ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Konstruksi Sosial Pemberian Susu Formula Sebagai Pengganti Air Susu Ibu (ASI) Terhadap Bayi Dua Tahun (Badut. Di Kabupaten Malang Abd. Wahid1 1Madrasah Aliyah Al Umm Kota Malang abdwahid17@gmail. Abstract Save The Children became important due to the widespread use of formula milk, giving rise to a shift in people's behavior regarding giving formula milk as a substitute for breast milk to two-yearold babies. This research uses a qualitative method with a case study approach. Data collection using in-depth interviews and participant observation. So that it gives rise to conclusions about the social construction of society regarding formula milk, namely . Formula milk can be taken anywhere and is considered simpler. Formula milk as a substitute for breast milk, . Formula milk as a symbol of luxury and social prestige and . Love and worship of women's bodies. This understanding can cause the behavior of the people of Tumpang Malang village to experience a First, economic reasons involve being busy with work, business and career so that it becomes a motive for abandoning babies who are given formula milk. Second, non-economic reasons, people's understanding of formula milk which is believed to be able to make children healthier and smarter, which is influenced by the socialization process through advertising, supporting the family and the environment, mass media hegemony where formula milk advertising is more sensational than Breastfeeding which is driven by the government, the role of midwives as hidden promotion, and people's love for the ideal body. This social construction perspective sees a shift in society's behavior towards parenting patterns for two-year-old babies that have undergone a long socialization process. Keywords: Social Construction. Formula Milk. ASI, two-year-old babies. Body Worship. Abstrak Save The Children menjadi penting dengan maraknya pengunaan susu formula, sehingga menimbulkan pergeseran perilaku masyarakat mengenai pemberian susu formula yang dijadikan pengganti ASI terhadap bayi dua tahun (Badut. Penelitian ini menggunakan metode kualititatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dengan indepth interview dan observasi partisipan. Sehingga melahirkan kesimpulan tentang konstruksi sosial masyarakat tentang susu formula, yaitu . Susu formula bisa dibawa kemana-mana dan di anggap lebih . Susu formula sebagai pengganti ASI, . Susu formula sebagai simbol kemewahan dan gengsi sosial dan . Kecintaan dan pemujaan terhadap tubuh dari wanita. Pemahaman tersebut dapat menjadikan perilaku masyarakat desa Tumpang Malang mengalami suatu pergeseran. Pertama, alasan ekonomi menyangkut sibuk bekerja, bisnis, dan karir sehingga menjadi motif meninggalkan bayi yang diberikan susu formula. Kedua, alasan non-ekonomi, pemahaman masyarakat tentang susu formula yang diyakini dan dapat menjadikan anak lebih sehat, dan lebih pintar, yang dipengaruhi oleh proses sosialisasi melalui iklan, supporting keluarga dan Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 lingkungan, hegemoni media massa dimana iklan susu formula lebih sensasional dari pada sosialisasi ASI yang dimotori oleh pemerintah, peran bidan sebagai hidden promotion, dan kecintaan masyarakat terhadap tubuh yang ideal. Perspektif konstruksi sosial tersebut melihat pergeseran perilaku masyarakat terhadap pola pengasuhan bayi dua tahun telah mengalami proses sosialisasi yang panjang. Kata Kunci: Konstruksi Sosial. Susu Formula. ASI. Baduta. Pemujaan Tubuh. PENDAHULUAN Latar belakang peningkatan Sumber Daya Manusia merupakan salah satu upaya mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Sumber Daya Manusia yang berkualitas hanya bersumber dari generasi yang berkualitas terutama yang mendapat ASI (Wiryo, 2002:. Demi keberlangsungan hidup anak manusia yang akan datang, maka sangat diperlukan rasa kecintaannya terhadap anak yang sehat, cerdas dan berkualitas. Tidak seperti di Negara Jepang, berdasarkan data Ministry of Health. Labor and Welfare (MHLW) pada April 2014, bahwa sebesar 25 persen warga mereka berada dalam kelompok usia 65 tahun ke atas . Artinya keberlangsungan anak sebagai generasi akan terancam apabila sikap dan perilaku dari masyarakat di suatu Negara tidak memperhatikan akan keberadaan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Penduduk sebagai determinan pembangunan harus mendapat perhatian yang Program pembangunan, termasuk pembangunan dibidang kesehatan, harus didasarkan pada dinamika kependudukan. Upaya pembangunan di bidang kesehatan tercermin dalam program kesehatan melalui upaya promotif, preventif, kuratif maupun Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2014:. Salah