Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan Abdul Hamid1. Benhur Ismail2*. Ansori Dasa Putra3. Teguh Purwito4. Nur Rosidah5 1,2,3,4,5 STIT Pringsewu *benhurismail34@gmail. How to cite . n APA Styl. : Hamid. Abdul. Ismail. Benhur. Putra. Ansori Dasa. Purwito. Teguh. Rosidah. Nur. Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 18 . , pp. Abstract: Parental involvement as an active partner in the educational ecosystem is a critical factor influencing education quality. This study aims to analyze the actual condition of parental involvement, identify barriers and facilitators, and formulate strategies to enhance parental engagement at UPT SMPN 1 Umpu Semenguk. Way Kanan. This research employed a qualitative approach with a case study design conducted in September-October 2025. Data were collected through in-depth interviews with the school principal, vice principals, committee coordinator, guidance counselors, homeroom teachers, and parent representatives, as well as observations of activities involving parents and documentation study of school programs. Data analysis utilized the interactive analysis model of Miles. Huberman, and Saldaya with data triangulation to ensure the credibility of findings. Results indicate that parental involvement remains at the passive participation stage, dominated by financial contributions . %) and formal attendance . %), while time contributions and decisionmaking participation are extremely low. Primary barriers include work commitments . %), lack of curriculum understanding . %), and one-way communication . %), whereas facilitators include principal leadership . %) and student-related triggers . %). Recommended strategies encompass enhancing two-way communication, empowering parents as mentor teams and resource persons, relevant parenting training programs, and formal recognition. The proposed partnership ecosystem model adopts Epstein's Framework of Six Types of Involvement with local contextualization to sustainably improve education quality. Keywords: parental involvement, school-family partnership, education quality ecosystem. Epstein's Framework, empowerment strategy. Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan PENDAHULUAN Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak diakui secara luas sebagai salah satu faktor penting yang memengaruhi mutu hasil belajar serta perkembangan karakter siswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keikutsertaan aktif orang tua dalam pendidikan bukan hanya meningkatkan pencapaian akademik, namun juga mendukung perkembangan sosial-emosional anak dan menciptakan iklim kebersamaan antara sekolah dan keluarga (J. Epstein. Henderson & Mapp, 2002. Jeynes, 2. Dalam konteks UPT SMPN 1 Umpu Semenguk, isu rendahnya keterlibatan orang tua menjadi tantangan tersendiri yang berimplikasi pada tingkat kehadiran, minimnya kontribusi ide, hingga fokus yang sempit hanya pada aspek akademik, sehingga menghambat terciptakan ekosistem pendidikan yang holistik dan partisipatif. Dalam ekosistem pendidikan yang ideal, peran orang tua tidak terbatas sebagai pihak penerima informasi dari sekolah. mereka diharapkan menjadi mitra aktif yang ikut serta dalam proses pengambilan keputusan, desain pembelajaran, dan evaluasi program. Realitas di banyak sekolah, termasuk UPT SMPN 1 Umpu Semenguk, masih menunjukkan adanya jurang pemisah antara harapan tersebut dan praktik di lapangan. Kesenjangan inilah yang menjadi alasan utama mengapa diperlukan penelitian dan pengembangan strategi konkret untuk meningkatkan keterlibatan orang tua supaya pendidikan yang berkualitas dapat terwujud secara merata (Hoover-Dempsey & Sandler, 1997. Patrikakou & Anderson, 2. Keberhasilan organisasi pendidikan dalam mencapai tujuan dan menghadapi berbagai tantangan sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya manusia, terutama dalam konteks pengembangan profesionalisme guru dan tenaga Manajemen sumber daya manusia di lembaga pendidikan merupakan faktor penentu kinerja organisasi, di mana ketepatan pemanfaatan dan pengintegrasian SDM dalam satu kesatuan gerak akan meningkatkan kapasitas organisasi dalam mencapai tujuan peningkatan mutu pendidikan (Ayuningsih et , 2. Rendahnya keterlibatan orang tua telah terbukti memiliki implikasi negatif, antara lain turunnya motivasi belajar siswa, melemahnya kontrol sosial di