144 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Peran Kebudayaan Religius di Sekolah Terhadap Perkembangan Kecerdasan Spiritual Siswa (Studi Kasus Madrasah Pembangunan UIN Jakart. Muhammad Ihsan Nashihin1* Program Studi Pendidikan Agama Islam. Fakultas Psikologi dan Pendidikan. Universitas Al-Azhar Indonesia. Jl. Sisingamangaraja. Kec. Kby. Baru. Kota Jakarta Selatan. DKI Jakarta 12110 Penulis untuk Korespondensi/E-mail: ihsannashihin@uai. Abstract Ae The school has important role to improve the quality of students. Not only in intelectual side but also for improving the quality of spiritual and piety os students. This research aims to analyse how the influence of the school environment can affect the development of spiritual quotient of student in Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. The study method used quantitative method. The author used field research method to gain the firm and secondary data. The data collection techniques was taken by spreading questionnaire for 90 students, observation and collecting the important document. This study found that there was positive influence of the religious culture in the school could affect the positive influence in betta coefficients rate 0,372 . %) into development of stydentAos spiritual quotient. The religious culture is unofficial effort of education out of the class containing : religious activity . uha, prayer, jamaAoah praye. , good attitude among students and teacher, kind culture in the school. suggests to all teacher to improve the religious culture in the school to make students more religious and get development of spiritual quotient. Abstrak - Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai peranan penting dalam perkembangan peserta didik. Tidak hanya mencerdaskan kualitas intelektual siswa, namun juga mengembangkan aspek kepribadian dan spiritual peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa bagaimana pengaruh hidden curriculum di sekolah dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan spiritual siswa dengan studi kasus di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Ciputat. Penulis melakukan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan metode kuantitatif dan langsung turun ke lapangan guna mendapatkan data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa metode. Metode utama adalah dengan penyebaran kuesioner yang berisi instrumen terpercaya kepada 90 siswa-siswi di sekolah. Selain itu penulis melakukan observasi dan pengumpulan data penting sebagai pendukung data sekunder. Penelitian ini mengungkapkan fakta bahwa ditemukan pengaruh positif antara kebudayaan religius di sekolah terhadap pengembangan kecerdasan spiritual siswa sebesar 0,372 . %). Kebudayaan religius di sekolah merupakan kegiatan di luar materi pelajaran yang dilaksanakan secara tidak formal, bersifat lingkungan, kebiasaan dan budaya dalam lingkungan sekolah seperti shalat duha, shalat berjamaAoah, baca quran sebelum pelajaran dimulai, budaya bicara baik sesama warga sekolah. Maka, sangat disarankan agar siswa-siswi di sekolah berkembang kesalehannya dan kualitas spiritualnya, diperlukan pengembangan hidden curriculum di Keywords Ae Hidden Curriculum. Kebudayaan Religius. Kecerdasan Spiritual. PENDAHULUAN emiliki peserta didik pintar, saleh dan mempunyai kecerdasan spiritual unggul merupakan impian dan cita-cita semua orang tua dan guru. Maka untuk mewujudkannya diperlukan kolaborasi dan sinergitas antara orang tua di rumah atau guru di sekolah. Kedua belah pihak harus Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 saling mengambil peran sehingga tercipta pendidikan holistik bagi sang anak sehingga pengaruh yang diberikan baginya sangat terasa dan Pendidikan seyogyanya diberikan kepada setiap siswa secara holistik. Seorang siswa seharusnya mendapatkan bimbingan dan pendidikan dari semua pendamping di setiap tempat, di rumah ada orang tua dan di sekolah ada guru. Dengan seperti itu, maka akan tercipta pendidikan yang Dampaknya peserta didik semakin mantap dan konsisten dalam menerima pendidikan dari orang tua di rumah dan guru di sekolah sehingga terhindar dari penyimpangan perilaku (Suhud, 2. Sekolah sebagai institusi pendidikan harus memiliki peran dan tanggung jawab tidak hanya meningkatkan aspek intelektual peserta didik, namun juga ikut terlibat dalam pengembangan karakter, moral dan spiritual peserta didik. Hal itu, dikarenakan sekolah sebagai salah satu pilar pendidikan . rang tua, sekolah dan lingkunga. berkewajiban dan mempunyai andil dalam pembentukan moral siswa (Ahmad Lahmi, 2. Sebagai pilar pendidikan kedua. Sekolah mempunyai pengaruh besar dalam membentuk karakter dan moral peserta didik. Baik dan buruk karakter peserta didik bisa dipengaruhi oleh lingkungan sekolah. Sekolah dengan lingkungan kondusif akan melahirkan karakter peserta didik yang baik, sebaliknya sekolah dengan lingkungan yang tidak kondusif maka akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan moral dan karakter peserta didik ( Farhan Saefudin, 2. Kemendikbud merilis data bahwa sekolah mempunyai persentase sebesar 75% dalam pembentukan karakter anak-anak, sehingga baik dan buruknya anak bisa terpengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan sekolah yang ditempuh (Nur Kholiek, 2. Sekolah yang bagus merupakan sekolah yang bisa menjadi wadah agar peserta didik bisa belajar dan mengembangkan karakter peserta didik. Sekolah seharusnya bisa menjadi orang tua kedua yang mempunyai kontrol sosial dan kepekaan dalam mengembangkan karakter peserta didik (Minarti. Setidaknya sekolah mempunyai dua peran dan fungsi besar yaitu: pertama adalah sebagai wadah tempat belajar terpusat, yaitu tempat memberi pelajaran dan pelatihan materi dan Kedua, sebagai sistem sosial, yaitu tempat yang melibatkan banyak orang untuk berkolaborasi sehingga tercapai tujuan pendidikan dalam membentuk karakter, akhlak dan moral peserta didik (Abdul Hakim, 2. Sekolah dengan materi pelajaran di kelas dan lingkungan sekolah merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan, kedua-duanya merupakan satu paket dan sama-sama memberikan dampak dalam pengembangan intelegensi dan karakter peserta Maka atas dasar klasifikasi tersebut, sekolah mempunyai dua kurikulum, yaitu yang pertama core curriculum, ialah kurikulum yang fokus dalam menjabarkan pembelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik berupa mata pelajaran dan praktik lapangan di kelas. Kedua, yakni hidden curriculum, ialah kurikulum yang tidak tertulis namun merupakan budaya dan tatakrama yang harus dijalani dan ditaati oleh peserta didik dengan maksud untuk mengikuti nilai-nilai yang baik sehingga perilaku dan moral peserta didik menjadi mulia (Subandijah, 1. Core Curriculum atau kurikulum utama ialah kurikulum pokok yang menjadi acuan dalam setiap Kurikulum mencakup semua penjabaran materi dan kegiatan yang telah direncanakan oleh sekolah dalam setiap tahun akademiknya dan bersifat wajib, formal dan terstruktur (Lismina, 2. Sekolah bisa dinilai tidak efektif bila terlalu fokus dalam pengembangan kurikulum utama. Sekolah yang terlalu fokus dalam kurikulum utama dan curriculum dikategorikan sebagai sekolah yang setengah-setengah . dalam memberikan pendidikan kepada peserta didik. Hal tersebut dikarenakan hidden curriculum ialah sebagai kurikulum penunjang sekolah dalam memberikan pendidikan pengembangan karakter peserta didik. Hidden curriculum merupakan elemen pengisi pendidikan dalam ruang-ruang yang belum terjamah oleh kurikulum inti. Sebagian besar, hidden curriculum lebih berbicara tentang kegiatankegiatan dan rutinitas serta pembentukan budaya yang mendukung transformasi nilai-nilai moral dari guru kepada murid. Salah satu pembahasan pokok dalam hidden curriculum adalah budaya religius dan internalisasi budaya-budaya kebaikan di lingkungan sekolah. