PROSIDING ILMU PENDIDIKAN DAN KEGURUAN Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Volume 2 November 2024 . PENGARUH BULLYING TERHADAP INTERAKSI SISWA SEKOLAH DASAR Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia Corresponding Author: firajapra@gmail. com, siti. masyithoh@uinjkt. ABSTRAK Dalam sebuah Pendidikan pasti tidak luput akan terjadinya kasus pembullyian terutama di Tingkat sekolah dasar, oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk : 1. Apakah ada pengaruh bullying terhadap interaksi sosial siswa di sekolah dasar? 2. Bagaimana gambaran perilaku bullying yang terjadi pada siswa di sekolah dasar? Pengumpulan data dengan menggunakan study kepustakaan dengan literatur review dari beberapa jurnal sekolah dasar. Tulisan ini menerapakan metode deskriptif kualitatif berjenis penelitian berupa studi kepustakaan . ibrary researc. yakni mengumpulkan informasi ataupun karya tulis ilmiah yang memiliki hubungan dengan literature review yang bersifat kepustakaan. Penelitian deskriptif dan kualitatif yang dikombinasikan kemudian disebut juga sebagai penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh antara perilaku bullying terhadap interaksi social siswa yang disebabkan bullying verbal maupun bullying non verbal. Kata kunci: bullying, interaksi social, sekolah dasar ABSTRACT In an education, there will certainly not escape the occurrence of bullying cases, especially at the elementary school level, therefore this study aims to: 1. Is there an influence of bullying on students' social interactions in elementary school? 2. What is the picture of bullying behavior that occurs in students in elementary school? Data collection using literature study with literature review from several elementary school journals. This paper applies a qualitative descriptive method of research type in the form of library research, namely collecting information or scientific papers that have a relationship with literature review that is Descriptive and qualitative research combined is then also referred to as qualitative descriptive research. Research shows that there is an influence between bullying behavior on student social interaction caused by verbal bullying and non-verbal bullying. Keywords: bullying, interaction social, elementary school PENDAHULUAN Sekolah memiliki peran yang signifikan dalam proses mencerdaskan generasi bangsa. Namun, ironisnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk meningkatkan pengetahuan siswa, melainkan juga menjadi ajang kekerasan. Kekerasan tersebut bisa terjadi antara siswa dan guru, guru dan siswa, atau bahkan sesama siswa. Semakin banyak insiden kekerasan yang dilakukan oleh siswa di sekolah, ini tentu menjadi sumber kekhawatiran dan kegelisahan. Tindakan kekerasan ini menjadi bukti dari hilangnya moral dan kemanusiaan. Meskipun E-ISSN: 3026-6416 Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. seringnya kita mendengar tentang tawuran antar pelajar sebagai bentuk kekerasan di sekolah, sebenarnya masih banyak bentuk kekerasan lain yang terjadi dan bisa memiliki dampak yang lebih serius. Kekerasan dalam konteks pendidikan bisa terjadi di dalam maupun di luar sekolah, baik di sekolah umum maupun di pesantren. Menurut penelitian (Emi. Syahrial, and Hardi 2. (Emi. Syahrial, and Hardi 2. Salah satu permasalahan yang sering terjadi dikalangan pelajar adalah perundungan atau bullying. Kata bullying berasal dari bahasa Inggris yang berarti 'menindas'. Bullying dalam bidang pendidikan merupakan salah satu tindak pidana yang sering dihadapi oleh pelajar. Menurut definisi Rigby yang dikutip dalam penelitian Emi et al. , bullying adalah keinginan untuk menyakiti korbannya, dan keinginan tersebut diwujudkan melalui tindakan yang menimbulkan rasa sakit. Sekalipun dilakukan dengan baik, proses ini sering kali dilakukan berulang kali oleh individu atau kelompok yang mempunyai kekuasaan, terlepas dari tanggung jawab Penindasan adalah serangkaian ancaman yang dimaksudkan untuk menyebabkan kerugian fisik atau emosional. Keterampilan sosial mengacu pada kemampuan individu dalam mengelola emosinya dalam berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan empati, dan mengendalikan emosi diri sendiri dan orang lain agar dapat berinteraksi dengan baik dengan teman sebaya atau orang dewasa di sekitarnya. Pentingnya memperhatikan interaksi sosial dalam mengembangkan keterampilan social. Menurut (Suyokmuti 2. interaksi sosial melibatkan berbagai tindakan atau kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih, masing-masing dengan tujuan dan orientasi yang Namun, perilaku bullying dapat mengganggu interaksi sosial siswa, membuat mereka merasa terasing dan kesulitan untuk berinteraksi dengan baik di lingkungan sekolah. Pengertian bullying menurut KBBI yaitu menindas, merundung, merisak dan mengintimidasi yang berarti penyalahgunaan dan pengintimidasian kepada orang lain menggunakan kekerasan dengan mengancam dan memaksa orang tersebut. (Sapitri 2. Bagi individu atau kelompok yang berpartisipasi dalam ancaman atau pemaksaan, hal ini mungkin menjadi kebiasaan dan korban yang dituju dapat menjadi sasaran berulang kali. Kekerasan tersebut mungkin dimotivasi oleh