Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman School Well-Being in College Students and Islamic Perspectives Muzaki Alfikri1. Bahril Hidayat2 Universitas Islam Riau. Jl. Kaharuddin Nst No. Simpang Tiga. Kec. Bukit Raya. Kota Pekanbaru. Riau 28284. Indonesia e-mail: muzakialfikri27@gmail. ABSTRACT The activities that occur at school will have an impact or influence on the level of comfort and sense of security of students when at school. One of the places of educational institutions is campus. So that the campus becomes one of the places that students expect to be able to provide comfort and a sense of security when students are on campus, environmental comfort will be related to student health, both physically and mentally with a positive social environment. The purpose of this article is to describe the condition of school well-being at school or on campus based on psychological theory and Islamic This article focuses on previous data collection so that it uses the Library Research method or library research method which is a method of collecting data through library data. In this case, educational media facilities must pay attention to the environment and facilities provided, school well-being has four aspects in it that can influence the achievement of school well-being, namely the aspects of having, loving, being and health. Several research results show that the aspect of having or the school environment greatly influences school well-being in students or students, but other aspects are also supporting aspects in school well-being. The perspective according to Islam has similarities with the aspect of having, namely creating a comfortable environment such as the facilities provided, easy-to-understand learning methods, so that what distinguishes the Islamic perspective from other perspectives is its source which comes from the Qur'an and hadith. Keywords: School Well-Being. Student. Islamic ABSTRAK Berlangsungnya kegiatan yang terjadi di sekolah akan berdampak atau berpengaruh pada tingkat kenyamanan dan rasa aman siswa ketika di sekolah. Salah satu tempat lembaga pendidikan adalah Sehingga kampus menjadi salah satu wadah yang diharapkan mahasiswa dapat memberikan kenyamaman dan perasaan aman ketika mahasiswa berada di kampus kenyamanan lingkungan akan berkaitan dengan kesehatan mahasiswabaik secara fisik maupun mental dengan lingkungan sosial yang positif. Tujuan dari artikel ini untuk mendeskripsikan kondisi school well-being di sekolah maupun di kampus berdasarkan teori psikologi maupun perspektif keislaman. Artikel ini berfokuskan pada pengumpulan-pengumpulan data terdahulu dsehingga menggunakan metode Library Research atau metode penelitian kepustakaan yang merupakan metode pengumpulan data melalui data pustaka. Dalam hal ini sarana media pendidikan harus memperhatikan lingkungan dan fasilitas yang diberikan, school well-being terdapat empat aspek didalamnya yang dapat mempengaruhi tercapainya school well being, yaitu aspek having, loving, being dan health. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa aspek having atau lingkungan sekolah sangat mempengaruhi school well being pada siswa ataupun mahasiswa, namun aspek lain juga merupakan aspek pendukung dalam school well being. perspektif menurut islam memiliki kesamaan dengan aspek having yaitu menciptakan lingkungan yang nyaman seperti fasilitas yang diberikan, metode pembelajaran yang mudah dipahami, sehingga yang membedakan perspektif islam dengan perspektif lainnya adalah sumbernya yang berasal dari Al QurAoan dan hadits. Kata Kunci: School Well-Being. Mahasiswa. Islam Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 FIRST RECEIVED: 2025-01-08 REVISED: 2025-03-10 ACCEPTED: 2025-03-16 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-04-13 Corresponding Author: Muzaki Alfikri AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press PENDAHULUAN Di dunia Pendidikan, pemberian pendidikan kepada generasi muda merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan begitu terencana agar tercapainya tujuan untuk meningkatkan potensi yang dimiliki generasi muda terutama pada kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan juga pada spiritual. Pendidikan merupakan sebuah langkah dasar dalam menciptakan kesejahteraan dan meningkatkan kemajuan Indonesia. Sumber daya manusia yang memiliki kualitas merupakan hasil dari negara yang mementingkan atau mengutamakan pendidikan. Dengan adanya sumber daya manusia yang semakin berkualitas juga akan membuat persaingan negara semakin ketat dalam bidang apa saja (Azyz. Huda. , & Atmasari, 2. Sumber daya manusia yang berkualitas tentunya bergantung pada bagaimana sebuah pendidikan yang diberikan. Sehingga pentingnya penerapan pendidikan sedari dini mungkin. Di Indonesia memiliki lima tahapan pendidikan aitu yang pertama. Taman Kanak-kanak (TK) dimulai sedari 4-5 tahun, kedua. Sekolah Dasar (SD) dimulai pada umur 6 hingga 8 tahun, sekolah dasar berlangsung hingga 6 tahun, ketiga adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dimulai pada umur 13 tahun dan berlangsung selama 3 tahun pendidikan, keempat. Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dimulai pada umur 16 tahun dan akan berlangsung selama 3 tahun, dan jenjang terakhir yaitu Perguruan Tinggi (PT) dimulai pada umur 19 tahun dan akan berlangsung 3,5 tahun hingga 6 tahun (Meilinda, 2. Sejalan dengan pendapat oleh Ababiel. Mahastuti. , & Patrika. Ababiel. Mahastuti. , & Patrika . bahwa proses dan perancangan program terkait aplikasi pendidikan akan menjadi sebuah penentu berhasil atau tidak, memenuhi atau belum cukup memenuhi kualitas dari sumber daya manusia yang akan di kembangkan. per-Oktober 2020 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sudah ada tiga pelajar yang menjadi korban akibat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang kurang memperhatikan kesejahteraan siswa (Putra, 2. diantaranya, yaitu siswa SMA di Kabupaten Gowa-Sulawesi Selatan yang nekat mengakhiri hidupnya dengan meminum racun karena diakibatkan stress dengan tugas yang menumpuk dan jaringan internet yang sering putus selama daring (Yunus, 2. Kejadian di atas bisa saja sebagai gambaran gunung es yang hanya sedikit nampak, namun sebetulnya banyak sekali siswa yang mengalami kurangnya kesejahteraan dalam belajar (Putra, 2. Hal ini juga terjadi di SDN Jampang 2. Gunung Sindur kabupaten Bogor, di SDN Jampang ini bukan masalah pada akses tempat yang sulit namun dilihat dari kondisi sekolahnya, bahwa siswa belajar di dalam ruangan yang platfonnya bolong, kayu-kayu yang menggelantung di langit-langit ruang kelas, kayu penyangga genting yang kropos dan dimakan rayap, temboknya retak-retak dan lantai keramik yang bergelombang. Sehingga hal ini menjadikan Kegiatan atau aktivitas siswa selama di sekolah menjadi pengaruh kesejahteraan atau kenyamanan siswa ketika di sekolah (Merida. Febrieta. Husnah. Ria. , & Novianti, 2. Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Salah satu tempat lembaga pendidikan adalah sekolah dan Kampus. Kampus sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku siswa karena berpengaruh pada tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh mahasiswa, semakin tinggi tingkat kenyamanan yang dirasakan mahasiswa maka perilaku yang ditunjukkan akan semakin baik juga. Kampus menjadi harapan mahasiswa dalam memberikan kenyamanan, pemberian rasa aman dan nyaman dalam lingkungan akan menciptakan sosial yang positif dan juga mendukung sehatnya individu secara psikologis, individu yang memiliki kesehatan secara psikologis merupakan hasil dari kesejahteraan yang positif juga (El Syam. Linnaja. , & Fuadi. Begitupun juga dengan sekolah yang menjadi sebuah tempat berlangsungnya pendidikan yang telah dirancang melalui program-program dan juga aturan yang sesuai dengan penunjang keberhasilan dari pendidikan tersebut yang tentunya berkaitan, yang dimana menjadi sebutan sebagai pendidikan formal. Sekolah merupakan sebuah wadah atau institusi pendidikan formal, yang memiliki fungsi tentunya tidak hanya untuk keberlangsungannya tempat belajar, namun juga tempat terbentuknya karakter, pengembangan bakat, dan juga pemberian nilai moral serta pendukung minat yang dimiliki siswa (Santrock, dalam Gunawan. , & Hidayah, 2. Selain memiliki kontribusi yang besar dalam pendidikan, berhasil atau tidaknya sebuah sekolah dalam pendidikan ini tentunya salah satu faktor pendukung yaitu dalam peran lingkungan sekolah yang membuat siswa menjadi nyaman, semakin tinggi perasaan nyaman juga akan semakin dengan baik penerimaan ilmu yang diberikan oleh guru, sebaliknya, jika siswa memiliki perasaan yang kurang nyaman maka akan mempengaruhi proses penerimaan ilmu di sekolah baik secara sosial maupun secara emosional (Kuswoyo. Hidayah. , & Diponegoro, 2. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Lipsitz menjelaskan bahwa jika sekolah memberikan rancangan jadwal yang begitu padat maka menimbulkan perasaan bosan pada siswa terhadap sekolah sehingga muncul perasaan malas pada siswa di sekolah. Dengan begitu sekolah harus mampu memberikan suasana lingkuangan dan suasana pembelajaran yang tidak membosankan, nyaman dan juga kondusif ketika pembelajaran berlangsung. Begitupun pada sebuah kampus, jika kampus memberikan suasan yang tidak nyaman, tidak bersih, sempit, bahkan membuat mahasiswa merasa bosan, maka akan menghasilkan yang negatif pada reaksi mahasiswa, seperti memiliki kegelisahan ketika pembelajaran, merasa bosan, menimbulkan stres serta kecemasan dan meningkatnya rasa kantuk. Kondisi tersebut akan sangat berdampak buruk terhadap kualitas dan juga penilaian serta gagalnya tercapai tujuan pada dunia pendidikan untuk menciptakan kualitas yang terbaik. School well-being yang terdapat pada sekolah ataupun kampus yaitu salah satunya lingkungan sekolah dan juga bentuk fisik beserta fasilitas yang diberikan sekolah sebagai penunjang dalam berkembangnya siswa di sekolah dari segi kognitif atau cara berpikir ketika berada di dalam kelas, dan juga mampu meningkatkan mtiovasi diri dalam belajar dengan adanya rasa nyaman yang dirasakan oleh siswa selama proses pembelajaran hal dapat membuat peningkatan sebuah motivasi belajar siswa ketika di kelas berlangsung. (Kalsum, 2. Menurut Perdana . menjelaskana bahwa school well-being merupakan proses tercapainya sebuah kesejahteraan dasar yang dirasakan siswa ketika di sekolah hal ini meliputi lingkungan sosial atau terbentuknya hubungan yang baik dengan teman dan guru, kemudian merasakan sangat dihargai sehingga siswa berani untuk berpendapat, perasaan Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 nyaman akan membuat tercapainya tujuan belajar mengajar untuk mengembangkan potensi diiri yang dimiliki siswa. Hambatan yang terjadi pada kesejahteraan siswa terutama pada psikologis makan juga akan berkaitan dengan bagaimana kategori kesehatan fisik dan kesehatan mental, bagaimana bentuk hubungan siswa dengan guru, pelayanan sekolah dan juga teman, serta pemenuhan diri siswa. Penelitian yang dilakukan oleh (Jalal, 2. mahasiswa yang merasa nyaman dan mempunyai penilaian positif terhadap lingkungan belajar secara tidak langsung dapat mengatasi kesulitan belajarnya. Hal ini sehubungan pada penelitian yang dilakukan oleh Muhid. , & Ferdiyanto . yang mengatakan selain lingkungan belajar yang nyaman, tentu saja dipengaruhi juga oleh teman sebaya, interaksi dengan dosen, dan juga norma yang berlaku dilingkungan pendidikan. Pada mahasiswa dalam sebuah Pengukuran untuk tanggapan mahasiswa terkait denngan pemenuhan kebutuhan selama perkuliahan di kampus atau dapat juga dikatakan dengan school well being ((Azyz. Huda. , & Atmasari, 2. Hal ini didukung oleh penelitian Eva. Shanti. Hidayah. , & Bisri . yang menunjukkan haisl bahwa siswa yang mengalami stres ketik berada di sekolah akan menurun jika diberikan sebuah