SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Analisis Perilaku Konsumsi Rumah Tangga Terhadap Beras Organik Dari Desa Sumber Suko Kecamatan Belitang Kabupaten OKU Timur Analysis Behavioral Of Household Consumption Of Organic Rice From Sumber Suko Village Belitang District OKU Timur Regency Wening Tyas1*. Alifia Okta Billa Margita2. Ardi Yuda Depriansyah3 Program Studi Sains Pertanian, 2 Mahasiswa Program Studi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Nurul Huda. Sukaraja. OKU Timur Indonesia *E-mail: weningtyas@unuha. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi rumah tangga terhadap beras organik dari Desa Sumber Suko. Kabupaten OKU Timur. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2017 di Desa Sumber Suko. Kecamatan Belitang, menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel insidental. Data yang digunakan mencakup data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi rumah tangga terhadap beras organik tergolong tinggi, dengan skor total 84,67 berdasarkan tujuh indikator, yaitu kualitas, harga, kemudahan memperoleh, ketersediaan, kemasan, keamanan, dan manfaat kesehatan dari beras organik. Kata kunci: Beras organik, konsumsi beras organik, perilaku konsumsi ABSTRACT This study aims to analyze household perceptions of organic rice from Sumber Suko Village. OKU Timur Regency. The research was conducted in December 2017 in Sumber Suko Village. Belitang Subdistrict, using a survey method with incidental sampling technique. The data used includes both primary and secondary data. The results show that household perceptions of organic rice are relatively high, with a total score of 84. 67 based on seven indicators: quality, price, ease of acquisition, availability, packaging, safety, and health benefits of organic rice. Keywords: consumption behavior . Organic rice, organic rice consumption E-ISSN 3046-9988 SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. PENDAHULUAN Negara Indonesia digolongkan menjadi negara agraris dan maritim, akan tetapi Indonesia lebih dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani baik petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan dan Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia patut berbangga karena peranan penting pertanian cukup besar dari segi Indonesia mensejahterakan rakyat Indonesia terutama dalam mencukupi pangan (Zian, 2. Beras merupakan pangan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Beras menjadi sangat penting di Indonesia karena 90 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi beras (Pusdatin, 2. Menurut Purwono dan Purwaningsih . , dari total energi yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, hampir 60 persen dicukupi oleh beras. Hal tersebut membuktikan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia akan beras sangat besar. Beras yang berasal dari tanaman padi merupakan makanan pokok Indonesia. Namun dari produksi padi yang dihasilkan ternyata tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan masyarakat. Pada tahun 1963, untuk mengatasi kebutuhan pangan pemerintah telah menetapkan kebijakan bahwa untuk meningkatkan produksi padi secara cepat hanya dapat dicapai bila para petani padi dapat menerapkan teknologi pertanian modern yang kemudian dikenal sebagai teknologi "Revolusi Hijau". Revolusi hijau merupakan perubahan pola budidaya tanaman berdasarkan efisiensi yang menjadi salah satu pemecahan masalah kekurangan pangan. Melalui program revolusi hijau, produksi pangan di Indonesia meningkat. Peningkatan produksi pangan tersebut tidak terlepas dari penggunaan teknologi modern seperti bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh, dan pertanaman monokultur (Sutanto, 2. Di sisi yang lain, penggunaan teknologi modern membuat kualitas beras menurun, beras menjadi tidak sehat karena mengandung residu zat kimia berbahaya yang berasal dari E-ISSN 3046-9988 penggunaan pestisida kimia dan pupuk yang Menurut Sarr . , mengonsumsi makanan yang mengandung residu zat kimia dapat memicu pertumbuhan sel kanker serta mengganggu sistem hormon di masa kini atau di masa yang