ras, agama, jenis kelamin, atau kemampuan. Pelecehan disebut AumenyakatAy dalam bahasa Indonesia yang artinya mengganggu, mengganggu, dan menyusahkan orang lain. Artinya, pelecehan adalah suatu sikap atau kejahatan yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang atau sekelompokorang yang mempunyai kekuasaan terlalu besar terhadap orang lain, dengan tujuan untuk merugikan korbannya, dan tindakan tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah yang merupakan tempat menimba ilmu dan mengembangkan akhlak yang baik, nyatanya telah berubah menjadi tempat terjadinya tindak Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. kriminal seperti perundungan, dan kejadian yang terjadi di kalangan siswa juga cukup Menurut Willis dan Wati dalam penelitian (Andria Pragholapati. Rizki Muliani n. ) dan kawan-kawan mengatakan tindakan membuli bisa ditimbulkan dari 2 faktor, yaitu faktor dari dalam diri dan faktor dari luar diri. Faktor dari dalam diri seperti ciri-ciri kepribadian, contohnya yaitu lemah dalam mempertahankan diri dan anak tersebut dari lahir memang mempunyai sifat suka mengganggu, dan untuk faktor dari luar diri seperti dari faktor keluarga contohnya orang tua kurang memperhatikan dan memberikan kasih sayang untuk anaknya, keadaan ekonomi keluarga yang kurang mencukupi juga faktor dari pertemanan baik itu teman di lingkungan rumah maupun teman di sekolah. Jadi dengan kata lain faktor-faktor tersebut berpotensi membuat mereka akan menjadi korban dari perilaku bullying yang ada. Perilaku membuli sendiri bagi sebagian pelajar dianggap sebagai ajang untuk menunjukkan kekuatan mereka, dimana mereka yang paling jago atau kuat akan semena-mena terhadap mereka yang lemah. Namun, meskipun demikian perilaku bullying disini tidak dapat dibenarkan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa perilaku bullying merupakan suatu perbuatan atau tindakan yang tidak baik dan dalam agama Islam juga telah melarang perilaku membuli dalam bentuk apapun. Dimana larangan tersebut tercantum dalam firman Allah SWT. surah ke49 dalam al-Quran yaitu surah Al-Hujurat ayat ke-11 sebagai berikut: AOaOac aN Eac aOIa aII aO aE Oa a Ca OIA A eO a I OacEaIac aO U aI I aNIac o aO aE aEIa a O a IAa aEaI aO aE aIaa a OA a A eO a I OacEa OI aO aO U aI I aNI aO aE Ia ae I aI Ia aeA a AI aI Ca OIA aAI aO aI I EacI aO a aOEeaiEa Na aI Ec aE aI OIA a Aa Ea ECaA a Ao a A a A aE aI EAa aOCa a a E aO aIA "Hei orang-orang yang beriman, janganlah suatu kelompok menghina kelompok lain, karena bisa jadi yang mereka hina itu lebih baik dari mereka. Jangan pula sekelompok perempuan merendahkan kelompok lainnya, bisa jadi yang direndahkan itu lebih baik. Hindarilah mencela diri sendiri dan jangan memanggil dengan kata-kata yang merendahkan. Panggilan yang paling buruk adalah yang datang setelah beriman. Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka merekalah yang zalim. (Listiawati 2. Dari ayat tersebut, jelas bahwa Allah melarang mengolok-olok atau mengejek sesama manusia. Namun, dari perspektif lain, siapa pun yang mengejek orang lain akan mengalami dampak buruknya, bahkan bisa mendapatkan ejekan yang lebih buruk lagi. Larangan ini juga berlaku bagi pengejek dan yang diejek, agar tidak memicu atau merespon dengan ejekan atau penghinaan yang sama, karena itu sama saja dengan mengejek diri sendiri. Mengejek dan menghina sesama manusia adalah perilaku negatif yang tidak disukai Allah. Sebaliknya. Allah menyukai hamba-Nya yang hidup dalam kedamaian, harmoni, dan tolongmenolong. Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. (Xiao n. ) Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat eksis secara independen dan membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk menjaga kelangsungan Interaksi sosial mencakup segala bentuk hubungan yang melibatkan individu, termasuk hubungan antara individu dengan individu lainnya, antara kelompok dengan kelompok lainnya, serta tindakan individu terhadap kelompok atau individu lain. Ini membentuk dasar dari keberadaan dan kelangsungan proses sosial yang disebut sebagai interaksi sosial. Interaksi sosial menjadi cara bagi individu untuk menjaga perilaku sosialnya agar dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Menurut Walgito yang dikutip dalam penelitian (Virgia Ningrum Fatnar n. ), hubungan yang baik adalah hubungan yang aktif antara dua pihak dan menghasilkan timbal balik. Oleh karena itu, interaksi manusia tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, di mana kehidupan yang baik dan manusiawi hanya dapat terwujud jika terdapat hubungan yang baik antarindividu. Sekolah berperan penting dalam menjalin hubungan baik dalam kehidupan masyarakat. Lingkungan yang mendukung akan menciptakan pengalaman positif bagi individu. Setiap individu mempunyai cara unik dalam menjalin hubungan interpersonal, hal ini disebabkan oleh karakteristik setiap orang yang berbeda-beda. Perbedaan dapat menimbulkan interaksi positif atau negatif. Karena interaksi positif adalah kunci kesehatan, interaksi positif diharapkan dapat mendukung perkembangan pribadi dan mental. Anak-anak khususnya anak sekolah dasar sangat membutuhkan lingkungan yang baik untuk mengembangkan keterampilannya dan