Jurnal Bindo Sastra 8 . : 115Ae121 ANALISIS DEIKSIS PERSONA. TEMPAT. DAN WAKTU PADA CERPEN AuCINTA TAK ADA MATIAy KARYA EKA KURNIAWAN Siti Hayati Nufus. Rizka Fauziyah. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2222220009@untirta. Diterima: 19 November 2024 Disetujui: 17 Februari 2025 Diterbitkan: 07 Juli 2025 Abstrak Penggunaan deiksis sering kali ditemukan dalam karya sastra seperti cerpen. Pemahaman terkait salah satu aspek semantik ini penting karena penggunaan deiksis berfungsi dalam membangun cerita dan memberikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah cerita disampaikan pada pembaca. Dalam artikel ini, peneliti memakai penelitian deskriptif kualitatif yang memiliki tujuan guna memaparkan bentuk penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu dalam cerita pendek AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan. Peneliti memilih teknik pengumpulan data berupa teknik baca-catat, dengan instrumen penelitian dalam bentuk kartu data. Data yang digunakan berupa kata atau kalimat dalam kutipan-kutipan cerita pendek tersebut yang memiliki unsur penggunaan deiksis persona, tempat dan Berdasarkan hasil analisis, ditemukan data penggunaan deiksis persona, tempat, dan waktu Data tersebut terdiri dari 843 deiksis persona, 15 deiksis tempat, dan 16 deiksis waktu. Kata kunci: semantik, deiksis, cerita pendek Abstract The use of deiksis is often found in literary works such as short stories. Understanding one of these aspects of semantics is important because the use of deiksis serves to build a story and provides a new perspective on how a story is conveyed to the reader. In this article, the researcher uses qualitative descriptive research that has the purpose of explaining the form of using persona deiksis, place deiksis, and time deiksis in the short story "Cinta Tak Ada Mati" by Eka Kurniawan. The researcher chose a data collection technique in the form of a read-note technique, with a research instrument in the form of a data The data used is in the form of words or sentences in the short story quotes which have elements of using deiksis persona, place and time. Based on the results of the analysis, it was found that there were 874 data on the use of persona, place, and time deiksis. The data consisted of 843 persona deiksis, 15 place deiksis, and 16 time deiksis. Keywords: semantics, deiksis, short stories APendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UM Palembang DOI: https://doi. org/10. 32502/jbs. Pendahuluan Bahasa berkomunikasi berperan penting dalam interaksi manusia. Sebab melalui bahasa, pesan ataupun informasi dari penutur dapat tersampaikan kepada lawan tuturnya. Dalam penggunaannya. Wicaksono . alam Pratiwi & Utomo, 2. memaparkan bahwa bahasa bisa dipakai sebagai alat untuk berkomunikasi dan menyampaikan ekspresi, baik dalam bentuk lisan ataupun Bahasa menjadi alat komunikasi antar makhluk hidup, dengan bahasa maka seseorang dapat menyampaikan segala maksud dan tujuannya dengan baik. Kridaklaksana . alam Aminuddin, 2. mendefinisikan bahasa sebagai sistem simbol yang dipakai oleh sekelompok orang mengidentifikasi, dan bekerja sama. Dengan menggunakan bahasa, maka suatu hal yang akan disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur akan tersampaikan dengan cara dan variasi tertentu. Sementara Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Siti & Rizka. Analisis Deiksis PersonaA itu. Sapir . alam Rosidin, 2. mengemukakan bahwasannya bahasa ialah metode atau cara untuk menyampikan gagasan, emosi, dan kehendak yang bersifat manusiawi dan tidak didasarkan pada insting dengan memakai simbo-simbol yang dibuat secara sadar dan disengaja. Sebagai sarana yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, bahasa berkaitan erat dengan makna atau maksud dari suatu perkataan yang disampaikan. Bahasa sebagai komponen yang terus mengalami perkembangan senantiasa dikaji dan dianalisis menggunakan berbagai macam pendekatan. Ilmu bahasa di dalamnya mencakup beberapa bagian diantaranya materi fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Bidang linguistik yang bisa dipakai untuk menganalisis bahasa yaitu semantik. Semantik merupakan cabang dari ilmu bahasa yang berfokus pada makna. Menurut Chaer . alam Damayanti, 2. semantik adalah cabang ilmu yang mempelajari makna atau arti, yang menjadi bagian dari tiga tingkat analisis bahasa, yaitu fonologi, gramatikal, dan semantik. Dalam semantik terdapat kajian tentang deiksis, yang didefinisikan sebagai kata berubah-ubah tergantung pada konteks penggunaannya (Levinson, dalam Muhyidin, 2. Perubahan acuan tersebut disebabkan oleh konteks tuturan seperti penutur dan mitra tutr, waktu, dan lokasi pertutran. Sama halnya dengan pendapat Yule . alam Yunus. Djou, & Salam, 2. yang mengemukakan bahwa deiksis merupakan AupenunjukanAy melalui bahasa. Pengetahuan memperjelas makna sebuah tuturan, sehingga makna tersebut mampu dipahami dengan jelas oleh pendengar atau pembaca. Yule . alam Muhyidin, mengkasifikasikan deiksis menjadi tiga jenis, yakni persona, ruang, dan waktu. Umumnya sebuah karya sastra terdapat penggunaan deiksis, seperti halnya cerita pendek. Cerpen ialah jenis karya sastra yang mempunyai keunikan tersendiri dalam penggunaan kata-katanya, seperti halnya cerita pendek karya Eka Kurniawan yang berjudul AuCinta Tak Ada MatiAy yang menjadi objek penelitian. artikel ini. Penggunaan deiksis dalam cerpen ini memberikan dimensi yang unik dalam keterkaitannya dengan semantik. Dengan demikian, peneliti tertarik meneliti karya sastra yakni cerpen dari sisi kebahasaannya yaitu deiksis. Adapun penelitian ini difokuskan pada analisis deiksis persona, tempat, dan waktu pada cerpen AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan, dengan rumusan masalah yakni bagaimana bentuk penggunaan deiksis persona, deiksis tempat, dan deiksis waktu pada cerita pendek tersebut. Penelitian terkait deiksis juga dilakukan oleh Kholiza & Jailani . berjudul AuRagam Deiksis Pesona dan Waktu dalam Cerpen Smokol Karya Nukila AkmalAy, penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam salah satu cerpen karya Nukila Akmal tersebut terdapat penggunaan deiksis pesona dan waktu dengan bentuk yang berbeda-beda, adapun perbedaannya dengan artikel peneliti yaitu ada pada objek Sementara itu, penelitian lain juga dilakukan oleh Mulyati . berjudul AuDeiksis Sosial dalam Kumpulan Cerpen Lembah Kehidupan Karya M. Husseyn Umar (Kajian Pragmati. Ay, dalam artikel tersebut menunjukkan bahwa dalam salah satu cerpen karya M. Husseyn Umar tersebut terdapat penggunaan deiksis sosial di mana hal ini memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial penulisnya, adapun perbedaannya dengan artikel peneliti yaitu ada pada subjek dan objek kajian yang pakai. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam dalam Maksudnya, adalah kerangka menganalisis, dan menginterpretasi data kebahasaan guna menjawab pertanyaan penelitian terkait struktur, fungsi, dan konteks penggunaan bahasa (Denafri. Metode ini mencakup pendekatan kualitatif dengan teknik spesifik seperti analisis wacana. Objek yang peneliti gunakan sebagai acuan ialah cerita pendek AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan, peneliti menggunakan unit analisis berupa deiksis. Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 8 . : 115Ae121 Adapun data pada penelitian ini meliputi kata atau kalimat dalam kutipan-kutipan cerpen tersebut yang memiliki unsur penggunaan deiksis persona, tempat, dan Pada pengumpulan data, digunakan teknik berupa baca-catat. Teknik baca dipakai untuk membaca isi cerita pendek secara berulang dan memberikan tandatanda pada bagian kata atau kalimat yang mempunyai unsur deiksis persona, tempat, dan waktu dalam cerita pendek tersebut. Hasil dari kegiatan tersebut dicatat pada tabel sesuai dengan jenis deiksis untuk kemudian dilakukan tahap analisis data. Pada teknik catat, digunakan intrumen yakni kartu data untuk memudahkan peneliti dalam mengelompokkan data Hasil dan Pembahasan Penelitian terkait deiksis persona, waktu, dan tempat pada cerita pendek AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan, penggunaan deiksis persona sejumlah 843 data, deiksis waktu sejumlah 23 data dan deiksis tempat sejumlah 15 data. No. No. Tabel 1. Data Analisis Deiksis Jenis Jumlah Deiksis Persona Deiksis Tempat Deiksis Waktu Jumlah Tabel 2. Data Analisis Deiksis Persona Jenis Bentuk Deiksis Persona Pertama Aku, -ku Tunggal Deiksis Persona Pertama Kita Jamak Deiksis Persona Kedua Kau Tunggal Deiksis Persona Ketiga Ia, -nya Tunggal Deiksis Persona Ketiga Mereka Jamak Tabel 3. Data Analisis Deiksis Tempat Jenis Bentuk Deiksis Tempat Di sana, ke sana Lokatif Deiksis Tempat Ini, itu Demonstratif No. No. Tabel 4. Data Analisis Deiksis Waktu Jenis Bentuk Deiksis Waktu Dulu, tadi. Lampau kemarin, tiga hari Deiksis Waktu Sekarang, kini. Sekarang saat ini Deiksis Waktu yang Besok, tahun Akan Datang Deiksis Persona Pada Cerita Pendek AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan Deiksis persona ialah kategori deiksis yang mengacu pada individu yang terlibat dalam suatu kegiatan bertutur. Menurut Rahmawati . deiksis persona adalah bentuk pronomina persona yang memiliki sifat ekstratektual dan dipakai untuk mengantikan referensi tertentu di luar teks. Deiksis persona dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk yang meliputi persona pertama, persona kedua, dan persona Deiksis persona pertama mengacu kepada orang yang berbicara atau individu itu sendiri, contohnya aku, -ku, dan kita. Deiksis persona kedua merujuk pada mitra tutur, misalnya, anda, engkau, dan kau. Adapun deiksis persona ketiga mengacu pada lawan bicara yang tidak berperan secara langsung pada kegiatan bertutur atau tidak ada dalam area pertuturan, misalnya dia, ia, mereka, -nya. Berikut ini jenis-jenis deiksis persona yang dikelompokkan ke dalam persona tunggal dan jamak pada cerita pendek AuCinta Tak Ada MatiAy. Deiksis Persona Pertama Tunggal Deiksis ini tertuju pada penggunaan kata ganti seseorang yang memiliki sifat tunggal. Bentuk aku Umumnya, bentuk AoakuAo dipakai saat situasi informal atau dengan lawan tutur yang memiliki hubungan dekat. Misalnya Misalnya pada kutipan "Aaku (Halaman . Kata aku dalam kutipan tersebut mengacu kepada tokoh Mardio sebagai penutur Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Siti & Rizka. Analisis Deiksis PersonaA kepada lawan tuturnya yaitu Melatie. Penggunaan pronomina "aku" . ukan "saya") Afiksasi "-mu" pada mencintai menegaskan fokus pada mitra tutur . entuk posesif yang persona. Bentuk -ku Bentuk ini merupakan bentuk lain dari deiksis persona bentuk aku. Misalnya Misalnya pada kutipan berikut. AuKudengar rodanya,Ay (Halaman . Kata -ku dalam kutipan tersebut mengacu pada tokoh Mardio kepada dirinya sendiri. Pronomina "ku-" . menunjukkan fokus pada aksi Deiksis Persona Pertama Jamak Deiksis ini mengacu kepada kata ganti orang yang melibatkan penutur dan satu atau lebih penutur. Bentuk kita Bentuk kita digunakan jika lawan tutur termasuk ke dalam orang yang melakukan kegiatan bertutur. Misalnya pada kutipan berikut. "Seandainya hanya kita