satu fokus pembangunan dan komitmen dari Millenium Development Goals (MDG. , yang terkait langsung dengan masalah kesehatan di antaranya adalah kesehatan anak dan gizi. Namun faktanya belum semua orang sadar terhadap pemenuhan gizi dan keamanan pangan. Kasus gizi buruk masih kerap terjadi, yang menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi, gangguan pertumbuhan fisik anak . dan bahkan perkembangan mental anak sehingga terjadi dekadensi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dimasa mendatang. Laporan MDGs tahun 2013, sebuah tantangan berat dalam meningkatkan gizi anak di Indonesia: Masih tingginya prevalensi anak balita yang pendek . Data Riskesdas 2010 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 35,60 persen. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Beragamnya permasalahan pangan dan gizi antar wilayah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Masih terbatasnya pengetahuan akan pentingnya kecukupan gizi di masyarakat (Sardjunani, 2014:. Salah satu faktor masalah kesehatan, kurang gizi, stunting serta masalah perkembangan mental pada anak bayi disebabkan karena minimnya pengetahuan orang tua dalam memberikan asupan makanan, seperti minimnya pemberian ASI yang diganti dengan memberikan susu formula dan disebabkan dari pola hubungan interaksi orang tua dengan anaknya. Anak-anak dalam keluarga besar mempunyai resiko besar menderita kurang gizi dan kematian. Secara umum terdapat 4 masalah gizi di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). Kurang Vitamin A (KVA). Anemi Gizi, dan Gangguan akibat kurang Iodium (GAKY). Tetapi yang sering menimpa balita adalah Kurang Energi Protein. Status gizi merupakan salah satu faktor dasar yang mempengaruhi tingkat kesehatan. Jika keadaan gizinya baik maka kesehatanpun akan baik, begitu juga bila keadaan gizinya tidak baik maka kesehatannyapun tidak baik (Sediaoetama dan Soedarmo, 1. Peran serta tanggung jawab seorang ibu adalah memberikan ASI (Air Susu Ib. Karena terdapat besar manfaat dalam pemberian ASI ini bagi bayi untuk menjaga kesehatan dan menunjang perkembangan serta pertumbuhannya. Bagi ibu yang menyusui juga akan memperoleh manfaat dari proses menyusui tersebut. Hanya terkadang dalam masa sekarang ini justru kerap terjadi ibu yang memberikan susu formula sebagai pengganti ASI, bukan saja sebagai pendamping makanan bayi melainkan sebagai pengganti ASI. Tuhan telah memberi fasilitas khusus berupa air susu bagi makhluk hidupnya sesuai kadar dan takaran yang sangat pas. Seperti ASI, karena pada dasarnya ASI memang diperuntukkan untuk anak balita. Dan segala kandungan dalam air susu ibu adalah paling tepat dan pas buat bayi. Karena produk dari susu formula bisa menyebabkan anak bayi alergi pada susu sapi yang merupakan dasar pembuatan susu Suhardjo, . , mengatakan bahwa Air Susu Ibu merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi serta mempunyai nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat manusia ataupun susu hewan seperti susu sapi, susu kerbau dan lain-lainnya. ASI sangat menguntungkan ditinjau dari berbagai segi, baik segi gizi, kesehatan, ekonomi maupun sosio-psikologis. Nurheti Yuliarti, . 0: 2-. , menjelaskan bahwa susu formula tidak mempunyai anti body seperti dalam ASI. Selain itu, pengonsumsian susu formula pada bayi juga dapat meningkatkan resiko munculnya penyakit yang ditularkan melalui air, apalagi masih banyak keluarga yang belum dapat mengakses air bersih. Malnutrisi dapat Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 menjadi ancaman bagi bayi yang diberi susu formula AuiritAy . erlalu ence. ASI merupakan pilihan terbaik bagi bayi karena didalamnya mengandung anti body dan lebih dari 100 jenis zat gizi, seperti AA. DHA, taurin, dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Beberapa produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi tersebut, tetapi hasilnya tetap tidak dapat menyamai kandungan gizi yang ada dalam ASI. Jika penambahan zatAezat gizi tersebut tidak diragukan dalam jumlah dan komposisi yang seimbang maka akan menimbulkan terbentuknya zat yang berbahaya bagi bayi. Saat ini, kondisi pemberian ASI di Indonesia masih tergolong rendah, salah satu sebab terjadinya defisiensi gizi, penyakit deare, kematian bayi dan masalah lainnya. Berdasarkan riskesdas 2010, angka pemberian ASI eksklusif bagi bayi yang berusia 0-6 bulan adalah sebesar 15,3 persen. Berdasarkan data-data World Breastfeeding Trends Initiative 2012, kondisi menyusui di 51 negara berdasarkan pengukuran indikator yang telah ditetapkan. Indonesia rangking ke 37 dari 40 negara yang sudah mengumpulkan laporan . worlbreastfeeding-trends. Rendahnya