bergaul dengan orang lain. Interaksi positif selama proses pembelajaran dapat membantu Anda mencapai tujuan pembelajaran, mendorong persaingan yang sehat, dan membantu Anda mengambil pilihan dalam mencapai tujuan Anda. Pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran juga dapat memunculkan sikap kasih sayang, empati, dan perilaku baik pada diri Interaksi selama pembelajaran dapat mengembangkan kepribadian siswa dan menimbulkan dampak positif bagi dirinya. Namun pada masa tumbuh kembang anak di sekolah dasar, banyak yang masih mengalami kesulitan dalam bersosialisasi sehingga sulit diterima oleh Beberapa hal dapat menjadi kendala dalam interaksi ini. (Nurhasanah and Sobandi 2. Beberapa variabel yang mempengaruhi interaksi sosial termasuk sifat-sifat kepribadian, situasi ekonomi, dan faktor-faktor luar lainnya. Proses terbentuknya hubungan yang baik dalam masyarakat memiliki beberapa karakteristik utama: Melibatkan dua orang atau lebih sebagai partisipannya. Terdapat saling ketergantungan antara para partisipan. Interaksi tersebut dapat bersifat langsung dari hubungan yang baik. Memiliki tujuan atau maksud yang jelas di dalamnya. Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. (A 2. Interaksi manusia dalam masyarakat terjadi ketika dua syarat terpenuhi: Kontak dan komunikasi langsung antara manusia, seperti sentuhan, percakapan, atau tatap muka, yang menghasilkan tindakan dan reaksi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari satu individu ke individu lainnya, baik secara langsung maupun melalui media, dengan harapan mendapatkan tanggapan atau tindakan dari individu tersebut. Salah satu bentuk tindakan kolektif adalah interaksi antara dua pihak dalam suatu hubungan. Interaksi sosial menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Tanpa interaksi, kehidupan dan relasi antar manusia dalam masyarakat tidak akan terjadi karena interaksi manusia adalah prasyarat utama aktivitas sosial. Misalnya, lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar bagi siswa, tetapi juga tempat untuk berinteraksi dengan guru dan sesama siswa serta mengembangkan keterampilan interpersonal. Oleh karena itu, lingkungan sekolah menjadi model bagi siswa dalam belajar melakukan kegiatan sosial secara efektif. Keterampilan komunikasi yang baik sangat penting bagi generasi muda agar dapat berhasil dalam pekerjaan Namun, masalah timbul ketika interaksi antara individu dan teman-teman terganggu oleh masalah seperti intimidasi atau pelecehan. Korban bullying sulit menjaga hubungan yang baik dengan teman-temannya karena kehilangan rasa hormat dan penghargaan. Begitu juga, orang-orang di sekitar mereka sering merasa kesal terhadap pelaku bullying karena dianggap memberikan pengaruh negatif yang merugikan hubungan mereka dengan teman dan Dari penjelasan tersebut, terlihat keterkaitan antara perilaku bullying dengan interaksi sosial Korban bullying cenderung kesulitan menjalin hubungan yang baik dengan temantemannya, sementara pelaku bullying juga tidak disukai oleh lingkungannya karena dianggap membawa dampak negatif. Hal ini tentu saja berdampak buruk pada interaksi sosial mereka dengan teman dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Pengaruh Perilaku Bullying Terhadap Interaksi Sosial Siswa Di Sekolah Dasar". Peneliti berpendapat bahwa penelitian mengenai topik ini penting agar hasilnya dapat menjadi acuan bagi semua pihak dan menjadi motivasi bagi siswa yang menjadi korban bullying untuk tetap menjalankan aktivitas sosial dengan baik. Dari konteks masalah yang telah diuraikan, rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut:1. Apakah terdapat pengaruh bullying terhadap interaksi sosial siswa di sekolah dasar, 2. Bagaimana karakteristik perilaku bullying yang terjadi pada siswa di sekolah Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. METODE Artikel ini menerapkan pendekatan penelitian deskriptif dan kualitatif dalam melakukan tinjauan pustaka, yang melibatkan pengumpulan data dari literatur atau artikel ilmiah yang mengeksplorasi esensi literatur tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Selain itu, penelitian ini memberikan informasi tanpa melakukan manipulasi atau tambahan perlakuan lainnya. Sumber utama data dalam penelitian ini adalah artikel-artikel ilmiah terdahulu yang terkait dengan literatur kajian seperti buku metodologi penelitian, artikel berita, artikel online, dan literatur relevan lainnya. Mengenai metode tersebut, (Winartha 2. menjelaskan bahwa analisis kualitatif adalah suatu metode yang melibatkan proses menganalisis, menafsirkan dan merangkum berbagai data yang dikumpulkan melalui wawancara atau langsung dalam konteks suatu pertanyaan penelitian. Sementara itu, (Sugiyono 2. Penelitian kualitatif, yang didefinisikan sebagai pendekatan penelitian yang berakar pada filosofi postpositivisme, umumnya diterapkan dalam konteks situasi dunia nyata di mana peneliti menjadi instrumen utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada pembaca tentang hubungan antara perilaku bullying dan interaksi siswa di sekolah dasar. Harapannya, pembaca akan memperoleh keahlian dan perspektif yang memadai untuk menerapkan metode dan konsep berbeda dalam melakukan