Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 1 Januari . : http://dx. org/10. 25157/jkg. ANALISIS HUBUNGAN PERILAKU PERLINDUNGAN SINAR MATAHARI DAN FAKTOR INTERNAL TERHADAP KEJADIAN ACNE VULGARIS PADA REMAJA SMPN 1 JATINANGOR Nailah IbtisamahA*. Nunung Siti SukaesihA. Imam Tri Sutrisno3 1, 2, 3 Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia (Article history: Submitted 2025-10-19. Accepted 2025-11-09. Published 2026-01-. ABSTRAK Jerawat merupakan masalah kulit yang umum terjadi pada remaja dan dapat memengaruhi kepercayaan diri serta kesehatan kulit. Salah satu faktor eksternal yang diduga berperan terhadap timbulnya jerawat adalah perilaku perlindungan terhadap sinar matahari . un protection behavio. , yang mencakup penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, serta kebiasaan menghindari paparan sinar matahari langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sun protection behavior dengan kejadian acne vulgaris pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Jatinangor. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Jatinangor pada tahun 2025 dengan jumlah responden sebanyak 295 siswa yang dipilih menggunakan teknik stratified random Instrumen penelitian meliputi kuesioner Sun Protection Behavior Scale (SPBS) dan kuesioner Global Acne Grading Systems (GAGS). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki perilaku perlindungan terhadap sinar matahari dalam kategori tinggi dan mengalami jerawat dalam kategori ringan. Hasil uji Spearman menunjukkan nilai r = Oe0,065 dan p = 0,265, yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sun protection behavior dengan kejadian acne vulgaris. Dapat disimpulkan bahwa munculnya jerawat lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal, seperti perubahan hormon dan kebersihan wajah, dibandingkan faktor eksternal berupa paparan sinar matahari. Diperlukan edukasi berkelanjutan mengenai perawatan kulit agar kesadaran remaja dalam menjaga kesehatan kulit dapat meningkat sejak dini. Kata Kunci: acne vulgaris. skin health. sun protection behavior. ABSTRACT Acne is a common skin problem among adolescents and can affect both self-confidence and skin health. One external factor suspected to play a role in acne development is sun protection behavior, which includes the use of sunscreen, protective clothing, and habits to avoid direct sun exposure. This study aimed to examine the relationship between sun protection behavior and the incidence of acne vulgaris among junior high school students in Jatinangor. A quantitative approach with an analytical correlational cross-sectional design was The study was conducted at SMPN 1 Jatinangor in 2025, involving 295 students selected through stratified random sampling. Research instruments included the Sun Protection Behavior Scale (SPBS) questionnaire and the Global Acne Grading System (GAGS) questionnaire. Data were analyzed using SpearmanAos correlation test. The results showed that most students had a high level of sun protection behavior and experienced mild acne. SpearmanAos test yielded r = Oe0. 065 and p = 0. 265, indicating no significant relationship between sun protection behavior and the incidence of acne vulgaris. It can be concluded that acne occurrence is more influenced by internal factors, such as hormonal changes and facial hygiene, than by external factors like sun exposure. Continuous education on skin care is necessary to increase adolescentsAo awareness of maintaining skin health from an early age. Keywords: acne vulgaris. skin health. sun protection behavior. Alamat Korespondensi: Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia Email: nailaibtsma@upi. eISSN: 2656-4122 Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 11 - 18 PENDAHULUAN Kelompok usia remaja rentan menderita jerawat atau acne vulgaris, yang merupakan