Jurnal Citra Pendidikan Volume 2 Nomor 3 Tahun 2022 ISSN 2775-1589 Hal. (JCP) http://jurnalilmiahcitrabakti. id/jil/index. php/jcp/index PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI IA2 SMA NEGERI 4 SINGARAJA Ni Made Sri Marsilawati SMA Negeri 4 Singaraja marsilwatisri@gmail. Abstract The purpose of this research were . improving the studentsAo interest in learning mathematic. improving the studentsAo achievement in learning and . recognizing the response of students in grade 11 science 2 of SMAN 4 Singaraja for the academic year 2018/2019 towards the application of inquiry learning model. This research was design in the form of classroom action research that was conducted in two cycles. The subjects of this research were 44 students of grade 11 science 2 of SMAN 4 Singaraja for the academic year 2018/2019. The data of studentsAo interest in learning mathematic were collected by using questionnaire of studentsAo learning interest and the data of studentsAo achievement were collected by using test. The data of studentsAo response towards the application of inquiry learning model were gathered through questionnaire. The research showed that the application of inquiry learning model could improve the studentsAo learning interest and achievement in learning mathematic especially to the students grade 11 science 2 of SMAN 4 Singaraja for the academic year 2018/2019. Regarding to the result of this research it was recommended to apply inquiry learning model on different subject of study. Article History Received:24-04-2022 Reviewed:27-06-2022 Published:30-07-2022 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: . Meningkatkan minat belajar matematika, . Meningkatkan hasil belajar matematika, . Mengetahui respon siswa kelas XI IA 2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019 terhadap penerapan model pembelajaran inkuiri. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 44 orang siswa kelas XI IA2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019. Data minat belajar matematika dikumpulkan dengan kuesioner minat belajar, data hasil belajar matematika dikumpulkan dengan tes hasil belajar matematika dan data respon siswa dikumpulkan dengan angket respon siswa. Data yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat belajar dan hasil belajar matematika siswa kelas XI IA2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019. Berdasarkan hasil yang diperoleh, direkomendasikan agar model pembelajaran inkuiri dapat diterapkan untuk tema dan bidang studi lain. Sejarah Artikel Diterima:24-04-2022 Direview:27-06-2022 Disetujui:30-07-2022 7 Key Words inquiry, learning interest, mathematic learning Kata Kunci inkuiri, minat belajar, hasil belajar Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 613 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan individu, keluarga, maupun bangsa dan negara. Kemajuan dalam bidang pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu Hal ini senada dengan pernyataan yang mengatakan bahwa maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan bangsa itu (Sardiman, 2007:. Demikian juga pendidikan dapat meningkatkan perekonomian bangsa. Hubungan antara pendidikan dengan pembangunan ekonomi sangat jelas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian UNESCO yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan investasi tidak langsung dalam proses produksi (Pidarta, 2007: . Mengingat pentingnya peranan pendidikan, maka pemerintah malalui Depdiknas terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berbagai usaha telah dan sedang dilakukan antara lain penyempurnaan kurikulum, melaksanakan pelatihan-pelatihan . ork sho. , pemberian dana block grant untuk melaksanakan kegiatan peningkatan profesionalisme guru melalui MGMP kabupaten, pengadaan bahan ajar, seminar, bimtek dan lain-lain. Upaya pemerintah tersebut pada dasarnya untuk melakukan pembaruan bidang pendidikan guna meningkatkan kualitas Meskipun berbagai usaha telah dilakukan tetapi mutu pendidikan khususnya pelajaran matematika masih jauh dari harapan. Rendahnya hasil belajar matematika juga terjadi di kelas XI IA 2 SMA Negeri 4 Singaraja. