Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Studi Kasus Analisis Dampak Perilaku Menghisap Lem pada Siswa this is an open access article distributed under the creative commons attribution license cc-by-nc-4. 0 A2020 by author . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/ ). (Received: Oktober-2024. Reviewed: November-2024. Accepted: November-2024. Available online: Desember-2024. Published: Desember-2. Juriani1*Abdullah Pandang2 Akhmad Harum3 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: juriani1502@gmail. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: abdullahpandang@gmail. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar. Email: akhmadharum@unm. Abstract. This study discusses one of the students who experienced glue sucking behavior at SMA Negeri 2 Bantaeng. The main study of this study is to find out: . a description of glue sucking behavior in students at SMA Negeri 2 Bantaeng. factors that cause glue sucking behavior in students at SMA Negeri 2 Bantaeng. the impacts caused by glue sucking on students at SMA Negeri 2 Bantaeng. This study uses a qualitative approach with a case study research type, data collection is carried out through interviews, observations, and documentation. Data analysis uses descriptive analysis and triangulation techniques. The results of the study obtained are: Description of glue sucking behavior in SMA Negeri 2 Bantaeng. factors causing glue sucking behavior in students at SMA Negeri 2 Bantaeng, namely internal and external. the impacts caused by glue sucking behavior have an impact on physical, emotional and educational. Keywords: Glue sucking behavior. The impact of glue sucking. Case study Abstrak. Penelitian ini membahas tentang salah satu siswa yang mengalami perilaku menghisap lem di SMA Negeri 2 Bantaeng. Kajian utama penelitian ini untuk mengetahui : . gambaran perilaku menghisap lem pada siswa di SMA Negeri 2 Bantaeng. faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku menghisap lem pada siswa di SMA Negeri 2 Bantaeng. dampak yang ditimbulkan dari menghisap lem pada siswa di SMA Negeri 2 Bantaeng. Penelitian ini menggunakan Pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan teknik Hasil penelitian yang diperoleh yaitu : . Gambaran perilaku menghisap lem di SMA Negeri 2 Bantaeng. faktor penyebab perilaku menghisap lem pada siswa di SMA Negeri 2 Bantaeng yaitu adanya internal dan eksternal. dampak yang ditimbulkan dari perilaku menghisap lem berdampak pada fisik, emosional dan pendidikan. Kata Kunci: Perilaku Menghisap Lem. Dampak Menghisap Lem. Studi Kasus 174 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. PENDAHULUAN Remaja merupakan salah satu generasi bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi sebelumnya dengan kinerja dan mental yang lebih unggul. Masa remaja dikenal sebagai masa penuh energi dengan beberapa kecenderungan yang dialami, seperti mencari perhatian, meniru perilaku, mulai tertarik dengan lawan jenis, mencoba hal-hal baru, dan tidak ingin tertinggal dengan berbagai trend (Palirone, 2. Pada masa remaja ini mereka belum sepenuhnya memiliki pertimbangan yang matang, masih mudah terpengaruh, nekat, berani, dan juga belum bisa mengontrol emosi dengan baik sehingga kadang-kala mereka masih sering melakukan tindakan atau perilaku yang menyimpang dari aturan dan norma. Kenakalan remaja merupakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh anak remaja yang dimana hal tersebut dianggap bertentangan dengan ketentuan hukum dan juga dianggap suatu kegiatan tercela di lingkungan sekitar (Maryam, 2. Contoh kenakalan remaja yang cukup menonjol adalah perilaku menghisap lem, yang merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang (Ananda & Latif, 2. Bagi kalangan remaja, "menghisap lem" sudah menjadi hal yang cukup umum dan dianggap mirip dengan penyalahgunaan narkoba (Ananda, 2. Banyak remaja yang telah menjadi korban penyalahgunaan lem, meskipun sebenarnya lem tersebut diciptakan sebagai bahan perekat untuk benda-benda seperti sepatu, kayu, ban kendaraan, dan kegunaan lainnya. Kondisi ini semakin memprihatinkan seiring berjalannya waktu, karena bukan hanya remaja yang terlibat, tetapi juga anak-anak yang lebih muda. Apa yang awalnya mungkin hanya sebagai