akan datang. Adanya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan keamaan pangan ini maka preferensi masyarakat dalam mengkonsumsi beras mengalami pergeseran dari beras anorganik ke beras organik. Menurut Food Agriculture Ogranization . , pertanian organik didefinisikan sebagai sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan ekosistem, termasuk siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Pertanian organik menekankan pada meminimalkan input eksternal seperti menghindari penggunaan pupuk dan pestisida Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah Kesuburan tanah dijaga dan ditingkatkan dengan cara mengoptimalkan aktivitas biologis tanah. Hama dan penyakit tanaman dikendalikan dengan merangsang adanya hubungan seimbang antara inang atau predator, peningkatan populasi serangga yang menguntungkan, dan penggunaan pestisida Memasuki abad ke 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis dalam pertanian. Gaya hidup sehat dengan slogan AuBack to NatureAy telah menjadi tren baru meninggalkan pola hidup yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintesis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian (Badan Penelitian dan Pengembangan, 2. Pola hidup sehat menjadi salah satu ukuran kualitas kehidupan masyarakat. Bukan sekedar menyeimbangkan antara kerja dan olahraga, tetapi pola hidup sehat juga mencakup konsumsi makanan. Semakin jauh makanan itu dari kandungan bahan kimia atau pestisida, kemungkinan untuk meningkatkan standar hidup sehat semakin terbuka lebar (Hasibuan, 2. Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah sentra penghasil padi di Indonesia. Pertanian padi di Sumatera Selatan tidak terlepas SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. dari penggunaan faktor-faktor produksi kimia atau sintetis. Banyak petani Sumsel yang masih berbahan kimia untuk bertani padi. Luas panen dan produksi padi di Sumatera Selatan cenderung meningkat setiap tahunnya. Produksi padi antara tahun 2010-2014 meningkat rata-rata sebesar 1,63 persen per tahun. Produksi terbesar terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 3. ton GKP dengan luas panen sebesar 800. 036 Ha. Terjadi peningkatan luas panen pada tahun 2014, yaitu sebesar 810. 900 Ha namun tidak dengan produksinya, produksi padi justru lebih sedikit dibanding tahun 2013 dengan selisih produksi 287 ton GKP (Badan Pusat Statistik. Kabupaten OKU Timur merupakan salah satu daerah penghasil padi terbesar ke dua di Sumatera Selatan dan merupakan penghasil padi organik terbesar di Sumsel untuk tingkat Hal ini terjadi karena adanya Bendungan Perjaya dan jaringan irigasi yang Petani banyak yang mengandalkan jaringan irigasi walaupun terdapat juga usaha pertanian perladangan dan sawah tadah hujan. Tercatat pada tahun 2016 produksi padi di Kabupaten OKU Timur sebesar 63. 259,90 ton GKG (Gabah Kering Gilin. (BPS OKU Timur. Kecamatan Belitang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten OKU Timur yang cukup berpotensi di sektor pertanian terutama tanaman padi. Sebagian besar tanah di Kecamatan Belitang dimanfaatkan sebagai Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Menurut Sugiyono . bahwa metode survei digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah . ukan buata. , tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data misalnya dengan mengedarkan kuisioner, wawancara terstruktur. Metode survei adalah metode penelitian yang mengambil responden Metode penarikan contoh yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dilakukan secara incidental (Accidenta. Jumlah sampel sebanyak 30 responden konsumen beras organik yang dianggap layak untuk mengumpulkan data yang E-ISSN 3046-9988 lahan pertanian padi sawah. Pada tahun 2015, di Kecamatan Belitang ada 5. 