salah satu gangguan kulit paling umum dan menjadi perhatian besar di bidang dermatologi karena prevalensinya yang tinggi serta dampaknya terhadap kualitas hidup, baik secara fisik maupun psikologis (Eichenfield et al. , 2. Alqahtani et , 2. Kelompok usia ini, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Pertama, termasuk yang paling rentan karena mengalami perubahan hormon yang cepat serta memiliki kesadaran yang masih rendah terhadap praktik perawatan kulit yang benar. Acne vulgaris terjadi akibat peradangan kronis pada unit pilosebasea yang dipicu oleh peningkatan hormon menyebabkan produksi sebum berlebih dan menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan Cutibacterium acnes (Bhate & Williams, 2020. Tan et al. , 2. Selain menimbulkan masalah fisik seperti komedo, papul, pustul, dan bekas luka, acne vulgaris juga berdampak pada aspek psikologis Kondisi wajah berjerawat sering kali menurunkan rasa percaya diri, menimbulkan kecemasan, dan bahkan dapat menyebabkan depresi (Fardouly et al. , 2021. Morgado-Carrasco et al. El-Hamd et al. melaporkan adanya hubungan antara tingkat keparahan jerawat dan rendahnya harga diri pada siswa sekolah menengah, sehingga pencegahan dini menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan kulit dan kesejahteraan psikologis remaja. Salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap kondisi kulit adalah paparan sinar ultraviolet (UV). Perilaku perlindungan terhadap sinar matahari atau sun protection behavior menjadi aspek penting dalam pencegahan masalah kulit, termasuk jerawat. Paparan UV berlebih dapat memperburuk inflamasi kulit, meningkatkan stres oksidatif, dan memicu hiperpigmentasi pascainflamasi (Chien et al. , 2021. Waqas et al. , 2. Meskipun sunscreen berperan melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari, penggunaan produk yang tidak tepat, terutama yang bersifat komedogenik, dapat memperburuk jerawat (Conforti et al. , 2. Oleh karena itu, perilaku perlindungan terhadap sinar matahari yang tepat menjadi kunci dalam menjaga kesehatan kulit remaja. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai hubungan antara penggunaan sunscreen dan kejadian acne vulgaris. Saputri et al. dan Ahmad et al. melaporkan bahwa penggunaan sunscreen secara teratur dapat menurunkan keparahan jerawat, sedangkan penelitian Lee et al. menemukan bahwa sunscreen berbasis minyak justru memperburuk jerawat. Selain itu. Wulandari dan Handayani . mengungkapkan bahwa rendahnya pengetahuan remaja mengenai sunscreen berpengaruh terhadap efektivitasnya. Hasil yang bervariasi ini menunjukkan bahwa hubungan antara sun protection behavior dan acne vulgaris belum sepenuhnya dipahami secara konsisten. Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik mengkaji hubungan perilaku perlindungan sinar matahari dengan kejadian acne vulgaris pada remaja usia sekolah di wilayah semi-perkotaan seperti Jatinangor, yang memiliki karakteristik lingkungan dan gaya hidup berbeda dengan daerah perkotaan besar. Berdasarkan hasil observasi awal di SMPN 1 Jatinangor, banyak siswa yang mengalami jerawat namun memiliki kebiasaan menggunakan sunscreen yang rendah. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi masalah kesehatan kulit yang perlu diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sun protection behavior dengan kejadian acne vulgaris pada siswa SMPN 1 Jatinangor tahun METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional untuk menganalisis hubungan antara sun protection behavior dan kejadian acne vulgaris pada siswa SMPN 1 Jatinangor. Populasi penelitian berjumlah 112 siswa, dengan sampel sebanyak 295 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling berdasarkan tingkatan kelas (VII. Vi, dan IX) yang dikelompokkan ke dalam rombongan belajar (AAeK), dengan jumlah sampel tiap kelas ditentukan secara proporsional agar seluruh strata terwakili secara seimbang terhadap populasi. Kriteria inklusi mencakup siswa aktif kelas VIIAeIX berusia 13Ae15 tahun, memperoleh izin dari orang tua/wali, dan memiliki perangkat untuk mengisi kuesioner daring, sedangkan kriteria eksklusi meliputi siswa yang sakit, tidak hadir, tidak mendapat izin, menolak berpartisipasi, atau memiliki gangguan kulit selain acne vulgaris. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Sun Protection Behavior Scale (SPBS) dan Global Acne Grading System (GAGS), di mana SPBS versi Bahasa Indonesia telah diuji validitasnya dengan hasil r hitung > r tabel . serta memiliki reliabilitas tinggi (CronbachAos Alpha = 0,. , sedangkan GAGS menunjukkan validitas baik . hitung > 0,. dan reliabilitas cukup (CronbachAos Alpha = 0,. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui kuesioner Google Form dengan persetujuan orang tua/wali, kemudian menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan Ibtisamah. Sukesih. Sutrisno. / Analisis Hubungan Perilaku Perlindungan Sinar Matahari dan Faktor Internal Terhadap Kejadian Acne Vulgaris Pada Remaja SMPN 1 Jatinangor tingkat signifikansi p < 0,05. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi dengan nomor 120/KEPK/FITKesUnjani/Vi/2025. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karakteristik responden dalam penelitian ini diklasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat kelas pada siswa SMPN 1 Jatinangor yang berjumlah 295 siswa. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik stratified random sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin, dan Kelas serta Statistik Deskriptif Variabel Sun Protection Behavior dan Acne Vulgaris pada Siswa SMPN 1 Jatinangor Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Usia Total Kelas VII Vi Total Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Variabel Mean Std. Deviasi Median Minimum Maksimum Sun Protection Behavior 26,047 8,423 Acne Vulgaris 5,485 6,79 Berdasarkan Tabel 1, distribusi responden menurut usia menunjukkan bahwa 159 siswa berusia 13 tahun . ,9%), 98 siswa berusia 14 tahun . ,2%), dan 38 siswa berusia 15 tahun . ,9%). Berdasarkan tingkat kelas, jumlah responden relatif seimbang, terdiri atas 99 siswa kelas VII . ,6%), 100 siswa kelas Vi . ,8%), dan 96 siswa kelas IX . ,6%). Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 187 siswa perempuan . ,4%) dan 108 siswa laki-laki . ,6%). Nilai rata-rata . sun protection behavior adalah 26,047 dengan standar deviasi 8,423, median 27, nilai minimum 9, dan maksimum 45, yang menunjukkan adanya variasi tingkat perilaku perlindungan terhadap sinar matahari di kalangan siswa. Sementara itu, nilai rata-rata kejadian acne vulgaris adalah 5,485 dengan standar deviasi 6,79, median 3, nilai minimum 0, dan maksimum 32, mengindikasikan tingkat keparahan jerawat yang relatif ringan di antara responden. Tabel 2 Statistik Deskriptif Sun Protection Behavior pada Siswa SMPN 1 Jatinangor Kategori Tinggi Rendah Total Frekuensi Persentase (%) Berdasarkan tabel 2, dari total 295 responden, sebanyak 165 siswa . ,9%) memiliki sun protection behavior pada kategori tinggi, sedangkan 130 siswa . ,1%) termasuk dalam kategori rendah. Persentase ini menunjukkan keseimbangan antara kedua kategori dengan kecenderungan yang sedikit lebih tinggi pada perilaku perlindungan terhadap sinar matahari yang baik. Tabel 1 Distribusi Kejadian Acne Vulgaris Berdasarkan Kategori Kategori Ringan Sedang Berat Total Frekuensi Persentase Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 11 - 18 Berdasarkan tabel 3, diperoleh 274 siswa . ,9%) termasuk dalam kategori jerawat ringan, 19 siswa . ,4%) berada pada kategori sedang, dan 2 siswa . ,7%) pada kategori berat, tanpa adanya kasus jerawat sangat berat. Distribusi tersebut menunjukkan bahwa kondisi kulit wajah