelitian ini. Indikator tersebut diduga menjadi pemicu tumbuhnya jiwa wira usaha sehingga mampu merangsang partisipasi petani. Harapan berikutnya petani menjadi semakin mandiri seperti penelitiannya Anwarudin dan Maryani . bahwa penguatan kelompok tani dan gabungan kelompok tani dapat menjadikan petani lebih mandiri bahkan (Okpukpara Tambunan . mengemukakan kewirausahaan merupakan proses awal untuk usaha yang berkelanjutan. Hasil penelitian ini juga dipertegas oleh Otieno mengemukakan bahwa tergabungnya petani dalam kelompok sebagai wadah mengurangi pembiayaan dan petani menjadi bertambah kuat dalam upaya mencegah terjadinya kerugian. Dengan demikian usaha pertanian menjadi lebih menguntungkan dan mempunyai daya ketergantungan terhadap tengkulak dan menjadikan petani yang mandiri. Hasil penelitian ini memperkuat Wrihatnolo Dwidjowijoto . bahwa dalam diorganisasikan secara hierarkis agar informasi tentang situasi terkini dapat dijalin secara multiarah, baik vertikal maupun horisontal. Hasil penelitian dapat membuktikan bahwa kelompok tani dan gabungan kelompok tani sebagai organisasi kemasyarakatan lokal mampu meningkatkan jalinan hubungan secara horisontal dengan petani sehingga memiliki hubungan signifikan terhadap partisipasi petani. Hasil penelitian ini yang membuktikan adanya keterkaitan kelompok tani dan gabungan kelompok tani terhadap partisipasi petani yang menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan berperan dalam mendampingi petani baik sebagai inisiator, katalisator maupun fasilitator. Terkait penelitian ini adalah peserta Program Usaha Khusus (UPSUS) kelompok tani dan gabungan kelompok tani serta dinas terkait selaras dengan yang telah dikemukakan Ife . bahwa kekuatan kelembagaan yang dimiliki masyarakat penting dan dapat Taylor dan Grieken . pengembangan masyarakat selalu Partisipasi inilah yang menurut Jones et al . berguna seputar kemiskinan dan pengangguran. Hal ini dikarenakan upaya yang dilakukan adalah menekankan pada pembangkitan kesadaran dan daya kreasi penduduk setempat sehingga mereka mau dan mampu mencari caracara untuk memecahkan persoalan mereka sendiri. Adanya hubungan kelompok tani dan gabungan kelompok tani dengan partisipasi petani menjadi partisipasi itu sendiri yang menurut Rai dan Smucker . merupakan alat untuk meningkatkan kesejahteraan Pemberdayaan menempatkan orang sebagai pusat masyarakat lokal terhadap pentingnya Selanjutnya dijelaskan pula bahwa partisipasi merupakan kegiatan internal petani sebagai apresiasi sebagai alat pemberdayaan dalam hal inisiatif, pengendalian dan koreksi kegiatan lebih akurat dan relevan. Faktor Penentu Partisiasi Petani Pada Program UPSUS. (Oeng Anwarudi. Melalui partisipasi dalam kelompok tani menurut Ofuoku and Isife . pengetahuan yang terbatas, wilayah muncul rasa saling memahami diantara yang berada di pinggiran dan anggota kelompok yang berorientasi pemahaman adat yang masih kuat. pada fokus kepentingan ekonomi dan Usaha melakukan perubahan pada menjaga nilai, budaya dan kekuatan kondisi masyarakat seperti ini dapat Mengingat pemikiran dan tindakan masyarakat serta kepercayaan kepada pelaku Selanjutnya mereka perlu sebagaimana dikemukakan Jones et al berpartisipasi dalam proses perubahan . yang ditawarkan dengan memberikan wahana mobilisasi penduduk pedesaan secara rasional. Proses ini memberikan agar terlibat dalam berbagai program hasil yang lebih efektif dari pada pembangunan karena keterlibatan memberikan pilihan yang sudah Langkah untuk melakukan masyarakat mengenai kemampuan semua proses tersebut menurut Zubaedi . pertama kali harus lingkungannya