penggunaan ASI adalah ancaman bagi tumbuh kembang anak, saat ini penyakit diare masih menjadi penyebab utama kematian pada bayi dengan persentase 12 persen. Dari jumlah itu, berapa banyak yang sakit diare karena terkontaminasi bakteri susu formula atau sanitasi yang buruk . ttp://health. Persentase IMD (Inisiasi Menyusui Din. pada bayi 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 48,6 %, sedikit meningkat di tahun 2013 sebesar 54,3 %, dan menyusui ASI Eksklusif sebesar 54,34 % di tahun 2013. Sedangkan tingkat provinsi, persentase IMD Jawa Timur mencapai 33,3 %, dan ASI eksklusif 47,88% yang berada urutan ke 7 terendah dari 33 provinsi pada tahun 2013 (Kemenkes RI, 2013:. Pemberian ASI sebenarnya bukan hanya soal kesehatan bagi anak, tetapi juga sebuah proses AuparentingAy yang terjadi di dalam keluarga, dimana terjadi hubungan kelekatan antara anak dengan orang tua secara sosio-psikologis. Proses interaksi berkelanjutan antara orang tua dengan anak itulah yang meliputi aktivitas-aktivitas, . emberian makanan/menyusu. , . emberi petunjuk/araha. , dan protecting . Masa baduta tersebut berada dalam masa golden period dan sangat perlu stimulasi serta role model dari orang tua serta orang-orang disekitarnya. Kerap terjadi masalah kekerasan kepada anak justru terjadi di lingkungan terdekat dan dilakukan orang-orang terdekat maupun masalah kenakalan remaja yang disebabkan lemahnya fungsi keluarga, bukankah keluarga merupakan institusi terkecil tempat seseorang berlindung dan memperoleh perlindungan sera menjadi institusi dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Dengan pergeseran perilaku para ibu enggan dalam memberikan ASI bagi anak badutanya bisa saja difaktori misalnya karena. minimnya pengetahuan . masyarakat tentang ASI. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 tuntutan sosial atau Augengsi sosialAy, yaitu dengan memberi susu formula yang mahal dan bermerek dianggap mereka mampu secara ekonomi dan dianggap mampu memenuhi kesehatan bayi. tuntutan kerja . dan sibuk dalam pekerjaannya yang menjadi alasan dalam pemberian susu formula. promosi atau iklan media yang kuat dapat mempengaruhi dan AumenghipnotisAy perilaku masyarakat dalam pemberian susu formula bahkan komersialisi tersebut sampai ke tangan petugas kesehatan maupun instansi kesehatan bagaikan AutokoAy susu formula demi mendapatkan keuntungan . Kesadaran agen telah melekat dan tersosialisasi yang disebabkan oleh kelemahan negara yang seolah tidak berdaya dalam membendung kepentingan kapitalisme yang sudah masuk ke instansi pemerintah secara terselubung . nvisible han. sehingga pada akhirnya yang dirugikan adalah masyarakat. Notoatmodjo, . menggaris bawahi bahwa perilaku adalah totalitas yang terjadi pada orang yang bersangkutan. Dengan perkataan lain, perilaku adalah keseluruhan . pemahaman dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara faktor internal dan eksternal. Perilaku seseorang adalah sangat kompleks, dan mempunyai bentangan yang sangat luas. Pergeseran perilaku atas penggunaan susu formula bagi ibu-ibu yang baru melahirkan bisa saja dipengaruhi oleh media, pengetahuan . , tuntutan kerja, pemujaan tubuh, tekanan sosial maupun tawaran dari petugas kesehatan itu sendiri, misalnya bidan menawarkan paket asupan pangan bayi berupa susu formula, karena disitu ada kost ekonomi. Salah satu organisasi internasional non pemerintah yang fokusnya dalam perlindungan anak yaitu Save the Children ikut serta perihatin dalam kasus-kasus kesehatan dan kondisi gizi anak 1000 hari kehidupan (Bayi Dua Tahu. di Jawa Timur, salah satunya di Kabupaten Malang. Salah satu Kecamatan yang rentan masalah anak balita terkait gizi, stunting beserta masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu Desa Tumpang Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Dorongan sosial yang dapat mempengaruhi terhadap pergeseran perilaku pada masyarakat Desa Tumpang dalam pemberian susu formula bagi anak balita, sebagai masyarakat yang memiliki corak masyarakat agraris yang transisional menuju masyarakat industri, tidak lepas dari pengaruh dari lingkungan sosial-budaya baik bersifat eksternal antara lain, struktur sosial, pranata-pranata sosial, budaya, ekonomi, politik dan pemahaman-pemahaman sosial lainnya. Sedangkan yang mempengaruhi perilaku yang bersifat internal adalah hasil yang diterima seseorang atau merespon dari luar adalah meliputi. perhatian, pengamatan, pengetahuan, persepsi, motivasi, fantasi, sugesti dan sebagainya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Tumpang yang dapat Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 mengejawantahkan pola pergeseran perilaku mareka dari pemberian air susu ibu ke susu