eksperimen atau coba-coba seringkali berkembang menjadi kecanduan yang sulit dihentikan. Perilaku remaja yang menghisap lem merupakan bentuk penyimpangan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan, teman sebaya, keingintahuan tinggi, dan kurangnya perhatian serta pengawasan dari orang tua. Kebiasaan ini memiliki dampak serius, baik secara fisik seperti kerusakan otak dan gangguan saraf, maupun sosial seperti kenakalan, pelanggaran norma, dan gangguan ketertiban. Untuk mengatasi masalah ini, peran aktif orang tua dalam memberikan kasih sayang, perhatian, dan pengawasan sangatlah penting, didukung oleh regulasi pemerintah yang memperketat pengawasan penjualan produk berbahaya, serta penyuluhan yang edukatif. Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan sehat yang mendukung perkembangan remaja agar terhindar dari perilaku berisiko ini (Hamsiah, 2. Saat ini, di kota Bantaeng, perilaku menghisap lem di kalangan remaja semakin marak. Bancin, et al . masa pubertas merupakan tahap penting dalam kehidupan remaja, di mana anak-anak yang memasuki usia remaja mulai mengeksplorasi berbagai masalah hidup melalui aktivitas dan permainan. Jika pada periode ini anakanak tidak dibekali dengan iman yang kuat dan akhlak yang baik, mereka akan lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian lebih kepada anak-anak mereka selama masa pubertas ini (Karisma et al. , 2. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru BK, diperoleh informasi bahwa di SMA Negeri 2 Bantaeng terdapat seorang siswa yang terlibat dalam perilaku menghisap lem dan sudah berada pada tahap kecanduan. Siswa tersebut, yang berinisial AA, sering membawa lem di tasnya dan beberapa kali terjaring razia. Selain itu. AA juga sering mengganggu teman perempuannya dalam keadaan setengah sadar setelah menghisap lem, yang membuat temantemannya merasa takut ketika AA memasuki kelas. Beberapa gejala yang terlihat setelah AA menghisap lem antara lain sering mengucapkan kata-kata kotor, muntah, mudah marah, dan berjalan sempoyongan. 175 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Untuk dampak yang terlihat secara nyata oleh AA setelah melakukan kegiatan menghisap lem yaitu berhalusinasi berlebihan, kesehatan tubuh yang terganggu, masalah dalam proses belajar, serta tindakan kekerasan yang dilakukan kepada teman-temannya. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi siswa berperilaku menghisap lem yaitu lingkungan dan teman sepergaulannya. Serta kurangnya pengawasan dari kedua orangtua sehingga subjek menganggap bahwa menghisap lem sudah menjadi hal biasa untuk dilakukan. Peneliti memilih untuk meneliti perilaku menghisap lem di SMA Negeri 2 Bantaeng setelah mendapat informasi dari guru BK di sekolah tersebut, yang juga merupakan senior peneliti. Informasi tentang siswa yang terlibat dalam perilaku menghisap lem menarik minat peneliti untuk mengkaji lebih lanjut masalah ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dan mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang fenomena menghisap lem di kalangan siswa, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab perilaku tersebut, serta mengevaluasi dampaknya terhadap para remaja. Situasi ini, jika ditambah dengan lingkungan yang tidak mendukung serta kepribadian yang kurang baik, berpotensi memicu berbagai perilaku menyimpang dan tindakan negatif yang melanggar aturan atau norma sekolah (Hisyam et al. , 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maryam . mengenai penanganan perilaku menghisap lem oleh guru bimbingan dan konseling, terdapat dua pendekatan utama. Pertama, upaya preventif dilakukan melalui sosialisasi tentang bahaya dan dampak negatif dari menghisap lem. Sosialisasi ini dilaksanakan melalui layanan klasikal dan melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memberikan edukasi kepada siswa. Kedua, upaya kuratif diterapkan kepada remaja yang sudah terlibat dalam kebiasaan ini melalui konseling pribadi. Guru BK mengambil langkah merujuk atau mengalihkan kasus ke ahli dengan bekerja sama dengan Rumah Rehab Hati untuk penanganan lebih lanjut. Berdasarkan penelitian tersebut, fenomena menghisap lem pada remaja sering terjadi dalam fase peralihan, di mana remaja memiliki kecenderungan untuk mencoba hal-hal