404 hektar lahan sawah (BPS OKU Timur, 2. Di Kecamatan Belitang lahan Sawah terluas terdapat di Desa Sidomulyo yaitu 480 hektar. Padi yang dihasilkan di desa Sidomulyo merupakan padi Penghasil padi organik terbesar di Kabupaten OKU Timur dan di Kecamatan Belitang adalah Desa Sumber Suko. Usahatani pada organik telah dilakukan oleh Gabungan Kelompok Tani Sumber Makmur di Desa Sumber Suko Kecamatan Belitang. Berdasarkan informasi dan data dari UPTD Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kecamatan Belitang, di Desa Sumber Suko terdapat 11 kelompok tani dengan jumlah petani padi organik sebanyak 64 orang dan jumlah petani padi anorganik sebanyak 525 orang. Padi organik di Kecamatan Belitang ini merupakan padi organik satu-satunya yang telah mendapat sertifikat AuorganikAy oleh Lembaga Sertifikasi Organik Sumatera Barat, yang diresmikan pada tanggal 5 September 2016 (Balai Penelitian Pangan dan Hortikultura Kecamatan Belitang. Kajian mengenai usahatani padi organik belum banyak disajikan begitu juga dengan informasi mengenai perilaku rumah tangga dalam mengkonsumsi beras organik di Kabupaten OKU Timur yang masih belum ada. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai persepsi rumah tangga dalam membeli dan mengkosumsi beras organik di Kabupaten OKU Timur. METODE PENELITIAN dari populasi dengan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data pokok dan wawancara kepada responden. Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran tentang persepsi rumah tangga terhadap beras organik, menganalisis faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi beras organik dan hubungan antara persepsi rumah tangga terhadap jumlah konsumsi beras organik diperlukan dan mewakili jumlah populasi. Responden penelitian ini adalah konsumen yang membeli beras organik dari Desa Sumber Suko Kecamatan Belitang yang membeli pada distributor di Desa Karang Kemiri dan SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Martapura. Analisis persepsi rumah tangga terhadap beras organik dapat dijawab menggunakan analisis Namun sebelumnya, persepsi konsumsi rumah tangga terhadap beras organik dilihat dari 7 aspek yaitu kualitas, kemasan, kesehatan, keamanan mengkonsumsi, harga, ketersediaan, dan kemudahan memperoleh beras organik. Indikator kualitas, kemasan, keamanan dan kesehatan diukur dengan 5 pernyataan, sedangkan indikator harga, ketersediaan dan kemudahan diukur dengan 4 pernyataan. Setiap pernyataan dikategorikan dengan 3 tingkatan penilaian yaitu tinggi, sedang dan rendah. Rumus yang digunakan untuk mengukur interval kelas adalah sebagai berikut : = NST Ae NSR = NR : JIK Dimana : = Nilai Range NST = Nilai Skor Tertinggi NSR = Nilai Skor Terendah JIK = Jumlah Interval Kelas = Panjang Interval Rumus yang digunakan untuk interval kelas total adalah : NST = 60 [ 4 indikator x 5 pernyataan x bobot pernyataan . ] NSR = 20 [ 4 indikator x 5 pernyataan x bobot pernyataan . ] JIK Perhitungan : = NST Ae NSR = NR : JIK = 60 Ae 20 = 40 : 3 = 40 = 13,33 Untuk interval kelas per indikator adalah : NST = 15 . pernyataan x bobot pernyataan . ] NSR = 5 . pernyataan x bobot pernyataan . ] Perhitungan : = NST Ae NSR = NR : JIK = 15 Ae 5 = 10 : 3 = 10 = 3,33 Untuk interval kelas per pernyataan adalah : NST = 3 . pernyataan x bobot pernyataan . ] NSR = 1 . pernyataan x bobot pernyataan . ] Perhitungan : = NST Ae NSR = NR : JIK =3 Ae1 =2:3 = 0,67 Tabel 2. Nilai Interval Kelas untuk Indikator Kualitas. Kemasan. Keamanan dan Kesehatan Beras Organik Nilai Interval Kelas Nilai Interval kelas Nilai No (Skor Tota. Kriteria . er indikato. er pernyataa. 20,00 O x O 33,33 5,00 O x O 8,33 1,00 O x O 1,67 Rendah 33,33 < x O 46,66 8,33 < x O 11,66 1,67 < x O 2,34 Sedang 46,66 < x O 60,00 11,66 < x O 15,00 2,34 < x O 3,00 Tinggi E-ISSN 3046-9988 SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Rumus yang digunakan untuk mengukur interval kelas adalah sebagai berikut : NR= NST Ae NSR PI= NR : JIK Dimana : = Nilai Range NST = Nilai Skor Tertinggi NSR = Nilai Skor Terendah JIK = Jumlah Interval Kelas = Panjang Interval Rumus yang digunakan untuk interval kelas total adalah : NST = 36 [ 3 indikator x 4 pernyataan x bobot pernyataan . ] NSR = 12 [ 3 indikator x 4 pernyataan x bobot pernyataan . ] JIK Perhitungan : = NST Ae NSR = NR : JIK = 36 Ae 12 = 24 : 3 = 24 Untuk interval kelas per indikator adalah NST = 12 . pernyataan x bobot pernyataan . ] NSR = 4 . pernyataan x bobot pernyataan . ] Perhitungan : = NST Ae NSR = NR : JIK = 12 Ae 4 =8:3 = 2,66 Untuk interval kelas per pernyataan adalah : NST = 3 . pernyataan x bobot pernyataan . ] NSR = 1 . pernyataan x bobot pernyataan . ] Perhitungan : = NST Ae NSR = NR : JIK =3Ae1 =2:3 = 0,67 Tabel 2. Nilai Interval Kelas untuk Indikator Harga. Ketersediaan dan Kemudahan Memperoleh Beras Organik Nilai Interval Kelas Nilai Interval kelas Nilai No (Skor Tota. Kriteria . er indikato. er pernyataa. 