sendiri. Demikian juga Kelompok Swadaya Soetomo Masyarakat (KSM). Pada masyarakat desa berbasis pertanian, kelompok masyarakat adalah mengutamakan swadaya masyarakat adalah kelompok partisipasi masyarakat dan Minh et al tani yang merupakan wahana kegiatan . yang menyebutkan bahwa belajar-mengajar, dalam pengembangan masyarakat identifikasi dan pemecahan masalah, penting adanya partisifasi aktif dalam penyusunan rencana kegiatan dan bentuk aksi bersama . roup actio. didalam memecahkan masalah dan Oleh kebutuhan-kebutuhannya pengembangan yang dilakukan dapat dilakukan berdasarkan potensi-potensi membuka akses pada informasi. Begitu memberikan penjelasan mengenai program-program pemerintah yang pengembangan masyarakat sehingga sedang dilaksanakan, norma-norma bermasyarakat yang perlu diketahui. Hasil penelitian ini hak-hak masyarakat yang melindungi, menginformasikan bahwa salah satu dan manfaat perubahan. Dengan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi petani adalah meningkatkan partisipasi petani. melalui kelompok tani. Tempat dilakukannya penelitian Faktor Pendamping ini adalah masyarakat pedesaan Faktor pendamping meliputi peserta Program Usaha Khusus penyuluh pendamping dan pendamping (UPSUS) yang merupakan bagian dari ekstern . Hasil analisis Program Pemberdayaan statistik melalui uji korelasi antara diselenggarakan oleh Kementerian faktor pendamping dengan partisipasi Pertanian, tantangan utama yang petani seperti tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Hubungan antara faktor pendamping dengan patisipasi petani Uraian Koefisien p-value Keterangan Korelasi antara penyuluh pendamping 0,011 Memiliki hubungan dengan partisipasi petani Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 12 No. Mei 2017 Korelasi antara keterlibatan babinsa dengan partisipasi petani Keterangan: Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara faktor pendamping secara terinci . enyuluh pendamping dan babins. dengan partisipasi petani. Hubungan variabel-variabel tersebut bemakna adanya hubungan searah atau sebanding. Semakin tinggi kinerja penyuluh pendamping maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi petani tersebut dalam usaha agribisnis Tabel 4 menunjukkan bahwa baik penyuluh pendamping maupun keterlibatan babinsa memiliki andil terhadap partisipasi petani artinya dapat menjadi faktor penentu bagi peningkatan partisipasi petani. Hal ini diduga terkait dengan Program Upaya Khusus (UPSUS) memiliki strategi operasional yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian. Melihat strategi operasional yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian, solusi sebagai masukan untuk program tersebut adalah pelatihan bagi petani sebagai pelaku UPSUS oleh penyuluh 0,70 0,019 Memiliki hubungan pendampingan petani sebagai pelaku Pelatihan pendampingan adalah dua kegiatan yang berbeda. Pelatihan sering kali memiliki mekanisme waktu yang sangat terbatas, tertentu dan kurang cocok bila dilaksanakan untuk petani. Pelatihan sering juga terikat kegiatan proyek Auada proyekAy. Pendampingan akan lebih cocok karena tidak terbatas waktu, kapan saja dan dimana saja. Pendampingan juga lebih menekankan pada dominasi petani atau petani lebih banyak berperan karena disini pendamping hanya mendampingi dan memfasilitasi. Kaitannya berbasiskan pemberdayaan, untuk kegiatan di lapangan, kegiatan yang harus dilakukan adalah pendampingan bukan pelatihan. Bila ada kegiatan pelatihan, kegiatan tersebut harus berasal dari inisiatif dan dilakukan oleh masyarakat sendiri bukan ditentukan dari AoatasAo seperti yang dikemukakan Mabuza et al . Faktor Program r: 0,80 Keterangan: X4 : Faktor program Y : Partisipasi petani Gambar 1. Hubungan Faktor Program dengan Partisipasi Petani Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara faktor program dengan partisipasi Hubungan positif diantara variabel tersebut bemakna adanya hubungan searah atau sebanding. Faktor Penentu Partisiasi Petani Pada Program UPSUS. (Oeng Anwarudi. Semakin tinggi kinerja program maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi petani tersebut. Program upaya khusus padi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program Kementerian Pertanian yang memberdayakan, dalam rangkaian prosesnya dilakukan melalui Kajian mengenai program upaya khusus padi sebagai program pemberdayaan masyarakat yang mampu menimbulkan partisipasi petani ditujukan pada latar belakang program, tahapan program, langkah-langkah kelemahan program tersebut. Berdasarkan latar belakang dan tujuannya, program upaya khusus padi memenuhi perspektif keadilan sosial dikemukakan Ife bahwa persepektif keadilan sosial yang menjadi dasar pengembangan masyarakat adalah . , . , kebutuhan . dan hak. Terlihat jelas bahwa program upaya khusus padi memiliki tujuan untuk mengurangi pemberdayaan masyarakat desa dan meningkatkan fungsi kelembagaan yang pengangguran walaupun yang sangat tampak adalah ambisi pemerintah mengejar swasembada pangan. Berdasarkan program upaya khusus padi perlu memperhatikan pernyataan Wrihatnolo dan Dwidjowijoto . bahwa sebagai proses, pengembangan masyarakat Pertama penyusunan rancangan upaya khusus padi di suatu desa seharusnya dilakukan dengan menerapkan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), yang dilakukan terutama oleh penyuluh PRA merupakan istilah yang diberikan kepada pendekatan yang menggunakan metode partisipastif pengetahuan lokal dan kemampuan masyarakat untuk membuat penilaian sendiri, menganalisis sendiri, dan PRA memfasilitasi proses saling berbagai informasi . nformation sharin. , analisis, dan aktifitas antar stakeholders. Upaya ini membantu masyarakat mendapatkan pencerahan untuk mengerti bahwa mereka perlu diberdayakan dan proses pemberdayaan itu dimulai dari dalam diri mereka sendiri. Kedua pemberian kapasitas, pengkapasitasan dalam program upaya terbentuknya gabungan kelompok tani (Gapokta. Pengembangan Gapoktan merupakan tindak lanjut dari adanya kesadaran pentingnya menggabungkan penyebabnya dapat berupa kenyataan lemahnya aksesibilitas petani terhadap berbagai kelembagaan layanan usaha, misalnya lemah terhadap lembaga pemasaran, terhadap lembaga penyedia sarana produksi pertanian, serta terhadap sumber informasi. Pada Gapoktan diharapkan juga mampu menjalankan fungsi-fungsi Terhadap pedagang saprotan maupun pedagang hasil-hasil Gapoktan diharapkan dapat menjalankan fungsi kemitraan dengan adil dan saling Dalam program ini. Gapoktan kemampuannya untuk menjadi lembaga tingkat desa yang mengorganisir kelompok-kelompok tani. Gapoktan pula yang seharusnya mengajukan program upaya khusus padi. Dalam pemberian kapasitas ini selain organisasi, terdapat pula pemberian kapasitas manusia dan sistem nilai. Manusia yang dimaksud adalah anggota kelompok tani yang Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 12 No. Mei 2017 tergabung dalam Gapoktan. Gapoktan harus memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu mengelola usaha kepengurusan yang aktif. Sementara sistem nilai adalah aturan main, peraturan dan kesepakatan yang dimiliki oleh Gapoktan. Ketiga pendayaan, pada tahap ini pemberian daya, kekuasaan, otoritas atau peluang. Gapoktan yang telah menerima kapasitas, didalam program upaya khusus padi. Berdasarkan langkahlangkahnya, upaya khusus padi dimulai dari adanya kelompok-kelompok tani yang selanjutnya tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapokta. Diharapkan masyarakat yang benar-benar mengerti pentingnya berkelompok. Demikian pula paham dan sadar untuk bergabung dengan kelompok tani membentuk komunitas yang lebih besar melalui gabungan kelompok tani (Gapokta. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Zubaedi . bahwa langkah pertama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Melalui masing-masing belajar, menumbuhkan kesadaran dan Langkah membangkitkan partisipasi masyarakat, membangun jaringan lokal sebagai mitra kerja. Berdasarkan prinsip-prinsipnya, program upaya khusus padi seharusnya yang memiliki prinsip-prinsip bertumpu pada pembangunan manusia, otonomi, berorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender, demokratis, transparansi dan akuntabel, prioritas, kolaborasi, keberlanjutan dan Prinsip-prinsip merupakan sebagian dari 26 prinsip dikemukakan oleh Jim Ife . Prinsip tersebut juga didukung Soetomo . yang menyebutkan bahwa memiliki prinsip . fokus perhatian ditujukan pada komunitas sebagai suatu kebulatan, . berorientasi kepada komunitas dan . mengutamakan prakarsa, partisipasi dan swadaya Pertama, fokus perhatiannya adalah komunitas. Dalam dokumen kebijakan teknis upaya khusus padi, unit terkecil adalah berupa desa, bukan keluarga, ataupun individual. Artinya, seluruh warga dalam satu desa merupakan penerima atau pelaku aktif dari program upaya khusus padi, baik mereka yang merupakan menjadikan pertanian sebagai aktifitas ekonomi utama maupun warga desa yang bekerja di sektor off farm maupun non Dengan menetapkan sebagai unit terkecil, maka seluruh melibatkan seluruh warga desa. Dalam dokumen kebijakan teknis Upaya Khusus upaya khusus padi terlihat, bahwa kelembagaan agribisnis tersebut menjadikan warga satu desa sebagai menggerakkan, meskipun kemudian memang harus menjalin kerjasama dengan pelaku ekonomi lain di luar Secara teoritis, sekelompok orang dalam satu desa dapat dipandang sebagai sebuah komunitas. Desa masih dapat dipandang sebagai sebuah komunitas dalam derajat tertentu, yang misalnya terlihat dari tingginya ikatanikatan sosial sesama warga sedesa. Selain itu, berbagai keputusan politik masih berada di tingkat desa, karena desa merupakan unit formal terkecil Kedua. Program upaya khusus padi yang diusulkan seharusnya berasal dari Dengan demikian programprogram usulan yang menjadi program upaya khusus padi sesuai dengan Faktor Penentu Partisiasi Petani Pada Program UPSUS. (Oeng Anwarudi. Masing-masing Gapoktan yang mengusulkan program disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan masyarakat dan dapat berbeda antara Gapoktan yang satu dengan Gapoktan di tempat lain. Ketiga, mengutamakan prakarsa, partisipasi dan swadaya masyarakat. Sejalan dengan penggunaan konsep komunitas, maka program upaya khusus padi juga seharusnya berupaya mengembangkan prakarsa, partisipasi dan swadaya bagi warga desa untuk dapat melanjutkan sendiri aktifitas yang didukung oleh berbagai pihak luar. Penyusunan rencana lapang yang dieksplorasi dengan metode PRA merupakan upaya untuk menimbulkan sikap dan kemampuan untuk mengelola diri sendiri. Dalam PRA, dokumen aksi yang berhasil disusun merupakan milik dari warga desa. Artinya, mereka secara mandiri. Jika bantuan dari pihak luar telah berkurang, maka mereka sendiri harus mampu menggali potensipotensi baik dari dalam maupun dari luar komunitas. Untuk menunjang kemandirian, program pemberdayaan seharusnya