formula bagi baduta-nya. Lingkungan masyarakat di Desa Tumpang yang transisional menuju modern dengan segala kemudahannya untuk membentuk perilaku seorang ibu dari pemberian ASI ke susu formula bisa menjadi pola yang sudah dianggap hal yang wajar dan biasabiasa saja serta salah satu bentuk pengasuhan anak yang instan tanpa merepotkan. Oleh sebab itu, penelitian ini difokuskan terhadap pergeseran perilaku masyarakat dalam pemberian susu formula terhadap bayi dua tahun atau 1000 hari kehidupan yang rentan mengakibatkan terhadap masalah-masalah anak yang terjadi di Desa Tumpang Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Strauss . dikutip Ahmadi . , menyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang menghasilkan temuan Ae temuan yang tidak diperoleh oleh alat-alat prosedur statistic atau alat-alat kuantifikasi lainnya. Hal ini dapat mengarah pada penelitian tentang kehidupan, sejarah, perilaku seseorang atau hubungan-hubungan inetraksional. Studi kasus dalam penelitian ini melakukan observasi di definisikan oleh Bogdan dan Biklen, . , studi kasus observasi menekankan teknik pengumpulan data utama, yaitu observasi pelibatan yang dilengkapi dengan wawancara formal dan informal serta pemeriksaan dokumen. dan fokus studi ini adalah suatu organisasi khusus maupun kolompok orang tertentu (Ahmadi, 2014:. Penelitian ini, proses pengumpulan data menggunakan tiga teknik pokok yang saling berkaitan dan melengkapi untuk mengungkapkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan pergeseran perilaku masyarakat dari pemberian ASI ke susu formula yang dialami pada masyarakat desa Tumpang, yaitu observasi, wawancara dan Pemeriksaan data dilakukan untuk membangun reliabilitas data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder. Metode yang digunakan adalah triangulasi. Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data yang diperoleh untuk keperluan pengecekan data atau sebagai pembanding. Menurut Patton (Moleong, 2010:. Hasil dan Pembahasan Data Penelitian Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Pergeseran perilaku dalam pemberian susu formula bukan hanya masalah kesehatan gizi bagi bayi semata, melainkan persolaan parenting, yaitu pola pengasuhan orang tua terhadap anak yang mana tugas pokok dan fungsi keluarga yang sangat menentukan hidup anak kedepan sudah mulai diabaikan serta untuk mengungkap pemahaman dan makna susu formula bagi masyarakat desa Tumpang yang menjadikannya sebagai hal yang wajar, lumrah bahkan menjadi trend. Ibu RS umur 24 tahun, selain sebagai ibu rumah tangga ia kesehariannya disibukkan dengan membantu suami kerja di percetakan dan sablon milik suami dirumahnya di jalan Jago RT. 05 RW. 08 desa Tumpang. Setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) Reni Susilawati dinikahkan oleh orang tuanya dengan seorang laki-laki bernama Nurul Wahyudi, keduanya dikarunia anak laki-laki pertamanya bernama M. Farel Fajrial yang masih belum genap umur dua tahun . yang diasuh dengan memberikannya susu botol, disamping itu, si buah hatinya sering dititipkan sama ibu mertuanya atau keponakannya disaat ibu Reni sedang bekerja membantu suami. Memang tidak dipungkiri. Reni menyadari bahwa dia memberikan susu formula kepada si buah hatinya karena sering ditinggal dan sibuk kerja membantu suami, disamping itu ia mendapatkan dukungan dari suaminya dalam memberikan susu botol terhadap bayi. Ibu SFZ umur 35 tahun tinggal bersama suaminya di Jl. Kertanegara 02 RT. 5 RW. 09 desa Tumpang yang memiliki satu anak. Ia merupakan anak sulung dari 3 Selain sebagai ibu rumah tangga. Zahrah dibilang perempuan yang tidak terlalu sibuk dan bukan perempuan karir, kesehariannya mengurus anak, terkadang membantu suami berkebun atau sekedar mengirim makanan dan minuman untuk suaminya dikebun. SFZ lulus Sekolah Dasar, ia putus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi disebabkan himpitan ekonomi keluarga. Bagi Ibu SFZ, beranggapan bahwa susu formula sangat membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan si buah hatinya terutama membuat anak lebih cerdas sehingga ia jarang memberikan ASI-nya dengan alasan kurang lancar, akhirnya bayinya diberikan asupan makanannya berupa susu formula. Hal ini juga disarankan oleh bidan yang melayaninya dan memberikan beberapa alternative merek susu formula salah satunya Frisian Flag. Karena harga Frisian Flag yang subjek Penelitian anggap mahal, akhirnya menggunakan merek SGM yang lebih murah. Dalam perkembangan anak, menurut subjek Penelitian pertumbuhan bayinya sangat sehat dan cerdas. Ibu YP usia umur 27 tahun seorang ibu rumah tangga dengan pendidikan terakhir SMA. Suaminya bekerja sebagai karyawan di salah satu Hotel di Malang. Walaupun