Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 9 No. 2 Maret 2022 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 25 - 34 PERAN SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN DALAM PEREKONOMIAN EMPAT PROVINSI DI PULAU JAWA Oleh: Akhmad Solikin Politeknik Keuangan Negara STAN Email: akhsol@pknstan. Articel Info Article History : Received 24 February - 2022 Accepted 24 March - 2022 Available Online 30 March - 2022 Abstract Manufacturing sector is substantial for economic development in terms of economic growth, value added, export, and This article investigates and compares manufacturing sectorsAo roles on economies in four provinces in Java Island. Indonesia, i. the Province of Banten. Jawa Barat. Jawa Tengah and Jawa Timur. This article used secondary data in terms of Input Output Table in general and backward linkage effect ratio and forward linkage effect ratio in particular. doing so, the article discusses leading sectors in manufacturing The Input Output Tables were published by BPS in 2021 which represents 2016 data. The results show that five manufacturing industries play significant roles as leading sectors, i. food and beverages, textile and garments, paper and printing, chemical and pharmacy, and rubber and plastic. contrast, tobacco processing, coal and oil refinery, and base metal are three manufacturing subsector which are not included in key sectors in majority of provinces. In general, more manufacturing sectors have stronger backward linkage effects ratio rather than forward linkage effects ratio. The provincial governments could use information about leading sectors in development planning, such as Medium-Term Development Planning (RPJMD) in quest to achieve more sustainable Keywords : Input Output Table. Leading sector. Manufacturing industry. Power of dispersion. Sensitivity of dispersion dan perikanan. Dengan demikian, sektor industri merupakan sektor strategis yang diharapkan mampu mendorong dan menarik pembangunan ekonomi pada sektor yang lain (Rahmah & Widodo, 2. Ditinjau dari segi penyebaran industri secara regional, secara umum diketahui bahwa Pulau Jawa relatif maju dibanding pulau-pulau yang lain, meskipun juga terdapat perbedaan antara satu provinsi dengan provinsi lain di Pulau Jawa. Pada umumnya, aspek perbedaan antar daerah di Pulau Jawa ini sering terlewat PENDAHULUAN Sektor industri pengolahan berperan sangat penting bagi suatu negara sebagai sumber pertumbuhan, nilai tambah, ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1, industri pengolahan di Indonesia berperan besar dalam PDB. Pada tahun 2021, industri pengolahan berkontribusi lebih dari 20 persen PDB jika menggunakan harga konstan tahun 2010. Dua sektor berikutnya yang penting adalah sektor perdagangan dan sektor pertanian, kehutanan, dalam diskusi. Sebagai ilustrasi, dilihat dari persentase perusahaan besar dan sedang pada periode 2010-2015, ternyata Jawa Barat. Jawa Timur dan Jawa Tengah mendominasi, masingmasing dengan 32,03 persen, 31,08 persen serta 20,40 persen (Nugroho & Wahyuni, 2. Demikian pula, ditinjau dari penyerapan tenaga kerja, urutan kontribusinya tetap Jawa Barat . ,66 perse. Jawa Timur . ,77 perse. , dan Jawa Tengah . ,19 perse. , dengan Banten menempati posisi keempat dengan 11,63 persen (Nugroho & Wahyuni, 2. Dari segi jumlah aglomerasi industri besar dan sedang. Jawa Barat dan Jawa Tengah mendominasi . asingmasing dengan 7 wilaya. , disusul Jawa Timur . dan kemudian Banten . (Nugroho & Wahyuni, 2. Sayangnya pengolahan terhadap perekonomian di Indonesia kurang menggembirakan, yang dikenal dengan istilah deindustrialisasi. Deindustrialisasi dicirikan dengan peran sektor industri yang semakin menurun dalam hal nilai tambah, ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Deindustrialisasi telah terjadi di Indonesia sejak krisis ekonomi tahun 