dukungan, dari segi sosial aitu teman, bahkan guru-guru, kesejahteraan juga akan meningkat dan tingkat stres menurun. School well being adalah suatu proses yang kompleks hal ini dapat dikatakan karena school well being mempengaruhi berbagai unsur penting dalam proses belajar mengajar. School well-being yang memberikan manfaat dalam membantu mahasiswa untuk menciptakan sebuah kondiisi suasan pembelajaran yang aman dan nyaman sehingga dapat mewujudkan tujuan dari pembelajaran. (Rahayu. Syaf. , & Nasution, 2. School well being membahas mengenai konstruksi psikologis individu dari evaluasi sekolah (Rahma. Faizah, . Ikawikanti. Mayasari. , & Rinanda, 2. Pada Kartasasmita . menjelaskan bahwa penilaian individu terkait dengan kondisi lingkungan sekolah atau perguruan tinggi berguna untuk memenuhi keperluan dasar. Setiap individu mampu memberikan penilaian atau kesan yang beragam terkait lingkungan akademik, seperti kondisi perkuliahan yang kurang nyaman, menekan, serta membosankan yang akan menimbulkan reaksi negatif pada mahasiswa meliputi stress, bosan, terasingkan, kesepian, hingga cemas yang dapat mempengaruhi penilaian individu terkait penurunan keberhasilan akademik individu (Rahayu. Syaf. , & Nasution, 2. Rahayu, 2. Sedangkan Febrieta. Rahmawati. , & Adzani . menyatakan bahwa ketika peserta didik mengalami stress, maka dirinya akan merasa bahwa suasana belajar disekolahnya tidak menyenangkan. Hal ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhid. , & Ferdiyanto . yang menjelaskan bahwa suasana belajar dan school well being secara simultan berpengaruh pada ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan akademik pada peserta didik. School well-being juga memiliki permasalahan hal ini telah diteliti Konu dan Rampela . alam Cholili. Fathurrohman. Nursyahbani. Astutik. , & Wardah, 2. school well being berkaitan dengan kondisi yang berkaitan dengan sekolah ataupun kampumerupakan sebuah teori yang dikembangkan dari teori sosiologis oleh AllardAos yang dimana ia melakukan penerapan kesejahteraan itu sebagai sebuah elemen yang termasuk pada sebuah sekolah. School well-being adalah suatu kondisi dimana lingkungan kampus atau sekolah menjadi sebuah faktor untuk menciptakan perasaan puas dan nyaman sehingga Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 terpenuhinya kebutuhan dasar individu, school well being memiliki beberapa aspek yaitu, having, loving, being, dan health. Kemudian pada peneliti lain mengatakan bahwa school well being. Tian et al. alam Alwi. , & Fakhri, 2. adalah sebuah bentuk penilaian secara subjektif untuk sebagai bahan evaluasi pada sekolah selama proses belajar mengajar berlangsung, hal ini berkiatan dengan perasaan nyaman yang timbul dari fasilitas yang diberikan oleh sekolah. Konu dan Rimpela . alam Cholili. Fathurrohman. Nursyahbani. Astutik, , & Wardah, 2. menjelaskan bahwa terdapat beberapa aspek atau dimensi dari school well being yaitu yang pertama adalah having, hal ini memiliki maksud dari sebuah kondisi fisik sekolah, fasilitas yang diberikan serta kondisi lingkungan sekolah yang mendukung untuk selama proses mengajar, kedua yaitu lingkungan dan fasilitas sekolah serta kondisi sekitar yang merupakan bentuk harapan ketika berada disekolah merasa sangat nyaman dan aman ketika belajar, minim dari kebisingan, memiliki ventilasi udara yang mendukung agar ruangan tidak pengap, penerapan kurikulum yang mendukung, serta penerapan peraturan yang memiliki nilai moral didalamnya. Kemudian pelayanan, pada ruangan-ruangan yang diberikan apakah memiliki sebuah pelayanan yang baik dalam menciptakan rasa nyaman siswa, seperti perpustakaan, laboratorium, toilet yang bersih, kantin serta unit kesehatan yang lengkap di Kedua, yaitu loving, merupakan merujuk pada sebuah hubungan siswa dari sosial pertemanan juga hubungan kepada guru. Konu dan Rimpely . alam Cholili. Fathurrohman. Nursyahbani. Astutik. , & Wardah, 2. mengatakan bahwa pendekatan difokuskan baik atau buruk sebuah hubungan siswa antara guru maupun dengan teman di lingkungan merupakan faktor pendukung dalam tercapainya school well being Dalam mengambil keputusan ketika berada di sekolah. Sekolah dan metode proses belajar memiliki keterhubungan dengan kesejahteraan dan perasaan puas siswa di dalam Kualitas pada suasana belajar merupakan langkah awal yang baik dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, ketika siswa merasakan tingkat kenyamanan yang baik menimbulkan motivasi belajar dan akan menghasilkan prestasi yang baik juga di sekolah. Hal ini serupa pada hasil sebuah riset bahwa school well-being yang tinggi dapat memberikan pengaruh positif diantaranya pada kemampuan intelektual pada siswa dan meningkatkan resiliensi (Setiabudhi. Satrio. Hidayat. Rachmah. , & Baharudin, 2. serta optimisme pada mahasiswa (Qumairi. Putri. , & Harkina, 2. Menciptakan lingkungan sekolah yang damai salah satu faktornya adalah dengan tercapainya School well-being. Salah satu hal utama yang diperlukan untuk menjaga kestabilan kehidupan yang damai atau sejahtera adalah pendidikan tersebut. Pada individu yang memiliki kemampuan atau kapabilitas menciptakan kedamaian atau kesejahteraan memiliki kehidupan yang cenderung bahagia dibandingkan individu yang tidak mampu mengembangkan kedamaian sehingga lebih mudah merasakan stres atau cemas pada hidupnya (Munica. , & Munawaroh, 2. Akan tetapi, school well-being yang rendah akan berdampak negatif pada siswa di antaranya stres akademik (Julika. , & Setiyawati, 2. Berdasarkan pandangan teoretis di atas bahwa dalam aspek kejiwaan atau psikologi, rasa aman dan nyaman pada siswa disekolah yaitu disebut juga dengan School well-being meliputi persepsi siswa dengan situasi kondisi sekolah untuk dapat memenuhi keinginan dasar Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Kebutuhan dasar school well-being meliputi dimensi having, loving, being, dan health. (Konu dalam Hasanah. , & Fuhaidah, 2. Namun berdasarkan perspektif Islam, kesejahteraan siswa dapat dicapai dengan melatih spiritualitas siswa, senantiasa melakukan dzikir dan memiliki rasa yakin bahwa Allah SWT sudah menjaminkan pada seluruh hambanya sebuah kesejahteraan atau perasaan nyaman sesuai pada Allah SWT berfirman: Aujika seluruh umat dapat beriman dan selalu bertakwa kepada Allah SWT, maka akan diberikan kelimpahan berkah dari langit dan bumi, namun jika dustakan berkah tersebut tetapi jika umat manusia berkhianat atas perintah, maka neraka akan menjadi tempat dari perbuatannyaAy. (QS. Al-AAoraf : . (Budiman, 2. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini mnggunakan metode penelitian kepustakaan atau yang biasa disebut Library Research metode ini adalah metode yang menggunakan teknik mengumpulkan dsta-data terdahulu atau penelitian yang sudah dilakukan dari data pustaka yang ada. Menurut Abdul Rahman Saleh, penelitian dengan metode menggunakan data pustaka ini adalah dengan memanfaatkan data pendukung dari beberapa jurnal, buku-buku dan juga hasil penelitian lainnya, perpustakaan, dan juga sejarah (Purbanto. , & Hidayat. Penelitian yang menggunakan data pustaka akan selalu bersandar pada data-data yang merupakan dari hasil penelitian yang telah ada, dan hampir seluruh bagian dari hasil penelitian diambil. Penggunaan metode ini memiliki kesamaan dengan yang biasa di sebut penelitian kualitatif deskriptif kepustakaan atau bibliografis karena semua bahan yang digunakan berdasarkan data dan diperkuat oleh teori-teori terdahulu (Buchori. Kartadinata, . Yusuf. Ilfiandra. Fakhri. , & Adiputra, 2. Pada sebuah penelitian tentunya eterdapat objek yang menjadi penelitian tersebut. Sehingga pada penelitian ini terdapat membahas terkait school well being pada mahasiswa sebagai objek dari penelitian. Sehingga dapat dijelaskan bahwa seluruh artikel, jurnal, buku, teori dan hasil penelitian lainnya terkait dengan school well being. Tidak hanya terkait hasil penelitian, namun pembahasan pada hasil penelitian kepustakaan juga diambil sebagai referensi pada penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Alwi. , & Fakhri, . Penelitian ini berkaitan dengan optimisme apakah terdapat hubungan dengan school well Pada hasil menunjukkan terdapat nilai yang positif pada hubungan opstimisme dengan school well being sehingga dapat diartikan jika school well being nilainya meningkat maka optimisme juga akan menignkat. Pada hasil penelitian ini diketahui bahwa terdapat pengaruh yang begitu signifikan pada individu yang cenderung pesimid dengan individu yang cenderung optimis, hasil ini di lihat berdasarkan aspek-aspek bagaimana penyesuaian diri seseorang terhadap sesuatu yang baru, penyesuaian diri ini juga akan mempengarubi bagaimana kesehatan seseorang, motivasi serta pembelejaran. Sebagai salah satu bahan pertimbangan optimisme juga dapat berpengaruh terhadap seseorang bersikap, pola berpikir. Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 perilaku sehari-hari serta perasaan individu. Sehingga hal ini menekankan bahwa optimisme merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi school will being individu. Berdasarkan hasil penelitian Rahayu. Syaf. , & Nasution . bahwa adanya nilai yang signifikan dalam artinan adanya hubungan pada school wel being dengan academic bouyancy pada mahasiswa bekerja di Pekanbaru, semakin tinggi school well being pada mahasiswa yang bekerja, maka semakin tinggi academic buoyancy pada mahasiswa bekerja di Pekanbaru. Hal ini dapat ditarik sebuah keisimpulan bahwa dengan meningkatkan school well being dengan cara mengoptimalkan fasilitas yang ada dilingkungan sekitar kampus, mempunyai hubungan sosial yang baik, dan memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang berprestasi, dapat membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan academic Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Merida. Febrieta. Husnah. Ria. & Novianti, 2. terdapat nilai positif terhadap hubungan pada school well being dengan optimisme dan juga flow akademik, sehingga artinya jika school well being dan optimisme tinggi maka flow akademik juga akan tinggi. Hasil ini didapat pada penelitian yang berjudul hubungan school well-being dan optimisme terhadap flow akademik pada mahasiswa psikologi universitas AuXAy yang berada di kota Padang Sumatera Barat. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut memiliki peran dalam bagaimana penilaian mahasiswa terhadap lingkungan kampus dan kondisi ruyang belajar, hal ini berkaitan dengan lingkungan berupa fisik, fasilitas maupun hubungan interpersonal mahasiswa. Kesehatan yang dimiliki mahasiswa serta penghargaan yang di rasakan dan kemampuan mahasiswa dalam percaya diri disertai dengan semangat dalam bealajar, akan mempengaruhi tingkatan keaktifan mahasiswa selama mengikuti perkuliahan. Manfaat yang dihasilkan school well being akan mendukung mahasiswa untuk terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif sehingga dapat tercapai tujuan pelaksanaan pembelajaran. Pada pelaksanaan secara langsung, pengkonsepan untuk dapat tercapainya standar masih mengandalkan atau bergantung kemampuan mahasiswa, faktor dalam meningkatkan kesenangan pada mahasiswa dan rasa puas pada perkuliahan masih kurang dipahami. Sehingga menjadikan mahasiswa cenderung lebih merasa bosan, jenuh dan sangat jauh pada titik flow. Jika perasaan jenuh, bosan hingga membuat stres pada mahasiswa akan menciptakan perilaku-perilaku negatif seperti tingginya tingkat kemalasan pada mahasiswa, mengalami depresi, merasa terasingkan, serta juga akan berdampak pada prestasi dan proses pembelajaran di kelas. Hal tersebut akan menjadi sebuah penilaian bahwa terdapat tandatanda terganggunya penyesuaian diri seseorang, dibuktikan dengan adanya kesulitan menyesuaikan diri pada kondisi tertentu serta merasa kesulitan ketika menjalankan peran dan status yang dimilikinya dalam masyarakat. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahma. Faizah. Ikawikanti, . Mayasari. , & Rinanda . yakni mengenai School Wellbeing Analysis Among Visual Impairments. Deaf And Physical Disability Students In College Inclusion, pada aspek having atau kondisi lingkungan kampus menurut mahasiswa penyandang disabilitas mengatakan bahwa kondisi kampus telah masuk pada taraf sangat baik, dari segi fasilitas yang diberikan bagi penyandang disabilitas sangat mendukung agar mahasiwa tidak kesusahan ketika ingin kuliah, kemudian dari segi fasilitas kelas dengan full ac, ventilasi agar sirkulasi Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 udara lancar, kursi dan meja yang lengkap, infocus sebagai pendukung pembelajaran yang akan diberikan dosen. Sehingga membuat para mahasiswa baik penyandang disabilitas maupun tidak merasa begitu nyaman selama perkuliahan berlangsung dan membantu mengoptimalkan proses belajar mengajar. Tentunya meskipun fasilitas sudah memasuki kategori sangat lengkap, masih ada beberapa fasilitas yang belum mendukung untuk aksesibilitas, dengan lantai gedung yang cukup banyak mahasiswa masih menggunakan tangga untuk menuju ke kelas, kemudian juga masih terdapat gedung-gedung lama yang sehingga membuat mahasiswa disabilitas cukup berjalan jauh dan sedikit mengalami kesulitas dan kelelahan hanya dengan fasilitas berupa kursi roda, dan juga jalan khusus mendaki untuk kursi roda untuk menuju ke kelas, apalagi jika kelas berada diruangan atas. Berbeda dengan subjek yang tunarungu, mengatakan kondisi fasilitas yang diberikan kampus membuatnya merasa sedikit kurang nyaman, hal ini terjadi karena pada kelas-kelas tidak memiliki jendela sehingga membuat subjek kesulitan untuk melihat bagaimana kondisi atau situasi didalam Kemudian pada fasilitas yang diberikan yang sering terjadi kerusakan salah satunya adalah LCD yang membuat subjek mengalami kesusahan ketika perkuliahan untuk mengakses materi jika dosen tidak masuk kelas. Keseharian subjek di kampus juga tidak didampingin oleh wali ataupun juga orangtua sehingga subjek melakukan apa-apa dengan mandiri. Seskali ketika berada didalam kelas subjek mengalami kesusahan akan dibantu oleh teman sebangku saja, sehingga fasilitas yang mendukung sangat berperan penting pada subjek. Kemudian subjek tunanetra pada aspek having atau kondisi lingkungan di kampus, pada siuasi pembelajaran dosen-dosen di kampus memiliki tingkat perhatian yang tinggi kepada subjek disabilitas sehingga sering memberikan materi bacaan berupa softfile. Agar jika perkuliahan dikampus sulit dimengerti oleh subjek, subjek dapat mengulang materu tersebut ketika berada di rumah. Softfile memiliki manfaat yang sangat berguna untuk subjek penyandang disabilitas, dan juga tersedianya buku barille selama hal tersebut mencukupi subjek, subjek tidak mengalami masalah selama perkuliahan. Sedangkan pada aspek loving atau hubungan sosial subjek tunadaksa menjelaskan bahwa pada aspek ini subjek selalu menjalin hubungan yang pada teman-temannya dan juga pada dose-dosen yang ada dikampus, terlepas subjek pernah merasakan bullying. Sedangkan pada subjek yang tunanetra subjek lebih condong memiliki hubungan yang baik pada dosen karena perhatian yang diberikan dosen kepada subjek berupa bertanya keadaan bahkan kebutuhan apa yang diperlukan subjek disetiap harinya agar dapat memberikan saran atau solusi terkait apapun permasalahan subjek serta menjelaskan modul pembelajaran agar memudahkan subjek. Pada aspek being Subjek tunadaksa, subjek sangat begitu aktif dalam mengikuti program organisasi atau komunitas yang terdapat di kampus. Menurut subjek kegiatan organisasi memiliki manfaat yang banyak dalam pengembangan kemampuan serta bakat dan minat seseorang. Selanjutnya pada aspek health atau aspek kesehatan, yang mencakup kesehatan fisik dan kesehatan mental, kesehatan fisik, hasil penelitian menjelaskan bahwa beberapa subjek dengan kategori tidak ada riwayat penyakit yang berat namun tentunya sering mengalami penyakit dengan kategori ringan seperti flu, demam, sakit kepala dan juga batuk. Kemudian juga mengatakan bahwa meskipun sedang terkena penyakit ringan mahasiswa tetap mengikuti Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 pembelajaran, karena bagi mereka masih bisa diatasi dan bukan menjadi sebuah penghambat untuk mengikuti pembelajaran. Sehingga dapat disimpulkan pada fasilitas yang diberikan oleh kampus sangat berpengaruh besar terhadap penyandang disabilitas, fasilitas yang diberikan menjadi sarana pendukung mereka dalam proses pembelajaran berlangsung. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Ansar. , & Ismail . jika pada aspek having berkiatan dengan bagaimana lingkungan dan kondisi di sekolah seperti fasilitas yang diberikan, keadaan fisik diluar dan dalam sekolah. Lingkungan dan kondisi yang aman dan nyaman di kampus, tidak mengalami keributan, bersih, program perkuliahan yang efektif, dan peraturan yang ditetapkan. Sehingga kesimpulan dari hasil penelitian dengan keterkaitan teori adalah kampus UNM fakultas ilmu sosial pada aspek having memiliki kondisi lingkungan kampus yang tergolong cukup baik, pada indikator yang paling tinggi pada fasilitas pencahayaan, dapat disimpulkan bahwa pada aspek having memiliki pengaruh terhadap tercapainya school well being mahasiswa. Kemudian pada penelitian ini juga menunjukkan hasil kampus sering memberikan tugas setiap minggunya kepada mahasiswa bahkan hampir setiap hari sehingga membuat tekanan yang dirasakan oleh mahasiswa, hal ini akan mempengaruhi well being pada mahasiswa. Kemudian pada aspek berikutnya adalah aspek loving atau hubungan sosial merupakan keterkaitan dengan lingkungan sosial di sekolah seperti hubungan dengan seama teman, hubungan dengan guru, dan juga hubungan dengan pelayanan di sekolah, hubungan ketika pembelajaran kelompok, kemampuan dalam pengambilan keputusan, dan suasana dari keseluruhan organisasi sekolah. Jika siswa dapat terus menjaga hubungan yang bagus terhadap