Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehata. ISSN 2548-9070 (Prin. ISSN 2548-9089 (Onlin. DOI: 10. 51873/jhhs. Volume 9. Nomor 1 . Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi Ellang Budiarto 1. Mely Agustin 1*. Cicilia Nony Ayuningsih Bratajaya 2. Mila Sartika 2 1 Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Medika Suherman 2 Dosen S1 Keperawatan Universitas Medika Suherman *Korespondensi: Kabupaten Bekasi. Jawa Barat Email: melyagustin700@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu penyebab utama penyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung adalah penggunaan tembakau, yang merupakan praktik yang berbahaya bagi kesehatan. Karena pengaruh lingkungan sekitar dan kurangnya pemahaman mengenai konsekuensi merokok, kaum muda sangat rentan untuk memulai perilaku ini. Tujuan Penelitian: Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan berhenti merokok pada remaja di Pesisir Pantai Sederhana. Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari teknik kuantitatif yang menampilkan desain korelasional deskriptif dan kerangka kerja cross-sectional. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 81 remaja laki-laki yang merokok, dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel yang komprehensif. Data dikumpulkan melalui survei dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara pengetahuan . =0,. dan persepsi . =1,. terhadap motivasi untuk berhenti merokok . >0,. Mengenai dorongan untuk berhenti merokok, terdapat korelasi yang kuat antara lingkungan sosial . =0,. dan kerabat dekat . =0,. >0,. Simpulan: Elemen kunci dalam meningkatkan motivasi remaja untuk berhenti merokok adalah dorongan yang mereka terima dari keluarga dan teman. Singkatnya, inisiatif yang dirancang untuk membantu remaja menghindari atau berhenti merokok dapat memperoleh manfaat dari fokus pada pengaruh hubungan dekat mereka, seperti keluarga, dan kelompok sebaya mereka. Kata kunci: Merokok. Motivasi Berhenti Merokok. Remaja ABSTRACT Background: Smoking poses significant health risks and is a leading factor in serious conditions like cancer and heart diseases. Young people are a particularly at-risk demographic for picking up smoking due to external factors and limited understanding of its harmful effects. Research Purposes: To find out what helps young people in Coast Pantai Sederhana Village. Bekasi Regency, want to quit smoking. Research methods: The approach taken for this study was quantitative, using a descriptive correlation method with a snapshot design. The participants in the research consisted of 81 young male smokers selected through a complete sampling technique. Information was collected through questionnaires and analyzed using the Chi-Square test. Results: Demonstrated that motivation to stop smoking had no statistically significant correlation with knowledge . = 0. or perception . = 1. > 0. Nonetheless, motivation to quit smoking had a strong correlation with the peer environment . = 0. and the relatives . = 0. <0. Conclusion: Support from loved ones, such as family, as well as from friends, significantly boosts teenagers' desire to stop smoking. Consequently, programs that involve family and peer support can be a successful approach to prevent and help adolescents quit smoking. Received: 9 Juli 2025 | Final Revised: 15 Juli 2025 | Accepted: 15 Juli 2025 Published: 28 Juli 2025 Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. Keywords: Adolescents. Smoking. Smoking Cessation Motivation. PENDAHULUAN Merokok adalah kebiasaan yang sangat merusak yang menghadirkan bahaya kesehatan yang serius dan merupakan penyebab utama beberapa penyakit parah, seperti berbagai bentuk kanker, penyakit jantung, dan masalah paru-paru yang berlangsung lama. Perilaku ini tidak hanya berdampak pada mereka yang merokok, tetapi juga membahayakan orang-orang di sekitar yang menghirup asapnya . Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), merokok menyebabkan sekitar 8 juta kematian setiap tahun, dengan Indonesia berkontribusi terhadap lebih dari 700 kematian yang terkait dengan masalah kesehatan yang terkait dengan Ini menyoroti pentingnya perhatian dunia terhadap krisis merokok. Pemuda, khususnya remaja, sangat berisiko untuk memulai kebiasaan merokok . Pada titik ini dalam kehidupan mereka, individu sering kali berusaha untuk menentukan identitas mereka dan mengeksplorasi berbagai pengalaman, yang sering kali melibatkan merokok. Perilaku ini umumnya dibentuk oleh lingkungan sosial mereka, pengaruh keluarga, dan platform daring . Survei Tembakau Pemuda Global (GYTS) 2019 menunjukkan bahwa sekitar 19,2% individu berusia 13 hingga 15 tahun di Indonesia terlibat dalam kegiatan merokok. Selain itu. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan angka perokok tertinggi terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun, yakni mencapai 56,5% (Kementerian Kesehatan, 2. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2020, prevalensi perokok di Jawa Barat sebesar 26,93%, yang sebagian besar di antaranya adalah laki-laki . Di Kabupaten Bekasi, tercatat sebanyak 50,95% laki-laki dan 1,34% perempuan melakukan kegiatan merokok . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja masih cukup banyak yang merokok sehingga berpotensi mengalami dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang. Merokok membahayakan kesehatan, tetapi juga berdampak pada kesehatan sosial dan mental remaja. Tembakau mengandung banyak bahan berbahaya, seperti nikotin, karbon monoksida, tar, dan zat aditif lainnya yang dapat menyebabkan kecanduan dan berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, tekanan darah tinggi, serta risiko penyakit jantung dan kanker yang lebih tinggi. Selain itu, merokok dapat memengaruhi perkembangan otak pada remaja, menghambat kemampuan mereka untuk berkonsentrasi, dan meningkatkan kemungkinan terkena demensia . Keinginan merupakan elemen penting dalam upaya yang difokuskan pada pencegahan dan pengendalian perilaku merokok pada Penelitian yang dilakukan oleh Miller dan Rolnick, sebagaimana dirujuk oleh Donovan dan Marlatt . , menyoroti pentingnya motivasi dalam keberhasilan berhenti merokok . Teori motivasi yang disajikan oleh Marquis dan Huston . menyoroti dua faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang untuk berhenti merokok: faktor internal . dan faktor eksternal . Faktor internal berkaitan dengan pengetahuan dan kesadaran seseorang tentang dampak negatif merokok, sedangkan faktor eksternal mencakup pengaruh lingkungan, seperti dukungan yang diterima dari teman dan keluarga . Memahami risiko yang terkait dengan merokok sangat memotivasi remaja untuk berpikir tentang berhenti . Penelitian yang dilakukan oleh Wartini dan rekan-rekannya . menegaskan bahwa ketika remaja memiliki lebih banyak pengetahuan tentang efek berbahaya dari merokok, keinginan mereka untuk berhenti merokok meningkat. Namun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kesadaran akan bahaya merokok tidak selalu berhubungan dengan keinginan untuk berhenti merokok . Pandangan individu terhadap rokok sangat memengaruhi keinginan untuk Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. Jika seseorang percaya bahwa menawarkan sedikit manfaat, mereka mungkin merasa lebih termotivasi untuk Di sisi lain, jika seseorang berpikir bahwa rokok dapat meningkatkan citra sosial atau membantu mengelola stres, mereka mungkin kurang cenderung untuk Keputusan untuk berhenti merokok juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti dukungan dari teman dan keluarga. Penelitian Woelandari menemukan bahwa tekanan dari teman sebaya sering kali menjadi alasan remaja mulai merokok. Meskipun demikian, suasana yang mendukung dan membangkitkan semangat