Hymnos Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen Volume 1 No. : 88-105 e-ISSN 3109-2586 A Elok Kartika Wulansari. Petrus Zendrato, 2025 Diterbitkan oleh: LPPM STTII Ambon Diajukan: 04 Maret 2025 Direvisi: 15 Mei 2025 Diterima: 30 Mei 2025 PENGGUNAAN RETORIKA AYUB 2:9-10 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEHARMONISAN RUMAH TANGGA MASA KINI Elok Kartika Wulansari1*. Petrus Zendrato2 GMI Macedonia Teluk Setimbul1 Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta2 Korespondensi penulis: elokkartikawulansari@gmail. Abstract: In Job 2:9-10 there is the use of rhetoric through Job's answer to his wife in understanding God's will through reality and the firmness in maintaining faith through the process. This article aims to apply the use of rhetoric in Job 2:910 and its implications for today's household harmony. In the literature review, there is a gap in previous research in discussing this rhetorical context of Job's response. Based on the qualitative method in the literature approach, this study found several things, namely: first, that the use of the rhetoric of Job 2:9 is a wise thing to be able to maintain harmony in today's households, and the rhetoric of Job 2:10 is Job's assertiveness in declaring his faith before his wife. second, the implications that can be applied to today's household harmony, especially for believers' households, are: . Husband and wife must live in fear of God. Husband and wife must love one . Husbands and wives must be faithful. Wives are to submit to their husbands. Husbands are to be firm against sin in the family. Key Words: Rhetoric. Husband. Wife. Harmony. Household Abstrak: Dalam Ayub 2:9-10 terdapat penggunaan retorika lewat jawabn Ayub kepada istrinya dalam memahami kehendak Allah lewat kenyataan yang terjadi dan ketegasan dalam mempertahankan iman dalam menjalani proses. Artikel ini bertujuan untuk menerapkan penggunaan retorika dalam Ayub 2:9-10 dan implikasinya terhadap keharmonisan rumah tangga masa kini. Dalam penelusuran literatur, terdapat kesenjangan peneltian sebelumnya dalam membahas konteks retorika jawabn Ayub ini. Berdasarkan metode kualitatif dalam pendekatan kepustakaan maka penelitian ini menemukan beberapa hal yakni: pertama, bahwa penggunaan retorika Ayub 2:9 merupakan hal yang bijak untuk dapat menjaga keharmonisan dalam rumah tangga masa kini dan retorika Ayub 2:10 merupakan ketegasan Ayub menyatakan imannya dihadapan istrinya. kedua, impikasi yang dapat diterapkan terhadap keharmonisan rumah tangga masa kini khusunya bagi rumah tangga orang percaya adalah: . Suami dan istri harus hidup takut akan Tuhan. Suami dan istri harus saling mengasihi. Suami dan istri harus setia. Istri harus tunduk pada suami dan . Suami harus tegas terhadap dosa dalam keluarga. Kata-kata kunci: Retorika. Suami. Istri. Keharmonisan. Rumah Tangga Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Pendahuluan Hidup manusia tidak pernah luput dari permasalahan. Ketika permasalahan datang manusia tidak dapat menghindarinya karena masalah selalu ada dalam perjalanan hidup setiap Dalam pandangan iman Kristiani permasalahan merupakan ujian untuk pendewasaan iman seseorang, sehingga ketika permasalahan dialami maka diharapkan seseorang akan bertumbuh dalam pengenalannya kepada Allah. 1 Kitab Ayub merupakan kitab dengan kunci utamanya ketidakpahaman. Kitab ini tidak diketahui siapa penulisnya. Dalam kitab ini. Ayub merupakan tokoh utama yang memiliki harta berlimpah, hidup benar dan tidak melakukan yang jahat (Ayub 1:. Dalam Ayub 2:19-10 terdapat teks yang kental sekali dengan penggunaan retorika yang menjadi bagian dari komunikasi. 2 Teks ini menjelaskan bagaimana Ayub menjawab atas perkataan istrinya terhadap penderitaan yang mereka alami. Penggunaan retorika ini merupakan sebuah komunikasi antara Ayub dan istrinya dengan tujuan untuk mengubah, meyakinkan dan menyadarkan istrinya untuk tidak menjadi bodoh dengan menyalahkan Allah akan keadaan rumah tangga yang sedang dalam permasalahan. 3 Dalam jurnalnya juga Santoso menjelaskan peran istri Ayub dilihat secara positif, di mana istri Ayub sebagai pendamping yang setia, menjadi pendengar atas keluhan Ayub dan merawat Ayub. 4 Sementara Benitez menulis pandangan istri Ayub berdasarkan perspektif Allah yang penuh kasih, bagaimana mungkin membiarkan Ayub dan keluarganya, mengalami penderitaan sedemikian hebatnya. Seharusnya Allah tampil untuk menolong bukannya membiarkan hal ini terjadi. Menurutnya Allah tidak adil atas kehidupan 5 Senada dengan itu Lier dalam tulisannya, juga mengangkat maslah retorika dalam analisis kata A( ocAbarek. sebagai sebuah kiasan eufemisme, yang sekalipun makna literalnya AuberkatAy tetapi sebenarnya memiliki penekanan ketidaksetujuan istri Ayub terhadap Allah yang mengizinkan segala sesuatu terjadi atas dirinya dan keluarganya. Kondisi ini diperparah dari sikap Ayub suaminya yang tetap memilih untuk setia kepada Allah. 6 Benitez dan Lier sepakat bahwa dari sikap kemarahan istrinya atas ketidakadilan Allah dan atas kesetiaan suaminya, maka muncul argumentasi retorika Ayub untuk menyadarkan istrinya dan memposisikan Tuhan sebagai pihak yang tetap melakukan kebaikan. Pendapat Santoso dan Benitez serta Lier sangat bertolak belakang. Dupersepektif ini sementara memposisikan argumentasi atas sikap istri Ayub yang memicu pendapat retorika Ayub dalam menjelaskan situasi. Banyak para ahli yang memberikan penafsiran yang berbeda terhadap penggunaan retorika dalam Ayub 2:9-10. Sekundus Septo Pigang Ton. AuPENDERITAAN SEBAGAI PROSES PEMURNIAN IMAN AKAN ALLAH ( TAFSIRAN ATAS KITAB AYUB 2 : 1-10 ),Ay Jurnal Matetes 4, no. : 27Ae38. Piyango R. Cabrera. AuIn the Footsteps of JobAos Wife. Sophia and Narratives of the Feminine in the Book of Job . ,9-10. ,Ay Revista de interpretayyo byblica latino-american 90, no. : 59-70. , doi:10. 