menghindari pemberian bantuan yang tidak mendidik dan Pemberian bantuan kepada petani seharusnya hanya berupa stimulan untuk membiayai sebagian kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat kesejahteraan, terutama masyarakat diaudit penggunaannya. Hal-hal yang masih diragukan yang menjadi kelemahan program ini pengembangan masyarakat dan upaya solusi atau antisipasinya adalah sebagai Pertama, masih diragukan adanya kesinambungan program upaya khusus padi tersebut sebagai kegiatan Melihat kebijakan teknis yang dikemukakan, program ini terlalu banyak intervensi baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pada umumnya memang disadari bahwa intervensi eksternal yang berorientasi mudah untuk berdampak pada proses Program dari pihak eksternal baik pemerintah maupun non pemerintah memang dapat mendorong aktivitas tersebut berhenti setelah program dari luar juga berhenti. Program yang diharapkan memerlukan waktu dan proses bertahap karena harus melalui belajar. Solusi dan antisipasi untuk keraguan ini adalah keterlibatan pihak eksternal tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari proses membina dan mengembangkan kemampuan dan potensi masyarakat sehingga sifatnya bukan merupakan faktor yang dominan tetapi sekedar mamfasilitasi dan ikut memberikan iklim yang kondusif bagi perkembangannya potensi dari dalam. Oleh karenanya menurut Soetomo . kondisi yang semestinya dilakukan adalah pihak masyarakat agar memiliki kemampuan untuk membangun dirinya sendiri secara mandiri dan berkelanjutan. Kedua, masih diragukan bahwa program upaya khusus padi akan membentuk kemandirian berusaha. Salah keswadayaan dalam program ini adalah adanya bantuan untuk petani. Solusi dan antisipasinya adalah harus ada masyarakat bahwa program tersebut memiliki aspek manfaat yang lebih besar untuk kepentingan bersama dari pada hanya untuk mendapatkan dana Penyadaran menekanan untuk kondisi ini seperti yang disampikan Wrihatnolo dan Dwidjowijoto . Ketiga, mengenai pembentukkan Gabungan Kelompok Tani (Gapokta. , disini terlihat bahwa, pembentukan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 12 No. Mei 2017 Gapoktan bias kepada kepentingan AuatasAy, yaitu sebagai AukendaraanAy untuk menyalurkan dan menjalankan berbagai kebijakan dari luar desa dalam hal ini Kementerian Pertanian dan pemerintah Pembentukan Gapoktan, meskipun nanti dapat saja menjadi lembaga yang mewakili kebutuhan representatif, namun sebagian yang terjadi awal terbentuknya bukan dari kebutuhan internal secara mengakar. Ini merupakan gejala yang berulang sebagaimana dulu sering terjadi, yaitu hanya mementingkan pendirian belaka untuk mengejar proyek. Oleh karenanya antisipasi harus dilakukan melalui senantiasa dibina dan dikawal hingga menjadi lembaga usaha yang mandiri, profesional dan memiliki jaringan kerja Penekanan organisasi ini menjadi benar-benar nantinya sebagai kelompok swadaya disampaikan Zubaedi . SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa melalui Upaya Khusus (UPSUS) Padi di Kabupaten Manokwari adalah tinggi. Faktor internal yang meliputi status sosial, status ekonomi, perilaku inovatif dan moral ekonomi petani dapat menjadi penentu partisipasi petani tetapi yang mengangkut dijadikan sebagai penentu partisipasi Faktor kelembagaan yaitu kelompok tani, gabungan kelompok tani dan dinas terkait dapat menjadi faktor partisipasi petani. Faktor pendamping yang meliputi penyuluh pendamping dan pendamping eksternal dapat menjadi penentu partisipasi petani. Demikian pula dengan faktor program yaitu program upaya khusus padi dapat partisipasi petani. DAFTAR PUSTAKA