Yulia tidak bekerja sebagai wanita karir, namun ia sering keluar sekedar jalan-jalan bersama si bayi disekitar rumah untuk sekedar ngumpul dengan ibu-ibu tetangga disekitarnya. Kebiasaan tersebut membuat Yulia terpengaruh dari lingkungan Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 ibu-ibu sekitarnya yang memberikan asupan susu formula terhadap bayi mereka. Ibu YP memberikan susu formula terhadap bayinya dengan alasan ASI-nya mulai tidak lancar sejak bayi berusia 6 bulan, dia memaklumi karena anak pertama. Selain itu. Yulia memberikan susu formula supaya asupan gizinya bertambah. Anak menjadi lebih gemuk walaupun anak sering mencret diawal pemberian susu formula. Sedangkan sang suami mendukung Yulia dalam memberikan susu formula, merek susu formula yang ia gunakan adalah SGM, yang memang Yulia pernah mendapatkan semacam rekomendasi dari bidannya. Ibu F umur 33 tahun seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya ada dirumah di Jl. Jago RT. 07 desa Tumpang yang mempunyai 4 anak. Alasan subjek Penelitian menggunakan susu formula adalah karena si bayi menolak atau tidak mau diberikan ASI meskipun ASI yang dihasilkan ibu Fenti lancar. Subjek Penelitian juga merasa lebih ringan dan tidak ribet dengan memberikan susu formula. Selain itu subjek Penelitian juga menyampaikan si bayi terkadang diberi asupan air gula untuk ngapusi kalau menangis, hal itu dilakukan subjek Penelitian supaya lebih irit karena sudah memiliki 4 Pengalaman subjek Penelitian dalam pemberian susu formula terhadap si bayi pernah mengalami mencret di awalAeawal pemberian susu formula . asa penyesuaian bayi dengan susu formul. sehingga subjek Penelitian mengganti merek susu formula dari SGM. Lagtogen dan pada akhirnya cocok sama merek SGM. Bagi Fenti merek SGM disamping sudah cocok bagi si bayi juga harganya terjangkau murah. Ibu HP umur 20 tahun, selain ibu rumah tangga, ia masih berstatus mahasiswa di universitas Widyagama Malang. Hana termasuk pasangan yang menikah saat dini, wajar, orang tuanya merasa khawatir kalau melihat anaknya keluar boncengan dengan seorang laki-laki atau pacarnya semasa kuliah, sehingga Hana dinikahkan untuk menghindari hubungan negatif. Satu tahun setelah pernikahannya, pasangan ini dikaruniai anak lakilaki. Subjek Penelitian juga menceritakan bayinya lahir secara premature, sehingga awal kelahirannya selama beberapa minggu kemudian diberikan susu formula khusus bayi premature oleh dokter. Kelebihan susu formula menurut subjek Penelitian tidak ribet, praktis dan bayi juga bisa ditinggal kemana-mana terutama ditinggal kuliah. Begitipun dengan Ibu FA umur 24 tahun, selain sebagai ibu rumah tangga, ia sebagai perempuan karir yaitu seorang guru di salah satu SMA di Tumpang. Tidak ada pilihan menurutnya untuk memberikan susu formula terhadap baduta yang kesehariannya sering ditinggal kerja, dan menitipkan kepada ibunya untuk mengasuh Jadi. Susu formula bagi Anisa sangat membantu dalam memberikan kemudahan dalam mengasuh si buah hati. Secara pemahaman. Anisa sudah mengetahui akan keunggulan dan kualitas ASI yang lebih baik dari pada susu formula, bahkan pernah ada inisiatif atau niatan untuk memompah air susunya untuk diberikan kepada si bayi. Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 namun Anisa masih merasa khawatir dan rasa takut ada hal-hal buruk terjadi. Anisa adalah lulusan sarjana pertanian di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, sehingga obsesi karir yang mendapatkan dukungan dari sang suami dalam memperioritaskan kerja. Sedangkan yang terjadi pada Ibu E umur 29 tahun, sebagai ibu rumah tangga dan pengusaha salon kecantikan, yang berpenghasilan Rp. 000,- perbulan. Alasan subjek Penelitian memberikan susu formula awalnya hanya sebagai asupan tambahan bagi si bayi tetapi lama kelamaan si bayi tidak mau sama ASI dan akhirnya subjek Penelitian memberikan susu formula saja sebagai pengganti makanan pada si bayi. Alasan lain memberikan susu formula pada si bayi karena profesinya sebagai owner salon dan sering meninggalkan si bayi yang sering menitipkannya pada ibunya dirumah, sehingga susu formula bagi Eva dapat membantunya ketika ditinggal kerja. Disamping itu subjek Penelitian juga menceritakan teman-temannya juga banyak yang memberikan susu formula pada bayinya. Alasan dari salah satu temannya yang menggunakan susu formula juga karena si ibu takut payudara/anggota tubuhnya gendor/lembek, takut gemuk ataupun kurus. Lama kelamaan Ibu Eva dalam berinteraksi dengan temantemannya menjadi terobsesi sehingga ia juga memberikan susu formula terhadap Konstruksi makna yang dipahami beberapa obyek penelitian ini beragam yaitu: Susu Formula Simpel dan Praktis Subjek penelitian