15603/16763394/ribla. Giancarlo. Toloni. AuTWO PORTRAITS OF JOBAoS WIFE (JOB 2: 9-. ,Ay Sefarad Journal 75, no. : 199Ae Agus Santoso. AuPeran Istri Ayub Dalam Pendampingan Bagi Penderitaan Suaminya (Melihat Secara Positif Akan Peran Istri Ayu. Ay . Larisa M. Grams-Benytez. AuAn Unheard Voice amidst the Commotion: Analysis of Job 2: 9-10 in Light of the Law of Retribution. ",Ay Journal of Latin American Hermeneutics 30, no. : 1Ae15. Lier. AuTRANSLATING A ocAIN JOB 2 : 9- A FUNCTIONALIST APPROACH,Ay Acta Theologica 38, no. : 105Ae122. Beberapa komentari yang penulis baca seperti Pulpit Commentary,7 Wycliffe Bible Commentary,8 Matthew Henry Commentary9 semua memberikan pandangan negatif terhadap sikap istri Ayub. Mereka berpendapat bahwa istri Ayub disamakan dengan Hawa yang digunakan iblis sebagai alatnya untuk menjadi pencoba bagi suaminya. memunculkan pertanyaan bagaimana penggunaan retorika Ayub 2:9-10 dan implikasinya terhadap keharmonisan rumah tangga masa Berbagai argumentasi dan perspektif inilah yang menjadi dasar penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis bagaimana penggunaan retorika dalam Ayub 2:9-10 dan implikasinya terhadap keharmonisan rumah tangga masa kini. Dengan melihat penggunaan retorika Ayub 2:9-10 diharapkan dapat membantu suami serta istri dalam menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Mengapa hal ini perlu? karena Penggunaan retorika dalam Ayub 2:9-10 dapat dijadikan acuan bagi keharmonisan rumah tangga masa kini terutama bagi rumah tangga orang percaya. Retorika dalam Ayub 2:10 merupakan ketegasan Ayub menyatakan imannya dihadapan istrinya dan menyadarkan istrinya untuk tidak menjadi bodoh dengan menyalahkan akan keadaan rumah tangga yang sedang dalam permasalahan. Metode Metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan kepustakaan digunakan untuk menulis dan meneliti jurnal ini. Penulis menggunakan literatur Alkitab, buku, jurnal yang berhubungan pada penggunaan retorika Ayub 2:9-10 dan dikaitkan dengan implikasinya terhadap keharmonisan rumah tangga masa kini serta menganalisis teks Ayub 2:9-10 dengan melakukan Oleh sebab itu beberapa hal yang dilakukan dalam peneitian ini, adalah sebagai berikut: pertama, analisis leksikal dan gramatika, lewat proses eksegesis Ayub 2:9-10 untuk menemukan makna yang sebenarnya dari masing-masing kata dalam bahasa Ibrani yang digunakan, agar lebih memperjelas maksud penulis. kedua, analisis literal dan retorika, yang bertujuan mengamati berbagai versi terjemahn dan makan penggunaan retorika yang digunakan dalam berbagai terjemahan yang digunakan, sekaligus melihat korelasinya dengan konteks hubungan suami istri dalam membina keharmonsian keluarga. dan ketiga, impliasi terhadap keharmonisan rumah tangga masa kini. Hasil penelitan ini dapat menajdi rujukan bagi suami dan istri serta bagi konselor keluarga dalam memberikan konseling kepada psangan suami-istri. Temuan dan Pembahasan Dalam Ayub 1 dan 2 diceritakan bagaimana Ayub seorang yang hidup benar tetapi mendapat penderitaan yang sangat berat. Ayub adalah orang yang berlimpah harta, yang hidup benar dan adil serta melakukan perbuatan yang baik. Setiap kali anak-anak Ayub mengadakan pesta, setelah itu Ayub selalu memberikan korban bakaran untuk anak-anaknya karena Ayub Henry Donald Maurice Spence-jones. THE COMPLETE PULPIT COMMENTARY Volume 3-1 Chronicles to Job, ed. Joseph S. Exell (Harington. Denver. USA: Delmarva Publications, 2. , 405-415. Meredith G. Kline. The Wycliffe Bible Commentary (Ayu. , ed. Charles. Pfeiffer and Everett F. Harrison, 3rd ed. (Malang: Gandum Mas, 2. , 255-260. Matthew Henry. Matthew Henry Concise Commentary on the Whole Bible (Super Value Serie. (New York: Thomas Nelson Books Publisher, 2. , 3441-3450. kuatir jika anak-anaknya sudah berbuat dosa serta mengatai Allah. 10 Penderitaan Ayub dimulai ketika Allah mengijinkan Iblis untuk mengambil segala milik Ayub yaitu harta kekayaannya, anakanaknya bahkan Ayub menderita sakit. Iblis berpikir jikalau semua itu diambil dari Ayub maka Ayub akan mengutuki Allah. Iblis menilai jika selama ini Ayub saleh karena Allah memberkati Ayub bahkan apa yang Ayub miliki bertambah banyak . eori retribus. Memang semua yang dimiliki Ayub sudah lenyap. Ayub tidak memiliki apapun lagi selain istri dan nyawanya sendiri. Walaupun dalam Ayub 2:9 istri Ayub pada akhirnya tidak sanggup menghadapi penderitaan dalam rumah tangga mereka karena terlalu berat penderitaan itu, namun dalam kitab Ayub tidak pernah diceritakan bahwa istrinya pergi meninggalkan Ayub. Ketidakpahaman istri Ayub terhadap penderitaan yang terjadi dalam rumah tangga mereka membuat dia mengalami goncangan sehingga tidak dapat berfikir dengan baik dan melihat kesalehan suaminya adalah sia-sia. Tokoh Ayub dapat dijadikan teladan tentang seorang beriman yang mengalami Tema yang dapat kita temukan dalam kitab ini yaitu pertama orang saleh bisa kedua dimensi penderitaan Ayub yang meliputi penderitaan fisik, penderitaan sosial, penderitaan rohani, penderitaan emosional. ketiga perjuangan orang benar mengatasi keempat pengertian tentang doktrin retribusi. 11 Kisah Ayub menjelaskan tuduhan Iblis yaitu Ayub hidup benar karena Iblis tahu bahwa hidup Ayub dijaga dan diberkati oleh Allah. Walaupun tuduhan itu diberikan kepada Ayub, namun tuduhan itu tidak terbukti karena Ayub memiliki pemahaman akan Allah sehingga Ayub dapat melewati penderitaan dan menjadi Penderitaan hebat yang menimpa Ayub dapat dijadikan pembelajaran bagi orang percaya untuk dapat meresponi permasalahan secara positif. 