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil ulangan harian murni . ebelum dilakukan remidia. untuk standar kompetensi menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat-sifat peluang dalam pemecahan masalah sebesar 56,4 sedangkan nilai KKM yang harus dicapai yaitu 76. Berdasarkan sebelumnya, hal-hal yang menyebabkan masih rendahnya hasil belajar siswa kelas XI IA2 sebagai berikut. Kepercayaan siswa terhadap kemampun individu sangat rendah, hal ini dapat dilihat bahwa pada saat menyelesaikan masalah matematika sebagian besar siswa menyalin pekerjaan temannya yang dianggap lebih mampu, tanpa mau mencoba terlebih Hal ini membawa dampak pada rendahnya minat siswa untuk mengeksplor kemampuannya untuk menyelesaikan masalah matematika. Jumlah siswa kelas XI IA2 adalah 44 peserta didik, sedangkan persyaratan jumlah maksimal ideal peserta didik setiap rombongan belajar adalah 32 peserta didik (Depdiknas, . Kenyataan ini mengakibatkan guru kesulitan mengontrol siswa secara maksimal sehingga dimanfaatkan oleh siswa untuk menggunakan jalan pintas dalam meyelesaikan masalah matematika. Minat belajar matematika siswa masih rendah. Penyebab utamanya yaitu pemilihan jurusan yang tidak sesuai dengan minat siswa. Dalam penentuan jurusan banyak siswa dipaksakan orang tua untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya. (Sumber BK SMAN 4 Singaraj. Sebagian besar siswa beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 614 menakutkan sehingga siswa menghindari pelajaran matematika. Hal ini sebagai akibat akumulasi dari proses pembelajaran matematika yang kurang bermakna pada proses pembelajaran sebelumnya. Terbatasnya sumber belajar siswa yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar. Demikian juga bahan ajar yang dipergunakan siswa berupa LKS yang sama dengan sekolah lain dan belum menyesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Siswa kurang optimal menggunakan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah matematika yang membawa dampak pada rendahnya hasil belajar siswa Berdasarkan permasalahan tersebut dipandang perlu untuk melakukan tindakan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dengan pembelajaran yang inovatif. Satu inovasi yang mengiringi perubahan paradigma pendidikan adalah diterapkannya modelmodel pembelajaran inovatif dan konstruktif dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkrit dan mandiri diantaranya model pembelajaran inkuiri (Trianto, 2007:. Jerome Bruner . alam Moh. Amien, 1979:. menyatakan beberapa keuntungan model discovery-inquiry yaitu siswa mampu mengerti konsep-konsep dasar, mampu menggunakan ingatan untuk ditransfer pada situasi proses belajar yang baru, mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, mendorong siswa berpikir intuitif dan merumuskan hipotesa, memberikan kepuasan yang bersifat intrinsik, serta Bruner . alam Dahar,1989:. mengungkapkan bahwa selama kegiatan belajar berlangsung hendaknya siswa dibiarkan mencari atau menemukan sendiri makna segala sesuatu yang dipelajari. Mereka perlu diberikan kesempatan berperan sebagai pemecah masalah seperti yang dilakukan para ilmuwan, dengan cara tersebut diharapkan mereka mampu memahami konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri. Siswa yang mengalami proses belajar dapat membentuk dan mengembangkan self-consept. Apabila siswa mempunyai self- concept yang baik maka siswa akan mempunyai rasa aman , terbuka terhadap pengalaman-pengalaman yang baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan mengeksplorasi kesempatan-kesempatan yang ada, lebih kreatif, dan umumnya mempunyai mental yang baik (Moh. Amin, 1. Model pembelajaran inkuiri memberikan peluang lebih banyak kepada siswa untuk Keterlibatan maksimal dalam pembelajaran akan memberikan dampak pada peningkatan minat belajar dan hasil belajar Dahar . 