1997/1998 (Prasetyo, 2. tersebut dalam perekonomian daerah. Cukup banyak penelitian yang mengkaji mengenai peran sektor tertentu dalam perekonomian, terutama dengan menggunakan Tabel InputOutput pada umumnya atau Indeks Daya Penyebaran (IDP) dan Indeks Daya Kepekaan (IDK) pada khususnya. Sektor yang diteliti juga beraneka ragam, misalnya sektor pertanian (Haris et al. , 2017. Muchendar et al. , 2020. Rafiqah et al. , 2. , pariwisata (Arianti, 2016. Yusroni & Chadiq, 2. , dan sektor industri pengolahan (Anas, 2015. Purnomo & Istiqomah, 2008. Rahmah & Widodo, 2. Level analisis penelitian tersebut dapat dilakukan di tingkat nasional . isalnya (Rahmah & Widodo, 2019. Solikin, 2. ), tingkat provinsi . isalnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Tenrini, 2. Provinsi Jawa Barat (Haris et al. , 2. Provinsi Jawa Tengah (Anas, 2015. Rafiqah et al. , 2018. Septiadi et , 2017. Yusroni & Chadiq, 2. Provinsi Jawa Timur (Wijaya et al. , 2. dan Provinsi Banten (Muchendar et al. , 2. ), atau kabupaten/kota . isalnya Kota Bukittinggi (Arianti, 2. Tinjauan lebih lanjut atas literatur yang telah terbit, khususnya studi pada sektor industri pengolahan, akan dibahas pada bagian kajian pustaka. Dari banyak penelitian yang telah dilakukan, sepanjang pengetahuan penulis, masih terbatas penelitian yang melakukan pembandingan antar daerah atau antar propinsi. Oleh karena itu, artikel ini berusaha membandingkan peran empat provinsi di Pulau Jawa khususnya untuk sektor industri manufaktor dengan menggunakan Indeks Daya Penyebaran (IDP) dan Indeks Derajat Kepekaan (IDK). Pengetahuan mengenai IDP dan IDK sangat penting untuk mendukung berkelanjutan, karena dapat diidentifikasi sektor unggulan . ey sector atau leading secto. (BPS, 2. Dengan identifikasi sektor unggulan tersebut dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan dan alokasi belanja sehingga memberikan penggandan yang besar (Purnomo & Istiqomah, 2008. Tenrini, 2. Berdasarkan data BPS pada tahun 2010 dalam data agregasi 9 sektor, sektor yang mempunyai IDP>1 adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. sektor bangunan, dan sektor industri pengolahan. Di lain pihak, sektor yang mempunyai IDK > 1 hanya sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas, dan air Informasi tentang sektor unggulan Tabel 1. PDB Lapangan Usaha 2021 (Harga konstan 2. Lapangan Usaha Pertanian, kehutanan, perikanan Pertambangan & penggalian Industri pengolahan Pengadaan gas & listrik Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah & daur ulang Konstruksi Perdagangan besar & eceran. Reparasi mobil & sepeda motor Transportasi & pergudangan Penyediaan akomodasi & makan minum Informasi & komunikasi Jasa keuangan & asuransi Real estate Jasa perusahaan Administrasi pemerintahan, pertahanan & jaminan sosial wajib Jasa pendidikan Jasa kesehatan & kegiatan sosial Jasa lainnya Pajak dikurangi subsidi produk PDB Sumber: BPS . Meskipun mengalami deindustrialisasi, peran sektor industri masih sangat penting sehingga masih layak terus dipelajari, salah satunya dengan mempelajari peran sektor tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan bersangkutan (Tenrini, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui IDP dan IDK khususnya sektor manufaktur pada empat provinsi di Jawa sebagai lokasi terbesar perusahaan besar dan menengah. Pengetahuan ini dapat berguna untuk merumuskan kebijakan ekonomi dalam rangka pembangunan sektor industri (Bappeda Banten & BPS Banten. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum terdapat lima subsektor unggulan di empat provinsi di Jawa . aitu sektor makanan dan minuman, tekstil dan garmen, kertas dan percetakan, kimia dan farmasi, serta karet dan plasti. Selain itu juga dapat diidentifikasi tiga subsektor non-unggulan, yaitu pengolahan tembakau, batubara dan pengilangan minyak dan gas bumi serta logam Hasil tersebut kemudian akan dibahas dengan kajian empiris yang ditemukan dalam Susunan artikel ini terdiri dari lima bagian. Setelah pedahuluan ini akan dilanjutkan dengan kajian pustaka, metode penelitian, serta hasil dan pembahasan. Setelah itu, artikel ditutup dengan kesimpulan dan daftar pustaka yang digunakan dalam penulisan artikel ini. digunakan adalah edisi tahun 2013 klasifikasi 19 sektor yang kemudian diagregasi menjadi 9 Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa di Jawa Tengah industri pengolahan mempunyai daya penyebaran dan derajat kepekaan lebih dari satu, sehingga tergolong sebagai sektor pemimpin . eading secto. Senada dengan hal tersebut. Yusroni dan Chadiq, . menemukan bahwa di Jawa Tengah sektor manufaktur merupakan sektor unggulan apabila ditinjau dari pengganda pendapatan dan pengganda output. Hasil penelitian Wahyuningsih . dapat memberikan gambaran yang lebih detail karena menggunakan Tabel Input Output 85 sektor. Sektor yang termasuk unggulan (IDP>1 dan IDK >. sebanyak 9 sektor, yaitu sektor pengolahan dan pengawetan ikan, sektor minyak dan lemak, sektor penggilingan padi, sektor industri tepung terigu dan tepung lainnya, sektor makanan ternak, sektor pemintalan, sektor tekstil, sektor kayu dan bahan bangunan dari kayu, serta sektor karet dan barang dari karet. Studi oleh Utami . untuk kasus Jawa Timur menggunakan Tabel Input Output tahun 2006 dengan dimensi 66 sektor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IDP >1 dengan indeks tiga tertinggi adalah sektor pengilangan minyak bumi, alat pengangkutan dan perbaikannya, serta industri barang lain-lain. Dalam daftar sepuluh besar IDP>1 termasuk di dalamnya sektor industri makanan . rutan 70 dan rokok . Dalam daftar sektor dengan IDK >1, yang termasuk tiga besar yaitu industri minuman, barang mineral bukan logam, dan pemintalan. Dalam sepuluh besar juga tercantum sektor rokok . , pengolahan dan pengawetan makanan . , serta tekstil dan pakaian jadi . Agregasi atau klasifikasi Tabel Input Output yang digunakan dalam analis berperan penting dalam menentukan apakah suatu sektor masuk dalam kategori unggulan. Sebagai contoh, dalam penelitiannya untuk kasus Jawa Tengah. Purnomo dan Istiqomah . menggunakan klasifikasi 19 sektor. Dalam klasifikasi tersebut, industri makanan, minuman dan tembakau dimasukkan dalam satu kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor tersebut merupakan salah satu sektor kunci perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2000 dan 2004, selain sektor industri lainnya . ahun 2000 dan 2. dan sektor pengilangan minyak . Industri KAJIAN PUSTAKA Beberapa penelitian telah menggunakan indeks daya penyebaran (IDP) dan indeks derajat kepekaan (IDK) untuk meneliti peran sektor tertentu di dalam perekonomian. Sebagai contoh. Septiadi et al. , . menghitung indeks penyebaran dan derajat kepekaan 12 sektor ekonomi di Jawa Tengah dan menemukan bahwa industri pengolahan merupakan sektor unggulan. Selanjutnya. Rafiqah et al. meneliti tentang peran sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sektor pertanian mempunyai daya penyebaran di atas rata-rata tetapi mempunyai daya kepekaan yang relatif rendah. Muchendar et al. meneliti peran sektor pertanian di Provinsi Banten dan menemukan bahwa subsektor peternakan merupakan satu-satunya subsektor yang mempunyai indeks daya penyebaran (IDP) dan indeks daya kepekaan (IDK) yang lebih dari 1. Penelitian pada sektor industri pengolahan juga telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Misalnya. Anas . meneliti dalam konteks Provinsi Jawa Tengah. Tabel Input Output yang makanan dan minuman tentu berperan besar dalam perekonomian Indonesia mengingat jumlah penduduk yang besar, sedangkan industri tembakau perannya masih perlu dikaji. Dengan demikian, hal tersebut memberikan alasan tambahan pentingnya