13 Demikian halnya dalam kehidupan berumah tangga, masalah dalam rumah tangga tidak dapat dihindari. Komunikasi yang baik merupakan kunci dalam keharmonisan rumah tangga. Sebagai suami dan istri komunikasi perlu dibangun agar tidak salah dalam memahami pasangan. Suami dan istri tidak akan saling menyalahkan dalam setiap penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi didalam rumah tangga karena telah memahami dengan benar maksud dan tujuan Tuhan dalam permasalahan yang terjadi. Retorika dapat diartikan seni berbicara yang baik dalam komunikasi antar individu. Retorika berkaitan dengan proses komunikasi yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang yang 14 Socrates menjelaskan retorika sebagai seni yang dipakai untuk mencari suatu kebenaran dan bukan mempermainkan kata. 15 Menurut Richard ada 3 macam retorika yaitu Kamasean Jurnal et al. AuKajian Teologis Kitab Ayub 1-2 Dan Implikasi Psikologis Terhadap Keluarga Kristen Yang Mengalami Kematian Anak Di Gereja Toraja Klasis Makale Tengah Jemaat Imanuel TampoAy 1, no. : 107Ae Harold Willmington. AuA Biographical Study of Job,Ay Scholars Crossing Old Testament Biographies 10, no. : 1Ae7, https://digitalcommons. edu/ot_biographies/47. Nomor April and Kalis Stevanus. AuDunamis : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani Kesadaran Akan Allah Melalui Penderitaan Berdasarkan Ayub 1-2Ay 3, no. Stefanus M Marbun. AuMemaknai Kisah Ayub Sebagai Refleksi Iman Dalam Menghadapi Penderitaan Kalis StevanusAy . : 23Ae41. Lukman Tambunan. Kotbah Dan Retorika : Peranan Retorika Dalam Penyampaina Firman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Dori Wuwur Hendrikus. Retorika : Terampil Berpidato. Berdiskusi. Berargumentasi. Bernegoisasi (Yigyakarta: Kanisius, 2. Retorika Forensik. Retorika Epideiktik dan Retorika Deliberatif. Retorika Forensik berhubungan pembicaraan yang dapat memunculkan rasa bersalah dan tidak bersalah sehingga dapat menyentuh psikis seseorang. Retorika Epideiktik yaitu retorika dalam bentuk pidato dengan tujuan menyanjung, mempersalahkan, dan memalukan. Sedangkan Retorika Deliberatif adalah retorika yang berfokus pada perubahan atau wacana. 16 Sehingga dalam Ayub 2:9-10 dapat dimasukkan kedalam Retorika Deliberatif. Peran istri Ayub dalam Alkitab tidak banyak dijelaskan. Ayub 2:9 dalam terjemahan LAI menjelaskan posisi istri Ayub dalam pandangan yang negatif. Dalam terjemahan bahasa Inggris versi ESV. KJV. NAB. NIV dan NJB juga dijumpai hal yang sama yaitu posisi istri Ayub dalam pandangan yang negatif. Ayat ini memposisikan istri Ayub sebagai pencoba yang disejajarkan dengan setan dalam Ayub 2:5. Dalam fungsi yang sama dengan setan, istri Ayub mempengaruhi suaminya agar Ayub menyalahkan Tuhan atas semua penderitaan yang 17 Kondisi inilah yang mendorongpenggunaan retorika Ayub untuk menjawab dan meluruskan pemahan istrinya dalam melihat segala kehendak dalam kerangka kemahakuasaan dan otoritas Allah dalam mengizinkan proses terjadi. Penggunaan retorika Ayub ini, ternyata menjadi hal penting untuk menjadi dasar bagi pasangan suami istri dalam menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Analisis Leksikal dan Gramatika Analisis leksikal dan gramatika sangat dibutuhkan untuk mencari tahu, makna dan konteks dari kata dan frase yang terdapat dalam teks yang diteliti, sehingga mempermudah dalam analisisi lebih lanjut dan menghidari salah tafsir. Eksegesis Ayub 2:9 Ayub 2:9 merupakan perkataan istri Ayub karena melihat penderitaan suaminya yang sangat berat dan istri Ayub tidak sanggup untuk melewati penderitaan itu, sehingga ia mengatakan AuMasih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan Ay18 Aauioy i EA n Ai a uio a A ii Aeon n o Ac co c uAoA Makna kata-kata dalam ayat ini dapat dijelaskan dalam tabel berikut: BHS AiA Tabel 1. Analisis Leksikal dan Gramatika Ayub 2:9 Parsing Arti Terjemahan partikel konjungsi Richard West. Teori Komunikasi (Jakarta: Salemba Humanika, 2. Santoso. AuPeran Istri Ayub Dalam Pendampingan Bagi Penderitaan Suaminya (Melihat Secara Positif Akan Peran Istri Ayu. Ay Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru (Jakarta: LAI, 2. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 3rd ed. (Grand Rapid Michigan: William B. Erdmans Publishing Company, 2. , 85. a AAuA Aa iA AieA AnA AAcA A iA AcoA AuioyA a AiA kata kerja qal wawc consec imperfect orang ke3 feminim tunggal homonim 1 akhiran preposisi partikel orang ke 3 maskulin kata benda umum feminim tunggal akhiran kata keterangan partikel orang ke 2 maskulin tunggal kata kerja hiphil participle maskulin tunggal kata depan kata benda umum feminim tunggal konstruk sufiks orang ke 2 tunggal maskulin kata kerja piel imperatif maskulin tunggal kata benda jamak maskulin umum mutlak dia . berkata20 kata kerja qal imperative maskulin tunggal untuk mati atau untuk Kepada dia21 menjadi kuat24 di dalam25 ketulusan, keyakinan26 berlutut atau Elohim (Tuha. 28 Dari tabel di atas maka dapat terjemahan dari Ayub 2:9 adalah AuDan dia . erempuan/istr. berkata kepadamu (Ayu. tetap menjadi kuat di dalam keyakinan . berlutut/ memberkati Tuhan dan untuk mati. Interpretasi Gramatikal, secara khusus untuk Ayub 2:9 adalah : pertama. Kata "A "c oAyang secara harfiah berarti "memberkati" di sini digunakan dalam konteks Tradisi Ibrani sering kali menghindari menggunakan istilah langsung untuk "mengutuk Tuhan," sehingga menggunakan kata ini sebagai eufemisme30. dan kdua, kerja A i iAmenunjukkan suatu perintah atau konsekuensi dari tindakan sebelumnya. Ini menegaskan saran yang fatal dari istri Ayub, menginginkan Ayub "memberkati" . Tuhan dan "mati" sebagai Ayat ini menggambarkan respons putus asa istri Ayub dalam menghadapi William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 21. Francis Brown. Driver, and Charles A Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, ed. Francis Brown. Driver, and Charles A Briggs, 5th ed. (London: Oxford University Press, 2. , 210. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 39. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 138. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 100. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 32. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 391. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 50. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 43. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 559. Bullinger. Figures of Speech Used in the Bible: Explained and Illustrated, ed. Galusha Anderson. The American Journal of Theology (London: Messrs. E & J. Young & Co, 2. , 415-416. Eufemisme: ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan. Misalnya: meninggal dunia untuk mati. penderitaan suaminya, dengan menggunakan struktur bahasa yang menggambarkan intensitas emosional dalam kalimat perintah dan sarkasme. Eksegesis Ayub 2:10 Ayub 2:10 merupakan jawaban dari Ayub terhadap perkataan istrinya. Ayub mengatakan AuEngkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?Ay31 Aauioy iA a i n u a A ccuA i Ai o a a uoi uA e Ac a i A c uio Ae ic o e y a i oic A c ou a iA AAcuu un a u a uAoa aon ic c A oiE A Makna kata-kata dalam ayat ini dapat dijelaskan dalam tabel berikut: Tabel 2. Analisis Leksikal dan Gramatika Ayub 2:10 BHS Parsing AAiA a partikel konjungsi kata kerja qal waw consec imperfect orang ke 3 maskulin tunggal homonim 1 partikel akhiran preposisi orang ke 3 feminim partikel preposisi Aa uA AAuA AecA Aa eA AiA Ac uA AecA AeyA Ai aA AoicA Arti Terjemahan kata kerja piel infinitive construct homonim 2 numeral cardinal feminim tunggal konstruk partikel artikel kata sifat feminim jamak mutlak homonim 1 kata kerja piel imperfect orang ke 2 feminim tunggal homonim 2 partikel konjungsi partikel artikel dia . aki-lak. berkata33 berkata seperti35 bodoh, konyol37 yang baik40 kata benda umum maskulin tunggal mutlak Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 3rd ed. (Grand Rapid Michigan: William B. Erdmans Publishing Company, 2. , 85. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 21. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 16. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 149, 67. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 9. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 75, 225. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 67. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 62. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 31, 231. AcuA a AiA AuioyA a AAiA a AiA Au aA AcuA AAcA Au uA AniA Au aA AoaA AaoicA AAcA A iA AAcA A iA kata kerja piel imperfect orang 1 jamak umum kata depan partikel preposisi homonim 2 menerima, mendapat41 dari itu42 partikel artikel kata benda umum maskulin jamak mutlak partikel konjungsi partikel penanda objek langsung homonim 1 partikel artikel kata sifat maskulin tunggal mutlak Tuhan itu43 partikel negatif kata kerja piel imperfect orang pertama umum partikel preposisi kata benda umum maskulin tunggal konstruk kata sifat femimim tunggal umum menerima, mendapat46 partikel negatif kata kerja qal perfect orang ke 3 maskulin kata benda proper, tanpa gender tidak berbuat dosa48 partikel preposisi kata benda umum feminim konstruk ganda akhiran orang ke 3 maskulin tunggal partikel preposisi kata benda umum feminim konstruk ganda akhiran orang ke 3 maskulin tunggal dan dengan yang buruk44 dalam seluruh47 Yahweh, sebutan Allah Israel49 di dalam perkataan itu50 Bibir itu51 Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 867. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 577, 85. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 206, 43. William L. Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of The Old Testament, 85, 31, 342. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 518. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 867. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 88, 481, 260. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 518, 306. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 33. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic, 88, 973. Brown. Driver, and Briggs. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament, with an Appendisx Containing The Biblical Aramaic. Dari tabel di atas, maka terjemahannya adalah : dan berkata (Ayu. kepadamu (Istri Ayu. berbicara seperti seorang bodoh, mendapat yang baik dari Tuhan dan dengan yang buruk tidak Dalam seluruh perkataan bibir Ayub tidak berbuat dosa kepada Yahweh (Alla. Penjelasan Gramatikal dari konteks Ayub 2:10 adalah: pertama, struktur kalimat di mana ayat ini terdiri dari dua bagian: pernyataan Ayub kepada istrinya dan komentar naratif bahwa Ayub tidak Dalam struktur ini, terdapat pola tanya-rhetoris yang digunakan Ayub untuk mengoreksi pandangan istrinya. kedua, kata kerja imperfek. Bentuk imperfek pada kata kerja AAe ic oA . dan A( A icuAneqabbe. mengindikasikan sebuah tindakan yang berulang atau tindakan yang sedang berlangsung, menunjukkan bahwa menerima kebaikan dan keburukan dari Tuhan adalah suatu sikap yang diharapkan selalu ada dalam kehidupan orang beriman. ketiga, partikel negasi (A)u aA. Partikel ini digunakan untuk mengingkari tindakan menerima hanya yang baik dari Tuhan, tanpa menerima yang buruk. Ini menekankan bahwa orang beriman seharusnya menerima apa pun yang Tuhan izinkan terjadi, baik atau buruk. Keempat. Aksen Gramatikal, di mana aksen-aksen disjunktif dalam kalimat ini menandai bagian-bagian penting, seperti Ai o a A . dan A( u a A icuAlo neqabbe. , yang menekankan respons Ayub terhadap situasi tersebut dan keyakinannya dalam menanggapi cobaan dari Allah. Jadi, secara keseluruhan konteks Ayub 2:10 mencerminkan sikap iman yang teguh terhadap penderitaan, menunjukkan bahwa Ayub siap menerima segala sesuatu yang datang dari Tuhan, baik itu "yang baik" maupun "yang buruk. Analisis Literal dan Penggunaan Retorika Teks Ayub 2:9 Analisis literal dari teks Ayub 2:9-10 sangat penting untuk dilakukan dalam membandingkan berbagai terjemahan terhadap teks ini. Perbandingan terjemahan ini sangat penting untuk memberikan pemahaman lebih dalam bagaimana penafsiran teks ini harus Versi LXX Tabel 3. Analisis Literal Ayub 2:9 Teks Ayub 9 Terjemahan NAI A aEC a Setelah waktu lama berlalu, berkatalah aE I aE NA EC istrinya kepada Ayub:AyBerapa lama lagi AEaEAC O . AO engkau tetap bertahan?dan berkata: . Ao NA iE A AAEANAC E Lihat, aku ingin menunggu sedikit waktu aA EIC EOEAC I . A lagi untuk bertahan dalam pengharapan IEE EI E EI AA EIC pada Penyelamatku. Lihatlah, milikmu IC I IEAAC aIC C hilang dari muka bumi: anak-anak lakinAC A eC AC E A laki dan perempuan, yang aku lahirkan aAE AE NO . E EA aEC dengan susah payah dan kesakitan. a EAA EOAO E . Tetapi engkau duduk di tengah malam IEaO AC . A di alam terbuka seperti cacing. Tetapi AIEC EAC EA a EAI aku seorang pengembara dan seorang AuBible Work 10,Ay n. aN a C AAEAN E u AEA EAE A AAEO E NO E AI A A EINIE . AA E uI AC A EAAE KJV Then said his wife unto him. Dost thou still retain thine integrity? curse God, and die. NIV His wife said to him, "Are you still maintaining your integrity? Curse God and die!" RSV Then his wife said to him, "Do you still hold fast your integrity? Curse God, and die. Ay perempuan yang dari satu tempat ke tempat lain berpindah-pindah, dari satu rumah ke rumah lain, yang beharap bahwa matahari akan tenggelam, sehingga aku dapat beristirahat dari kesusahan dan kesakitan yang aku alami saat ini. Berkatalah kepada Tuhan hanya satu kata dan berakhirlah hidupmu!Ay Lalu berkatalah istrinya kepadanya: "Masihkah engkau mempertahankan integritasmu? Kutuklah Allah dan matilah Istrinya berkata kepadanya, "Apakah integritasmu? Terkutuklah Allah dan Kemudian istrinya berkata kepadanya, "Apakah engkau masih memegang teguh integritasmu? Terkutuklah Allah, dan Berdasarkan tabel di atas maka Kalimat yang perlu dianalisis dari Ayub 2:9 yaitu AuMasih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!Ay(ITB). Dalam terjemahan versi KJV Au Dost thou still retain thine integrity? curse God, and dieAy sedangkan versi NIV AuAre you still your integrity? Curse God and die!Ay. Jika diperhatikan versi ITB. KJV. NIV dan RSV memiliki kesamaan terjemahan yaitu AuApakah engkau Ayub masih tekun dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah. Perkataan ini diucapkan oleh istri Ayub, di mana istri Ayub menggunakan retorika dalam bertanya kepada Ayub. Versi ITB. KJV dan NIV memandang perkataan yang diucapkan oleh istri Ayub dalam posisi negatif. Dijelaskan dalam ayat ini istri Ayub menggunakan kalimat pertanyaan yang sinis ditujukan kepada Ayub AuMasih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?Ay sehingga jika dilihat terdapat fungsi yang sama pada Ayub 2:5 bagaimana setan mencobai Ayub agar meninggalkan imannya. Istri Ayub diposisikan juga demikian, setan memakainya sebagai pencoba Ayub agar Ayub goyah dan meninggalkan Allah. Bahkan dalam teks ini diperjelas tidak hanya istri Ayub bertanya kepada Ayub tentang kesalehannya padahal Ayub sudah sangat menderita tetapi dalam teks juga dijelaskan bagaimana istri Ayub berbicara keras untuk menyuruh Ayub mengutuki Allah kemuadian mati. Pulpit komentari. Wycliffe Bible komentari dan Matthew Henry komentari semua memberikan pandangan yang negatif terhadap sikap istri Ayub. Pendapat mereka terhadap istri Ayub disamakan dengan Hawa yang sama-sama digunakan iblis sebagai alatnya untuk menjadi pencoba bagi suaminya. Namun berbeda dengan versi (LXX) Septuaginta Ayub 2:9 yang dari terjemahannya dapat diketahui bahwa posisi istri Ayub tidak dijelaskan secara negatif seperti dalam terjemahan versi ITB. KJV. NIV dan RSV. Septuaginta menjelaskan bahwa posisi istri Ayub ada dalam posisi yang Kehilangan anak-anak yang telah dilahirkan dan dibesarkan dengan susah payah adalah hal yang tidak mudah dialami oleh istri Ayub. Keadaan di mana dia mengalami titik terendah dalam hidupnya, tentunya hati istri Ayub sangat sedih bahkan jiwanya mengalami keputusasaan. Bahkan istri Ayub mengatakan dirinya seorang pengembara yang berpindah-pindah tempat. Rumah tangga Ayub yang tadinya baik-baik saja menjadi terguncang dengan penderitaan yang mereka alami. Tidak hanya kehilangan anak tetapi juga kehilangan harta benda dalam waktu sekejap bahkan Ayub suaminya yang hanya dia miliki menderita sakit kulit yang parah. Ayub dan istrinya yang tadinya tinggal di rumah yang cukup nyaman namun karena penderitaan yang dialami harus berpindah-pindah. Tentunya hal itu tidaklah mudah dihadapi oleh istri Ayub. Kondisi di tengah keputusasaan yang sedang dialami oleh istri Ayub membawanya untuk berbicara kepada Ayub seperti yang tertulis dalam Septuaginta. Hal tersebut dikarenakan rasa cinta istri Ayub terhadap Ayub sehingga istri Ayub tidak tega melihat penderitaan yang dialami oleh Ayub suaminya. Tradisi kekristenan mula-mula lebih tegas lagi menjelaskan posisi istri Ayub sebagai pelayan diakoni yang sangat baik setia mendampingi suaminya yang sedang sakit parah. Agus Santoso dalam jurnalnya juga melihat istri Ayub dalam posisi yang positif yaitu sebagai pendamping yang setia bagi suaminya. Dalam jurnalnya Gruber menjelaskan kata Ibrani AoA AcA seharusnya lebih tepat diterjemahkan dengan kata berkat . rti harfia. bukan dengan kata kutuk . rti eufimism. Gruber juga menjelaskan bahwa kalimat pertanyaan dalam Ayub 2:9 yaitu AuMasih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?Aoseharusnya merupakan kalimat pernyataan atau penegasan yang ditandai dengan tanda seru. Selain itu dalam terjemahan kalimat AuKutukilah Allahmu dan matilah!Ay kurang tepat karena pada dasarnya istri Ayub tidak menganjurkan Ayub untuk bunuh diri tetapi karena Ayub mengalami sakit parah, istrinya tidak tega melihat penderitaan itu dan kesedihan yang sangat dalam dialami oleh istri Ayub akibat kematian semua anak-anaknya. Maka dalam situasi seperti ini istri Ayub memberikan pernyataan kepada Ayub dalam menghadapi penderitaan selalu memuji Tuhan sebelum kematian dialami Ayub. 53 Jadi, dalam ayat ini, istrinya Ayub berbicara dengan penuh keputusasaan dan kepedihan karena penderitaan yang terus dialami oleh Ayub. Ia menyarankan agar Ayub mengutuk Tuhan dan mengakhiri hidupnya, mencerminkan perasaan putus asa dan hilangnya harapan dalam menghadapi penderitaan yang tampak tidak ada akhirnya. 