Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif pada kelas I MI Al Hikmah Ngareskidul Gedeg Mojokerto Achmad Padi a* aProgram Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto *Koresponden penulis: abahpadi@gmail.com Abstract The purpose of this study are: 1) To determine whether the effect Implementation Method Student Perceptions of the Effectiveness of Peer Tutor troubleshooting methods. 2) To determine whether the learning environment affect the effectiveness of troubleshooting methods. 3) To determine whether the Student Motivation affect the effectiveness of troubleshooting methods. 4) To determine whether the Student Perceptions of Peer Tutor Application Method to cognitive learning outcomes of students. 5) To determine whether the learning environment affect the students' cognitive learning outcomes. 6) To determine whether the Student Motivation towards cognitive learning outcomes of students. 7) To determine whether the Student Perceptions of Peer Tutor Application Method, learning environment, Student Motivation affect the effectiveness of troubleshooting methods. 8) To determine whether the Student Perceptions of Peer Tutor Application Method, learning environment, Student Motivation effect on students' cognitive learning outcomes. From the analysis can be summarized as follows: 1) There is a significant relationship between Student Perceptions of Peer Tutor Application Method, learning environment, Student Motivation Method of the Effectiveness of troubleshooting. with the value Fhitung 77 978 (significance F = 0. 000). So Fhitung> Ftabel (77 978> 1. 69) or Sig F <5% (0. 000 <0. 05). This means that together the independent variables consist of variables Student Perceptions about the application of the method tutor Peer (X1), the Learning Environment (X2), Student Motivation (X3) simultaneously to variable Efektiftas Solving Methods of Problem Solving (Y1) 2) There is a significant relationship between student Perceptions of Peer Tutor Application method, learning environment, student Motivation towards learning outcomes of students cognitive value Fhitung 78 323 (significance F = 0. 000). So Fhitung> Ftabel (78 323> 1. 69) or Sig F <5% (0. 000 <0. 05). This means that together the independent variables consist of variables Student Perceptions of Peer tutor application method (X1), the Learning Environment (X2), Student Motivation (X3) simultaneously to variable Learning Outcomes Cognitive Domains (Y2). Keywords: perception, peer tutoring, learning environment, motivation, problem solving, cognitive learning outcomes. A. Latar Belakang Berdasarkan model triadik resiprokal dari Bandura, perspektif pembelajaran sosial kognitif belajar berdasar regulasi-diri menekankan dinamika, interaktif dan hubungan triadik resiprokal di antara lingkungan, individu, dan perilaku. Lebih lanjut Bandura menjelaskan peran agen pembelajaran (siswa) dalam merundingkan perkembangan dan mengatur secara langsung pemikiran-pemikiran dari siswa tentang tujuan akademis yang sesuai serta bertindak secara reaktif dan reflektif menyediakan situasi pembelajaran personal siswa (Woolfolk, 2007). Lingkungan atau pengaruh sosial berperan sebagai model, strategi instruksi atau umpan balik (elemen lingkungan untuk siswa) dapat berpengaruh pada faktor pribadi siswa seperti 103 PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 tujuan, kepekaan efikasi untuk tugas (menjelaskan bagian berikutnya dari pelajaran), atribusi (keyakinan tentang kesuksesan dan kegagalan), dan proses regulasi-diri seperti perencanaan, monitor diri dan kendali terhadap gangguan. Model interaksi antara lingkungan, individu, dan perilaku merupakan interaksi timbal balik yang saling menentukan sehingga pada proses tersebut regulasi-diri terjadi (Schunk dalam Woolfolk, 2007). Model triadik resiprokal dari Bandura juga dijelaskan dalam Mullen (2007) yang membahas tentang perkembangan belajar berdasar regulasi-diri. Dalam pelaksanaan pembelajaran seharihari metode pemecahan masalah banyak digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lainnya. Dengan metode ini guru tidak memberikan informasi dulu tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalahnya. Pembelajaran pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Suatu soal dapat dipandang sebagai masalah merupakan hal yang sangat relatif. Suatu soal yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin belaka. Dengan demikian, guru perlu berhati-hati dalam menentukan soal yang akan disajikan sebagai pemecahan masalah. Bagi sebagian besar guru untuk memperoleh atau menyusun soal yang benar-benar bukan merupakan masalah rutin bagi siswa mungkin termasuk pekerjaan yang sulit. Akan tetapi hal ini akan dapat diatasi antara lain melalui pengalaman dalam menyajikan soal yang bervariasi baik bentuk, tema masalah, tingkat kesulitan, serta tuntutan kemampuan intelektual yang ingin dicapai atau dikembangkan pada siswa. Pembelajaran Problem Solving merupakan bagian dari pembelajaran berbasis masalah (PBL). Menurut Arends (2008) pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik 104 dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri. Pada pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban yang benar artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kritis. Siswa diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada di lingkungannya. Berdasarkan latar belakang penelitian, maka penulis tertarik untuk meneliti dalam suatu karya tulis bentuk tesis dengan judul: Pengaruh Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, Lingkungan Belajar dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif pada Kelas I MI Al Hikmah Ngareskidul Gedeg Mojokerto. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di kemukakan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah? 2. Apakah lingkungan belajar berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah? 3. Apakah Motivasi Belajar Siswa berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah? 4. Apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif? 5. Apakah lingkungan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif? Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif 6. Apakah Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif? 7. Apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah? 8. Apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif? C. Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui apakah Persepsi Siswa berpengaruh Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 2. Untuk mengetahui apakah lingkungan belajar berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 3. Untuk mengetahui apakah Motivasi Belajar Siswa berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 4. Untuk mengetahui apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. 5. Untuk mengetahui apakah lingkungan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. 6. Untuk mengetahui apakah Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. 7. Untuk mengetahui apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa berpengaruh terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 8. Untuk mengetahui apakah Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. D. Kajian pustaka 1. Konsep Dasar tentang Persepsi Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Sugihartono, dkk (2007) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata. Bimo Walgito (2004) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam bentuk. Stimulus mana yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain. Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang sama dengan cara 105 PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandangnya. Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat indera yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. 2. Lingkungan belajar Lingkungan merupakan suatu tempat dimana terjadi proses interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Manusia dari sejak dilahirkan hingga meninggal dunia tidak dapat terlepas dari lingkungan. Lingkungan secara langsung mempengaruhi sikap, tingkah laku dan kepribadian seseorang. Lingkungan (milieu) adalah segala sesuatu yang ada di luar orangorang pergaulan dan yang mempengaruhi perkembangan anak, seperti: iklim, alam sekitar, situasi ekonomi, perumahan, pakaian, tetangga dan lain- lain. (Soedomo, 2003) Lingkungan dapat berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan. Demikian pula terhadap proses belajar anak didik. Pada hakekatnya belajar merupakan suatu proses interaksi antara individu dengan lingkungan. Lingkungan menyediakan rangsangan terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan. Dalam proses interaksi ini dapat terjadi perubahan tingkah laku pada individu. Untuk itu lingkungan yang berada di sekitar kita dan yang mempengaruhi proses belajar mengajar disebut lingkungan belajar. Lingkungan belajar ini mempengaruhi prestasi belajar siswa. Jadi yang dimaksud lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan belajar tersebut harus diperhatikan oleh semua pihak agar prestasi belajar dapat tercapai dengan baik. 106 3. Motivasi Belajar Siswa Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. (Uno, 2009) Sagala (2010) mengemukakan bahwa motivasi dapat dipahami sebagai suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran. Dari pendapat Uno dan Sagala, maka dapat dikatakan motivasi adalah dorongan yang terjadi dalam diri seseorang yang dapat membangkitkan, mengelola, mempertahankan dan menyalurkan tingkah laku agar tujuannya dapat tercapai. Dalam kegiatan pembelajaran pemberian motivasi sangat penting untuk diperhatikan, karena tidak semua pengajaran di sekolah dapat menarik minat siswa. motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. (Uno, 2009) Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Seperti halnya Uno, Hamalik (2009) mengemukakan bahwa motivasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapatkan keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif menyenangi kehidupan, dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan hadiah, dan persaingan yang bersifat negatif. (Uno, 2009) Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a) Adanya hasrat dan keinginan berhasil. b) Adanya dorongan dalam belajar. c) dan kebutuhan Adanya harapan dan cita-cita masa depan. d) Adanya penghargaan dalam belajar. e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar. f) Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik. (Uno, 2009) Dengan guru memperhatikan dan menggunakan indicator indikator tersebut, maka akan mendukung berjalannya proses pembelajaran yang sesuai dengan harapan. Selain itu guru dapat menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa sehingga mereka dapat melakukan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Selain menggunakan indikatorindikator tersebut guru juga harus mempertimbangkan tiga komponen motif keberhasilan. Tiga komponen motif keberhasilan adalah sebagai berikut: 1) Dorongan kognitif Termasuk dalam dorongan kognitif adalah kebutuhan untuk mengetahui, untuk mengerti, dan untuk memecahkan masalah. Dorongan kognitif timbul di dalam proses interaksi antara siswa dengan tugas/masalah. 2) Harga diri Ada siswa tertentu yang tekun belajar melaksanakan tugas-tugas bukan terutama untuk memperoleh pengetahuan atau kecakapan, melainkan untuk memperoleh status dan harga diri. 3) Kebutuhan berafiliasi Kebutuhan berafiliasi sukar dipisahkan dari harga diri. Ada siswa yang berusaha menguasai bahan pelajaran atau belajar dengan giat untuk memperoleh pembenaran/penerimaan dari temantemannya atau dari orang lain (atasan) yang dapat memberikan status kepadanya. Siswa senang bila orang lain menunjukkan pembenaran terhadap dirinya, dan oleh karena itu ia giat belajar, melakukan tugastugas dengan baik, agar dapat memperoleh pembenaran tersebut. (Slameto, 2010) 4. Pembelajaran Problem Solving Sering terjadi kekeliruan paradigma dalam memahami istilah-istilah dalam dunia pendidikan. Kesulitan dalam membedakan istilah-istilah pendidikan disebabkan adanya kemiripan dan keterkaitan antara satu dengan lainnya. Untuk menghindari kekeliruan paradigma sehingga akan mengantar kita kepada pengerucutan pengertian metode, terlebih dahulu akan diuraikan istilah-istilah pendidikan yang memiliki kemiripan antara lain: a. Pendekatan pembelajaran (approach) dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Menurut Akhmad Sudrajat (www. wordpress. com, 2007) Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Menurut Roy Killen (dalam Wina Sanjaya, 2006) ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang 107 PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 berpusat pada guru (teacher centered approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approaches). b. Strategi pembelajaran adalah rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu. Strategi pembelajaran yang akan digunakan tergantung dari pendekatan seperti yang dikemukan oleh Roy Killen (dalam Sanjaya 2006) berikut ini: Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry atau pembelajaran induktif. c. 108 Metode pembelajaran adalah cara kerja yang teratur, bersistem, dan berpikir baikbaik yang digunakan guru untuk mencapai maksud dan tujuan pembelajaran. Pengertian ini didasarkan pada pendapat yang dikemukan oleh para ahli yaitu. Cara seorang guru yang di pergunakan dalam mengajar agar proses transfer ilmu berjalan dengan mudah sehingga siswa menjadi lebih paham disebut sebuah metode mengajar. Rahyubi (2012) mengartikan metode adalah suatu model cara yang dapat dilakukan untuk menggelar aktivitas belajar-mengajar agar berjalan dengan baik. Darmadi (2010) berpendapat bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dari pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan metode adalah suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Metode juga dapat dipergunakan oleh seorang pengajar sebagai jalan menuju keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Pemilihan metode yang tepat juga akan terhadap hasil belajar siswa. berpengaruh d. Sangat pentingnya penggunaan metode dalam pembelajaran membuat pengajar haruslah pintar-pintar dalam menentukan metode manakah yang sesuai 5. Hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktifitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar, selain hasil belajar kognitif yang diperoleh peserta didik. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tingkah laku tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Dari pengertian belajar tersebut dapat dipahami bahwa belajar merupakan proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan dari interaksi dengan lingkungannya. Pada hakikatnya hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perilaku yang relatif menetap. Jadi hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Jadi hasil belajar pada hakikatnya yaitu berubahnya perilaku peserta didik meliputi kognitif, afektif, serta psikomotoriknya. Sehingga setiap pendidik pastinya akan mengharapkan agar hasil belajar peserta didiknya itu meningkat setelah melakukan proses pembelajaran. Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif E. Kerangka Konseptual Kerangka konseptual menggambarkan pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu Pengaruh Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, Lingkungan Belajar dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif pada Kelas I MI Al Hikmah Ngareskidul Gedeg Mojokerto. Efektivitas Metode Pemecahan Masalah, hasil belajar siswa ranah kognitif, terus meningkat karena adanya pengaruh Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa yang baik. Dalam upaya untuk selalu meningkatkan Efektivitas Metode Pemecahan Masalah, hasil belajar siswa ranah kognitif, perlu didukung dengan Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa yang baik. Penelitian ini dimaksudkan sebagai alat untuk menemukan ada atau tidaknya Pengaruh Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, Lingkungan Belajar dan Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif pada Kelas I MI Al Hikmah Ngareskidul Gedeg Mojokerto. Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 4. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. 5. Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. 6. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. 7. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. 8. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya, lingkungan belajar, Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. G. Populasi dan Sampel Pada penelitian ini obyeknya adalah Siswa kelas I MI Al Hikmah Ngareskidul Gedeg Mojokerto sebanyak 41 siswa. Karena jumlah populasi dalam penelitian ini hanya 41 anak. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. H. Interpretasi Hasil Penelitian Gambar 2. 1 Kerangka Konsep Penelitian F. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah: 1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Hipotesis pertama yang dinyatakan pada bab sebelumnya adalah: Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Uji t terhadap variabel Persepsi Siswa tentang 109 PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 penerapan metode tutor Sebaya (X1) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 143 (14, 3%), koefisien (Beta) 0, 192, thitung sebesar 0, 953 dengan signifikansi t sebesar 0, 007. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 007<0, 05), maka Hipotesis Nihil (H0) ditolak dan Hipotesis kerja (Hi) diterima. Jadi Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Hipotesis kedua yang dinyatakan pada bab sebelumnya adalah: Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Uji t terhadap variabel Lingkungan Belajar (X2) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 114 (11, 4%), koefisien (Beta) 0, 234, thitung sebesar 1, 642 dengan signifikansi t sebesar 0, 009. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 007<0, 05), maka Hipotesis Nihil (H0) ditolak dan Hipotesis kerja (Hi) diterima. Jadi Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Hipotesis ketiga yang dinyatakan pada bab sebelumnya adalah: Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Uji t terhadap variabel Motivasi Belajar Siswa (X3) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 437 (43, 7%), koefisien (Beta) 0, 531, thitung sebesar 2. 931 dengan signifikansi t sebesar 0, 006. Karena thitung lebih besar ttabel (2. 931>1. 683) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 006<0, 05), maka Hipotesis Nihil (H0) ditolak dan Hipotesis kerja (Hi) diterima. Jadi Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Hipotesis Keempat yang dinyatakan pada bab sebelumnya adalah: Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Uji t terhadap variabel Persepsi Siswa tentang penerapan 110 metode tutor Sebaya (X1) didapatkan koefesien Regresi (B) -0, 145 (14, 5%), koefisien (Beta) 0, 272, thitung sebesar 0, 531 dengan signifikansi t sebesar 0, 008. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 008<0, 05), maka Hipotesis Nihil (H0) ditolak dan Hipotesis kerja (Hi) diterima. Jadi Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Hipotesis kelima yang dinyatakan pada bab sebelumnya adalah: Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Uji t terhadap variabel Lingkungan Belajar (X2) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 758 (75, 8%), koefisien (Beta) 0, 854, thitung sebesar 5, 998 dengan signifikansi t sebesar 0, 000. Karena thitung lebih besar ttabel (5, 998>1. 683) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 000<0, 05), maka Hipotesis Nihil (H0) ditolak dan Hipotesis kerja (Hi) diterima. Jadi Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Hipotesis keenam yang dinyatakan pada bab sebelumnya adalah: Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Uji t terhadap variabel Motivasi Belajar Siswa (X3) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 290 (29%), koefisien (Beta) 0, 193, thitung sebesar 1, 068 dengan signifikansi t sebesar 0, 002. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 002<0, 05), maka Hipotesis Nihil (H0) ditolak dan Hipotesis kerja (Hi) diterima. Jadi Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai Fhitung sebesar 77. 