beranggapan dan berasumsi bahwa dengan memberikan susu formula dianggap sangat membantu dalam proses pengasuhan anak, terutama saat ditinggal kerja atau saat keluar rumah bersama si bayi yang hanya tinggal membawa susu dot yang sudah dipersiapkan untuk diberikan terhadap bayi saat bayi haus atau saat menangis. Disamping mudah, susu formula juga dimaknai simpel. Susu Formula Sebagai Pengganti ASI ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, namun tidak heran kalau banyak masyarakat menggantinya dengan susu formula, banyak yang menjadi alasan salah satunya adalah ASI tidak lancar atau tidak keluar. Susu Formula Sebagai Simbol Kemewahan dan Gengsi Sosial (Social prestig. Tampilan sosial supaya dianggap mentereng dan mampu dari segi ekonomi, bahkan dianggap peduli terhadap makanan bayi sehingga masyarakat banyak yang berasumsi bahwa dengan memberikan susu formula dianggap mampu secara ekonomi dan sosial dalam mengasuh anak, dan dianggap mampu memenuhi asupan makanan anak yang terbaik dan berkualitas. Pemujaan terhadap Tubuh Di dalam pusaran alam perempuan yang gemar memperhatikan akan kemolekan Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 dan keelokan tubuh yang dianggap ideal, yang tetap segar terawat, fresh dan tidak merusak pada idealitas tubuh. Hal itu yang banyak masyarakat takuti ketika pasca melahirkan dan menyusui. Seperti penuturan Eva umur 29 tahun, sebagai ibu rumah tangga dan pengusaha salon kecantikan yang mengatakan bahwa susu formula bisa menggantikan ASI, sehingga kekhawatiran payudara takut payudata/anggota tubuhnya gendor/lembek serta dapat merusak tubuhnya yang ideal atau seksi. Konstruksi Sosial Atas Perubahan Perilaku Masyarakat Ada dua macam sosialisasi, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi skunder. Berger dan Luckmann . menguraikan sosialisasi primer sebagai sosialisai awal yang dialami individu di masa kecil, disaat mana dia diperkenalkan pada dunia sosial obyektif. Sedangkan sosialisasi skunder menurut Berger dan Luckman . adalah sejumlah Ausub-duniaAy kelembagaan, atau yang berlandaskan lembaga. Sebagaimana penjelasan Berger dan Luckman, tentang sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder, maka pemahaman subyek penelitian tentang Susu Formula, merupakan hasil internalisasi yang melibatkan lembaga sosial primer dan lembaga sosial skunder. Dari data yang diperoleh menunjukan bahwa lembaga sosial primer yaitu keluarga, secara langsung atau tidak langsung melakukan sosialisasi tentang susu formula. Sementara sosialisasi skunder banyak dilakukan oleh Pemerintah melalui program-program kesehatan masyarakat, baik melalui posyandu, puskesmas, dan rumah sakit, disamping pula peran media massa, dan masyarakat umum. Pemberian susu formula yang terjadi dalam masyarakat desa Tumpang terhadap bayi dua tahun . , merupakan sebuah realitas sosial yang perlu didalami dengan beberapa perspektif dan pemahaman yang tuntas dan komprehenship. Kebedaannya sebagai masyarakat transisional dari agraris yang bertumpu pada kegiatan pertanian bergeser pada masyarakat semi industri telah membawa perubahan dalam berbagai perilaku, baik dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya tanpa terkecuali tata cara dan pola mengasuh anak. Masyarakat desa yang dulu lebih meyakini pemberian ASI sebagai sumber makanan pada bayinya, kini telah menggunakan makanan pengganti . ood complmen. sebagai sumber nutrisi dan gizi pada anak melalui susu formula. Peristiwa ini tentu, bukan hal yang serta merta terjadi begitu saja, tentu ada alasan tertentu yang sifatnya kompleks dan tidak berdiri tunggal. Peter Berger dan Luchman . mengistilahkan dengan istilah Konstruksi Sosial, yaitu suatu pandangan bahwa kenyataan-kenyataan sosial yang terjadi dalam masyarakat digambarkan dengan berbagai dialektika yang terdiri dari eksternalisasi yang merupakan proses-proses sosial yang berkaitan dengan upaya adaptasi Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 penyesuaian diri terhadap kondisi-kondisi tertentu. Objektivasi, berkaitan dengan interaksi antara aktor dengan kondisi-kondisi yang dialami, dan internalisasi, berkaitan dengan proses-proses identifikasi diri terhadap berbagai kondisi yang sudah dialami, sehingga perilaku aktor mengarah pada hal-hal yang dianggap biasa dan wajar. Kekuatan dari penjelasan mengenai konsep konstruksi sosial dan kaitannya dengan adanya perubahan perilaku masyarakat desa Tumpang dalam masalah tergantinya pemberian air susu ibu (ASI) oleh susu formula ini tentu melalui prosesproses yang harus dipahami satu persatu, khususnya proses-proses sosialisasi aktor dengan lingkungannya, baik keluarga, tetangga, media massa, tempat kerja dan berbagai dimensi