lingkungan sekolah, serta berkurangnya inovasi dan responsivitas program Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan mutu pendidikan antarkelompok masyarakat, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya (Deslandes & Bertrand, 2005. Fan & Chen, 2. Oleh karena itu, penyusunan strategi yang efektif, praktis, dan berbasis pada kondisi aktual sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian terkait strategi peningkatan peran orang tua sebagai mitra sekolah bersifat relevan bukan hanya untuk kepentingan sekolah secara internal, tetapi juga menjadi kajian penting dalam pengembangan manajemen pendidikan di Indonesia secara umum (J. Epstein et al. , 2018. Sudjana, 2. Kajian ini akan memberikan kontribusi teoretis dalam literatur akademik, khususnya yang Abdul Hamid. Benhur Ismail. Ansori Dasa Putra. Teguh Purwito. Nur Rosidah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 245-266 membahas model kolaborasi dan kemitraan sekolah-keluarga, yang selama ini masih relatif minim diangkat dalam konteks pendidikan Indonesia di tingkat satuan pendidikan. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam merancang program kerja atau kebijakan baru yang melibatkan orang tua secara Bagi orang tua, temuan dan strategi yang dikembangkan dapat meningkatkan pemahaman serta motivasi mereka untuk berpartisipasi aktif dalam proses pendidikan. Bahkan untuk peneliti lain, penelitian ini dapat menjadi pijakan awal kajian serupa di tempat lain, sehingga hasilnya tidak hanya aplikatif, melainkan juga dapat direplikasi dan diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing sekolah atau wilayah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus . ase stud. yang berfokus pada eksplorasi strategi peningkatan keterlibatan orang tua di UPT SMPN 1 Umpu Semenguk. Way Kanan, pada SeptemberOktober 2025. Studi kasus dipilih karena kemampuannya mengeksplorasi fenomena secara mendalam dalam konteks nyata, khususnya dalam memahami bagaimana strategi keterlibatan orang tua dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem mutu pendidikan. Sumber data dalam penelitian ini melibatkan informan kunci seperti Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum/Kesiswaan, dan Koordinator Komite Sekolah, serta informan utama yang terdiri dari Guru Bimbingan Konseling (BK). Wali Kelas, dan perwakilan orang tua siswa dengan kategori keterlibatan rendah, sedang, dan tinggi (Bennett. Creswell & Creswell, 2017. Robert, 2013. Takona, 2024. Yin, 2. Teknik pengumpulan data mencakup wawancara mendalam . n-depth intervie. untuk menggali perspektif mendalam dari para informan, observasi partisipatif/non-partisipatif terhadap kegiatan yang melibatkan orang tua seperti rapat, pengambilan rapor, dan parenting class, serta studi dokumentasi yang menganalisis dokumen program sekolah, data kehadiran orang tua, notulen rapat komite, dan laporan kegiatan sekolah (Creswell & Creswell, 2. Teknik analisis data dalam penelitian ini mengikuti model analisis interaktif yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu reduksi data, penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles et al. , 2. Reduksi data dilakukan dengan memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data dari catatan lapangan, transkrip wawancara, dan dokumen untuk mengidentifikasi pola-pola penting yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian data disusun dalam bentuk narasi, matriks, atau bagan alir untuk memudahkan pemahaman dan interpretasi temuan. Untuk memastikan kredibilitas dan validitas temuan, penelitian ini menerapkan triangulasi data dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumen sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif dan mengurangi bias dari metode tunggal (Carter. Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan Denzin & Lincoln, 2011. Flick, 2018. Patton, 2. Triangulasi tidak hanya meningkatkan keabsahan hasil penelitian, tetapi juga memperkaya temuan dengan menangkap kompleksitas fenomena keterlibatan orang tua dari berbagai sudut pandang. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kondisi Keterlibatan Orang Tua Aktual Hasil penelitian menunjukkan bahwa program kemitraan orang tua yang telah berjalan di UPT SMPN 1 Umpu Semenguk mencakup beberapa bentuk kegiatan, seperti parenting class yang dilaksanakan dua kali per semester, komunikasi melalui grup WhatsApp kelas, dan home visit untuk kasus-kasus tertentu yang memerlukan pendekatan personal. Parenting class dirancang untuk memberikan edukasi kepada orang tua mengenai perkembangan remaja dan strategi mendampingi anak dalam belajar (Baker et al. , 2016. Epstein & Sheldon, 2. , namun tingkat kehadiran orang tua masih rendah dengan rata-rata hanya 40% dari total undangan. Komunikasi via WhatsApp menjadi saluran yang paling sering digunakan oleh wali kelas untuk menyampaikan informasi administratif seperti jadwal kegiatan, pengumuman ujian, dan pemberitahuan pembayaran, tetapi interaksi yang terjadi cenderung bersifat satu arah dari sekolah ke orang tua yang sejalan dengan penelitian Goodall & Montgomery . Dari segi tingkat dan bentuk keterlibatan, ditemukan bahwa mayoritas orang tua di sekolah ini terlibat secara terbatas pada aspek sumbangan dana dan kehadiran dalam acara formal seperti pengambilan rapor. Kontribusi waktu untuk kegiatan sukarela di sekolah sangat minim, dengan hanya sekitar 15% orang tua yang pernah terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler atau membantu kegiatan Kontribusi ide atau partisipasi dalam pengambilan keputusan hampir tidak ada, karena forum yang tersedia seperti komite sekolah belum berfungsi optimal sebagai wadah aspirasi orang tua. Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua masih berada pada tahap partisipasi pasif, jauh dari kondisi ideal sebagai mitra aktif dalam ekosistem pendidikan (Hornby & Lafaele, 2023. LaRocque et al. , 2011. Murray et al. , 2. Beberapa penelitian mengungkapkan adanya kesenjangan pandangan antara pihak sekolah dan orang tua mengenai peran keterlibatan orang tua dalam pendidikan (Bartel, 2010. Hill & Tyson, 2009. Pushor & Ruitenberg, 2. Pihak sekolah cenderung memandang bahwa orang tua kurang peduli terhadap pendidikan anak karena rendahnya kehadiran dalam pertemuan dan minimnya respon terhadap undangan kegiatan, sementara orang tua merasa bahwa peran mereka terbatas hanya pada mendukung kebutuhan finansial dan memastikan anak datang ke sekolah. Orang tua juga mengungkapkan bahwa mereka merasa kurang dilibatkan dalam proses pendidikan karena kurangnya informasi yang jelas tentang kurikulum dan perkembangan anak secara komprehensif. Kesenjangan persepsi ini menjadi hambatan fundamental yang perlu dijembatani melalui Abdul Hamid. Benhur Ismail. Ansori Dasa Putra. Teguh Purwito. Nur Rosidah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 245-266 strategi komunikasi dan pemberdayaan yang lebih efektif. Tabel 1. Tingkat dan Bentuk Keterlibatan Orang Tua di UPT SMPN 1 Umpu Semenguk Bentuk Keterlibatan Persentase Frekuensi per Kategori Partisipasi Semester Keterlibatan Sumbangan Dana 2-3 kali Tinggi Kehadiran dalam Acara Formal 2 kali Sedang Kehadiran Parenting Class 2 kali Rendah Kontribusi Waktu (Sukarel. Tidak teratur Sangat Rendah Kontribusi Ide/Partisipasi Keputusan Jarang Sangat Rendah Komunikasi Aktif via WhatsApp Mingguan Sedang Sumber: Data Penelitian, 2025 Identifikasi Faktor Penghambat dan Pendorong Keterlibatan Orang Tua Faktor penghambat keterlibatan orang tua yang teridentifikasi dalam penelitian ini mencakup beberapa aspek utama, dengan kesibukan orang tua dalam pekerjaan menjadi hambatan paling dominan yang disebutkan oleh 78% informan orang tua. Banyak orang tua bekerja sebagai petani atau buruh harian dengan jam kerja yang tidak fleksibel, sehingga sulit menghadiri kegiatan sekolah yang umumnya dijadwalkan pada jam kerja. Kurangnya pemahaman orang tua tentang kurikulum dan sistem pendidikan juga menjadi penghambat signifikan, karena mayoritas orang tua memiliki latar belakang pendidikan maksimal SMP sehingga merasa tidak kompeten untuk mendampingi anak dalam pembelajaran. Komunikasi yang cenderung satu arah dari sekolah ke orang tua tanpa adanya mekanisme feedback yang terstruktur membuat orang tua merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi atau kekhawatiran mereka. Selain hambatan struktural dan personal, ditemukan pula hambatan psikologis berupa rendahnya self-efficacy orang tua dalam berkontribusi pada pendidikan anak di sekolah. Orang tua merasa bahwa pendidikan adalah domain eksklusif guru dan sekolah, sehingga peran mereka hanya sebatas mendukung dari Keterbatasan akses teknologi juga menjadi kendala, terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi rendah yang tidak memiliki smartphone atau paket internet memadai untuk mengakses informasi dari grup WhatsApp secara Hambatan-hambatan ini saling berinteraksi dan menciptakan siklus rendahnya partisipasi yang perlu diputus melalui intervensi sistematis dan Di sisi lain, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa faktor pendorong yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan keterlibatan orang tua. Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner dan suportif terhadap program kemitraan keluarga menjadi pendorong utama, terbukti dari upaya kepala sekolah untuk mengadakan home visit dan membuka komunikasi personal dengan orang Adanya trigger berupa masalah atau prestasi khusus pada siswa juga mendorong orang tua untuk lebih aktif berkomunikasi dengan pihak sekolah, menunjukkan bahwa keterlibatan meningkat ketika ada urgensi atau kebutuhan Sense of belonging yang mulai terbentuk melalui pertemuan informal dan kegiatan sosial sekolah menciptakan ikatan emosional antara orang tua dengan komunitas sekolah, meskipun hal ini masih perlu diperkuat secara sistematis. Tabel 2. Faktor Penghambat dan Pendorong Keterlibatan Orang Tua Kategori Faktor Penghambat Faktor Pendorong Personal Kesibukan kerja . %), rendahnya Kepedulian terhadap masa depan pemahaman kurikulum . %), anak . %), trigger rendah self-efficacy . %) masalah/prestasi anak . %) Komunikasi satu arah . %). Kepemimpinan kepala sekolah jadwal kegiatan tidak fleksibel %), program home visit Sosial- Keterbatasan akses teknologi Sense of belonging melalui Ekonomi . %), kendala transportasi . %) kegiatan sosial . %), dukungan Struktural komunitas . %) Psikologis Persepsi pendidikan sebagai Undangan personal dari guru domain sekolah . %) . %) Sumber: Data Hasil Wawancara, 2025 Formulasi Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Strategi komunikasi yang direkomendasikan mencakup peningkatan saluran komunikasi dua arah yang lebih terstruktur dan responsif terhadap kebutuhan orang tua. Penggunaan aplikasi khusus manajemen sekolah yang memungkinkan orang tua untuk melihat perkembangan akademik anak secara real-time, memberikan feedback, dan mengajukan pertanyaan langsung kepada guru dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi hambatan komunikasi. Program personal coaching untuk orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus atau kesulitan belajar dapat membantu meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri orang tua dalam mendampingi pembelajaran di rumah. Penjadwalan pertemuan yang fleksibel, misalnya dengan menyediakan opsi pertemuan di luar jam kerja atau melalui platform online, dapat mengakomodasi kendala waktu yang dihadapi orang tua (J. Epstein & Sheldon, 2016. Goodall & Montgomery, 2023. Hornby & Lafaele, 2. Strategi pemberdayaan . difokuskan pada peningkatan Abdul Hamid. Benhur Ismail. Ansori Dasa Putra. Teguh Purwito. Nur Rosidah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 245-266 peran aktif orang tua dalam pengambilan keputusan operasional dan program Pembentukan tim mentor orang tua yang terdiri dari orang tua dengan tingkat keterlibatan tinggi dapat membantu mengajak dan membimbing orang tua lain untuk berpartisipasi lebih aktif dalam kegiatan sekolah. Melibatkan orang tua sebagai narasumber di kelas sesuai dengan keahlian atau profesi mereka tidak hanya meningkatkan sense of belonging, tetapi juga memberikan pembelajaran kontekstual yang bermakna bagi siswa. Revitalisasi komite sekolah menjadi forum yang benar-benar representatif dan fungsional dalam menyampaikan aspirasi orang tua serta terlibat dalam evaluasi program sekolah merupakan langkah penting untuk menciptakan ekosistem kemitraan yang seimbang. Strategi pelatihan . apacity buildin. dan pengakuan . dirancang untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi orang tua dalam keterlibatan pendidikan. Program parenting yang relevan dengan konteks perkembangan remaja, seperti workshop mengenai kesehatan mental remaja, pendampingan dalam era digital, dan strategi komunikasi efektif orang tua-anak, perlu dikembangkan secara sistematis dengan melibatkan narasumber kompeten. Literasi digital untuk orang tua juga penting agar mereka dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran dan komunikasi dengan sekolah. Pemberian apresiasi formal terhadap peran aktif orang