berdua," (Halaman . Kata kita pada kutipan di atas merujuk pada Mardio dan Melatie Deiksis Persona Kedua Tunggal Deiksis ini mengacu pada kata ganti orang dan dipakai saat menyebut lawan tutur yang bersifat Bentuk kau Bentuk kau digunakan untuk merujuk kepada lawan tutur yang merupakan bentuk Misalnya AuNona maukah kau jadi istriku?Ay (Halaman . Kata kau dalam kutipan tersebut mengacu kepada Melatie. Deiksis Persona Ketiga Tunggal Deiksis ini merujuk pada kata ganti yang dipakai saat menyebutkan orang lain yangada di luar pertuturan dan sifatnya tunggal. Bentuk ia Bentuk ia digunakan untuk mengacu pada pihak yang bahas atau pihak di luar kegiatan bertutur. Misalnya pada kutipan berikut. Auia pergike taman. Ay (Halaman . Kata ia pada kutipan di atas merujuk pada tokoh Mardio. Bentuk -nya Bentuk -nya dipakai untuk mengcu pada kepunyaan atau keterlibatan individu atau pihak yang dibahas. Misalnya dalam kutipan berikut. AuAia Ay (Halaman . Kata -nya pada kutipan tersebut mengacu pada tuturan Mardio kepada Melatie. Deiksis Persona Ketiga Jamak Deiksis ini mengacu kepada kata ganti orang ketiga yang lebih dari satu orang di luar pertuturan. Misalnya pada kutipan berikut. Bentuk mereka Bentuk mengacu pada pihak yang dibicarakan di luar tuturan. Misalnya AuIa romansa-romansa mereka. Ay (Halaman . Kata mereka pada kutipan di atas merujuk pada gadis-gadis dibayangkan tokoh Mardio. Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 8 . : 115Ae121 Deiksis Tempat Pada Cerita Pendek AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan Deiksis tempat ialah pengacuan lokasi berdasarkan pada posisi peserta dalam suatu peristiwa tutur. Nababan . alam Kusyani & Siregar, 2. mengemukakan bahwa deiksis tempat merupakan penentuan lokasi tempat . dilihat berdasarkan jarak lokasi peserta tutur yang terlibat dalam kegiatan Deiksis klasifikasikan menjadi deiksis waktu lokatif dan demonstratif. Berikut ini jenis-jenis deiksis tempat pada cerpen AuCinta Tak Ada MatiAy. Deiksis Tempat Lokatif Deiksis ini mengacu pada posisi yang dimaksud dalam Deiksis ini mengacu pada letak atau posisi tempat yang bergantung pada persepsi peserta dalam peristiwa tutur. Bentuk di sana AuDua sana,Ay (Halaman . Kata di sana dalam kutipan tersebut mengacu kepada toko buku yang dikunjungi Mardio. Bentuk ke sana AuAia pergi ke sana berpikir,Ay (Halaman . Kata ke sana dalam kutipan tersebut mengacu pada rumah sakit milik suami Melatie. Deiksis Tempat Demonstratif Deiksis tempat demonstratif digunakan dalam pertuturan untuk menegaskan tempat atau lokasi tertentu dalam kegiatan bertutur. Bentuk itu AuHiburan tampaknya akan segera berakhir,Ay (Halaman Kata itu pada kutipan di atas merujuk pada tempat hiburan yang dikunjungi oleh tokoh Mardio. Bentuk ini Au. rumah ini tengah Ay (Halaman Kata ini dalam kutipan tersebut mengacu pada rumah milik Melatie. Deiksis Waktu Pada Cerita Pendek AuCinta Tak Ada MatiAy karya Eka Kurniawan Deiksis waktu ialah jenis deiksis yang merujuk pada waku yang dimaksud dalam sebuah kegiatan bertutur. Artinya, jenis deiksis ini bergantung pada rentang waktu atau konteks ketika ujaran tersebut Deiksis waktu merujuk pada waktu yang relevan dengan situasi Rahmawati . mendefinisikan deiksis waktu sebagai ungkapan yang mengacu pada rentang waktu yang diacu dalam tuturan. Deiksis waktu dapat dilihat pada kata kemarin, lusa, besok, suatu hari, dan lain sebagainya. Muhyidin . mengemukakan bahwa kata yang bersifat deiksis waktu dapat diklasifikasikan dalam tiga bagian, yaitu . deiksis masa lampau, . deiksis masa sekarang, dan . deiksis masa yang akan Berikut jenis-jenis deiksis tersebut pada cerita pendek AuCinta Tak Ada MatiAy. Deiksis Waktu Lampau Bentuk dulu Bentuk dulu merujuk pada masa lalu sebelum "kita punya alasan yang sama untuk kawin sejak " (Halaman . Kata dulu dalam kutipan tersebut mengacu pada waktu lampau saat tokoh Melatie belum menikah dengan lelaki Bentuk tadi Bentuk tadi merujuk pada waktu yang baru saja berlalu atau masa lalu yang jaraknya tidak terlalu jauh pada saat ujaran itu dituturkan. AuAsi gadis yang diculik mobil permen tadi. Ay (Halaman 27-. Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Siti & Rizka. Analisis Deiksis PersonaA Kata tadi dalam kutipan tersebut mengacu pada waktu diculiknya seorang gadis. Bentuk kemarin Bentuk merujuk pada waktu lampau yang biasanya sehari atau dua hari sebelum ujaran itu Aula duduk di kursinya kemarin,Ay (Halaman . Kata kemarin dalam kutipan tersebut mengacu pada waktu Mardio menduduki kursi di hari sebelumnya. Bentuk tiga hari terakhir Bentuk tiga hari terkahir mengacu pada waktu yang telah berlalu hingga hari ketika ujaran tersebut dituturkan. AuDalam terakhir ia tak lagi. Ay (Halaman . Kata tiga hari terakhir pada kutipan di atas merujuk pada waktu yang telah dilalui tokoh Mardio saat ia di permakaman. Deiksis Waktu Sekarang Bentuk sekarang Bentuk merujuk pada waktu ketika ujaran itu dituturkan. AuAsekarang ia hanya berdua bersama si dokter,Ay (Halaman . Kata sekarang pada kutipan di atas merujuk pada waktu yang sedang dijalani tokoh Mardio dengan suami Melatie ketika Melatie telah meninggal. Bentuk kini Bentuk kini merujuk pada waktu ketika ujaran itu AuTapi kini ia mulai bisa cerita cintanya akan Ay (Halaman Kata kini dalam kutipan tersebut mengacu pada waktu ketika Mardio menyadari keadaan bahwa cintanya tidak akan pernah sampai kepada Melatie karena Melatie telah Bentuk saat ini Bentuk saat ini merujuk pada waktu ketika ujaran itu AuAberi aku kesempatan meyakinkanmu bahwa saat ini lelakimu tengah meniduri seorang gadis jelitaAy (Halaman . Kata saat ini pada kutipan di atas merujuk pada waktu Mardio melihat suami Melatie sedang meniduri gadis lain. Deiksis Waktu yang Akan Datang Bentuk besok dan tahun depan Bentuk besok merujuk pada waktu hari setelah hari Adapun bentuk tahun depan mengacu pada waktu mendatang setelah tahun ini. Au. dilakukan malam ini, dan besok, dan tahun Ay (Halaman . Kata besok dan tahun depan pada kutipan di atas merujuk pada waktu Mardio merasakan kebingungan atas apa yang akan ia lakukan kedepannya setelah kepergian Melatie. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang diteliti oleh peneliti pada cerpen yang penggunaan deiksis sebanyak 874 data. Data tersebut terdiri dari penggunaan deiksis persona sejumlah 843 data, deiksis tempat 15 data, dan deiksis waktu 16 data. Dari hasil temuan tersebut bahwa dominasi deiksis persona . 5%). Tingginya frekuensi deiksis persona . menunjukkan teks sangat terpusat pada aktor/pelaku, bukan peristiwa atau latar. Ini mengindikasikan karakter narasi yang mengutamakan relasi interpersonal Teks berfungsi sebagai medium . ukan Persona Pertama Tunggal . ku, k. sebagai Mayoritas. Dominasi "aku"/- Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Jurnal Bindo Sastra 8 . : 115Ae121 ku" mencerminkan kesadaran diri tinggi narator/tokoh utama. Membangun fokaliasi internal . embaca menyelami sudut pandang tokoh "aku"). Persona Ketiga Tunggal . a, -ny. sebagai Signifikan. Ketimpangan frekuensi "aku" vs "ia" menunjukkan ketidakseimbangan kuasa naratif. Persona Pertama Jamak . yang Minim. Kelangkaan "kita" mengindikasikan fragmentasi identitas kolektif. Tokoh tidak kelompok, menyoroti isolasi sosial atau konflik identitas. Minimnya rujukan tempat/waktu . 5%) menyiratkan: Narasi terlepas dari konteks spasiotemporal spesifik. Fokus pada dimensi psikologis ketimbang setting fisik. Daftar Pustaka