lingkungan sosial yang bisa saja mempengaruhinya. Sebab, proses sosialisasi tersebut teramat penting untuk di lihat secara seksama sebagai proses dasar terjadinya konstruksi sosial pada masyarakat desa Tumpang terutama pemahaman dari orang tua sebagai obyek pendalaman. Pemahaman tentang makna susu formula bagi masyarakat desa Tumpang sebagai hal yang dapat dijadikan alasan dalam pergeseran perilaku masyarakat dari pemberian ASI ke susu formula terhadap bayi dua tahun, diantaranya. pertama bahwa susu formula sebagai pengganti ASI yang tidak lancar, yang oleh ibu yang kecenderungan kondisi fisik kurang sehat atau asupan gizi ibu disaat hamil kurang memadai sehingga menyebabkan produksi air susu yang dihasilkan ibu menyusui kurang lancar dan tidak keluar, sehingga susu formula sebagai makanan pengganti . ood Kedua susu formula bisa di bawa kemana-mana dan simpel disaat ibu keluar atau saat bayi mereka ditinggal dengan kegiatan dan aktivitas keseharian yang sibuk untuk memenuhi hajat diluar rumah, sehingga sering dijadilakn alasan ibu-ibu desa Tumpang dalam menjadikan susu formula sebagai asupan makanan bayi. Ketiga susu formula sebagai simbol kemewahan secara ekonomi dan gengsi sosial dimana dengan memberikan asupan susu formula bagi bayi yang mahal dianggap sudah benarbenar memenuhi kebutuhan gizi pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat, padahal tidak ada merek susu formula yang mahal sekalipun yang mampu menandingi kualitas ASI. Keempat susu formula dipercaya dan diyakini bahwa ibu yang menysusui dapat merusak bentuk tubuh yang ideal dan segar, bisa gemuk, atau kurus, membuat payudaya gendor dan putting sakit. Sehingga bagi ibu yang menyusui terkadang masih lebih mengutamakan kemolekan dan keelokan tubuhnya demi kenyamanan dan pelayanan bagi suami, tidak heran apabila suami cencerung mengamini dan mendukung dalam pemberian susu formula terhadap bayi mereka. Allport . (Notoatmodjo, 2005:. bahwa keyakinan tersebut sebagai salah satu komponen pokok dari sikap yang pada akhirnya melahirkan sebuah perilaku, bahwa pemberian kepercayaan, keyakinan, ide, konsep atau pemikiran seseorang Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 terhadap suatu objek . usu formul. dapat membentuk suatu pemahaman, makna dan Adapun beberapa factor kuat yang menyebabkan hal tersebut terjadi yaitu: Faktor Ekonomi / Hegemoni Kapitalisme Alasan klasik, tapi inilah realitas sosial yang terjadi pada masyarakat desa Tumpang, terutama kaum hawa dalam pergeseran pola pengasuhan bayi terutama alasan-alasan dalam pemberian susu formula terhadap anak yang masih berusia dua Tuntutan kebutuhan keluarga, urusan okupasi, membantu suami, pengemba-ngan bisnis, kejenuhan peran telah membuat wilayah seorang perempuan berkembang dari pasif ekonomi menuju ke aktif ekonomi. Aktif ekonomi tergambar dari pemahaman-pemahaman perempuan terhadap partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi, sebagai hal yang penting dalam era modernisasi dan globalisasi. Pada satu sisi, masuknya perempuan ke dalam pasar kerja memberikan gambaran terjadinya pergeseran dalam pembagian kerja sehingga perempuan terpaksa mengambil peran ganda dalam melanjutkan hidup dalam rumah tangganya (Abraham, 1991:. Sejak munculnya industri, sejumlah besar populasi dipaksa untuk hidup dalam wilayah-wilayah yang terbatas. Para buruh digiring seperti binatang piaraan ke daerah pinggiran kota-kota besar atau desa-desa yang khusus dibangun bagi mereka. Mereka disibukkan di dalam pabrik-pabrik yang mudah dan monoton, meski dengan upah yang Kota Ae kota dihuni oleh karyawan kantoran, pegawai toko, bank, dan administrasi publik, dokter, ahli hukum, guru sekolah, dan orang-orang yang secara langsung atau tidak mendapatkan penghasilan dari industry dan perdagangan (Alexis Carrel, 1987:. Bekerja di dalam rumah . ome industr. maupun diluar rumah seorang istripun ikut peran andil untuk menopang perekonomian keluarga, sehingga kegiatan okupasional bagi perempuan yang memiliki bayi dua tahun yang kewajibannya untuk mengasuh, asah dan mengasihinya dalam memberikan asupan air susu ibu lambat laun tersisihkan, dengan alasan sibuk kerja, sehingga beralih dengan memberikan susu botol . usu formul. sebagai pengganti ASI. Faktor Non Ekonomi Masyarakat desa Tumpang memiliki pemahaman bahwa dengan memberikan susu formula terhadap badutanya membuat bayinya semakin sehat, cerdas dan pintar. Sebagaimana seperti proyeksi iklan susu anak yang ada di televisi yang bikin anak cerdas, padahal secara kualitas baik ketahanan tubuh, pemenuhan gizi dan kecerdasan pada anak bahwa ASI-lah jagonya. Dari sudut pandang sistem medis modern adanya pemahaman masyarakat tentang susu formula yang sebagian