12,00 O x O 20,00 4,00 O x O 6,66 1,00 O x O 1,67 Rendah 20,00 < x O 28,00 6,66 < x O 9,32 1,67 < x O 2,34 Sedang 28,00 < x O 36,00 9,32 < x O 12,00 2,34 < x O 3,00 Tinggi HASIL DAN PEMBAHASAN Persepsi konsumsi terhadap beras organik dari Desa Sumber Suko Kecamatan Belitang Kabupaten OKU Timur dilihat dari 7 indikator yaitu kualitas beras organik, harga beras organik, kemudahan dalam memperoleh beras organik, ketersediaan beras organik, kemasan beras organik, keamanan mengkonsumsi beras organik dan kesehatan mengkonsumsi beras E-ISSN 3046-9988 Indikator kualitas, kemasan, keamanan dan kesehatan diukur dengan 5 pernyataan, sedangkan indikator harga, ketersediaan dan kemudahan diukur dengan 4 pernyataan. Pengukuran skor indikator persepsi mengunakan metode skoring sehingga diperoleh skor rata-rata untuk setiap indikator. Persepsi rumah tangga dalam konsumsi beras organik diukur menggunakan 3 kategori yaitu kategori tinggi. SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. sedang dan rendah. Skor total dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor Persepsi Rumah Tangga Terhadap Konsumsi Beras Organik Indikator Persepsi Skor Kualitas beras organik 13,27 Harga beras organik 10,63 Kemudahan dalam memperoleh beras 10,07 Ketersediaan beras organik 9,33 Kemasan beras organik 12,53 Keamanan konsumsi beras organik 14,40 Kesehatan konsumsi beras organik 14,43 TOTAL 84,67 Dari 7 indikator didapatkan skor rata-rata sebesar 84,67 dan berada pada kriteria tinggi. Hal ini tidak sejalan dengan hipotesis penelitian yaitu persepsi rumah tangga terhadap konsumsi beras organik berada pada kriteria sedang, sedangkan hasil yang diperoleh di lapangan persepsi konsumsi rumah tangga terhadap beras organik berada pada kriteria tinggi. Berikut skor rata-rata per indikator persepsi beras organik dari Desa Sumber Suko. Kualitas Beras Organik Warna beras organik Ketahanan nasi beras organik Tekstur nasi beras organik Aroma nasi beras organik Rasa nasi beras organik TOTAL Berdasarkan hasil yang diperoleh di lapangan didapatkan hasil bahwa warna beras organik yaitu putih kusam atau putih kekuningkuningan. Warna putih kusam merupakan warna natural beras tanpa bahan pemutih. Menurut konsumen warna beras yang baik yaitu warna putih mengkilat, sehingga konsumen kurang menyukai warna beras organik yang putih Meskipun pada kenyataannya beras yang baik adalah bewarna putih kusam natural tanpa ditambah bahan pemutih atau pengawet. Nasi beras organik memiliki aroma yang khas, rasanya lebih pulen dan ada sedikit rasa E-ISSN 3046-9988 Kriteria Kualitas Beras Organik Kualitas beras organik merupakan mutu atau baik buruknya beras organik yang diukur oleh 5 indikator. Skor rata-rata kualitas beras organik dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Kualitas Beras Organik Skor 2,30 2,73 2,60 2,90 2,73 13,27 Kriteria kemanis-manisan, yang menurut konsumen rasa beras organik lebih enak dibandingkan dengan nasi beras anorganik. Nasi beras organik tidak cepat basi dan bisa bertahan 2 hari di suhu ruangan, sedangkan beras anorganik cenderung lebih cepat basi karena menggunakan bahan Harga Beras Organik Harga menjadi hal krusial yang membatasi konsumen untuk membeli beras Skor rata-rata persepsi harga beras organik dapat dilihat pada Tabel 3. SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Harga Beras Organik Harga Beras Organik Skor Kriteria Kesesuaian harga dengan kualitas 2,90 Harga beras organik 2,43 Perbandingan harga beras organik dan 2,30 Kesesuaian manfaat dan mutu 3,00 TOTAL 10,63 pemenuhan kebutuhan akan konsumsi beras Berdasarkan hasil wawancara di Hal tersebut karena yang diinginkan lapangan, harga