baru. Selain itu, mereka mudah terpengaruh oleh lingkungan dan teman sebaya, yang dapat mendorong mereka melakukan perilaku menyimpang, seperti menghisap lem (Achmad, et al. Berdasarkan kondisi objektif yang ditemukan, peneliti memahami faktor-faktor yang memicu perilaku menghisap lem, cara remaja mendapatkan lem, serta jenis-jenis lem yang digunakan. Pemahaman inilah yang menjadi dasar untuk melakukan studi ini. METODE Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah peneliti tentukan maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan kualitatif adalah suatu penelitian yang melibatkan manusia sebagai subjek untuk menggali dan memahami suatu masalah (Sarosa, 2. Pendekatan kualitatif diartikan sebagai pendekatan yang berorientasi secara ilmiah, proses pelaksanaannya dilakukan dengan instrumen tes seperti observasi wawancara, dan studi dokumentasi (Putri, 2. Pada umumnya jenis penelitian studi kasus Jenis penelitian studi kasus merupakan suatu kasus mendalam tentang individu dalam jangka waktu yang lama,mendalam dengan menggunakan subjek tunggal yang artinya kasus yang dialami satu orang menurut furchan (Maryam, 2. 176 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Kehadiran peneliti berperan sebagai instrumen kunci yang juga bertanggung jawab untuk menyusun pertanyaan wawancara, melakukan wawancara, mengelola, menganalisis dan memastikan akurasi data yang diperoleh. Subjek dalam penelitian ini merupakan salah satu siswa di SMA Negeri 2 Bantaeng yang melakukan perilaku menghisap lem yang dalam masa kecanduan Sumber data primer dalam penelitian ini melibatkan AA, guru BK, wali kelas, dan teman subjek. Peneliti melakukan wawancara langsung untuk memperoleh informasi terkait permasalahan perilaku menghisap lem yang dialami oleh subjek Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Observasi dilakukan untuk mengamati perilaku menghisap lem pada siswa AA. Wawancara dilakukan secara semiterstruktur dengan pedoman wawancara yang telah disiapkan oleh peneliti untuk memperoleh informasi yang akurat. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait fenomena, baik dalam bentuk tulisan, gambar, video, maupun bahan referensi lainnya. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data berdasarkan langkah-langkah studi kasus yang dikemukakan oleh Tohirin . yang meliputi beberapa langkah diantaranya: . identifikasi kasus. pelaksanaan treatment. tindak lanjut. Data dianalisis menggunakan model miles and huberman dengan beberapa langkah yaitu reduksi kata, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validasi data di uji melalui triangulasi dan member check, triangulasi ada dua yaitu sumber dan triangulasi teknik HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada subjek, guru BK, wali kelas, dan teman sujek, ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang gambaran-gambaran perilaku menghisap lem, faktor penyebab menghisap lem dan dampak perilaku menghisap lem. Tabel 1. Deskripsi gambaran perilaku menghisap lem Perilaku Deskripsi Perilaku Perilaku ketika menghisap lem Facktor Faktor Gambaran perilaku menghisap lem yang dilakukan oleh AA yaitu menghisap lem dengan cara menghisap lem yang sudah di pindahkan ke dalam plastik dan di hisap hingga mengeras dan mengering. Sehingga AA seringkali, mengeluarkan kata-kata kotor. Tabel 2. Deskripsi faktor penyebab perilaku menghisap lem Indikator Deskripsi Perilaku Ketidaktahuan tentang bahaya menghisap lem Bahaya menghisap lem belum diketahui oleh konseli, teman guru BK dan wali kelas. Konseli menganggap menghisap lem adalah hal yang biasa yang sering dilakukan oleh anak-anak, dan tidak memiliki dampak apapun jika melakukan hal tersebut 177 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Ingin Faktor Ikut-ikutan dengan teman Lingkungan tempat tingga AA mengetahui menghisap lem ini dari teman-temannya, awalnya AA hanya ikut mencoba-coba menghisap, namun setelah AA merasakan kenikmatannya, ia mulai keterusan dalam menghisap lem dan AA merasa ketika menghisap lem pikirannya menjadi tenang, dan tidak merasakan kelelahan. AA mendapatkan pengaruh menghisap lem dari teman Diketahui teman bergaul AA adalah siswa sekolah lain dan juga beberapa orang dewasa sehingga AA mulai ikutikutan menghisap lem Faktor penyebab