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Budaya religius merupakan budaya kebaikan, kebiasaan bagus dan nilai-nilai yang selalu dikerjakan secara rutin dan sangat dijunjung di sekolah. Budaya religius tidak tertulis baku secara eksplisit tetapi berupa rutinitas dan budaya warga sekolah sebagai sarana untuk mengembangkan moral peserta didik (Dita Karina, 2. Budaya di sekolah ada karena tradisi dan aktivitas peserta didik yang dilakukan secara konsisten sehingga menjadi suatu kebiasaan dan tradisi yang berkembang di sekolah sehingga wajib diadakan guna anak terbiasa sebagai wujud untuk membangun karakter dan kecerdasan spiritual peserta didik. Unsur-unsur budaya sekolah dapat dispesifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu unsur visual dan unsur material yang dijelaskan pada Gambar 1. Budaya Visual Visual Verbal Kegiatan Ibadah Hubungan Harapan Budaya Sekolah Aspek Interaksi Abstrak Visual Material pertama aspek relatif tetap, ialah keyakinan, norma-norma yang ada, ajaran agama seperti shalat berjamaAoah, berkata baik dan pemakaian busana sesuai dengan agama. Kedua, aspek kontemporer, ialah aspek yang membentuk budaya religius berdasarkan landasan nilai-nilai organisasi, sistem sosial dan kebudayaan masyarakat setempat contohnya seperti sekolah Muhammadiyah yang memberikan spirit nilai-nilai tokoh Muhammadiyah dalam berbuat kebaikan (Esti Rahmah, 2. Falsafah dan NilaiNilai Sekolah Gambar 1. Unsur-Unsur Budaya Religius Sekolah Keterangan: Unsur Verbal meliputi . visi misi, tujuan dan sasaran, kurikulum, bahasa komunikasi, narasi sekolah, struktur organisasi, praktik ibadah, upacara. Proses KBM, peraturan dan disiplin sekolah, interaksi sekolah, orang tua dan remaja. Unsur material fasilitas, peralatan, kenangan baik, pakaian Setidaknya ada enam hal sebagai wujud dan representasi budaya religius di sekolah secara konkrit, yaitu kegiatan rohani dan ibadah, harapan, kegiatan kulikuler dan ekstrakulikuler, interaksi sosial, aspek demografi, hubungan sosio-kultural. Dalam prosesnya, seluruh kegiatan, aktivitas dan perilaku yang dilakukan secara terus menerus, maka akan membentuk budaya khas dalam interaksi komunitas di sekolah. Kegiatan yang memang dikira formal, akan dirasakan sebagai aktivitas lumrah karena sudah menjadi budaya dan Esti rahmah dalam jurnalnya mengatakan bahwa setidaknya ada dua hal yang dapat melandasi pembentukan budaya religius di sekolah, yaitu Kegiatan Gambar 2. Bentuk-bentuk Implementasi Budaya Religius di Sekolah Sekolah mempunyai kewajiban dalam membentuk budaya religius di sekolah dengan melibatkan semua fasilitas dan semua civitas akademika. Dalam pembentukannya sekolah mempunyai beberapa langkah, yaitu yang pertama. Kebiasaan siswa sebagai landasan utama dari semua kegiatan siswa di sekolah harus bertujuan membangun nilainilai kebaikan dan peningkatan kecerdasan spiritual Kedua, ialah keteladanan Guru, guru di sekolah tidak hanya berperan sebagai orang yang melakukan transfer of knowledge namun ia juga berperan sebagai tokoh teladan bagi siswa dalam kepribadiannya sehingga sosok guru menjadi figur ideal dalam perilaku peserta didik yang nantinya akan menjadi watak kepribadian. Ketiga, adalah pengelolaan Kelas dimana kelas tidak saja sebagai tempat untuk transfer of knowledge tapi juga diharapkan sebagai laboratorium guru untuk mmberikan teladannya kepada para peserta didik, siswa di kelas mencontoh teladan seorang guru dalam berbuat kebaikan. Kelas juga harus didesain agar selalu memberikan inspirasi dalam perbaikan moral siswa seperti membuat mading dengan penuh konten kebaikan seperti nasihat Islam, kisah islami, foto orang tua dan anak, kutipan bijak dan pepatah orang-orang soleh. Keempat, adalah Tata tertib sekolah, tata tertib yang dibuat di sekolah tidak hanya berorientasi untuk menertibkan peserta didik Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 dan keadaan di sekolah tetapi yang paling penting adalah tata tertib yang dibuat bertujuan untuk memberikan kandungan-kandungan moral bagi peserta didik sehingga tidak hanya keadaan saja yang tertib, tetapi juga peserta didik bisa mengambil pelajaran moral dan nilai. Selanjutnya, mengembangkan kebudayaan religius di sekolah, maka sekolah setidaknya harus mempunyai empat Pertama, pendekatan struktural, pendekatan ini bersifat instruksi top down, yakni berupa perintah dari pimpinan kepada setiap guru dan siswa. Kedua, pendekatan formal, formal, yakni strategi pengembangan Pelajaran Agama Islam (PAI) yang diimplementasikan dalam kegiatan dan rutinitas sekolah. Ketiga, pendekatan mekanik, yakni strategi pengembangan kebudayaan religius berdasarkan pelajaran PAI yang berorientasi