54 Terjemahan ini menangkap makna kalimat demi kalimat yang menggambarkan pandangan istri Ayub tentang penderitaan mereka yang tampak tanpa arti serta kehilangannya atas semua yang mereka miliki, termasuk anak-anak Penggunaan retorika dalam Ayub 2:9 yang dikatakan oleh istri Ayub merupakan seni berbicara di mana kondisi istri Ayub berada pada keputusasaan yang sangat dalam melihat penderitaan yang dialami dalam rumah tangganya. Penderitaan yang dialami rumah tangga Ayub mulai dari kehilangan harta benda, kematian semua anak-anak Ayub dan Ayub yang menderita sakit parah. Namun dari semua penderitaan yang dialami. Alkitab tidak pernah mencatat bahwa istri Ayub meninggalkan Ayub. Istri Ayub hanya menyampaikan pernyataan melalui penggunaan retorika kepada Ayub tentang responnya terhadap penderitaan yang sedang mereka alami. Mayer I Gruber. AuTHE RHETORIC OF FAMILIARITY AND CONTEMPT IN JOB 2 : 9-10,Ay Scriptura Journal 87, 1 . : 261Ae266. Lael Caesar. AuJob: Another New Thesis,Ay Vetus Testamentum 49, no. : 435Ae447. Respon istri Ayub dalam menanggapi penderitaan yang mereka alami memang kurang tepat, hal ini dikarenakan ketidakpahaman istri Ayub akan maksud dari penderitaan yang mereka alami. Istri Ayub hanya meluapkan ekspresi dari keputusasaannya atas penderitaan yang dialami. Teks Ayub 2:10 Tabel 4. Analisis Literal Ayub 2:10 Versi LXX Teks Ayub 9 aOC a aEN uEa E AIAO I aEC A E A a a NAAC IAI E aN cAEA a AE EEC EnC EIAE aE a uAEA oO EnC NAAE aE E A KJV But he said unto her. Thou speakest as one of the foolish women speaketh. What? shall we receive good at the hand of God, and shall we not receive evil? In all this did not Job sin with his NIV He replied, "You are talking like a foolish1 woman. Shall we accept good from God, and not trouble?" In all this. Job did not sin in what he said. RSV But he said to her, "You speak as one of the foolish women would speak. Shall we receive good at the hand of God, and shall we not receive evil?" In all this Job did not sin with his lips. BIS Terjemahan Dan ketika ia telah melambangkan, ia berkata, sebagai salah satu dari perempuan-perempuan yang bodoh, engkau telah berkata, jika kita berbuat baik, kita tidak akan menderita kejahatan di tangan Tuhan dalam semua hal yang telah terjadi padanya, kita tidak akan berdosa terhadap Tuhan, dan kita tidak akan berdosa terhadap Ayub dengan bibir Tetapi kata Yesus kepadanya: "Engkau berkata-kata seperti yang dikatakan oleh seorang perempuan bodoh. Apakah kita akan menerima yang baik dari tangan Allah, dan tidak akan menerima yang jahat? Dalam semua ini Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ia menjawab, "Engkau berbicara seperti seorang wanita yang bodoh1. Haruskah kita menerima kebaikan dari Allah, dan bukan kesusahan?" Dalam semua ini. Ayub tidak berdosa dalam perkataannya. Tetapi Ia berkata kepadanya: "Engkau berkata seperti yang dikatakan oleh seorang perempuan bodoh. Akankah kita menerima yang baik dari tangan Allah, dan tidakkah kita menerima yang jahat?" Dalam semua itu. Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Jawab Ayub, "Kaubicara seperti orang dungu! Masakan kita hanya mau menerima apa yang baik dari Allah, sedangkan yang tidak baik kita tolak?" Jadi, meskipun Ayub mengalami segala musibah itu, ia tidak mengucapkan katakata yang melawan Allah. Dari analisisi berdasarkan tabel di atas, maka kalimat yang perlu dianalisis dalam Ayub 2:10 adalah AuEngkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?Ay Dalam terjemahan BIS. KJV dan NIV tidak menggunakan frasa perempuan gila seperti pada terjemahan ITB. BIS menggunakan frasa orang dungu . KJV. NIV dan RSV menggunakan frasa wanita bodoh. Frasa orang dungu yang dijelaskan dalam terjemahan BIS dan wanita bodoh yang dijelaskan dalam terjemahan KJV dan NIV mempunyai makna yang sama. KBBI menjelaskan bodoh artinya tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, tidak memiliki 55 Sedangkan dungu artinya sangat tumpul otaknya, tidak cerdas, bodoh. 56 Jadi kata bodoh dan dungu mempunyai persamaan arti. Namun jauh berbeda dengan terjemahan ITB yang menggunakan frasa perempuan gila. Arti kata gila menurut KBBI yaitu gangguan jiwa, sakit ingatan, tidak sebagaimana mestinya. 57 Dalam menjawab istrinya. Ayub menggunakan retorika. Penggunaan retorika ini bertujuan untuk menyadarkan istri Ayub atas perkataannya dalam Ayub 2:9. Hasil eksegesis Ayub 2:10 ditemukan bahwa frasa yang tepat digunakan untuk terjemahan ayat ini adalah wanita bodoh bukan perempuan gila. Dengan mengatakan wanita bodoh. Ayub tidak bermaksud untuk menyudutkan istrinya. Ayub hanya tidak setuju dengan pendapat istrinya yang terkesan pasrah terhadap penderitaan yang mereka alami dan menanti datangnya kematian tanpa berbuat apa-apa. Ketidakpahaman istri Ayub akan penderitaan yang terjadi dalam rumah tangga mereka membuat ia tidak tega atas apa yang sedang menimpa suaminya. Sehingga Ayub menggunakan retorika dengan tujuan untuk mempengaruhi istrinya agar sadar akan kesalahan yang telah dipebuat melalui perkataan yang telah istrinya ucapkan. Rasa cinta Ayub pada istrinya dinyatakan dengan