tua, misalnya melalui penghargaan "Parent of the Year" atau sertifikat partisipasi, dapat meningkatkan motivasi dan menciptakan model positif bagi orang tua lainnya. Dokumentasi dan publikasi kontribusi orang tua dalam media sosial sekolah juga dapat memperkuat sense of recognition dan belonging dalam komunitas sekolah (Bartel, 2010. Goodall & Montgomery, 2023. Hill & Tyson, 2009. Murray et al. , 2. Program capacity building untuk guru dan tenaga kependidikan melalui pelatihan pengembangan kurikulum, evaluasi pembelajaran, dan pembinaan berkelanjutan menjadi strategi penting dalam meningkatkan kompetensi SDM pendidikan (Ayuningsih et al. , 2. Strategi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas individual guru, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan iklim organisasi yang kondusif untuk pengembangan profesional berkelanjutan. Model Ekosistem Kemitraan Mutu Pendidikan Penelitian ini mengadopsi dan mengontekstualisasi Epstein's Framework of Six Types of Involvement sebagai kerangka model keterlibatan orang tua yang ideal untuk UPT SMPN 1 Umpu Semenguk. Framework ini mencakup enam tipe keterlibatan: . Parenting, yaitu membantu keluarga membangun lingkungan rumah yang mendukung pembelajaran. Communicating, yaitu membangun komunikasi dua arah antara sekolah dan keluarga. Volunteering, yaitu melibatkan orang tua sebagai sukarelawan dalam kegiatan sekolah. Learning at Home, yaitu memberikan informasi dan panduan kepada orang tua untuk mendukung pembelajaran di rumah. Decision-making, yaitu melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan sekolah. Collaborating with Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan Community, yaitu mengintegrasikan sumber daya dan layanan komunitas untuk memperkuat program sekolah (J. Epstein & Sheldon, 2. Kontekstualisasi framework ini mempertimbangkan karakteristik sosial-ekonomi, budaya, dan kondisi geografis spesifik di wilayah Way Kanan. Tabel 3. Model Ekosistem Kemitraan Berbasis Epstein's Framework untuk UPT SMPN 1 Umpu Semenguk Tipe Strategi Implementasi Indikator Timeline Keterlibatan Parenting Communicating Keberhasilan Workshop parenting setiap Partisipasi Ou70% semester, home visit rutin dalam workshop Aplikasi manajemen Response rate sekolah, grup WhatsApp orang tua Ou60% 6 bulan 3 bulan Volunteering Rekrutmen parent 30% orang tua volunteer, jadwal fleksibel aktif sebagai 12 bulan Learning at Home Panduan pembelajaran di Peningkatan rumah, coaching individu hasil belajar 12 bulan siswa 15% Decision-making Revitalisasi komite sekolah, 50% keputusan forum aspirasi rutin melibatkan input 6 bulan orang tua Collaborating Kemitraan dengan tokoh 3 program with Community masyarakat, organisasi lokal 12 bulan berjalan per Model ekosistem kemitraan yang diusulkan menempatkan siswa sebagai pusat dengan tiga pilar utama yang saling berinteraksi: sekolah . uru dan tenaga kependidika. , keluarga . rang tua dan anggota keluarga lainny. , dan komunitas . okoh masyarakat, alumni, dan organisasi loka. Interaksi ketiga pilar ini perlu difasilitasi melalui mekanisme formal seperti komite sekolah yang aktif, parentteacher association (PTA), dan forum-forum informal seperti kegiatan sosial keagamaan atau budaya lokal yang dapat menjadi media natural untuk membangun relasi (Baker et al. , 2016. LaRocque et al. , 2. Implementasi model ini memerlukan kepemimpinan transformatif dari kepala sekolah yang mampu memfasilitasi perubahan mindset dari keterlibatan orang tua sebagai objek menjadi subjek aktif dalam peningkatan mutu pendidikan. Peran guru sebagai Abdul Hamid. Benhur Ismail. Ansori Dasa Putra. Teguh Purwito. Nur Rosidah LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 245-266 connector antara sekolah dan keluarga juga krusial, sehingga peningkatan kompetensi guru dalam membangun kemitraan dengan orang tua perlu menjadi bagian dari program pengembangan profesional berkelanjutan. Proyeksi dampak implementasi strategi dan model ini terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah mencakup beberapa aspek signifikan. Pertama, peningkatan prestasi akademik siswa diharapkan terjadi melalui dukungan pembelajaran yang konsisten di rumah dan sekolah. Kedua, perbaikan perilaku dan sikap siswa dapat terwujud melalui monitoring dan bimbingan yang lebih intensif dari kolaborasi guru dan orang tua. Ketiga, peningkatan