nilai-nilai agama dalam keseharian. Keempat. Pendekatan Organik, pengkondisian lingkungan yang religius dengan landasan bahwa agama adalah nilai spirit yang harus diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari dan di lingkungan sekolah (Asriani Amir, 2. Tujuan utama dalam membentuk kebudayaan religius di sekolah dengan langkah-langkah tadi tidak lain yaitu dalam rangka untuk meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik. Menurut Robert . Pembentukan kecerdasan spiritual tidak terjadi seperti itu saja, perlu adanya usaha dan modifikasi budaya dan kegiatan yang baik di sekolah, sehingga bisa menjadi kebiasaan yang tertanam pada peserta didik dalam Semua kegiatan, komunikasi, interaksi harus dilandasi prinsip perbaikan nilai kecerdasan spiritual peserta didik. Oleh karena itu, modifikasi dan penguatan kebudayaan religius di sekolah menjadi salah satu cara dan usaha sekolah dalam rangka meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan dalam diri seseorang yang berlandaskan nilai-nilai norma dan agama untuk selalu mengaplikasikan hal-hal positif dalam semua tindakannya (Ni Putu, 2. Kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) dalam perspektif Islam ialah manusia yang melakukan semua aktivitasnya atas dasar nilai taqwa kepada Allah SWT, mengintegrasikan semua nilai-nilai ajaran agama Islam dalam segala langkahnya dan berorientasi untuk selalu nilai-nilai (Zahrotul Badiah, 2. Kecerdasan spiritual ialah kecerdasan yang berorientasi terhadap nilai dan makna hidup seseorang yang sama-sama dijunjung tinggi dalam kehidupan manusia. SQ menurut Danah Zohar ialah kemampuan jiwa dan internal manusia yang menjadi sumber teladan untuk menyatukan pribadi dan spirit jiwa dan ketuhanan. SQ lebih mendorong manusia dalam menggunakan hati nuraninya dalam menyikapi semua dalam dengan hati nurani dan nilai-nilai Kesimpulannya, merupakan kemampuan yang dimiliki oleh manusia kebijaksanaan, kesalehan individu dan sosial, kearifan, kesucian batin, berani mengatakan benar dan salah (Agustian, 2. Dalam Islam. SQ merupakan kemampuan manusia dalam menjadikan setiap perilaku, pikiran dan rasa sebagai jalan kepada Allah SWT sesuai fitrah diciptakannya manusia dan memiliki orientasi kepada Allah dan berprinsip hanya karena Allah SWT. Maka kecakapan spiritual diwujudkan menjadi akhlak terpuji yang meliputi integritas, keseimbangan, totalitas, ketulusan . , berusaha dan tawakal, kerendahan hati dan konsistensi (Ary Ginanjar, 2. SQ dalam kaitannya dengan dunia pendidikan setidaknya mempunyai tujuan umum dan khusus dalam memperbaiki karakter peserta didik. Tujuan umum SQ ialah perbaikan hubungan peserta didik dengan Tuhan-nya sebagai eksistensinya sebagai makhluk . ablum mina Alla. Tujuan khusus SQ ialah menjadikan kepribadian peserta didik agar menjadi lebih saleh, alim, mukmin, abdi, muqarrib, selalu berdoa, tawakkal. Sadar akan batasannya serta berorientasi ibadah kepada Allah SWT (Taufik Pasiak, 2. SQ mengajak agar manusia menemukan pengalaman harmoni spiritual bersama Allah SWT dengan menggunakan kesucian mata hati nurani. Jika manusia mampu menggapai keharmonisan hubungan dengan Allah SWT maka dia akan merasakan hidup yang sangat tenang, damai, indah dan menjadi diri sendiri secara autentik. Instansi pendidikan mempunyai arahan dan rancangan umum dalam mengembangkan SQ bagi peserta didik dengan beberapa poin besar yaitu, peningkatan taqwa, cinta dan keimanan, perbaikan kualitas diri, kelembutan dan bebas penyakit hati (Mustika Abidin, 2. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Setelah pemaparan terkait budaya religius dan kecerdasan spiritual diatas, maka penulis mengutarakan bahwa tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kebudayaan religius dan hidden curriculum di sekolah terhadap perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik di sekolah. Bila sudah terbukti datanya, maka peneliti memberikan rekomendasi berupa langkah-langkah dan strategi untuk memodifikasi budaya dan lingkungan sekolah sehingga mempunyai kualitas budaya religiusitas yang baik yang nantinya dapat meningkatkan kecerdasan spiritual siswa peserta didik di sekolah. Sehingga