dapat membantu remaja saat mereka berusaha berhenti. Dukungan keluarga, terutama dari orang tua, sangat penting bagi remaja untuk membentuk kebiasaan yang baik. Remaja biasanya lebih terdorong untuk mengubah tindakan mereka ketika orang tua mereka mengajari mereka tentang risiko merokok dan memberikan dorongan bagi mereka untuk Pemerintah telah meluncurkan beberapa inisiatif untuk membantu remaja berhenti merokok, seperti layanan konseling Upaya Berhenti Merokok (UBM) di fasilitas kesehatan dan program digital seperti Quitina Bot, yang menawarkan saran berhenti melalui pesan otomatis dengan konselor terlatih. Di Kabupaten Pesisir Sederhana Kota Bekasi, penelitian menunjukkan bahwa sejumlah besar remaja masih merokok. Investigasi pendahuluan yang dilakukan pada 13 Oktober 2024, yang mencakup diskusi dengan 10 pemuda setempat, mengungkapkan bahwa mayoritas telah mencoba merokok di tahun-tahun awal Dari mereka yang disurvei, 8 remaja menyampaikan keinginan untuk berhenti merokok karena masalah kesehatan atau tekanan sosial. Lima dari peserta ini menyebutkan bahwa dukungan dari keluarga dan teman memainkan peran penting dalam pilihan mereka untuk Masa remaja ditandai dengan berbagai transformasi, yang meliputi dimensi fisik, mental, dan sosial. Selama periode ini, individu sering kali mencari pemahaman tentang identitas mereka dan dapat dengan mudah terpengaruh oleh pengaruh di sekitar mereka, yang termasuk perilaku merokok mereka. Menurut Asrori dan Ali pada tahun 2016, kaum muda sering mencari validasi dari teman sebaya mereka, yang dapat memotivasi mereka untuk mengeksplorasi perilaku baru, seperti menggunakan tembakau. Bagi remaja di Pesisir Sederhana, berpartisipasi dalam kegiatan konstruktif seperti bermain sepak bola, menanam bakau untuk manfaat organisasi pemuda yang dinamis dapat menumbuhkan gaya hidup yang lebih sehat dan menjauhkan mereka dari kebiasaan Dampak merokok di kalangan remaja tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik. dampak tersebut juga dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan Perokok muda mungkin kesulitan berkonsentrasi, menghadapi kecemasan yang meningkat, dan berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan kronis, seperti penyakit yang memengaruhi sistem METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember dan Januari tahun 2025 dengan menggunakan metode kuantitatif cross-sectional. Partisipan dalam penelitian ini adalah seluruh remaja laki-laki, khususnya dari RW 02 Kelurahan Pantai Sederhana yang terletak di Kabupaten Bekasi. Kriteria inklusi adalah remaja laki-laki yang merokok di wilayah pesisir RW 02, dengan jumlah total perokok laki-laki yang terlibat sebanyak 81 Nomor tinjauan etik untuk alat KEPK/UMP/178/XII/2024. Semua penelitian ini bersifat tertutup. Alat tersebut pemeriksaan validitas dan reliabilitas data. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan metode Pearson Product Moment untuk melihat hubungan antara skor setiap Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. pertanyaan dengan skor total konsep atau variabel yang diuji. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel. Apabila nilai r hitung lebih besar dari nilai pada tabel, maka pertanyaan dianggap valid, dengan nilai koreksi kumulatif lebih dari 0,361 pada taraf signifikansi 5 persen . Pengujian reliabilitas dengan statistik Cronbach Alpha menentukan bahwa suatu konsep atau variabel reliabel jika lebih dari 0,60. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square. HASIL Peserta dalam penelitian menunjukkan ciri-ciri berikut: Tabel 1. Karakteristik Remaja Variabel Cukup Tinggi Total Cukup Tinggi Total Kurang Mendukung Mendukung Total Tidak Baik Baik Total Motivasi Kurang Baik Motivasi Baik Total Pengetahuan Persepsi Orang Terdekat (Keluarg. Lingkungan Teman Sebaya Motivasi Berhenti Merokok Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, mayoritas responden memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, dengan 76 . ,8%) termasuk dalam kategori ini, sementara 5 . ,2%) berada dalam kategori tingkat Peserta kelompok ini sangat positif, dengan 79 . ,5%) dari mereka memiliki persepsi positif dan 2 . ,5%) dari mereka memiliki persepsi sedang, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, mayoritas responden . ,8%) menerima bantuan dari keluarga dekat mereka, sementara 27,2% mengatakan keluarga mereka tidak terlalu membantu. Mayoritas peserta melaporkan merasa tidak didukung oleh kelompok sebaya mereka, menurut Tabel 1, dengan 30 . %) responden memegang pendapat ini dan 51 . %) responden memegang pendapat yang Seperti yang terlihat pada Tabel 1, mayoritas responden sangat terdorong untuk berhenti merokok, dengan 53 . ,4%) menunjukkan motivasi tinggi dan 28 . ,6%) menunjukkan motivasi rendah. Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. Tabel 2. Hubungan Pengetahuan Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja No. Pengetahuan Motivasi Berhenti Merokok Motivasi Kurang Baik Motivasi Baik Cukup Tinggi Keterangan: *Uji Chi-Square, signifikan jika p-value<0,05 Total P-Value 0,334 menghasilkan nilai-p sebesar 0,334 (P> 0,. , yang menunjukkan tidak ada pengetahuan dan motivasi untuk berhenti merokok di kalangan anak muda. Meskipun demikian. Odds Ratio (OR) sebesar 3,060 pengetahuan yang lebih besar tiga kali lebih mungkin untuk mencapai keberhasilan dalam berhenti dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki pemahaman dasar, meskipun hasil ini tidak signifikan secara statistik. Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 81 individu yang disurvei, hanya 5 . ,2%) yang menunjukkan pemahaman yang memadai tentang subjek tersebut. Dari jumlah tersebut, 3 . ,7%) menunjukkan tingkat motivasi yang rendah, sementara 2 . ,5%) Sebaliknya, di antara 76 . ,8%) peserta yang memiliki pengetahuan mendalam tentang topik tersebut, 25 . ,9%) kurang termotivasi, dan 51 . ,0%) sangat Hasil uji Chi-Square Fisher Tabel 3. Hubungan Persepsi Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja No. Persepsi Motivasi Berhenti Merokok Motivasi Kurang Baik Motivasi Baik Cukup Tinggi Total P-Value 1,000 Keterangan: *Uji Chi-Square, signifikan jika p-value<0,05 Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 2 peserta yang memiliki pemahaman yang baik . ,5%), 1 peserta . ,2%) memiliki motivasi rendah, sedangkan yang lain . ,2%) memiliki motivasi tinggi. Dari 79 peserta, yang merupakan 97,5%, yang memiliki pemahaman yang kuat, 27 peserta, yang merupakan 33,3%, memiliki motivasi rendah, dan 52 peserta, atau 64,2%, memiliki motivasi yang baik. Hasil dari uji Chi-Square Eksak Fisher menemukan nilai-p sebesar 000 (P>0,. , yang menunjukkan tidak ada hubungan penting antara pemahaman dan motivasi untuk berhenti merokok di kalangan anak muda. Rasio Ganjil (OR) sebesar 1,926 menunjukkan bahwa remaja dengan pemahaman yang lebih baik dua kali lebih mungkin termotivasi untuk berhenti merokok dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki pemahaman yang cukup, meskipun hasil ini tidak penting secara Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. Tabel 4. Hubungan Orang Terdekat (Keluarg. Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja No. Orang Terdekat (Keluarg. Motivasi Berhenti Merokok Motivasi Kurang Motivasi Baik Baik Kurang Mendukung Mendukung Total Keterangan: *Uji Chi-Square, signifikan jika p-value<0,05 Menurut Tabel 4, 14 . ,3%) dari 22 . ,2%) responden dengan dukungan yang lebih sedikit memiliki motivasi yang lebih rendah, sementara 8 . ,9%) responden memiliki motivasi yang tinggi. Dari 59 . ,8%) responden yang mengatakan bahwa mereka memiliki sistem pendukung yang positif, 14 . ,3%) mengatakan bahwa mereka memiliki motivasi yang rendah, sementara 45 . ,6%) mengatakan bahwa mereka memiliki