tinjauan pustaka dalam penelitian mereka dengan efektif dan efisien, sehingga menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Artikel ini menggunakan metode interpretasi kualitatif dan termasuk dalam kategori penelitian tinjauan pustaka, yang melibatkan pengumpulan data dari artikel ilmiah yang relevan dengan tinjauan pustaka tersebut. Penelitian ini menggabungkan pendekatan deskriptif dan kualitatif serta menyajikan data tanpa melakukan manipulasi atau menggunakan metode tambahan lainnya (Winartha Sumber utama data dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen ilmiah terdahulu yang terkait dengan penelitian kepustakaan, seperti buku metode penelitian, artikel berita, artikel internet, dan dokumen lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh (Sugiyono 2. penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berakar pada filosofi postpositivisme, yang digunakan untuk melakukan penelitian dalam konteks situasi nyata di mana peneliti menjadi instrumen utamanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada pembaca tentang hubungan antara perilaku bullying dan interaksi siswa di sekolah dasar. Kami yakin bahwa pembaca memiliki minat dan wawasan untuk mengeksplorasi berbagai metode dan konsep, menggunakan literatur yang sesuai, dan menyampaikan produk tulisan yang berkualitas. Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi dan Aspek Bullying Definisi Bullying (Amini 2. Secara etimologis, kata 'bully' dalam bahasa Indonesia berarti pengganggu atau orang yang menindas pihak yang lemah. Kata Aumenakut-nakutiAy dapat diterjemahkan menjadi AusentuhanAy . ari kata AucacatA. , orang yang menunjukkan perilaku tersebut disebut AupemfitnahAy. AuPelecehanAy berarti melecehkan, melecehkan, atau menghalangi orang lain. Oleh karena itu, bullying dapat diartikan sebagai penggunaan kekerasan atau pemaksaan terhadap individu atau kelompok terhadap mereka yang dianggap lemah atau tidak berdaya. Menurut Tatum, intimidasi adalah "niat yang disengaja dan disengaja untuk menyakiti orang lain dan menyebabkan orang tersebut tertekan. " Menurut (Meggit 2. perilaku bullying merupakan tekanan dan ancaman yang terus-menerus terhadap seseorang. Ini merusak secara emosional dan juga fisik. Berdasarkan definisi di atas, kita dapat menegaskan bahwa perilaku bullying adalah suatu tindakan negatif yang berulang kali merugikan atau melukai korban secara verbal, fisik, atau emosional. Hal ini menyebabkan korban menjadi depresi, takut, trauma, dan kehilangan rasa percaya diri. Seringkali pelaku intimidasi menganggap dirinya lebih berkuasa dibandingkan korbannya. Perilaku bullying memberikan dampak negatif pada korbannya, baik secara fisik maupun emosional, serta mempengaruhi kemampuan mereka dalam bersosialisasi. Aspek-Aspek Bullying Bullying di lingkungan sekolah dapat didefinisikan sebagai tindakan kriminal yang terjadi berulang kali oleh individu atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan atas siswa lain yang dianggap lebih lemah, dengan tujuan untuk menyakiti korban. (Wiyani 2. Mengklasifikasikan lima kategori perilaku bullying sebagai berikut: Kontak fisik tidak langsung, termasuk tindakan seperti memukul, mendorong, menggigit, meninju, mengurung seseorang di dalam ruangan, mencakar, menginjak, dan merusak barang milik orang lain. Pelecehan verbal, yang mencakup aktivitas seperti mengancam, mengintimidasi, menghina, mengumpat, menggunakan ekspresi yang merendahkan, mengkritik, atau menyebarkan rumor. Perilaku tidak langsung, seperti mengejek, menjulurkan lidah, melontarkan komentar sarkastik, atau menggunakan ekspresi wajah yang mengancam, sering kali terjadi dalam konteks perundungan fisik atau verbal. Perilaku verbal tidak langsung, meliputi tindakan seperti mengabaikan seseorang, menganiaya seseorang hingga memutuskan persahabatan, meniru identitas seseorang dengan sengaja, atau mengirimkan surat kaleng. Kekerasan berbasis gender, kadang-kadang dikategorikan sebagai kekerasan fisik atau Jenis. Wujud dan Pengaruh Bullying. Barbara coloroso merangkum berbagai pendapat ahli dan membagi bullying kedalam empat jenis, yaitu: Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Bullying Verbal (Sucipto n. ) Bullying banyak terjadi pada anak-anak dan remaja di sekolah. Ancaman dapat berupa ancaman fisik, non fisik, maupun verbal. Berdasarkan definisi di atas, bullying dianggap sebagai sesuatu yang dialami siswa di sekolah. Bullying jenis ini dapat dideteksi melalui metode mendengarkan. Pelecehan verbal. makian, umpatan, makian, kritik pedas, hinaan . ribadi dan rasi. , bahasa seksual atau terkait gender, ancaman, ancaman email, tuduhan palsu, gosip, dll. termasuk penggunaan. (Sejiwa 2. Bentuk-bentuk pelecehan verbal yang umum terjadi di sekolah antara lain hinaan seperti 'goblog', 'jayus lo' . ekat/tidak suk. , 'gemuk lo', tuduhan, teriakan, gosip dan fitnah. Dalam pelecehan verbal, senjata utama yang digunakan untuk melukai korban adalah kata-kata. Kata-kata kasar digunakan untuk menurunkan harga diri anak dan dapat merusak suasana hatinya. Pelecehan verbal adalah salah satu bentuk kekerasan atau pemaksaan yang sering dilakukan baik oleh anak perempuan maupun laki-laki. Pelecehan verbal