sekolah tidak hanya saja sebagai lembaga yang memberikan transfer ilmu di kelas tapi juga sebagai wahana pembentukan karakter untuk para siswa dengan budaya baik yang telah dimodifikasi oleh sekolah. METODE Penulis kuantitatif sebagai metode penelitian, untuk menguji hipotesis secara statistik dan berdasarkan perolehan data di lapangan. Pengolahan data-data numerical diolah dengan metode statistik dengan menyebarkan angket dan kuesioner kepada sampelsampel di Madrasah Pembangunan dengan dibantu oleh guru-guru Pendidikan Agama Islam dan Guru Bimbingan Konseling Kuesioner merupakan bentuk kuesioner skala likert yang mempunyai instrumen penelitian kecerdasan spiritual dan budaya religius di sekolah yang diadaptasi dari para ahli bidang psikologi, ahli agama dan praktisi pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yakni metode dengan tujuan untuk memvisualisasikan atau menggambarkan hasil penelitian apa adanya (Sugiyono, 2. Penelitian ini juga disebut dengan pendekatan asosiatif, yakni penelitian yang berusaha untuk mencari dan menjelaskan hubungan kausalitas atau sebab-akibat dan menjelaskan pengaruh antara variabel-variabel dalam suatu penelitian (Hadi S. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dari penelitian langsung di lapangan, artinya penulis menggunakan penelitian lapangan . ield researc. sebagai kehidupan nyata sekaligus tempat kajian. Penelitian ini terdapat dua variabel penelitian utama, yaitu Variabel X, yaitu AoKebudayaan Religius di SekolahAo yang merupakan variabel dependen sebagai variabel X yang akan memberikan dampak dan pengaruh terhadap variabel Y yaitu AoKecerdasan SpiritualAo dimana independen yang akan diberikan pengaruh oleh variabel dependen baik pengaruhnya signifikan ataupun tidak. Budaya Religius Kecerdasan Spiritual Gambar 3. Pengaruh Budaya Religius dalam Pengembangan Kecerdasan Spiritual peserta didik Lokasi penelitian dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang beralamat di Jl. Ibnu Taimiyah IV. Pisangan. Ciputat Timur. Kota Tangerang Selatan. Provinsi Banten. Sumber data penelitian ini diambil di sekolah yang telah dituliskan sebelumnya dan didapati dua jenis data, yaitu data primer dan dan data sekunder. Dalam pengambilan sampel, penulis mengambil tiga kelas sampel yang berjumlah 90 siswa-siswi dari total keseluruhan sepuluh kelas yang ada dalam satu angkatan dengan total jumlah peserta didik sebanyak 300 peserta didik dalam satu angkatan. Dalam proses pengambilan data baik berupa data primer dan sekunder dilakukan dengan berbagai cara yaitu yang pertama observasi, kegiatan ini dilakukan dengan langsung menyaksikan proses pendidikan di kelas dan kegiatan budaya baik religius di lingkungan sekolah sesama warga Kedua dengan wawancara, penulis mewawancarai guru-guru pendidikan agama Islam, guru bimbingan dan konseling juga beberapa murid sebagai sumber tambahan data penelitian. Ketiga melalui studi dokumentasi, penulis berkunjung sekolah kemudian memperoleh beberapa dokumen resmi sekolah yang menjadi sumber pelengkap penelitian, dokumentasi yang didapatkan ialah sejarah singkat, profil, visi dan misi sekolah, struktur pengurus yayasan, struktur organisasi sekolah, tata tertib peserta didik, jadwal kegiatan belajar mengajar, jenis kegiatan kokulikuler. OSIS dan kegiatan ibadah peserta didik. Keempat dengan angket, penulis menggunakan angket dalam rangka mengukur kadar dan perkembangan budaya religius di sekolah dan pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan spiritual di sekolah. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Angket menjadi instrumen utama dalam pengambilan data primer penelitian yang mencakup indikator-indikator tentang kebudayaan religius di sekolah dan perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik sebagai instrumen valid dalam penelitian kuantitatif. Dalam angket tersebut terdapat 60 pertanyaan dan pernyataan yang mewakili setiap indikator dari dua variabel dependen dan independen. Berikut penulis uraikan dalam tabel sebaran soal yang mewakili setiap indikator dalam setiap variabel penelitian. Berikut penyebaran soal dalam angket di setiap dimensi variabel penelitian. Tabel 1. Penyebaran