9: . mengatakan kegiatan belajar sebagai kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri apa yang mereka pelajari. Ini merupakan proses penyesuaian konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Fosnot . alam Suparno,1997:. juga mengemukakan bahwa dalam belajar siswa harus punya pengalaman dalam membuat hipotesis, mengetes hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mengadakan refleksi dan lain-lain untuk membentuk konstruksi yang baru. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 615 Siswa yang belajar matematika, aktif mengkonstruksikan secara individual realitas matematika mereka sendiri. Matematika hanyalah sebagai alat untuk berpikir. Fokus utama pengetahuan matematika terutama pada konsep matematika, prosedur matematika, kemampuan memecahkan masalah dan komunikasi. Matematika dikenal sebagai ilmu Ini berarti proses pengerjaan matematika harus bersifat deduktif. Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan (Indukti. , tetapi berdasarkan pembuktian Meskipun demikian untuk membantu pemikiran, pada tahap-tahap permulaan sering kali kita memerlukan bantuan contoh-contoh khusus atau ilustrasi geometris (Erman Suherman, 2003:. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan cara induktif, tetapi selanjutnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus bisa dibuktikan secara deduktif. Peranan guru dalam pembelajaran bukan memberikan jawaban akhir atas pertanyaan siswa melainkan mengarahkan mereka untuk membentuk . pengetahuan matematika sehingga diperoleh struktur Model pemblajaran inkuiri mampu memfasilitasi peserta didik untuk memahami konsep matematika dengan cara induktif selanjutnya dibuktikan secara deduktif. Berdasarkan uraian di atas, tampaknya penerapan model pembelajaran inkuiri diterapkan secara intensif pada pembelajaran matematika untuk meningkatkan minat dan hasil belajar matematika. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 4 Singaraja pada kelas XI IA 2 semester 1 tahun pelajaran 2018/2019. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IA 2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 44 orang dengan 18 orang siswa lakilaki dan 26 orang siswa perempuan. Objek penelitian yaitu . minat belajar matematika siswa, . hasil belajar siswa dan . respon siswa terhadap model pembelajaran yang Standar kompetensi (SK) yang dipilih yaitu menurunkan rumus trigonometri dan Terdiri dari 3 kompetensi dasar yaitu . Menggunakan rumus sinus dan kosinus jumlah dua sudut , . Menurunkan rumus jumlah dan selisih sinus dan cosinus, . Menggunakan rumus jumlah dan selisih sinus dan cosinus. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus, masing-masing siklus dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan. Tahapan pelaksanaan penelitian untuk masing-masing siklus mengadopsi tahapan penelitian yang dikemukakan Kemmis & Taggart . tahap perencanaan . , . tahap tindakan . , . tahap observasi / evaluasi . , dan . tahap refleksi . Tahapan pelaksanaan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 616 SIKLUS I SIKLUS II Perencana Perencana Tindakan Tindakan Observasi Observasi Refleksi Refleksi Gambar 1 Siklus penelitian tindakan kelas Siklus pertama membelajarkan kompetensi dasar menurunkan rumus jumlah dan selisih sinus dan cosinus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut. Siklus kedua menggunakan rumus jumlah dan selisih sinus dan cosinus. Prosedur pelaksanaan kegiatan sebagai berikut. Refleksi Awal Keadaan awal tentang minat dan hasil belajar siswa diperoleh dari observasi dan hasil belajar pokok bahasan sebelumnya yaitu statistika dan peluang. Berdasarkan observasi dan hasil belajar tersebut, ada beberapa permasalahan yang ditemukan yaitu . Minat belajar siswa masih relatif rendah, hal ini dapat dilihat dari siswa yang aktif dalam menyelesaikan masalah matematika sekitar 10 orang dari 44 siwa yang ada . %) sedangkan yang lain melihat teman kelompoknya bekerja selanjutnya menyalin apa yang dikerjakan temannya tadi. Siswa kurang mempunyai kepercayaan diri bahwa mereka mempunyai kemampuan yang bisa dikembangkan. Rata-rata hasil belajar siwa pada pokok bahasan sebelumnya yaitu statistika dan peluang masih rendah yaitu sebesar 56,4 . ebelum dilakukan remid. sedangkan KKM 76. Siswa sering kesulitan dalam memahami konsep serta mengaplikasikan kesimpulan materi pembelajaran. Pada siklus I, dilakukan beberapa tahapan yaitu tahap perencanaan , pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta tahap refleksi. Tahap perencanaan yaitu . Menyusun RPP untuk tiga kali pertemuan pada kompetensi dasar menggunakan rumus sinus dan kosinus jumlah dua sudut dan sudut ganda untuk menghitung sinus dan cosinus sudut tertentu. Menyiapkan LKS terstruktur yang sesuai dengan sintak pembelajaran . Menyiapkan instrumen penelitian yaitu kuesioner tentang minat belajar matematika, tes hasil belajar dan lembar respon siswa terhadap model pembelajaran yang Pelaksanaan tindakan siklus 1 dilakukan selama 3 . kali pertemuan. Observasi dilakukan setiap dilaksanakannya pertemuan dengan cara melihat dan mencatat fenomenafenomena yang terjadi baik berupa kendala-kendala atau permasalahan yang ditemui Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 617 selama pelaksanaan tindakan maupun hal-hal yang positif yang terjadi pada proses Sedangkan evaluasi dilaksanakan pada setiap akhir pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan tes hasil belajar bentuk uraian. Refleksi dilaksanakan pada akhir siklus dengan tujuan untuk melihat kelemahankelemahan dan kelebihan-kelebihan yang terjadi dalam tindakan sebelumnya kemudian memperbaikinya pada tindakan siklus berikutnya. Dengan demikian kelemahan dalam siklus berikutnya dapat ditekan seminimal mungkin untuk memperoleh hasil yang optimal. Sebagai acuan dalam refleksi ini adalah hasil observasi dan tes hasil belajar serta hasil siswa terhadap kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mengikuti Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki serta menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus berikutnya. Pada siklus kedua hampir sama dengan siklus pertama. Perbedaannya akan terdapat perencanaan berdasarkan hasil refleksi kegiatan siklus pertama. Refleksi pada siklus kedua dilakukan untuk lebih melihat kendala-kendala yang esensial yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran inkuiri. Demikian juga hambatan-hambatan yang terjadi ketika diskusi dan penilaian di kelas. Segi kekuatan yang muncul akan diformulasikan direkomendasi tentang pembelajaran inkuiri dalam pokok bahasan trigonometri. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas. Data minat belajar matematika dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner minat belajar matematika siswa . iadopsi dari Marsilawati, 2010 ). Data ini diambil pada akhir siklus pertama dan akhir siklus kedua, kemudian dianalisis secara deskriptif. Angket yang diberikan terdiri atas 30 item, dengan skor terbesar = 150 dan terkecil = 30. Data mengenai hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar siswa yang diberikan pada setiap akhir pembelajaran. Tes hasil belajar ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan yang dilakukan dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa terhadap materi yang diberikan. Data respon siswa, dikumpulkan dengan angket respon siswa pada akhir penelitian. Untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan dalam proses pembelajaran, digunakan angket respon siswa. Angket yang diberikan terdiri dari 10 item, dengan skor terbesar = 50 dan terkecil = 10. Analisis terhadap minat belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Kriteria penggolongan minat belajar disusun berdasarkan mean ideal (MI) dan standar deviasi ideal (SDI). Rumus MI dan SDI adalah MI = A . kor tertinggi ideal skor terendah idea. SDI = 1/6 . kor tertinggi ideal Ae skor terendah idea. (Nurkancana. Sunartana, 1. Minat belajar siswa ditentukan dengan menghitung rata-rata minat belajar siswa kemudian dikategorikan dengan pedoman berikut. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 618 Tabel 2. Kriteria Minat Belajar Siswa X A Kriteria Kualifikasi Kategori MI 1,5 SDI O X Sangat Tinggi Tinggi EuX MI 0,5 SDI O X < MI 1,5 SDI MI Ae 0,5 SDI O X < MI 0,5 SDI MI Ae 1,5 SDI O X < MI 0,5 SDI X < MI - 1,5 SDI Sedang Rendah Sangat Skor tertinggi ideal dari kuesioner minat belajar adalah 150 dan skor terendah ideal Dengan demikian dapat dihitung MI dan SDI yaitu : MI = A . = 90 dan SDI = 1/6 . Ae . = 20, sedangkan skor rata-rata minat belajar siswa digunakan rumus, di mana X = skor rata-rata minat belajar siswa. X = skor minat belajar siswa, n = banyaknya siswa. Berdasarkan kriteria tersebut dapat dibuat pedoman konversi minat belajar matematika siswa sebagai berkut. Tabel 3. Pedoman Konversi Minat Belajar Kriteria Kualifikasi Kategori 120 O X Sangat Tinggi 100 O X < 120 Tinggi 80 O X < 100 Sedang 60 O X < 80 Rendah X < 60 Sangat Data tentang hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata hasil belajar . dengan rumus: X = X 1 A X 2 A X 3 A . A X n (Nurkancana. Sunartana, 1990:. Keterangan: = Rata-rata hasil belajar = Nilai tes hasil belajar siswa = Banyaknya siswa Kualifikasi hasil belajar ditentukan dengan kriteria berikut. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 619 Tabel 4. Kualifikasi Hasil Belajar Matematika Kriteria Kualifikasi Kategori Sangat Baik 85 O X O 100 Baik 70 O X < 85 Sedang 55 O X < 70 Kurang 40 O X < 55 Sangat Kurang 0 O X < 40 (STKIP Singaraja,1999:. Untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dihitung juga daya serap dan ketuntasan belajar siswa dengan rumus DS = M x 10% dimana DS = Daya Serap dan M = Nilai rata-rata prestasi belajar. Daya serap dan ketuntasan belajar yang dicapai diharapkan memenuhi KKM yaitu Daya Serap (DS) C 76% dan Ketuntasan Belajar (KB) C 85% (Depdiknas, 2. Data respon siswa ditentukan dengan menghitung rata-rata respon siswa untuk kemudian dikategorikan dengan pedoman berikut. Tabel 5. Kriteria respon siswa Kriteria Kualifikasi MI 1,5 SDI O X MI 0,5 SDI O X < MI 1,5 SDI MI Ae 0,5 SDI O X < MI 0,5 SDI MI Ae 1,5 SDI O X < MI 0,5 SDI Kategori Sangat Positif Positif Cukup Positif Kurang Positif Sangat Kurang Positif Skor tertinggi ideal dari angket respon siswa adalah 50 dan skor terendah ideal X < MI - 1,5 SDI adalah 10, dengan demikian dapat dihitung MI dan SDI yaitu : MI = A . = 30 dan SDI = 1/6 . Ae . = 6,67. Sehingga diperoleh pedoman konversi respon siswa sebagai Tabel 6. Pedoman Konversi respon siswa Kriteria Kualifikasi 40,005 O X 33,335 O X < 40,005 Kategori Sangat Positif Positif 26,665 O X < 33,335 Cukup Positif 19,995 O X < 26,665 X < 19,995 Kurang Positif Sangat Kurang Positif Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 620 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Paparan hasil penelitian meliputi minat belajar matematika siswa setiap akhir siklus, hasil belajar siswa setiap akhir siklus, dan respon siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan pada akhir siklus. Hasil analisis data minat belajar matematika siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 7. Distribusi Minat Belajar Matematika Kriteria Kualifikasi 120 O X 100 O X < 80 O X < 60 O X < X < 60 Rata-rata Juml Prose Sangat Tinggi 15,9% Tinggi 56,8% Sedang 27,3% Rendah Keterangan Sangat Sedang Dari tabel terlihat bahwa rata-rata minat belajar matematika siswa sebesar 88 yang termasuk dalam kategori sedang. Hasil analisis tentang hasil belajar matematika siswa disajikan pada Tabel berikut. Tabel 8. Distribusi Hasil Belajar Siswa Siklus 1 Kriteria Kualifikasi 85 O X O 100 Jumlah Siswa Prosentas 22,7% Kategori 70 O X < 85 29,6% Sangat Baik Baik 55 O X < 70 27,3% Sedang 40 O X < 55 15,9% Kurang 04,5% Sangat Kurang Rata-rata 70,62 