978 (signifikansi F= 0, 000). Jadi Fhitung>Ftabel (77. 978>1, 69) atau Sig F < 5% (0, 000<0, 05). Artinya bahwa secara bersama-sama variabel bebas yang terdiri dari variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Efektiftas Pemecahan Metode Problem Solving (Y1). Selanjutnya untuk mengetahui keeratan hubungan semua variabel bebas yaitu variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) dengan variabel Efektiftas Pemecahan Metode Problem Solving (Y1) dilakukan dengan menggunakan koefisien determinasi. I. Selesainya pembahasan skripsi yang berjudul Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode Pemecahan Masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif pada kelas I MI Al Hikmah Ngareskidul Gedeg Mojokerto, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Uji t terhadap variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 143 (14, 3%), koefisien (Beta) 0, 192, thitung sebesar 0, 953 dengan signifikansi t sebesar 0, 007. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 007<0, 05) 2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Uji t terhadap variabel Lingkungan Belajar (X2) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 114 (11, 4%), koefisien (Beta) 0, 234, thitung sebesar 1, 642 dengan signifikansi t sebesar 0, 009. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 007<0, 05) 3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap Efektivitas Metode Pemecahan Masalah. Uji t terhadap variabel Motivasi Belajar Siswa (X3) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 437 (43, 7%), koefisien (Beta) 0, 531, thitung sebesar 2. 931 dengan signifikansi t sebesar 0, 006. Karena thitung lebih besar ttabel (2. 931>1. 683) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 006<0, 05) 4. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Persepsi Siswa tentang Penerapan Metode Tutor Sebaya terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Uji t terhadap variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1) didapatkan koefesien Dari nilai Adjusted R Square menunjukkan nilai sebesar 0, 852 atau 85, 2%. Artinya bahwa variabel Y dipengaruh sebesar 85, 2% oleh Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) sedangkan sisanya 14, 8% dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel bebas tersebut. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai Fhitung sebesar 78. 323 (signifikansi F= 0, 000). Jadi Fhitung>Ftabel (78. 323>1, 69) atau Sig F < 5% (0, 000<0, 05). Artinya bahwa secara bersama-sama variabel bebas yang terdiri dari variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Hasil Belajar Ranah Kognitif (Y2). Selanjutnya untuk mengetahui keeratan hubungan semua variabel bebas yaitu variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) dengan variabel Hasil Belajar Ranah Kognitif (Y2) dilakukan dengan menggunakan koefisien determinasi. Dari nilai Adjusted R Square menunjukkan nilai sebesar 0, 864 atau 86, 4%. Artinya bahwa variabel Y (Hasil Belajar Ranah Kognitif (Y2)) dipengaruh sebesar 86, 4% oleh Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) sedangkan sisanya 13, 6% dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel bebas tersebut. Kesimpulan 111 PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 Regresi (B) -0, 145 (14, 5%), koefisien (Beta) 0, 272, thitung sebesar 0, 531 dengan signifikansi t sebesar 0, 008. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 008<0, 05) 5. Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Uji t terhadap variabel Lingkungan Belajar (X2) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 758 (75, 8%), koefisien (Beta) 0, 854, thitung sebesar 5, 998 dengan signifikansi t sebesar 0, 000. Karena thitung lebih besar ttabel (5, 998>1. 683) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 000<0, 05) 6. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Motivasi Belajar Siswa terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif. Uji t terhadap variabel Motivasi Belajar Siswa (X3) didapatkan koefesien Regresi (B) 0, 290 (29%), koefisien (Beta) 0, 193, thitung sebesar 1, 068 dengan signifikansi t sebesar 0, 002. Karena signifikansi t lebih kecil dari 5% (0, 002<0, 05) 7. 8. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai Fhitung sebesar 77. 978 (signifikansi F= 0, 000). Jadi Fhitung>Ftabel (77. 978>1, 69) atau Sig F < 5% (0, 000<0, 05). Artinya bahwa secara bersama-sama variabel bebas yang terdiri dari variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Efektiftas Pemecahan Metode Problem Solving (Y1) 112 Dari hasil perhitungan didapatkan nilai Fhitung sebesar 78. 323 (signifikansi F= 0, 000). Jadi Fhitung>Ftabel (78. 