sarana sekolah sehingga menjadikan sumber promosi sumber daya yang baik dalam masyarakat dalam hal meningkatkan prestasi di sekolah. Jika sekolah mencapai titik kesejahteraan, maka rumah dan sekolah menjadi tempat anak-anak menghabiskan waktunya pada hal ini mencakup ke dalam hubungan sosial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keterkaitan hasil dengan teori aspek loving adalah kampus UNM fakultas ilmu sosial memiliki kondisi kategori yang sangat baik. Dengan indikator yang memiliki skor tertinggi berhubungan dengan kepekaan yang tinggi inisiatif menolong teman ketika mengalami Pada kategori rendah pada indikator yang berhubungan dengan rasa malu dan segan yang dirasakan ketika berhadapan dengan dosen. Sehingga pada hasil penelitian menunjukkan sebuah hasil adanya hubungan yang dikategorikan baik pada mahasiswa FIS, meskipun kurang baik dalam berhadapan dengan dosen. Tetapi secara keseluruhan aspek loving memiiki kategori yang sangat baik. Ansar. , & Ismail . mengatakan bahwa pada aspek being atau biasa disebut dengan pemenuhan diri di sekolah memiliki keterkaitan dengan bagaimana individu dapat menghargai orang lain dan menghargai bagian yang berharga dari masyarakat. Pada pemenuhan diri seseorang yang bekerja Aesungguh dan merasa pekerjaannya begitu penuh arti dan senang dalam menjalani pekerjaannya termasuk salah satu dalam bentuk pemenuhan diri Berbeda dengan pemenuhan diri individu di dalam sekolah, pemenuhan diri seseorang dalam sekolah dengan menawarkan sebuah hal untuk pemenuhan diri tersebut. Seorang siswa yang memikirkan untuk mempertimbangkan masuk ke dalam suatu organisasi atau komunitas yang ada di sekolah karena merasa bahwa pentingnya mengikuti komunitas di sekolah dalam pemenuhan dirinya. Sehingga ditarik sebuah kesimpulan dengan adanya Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 keterkaitan hasil penelitian dengan teori yang ada, mahasishwa UNM fakultas ilmu sosial dengan kategori kondisi kampus cukup baik, dan salah satu aitem yang tertinggi merupakan aitem bentuk kampus yang mendorong mahasiswa dalam mencoba hal-hal baru ketika di Sedangkan dengan skor rendah berhubungan dengan keinginan atau keikutsertaan diri dalam menentukan kebijakan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa FIS cukup memberikan wadah yang mendukung dalam pengembangan diri mahasiswa di kampus, meskipun mahasiswa tidak begitu banyak dilibatkan dalam penentuan kebijakan dari kampus. Ansar . mengatakan bahwa pada aspek school well being yaitu health atau kesehatan, aspek ini terkait dengan kesehatan fisik dan kesehatan mental yang dialami siswa, sepeerti kecemasan, mengalami burnout ketika belajar bahkan hingga depresi, penyakit berat, penyakit yang tergolong ringan seperti demam, batuk dan flu. Well-being atau kesejahteraan memiliki dua indikator didalamnya yaitu objektif dan subjektif. Pada subjektif yang dimaksud terkait observasi sedangkan pada subjektif merujuk pada bagaimana respons atau tanggapan orang dan juga penilaian terhadap sekolah siswa tersebut. Sehingga dari hasil penelitian terkait teori-teori yang memiliki keterhubungan dengan school well being adalah UNM pada fakultas ilmu sosial termasuk pada kategori sedang atau cukup baik, dengan skor yang paling tinggi pada aspek health atau kesehatan mahasiswa terutama pada fisik. Kemudian pada pada kesehatan juga memili skor rendah namun hal ini berkiatan dengan kesehatan fisik yang dapat mengganggu perkuliahan. Sehingga dapat disimpulkan pada penelitian ini bahwa mahasiswa FIS termasuk pada kategori yang cukup baik pada aspek health atau kesehatan ini, begitupun pada penyakit yang dapat mengganggu aktivitas perkuliahan tergolong rendah atau sangat Dikaitkan dengan teori mengenai school well being maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang jika dalam kondisi kesehatan yang cukup baik akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan cenderung baik pada mahasiswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Konu yang menjelaskan bahwa lingkungan di sekolah khususnya pada fasilitas yang diberikan dan kondisi fisik yang terdapat pada sekolah harus lebih banyak peningkatan. Sama halnya dengan aspek yang terdapat pada school well being yaitu having yang mempengaruhi kepuasan siswa antara lain ventilasi, fasilitas toilet, dan suhu. Aspek having juga berkaitan dengan kondisi sekitar sekolah seperti berupa fasilitas didalam kelas yaitu . entilasi, suhu udara didalam ruangan, media pendukung pembelajaran, cahaya pada ruanga. yang dapat menciptakan rasa nyaman ketika berlangsungnya pembelajaran di kelas. Hal ini memiliki keterkaitan dengan hasil wawancara dalam penelitian (Fitriah. , & Aprianty, 2. dimana mahasiswa mengungkapkan adanya perasaan yang kurang puas pada fasilitas yang diberikan berupa pelayanan dikampus dalam bidang akademik maupun sarana prasarana yang terdapat di kampus, salah satunya adalah berupa fasilitas didalam kelas yaitu kursi yang disediakan sering kali kekurangan dengan jumlah mahasiswa di kelas tersebut, sehingga mahasiswa mengharuskan untuk memindahkan kursi dari kelss lain terlebih dahulu sebelum perkuliahan dimulai atau ada juga sebagian mahasiswa memilih untui tidak mengikuti perkuliahan. Berdasarkan hasil penelitian Romas. , & Al Adib . tersebut ditemukan 43 siswa . %) mempunyai lima unsur yaitu positif emosi, keterlibatan, hubungan, makna, dan Berdasarkan hasil kategorisasi, tingkat kesejahteraan siswa pada SMA X berada pada Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 kategori tinggi, sedangkan 41 siswa lainnya . %) berada pada kategori rendah tingkat kesejahteraan siswa. Hal ini terjadi karena beberapa siswa yang mempunyai kesejahteraan tinggi memiliki penilaian yang baik terhadap diri sendiri dan kehidupan sekolah, berbeda ketika siswa yang lain memiliki penilaian buruk terhadap kehidupan sekolahnya. Pada pendapat yang diberikan para santri mengenai sekolah mereka atau yang disebut