AA mengkonsumsi lem itu adalah pengaruh lingkungan tempat tinggalnya. Dan lingkungan tersebut kurang baik karena remaja disana sering terlibat dalam perilaku nakal seperti mencuri, sehingga AA memutuskan untuk bergaul di lingkungan luar tempat tinggalnya yang juga membawa dampak negatif seperti perilaku menghisap lem. Tabel 3. Ringkasan dampak perilaku menghisap lem Perilaku Kondisi fisik Sifat emosional Dampak terhadap akademik Ringkasan Badan menjadi kurus Pola makan tidak teratur dan tidak merawat diri Sering merasakan sakit kepala dan mual Sering merasakan sesak nafas Dan mata merah setelah menghisap lem Mudah marah-marah Sering kali menggunakan kata-kata kasar Absensi buruk Nilai mata pelajaran yang bermasalah Terancam tidak naik kelas Pembahasan Gambaran Perilaku Menghisap Lem pada Konseli AA Perilaku menghisap lem aktivitas yang menghisap uap dari lem dengan tujuan mendapatkan sensasi tertentu. Menghisap uap yang mengandung zat narkoba ini dapat membuat pelaku merakaa fly dan mengalami euphoria. Bagi remaja yang tinggal di perkotaan dan menghadapi berbagai tekanan ini sering kali melakukan kegiatan ngelem untuk memberikan efek Perilaku yang diamati pada seorang siswa di Sma Negeri 2 Bantaeng AA duduk-duduk dengan santai diikuti dengan penggunaan lem dengan cara menghisapnya melalui plastik hingga lem itu benar-benar mengering dan keras. Selain itu, remaja juga cenderung mengeluarkan kata-kata kotor, menunjukkan emosi yang tidak terkontrol, dan menggunakan kendaraan secara brutal. 178 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Sejalan dengan hasil penelitian Azhar et al. , . menyatakan bahwa remaja yang sudah kecanduan menghisap lem akan mengalami ketidakstabilan mental untuk menghadapi beberapa persoalan yang mengganggu pola pikirnya dalam mengambil suatu keputusan atau sebuah tindakan. Remaja akan mencoba untuk menggunakan lebih banyak untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih banyak juga, dimana pengguna sudah banyak perubahan emosional akibat dari efek kecanduan lem. Perilaku menghisap lem merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh siswa dengan cara menghirup atau menghisap uap atau zat dalam lem secara berlebihan, dengan tujuan mendapatkan sensasi baru atau kesenangan. Perilaku ini dianggap sebagai perilaku yang menyimpang karena melanggar norma atau aturan yang berlalu, baik dari sudut pandang individu maupun Sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan (Maryam, 2. Berdasarkan pernyataan diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa perilaku menghisap lem yang dialami oleh konseli AA dapat dijelaskan oleh ciri-ciri yang telah disebutkan sebelumnya oleh peneliti dan diperkuat oleh temuan peneliti Faktor Penyebab Perilaku Menghisap Lem pada Konseli AA Remaja sering kali terdorong untuk menghisap lem karena mereka mencari cara untuk melampiaskan perasaan tertekan dan menemukan kesenangan serta relaksasi. Perilaku ini akan semakin meluar jika tidak ada perhatian khusus dari orangorang disekitar mereka, membuat remaja merasa bebas melakukan aktivitas menghisap lem tanpa adanya gangguan. Beberapa faktor penyebab AA menghisap lem yang ditemukan oleh peneliti. kurangnya pengetahuan tentang bahaya menghisap lem: konseli, guru BK, wali kelas, dan teman mungkin tidak menyadari bahayanya menghisap lem karena dianggap tidak berbahaya. Mereka mungkin tidak mendapatkan informasi tentang bahaya tersebut. ikut-ikutan dengan teman: AA mungkin terpengaruh oleh teman-temannya yang menghisap lem, sehingga ikut-ikutan melakukan hal yang Hal ini bisa terjadi karena AA tidak memiliki hubungan baik dan nyaman di lingkungan sekolahnya. lingkungan sekolah yang bisa jadi AA merasa tidak kondusif dan sefrekuensi. kurangnya perhatian orang tua, hubungan dengan orangtuanya, terutama dengan ayahnya kurang baik. Ayah AA mungkin terlalu memaksa AA untuk bekerja sehingga AA mencari pelarian dengan menghisap lem. Sama halnya dengan hasil dari penelitian Parassa . yang juga menemukan beberapa faktor penyebab Sebagian remaja yang menggunakan lem secara tidak tepat mungkin tidak menyadari resiko menghisap lem. Kurangnya pengetahuan akan bahaya ini dapat menjadi salah satu faktor pendorong bagi remaja untuk menghisap lem. Pada umumnya perilaku dalam