penelitian ini yang menganalisis industri pengolahan dengan Tabel Input-Output yang lebih terperinci. Sumber: BPS Banten . BPS Jawa Barat IDP merupakan turunan dari keterkaitan ke belakang . ackward linkag. sedangkan IDK merupakan turunan keterkaitan ke depan . orward linkag. (BPS, 2. IDP dihitung dengan membandingkan antara dampak ke belakang terhadap rata-rata seluruh dampak sektor, sedangkan IDK dihitung dengan membandingkan antara dampak ke depan terhadap rata-rata seluruh dampak sektor (Daryanto & Hafizrianda, 2. Rumus untuk menghitung IDP dan IDK sebagaimana tercantum di . METODE PENELITIAN Sebagaimana disebutkan sebelumnya, penelitian ini berfokus pada empat provinsi di Jawa, yaitu Banten. Jawa Barat. Jawa Tengah dan Jawa Timur. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dikeluarkan dari analisis karena ketenagakerjaan, dan struktur ekonomi yang relatif berbeda dengan provinsi-provinsi yang Demikian pula, ruang lingkup analisis difokuskan pada industri pengolahan, dengan sektor yang lain dibahas sebagai pembanding. Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari situs BPS masing-masing provinsi (BPS Banten. BPS Jawa Barat, 2021b. BPS Jawa Tengah, 2021b. BPS Jawa Timur, 2. Tabel yang digunakan yaitu Indeks Daya Penyebaran dan Indeks Derajat Kepekaan yang meliputi 52 Data tersebut merupakan data tahun 2016 yang dipublikasikan pada bulan Mei Tabel 52 sektor dipilih untuk digunakan karena dibanding Tabel 19 sektor. Tabel 52 sektor memberikan perincian yang lebih detail atas sektor industri pengolahan. Pembagian industri pengolahan dicantumkan pada Tabel 2. Ocycu yciycnyc yayaycEyc = 1 ycn=1 ycu Ocycu yc=1 yciycnyc yayayaycn = 1 I-18 I-19 I-20 I-21 I-22 I-23 I-24 I-25 I-26 I-27 Ocycn Ocyc yciycnyc dimana i dan j adalah sektor dalam perekonomian berdasar baris dan kolom pada Tabel Input Output, sedangkan yciycnyc merupakan matriks kebalikan Leontief (Daryanto & Hafizrianda, 2. Lebih lanjut. IDP sebagai turunan keterkaitan ke hulu, menunjukkan seberapa besar suatu sektor mampu mendorong perubahan output terhadap sektor-sektor hulunya, baik yang terikat langsung maupun tidak langsung. IDK, di lain pihak, dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kenaikan permintaan akhir suatu sektor memengaruhi output sektor tersebut serta sektor-sektor hilir atau pengguna, baik yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Dengan diwujudkan dalam angka indeks, dapat diketahui urutan sektor yang memberikan multiplier yang lebih besar terhadap sektor hulunya . alam hal IDP) atau sektor hilirnya . alam hal IDK) (Purwoko, 2. Jika IDP suatu sektor lebih dari 1, maka permintaan akhir sektor tersebut dapat mendorong pertumbuhan sektor yang lain. Selanjutnya. IDK yang lebih dari 1 menunjukkan suatu sektor tersebut mampu memenuhi permintaan akhir dari sektor-sektor pengguna lain di atas rata-rata (BPS, 2. Subsektor industri manufaktur yang bersifat unggulan pada keempat provinsi diketahui dari mayoritas yang mempunyai IDP dan IDK lebih dari satu. Untuk menentukan apakah suatu sektor merupakan sektor unggulan pada keempat provinsi, artikel ini menggunakan Tabel 2. Perincian Sektor Industri Pengolahan Kode I-12 I-13 I-14 I-15 I-16 I-17 Ocycn Ocyc yciycnyc Industri Batubara & pengilangan migas Makanan & minuman Pengolahan tembakau Tekstil & pakaian jadi Kulit, barang dari kulit & alas kaki Kayu, barang dari kayu & gabus, & barang anyaman dari bambu, rotan & sejenisnya Kertas & barang dari kertas, percetakan & reproduksi media rekaman Kimia, farmasi & obat tradisional Karet, barang dari karet & plastik Barang galian bukan logam Logam dasar Barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik & peralatan listrik Mesin & perlengkapan YTDL Alat angkutan Furnitur Pengolahan lainnya, jasa reparasi & pemasangan mesin & peralatan kriteria bahwa minimal enam dari delapan IDP dan