beras organik yang dijual konsumen adalah manfaat dari beras organik melalui setiap distributor sama yaitu Rp. serta kesesuaian dengan manfaat yang akan per kg atau Rp. 000 per kemasan 5 kg. Harga beras organik lebih mahal dibandingkan dengan harga beras anorganik yang hanya Rp. 000 per Kemudahan dalam Memperoleh Namun menurut konsumen harga beras Beras Organik organik yang mahal sesuai dengan kualitas dan Kemudahan yang akan diperoleh apabila kemudahan konsumen dalam memperoleh beras mengkonsumsi beras organik. Selain itu juga Ketersediaan beras organik yang terjaga sesuai dengan biaya yang digunakan untuk akan mampu membuat konsumen untuk usahatani beras organik yang mahal karena melakukan keputusan membeli beras organik. menggunakan bahan-bahan organik tanpa bahan Skor rata-rata persepsi kemudahan dalam Meskipun harga beras organik meningkat memperoleh beras organik dapat dilihat pada konsumen bersedia untuk membayar tinggi demi Tabel 3. Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Kemudahan Memperoleh Beras Organik Kemudahan Memperoleh Beras Organik Skor Cara memperoleh beras organik 2,47 Jarak lokasi pembelian 2,47 Pemesanan beras organik 2,30 Pelayanan produsen 2,83 TOTAL 10,07 Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, konsumen membeli beras organik melalui distributor-distributor. Hal ini memang karena beras organik belum dijual secara bebas di supermarket atau ditoko-toko tradisional. Hal tersebutlah yang membuat konsumen merasa kesulitan untuk mendapatkan beras organik apabila tidak membeli melalui distributor. Persyaratan untuk masuk ke supermarket yang cukup rumit membuat beras organik belum bisa dijual di supermarket atau toko tradisional. Belum adanya sertifikat keamanan dari BPOM dan halal dari MUI menjadi faktor terbesar beras organik belum bisa masuk ke supermarket atau toko-toko tradisional. Pembelian beras organik E-ISSN 3046-9988 Kriteria bisa dilakukan dengan cara via telepon ataupun datang langsung ke tempat distributor yang berada dekat dengan tempat tinggal. Namun terkadang persedian beras organik di distributor tidak selalu tersedia karena jarak distributor dengan Gapoktan yang jauh kurang lebih 40 Ksm serta akses jalan yang rusak sehingga konsumen harus menunggu pemesan terlebih Hal tersebutlah yang membuat pemesanan beras organik berada pada kriteria rendah karena konsumen kesulitan dalam memperoleh beras organik. Ketersediaan Beras Organik SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Ketersediaan diartikan sebagai stok atau persediaan beras organik yang mencukupi untuk kebutuhan konsumen. Skor rata-rata persepsi ketersediaan beras organik dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Ketersediaan Beras Organik Ketersediaan Beras Organik Skor Ketersediaan setiap bulan 2,53 Pemenuhan permintaan 2,33 Waktu pembelian beras organik 2,30 Jumlah pembelian 2,17 TOTAL 9,33 Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, beras organik selalu tersedia setiap saat di Gapoktan. Hal ini karena ketika panen seluruh hasil panen petani beras organik di Desa Sumber Suko akan mengumpulkannya kepada Gapoktan Sumber Makmur. Gapoktanlah yang akan mengemas beras organik dan menyimpannya untuk Hanya saja jarak antara distributor dengan Gapoktan Sumber Makmur jauh yaitu sekitar 40 Km serta akses jalan yang rusak dan Kriteria kesibukan dari distributor, hal itu membuat persediaan di distributor tidak selalu ada. Konsumen perlu menunggu waktu untuk distributor mengambil beras organik dari Gapoktan. Sehingga terkadang distributor kesulitan dalam memenuhi kebutuhan konsumen akan beras organik. Konsumen biasa membeli beras organik apabila persedian sudah habis dan dilakukan satu kali setiap bulannya sedangkan jumlah pembelian tidak meningkat atau sama setiap pembeliannya. Kemasan Beras Organik Kemasan merupakan desain kreatif yang digunakan untuk membungkus, dan melindungi beras Skor rata-rata persepsi terhadap kemasan beras organik dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Kemasan Beras Organik Kemasan Beras Organik Skor Warna kemasan 2,40 Bahan kemasan 1,80 Ukuran kemasan 2,53 Kemudahan