motivasi yang tinggi. Uji PValue Pearson Chi-Square menghasilkan nilai-p sebesar 0,001 (P<0,. , yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara niat remaja untuk berhenti merokok dan . Selain itu, nilai Odd Ratio (OR) sebesar 5,625 menunjukkan bahwa remaja yang memiliki dukungan keluarga enam kali lebih terdorong untuk berhenti merokok daripada mereka yang memiliki lebih sedikit Tabel 5. Hubungan Lingkungan Teman Sebaya Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja No. Lingkungan Teman Sebaya Motivasi Berhenti Merokok Motivasi Kurang Motivasi Baik Baik Tidak Baik Baik Keterangan: *Uji Chi-Square, signifikan jika p-value<0,05 Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 30 ,0%) lingkungan teman sebaya yang negatif, 3 . ,7%) memiliki tingkat motivasi yang . ,3%) menunjukkan tingkat motivasi yang tinggi. Sebaliknya, di antara 51 individu . ,0%) yang berada dalam lingkungan teman sebaya yang positif, 25 . ,9%) menunjukkan motivasi yang rendah, dan 26 . ,1%) menunjukkan motivasi yang tinggi. Analisis dari uji Pearson Chi-Square 0,000 (P<0,. , yang menyoroti hubungan penting antara lingkungan teman sebaya dan dorongan untuk berhenti merokok pada Selain itu. Odds Ratio (OR) sebesar 0,116 menunjukkan bahwa remaja dalam lingkungan teman sebaya yang positif cenderung tidak memiliki keinginan yang Total PValue kuat untuk berhenti merokok dibandingkan dengan mereka yang dikelilingi oleh pengaruh teman sebaya yang negatif. Hasil uji Pearson Chi-Square menghasilkan nilai p sebesar 0,000 (P<0,. , yang menunjukkan hubungan signifikan antara lingkungan teman sebaya dan motivasi untuk berhenti merokok pada Selain itu. Odds Ratio (OR) sebesar 0,116 menunjukkan bahwa mereka yang berada dalam lingkungan teman sebaya yang mendukung umumnya kurang termotivasi untuk berhenti merokok dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang berada dalam lingkungan yang negatif. Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja Uji analisis Chi-Square dengan nilai P lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara apa yang diketahui orang tentang merokok dan berdasarkan perincian sebelumnya. Sebuah penelitian oleh Khoirunnisa dan lainnya pada tahun 2019 menunjukkan bahwa pengetahuan tidak memengaruhi niat untuk berhenti merokok, melaporkan nilai P sebesar 0,248, yang lebih besar dari 0,05. sisi lain, penelitian lain yang dilakukan oleh Arna Abrar pada tahun 2023 menemukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan motivasi untuk berhenti merokok, dengan nilai P sebesar 0,036, yang kurang dari 0,05. Hasil mengungkapkan bahwa remaja memiliki banyak informasi, tetapi mereka tidak dapat memastikan keinginan mereka untuk berhenti merokok. Remaja belajar dengan mengumpulkan data tentang risiko yang Remaja mengandalkan kelima indra merekaAi penciuman, pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan perabaAiuntuk persepsi. Ummah . berpendapat bahwa perilaku pengetahuan atau kognisi. Hipotesis peneliti, yang didukung oleh temuan studi, adalah bahwa anak muda yang memperoleh banyak informasi tidak dapat dipastikan terdorong untuk berhenti merokok. responden yang memperoleh cukup informasi terlibat dalam perilaku merokok yang lebih sedikit daripada mereka yang memperoleh informasi. Hubungan Persepsi Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja Berdasarkan diberikan, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pendapat remaja tentang rokok dengan keinginan mereka untuk berhenti merokok. Hasil analisis ChiSquare menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pendapat peserta dan keinginan mereka untuk berhenti merokok, sebagaimana dibuktikan oleh nilai p sebesar 1,000 (P>0,. Menurut Schiffman dan Kanuk . , persepsi adalah proses kognitif yang melibatkan identifikasi, penafsiran, dan pemberian makna pada rangsangan Cara remaja memandang bahaya rokok memengaruhi