bagaimana cara ayub berbicara dalam menanggapi pernyataan istrinya. Kebijaksanaan Ayub dalam memberikan jawaban atas pernyataan istrinya membuat istri Ayub terdiam dan tidak melanjutkan pembicaraan mereka. Hal ini terlihat dari tidak ada pernyataan lanjutan dari istri Ayub di ayat sesudahnya dalam Ayub pasal 2. Ayub juga menyadarkan istrinya dengan kalimat selanjutnya yang ia ucapkan AuApakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?Ay Disini Ayub menegaskan dihadapan istrinya tentang pernyataan imannya dan keteguhan hatinya kepada Allah. Ayub ingin menyadarkan istrinya untuk tidak menjadi bodoh dengan menyalahkan Allah akan keadaan rumah tangga yang sedang dalam permasalahan. Ayub memberikan penegasan ini dengan maksud agar istrinya memahami dan mengenal Allah lebih lagi seperti Ayub mengenal Allah. Kalis Stevanus nmenjelaskan ada 5 kepribadian Ayub yang dapat menjadi panutan bagi orang percaya masa kini yaitu: pertama. Ayub orang yang benar dan tidak melakukan yang jahat. Kedua. Ayub mempunyai integritas tinggi dan hati yang tulus. Ketiga. Ayub tidak pesimis ketika diperhadapkan pada penderitaan karena imannya. Keempat. Ayub murah hati dan mempunyai empati kepada orang lain. Sedangkan yang kelima Ayub suami yang setia Dendy Sugono. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)-Pusat Bahasa, 10th ed. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2. , 377. Dendy Sugono. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)-Pusat Bahasa, 542. Dendy Sugono. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)-Pusat Bahasa, 338. kepada istrinya. 58 Sebagai suami dan pemimpin dalam rumah tangga Ayub mengajarkan kepada istrinya tentang kesalehan dan iman yang teguh. Kesalehan dan iman yang teguh ini tidak diukur dari apa yang telah Allah berikan kepada Ayub. Dalam kondisi menderita sekalipun hati Ayub tetap pada Allah dan tidak menyalahkan Allah bahkan tidak mengutuk Allah. Jelas hal ini yang membuat Iblis kalah. Iblis berpikir bahwa Ayub saleh karena Tuhan memberkati dan melindungi Ayub. Ayub belajar memahami kesadaran akan Allah melalui penderitaan yang ia alami. Allah berdaulat penuh atas kehidupan manusia sehingga semua yang terjadi dalam hidup Ayub atas izin Allah. Hal inilah yang membuat Ayub tidak putus asa dalam menghadapi penderitaan yang terjadi dalam rumah tangganya, sehingga Ayub juga ingin istrinya memiliki pemahaman yang sama dengan Ayub. Impikasi Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga Masa Kini Kisah Ayub memberikan inspirasi tersendiri bagi keharmonisan rumah tangga masa kini, khususnya rumah tangga orang percaya. Permasalahan dalam rumah tangga seperti masalah ekonomi, kesehatan, kesibukan, kurangnya komunikasi dengan pasangan, kasar terhadap pasangan akan berdampak buruk terhadap keharmonisan rumah tangga jika tidak ditangani dengan baik dan bijaksana. Menurut teologi Kristen keharmonisan pernikahan dilihat dari keluarga inti yang mempunyai kehidupan sesuai dengan Firman Tuhan. 60 Keluarga inti yang dimaksud disini yaitu suami . , istri . dan anak. Keharmonisan dapat tercipta jika dalam keluarga ada cinta kasih yang tumbuh dan setiap anggota keluarga menjalankan perannya dengan benar sesuai dengan Firman Tuhan. 61 Pernikahan merupakan karya Allah dan Allah yang membentuk keluarga. Oleh karena itu penulis akan menghubungkan penggunaan retorika dalam Ayub 2:9-10 terhdap keharmonisan rumah tangga masa kini. Penggunaan retorika dalam Ayub 2:9-10 yang dapat membuat rumah tangga Ayub tetap harmonis ditengah penderitaan yang dialami yaitu : Pertama. Suami Dan Istri Harus Hidup Takut Akan Tuhan Alkitab mencatat bahwa Ayub adalah orang yang hidup benar, taat dan tidak melakukan yang jahat. Sebagai suami dan kepala keluarga yang takut akan Tuhan tentunya Ayub akan membawa keluarganya untuk hidup mengenal Tuhan dan menjauhi kejahatan. Istri Ayub yang setiap hari hidup bersama Ayub pasti melihat teladan itu dalam diri Ayub seperti setiap anakanak mereka mengadakan pesta. Ayub selalu memberikan korban bakaran sebab mungkin anakanak Ayub sudah berbuat dosa dan mengatai Allah. Keteladanan Ayub dalam hal hidup takut akan Tuhan membuat rumah tangga Ayub berjalan harmonis. Ayub mendapat penghormatan Kalis Stevanus. AuKepribadian Ayub,Ay SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. : 95Ae Marbun. AuMemaknai Kisah Ayub Sebagai Refleksi Iman Dalam Menghadapi Penderitaan Kalis Stevanus. Ay Hadisubrata. Keluarga Dalam Dunia Modern (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Budi Santosa. Stevanus Parinussa, and Wenny Kristiani Waruwu. AuKeharmonisan Pernikahan Dalam Perspektif Pengajaran Mempelai,Ay Shalom: Jurnal Teologi Kristen 1, no. : 115Ae125. karena Ayub mempunyai istri yang takut akan Tuhan (Ayub 29:7-. Di ceritakan dalam Ayub pasal 1 ketika penderitaan mulai menimpa rumah tangga mereka di mana harta mereka habis, dan semua anak-anak Ayub mati, istri Ayub tidak menyalahkan Allah atas semua kejadian itu. Dalam kehidupan rumah tangga orang-orang percaya perlu meneladani Ayub, bagaimana Ayub dan istrinya hidup takut akan Tuhan agar keharmonisan dalam rumah tangga dapat berjalan dengan baik dan nama Tuhan dipermuliakan. Hidup takut akan Tuhan juga terlihat dari sikap tegas Ayub dalam menjawab pernyataan istrinya di Ayub 2:10. Retorika yang Ayub tujukan kepada istrinya merupakan ketegasan dan pernyataan iman Ayub bahwa Ayub hidup takut akan Tuhan. Jadi, implikasi masa kini bagi banyak keluarga Kristen adalah suami dan istri haruslah hidupa takut akan Tuhan. Hal ini adalah esensi dalam sebuah keharmonisan dalam hubungan antara suam dan istri. Kedua. Suami Dan Istri Harus Saling Mengasihi Cinta kasih yang terjalin antara Ayub dan istrinya dapat dilihat dari sikap Ayub dan istrinya dalam Ayub 2:9-10. Dalam ayat 9 istri Ayub tidak bermaksud