Baik Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh rata rata hasil belajar matematika siswa 0 O X < 40 kelas XI IA 2 yaitu 70,62 yang termasuk dalam kategori baik. Beberapa kendala/hambatan dalam proses pembelajaran sebagai berikut. Pada awal kegiatan beberapa siswa masih belum mengerti langkah-langkah inkuiri dalam menurunkan rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus. Adanya kecendrungan siswa Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 621 yang pintar dalam kelompoknya yang mendominasi diskusi, siswa yang lain kurang dilibatkan secara maksimal. Beberapa kelompok mengalami kendala dalam menyusun hipotesis sampai pada penarikan kesimpulan. Mempresentasikan hasil kelompoknya, masih menunjuk temannya yang dianggap lebih mampu. Hasil Penelitian Siklus II Hasil analisis data minat belajar matematika siswa pada siklus II dapat disajikan sebagai berikut. Tabel 9. Distribusi Minat Belajar Matematika Kriteria Kualifikasi 120 O X Jumlah Prosentase Keterangan Sangat Tinggi Tinggi 100 O X < 120 Sedang 80 O X < 100 Rendah 60 O X < 80 Sangat X < 60 Rata-rata Tinggi Dari tabel terlihat bahwa rata-rata minat belajar matematika siswa sebesar 103 yang termasuk dalam kategori tinggi. Hasil analisis tentang hasil belajar matematika siswa disajikan pada Tabel berikut. Tabel 10. Distribusi Hasil Belajar Siswa Siklus II Kriteria Kualifikasi 85 O X O 70 O X < 55 O X < 40 O X < 0 O X < Rata-rata Jumlah Siswa Prosenta Sangat Baik 56,8% Baik 13,6% Sedang 04,6% Kurang 78,67 Kategori Sangat Kurang Baik Dari tabel dapat dilihat rata rata hasil belajar matematika siswa kelas XI IA 2 yaitu 78,67 yang termasuk dalam kategori baik. Data respon siswa dikumpulkan dengan angket respon siswa yang berjumlah 10 butir. Tiap butir mempunyai skor maksimal 5 dan skor minimal 1, sehingga skor maksimal respon siswa adalah 50 dan skor minimal 10. Hasil analisis data respon siswa disajikan pada tabel berikut. Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 622 Tabel 11. Distribusi respon siswa Kriteria Kualifikasi Jumlah Siswa Perse Kategori 40,005 O R Sangat Positif 33,335 O R < 40,005 Positif 26,665 O R < 33,335 Cukup Positif 19,995 O R < 26,665 Kurang Positif R < 19,995 Sangat Kurang Positif Rata-rata Positif Berdasarkan Tabel 11 di atas, terlihat bahwa sebanyak 15 siswa memberikan respon sangat positif, 20 siswa memberikan respon positif dan 9 siswa memberikan respon cukup Rata-rata respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran trigonometri yaitu 36, yang masuk pada kategori positif. Dengan upaya-upaya perbaikan dari kendala-kendala yang diungkapkan pada refleksi siklus I, maka proses pembelajaran pada siklus II menjadi lebih baik. Hasil analisi data terjadi peningkatan minat belajar siswa. Pada siklus I diperoleh rata-rata minat belajar siswa sebesar 88 yang masuk dalam kategori sedang, sedangkan rata-rata minat belajar siswa pada siklus II sebesar 103 yang masuk dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil observasi juga terjadi peningkatan minat belajar siswa. Pada siklus I, siswa masih raguragu menyelesaikan masalah matematika dan masih menunggu teman lain yang dianggap Sedangkan pada siklus II, siswa sudah semakin terbiasa dengan langkah-langkah inkuiri dalam menemukan dan memahami konsep-konsep matematika. Hal ini terlihat pada waktu membagikan LKS pada siklus II, siswa tanpa komentar langsung mengerjakan LKS sesuai dengan kemampuan yang dimilki kemudian didiskusikan dalam kelompoknya. Model pembelajaran inkuiri yang diterapkan pada pelaksanaan kegiatan, siswa dihadapkan pada masalah matematika yang penyelesaiannya membutuhkan penerapan konsep-konsep matematika yang telah dikuasai siswa sebelumnya . asalah kontekstua. Dalam menyelesaikan masalah siswa diberikan kebebasan mengenai cara menyelesaikan masalah matematika dengan melibatkan seluruh potensi siswa yang dimiliki dalam Buku-buku penunjang yang dipergunakan siswa dalam proses inkuiri juga tidak dibatasi. Sehingga siswa