efektivitas program sekolah karena adanya masukan dan dukungan dari perspektif orang tua yang lebih memahami kebutuhan dan kondisi siswa di luar lingkungan sekolah. Keempat, penguatan sense of community dan kepercayaan publik terhadap sekolah yang pada akhirnya dapat meningkatkan reputasi dan daya tarik sekolah di mata masyarakat. Keberhasilan implementasi model ini memerlukan komitmen jangka panjang, evaluasi berkala, dan penyesuaian strategi berdasarkan dinamika yang berkembang di lapangan. SIMPULAN Penelitian ini menghasilkan beberapa simpulan penting terkait strategi peningkatan keterlibatan orang tua sebagai mitra dalam ekosistem mutu pendidikan di UPT SMPN 1 Umpu Semenguk. Pertama, kondisi aktual keterlibatan orang tua masih berada pada tahap partisipasi pasif yang didominasi oleh sumbangan dana . %) dan kehadiran dalam acara formal . %), sementara kontribusi waktu sebagai sukarelawan dan partisipasi dalam pengambilan keputusan sangat minim, yaitu hanya 15% dan 5%. Kedua, faktor penghambat utama yang teridentifikasi meliputi kesibukan kerja orang tua . %), kurangnya pemahaman tentang kurikulum . %), komunikasi satu arah dari sekolah . %), dan rendahnya self-efficacy orang tua . %), sementara faktor pendorong mencakup kepemimpinan kepala sekolah yang visioner . %), adanya trigger masalah atau prestasi anak . %), dan mulai terbentuknya sense of belonging melalui kegiatan sosial . %). Ketiga, formulasi strategi peningkatan keterlibatan orang tua yang direkomendasikan mencakup empat pilar utama, yaitu: . strategi komunikasi melalui penggunaan aplikasi manajemen sekolah dan penjadwalan fleksibel. strategi pemberdayaan dengan membentuk tim mentor orang tua dan melibatkan mereka sebagai narasumber. strategi pelatihan berupa program parenting tentang kesehatan mental remaja dan literasi digital. strategi pengakuan melalui apresiasi formal terhadap peran aktif orang tua. Keempat, model ekosistem kemitraan yang diusulkan mengadopsi dan mengkontekstualisasi Epstein's Framework of Six Types of Involvement dengan menempatkan siswa sebagai pusat dan tiga pilar utama . ekolah, keluarga, komunita. yang saling berinteraksi melalui mekanisme formal dan informal. Implementasi strategi dan Strategi Peningkatan Keterlibatan Orang Tua Siswa sebagai Mitra dalam Ekosistem Mutu Pendidikan model ini diproyeksikan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa, memperbaiki perilaku dan sikap siswa, meningkatkan efektivitas program sekolah, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat direkomendasikan adalah sebagai berikut. Pertama, bagi pihak sekolah, perlu segera mengimplementasikan strategi komunikasi dua arah yang terstruktur melalui penggunaan aplikasi manajemen sekolah dan menjadwalkan pertemuan di luar jam kerja untuk mengakomodasi kendala waktu orang tua. Revitalisasi komite sekolah menjadi forum yang benar-benar representatif dan fungsional juga perlu menjadi prioritas untuk menciptakan ruang partisipasi orang tua dalam pengambilan keputusan. Kepala sekolah perlu terus memperkuat kepemimpinan transformatifnya dengan mengintegrasikan program peningkatan kompetensi guru dalam membangun kemitraan dengan orang tua sebagai bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan. Kedua, bagi orang tua, diperlukan peningkatan kesadaran dan pemahaman bahwa peran mereka tidak terbatas pada dukungan finansial, tetapi juga mencakup keterlibatan aktif dalam proses pendidikan anak di sekolah dan di rumah. Orang tua perlu memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkomunikasi dengan guru, menghadiri pertemuan sekolah, dan terlibat dalam kegiatan sukarela sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Ketiga, bagi Dinas Pendidikan dan stakeholder terkait, perlu memberikan dukungan kebijakan dan anggaran untuk program capacity building bagi sekolah dalam mengembangkan kemitraan dengan orang tua, serta memfasilitasi pelatihan bagi kepala sekolah dan guru tentang strategi efektif melibatkan orang tua. Keempat, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan metode penelitian tindakan . ction researc. untuk mengevaluasi efektivitas implementasi strategi yang telah dirumuskan, serta memperluas kajian pada konteks sekolah dengan karakteristik sosial-ekonomi dan geografis yang berbeda agar diperoleh model kemitraan yang lebih komprehensif dan dapat digeneralisasi. DAFTAR PUSTAKA