siswa SMPN 1 Jatinangor secara umum berada pada tingkat keparahan jerawat yang rendah atau Tabel 2 Hasil Uji Korelasi antara Sun Protection Behavior dengan Kejadian Acne Vulgaris Variabel Sun Protection Behavior Acne Vulgaris SpearmanAos rho p-value Oe0,065 0,265 Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman pada Tabel 4, diperoleh nilai koefisien rho sebesar -0,065 dengan p-value 0,265 . > 0,. , yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sun protection behavior dengan kejadian acne vulgaris pada siswa SMPN 1 Jatinangor. Korelasi negatif yang sangat lemah ini menandakan arah hubungan berlawanan, namun tidak bermakna secara statistik. Dengan demikian, peningkatan perilaku perlindungan terhadap sinar matahari tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat keparahan jerawat pada remaja. Pembahasan Karateristik Umum Responden Karakteristik responden diklasifikasikan berdasarkan usia, tingkat kelas, dan jenis kelamin. Sebagian besar berusia 13Ae15 tahun dengan dominasi usia 13 tahun sebesar 53,9%, menggambarkan masa remaja awal yang ditandai peningkatan hormon androgen dan produksi sebum sehingga meningkatkan risiko acne vulgaris. Hal ini sejalan dengan Indria . yang menyebut perubahan fisiologis remaja awal sebagai faktor utama timbulnya jerawat. Namun, tingkat keparahan jerawat tergolong ringan, kemungkinan kebersihan wajah dan kemudahan akses informasi perawatan kulit melalui media sosial. Distribusi tingkat kelas relatif seimbang antara kelas VII sebesar 33,6%, kelas Vi sebesar 33,8%, dan kelas IX sebesar 32,6%, menunjukkan keterwakilan yang baik antar jenjang. Hasil ini mendukung temuan Sundoro. Djannatun, dan Maharsi (Sundoro et al. , 2. bahwa tingkat kelas tidak secara langsung memengaruhi jerawat, tetapi berkaitan dengan pengetahuan dan kebiasaan perawatan diri. Dalam penelitian ini, perbedaan perilaku perlindungan kulit antar kelas tidak menonjol, meskipun siswa kelas lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman lebih baik karena pengalaman dan paparan informasi yang lebih luas. Berdasarkan jenis kelamin, responden perempuan lebih banyak sebesar 63,4% dibandingkan laki-laki sebesar 36,6%, dan menunjukkan perilaku perawatan kulit yang lebih Temuan ini sejalan dengan penelitian Nurfitriani. Rumi, dan Sultan . yang menyatakan bahwa remaja perempuan memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kebersihan dan penggunaan sunscreen, meskipun penerapannya belum optimal. Namun, tingkat keparahan jerawat tidak berbeda signifikan, kemungkinan karena pengaruh hormon androgen pada laki-laki yang menyeimbangkan perbedaan perilaku perawatan. Nilai rata-rata Sun Protection Behavior sebesar 26,047 dengan standar deviasi 8,423 menunjukkan tingkat perlindungan kulit terhadap sinar matahari berada pada kategori sedang dengan variasi antarindividu yang cukup besar. Berdasarkan Health Belief Model, hal ini dipengaruhi oleh perbedaan persepsi risiko terhadap jerawat serta manfaat dan hambatan penggunaan sunscreen (Rizkita & Wardhani, 2. Peneliti menilai sebagian remaja belum memandang paparan sinar matahari sebagai faktor penting penyebab jerawat dan lebih fokus pada kebersihan Nilai rata-rata acne vulgaris sebesar 5,485 dengan standar deviasi 6,79 menunjukkan tingkat keparahan jerawat ringan dengan variasi antarindividu cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan Maulida. Rahmawati, dan Putra (Maulida et al. yang menjelaskan bahwa remaja dengan aktivitas hormon tinggi namun memiliki kebiasaan perawatan wajah baik cenderung mengalami jerawat ringan. Rentang nilai antarvariabel yang cukup lebar menunjukkan adanya kesenjangan kesadaran dan motivasi remaja terhadap perawatan kulit. Hasil ini berbeda dengan penelitian Sari dan Mulyani (Sari & Mulyani, 2. yang menemukan perilaku penggunaan sunscreen cenderung homogen akibat pengaruh media