pesantren beberapa memiliki persasaan yang tidak memuaskan dari kondisi pesantren mereka sehingga menjadi faktor penyebab stres, gampang merasa kelelahan, tingkat kebosanan yang tinggi sehingga menjadi sering mengantuk ketika pembelajaran di kelas (Siswanto dalam Oktia, 2. Situasi kelelahan yang dialami santri-santri di pesantren disebut juga sebagai academic burnout. Santri-santri yang memiliki kelelahan yang berlebihan disaat pembelajaran dan mengakibatkan stres maka akan berdampak kepada lingkungan sekitarnya juga, santri menjadi berkurang kualitas hubungan yang baik dengan temannya, sulit merasa terbuka kepada temannya, hal-hal seperti ini akan membuat juga berkurangnya school well being yang dirasakan santri tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Afina. , & Munawaroh . yang dilakukan di SMA yang terletak di kecamatan Grabag pada hasil penelitian memiliki tingkat kategori sedang dalam school well being. Seluruh indikator yang mendukung school well being masuk ke dalam kategori sedang seluruhnya. Keseluruhan indikator yaitu having, loving, being dan heallth keempat indikator tersebut tingkatannya sedang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa SMA di kecematan Grabag terdapat perasan yang nyaman pada sehingga juga tercipta rasa aman jika berada di lingkungan sekolah hal tersebut dapat tercapainya visi misi untuk diri siswa-siswa. Sehingga dapat diartikan bahwa lingkungan sekolah berpengaruh terhadap kesejahteraan siswa. Pada Penelitian oleh Duckett et al. alam Anggreni. , & Immanuel . menunjukkan hasil bahwa kesejhateraan di sekolah yang dimiliki siswa akan seperti sebuah dorongan yang kuat untuk siswa dapat lebih semangat mengembangkan potensi dan tentunya diiringi dengan perasaan bahagia yang timbul dari kesejahteraan tersebut. School well-being menjadi salah satu hal yang penting pada misi sekolah-sekolah, untuk menciptakan kesejahteraan dan menimbulkan rasa nyaman kepada siswa. peran penting dalam penerapan di sekolah guna dalam menciptakan rasa nyaman dan meningktkan keaktifan siswa di sekolah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gunawan. , & Hidayah . memberikan hasil yang positif juga terkait keterhubungan pada konsep diri dengan school well being. Hubungan yang positif ini memiliki makna bahwa jika school well being tinggi konsep diri juga memiliki tingkat yang tinggi. Begitupun jika mengalamin penurunan atau rendah, konsep diri yang rendah maka school well being juga mamiliki nilai yang rendah. Pada hasil penelitian Ami . alam Gunawan. , & Hidayah, 2. menunjukkan jika konsep diri memiliki hubungan yang positif maka seseorang juga akan memiliki motiviasi yang sesuai nilainya dengan konsep diri, jika terdapat nilai yang tinggi pada konsep diri maka motivasi belajar juga akan meningkat, motivasi belajar pada diri seseorang yang tinggi maka terdapat nilai yang positif pada konsep diri, sehingga prestasi-prestasi dan juga semangat akan mengalami peningkatan. Pada penelitian Rahman. Fauziyyah. Utari. , & Sihotang . terkait school well being yang dapat memberikan pengaruh terhadap konsep diri seseorang. Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 pada hasil penelitian ini menunjukkan sebuah hasil yang dimana konsep diri memiliki hubungan dengan school well being atau berkorelasi positif yang dimana jika konsep diri terdapat kenaikan maka juga akan ada peningkatakan pada, begitupun juga sebaliknya jika konsep diri mengalamii penurunan maka school well being juga akan ikut menurun, hal ini disebabkan karena saling terhubungnya antara konsep diri dengan school well being. Maka dari itu Konsep diri yang ada ada pada seseorang tercipta karena beberapa faktor utama namun lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung dalam konsep diri tersebut, sehingga para orangtua dan juga guru yang berperan sebagai pembimbing dan yang memberikan ilmu harus memperhatikan metode-metode yang tepat kepada anak agar seorang anak dapat memiliki dasar konsep diri yang baik dan positif sehingga dapat mendukung proses school well being di sekolah hingga sampai selesai dalam proses menuntut ilmu. Pada penelitian yang dilakukan oleh Yuni. Cahyono. Genia. , & Theresia . menunjukkan bahwa kesejahteraan siswa mempunyai pengaruh 11,7% pada prestasi akademik, dan variabel iklim sekolah mempunyai pengaruh pengaruh sebesar 2,2% terhadap prestasi akademik, yang artinya kesejahteraan siswa memainkan peran yang lebih besar dari pada iklim dalam prestasi akademik. Berbeda dengan dari sudut pandang islam, secara keseluruhan islam paham pada arti penting dari sebuah pendidikan, pendidikan menurut islam tidak jauh berbeda dengan arti pendidikan secara umum, hanya saja nilai kebaikan yang menjadi acuan untuk menumbuhkan kualitas diri yang jauh lebih baik itu berpedoman semuanya berdasarkan Al-quran sesuai dengan ajaran islam. Pendidikan umpama sebuah dalam pengasuhan, membimbing kepada hal yang lebih baik, dan mendidik para generaso-generasi muda yang berkualitas sehingga memberikan keseimbangan manusia di dunia dan di akhirat (Nata dalam Hasanah. , & Fuhaidah, 2. Maka dalam pendidikan islam aspek internal peserta didik termasuk aspek kesejahteraan setiap peserta didik juga penjadi perhatian utama, karena dalam pendidikan Islam terangkum menjadi tiga pondasi yaitu al-tarbiyah yang artinya menuntun dan dapat melindungi, kedua, al-taAolim yang artinya memberikan ilmu atau mengjarkan ilmu kepada generasi berikutnya dan yang ketiga, al-taAodib mengaplikasikan ilmu-ilmu dengan cara mendidik moral yang baik kepada anak-anak dengan tetap sesuai dengan pedoman acuan yaitu al quran sebagai pendidikan islam. Unsur Al-Tarbiyah, pendidikan Islam memanifestasikan kandungan ayat Al-QurAoan surat Hud ayat 6: AuTidak terdapat satupun bahkan hewan melata sekalipun di dunia jika bukan Allah yang memberinya rezekiAy. Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT menjamin kesejahteraan seluruh hamba dan makhluknya yang bernyawa di bumi ini dengan rezekinya masing-masing sesuai dengan usahanya agar dapat hidup bahagia, tidak diliputi kecemasan dan ketakutan (Sodiq dalam Fatahillah, 2. Pendidikan Islam dalam unsur al-tarbiyah menurut Thabary adalah sebuah bentuk menciptakan dan berupa pertolongan bagi manusia dalam berbagai hal seperti akal sehat, jiwa dan fisik manusia, hal ini jika dilakukan dengan berulang-ulang siswa atau anak didik menjadi tumbuh dewasa yang baik ditengah masyarakat. Menurut Al-Maraghy, al-tarbiyah merupakan aktivitas yang dilakukan diiringi dengan metode yang penuh perhatian, tutur kata yang lembut, kelapangan hati serta penuh kasih sayang dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian bijak, menyenangkan dan tidak membosankan (MaAozumi. Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Syihabudin. , & Najmudin, 2. Maka perlu di perhatikan bahwa pembelajaran yang efektif yaitu dengan metode yang menyenangkan, termasuk fasilitas yang diberikan akan menciptakan kenyamanan yang bertujuan agar bimbingan yang dilakukan sampai pada jiwa peserta didik, ini bermakna bahwa kesejahteraan peserta didik atau student well being ini sebenarnya sudah ada dalam konsep al-tarbiyah dan sudah di implementasikan dalam pendidikan Islam itu sendiri secara konseptual dan akan lebih baik lagi jika di implementasikan dalam praktiknya untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan memperhatikan kesejahteraan peserta didik (Hasanah. , & Fuhaidah, 2. Dalam Islam. Allah SWT menjelaskan dalam Al quran bahwa tidak ada satupun hambanya yang tidak mendapatkan kesejahteraan atau rasa aman di muka bumi ini, sebuah janji yang tidak pernah Allah ingkari (Sodiq dalam Fatahillah, 2. Kebahagiaan merupakan indikator kesejahteraan yang bersifat subyektif (Sodiq dalam Fatahillah, 2. Dalam konteks pendidikan Islam pembelajaran yang menyenangkan dengan strategi dan metode yang tepat akan melahirkan emosi positif bagi peserta didiknya sehingga tercapailah kesejahteraan peserta didik. Ketika peserta didik mencapai kesejahteraan dalam proses pembelajarannya maka pendidikan Islam sudah mengaplikasikan unsur al-tarbiyah secara menyeluruh. Dalam Islam dijelaskan bahwa rasa yakin terhadap Allah SWT atas segala jaminan kesehatreraan yang diberikan oleh Allah SWT pada seluruh hambanya, sehingga Allah cukupkan hambanya dalam bentuk rasa aman dan nyaman. Allah SWT berfirman: Aujika seluruh umat dapat terus beriman dan bertakwa, maka Allah SWT akan memberikah berkah yang begitu berlimpah dari langit dan bumi, jika mereka berkhianat maka neraka menjadi tempatnya atas segala perbuatannyaAy. (QS. Al-AAoraf : . (Budiman, 2. Well being adalah nilai yang berhubungan dengan kesejahteraan atau kebahagiaan yang dirasakan salah satunya dari lingkungan , hal ini sejalan oleh pernyataan Ryff . alam Fatahillah, 2. yang menjelaskan salah satu yang termasuk ke dalam aspek kesejahteraan yaitu memiliki hubungan yang kuat terhadap lingkungan sekitar, cara individu dalam mengatur dari segi waktu, kontrol diri, emosi dan juga dalam hal memilih atau memutuskan serta menciptakan dan mwujudkan lingkungan nyaman seperti yang diinginkan, hal-hal yang ada dalam internal individu menjadi aspek terpenting dalam sebuah well being. Dalam pandangan Islam, asdalah sebuah bentuk kenyamanan pada lingkungan atau sama dengan sebuah bentuk emosi positif yang melalui proses pengelolaan dalam tanggung jawab di dunia seseorang sebagai khalifah (Syamsidar dalam Fatahillah, 2. Jika seseorang tidak pandai dalam pengelolaan lingkungan yang dimilikinya maka individu tersebut juga akan merasa lingkungan tempat mereka berada tidak mampu menyesuaiakan dengan lingkungan yang sesuai dengan diinginkan dan harapannya (Ryff dalam Fatahillah, 2. Sebaliknya, jika individu memiliki lingkungan yang membuat nyaman dan sejalan dengan harapan, akan menimbulkan sebuah perasaan perduli dan memunculkan keinginan untuk menjaga lingkungannya tersebut. Sehingga perspektif islam terkait school well being hampir memiliki kesamaan dengan salah satu aspek having yaitu lingkungan atau fasilitas yang diberikan agar tercapainya school well being. Muzaki Alfikri. Bahril Hidayat: School Well-Being pada Mahasiswa dan Perspektif Keislaman Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa school well being memiliki empat aspek yang dapat dikatakan tercapainya school well being. Pertama aspek having, yaitu merupakan lingkungan fisik atau berupa fasilitas yang diberikan kampus, kemudian pada aspek Loving, merupakan aspek merupakan kondisi lingkungan sosial yang dirasakan. Ketiga aspek being, yaitu merupakan bentuk pemenuhan diri atau keaktifan mahasiswa selama menjalani masa perkuliahan dengan membentuk soft skill dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus, dan yang keempat aspek health yaitu merupakan kesehatan fisik dan juga kesehatan mental. Sehingga school well being tidak hanya berkaitan dengan lingkungan kampus atau fasilitas yang diberikan oleh kampus, namun juga mencakup dukungan fasilitas, dukungan sosial, pemenuhan diri dalam membentuk skill dan juga kesehatan fisik dan mental yang sangat berpengaruh dalam tercapainya school well being pada mahasiswa. Sedikit berbeda dengan perspektif menurut islam yang merupakan acuannya adalah Al QurAoan dan sunnah yaitu bahwa Allah SWT sudah memberikan sebuah jaminan rasa nyaman dan aman kepada seluruh umat manusia dan segala hamba-nya yang bernyawa. Pendidikan Islam terangkum dalam tiga unsur, salah satunya al-tarbiyah yang merupakan kegiatan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian bijak, menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini memiliki kesamaan dengan aspek having yaitu menciptakan lingkungan yang nyaman seperti fasilitas yang diberikan, metode pembelajaran yang mudah dipahami, sehingga yang membedakan perspektif islam dengan perspektif lainnya adalah sumbernya yang berasal dari Al QurAoan dan hadits. DAFTAR PUSTAKA