belajar tidak tertekan dan menjadi berminat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Hal ini membawa dampak pada peningkatan Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 623 perolehan rata-rata tes hasil belajar siswa yaitu dari 70,62 pada siklus I dengan kategori cukup menjadi 78,67 pada siklus II dengan kategori cukup. Meskipun rata-rata hasil belajar masih tetap pada kategori cukup tetapi telah terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 10,23% ( dari 70,62 menjadi 78,. dengan 11 siswa mendapat predikat sangat baik, 25 siswa predikat baik, 6 siswa predikat sedang dan 2 siswa predikat kurang serta tidak ada siswa yang berpredikat sangat kurang. Kalau dilihat dari ketuntasan kelas diperoleh 63,64%. Dari 44 siswa kelas XI IA 2 , yang tuntas sebanyak 28 orang dan yang belum tuntas 16 orang dari KKM yang ditetapkan yaitu 76. Meskipun masih ada siswa yang belum tuntas akan tetapi pada siklus II telah berhasil meningkatkan ketuntasan kelas sebesar 39,3% dengan tidak ada siswa yang berpredikat sangat kurang. Demikian juga respon siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan positif. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan analisis data yang telah disajikan dan dibahas diperoleh beberapa temuan sebagai berikut. Penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas XI IA 2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019. Perolehan rata-rata minat belajar siswa pada siklus I sebesar 88 dengan kategori sedang dan rata-rata minat belajar siswa pada siklus II sebesar 103 dengan kategori tinggi. Penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IA 2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019. Hal ini dapat dilihat dari perolehan rata-rata hasil tes belajar pada siklus I sebesar 70,62, sedangkan rata-rata pada siklus II sebesar 78,87. Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas XI IA2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019 adalah positif. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata respon siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan sebesar 36 dengan kategori positif. Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa kelas XI IA 2 SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2018/2019. Saran Beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitian sebagai . Penerapan model pembelajaran inkuiri untuk tema-tema yang lain. Guru dapat menerapkan model pembelajaran inkuiri untuk tema yang lebih luas dan tidak terbatas pada materi trigonometri. Penerapan model pembelajaran inkuiri pada tema-tema yang lain akan membuat siswa terbiasa untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan seluruh Jurnal Citra Pendidikan (JCP) || 624 potensi yang ada padanya. Kebiasaan ini juga akan mampu mendorong siswa untuk berbagai sumber belajar untuk mendukung inkuiri . Disarankan kepada guru dan pihak yang menaruh perhatian terhadap pendidikan agar melakukan penelitian lebih jauh tentang penerapan model pembelajaran inkuiri untuk tema yang lain pada pelajaran matematika maupun pada pelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar. Guru sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran dituntut untuk memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional guru. Disarankan agar guru melakukan penelitian secara berkelanjutan yang menyentuh ranah dimensi peserta didik dan memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan proses berpikirnya. Disarankan agar guru dapat mendesain model-model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk lebih mengoptimalkan kerja guru dalam mendesain model-model pembelajaran inovatif dapat dilakukan dalam kelompok MGMP sekolah maupun MGMP kabupaten. MGMP merupakan wadah yang sangat strategis, sebagai tempat yang dapat dipergunakan untuk melakukan diskusi maupun pelatihan untuk mendesain model-model pembelajaran inovatif sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. DAFTAR PUSTAKA