dapat dengan mudah terjadi di mana saja dan terhadap siapa saja, termasuk anak-anak, orang dewasa, atau teman sebaya. Bentuk kekerasan verbal sangat beragam dan paling sering terjadi di lingkungan sekolah. Bullying Fisik (Ardila n. ) Beberapa contohnya adalah hukuman fisik seperti memukul, melempar barang, menendang, melempar, meludah, mengumpat, melempar barang, mengumpat, membentak, mendorong, bersorak, bergosip, dan menolak. Pelecehan juga dapat terjadi dengan cara merusak atau mengambil barang milik korban, seperti merobek, menulis, melempar, merampas, mencuri. (Sucipto n. )Secara umum, perilaku laki-laki lebih cenderung melibatkan kekerasan fisik dibandingkan kecenderungan perempuan yang menggunakan taktik non-fisik. Bullying sosial atau relasional . (Desmita 2. Penindasan dalam hubungan digunakan untuk menjauhkan atau menolak teman atau bahkan memutuskan persahabatan Penindasan ini terjadi melalui tindakan seperti pengabaian, isolasi, atau penghindaran, yang mengakibatkan penurunan harga diri korban secara terus-menerus. Perilaku penindasan juga dapat berupa tindakan halus seperti meringis, menatap, bernapas berat, gemetar, menggoda, atau ekspresi tubuh yang negatif. Sifat atau gaya hidup pelaku intimidasi memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan siswa, dan dapat memicu terjadinya intimidasi. Bullying media sosial (Ed. D 2. Kekejaman yang tanpa belas kasihan adalah istilah yang sesuai untuk menggambarkan dilema etika dalam era digital yang dikenal sebagai cyberbullying. Cyberbullying mencakup segala bentuk komunikasi elektronik yang bertujuan untuk menyakiti, mengintimidasi, mempermalukan, atau meminggirkan individu yang rentan. Masalah penindasan sering kali muncul karena ketidaksepakatan mengenai urgensi permasalahan dan upaya penanggulangannya. Kurangnya kebijakan pemerintah yang komprehensif untuk mengatasi masalah ini juga memperburuk situasi. Sekolah yang terpengaruh oleh bullying seringkali memiliki ciri-ciri seperti perilaku diskriminatif antara guru dan siswa, kegagalan dalam memantau dan mengarahkan perilaku staf pengajar dan petugas keamanan, adanya perbedaan sosial antara siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda, disiplin sekolah yang ketat atau longgar, serta kurangnya kepemimpinan yang memadai dan kebijakan yang Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Dari kejadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya bullying antara lain: Perbedaan dalam kelas sosial, ekonomi, agama, gender, dan etnisitas/rasial. Adanya tradisi senioritas. Senioritas yang menjadi bentuk perilaku bullying yang terkadang diperpanjang oleh siswa sebagai fenomena yang laten. Mereka mungkin melanjutkan masalah senioritas karena alasan hiburan, balas dendam, rasa iri, keinginan untuk mendapatkan popularitas, mempertahankan tradisi, atau menunjukkan kekuasaan. Dinamika keluarga yang tidak harmonis. Karakteristik individu atau kelompok. Persepsi yang salah terhadap nilai perilaku korban. Tanda-Tanda Anak Menjadi Korban Bullying Penindasan adalah perilaku kompleks yang diakibatkan oleh berbagai faktor. Langkah pertama untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memahami faktor-faktor yang dapat menyebabkan perilaku bullying. Perilaku bullying sulit diubah karena: Bagi sebagian anak, ditindas adalah cara untuk dikenali oleh teman-temannya. Penindasan digunakan sebagai alat identifikasi. Karena keinginan untuk disukai sangat kuat pada masa kanak-kanak, mengubah perilaku buruk menjadi perilaku baik merupakan tugas yang menantang. Hubungan antara korban dan pelaku memegang peranan penting. Jika pelaku merasa mempunyai kendali atas korbannya, maka perundungan akan terus berlanjut. (Sucipto n. ) Di sekolah, tanda-tanda bahwa seorang anak menjadi korban bullying sering kali diamati oleh sesama siswa dan termasuk: Penurunan prestasi akademis. Absensi yang tidak teratur. Kehilangan minat pada pekerjaan sekolah atau PR. Kesulitan berkonsentrasi saat belajar. Berkurangnya minat pada kegiatan sekolah. Mengurangi partisipasi dalam kegiatan yang sebelumnya disukai. Tindakan bullying harus ditanggapi dengan serius karena tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan tersebut. Untuk mengatasi masalah bullying, diperlukan upaya bersama antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Langkah-langkah yang dapat diambil termasuk memberikan konsekuensi atas perilaku bullying, memberikan pelatihan kepada guru tentang cara menangani kasus bullying, memberikan dukungan dan konseling kepada orang tua, bekerja sama dengan lembaga perlindungan anak, dan menerapkan peraturan sekolah yang adil dan berlaku untuk semua siswa. Dengan mengetahui tanda-tanda dan mengambil langkahlangkah preventif, kita dapat berperan aktif dalam mengatasi masalah bullying di sekolah dan mencegah terjadinya kekerasan yang merugikan anak-anak. Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Akibat atau Dampak Bullying dan Strategi untuk Mengatasinya Akibat Bullying (Sejiwa 2. penindasan adalah masalah serius dalam kesehatan masyarakat. Orang yang mengalami pelecehan saat masih anak-anak sering kali mengalami trauma dan kekurangan kepercayaan diri saat dewasa. Di sisi lain, pelaku intimidasi kemungkinan besar akan terlibat dalam aktivitas kriminal. Meskipun belum ada penelitian serupa di Indonesia, namun penting untuk memahami dampak bullying terhadap anak-anak kita. Hasil penelitian para ahli termasuk Rigby (Astuti 2. Bullying yang sering terjadi di sekolah umumnya memiliki tiga faktor yang saling berhubungan: Terdapat perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pelaku yang memberikan kesenangan pada dirinya sendiri dengan merugikan korban. Proses ini tidak stabil dan menimbulkan perasaan cemas pada korban. Perilaku ini terjadi secara berulang atau terus-menerus. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bullying memiliki tiga ciri khusus, yaitu perilaku agresif yang bertujuan merugikan korban, tindakan tidak pantas yang menimbulkan tekanan dan ketakutan pada korban, dan perilaku tersebut terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama. Dampak Dari Perilaku Bullying (Sanders 2. Bullying di sekolah mempunyai dampak yang sangat besar terhadap pelaku, korban dan siswa lainnya. Semakin banyak bukti yang menunjukkan dampak negatif jangka panjang dari penindasan terhadap korban dan pelaku. Keterlibatan dalam intimidasi di sekolah telah terbukti berkontribusi terhadap penolakan teman sebaya, perilaku menyimpang, kenakalan remaja, kejahatan, depresi, dan kekerasan berikutnya. Meskipun statistik yang memadai mengenai isu intimidasi masih sedikit karena surveimasih baru, dampak negatif seperti depresi dan kecemasan tampaknya masih signifikan baik bagi pelaku maupun korban. (Sanders 2. Bullying tidak hanya berdampak pada korbannya, namun juga pelakunya dan orang-orang disekitarnya:a. Dampak terhadap korban Menurut penelitian dari National Center for Youth Violence Prevention, bullying dapat membuat remaja dan dewasa muda merasa khawatir dan cemas, mempengaruhi konsentrasi mereka di sekolah, dan menyebabkan mereka bolos Jika perundungan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat mempengaruhi kepribadian siswa, menyebabkan mereka merasa kesepian, menunjukkan perilaku menarik diri, dan menjadi cemas, depresi, atau tidak nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain. Konsekuensi serius dari penindasan termasuk stres dan risiko bunuh diri serta isolasi akibat penindasan. Konsekuensi bagi pelanggar Menurut Pusat Nasional Pencegahan Kekerasan Remaja, pelaku kekerasan umumnya memiliki harga diri yang tinggi dan harga diri yang rendah. Mereka cenderung memperkuat perilaku kekerasan dan keras kepala, pemarah, dan impulsif. Mereka juga memiliki toleransi yang rendah terhadap kekecewaan. Para penindas sering kali tidak memiliki rasa takut terhadap orang lain dan kurang empati, sehingga membiarkan mereka menyakiti orang lain tanpa mempertimbangkan Coloroso juga melaporkan bahwa siswa yang berperan sebagai pelaku intimidasi sering kali mengalami kesulitan mengembangkan hubungan Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. positif, tidak mampu memahami sudut pandang orang lain, dan tidak dapat Mereka percaya bahwa mereka kuat dan dicintai, yang dapat mengubah kehidupan masa depan mereka. Ketika pelaku di-bully, dia merasa berkuasa atas Dari perspektif ini, terlihat bahwa jika perilaku intimidasi tidak dikendalikan, pelaku intimidasi dapat menggunakan lebih banyak kekerasan dan bahkan melakukan kejahatan seperti pembunuhan. Dampak terhadap siswa . yang menyaksikan perundunganJika penindasan dengan kekerasan berlanjut tanpa pencegahan atau pengobatan, siswa yang menyaksikannya mungkin percaya bahwa perilaku penindasan adalah normal dan dapat diterima secara sosial. Mereka mungkin berpartisipasi atau terlibat dalam penindasan terhadap orang lain atau melecehkan orang-orang yang dianggap rentan dengan harapan menghindari viktimisasi oleh siswa lain. Namun ada juga orang yang berada di sekitar yang tidak melakukan apa pun untuk menanggapi atau membela korban. Kerjasama antara semua pihak, termasuk guru, staf, siswa dan orang tua, sangat penting untuk mencegah dan memerangi perundungan di sekolah. Strategi Untuk Mengatasi Bullying Ada berbagai strategi untuk memerangi terorisme (Astuti 2. Strategi tersebut mengutamakan bukti nyata, dengan fokus pada penggunaan bukti yang menunjukkan konsekuensi negatif dari perilaku teroris untuk meningkatkan kesadaran akan konsekuensi serius dari tindakan tersebut. Lahir pada tahun. Strategi ini melibatkan pengurangan dan penerimaan norma-norma baru . endidikan ulang normati. , yang mengarah pada pemberian dan adaptasi norma-norma baru yang mendorong perilaku baik dan menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Strategi yang menekankan perubahan pribadi . saha koersi. bertujuan untuk memotivasi orang untuk mengubah perilakunya dengan mendorong mereka untuk belajar bahwa merugikan orang lain adalah salah dan tidak dapat diterima. Program anti-intimidasi di sekolah masih menjadi masalah serius di Indonesia. Departemen Pendidikan hanya menangani perundungan berdasarkan Undang-Undang Perilaku Sekolah, yang umumnya mencakup tanggung jawab kepala sekolah, konselor, atau guru. Selain itu, sekolah tidak mengambil tindakan efektif untuk menghadapi ancaman, seperti pelatihan khusus yang diberikan oleh guru atau administrator yang terlatih untuk menghadapi ancaman. Interaksi Sosial dan Aspek-Aspek Interaksi Sosial (Susanto 2. Bartal menyatakan bahwa perilaku sosial adalah tindakan yang dilakukan secara sukarela, dimana individu dapat memberikan manfaat atau kegembiraan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan eksternal. Kemampuan sosial mencakup kemampuan anak untuk mengelola emosi mereka sendiri dalam hubungannya dengan orang lain, menunjukkan empati dan perhatian terhadap sesama manusia, serta kemampuan untuk mengatur emosi baik dalam diri sendiri maupun orang lain sehingga dapat berinteraksi secara positif dengan teman sebaya atau orang dewasa di sekitarnya. Penting untuk memperhatikan interaksi sosial agar mencapai kemampuan sosial yang baik. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial dan Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial Definisi Interaksi Sosial Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. (Abdulsayni 2. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi manusia adalah hubungan yang melibatkan proses dinamis antara individu, individu, kelompok, dan sekelompok orang. Sejumlah penelitian (Soekanto 2. tentang perkembangan manusia menunjukkan bahwa manusia tumbuh dengan beragam perilaku mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Perkembangan seorang anak sangat ditentukan oleh kemampuannya berinteraksi dengan lingkungannya. Faktor mental dan emosional memegang peranan penting dalam proses integrasi dan kerjasama ini. (Sunarto 2. Proses keterlibatan anak secara aktif dalam proses ini disebut sosialisasi. Manusia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang dapat dibedakan menjadi dua: fisik dan sosial. Lingkungan memegang peranan penting dalam membentuk berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam bidang sosial-psikologis. Menurut Piaget, pada tahun pertama kehidupannya, hubungan anak, terutama dengan ibunya, masih Perilaku anak sering kali bersifat egois atau egois. Sebagian besar perilaku mereka egois. Aspek-Aspek Interaksi Sosial Interaksi sosial, menurut (Sentosa 2. Hal ini mengacu pada hubungan dan ketergantungan antara satu kelompok dengan anggota kelompok lainnya, serta hubungan antara anggota kelompok secara keseluruhan. Ini juga mencakup hubungan antara dua orang atau lebih, yang melibatkan masing-masing orang. Untuk mewujudkan kerjasama yang baik. Slamet Santoso menjelaskan banyak faktor pendukungnya: Adanya Hubungan: Segala interaksi yang terjadi antara individu dan kelompok disebabkan oleh interaksi manusia. Partisipasi Individu: Interaksi yang efektif memerlukan partisipasi individu yang terlibat dalam hubungan. Tujuan khusus: Setiap interaksi mempunyai tujuan tertentu, yaitu mengubah orang lain yang menjadi penggerak interaksi tersebut. Terkait struktur dan fungsi kelompok: Interaksi sosial erat kaitannya dengan struktur dan fungsi kelompok karena orang tidak dapat memisahkan diri dari kelompok dan setiap orang mempunyai peran dalam kelompoknya. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa dimensi interaksi manusia meliputi hubungan antar individu dan kelompok, adanya hubungan positif, tujuan tertentu dan kegiatan yang memudahkan proses hubungan tersebut. Poin-poin tersebut saling melengkapi untuk menentukan interaksi yang sedang berlangsung. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Menurut Nurani Soyomukti dalam (Sukanto 2. Strategi komunikasi yang efektif meliputi: Proses efektif dan hubungan baik yang memperkuat kerja sama kelompok dalam Proses ini terdiri dari: Kerja sama, bentuk hubungan terpenting antara masyarakat dan kelompoknya, bergantung pada pengaruh kelompok lain. Akomodasi adalah upaya untuk mengurangi konflik guna menjamin keseimbangan dan keamanan antar interaksi sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat. Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Integrasi adalah proses meningkatkan kesatuan perilaku, sikap dan pemikiran dengan mengurangi perbedaan individu dan kelompok untuk mencapai tujuan Berbagai proses yang mengarah pada perpecahan dan kehancuran solidaritas kelompok melibatkan konflik kepentingan individu atau kelompok. (Suyokmuti 2. Proses ini . Persaingan adalah proses di mana individu dan kelompok bersaing untuk mencapai tujuan mereka dalam berbagai bidang kehidupan. Konflik adalah ketika orang atau kelompok berusaha mencapai tujuan mereka dengan melawan orang lain melalui ancaman atau kekerasan. Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ada dua cara interaksi manusia: cara-cara praktis yang membina hubungan baik dalam masyarakat, dan cara-cara berbeda yang cenderung menimbulkan perpecahan antar kelompok. Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial Berkenaan dengan konsep interaksi sosial, ada beberapa faktor yang memengaruhi interaksi sosial. Menurut (Gerungan 2. , ini termasuk: Imitasi yang merupakan bagian dari proses interaksi menjelaskan mengapa dan bagaimana monotonnya pemikiran dan perilaku terjadi pada kebanyakan orang. Imitasi, ucapan, bahasa, dll. Faktor sugesti Ini adalah proses meniru tindakan atau perilaku orang lain, termasuk Penalaran adalah proses dimana orang secara tidak kritis menerima ide atau instruksi perilaku orang lain. Menurut (Suyokmuti 2. identifikasi adalah adalah keinginan atau kecenderungan seseorang untuk menyerupai individu lain yang diidolakannya, baik dalam perilaku maupun penampilan. Secara ringkas, identifikasi perilaku adalah dorongan seseorang untuk meniru atau menyesuaikan dirinya agar mirip dengan tokoh yang diidolakannya, termasuk dalam gaya berpakaian, cara berbicara, dan gaya hidupnya. Simpati adalah proses dimana seseorang merasakan kasih sayang terhadap orang lain, sehingga menimbulkan keinginan untuk memahami dan bekerja dengannya. Jadi empati adalah perasaan bawaan yang membuat Anda merasa dekat dengan orang Teknik Pengukuran Interaksi Sosial (Sukanto 2. Interaksi sosial merupakan kunci dari seluruh kehidupan sosial, dan merupakan prasyarat utama bagi terjadinya aktivitas sosial. Menurut (Azwar 2. , dalam dunia ini tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain, oleh karena itu interaksi sosial yang baik sangat membantu individu dalam lingkungannya. Sikap sosial seseorang berkembang dari pengalaman interaksi sosial yang dialaminya. (Herimanto 2. menegaskan bahwa interaksi sosial adalah faktor penting dalam kehidupan sosial, melibatkan hubungan dinamis yang melibatkan interaksi timbal balik antara individu, kelompok, dan antara individu dengan kelompok. Dengan demikian, untuk membangun kemampuan sosial yang baik, penting untuk memperbaiki hubungan dengan lingkungan sekitar dan memastikan adanya interaksi timbal balik dengan sesama. Dengan cara ini, interaksi sosial yang positif dapat Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Komunikasi yang baik adalah kunci dari semua kehidupan. Interaksi sosial adalah kunci aktivitas sosial. Dari pertimbangan di atas dapat kita simpulkan bahwa untuk memiliki keterampilan sosial yang baik, kita dapat mulai membina hubungan dengan lingkungan, harus ada hubungan timbal balik dengan orang lain, dengan cara ini dapat terjalin interaksi yang positif. Oleh karena itu, interaksi manusia dapat diartikan sebagai suatu hubungan yang melibatkan hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia lainnya, dimana tujuannya saling membutuhkan. Interaksi positif erat kaitannya dengan sikap individu, dan sikap dapat diukur dengan menggunakan skala. Perilaku Bullying dengan Perkembangan Interaksi Sosial Siswa Menurut (Meggit 2. Penindasan adalah suatu bentuk pelecehan terus-menerus yang bertujuan untuk menyakiti orang lain secara fisik atau emosional. Keterampilan sosial adalah kemampuan anak dalam mengelola emosi dalam interaksi dengan orang lain, termasuk empati dan pemahaman terhadap emosi orang lain, serta kemampuan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan teman sebaya atau orang dewasa di Menjaga hubungan baik penting untuk memperoleh keterampilan sosial yang baik. Menurut (Suyokmuti 2. Interaksi sosial adalah suatu tindakan atau kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai visi dan tujuan. Namun, perilaku intimidasi dapat berdampak negatif terhadap kinerja siswa, menyebabkan mereka merasa terisolasi, dan menyulitkan mereka untuk bekerja sama dengan baik di kelas. Menurut Sejiwa (Pratiwi 2. perilaku bullying merupakan hambatan utama dalam mendefinisikan diri Artinya, bullying dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk hubungan baik, karena membuat mereka merasa tertekan dan tidak nyaman dengan lingkungannya. Les Parson (Ismiatun n. ) menyatakan bahwa perilaku bullying terjadi karena pandangan bahwa interaksi sosial berkaitan dengan pembentukan dan pemeliharaan hierarki sosial. Anak-anak menggunakan paksaan, manipulasi, status, harga diri, dan dominasi dalam hierarki sosial untuk memperlakukan orang lain dengan buruk. Dengan demikian, perilaku bullying dapat mempengaruhi kemampuan interaksi sosial siswa dengan memanipulasi dan menggunakan kekerasan, mengganggu lingkungan sosial mereka. Kemampuan sosial seseorang dibentuk melalui kerjasama dan saling menghormati, sehingga perilaku bullying dapat mengganggu lingkungan sosial siswa dan merusak hubungan antarpribadi mereka. Hal ini menciptakan rasa tidak aman dan kesulitan dalam berinteraksi, serta menghambat kemampuan siswa untuk mengaktualisasikan diri. SIMPULAN Berdasarkan hasil literature review yang telah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Bullying biasanya dilakukan secara verbal, fisik dan sosial. ,Tanda anak menjadi korban bullying biasanya penurunan prestasi akademik, kesulitan konsentrasi saat belajar, cedera secara fisik, ketakutan untuk pergi kesekolah, dll. Bullying yang sering terjadi disekolah ada 3 faktor penyebab diantaranya : Adanya perilaku kekerasan yang dilakukan pelaku yang membuat korbannya mendapatkan kesenangan. Proses ini tidak stabil dan menimbulkan perasaan cemas pada korbannya. Perilaku ini berulang atau terus-menerus. Strategi untuk mengatasi bullying disekolah ialah dengan cara mengadakan edukasi/pelatihan. Siti Nazra Syafira. Siti Masyithoh Tantangan. Peluang Pendidikan dan Pembelajaran di Era Society 5. Faktor yang mempengaruhi interaksi sosial salahsatunya ialah bullying, karena pelaku bullying mempunyai Imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati yang kurang. DAFTAR PUSTAKA