323>1, 69) atau Sig F < 5% (0, 000<0, 05). Artinya bahwa secara bersama-sama variabel bebas yang terdiri dari variabel Persepsi Siswa tentang penerapan metode tutor Sebaya (X1), Lingkungan Belajar (X2), Motivasi Belajar Siswa (X3) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Hasil Belajar Ranah Kognitif (Y2). J. Saran-Saran Setelah penulis menyelesaikan penelitian dan menutup dengan kesimpulan, maka penulis perlu memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Bagi jajaran pengelola lembaga hasil penelitian ini hendaknya dapat digunakan sebagai bahan informasi dan masukan sehingga Instansi dapat menyusun langkah strategis dalam meningkatkan dan mengoptimalkan sumber daya yang ada dengan menciptakan lingkungan yang mendukung aktifitas belajar yang tenang, nyaman dan menyenangkan. 2. Bagi perguruan tinggi, hendaknya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dan referensi untuk penelitian selanjutnya. 3. Bagi peneliti selanjutnya, untuk mengembangkan khasanah normatif tentang Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode Pemecahan Masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif dapat menggunakan referensi karya ini. K. Daftar Pustaka Anttila, S. , Huuhka, K. , Huuhka, M. , Rontu, R. , Hurme, M. , Leinonen, E. , & Lehtimäki, T. 2007. Interaction between 5-HT1A and BDNF genotypes increases the risk of treatment-resistant depression. Journal of neural transmission, 114(8, 1065-1068. Arikunto, S. 2011. Prosedur Penelitian - Suatu Pendekatan Praktik Edisi: 2011. Jakarta: Rhineka Cipta Barrows, H. S. 1996. Problem‐based learning in medicine and beyond: A brief overview. New directions for teaching and learning, 1996(68, 3-12). Bungin, B. 2011. Quantitative Research Methodology, Communication, Economic, Pengaruh persepsi siswa tentang penerapan metode tutor sebaya, lingkungan belajar dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas metode pemecahan masalah dan hasil belajar siswa ranah kognitif Public Policy, and Other Social Sciences. Jakarta: Kencana Prenada Media Darmadi, H. 2010. Kemampuan Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Djamarah, dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta Falchikov, N. 2001. Learning together. Peer tutoring in higher education. London: Routledge Falmer. Hadi, S. 2003. Pendidikan suatu pengantar. Universitas Sebelas Maret: Sebelas Maret University Press. assessment: A transactional perspective. In A. M. Wetherby, S. F. Warren, & J. Reichle (Eds. ), Transitions in prelinguistic communication (pp. 285-312. Baltimore, MD: Paul H. Brookes. Mullen, P. A. 2007. Use of self-regulating learning strategies by students in the second and third trimester of an accelerated second-degree baccalaurate nursing program. Journal of Nursing Education, 46, 406-412. Rahyubi, H. 2012. Teori-teori belajar dan aplikasi pembelajaran motorik. Bandung: Nusa Media. Hamalik, O. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta; Bumi Aksara. Rakhmat, J. 2007. Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih. PT Mizan Publika. Hamzah. B. Uno, 2009. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara Roscoe, R. D. & Chi, M. 2007. Understanding tutor learning: Knowledge-building and knowledge-telling in peer tutors’ explanations and questions. Review of Educational Research, 77, 334-374. Hayward, C. , Killen, J. D. , Kraemer, H. C. , & Taylor, C. B. 1998. Linking self-reported childhood behavioral inhibition to adolescent social phobia. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 3712, 1308-1316. Hidayat, Alimul, A. Aziz. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan teknik Analisa Data, Jakarta. Penerbit Salemba medika. Hurme, T. L. , Palonen, T. & Jarvela, S. 2006. Metacognition in joint discussions: An analysis of the patterns of interaction and the metacognitive content of the networked discussions in mathematics. Metacognition and Learning, 1, 181-200. Iiskala, T. , Vauras, M. , Lehtinen, E. , & Salonen, PK. 2011. Socially shared metacognition in dyads of pupils in collaborative mathematical problem-solving processes. Learning and Instruction, 21, 379393. Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kualitatif dan Kuantitatif). Jakarta: Gaung Persada Press. . Kublin, K. S. , Wetherby, A. M. , Crais, E. R. , & Prizant, B. M. 1989. Prelinguistic dynamic Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sanjaya. W. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Schunk, D. H. & Zimmerman, B. J. 2007. Influencing children’s self-efficacy and selfregulation of reading and writing through modeling. Reading and Writing Quarterly, 23, 7-25. Shamir, A. & Tzuriel, D. 2004. Children’s meditational teaching style as a function of intervention for cross-age peer mediation. School Psychology International, 25, 59-78. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta Suharman, 2005, Psikologi Kognitif, Srikandi, Surabaya 113 PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC Thoha. M. 2003, Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Topping, K. J. 2005. Trends in peer learning. Educational Psychology, 25, 631-645. Volet, S. , Vauras, M. & Salonen, P. 2009. Selfand social regulation in learning contexts: 114 An integrative perspective. Psychologist, 44, 215-226. Educational Walgito, B, 2004. Pengantar Psikologi Umum, Andi, Yogyakarta