sosial. Menurut peneliti, perbedaan ini dipengaruhi oleh konteks lingkungan dan tingkat paparan informasi antara remaja semi-perkotaan dan perkotaan, sebab perilaku sun protection sangat dipengaruhi persepsi, pengalaman pribadi, dan dukungan lingkungan. Sun Protection Behavior Perilaku perlindungan terhadap sinar matahari (Sun Protection Behavio. merupakan upaya individu untuk menjaga kesehatan kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV) melalui penggunaan sunscreen, pakaian pelindung, topi, dan pembatasan Ibtisamah. Sukesih. Sutrisno. / Analisis Hubungan Perilaku Perlindungan Sinar Matahari dan Faktor Internal Terhadap Kejadian Acne Vulgaris Pada Remaja SMPN 1 Jatinangor aktivitas di luar ruangan. Pada masa remaja, perilaku ini penting karena peningkatan aktivitas hormon dan paparan luar ruangan yang lebih tinggi dapat meningkatkan risiko kerusakan kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Sun Protection Behavior pada siswa SMPN 1 Jatinangor tergolong cukup baik, dengan kecenderungan lebih tinggi pada kategori tinggi sebesar 55,9% dibandingkan kategori rendah sebesar 44,1%. Temuan ini mencerminkan adanya pemahaman mengenai pentingnya perlindungan terhadap sinar UV, meskipun belum sepenuhnya menjadi Sebagian menggunakan sunscreen hanya pada situasi tertentu, yang mengindikasikan bahwa kesadaran terhadap bahaya sinar UV belum terbentuk secara Temuan ini sejalan dengan penelitian Novitasari. Prajitno, dan Indramaya . yang menunjukkan bahwa kesadaran remaja terhadap perlindungan kulit sudah terbentuk namun penerapannya belum optimal, serta mendukung temuan Passeron et al. yang menjelaskan bahwa perempuan lebih sering menggunakan sunscreen dibandingkan laki-laki karena faktor estetika dan sosial. Kondisi serupa terlihat pada siswa SMPN 1 Jatinangor, di mana siswa perempuan menunjukkan perilaku perlindungan kulit yang lebih baik. Sementara itu, hasil penelitian ini berbeda dengan temuan Tameezan dan Kumar . yang melaporkan adanya hubungan signifikan antara rendahnya perilaku perlindungan terhadap sinar matahari dengan peningkatan keparahan jerawat. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh variasi geografis, intensitas paparan sinar matahari, serta kebiasaan perawatan kulit yang berbeda antara populasi penelitian. Intensitas paparan matahari yang tinggi di Indonesia perlindungan fisik seperti pakaian tertutup, meskipun tanpa penggunaan sunscreen secara rutin. Berdasarkan teori Health Belief Model, variasi perilaku antarindividu dipengaruhi oleh persepsi risiko, manfaat, dan hambatan dalam menerapkan perilaku perlindungan kulit. Kejadian Acne Vulgaris Acne vulgaris merupakan gangguan kulit umum pada remaja yang berkaitan dengan perubahan hormonal saat pubertas. Peningkatan hormon androgen merangsang kelenjar sebasea menghasilkan sebum berlebih yang dapat berinteraksi dengan sel kulit mati dan Cutibacterium acnes, sehingga menimbulkan sumbatan pori dan inflamasi (Nafisah et al. , 2. Hal ini menjelaskan munculnya jerawat pada sebagian besar remaja usia 13Ae15 tahun, termasuk siswa SMPN 1 Jatinangor, dengan tingkat keparahan relatif rendah hingga sedang. Temuan ini sejalan dengan Puspitasari dan Rachmawati . yang melaporkan acne vulgaris ringan hingga sedang pada remaja, dipengaruhi peningkatan aktivitas hormonal dan kebiasaan kebersihan wajah yang belum terbentuk Wardani et al. juga menemukan bahwa keparahan jerawat lebih dipengaruhi faktor internal seperti stres dan produksi sebum dibanding faktor eksternal. Hal ini mendukung temuan penelitian bahwa remaja di sekolah semi-perkotaan cenderung memiliki keparahan jerawat ringan. Hasil penelitian berbeda dengan Handayani et al. yang melaporkan jerawat berat lebih tinggi pada remaja perempuan perkotaan, dipengaruhi gaya hidup, pola makan tinggi lemak, penggunaan kosmetik tidak sesuai kulit, polusi