soal kuesioner dalam dimensi budaya religius Dimensi Sebaran Soal 1 Kurikulum pelajaran 1 2 3 4 5 6 2 Budaya kebaikan atau 7 8 9 10 11 12 tatakrama di sekolah 3 Kegiatan ibadah di 13 14 15 16 17 18 4 Perayaan hari besar 19 20 21 22 23 24 5 Berbuat baik kepada 25 26 27 28 29 30 warga sekolah Tabel 2. Penyebaran soal kuesioner dalam dimensi kecerdasan spiritual Dimensi Sebaran Soal 1 Makna hidup 2 Emosi positif 3 Implementasi ibadah dalam 4 Kegiatan Ibadah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 29 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 30 Angket dibuat dengan menggunakan pola skala likert yang berfungsi mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok dalam fenomena sosial secara kuantitatif, konkrit dan Selain itu, skala likert mampu mengukur jawaban setiap soal di angket karena mempunyai gradasi atau hirarki penilaian dari sangat positif sampai negatif yang diatur jawabannya dalam beberapa dimensi pilihan jawaban yang terlihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor penilaian skala likert dalam angket. Pernyataan Skor Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Pernyataan Tidak Setuju Sangat tidak setuju Skor Dengan angket yang disebar oleh penulis kepada peserta didik, penulis ingin mengetahui gambaran budaya religius peserta didik di sekolah apakah dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik di sekolah, bila iya, maka sejauh mana pengaruh tersebut mempengaruhi perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik. Sebelum angket itu disebar, penulis terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap angket yang akan digunakan. Uji validitas gunanya untuk mengukur apakah angket tersebut mempunyai tingkat kevalidan tiap butir soal, sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi atau keajegan instrumen pengukuran apakah alat pengukur tersebut dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Dalam uji validitas dan reliabilitas, penulis laksanakan di sekolah Madrasah Pembangunan di salah satu kelas IX dengan jumlah 30 peserta didik. Pada uji validitas penulis menggunakan uji dua sisi dengan tarif signifikan 0,05. Kriteria pengujian validitas ialah jika r hitung O r tabel . ji 2 sisi dengan sig. maka instrumen atau item-item pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total maka dinyatakan valid. Tapi jika r hitung Ou r tabel . ji 2 sisi dengan sig. maka instrumen atau item-item pertanyaan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total, maka dinyatakan tidak valid. Hasilnya, pada uji validitas Berdasarkan perhitungan rumus dan program SPSS versi 22. maka diketahui bahwa semua nilai r hitung lebih besar dari r tabel n= 30 . pada taraf signifikansi 5%. Artinya tiap item pertanyaan atau indikator variabel budaya religius di sekolah dan kecerdasan spiritual siswa berkorelasi dengan skor totalnya serta data yang dikumpulkan dinyatakan valid dan siap dianalisa. Pada uji reliabilitas, penulis menggunakan rumus alpha cronbach dengan taraf signifikansi 0,05. Berikut hasil uji reliabilitas berdasarkan angket tiap Tabel 4. Skor cronbach alpa dan nilai hitung dan R tabel setiap variabel penelitian. Variabel Alpha R tab Ket. Budaya Religius di 0,921 0,700 Reliabel Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Sekolah Kecerdasan Spiritual siswa 0,931 0,700 Reliabel Dalam tabel tersebut, setelah melakukan uji reliabilitas penulis mendapatkan nilai koefisien reliabilitas setiap dimensi ada pada nilai > 0,700, sesuai dengan kaidah rumus uji reliabilitas jika cronbach alpha ditemukan lebih besar dari 0,700 maka pernyataan-pernyataan yang menjadi instrumen tersebut dinyatakan reliabel dan dapat dijadikan instrumen yang handal. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel x, yang memberikan pengaruh dan disebut juga variabel dependen dalam hal ini ialah Kebudayaan religius di sekolah. Lalu variabel y, yang merupakan variabel yang diberikan pengaruh atau biasa disebut dengan variabel independen dalam hal ini ialah kecerdasan spiritual siswa. Dari setiap variabel-variabel tersebut mempunyai indikatorindikator tersendiri yang menjadi komponen terhadap pembentukan variabel-variabel tersebut. Berikut penulis jelaskan hasil deskripsi penelitian berdasarkan berdasarkan variabel yang ada, yang pertama Kebudayaan Religius di Sekolah, dari hasil perhitungan statistik menunjukan bahwa sampel sebanyak 90 peserta didik dalam menjawab angket, didapatkan nilai rata-rata peserta didik berada dalam nilai 4,0 dengan rincian yang terlihat pada Tabel 5. Presentasi perolehan nilai variabel x, kebudayaan religius di sekolah Klasifikasi Nilai Presentasi Nilai 3,0 Ae 3,9 44,4 % 4,0 Ae 4,9 54,5 % > 5,0 1,1 % Gambar 4. Kurva penilaian perolehan nilai variabel kebudayaan religius di sekolah. Dalam Gambar 4, diketahui bahwa dengan jumlah sampel sebanyak 90 peserta didik, didapatkan nilai rata-rata sebesar 4,0, nilai tengah sebesar 4,0 dalam skala 1 sampai dengan 5, nilai terkecil sebesar 3,0 dan terbesar 5,0. Dengan nilai tersebut, maka dapat diketahui yang pertama, dalam dimensi pembelajaran materi agama Islam berkualitas baik ada dalam nilai 3,8 dalam skala 1. 00 sampai dengan 5. 00, artinya sekolah mempunyai berhasil melaksanakan pendidikan dan pengajaran agama Islam dan langsung diamalkan di sekolah, terdapat pelatihan baca tulis QurAoan, seringkali mengadakan program keagamaan seperti pesantren kilat, ceramah agama di masjid dan acara-acara sekolah, pendekatan agama bernuansa remaja, pembelajaran agama dibingkai dengan menarik dan milenial. Kedua Dimensi perilaku dan tata krama mempunyai nilai 3,8 dalam skala 1. 00 sampai dengan 5. 00 dengan kualitas baik, artinya sekolah mempunyai keberhasilan-keberhasilan dalam mengolah dan memperbaiki budi pekerti peserta didik di sekolah yang ditanamkan berupa budaya-budaya kebaikan peserta didik berupa budaya berbicara baik antar warga sekolah, budaya berpakaian baik, sopan dan islami, saling bertegur sapa sesama warga sekolah, saling mengucapkan salam, antri dalam beberapa hal yang harus antri dan terjalin pertemanan dan hubungan baik antar warga sekolah. Ketiga ialah Dimensi kegiatan ibadah mempunyai kualitas baik ada dalam nilai 3,9 dengan skala 1. 00 sampai 00, hal itu ditandai dengan beberapa indikator yang mewakili kualitas kegiatan beribadah peserta didik di sekolah, yaitu adanya rutinitas shalat zuhur berjamaAoah, shalat duha berjamaAoah, sekolah memfasilitasi ibadah sunnah lainnya, sekolah mengadakan shalat jumAoat, guru memberikan teladan dan pengawasan dalam pelaksanaan shalat berjamaAoah, suasana antusias warga sekolah dalam melaksanakan ibadah wajib dan sunnah. Keempat dalam Dimensi perayaan hari keagamaan di sekolah mempunyai nilai baik dengan angka 3,9 dalam skala 1. 00 sampai 5. artinya sekolah dengan semua perangkatnya mampu memfasilitasi pengadaan hari raya keagamaan berupa peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan IsraAo miAoraj Nabi SAW, perayaan hari raya idul adha, silaturahmi halal bihalal setelah idul fitri dan mengadakan tabligh akbar dengan mengundang pendakwah dalam momen-momen Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 Dengan proses analisa tersebut dalam variabel pertama, yaitu variabel kebudayaan religius memberi dampak yang baik pada perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik dengan nilai sebesar 4,0 dalam skala 1. 00 sampai dengan 5. dengan rincian yang terlihat pada Tabel 6. Tabel 6. Presentasi perolehan nilai variabel y. Kecerdasan Spiritual Klasifikasi Nilai Presentasi Nilai 3,0 Ae 3,9 25,6% 4,0 Ae 4,9 72,2% > 5,0 2,2% Gambar 5. Kurva perolehan nilai variabel y, kecerdasan spiritual peserta didik. Menganalisa Gambar 5, ditemukan fakta bahwa nilai rata-rata kecerdasan spiritual terdapat pada 3,8 dalam skala 1,00 sampai 5,00. Dengan nilai tersebut ditemukan kesimpulan bahwa tingkat kecerdasan spiritual peserta didik mempunyai nilai rata-rata di atas nilai baik. Dalam memahami tabel dan grafik tersebut, penulis perlu memberikan penafsiran kualitas kecerdasan spiritual disertai dimensi-dimensi yang telah disebutkan. Dimensi makna hidup, peserta didik dalam dimensi makna hidup mempunyai nilai baik, hal itu terbukti dengan beberapa indikator dan fakta dilapangan bahwa peserta didik selalu ikhlas dalam beribadah, memiliki orientasi agar hidup memberikan manfaat kepada orang