untuk menyuruh Ayub mengutuki Allah dan kemudian mati. Istri Ayub sangat mengasihi Ayub, perasaan yang dalam dimana seorang istri yang tidak tahan melihat penderitaan suami yang begitu hebat sehingga memberikan sebuah saran yang bertentangan dengan iman. Istri Ayub ada pada posisi yang rumit, sebagai pendamping ia tidak tahan melihat suaminya menderita namun apa yang telah dikatakannya melawan iman dan keyakinannya pada Allah. Ayub juga sangat mengasihi istrinya ketika istrinya tidak memahami penderitaan yang sedang dialami dalam rumah tangga mereka dan istri Ayub mulai putus asa, dalam ayat 10 Ayub menyadarkan istrinya dengan berkata AuEngkau berbicara seperti wanita bodohAy. Retorika yang Ayub sampaikan bukan bermaksud untuk menghina istrinya tetapi untuk menyadarkan istrinya agar mengerti maksud Tuhan dibalik penderitaan yang sedang mereka alami. Ayub ingin agar istrinya menjadi bijak dalam menanggapi permasalahan kehidupan dan tidak menyalahkan Allah karena hanya mau menerima yang baik Implikasi utama pengikat sebuah hubungan adalah kasih. Tanpa kasiha suatu hubungan akan relatif hambar. Ketiga. Suami Dan Istri Setia Dalam Pernikahan Kitab Ayub tidak menceritakan bahwa istri Ayub meninggalkan Ayub dalam kondisi Ayub yang menderita. Penderitaan hebat yang mereka alami tidak membuat istri Ayub berubah menjadi tidak setia. Ayub 19:17 menjadi dasar bahwa istri Ayub setia mendampingi Ayub walaupun dikatakan bahwa nafas Ayub membuatnya jijik. Ayub 31:1, 9-12 menjelaskan kesetiaan Ayub terhadap istrinya. Ayub tidak meninggalkan istrinya walaupun kondisi fisiknya sangat berat karena penyakit barah dan walaupun istrinya merasa jijik terhadapnya. Kesetiaan dalam pernikahan sangatlah penting. Komitmen pasangan suami isteri untuk rumah tangga yang harmonis dibutuhkan kesetiaan dalam menjalaninya. Dalam kehidupan rumah tangga tentu permasalahan datang silih berganti, namun kesetiaan terhadap pasangan akan menjadi kekuatan dalam menghadapi permasalahan itu. Setia sampai maut memisahkan merupakan janji dalam pernikahan kudus yang diberkati Allah. Kesetiaan merupakan hal penting dfalam membangun keharmonisan dalam keluarga. Kesetiaan menjadi fondasi utama dan menjadi pagar untuk melindungi setiap rmah tangga dari kehancuran. Faktor kesetiaan akan terwujud apabila suami dan istri memutuskan takut akan Tuhan. Itulah sebabnya, hal ini menjadi nilai-nilai yang wajib dilakukan oleh suami dan istri, agar saling setia satu dengan yang lain dalam ikatan Keempat. Istri Harus Tunduk Kepada Suami Ketundukan istri Ayub terhadap suaminya dapat terlihat dari reaksi istri Ayub yang diam setelah Ayub menyampaikan ketegasan imannya dalam Ayub 2:10. Dalam ayat selanjutnya tidak ditemukan bahwa istri Ayub mempersoalkan perkataan Ayub. Penulis melihat bahwa hal ini merupakan ketundukan seorang istri kepada suaminya. Dalam kehidupan rumah tangga ketundukan istri kepada suami layaknya tunduk kepada Tuhan. Ketundukan merupakan bukti seorang istri menghormati suaminya. Keharmonisan dalam rumah tangga dapat terjalin jika istri tunduk kepada suami yang memimpin dalam kehidupan takut akan Tuhan. Penundukan diri adalah salah satu faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Alkitab banyak berbicara mengenai penundukan diri seorang istri kepada suami. Penundukan istri Ayub, menjadi pelajaran penting bahwa sekalipun, ia mungkin tidak sependapatn dengan Ayub, dalam melihat realita yang terkadi, tetapi istrinya tetap tidak membantah ketegasan iman dari Ayub. Istri yang tuduk kepada suami akan menjadi dasar kuat dalam membina keharmonisan rumah tangga. Kelima. Suami Harus Tegas Terhadap Dosa Ayub berbicara dengan bijak kepada istrinya dengan memberikan jawaban yang tepat atas pernyataan istrinya. Ayub 2:9 berbicara mengenai perkataan istri Ayub yang dengan tegas di jawab oleh Ayub dalam ayat 10. Ketegasan Ayub dalam menyatakan dosa karena ketidakpahaman istrinya menyingkapi penderitaan yang terjadi dalam rumah tangga mereka, menjadi bukti bahwa Ayub tidak berkompromi dengan dosa. Ayub menyatakan bahwa perkataan istrinya merupakan perbuatan yang salah. Ayub ingin istrinya menyadari hal tersebut dengan mengatakan istrinya wanita bodoh yang tidak memahami maksud dari penderitaan yang sedang Dalam kehidupan rumah tangga, suami sebagai imam dan pemimpin dalam keluarga harus tegas menyatakan jika ada kesalahan dan dosa dalam keluarganya. Ketegasan Ayub ini dapat menjadi teladan dalam rumah tangga orang-orang percaya masa kini. Ketika dosa mulai masuk dalam keluarga, maka diperlukan ketegasan untuk menolak dosa agar rumah tangga dapat berjalan dengan harmonis. Ketegasan terhadap dosa, harus menjadi komitmen utama bagi Suami dan juga istri. Tetapi penekanan sebagai suami dikarenakan, posisi suami sebagai kepala Sebagai kepala keluarga maka ia harus berintegritas dan menjaga kekudusan dari dosa. Kesimpulan Ada dua kesimpulan utama dari hasil penelitain dari teks Ayub 2:9-10, yaitu: pertama, penggunaan retorika Ayub 2:9 merupakan hal yang bijak untuk dapat menjaga keharmonisan dalam rumah tangga masa kini. Selanjutnya retorika Ayub 2:10 merupakan ketegasan Ayub menyatakn imannya dihadapan istrinya dan menyadarkan istrinya untuk tidak menjadi bodoh dengan menyalahkan Allah akan keadaan rumah tangga yang sedang dalam permasalahan. Kedua, impikasi yang dapat diterapkan terhadap keharmonisan rumah tangga masa kini khusunya bagi rumah tangga orang percaya adalah: . Suami dan istri harus hidup takut akan Tuhan. Suami dan istri harus saling mengasihi. Suami dan istri harus setia. Istri harus tunduk pada suami dan . Suami harus tegas terhadap dosa dalam keluarga. Penelitian ini dapat ditindaklanjuti dalam meneliti pola retorika lain dalam kitab-kitab puisi lainnya, yang memiliki nilai-nilai esensial bagi keharmonisan keluarga. Daftar Pustaka