udara, dan stres akademik tinggi. Kondisi semiperkotaan seperti Jatinangor yang lebih bersih dan polusi rendah kemungkinan berperan sebagai faktor pelindung terhadap jerawat berat. Perilaku perawatan diri juga berperan Sebagian siswa memiliki kebiasaan positif seperti mencuci wajah teratur dan menghindari produk yang menyumbat pori, sejalan dengan Yuliana et al. yang menyebut kebersihan kulit dapat mengurangi kolonisasi C. acnes dan inflamasi folikel rambut. Hal ini mendukung rendahnya tingkat keparahan jerawat pada populasi Analisis peneliti menunjukkan bahwa kejadian acne vulgaris pada siswa SMPN 1 Jatinangor dipengaruhi kombinasi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan. Produksi sebum meningkat fisiologis namun masih wajar, kebiasaan menjaga kebersihan menekan inflamasi, dan kondisi lingkungan sekolah yang mendukung kebersihan serta aktivitas fisik moderat turut berkontribusi terhadap keparahan jerawat yang Analisis Hubungan antara Sun Protection Behavior dan Kejadian Acne Vulgaris Hasil uji SpearmanAos rho menunjukkan koefisien Oe0,065 dengan p-value 0,265, menandakan tidak ada hubungan signifikan antara sun protection behavior dan kejadian acne vulgaris pada siswa SMPN 1 Jatinangor . > 0,. Artinya, perlindungan terhadap sinar matahari tidak berpengaruh langsung pada tingkat keparahan jerawat remaja. Secara teori, sinar ultraviolet (UV) dapat memicu peningkatan suhu kulit, oksidasi sebum, dan inflamasi. Namun, sebagian besar siswa Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 11 - 18 beraktivitas di dalam ruangan, memakai seragam panjang, dan memiliki paparan sinar matahari rendah, sehingga pengaruh UV terhadap jerawat tidak terlihat nyata. Temuan ini sejalan dengan Astuti dan Rahmawati . serta Fitriani. Ramadhani, dan Pradana . yang menegaskan bahwa kebersihan wajah dan regulasi sebum lebih berpengaruh terhadap jerawat dibanding paparan sinar matahari. Faktor personal hygiene dan manajemen stres juga lebih dominan dibanding faktor lingkungan eksternal. Sebaliknya, hasil ini berbeda dengan Pratiwi. Lestari, dan Ningsih . yang menemukan hubungan positif antara paparan sinar matahari berlebih dan jerawat pada individu dengan aktivitas luar ruangan tinggi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh konteks geografis dan tingkat paparan UV yang lebih intens dibandingkan siswa SMPN 1 Jatinangor. Berdasarkan Health Belief Model, rendahnya persepsi siswa terhadap risiko sinar UV menyebabkan perilaku perlindungan kulit tidak terbentuk sebagai prioritas. Sebaliknya, mereka lebih menekankan pada kebersihan wajah dan perawatan rutin sebagai upaya utama pencegahan SIMPULAN Siswa SMPN 1 Jatinangor menunjukkan sun protection behavior dalam kategori tinggi, meskipun penerapannya belum sepenuhnya konsisten, terutama pada siswa laki-laki yang dibandingkan perempuan. Tingkat acne vulgaris berada pada kategori ringan dan lebih dipengaruhi oleh faktor internal seperti perubahan hormon, produksi sebum, kebersihan wajah, serta pola hidup Hasil penelitian menegaskan bahwa perilaku perlindungan terhadap sinar matahari tidak menjadi faktor dominan dalam timbulnya jerawat, menekankan sifat multifaktorial acne vulgaris yang melibatkan interaksi faktor fisiologis, kebiasaan perawatan kulit, dan gaya hidup. Temuan ini memiliki implikasi praktis dan akademik, di mana sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan dapat merancang program edukasi dan intervensi untuk membentuk kebiasaan perawatan kulit yang baik, penggunaan sunscreen secara rutin, manajemen stres, serta pola makan sehat. Secara akademik, hasil ini dapat menjadi dasar pengembangan teori mempertimbangkan interaksi faktor internal tubuh dan perilaku individu dalam pencegahan acne vulgaris pada remaja, sehingga memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan dan kesehatan remaja. DAFTAR PUSTAKA