masyarakat Desa Tumpang menganggap susu formula Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 membuat anak semakin sehat, cerdas, penyajian praktis dan simpel, bahkan banyak yang beralasan ASI tidak lancer, sehingga dukungan keluarga menjadi perilaku pragmatis seorang Ibu memberikan susu formula pada Baduta. Faktor Sensasi Media Massa Media sebagai corong kapitalis, tidak heran apabila derasnya dan gencarnya promosi susu formula baik melalui pendekatan kelembagaan, maupun media, bahkan langsung melalui ibu-ibu menjadi faktor penghambat pemberian ASI. Seiring dengan adanya tuntutan kerja di sektor industri yang menyedot pekerja perempuan, maka produsen dibidang susu formula semakin gencar memunculkan dan memasarkan produknya, sehingga beraneka cara dipromosikan di media massa seperti TV, radio, media sosial bahkan cetak demi mempengaruhi persepsi masyarakat akan keunggulan susu formula demi meraup keuntungan bagi produsen atau kaum kapitalis (Tazid. Bahkan pemerintah pun dijadikan alat pemasaran susu formula sehingga banyak sekali merek-merek susu formula yang masuk di instansi kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas dan posyandu, banyak petugas kesehatan . menawarkan suatu produk susu formula tertentu. Iklan pada sebuah tayangan televisi memberikan informasi kepada target audiens mengenai suatu produk tertentu. Keunggulan maupun kualitas ditonjolkan dalam iklan tersebut untuk mempengaruhi target audiens agar membeli produk tersebut. Sikap individu dibentuk oleh datangnya informasi, yang berarti sikap seseorang terhadap suatu produk dapat dibentuk melalui terpaan iklan. Kecenderungan yang ibu perhatikan ketika melihat tayangan iklan susu formula adalah slogan dalam susu formula dan bintang iklan yang terlihat cerdas, sehat, dan Saat ini bisa dilihat dalam iklan-iklan susu formula yang ditayangkan di televisi. Dalam iklan tersebut ditampilkan keunggulan-keunggulan yang akan diperoleh apabila anak mengkonsumsi produk mereka. Para calon ibu maupun ibu yang belum teredukasi dengan baik mengenai ASI menjadi salah persepsi. Setelah melihat iklan-iklan tersebut mereka kemudian beranggapan bahwa susu formula merupakan susu terbaik bagi sang Dengan demikian, media massa mempunyai peluang besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan lewat beritanya, yang merupakan hasil dari konstruksi media massa terhadap realitas. Bahasa adalah unsur penting dalam konstruksi realitas. Oleh karena itu jika dicermati secara teliti maka keseluruhan isi media massa sebenarnya adalah bahasa. Baik verbal . isan atau tulisa. maupun non verbal . ambar, foto, gerakAegerik, grafik, angka, tabel, dan lain-lai. (Littlejohn, 2009: Journal Of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 8 No. 2 Tahun 2024 Sebagian besar masyarakat desa Tumpang mengakui bahwa sumber informasi yang membentuk persepsi mereka tentang susu formula diantaranya bersumber dari iklan televisi. Di dalamnya juga terdapat bahasa yang mengantarkan seseorang berperilaku sesuai dengan sesuatu yang didengar dan dilihat. Dalam proses konstrusi inilah individu berperan aktif sebagai pembentuk, pemelihara, sekaligus pengubah masyarakat (Arisandi, 2015:. Iklan susu formula di televisi dapat menjadi faktor yang dapat mempengaruhi perilaku ibu, karena televisi telah menjadi sumber utama dari sosialisasi dan informasi sehari-hari dalam kehidupan masyarakat. Seseorang dapat meningkatkan pengetahuan mereka melalui dorongan-dorongan mengenai suatu informasi yang menerpanya. Penutup Terdapat empat ketegorisasi pemahaman tentang susu formula yang menjadi faktor pergeseran perilaku, yaitu . Susu formula bisa dibawa kemana-mana dan Susu formula sebagai Pengganti ASI yang kurang lancar atau tidak keluar. Susu formula sebagai symbol kemewahan dan gengsi sosial dan, . Kecintaan dan pemujaan terhadap tubuh. Adapun perspektif konstruksi sosial tersebut melihat pergeseran perilaku tata cara pola pengasuhan bayi dua tahun khususnya dalam pemberian ASI ke susu formula, yakni berbagai alasan. Hegemoni Kapitalisme / Alasan Ekonomi menyangkut bekerja, bisnis, dan karir. Subjek penelitian yang menjadi motif dan alasan meninggalkan bayi dan diberikan susu formula dikarenakan sibuk kerja dan kegiatan okupasional laiinnya. Alasan Non-Ekonomi/pragmatis, pemahaman masyarakat tentang susu formula yang diyakini dan dapat menjadikan anak lebih sehat, lebih pintar, dan lebih cerdas yang dipengaruhi oleh proses sosialisasi melalui iklan, supporting keluarga dan lingkungan, hegemoni media massa dimana iklan susu formula lebih sensasional dari pada sosialisasi ASI yang dimotori oleh pemerintah, peran bidan sebagai hidden promotion, dan kecintaan terhadap tubuh. DAFTAR PUSTAKA