lain, ingin membahagiakan orangorang terdekat, berorientasi karena Allah dalam menjalani kehidupan, meyakini bahwa semua yang dimiliki adalah milik Allah SWT. Dimensi emosi positif, peserta didik mempunyai kualitas baik dalam dimensi emosi positif, hal itu dibuktikan dengan beberapa indikator dan fakta di lapangan bahwa peserta didik selalu semangat dalam menjalani hidup, mempunyai daya saing tinggi, berlomba dalam kebaikan, selalu menerima nasihat dan menerima kritik membangun, senang dalam melakukan kebaikan, sabar dalam menghadapi ujian dan bersyukur ketika mendapat nikmat, serta selalu berempati apabila ada teman yang tertimpa musibah, mempunyai intuisi dan perhatian terhadap sesama, mempunyai perhatian terhadap lingkungan dimana dia tinggal dan belajar. Dimensi pengalaman spiritual, peserta didik mempunyai kualitas baik dalam dimensi pengalaman hal itu dibuktikan dengan beberapa fakta dan indikator berikut : peserta didik selalu mengedepankan kepentingan bersama, peserta didik mempercayai hal-hal yang gaib berupa hari kiamat dan mempercayai keimanan seperti keimanan kepada Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai nabi dan utusan, mempercayai bahwa Tuhan adalah tempat mengadu dan berdoa. Dimensi praktik ibadah, peserta didik mempunyai kualitas baik dalam dimensi praktik ibadah, hal itu dilihat dalam beberapa indikator dan fakta peserta didik selalu melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, sering melaksanakan shalat berjamaAoah, merasa bersalah ketika tidak melaksanakan kewajiban, selalu merasa berdosa ketika melakukan hal-hal yang tidak baik, melaksanakan kewajiban Kualitas kecerdasan spiritual dengan berbagai dimensinya mempunyai kualitas baik, hal itu didapatkan karena proses penciptaan kondisi budaya religius yang dilakukan oleh sekolah. Sehingga kondisi budaya religius di sekolah dapat mendukung perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik. Data penelitian menunjukan bahwa nilai Beta Kebudayaan Religius sekolah sebesar 0,372. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa kontribusi parsial kepada kecerdasan spiritual peserta didik di sekolah sebesar 37,2%. Temuan pada penelitian ini sekaligus menguatkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Khairun Nisa . Zakaria Firdausi . dan Sandi Pratama . Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti tersebut menemukan fakta bahwa variabel kebudayaan religius di perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. Juli 2023 KESIMPULAN Pada akhirnya penelitian ini membuktikan bahwa aspek kebudayaan religius di sekolah berupa hidden curriculum sangat berpengaruh pada peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik secara signifikan. Maka sekolah harus berupaya dalam menciptakan sistem, suasana dan kondisi agar mendukung pada meningkatnya perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik. Usaha tersebut bisa dilakukan dalam mengoptimalkan semua dimensi dalam kebudayaan religius di sekolah berupa yang pertama, peningkatan pembelajaran materi keagamaan, baik berupa program khusus atau kurikuler seperti pengadaan baca tulis qurAoan, mengadakan pengajian dan sejenisnya. Kedua, memberikan teladan bagi peserta didik agar berakhlak dan bertata krama baik sesama warga sekolah seperti membiasakan bicara sopan dan membuang sampah pada tempatnya. Ketiga, memperbanyak program kegiatan ibadah di sekolah seperti puasa senin kamis, shalat duha berjamaAoah dan shalat dzuhur berjamaAoah. Keempat, selalu aktif mengadakan perayaan hari besar keagamaan. Kelima, mengadakan kontribusi sosial dan kerja bakti sosial sehingga dapat menggugah rasa intuisi dan perhatian peserta didik pada orang yang kurang UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti patut mengucapkan terima kasih dan rasa syukur kepada Allah SWT karena penulis diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan jurnal ini. Selanjutnya tak lupa syukur dan terima kasih kepada guru-guru dan siswa-siswi MTs Pembangunan UIN Jakarta yang telah terlibat dalam penelitian ini. Rasa terima kasih juga penulis ungkapkan kepada istri dan anak, dengan mereka penulis merasakan hidup lebih bermakna dan REFERENSI