IDK provinsi tersebut bernilai lebih dari Selanjutnya, sektor yang dianggap nonunggulan apabila hanya maksimal dua dari delapan skor IDP dan IDK bernilai lebih dari Artikel ini mengunakan Tabel Input Output secara umum dan IDP dan IDK secara khusus untuk mengidentifikasi sektor unggulan. Data sekunder yang tersedia dan diterbitkan oleh lembaga resmi (BPS) serta metode yang telah baku menjadi keunggulan pemilihan metode Metode lain tentu tersedia, misalnya dengan studi literatur, observasi lapangan. FGD, dan/atau diskusi ahli sebagaimana yang dilakukan oleh Nopiana dan Maulana . untuk menentukan sektor unggulan di Kabupaten Blora. Jawa Tengah. Bagian ini menyajikan hasil penelitian meliputi IDP dan IDK pada empat provinsi, serta pembahasan yang dikaitkan dengan literatur yang relevan. Penyajian dilakukan dengan tabel dan kemudian dijelaskan kecenderungan yang dapat diamati. IDP dan IDK Empat Provinsi Tabel 3 menunjukkan IDP dan IDK Provinsi Jawa Barat. Jawa Timur. Jawa Tengah, dan Banten. Dari data yang disajikan tersebut, secara umum dapat dilihat beberapa Pertama, secara umum lebih banyak sektor industri yang mempunyai IDP > 1 dibanding IDK > 1. Hal tersebut mengindikasikan bahwa lebih banyak subsektor manufaktur yang bersifat strategis karena menggunakan input dari domestik . alam provinsi yang bersangkuta. , tetapi kurang memenuhi permintaan akhir dari subsektor yang lainnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 3. IDP dan IDK Industri Pengolahan Sektor I-12 I-13 I-14 I-15 I-16 I-17 I-18 I-19 I-20 I-21 I-22 I-23 I-24 I-25 I-26 I-27 Jawa Barat IDP IDK Jawa Timur IDP IDK Jawa Tengah IDP IDK Banten IDP IDK Keterangan: sel yang diarsir menunjukkan sektor dengan IDP <1 atau IDK < 1 Sumber: BPS Banten . BPS Jawa Barat . BPS Jawa Tengah . BPS Jawa Timur, . pada keempat provinsi tersebut yaitu subsektor Kedua, subsektor unggulan pada keempat pengolahan tembakau . ode I-. , batubara dan provinsi yang ditandai dengan IDK dan IDP pengilangan migas . ode I-. serta logam lebih dari 1 secara mayoritas, adalah subsektor dasar . ode I-. Pengolahan tembakau tidak makanan dan minuman . ode I-. , tekstil dan termasuk sektor unggulan cukup menarik pakaian jadi . ode I-. , kertas dan barang dari mengingat Provinsi Jawa Timur dan Jawa kertas, percetakan dan reproduksi media Tengah merupakan pusat produksi produk hasil rekaman . ode I-. , serta disusul dengan Subsektor pengolahan batubara dan subsektor kimia, farmasi dan obat tradisional pengilangan migas tidak merupakan sektor . ode I-. serta karet, barang dari karet dan unggulan mengingat keempat provinsi tersebut plastik . ode I-. bukan pengolah utama komoditas energi Ketiga, subsektor industri pengolahan yang secara umum bukan bersifat unggulan Keempat. Provinsi Banten secara umum mempunyai subsektor industri pengolahan yang tidak bersifat sebagai sektor unggulan. Subsektor yang mempunyai IDP dan IDK yang keduanya positif terbatas pada subsektor makanan dan minuman. tekstil dan pakaian kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman. karet, barang dari karet dan plastik. serta barang galian bukan logam. Kelima, pada setiap provinsi, terdapat subsektor unggulan masing-masing. Sektor ini dapat diketahui dengan IDP dan IDK yang keduanya mempunyai nilai di atas 1. Jika IDP dan IDK dimasukkan dalam kuadran, maka terdapat empat kuadran, dimana kuadran 1 berisi sektor yang mempunyai IDP dan IDK tinggi, kuadran 2 untuk sektor dengan IDP tinggi tetapi IDK rendah, kuadran 3 untuk IDP rendah dan IDK tinggi, serta kuadran 4 untuk IDP dan IDK rendah. Pada Provinsi Jawa Barat, sebagaimana tercantum pada Tabel 4, yang termasuk sektor pemimpin terdiri dari 5 sektor yaitu kode I-15 . ekstil dan pakaian jad. , kode I-19 (Kimia, farmasi dan obat tradisiona. , kode I-23 . arang dari logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listri. , kode