membawa kemasan 2,97 Desain kemasan 2,83 TOTAL 12,53 Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, kemasan beras organik hanya tersedia dalam satu bentuk yaitu kemasan ukuran 5 kg. Menurut konsumen sebaiknya beras organik dikemas dengan berbagai ukuran sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bahan yang digunakan untuk mengemas beras organik terbuat dari bahan plastik yang dipres, sedangkan menurut konsumen sebaiknya kemasan beras organik menggunakan bahan alumunium yang lebih E-ISSN 3046-9988 Kriteria aman untuk kemasan makanan. Kemasan beras organik terlihat menarik dengan gambar kemasan yaitu Bendungan Komering yang menjadi ciri khas dari Kabupaten OKU Timur. Beras organik mudah dibawa karena terdapat pegangan untuk membawanya. Konsumen sudah merasa puas dengan kemasan beras organik yang sekarang namun perlu dilakukan pergantian desain kemasan agar konsumen tidak SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. bahan kimia berbahaya. Persepsi keamanan Keamanan Mengkonsumsi Beras mengkonsumsi beras organik dapat dilihat dari 5 Organik Skor rata-rata persepsi terhadap Keamanan mengkonsumi beras organik keamanan mengkonsumsi beras organik dapat berdasarkan pada beras organik yang berkualitas dilihat pada Tabel 3. dan aman untuk dikonsumsi yang terbebas dari Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Keamanan Mengkonsumsi Beras Organik Keamanan Mengkonsumsi Beras Organik Skor Kriteria Umur konsumen beras organik 2,97 Kandungan bahan kimia 2,87 Pupuk dan pestisida usahatani 2,77 Hama dan penyakit 2,83 2,97 Hubungan usahatani padi organik dengan TOTAL 14,40 Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, usahatani padi organik terbebas dari pestisida dan bahan kimia lainnya. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia akan merusak lingkungan dengan mengurangi kandungan unsur hara di tanah dan merusak kualitas dari beras organik. Usahatani padi organik menggunkan pupuk dan pestisida alami yang dibuat sendiri oleh petani dan difasilitas pemerintah melalui gapoktan, sehingga usahatani padi organik tidak akan merusak lingkungan. Beras organik aman untuk dikonsumsi semua umur dari balita hingga dewasa karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya dan berbebas dari hama dan penyakit. Kesehatan Mengkonsumsi Beras Organik Kesehatan beras organik diartikan sebagai manfaat kandungan nutrisi dan gizi beras organik terhadap kesehatan. Skor rata-rata persepsi manfaat beras organik terhadap kesehatan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Skor Rata-Rata Persepsi Terhadap Kesehatan Mengkonsumsi Beras Organik Kesehatan Mengkonsumsi Beras Organik Skor Perbandingan kandungan gizi beras organik 2,93 dan anorganik Manfaat untuk penderita penyakit 2,97 2,80 Manfaat beras organik untuk daya tahan Manfaat beras organik untuk kesehatan 2,97 Manfaat beras organik untuk tekanan darah 2,77 TOTAL 14,43 Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, konsumen memilih untuk mengkonsumsi beras organik karena manfaatnya untuk kesehatan. Beras organik baik untuk dikonsumsi oleh penderita penyakit tertentu seperti diabetes, mengkonsumsi beras organik kandungan gula dalam darah tidak bertambah atau tetap sehingga konsumen merasa mengkonsumsi beras organik E-ISSN 3046-9988 Kriteria aman dan tidak membuat kandungan gula Kandungan gizi yang dimiliki oleh beras organik lebih tinggi dibadingkan dengan beras anorganik. Beras organik sangat bermanfaat untuk dikonsumsi oleh siapa pun KESIMPULAN Berdasarkan hasil dari penelitian dan pengolahan data dapat disimpulkan bahwa SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 71-81 Maret 2025 SIMBIOSIS : JURNAL SAINS PERTANIAN DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Persepsi rumah tangga terhadap beras organik yang diukur dari 7 indikator kualitas beras organik, harga beras organik, kemudahan dalam memperoleh beras organik, ketersediaan beras organik, kemasan beras organik, keamanan mengkonsumsi beras organik dan kesehatan mengkonsumsi beras organik berada pada kriteria tinggi dengan nilai skor total sebesar 84,67. DAFTAR PUSTAKA