bentuk rayuan/godaan dari teman sebayanya bahwa orang dewasa. Ikatan persahabatan yang kuat membuat sulit bagi mereka untuk menolak ajakan teman atau kelompok. Terkadang, mereka memilih jalan keluar yang tidak tepat untuk mengatasi masalah sementara, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan perilaku menyimpang seperti seperti mengkonsumsi lem. Konseli cenderung berperilaku menghisap lem karena bagi mereka menghisap lem adalah hal yang menjadi simbol keeksistensian yang akan membuat mereka terlihat hebat. Mereka yang awalnya menghisap lem hanya untuk memenuhi rasa penasaran mereka, dan pada akhirnya menjadi sebuah kebutuhan karena efek menghisap lem tersebut telah membuat mereka kecanduan. Setelah menghisap lem mereka mendapatkan sensasi rileks dan tenang. Hal ini menyebabkan mereka memilih menghisap lem setiap kali merasa tertekan. 179 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Berdasarkan pernyataan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perilaku menghisap lem pada konseli AA adalah ketidaktahuan mereka akan bahaya menghisap lem, kurangnya kesadaran akan bahayanya, dan belum adanya pemahaman yang memadai baik dari konseli sendiri, teman, guru BK dan wali kelas. Menghisap lem sebagai perilaku umum dilakukan oleh anak-anak, tanpa menyadari dampak negatifnya. Faktor lain yang mempengaruhi termasuk pengaruh dari teman sebaya, rasa ingin mencoba-coba, lingkungan sekolah, dan yang paling berpengaruh adalah kurangnya perhatian orang tua. Dampak dari Perilaku Menghisap Lem AA Menghisap lem merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan dan dapat mengakibatkan ketergantungan, dengan efek yang mirip dengan narkoba (Aswandi & Syahrir, 2. Selain itu, perilaku ini dapat menyebabkan perubahan perilaku menyimpang, yang mengarah pada kenakalan remaja, bahkan dapat mendorong tindakan kriminal. Selama melakukan kebiasaan menghisap lem. AA mengalami dampak negatif baik secara fisik maupun psikologis. Secara fisik, konseli mengalami penurunan berat badan, sering sakit kepala, mual akibat pola makan yang tidak teratur, dan cenderung Penampilannya juga terlihat kurang terawat, seperti jarang mengganti pakaian, rambut panjang dan kusut, serta mata merah setelah menghisap lem. Dampak psikologis dari perilaku ini mencakup perubahan dalam emosi konseli, seperti sering marah tanpa alasan jelas dan menggunakan bahasa kasar kepada orang lain. Ketika mengkonsumsi lem, konseli merasa senang karena merasa terbebas dari beban pikirannya (Siregar, 2. Mereka juga mudah terpancing emosi dan sering terlibat pertengkaran dengan orang tua, terutama dengan ayahnya. Dampak dari perilaku menghisap lem tidak hanya mempengaruhi konseli secara fisik dan psikologis, tetapi juga pandangan teman-teman dan guru terhadapnya. Mereka cenderung menganggap perilaku menghisap lem sebagai hal yang buruk dan menyebut konseli sebagai siswa nakal (Andrian, 2. Meskipun demikian, konseli tidak terlalu memperhatikan pandangan Dampak lain yang muncul adalah gangguan pada pendidikan konseli, karena ia seringkali tidak memiliki waktu untuk belajar akibat begadang di malam hari dan bekerja di siang hari, serta menerima tekanan dari orang-orang di Setelah bekerja, konseli merasa tertekan dan kemudian menghisap lem untuk melupakan beban pikirannya. Efek menghisap lem hampir serupa dengan narkoba lainnya, seperti hilangnya nafsu makan meskipun sudah waktunya makan, karena tekanan pada sensor lapar di otak, yang mengakibatkan tubuh menjadi semakin kurus. Selain itu, kandungan dalam lem yang keras dapat menyebabkan sakit kepala dan gangguan pernapasan. Perilaku ini juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari AA. Di sekolah. AA sering melanggar aturan, membolos, tidak masuk sekolah, mengganggu teman, dan mengabaikan guru, yang membuatnya tidak disukai oleh teman-teman dan guru. Nilai akademiknya juga bermasalah, dengan banyak tugas yang tidak selesai dan absensi yang buruk, sehingga ia terancam gagal naik kelas. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Nasution et al. , . menyatakan bahwa beberapa dampak dari menghisap lem ini begitu fatal bagi pengguna baik dampak fisik maupun kesehatan karena tidak bisa ditoleransi oleh tubuh. Bahkan bisa sampai kematian mendadak, sesak nafas, depresi berlebihan sehingga kekurangan suplai oksigen ke otak. Dan seseorang menghisap lem hingga mabuk berefek hampir mirip dengan narkoba yakni menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang dan rasa tenang sesaat yang hanya bertahan sekitar 5 jam sesudahnya (Hakim, 2. Dan sering terjadi ketika keadaan serius menghisap lem itu sering kali tidak merasakan lapar sama sekali karena efek dari lem 180 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Berdasarkan pernyataan diatas peneliti menyimpulkan bahwa dampak dari perilaku menghisap lem pada konseli AA mencakup aspek fisik, psikologis pada pandangan siswa dan guru sekolah. Secara fisik, konseli mengalami penurunan berat badan, sering merasakan sakit kepala, mual akibat pola makan yang tidak teratur, serta kebiasaan begadang. Mereka juga terlihat kurang terawat, serta mata yang memerah setelah menghisap lem. Di sekolah AA sering melanggar peraturan, membolos,tidak masuk sekolah, mengganggu teman, dan mengabaikan guru, perilaku inilah yang membuat guru dan teman tidak menyukainya. Nilai-nilai juga bermasalah karena banyak tidak tuntas dan absensi yang buruk, sehingga ia terancam tidak naik kelas. Selain itu, perilaku ini juga berdampak pada aspek psikologis dan akademik. Oleh karena itu peneliti menawarkan alternatif upaya penanganan kepada guru BK untuk menangani perilaku maladaptif pada siswa dan mengubah menjadi perilaku adaptif melalui teknik kontrak perilaku. Teknik ini merupakan bagian dari pendekatan behavior yang dianggap efektif untuk mengatasi kebiasaan menghisap lem pada siswa (Ilman et al. , 2. Pendekatan ini juga fokus pada perilaku yang dapat diamati, berdasarkan asumsi bahwa setiap perilaku dapat dipelajari melalui kematangan dan belajar. Perilaku yang bermasalah yaitu perilaku dan kebiasaan negatif serta perilaku yang tidak Perilaku negatif ini terjadi melalui proses interaksi dengan lingkungannya. Kemudian selanjutnya perilaku negatif bisa di ganti menjadi perilaku positif, karena manusia memiliki potensi untuk berperilaku positif atau negatif , tepat atau Alternatif upaya penanganan perilaku menghisap lem Peneliti menawarkan alternatif upaya penanganan kepada guru BK untuk menangani perilaku maladaptif pada siswa dan mengubah menjadi perilaku adaptif. Oleh karena itu upaya yang dapat digunakan untuk menangani masalah tersebut dengan memberikan 5 langkah yaitu pertama: rasional kontrak perilaku dengan subjek AA. Kedua: pilih tingkah laku yang akan diubah dengan melakukan analisis ABC. Ketiga: menentukan jenis penguatan. Keempat: memberikan reinforcement setiap kali jika tingkah laku yang diinginkan tampil sesuai dengan jadwal kontrak. Kelima: memberikan penguatan setiap kali tingkah laku yang ditampilkan. Keenam: review kontrak yang dibuat apabila dalam masa pelaksanaannya ada SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Konseli menunjukkan perilaku menghisap lem dengan cara memasukkan lem ke dalam plastik, lalu menghisapnya hingga mengeras dan mengering. Akibatnya, ia sering mengucapkan kata-kata kotor. Faktor penyebab perilaku ini meliputi kurangnya pemahaman tentang bahaya menghisap lem dari konseli, teman-teman, guru BK, serta wali kelas, pengaruh dari teman sebaya yang juga melakukan hal yang sama, lingkungan tempat tinggal yang tidak kondusif, dan kurangnya perhatian dari orang tua, khususnya ayah. Dampak dari perilaku menghisap lem yang dilakukan konseli terlihat pada kondisi fisiknya yang memburuk seperti tubuh yang kurus, sering sakit kepala, dan mual, serta perubahan pola tidur yang tidak teratur. Dampak psikologis meliputi peningkatan sifat emosional dan sering marah tanpa sebab jelas, sedangkan dampak akademiknya mencakup perilaku yang mengganggu di sekolah, nilai yang rendah, dan absensi yang buruk. Sebagai upaya penanganan, guru BK dapat membantu mengubah perilaku maladaptif ini menjadi adaptif dengan beberapa langkah: membuat kontrak perilaku dengan konseli, memilih perilaku yang akan diubah melalui analisis ABC, menentukan jenis 181 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 174-183 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. penguatan yang tepat, memberikan reinforcement sesuai jadwal kontrak, serta mengulas kontrak jika ada hambatan dalam pelaksanaannya. Saran