pendapat dan perilaku mereka, termasuk kemungkinan mereka untuk berhenti merokok. Remaja yang memahami bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan mereka, dapat menyebabkan masalah keuangan, dan memiliki efek sosial yang negatif biasanya cenderung tidak ingin berhenti merokok. Menurut pemahaman peneliti, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dan teori lain yang dirujuk di atas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki tingkat kesadaran risiko yang tinggi tidak secara konsisten menunjukkan keinginan yang lebih besar untuk berhenti Bahkan, individu dengan tingkat kesadaran yang tinggi sering kali terlihat lebih sering melakukan perilaku merokok daripada mereka yang memiliki tingkat kesadaran sedang. Hubungan Orang Terdekat (Keluarg. Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja Berdasarkan keinginan seseorang untuk berhenti merokok berkaitan dengan lingkungan terdekatnya . Berdasarkan hasil percobaan analisis chi-square, ditemukan adanya korelasi yang signifikan antara keinginan untuk berhenti merokok dengan lingkungan terdekatnya . Dalam penelitian lain (Herawati, 2. , keinginan remaja untuk berhenti merokok ditemukan berkorelasi dengan lingkungan terdekatnya . dengan nilai p sebesar 0,000 (P<0,. Hal ini sesuai dengan teori dukungan keluarga yang dikemukakan Purnawan dalam Rahayu . Teori ini mempertimbangkan faktor internal seperti usia, pendidikan, kesehatan psikologis, keyakinan agama, dan faktor eksternal seperti keadaan sosial ekonomi, kebiasaan dan praktik keluarga, serta konteks budaya. Sistem dukungan keluarga yang kuat Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Motivasi berhenti merokok pada remaja pesisir pantai sederhana Kabupaten Bekasi DOI: 10. 51873/jhhs. membuat remaja lebih cenderung untuk berhenti merokok dan menjalani gaya hidup Oleh karena orang-orang yang paling dekat dengan remaja . adalah orang-orang mengingatkan mereka untuk tetap sehat dan meningkatkan kualitas hidup mereka, para peneliti percaya bahwa mereka memegang peranan penting dalam membantu remaja untuk berhenti merokok. Hubungan Lingkungan Teman Sebaya Dengan Motivasi Berhenti Merokok Pada Remaja Pemikiran di atas mengarah pada kesimpulan bahwa keinginan untuk berhenti merokok dipengaruhi oleh lingkungan teman sebaya. Uji analisis Chi-Square yang memiliki nilai p sebesar 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lingkungan teman sebaya dengan keinginan untuk berhenti merokok. Penelitian (Ummah, 2. menemukan adanya hubungan antara lingkungan teman sebaya dengan keinginan untuk berhenti merokok, dengan nilai p sebesar 0,006 (P < 0,. Menurut Hoffman et al. remaja cenderung berhasil berhenti merokok jika mereka memiliki teman yang menawarkan dukungan emosional dan dorongan untuk berhenti. Oleh karena itu, salah satu strategi paling efektif untuk mendorong remaja berhenti merokok adalah dengan menumbuhkan lingkungan teman sebaya yang mendukung perubahan Menurut peneliti, lingkungan teman sebaya berfungsi sebagai pengingat dan sistem pendukung bagi remaja untuk tetap sehat dan meningkatkan kualitas hidup Peneliti berpendapat bahwa kelompok teman sebaya memainkan peran penting dalam mendorong remaja untuk berhenti merokok. KESIMPULAN Dalam penelitian ini, individu terdekat . dan kelompok sosial di sekitar remaja berperan dalam keinginan mereka untuk berhenti merokok. Aspek ini penting bagi kaum muda, khususnya di masyarakat Pesisir Pantai Sederhana, untuk meningkatkan kegiatan konstruktif seperti bermain sepak bola dengan teman-teman di wilayah pesisir, berpartisipasi dalam upaya masyarakat untuk menanam pohon bakau demi lingkungan, meningkatkan kesadaran tentang kebiasaan sehat, dan terlibat dalam Karang Taruna setempat. Keterlibatan ini membantu memastikan bahwa remaja menjadi bagian dari organisasi pemuda yang menjauhkan mereka dari kebiasaan DAFTAR PUSTAKA