I-24 . esin dan perlengkapan lai. serta kode I-25 . lat Tabel 5. Matrik IDP dan IDK Jawa Timur IDK Tinggi IDP Sumber: Hasil olahan dari Tabel 3 Sektor unggulan pada sektor industri pengolahan pada Provinsi Jawa Tengah 4 subsektor yaitu subsektor makanan dan minuman . ode I-. , subsektor kayu, barang dari kayu dan gabus, serta barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya . ode I-. , subsektor kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman . ode I-. , dan subsektor kimia, farmasi dan obat tradisional . ode I-. Tabel 6. Matrik IDP dan IDK Jawa Tengah IDK IDP Tinggi Rendah I-12 Tinggi Tinggi I-13. I-17. I18. I-19 Rendah I-12 Rendah I-15. I-16. I-20, I-21. I-22. I-23, I-26. I-27 I-14. I-24. I-25 Sumber: Hasil olahan dari Tabel 3 Selanjutnya, pada Provinsi Banten, terdapat 5 subsektor industri pengolahan yang termasuk sektor unggulan. Subsektor tersebut yaitu: . makanan dan minuman, . tekstil dan pakaian jadi, . kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman, . karet, barang dari karet dan plastik, serta . barang galian bukan logam. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 7. Perlu dicatat bahwa barang galian bukan logam tidak termasuk dalam sektor unggulan rata-rata pada empat provinsi. IDK IDP Rendah I-16. I-21. I-24, I-25. I-26 I-12. I-14. I-22, I-27 Rendah Tabel 4. Matrik IDP dan IDK Jawa Barat Tinggi I-15. I-19. I23. I-24. I-25 Tinggi I-13. I-15. I17. I-18. I-19. I-20. I-23. Rendah I-13. I-16. I-17, I-18. I-20. I-21, I-26. I-27 I-14. I-22 Sumber: Hasil olahan dari Tabel 3 Tabel 7. Matrik IDP dan IDK Banten Pada Provinsi Jawa Timur . ihat Tabel . , jumlah sektor industri pengolahan yang berkategori unggulan lebih banyak, yaitu sejumlah 7 subsektor. Sektor-sektor tersebut meliputi kode I-13 . akanan dan minuma. , kode I-15 . ekstil dan garme. , kode I-17 . , kode I-18 . ertas dan percetaka. , kode I-19 . imia dan farmas. , kode I-20 . serta kode I-23 . ogam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listri. IDK Tinggi IDP Rendah Tinggi I-13. I-15. I18. I-20. I-21 Rendah I-22. I-24. I-27 I-12. I-14. I-16, I-17. I-19. I-23, I-25. I-26 Sumber: Hasil olahan dari Tabel 3 Pembahasan Industri makanan dan minuman . ode I. merupakan sektor unggulan pada hampir semua provinsi, kecuali pada Provinsi Jawa Barat dimana sektor ini mempunyai IDK < 1. Kondisi tersebut sesuai dengan fakta bahwa empat provinsi tersebut mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar sehingga mempunyai permintaan yang besar atas komoditas makanan dan minuman. Sebagai contoh, di Jawa Barat pada tahun 2018, industri besar dan sedang berjumlah 1. 255 perusahaan dengan tenaga kerja sebanyak 179. 212 orang yang merupakan penyerap tenaga kerja urutan ketiga setelah industri tekstil dan pakaian jadi (BPS Jawa Barat, 2021. Detail jumlah industri besar dan sedang serta jumlah tenaga kerja pada tiga sektor unggulan . ode I-13. I15, dan I-. dan tiga sektor non-unggulan . ode I-14. I-12, dan I-. pada empat provinsi kajian dapat dilihat pada Tabel 8. Data ini hanya sebagai indikasi dan mungkin tidak dapat menjelaskan secara penuh karena relatif besarnya peran Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia. Tabel 8. Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Besar dan Sedang . Sektor I-13 I-15 I-18 I-19 I-20 I-14 I-12 I-22 Jawa Barat Usaha Tenaga Kerja Jawa Timur Usaha Tenaga Kerja Jawa Tengah Usaha Tenaga Kerja Banten Usaha Tenaga Kerja Keterangan Unggul Unggul Unggul Unggul Unggul Non-unggul Non-unggul Non-unggul Sumber: (BPS Banten, 2021a. BPS Jawa Barat, 2021a. BPS Jawa Tengah, 2021a. BPS Jawa Timur. Industri tekstil dan produk tekstil di Pulau Jawa merupakan industri unggulan, meskipun mengalami deindustrialisasi mulai tahun 2000an (Riyardi et al. , 2. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini yang disajikan dalam Tabel 3, dimana industri tekstil dan pakaian jadi . ode I-. merupakan sektor unggulan, yang mempunyai IDP > 1 dan IDK > 1 pada hampir semur povinsi, kecuali IDK Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai IDK 0,9470. Peran industri tekstil dan produk tekstil juga tergambar dari besarnya ekspor produk Sebagai contoh, untuk Jawa Tengah, tekstil dan produk tekstil merupakan komoditas ekspor dengan nilai paling tinggi pada periode 2010-2015 (Wahyuningsih, 2. Subsektor kimia dan farmasi merupakan sektor unggulan di tiga provinsi, kecuali di Provinsi Banten. Sehubungan dengan besarnya jumlah penduduk, proporsi penduduk yang tua dan perkembangan industri, kinerja sektor kimia dan farmasi semakin baik. Pada tahun 2016 terdapat minat investor baik asing maupun domestik untuk berinvestasi di Jawa Barat. Jawa Timur. Jawa Tnegah. Banten dan DKI Jakarta (Mawarti, 2. Hal ini sejalan dengan hasil identifikasi bahwa sektor kimia dan farmasi merupakan sektor unggulan. Subsektor pengolahan tembakau . ode I. mempunyai IDP dan IDK yang konsisten di bawah 1 pada keempat provinsi yang dianalisis. Hal tersebut sesuai dengan analisis Wijaya et al. yang menemukan bahwa di Jawa Timur keterkaitan ke belakang sektor rokok adalah rendah sedangkan sektor pengolahan tembakau adalah tinggi. Demikian pula, keterkaitan ke depan sektor rokok dan sektor tembakau olahan adalah rendah. Apabila di Jawa Timur sebagai sentra produksi rokok dan tembakau. IDP dan IDK relatif rendah, tentu bisa dipahami bahwa di provinsi-provinsi lain karakternya juga relatif mirip dengan hal tersebut. Selanjutnya, sektor logam dasar tidak termasuk sektor unggulan kemungkinan karena komoditas hasil tambangnya sebagian besar diekspor (Suseno et al. , 2. Dengan kebijakan untuk memproses bijih dan bahan mentah di dalam negeri, diharapkan keterkaitan industri ini dengan industri-industri lain di dalam negeri semakin besar sehingga dapat memberikan nilai tambah, output, dan/atau penyerapan tenaga kerja yang lebih besar. Bagaimana mengaitkan hasil penelitian ini dengan perencanaan pembangunan? Dalam sistem perencanaan daerah, gubernur dan wakil Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang berisi strategi pembangunan menengah . Selain gubernur dan wakil gubernur harus memperhitungkan kesesuaian RPJMD dengan (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah. RPJPD) serta tujuan pembangunan berkelanjutan . ustainable development goals. SDG. (Noor & Jayus, 2. , sehingga peran RPJMD sangat RPJMD kemudian dituangkan dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) yang bersifat tahunan. RKPD kemudian dibiayai lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan demikian penentuan sektor prioritas lewat Tabel InputOutput dapat digunakan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan tersebut. Hal ini karena pentingnya peningkatan efisiensi belanja, yang salah satunya dilakukan dengan memilih belanja yang bersifat produktif dan memberikan nilai tambah yang besar serta manfaat yang luas bagi masyarakat (Tenrini. Dalam strategi pembangunan industri tersebut, tentu tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan atas infrastruktur. Sektor unggulan tidak dapat berkembang tanpa dukungan faktorfaktor lain, termasuk di sini adalah kebutuhan Infrastruktur yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi diantara adalah infrastruktur transportasi utama, infrastruktur moda transportasi alternatif, pelabuhan, dan jaringan internet (Gunarta et al. , 2. diharapkan alokasi anggaran akan memberikan manfaat yang lebih luas dan besar. Artikel ini mempunyai kekurangan bahwa Tabel Input Output dan Tabel Indeks Daya Penyebaran dan Indeks Daya Kepekaan masih menggunaan data tahun 2016, yang merupakan data yang paling mutakhir tersedia. Saran bagi memperbaharui tabel tersebut, misalnya seperti yang dilakukan oleh Fajar . REFERENSI