BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Pelatihan Penatalaksanaan Penyembelihan Hewan Qurban Berbasis Partisipatif Handayani Indah Susanti. Ayu Lestari1 1,Jurusan Ilmu Peternakan. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar *e-mail: handayani. indah@uin-alauddin. ABSTRAK Pelaksanaan ibadah qurban merupakan tradisi penting dalam umat Islam yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus dalam penyembelihan hewan agar sesuai dengan syariat Islam dan menghasilkan daging yang halal, thoyyib, serta aman dikonsumsi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini mengadakan pelatihan penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban berbasis partisipatif di Masjid Jabal Taqwa. BTN Tamarunang Indah 1. Kabupaten Gowa. Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas panitia qurban dan masyarakat dalam melakukan penyembelihan hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), serta menjaga kebersihan dan higienitas proses penyembelihan dan pengolahan daging. Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi, dan partisipasi langsung dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Jurusan Ilmu Peternakan UIN Alauddin Makassar sebagai narasumber dan fasilitator. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 90% indikator penyembelihan telah sesuai syariat dan standar kesehatan, meskipun ditemukan kendala seperti tidak tersedianya meja pemotongan dan pengemasan daging yang kurang ramah lingkungan. Solusi yang diusulkan meliputi penggunaan meja dari warga dan pengemasan menggunakan kotak plastik food grade. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan keamanan daging qurban serta memperkuat peran masyarakat sebagai agen perubahan dalam pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai tuntunan agama dan kesehatan. Kata kunci : Penyembelihan hewan qurban. pelatihan partisipatif. daging ASUH ABSTRACT The implementation of the qurban ritual is an important tradition in the Muslim community that requires specific knowledge and skills in animal slaughter to comply with Islamic law and produce meat that is halal, thoyyib . , and safe for consumption. This community service activity conducted a participatory-based training on qurban animal slaughter management at Jabal Taqwa Mosque. BTN Tamarunang Indah 1. Gowa Regency. The training aimed to enhance the capacity of the qurban committee and the community in performing animal slaughter that is safe, healthy, intact, and halal (ASUH), while maintaining cleanliness and hygiene in the slaughtering process and meat handling. The training methods included lectures, discussions, and direct participation involving lecturers and students from the Department of Animal Science. UIN Alauddin Makassar, as resource persons and facilitators. The training results showed that 90% of the slaughter indicators complied with Islamic law and health standards, although challenges were found, such as the absence of proper slaughter tables and environmentally unfriendly meat packaging. Proposed solutions included using tables provided by residents and packaging with food-grade plastic boxes. This training is expected to improve the quality and safety of qurban meat and strengthen the communityAos role as agents of change in implementing the qurban ritual according to religious and health guidelines. Keywords: Qurban animal slaughter, participatory training. ASUH meat Copyright . 2025 Handayani Indah Susanti. Ayu Lestari This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Pelaksanaan ibadah qurban merupakan tradisi tahunan yang memiliki makna penting bagi umat Islam sebagai bentuk penghambaan dan kepedulian sosial. Proses penyembelihan hewan qurban tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga harus dilakukan dengan pengetahuan dan keterampilan khusus agar sesuai dengan syariat Islam dan menghasilkan daging yang halal, thoyyib, serta aman untuk dikonsumsi (Putra et al. Namun, dalam praktiknya, proses penyembelihan hewan qurban seringkali masih dilakukan secara tradisional tanpa memperhatikan aspek kebersihan dan kesehatan (Yulianto et al. , 2. , sehingga berpotensi menimbulkan masalah seperti kontaminasi bakteri dan penyakit zoonosis yang membahayakan kesehatan masyarakat (Biru et al. , 2. Oleh karena itu, pelatihan penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban berbasis partisipatif menjadi sangat penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar dapat melaksanakan penyembelihan yang benar dan sesuai dengan standar kesehatan serta syariat (Putra et al. , 2. Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif yang mengedepankan peran aktif masyarakat, sehingga tidak hanya sekadar menerima materi, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kualitas dan keamanan daging qurban di lingkungan masing-masing (Kusumadinata & Sumah, 2024. Missouri et al. , 2. Selain memberikan pengetahuan teknik penyembelihan yang benar sesuai syariat Islam, pelatihan ini juga menekankan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan hewan sebelum, selama, dan setelah proses penyembelihan, serta manajemen distribusi daging qurban yang efektif dan adil kepada para penerima manfaat (Azzahra et al. , 2. Aspek kebersihan dan higiene selama proses penyembelihan dan pengolahan daging juga menjadi fokus utama untuk memastikan daging yang dihasilkan aman dan layak dikonsumsi (Winarso et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar, berkolaborasi dengan masyarakat dan instansi pemerintah setempat, khususnya jamaah Masjid Jabal Taqwa di BTN Tamarunang Indah 1. Gowa. Latar belakang pelaksanaan kegiatan ini dilandasi oleh fakta bahwa pelaksanaan penyembelihan hewan qurban masih sering dilakukan tanpa memperhatikan prinsip-prinsip penyembelihan yang sesuai syariat Islam dan aspek kesehatan masyarakat veteriner (Winanti et al. , 2. Penyembelihan hewan qurban merupakan ibadah yang sarat makna, memadukan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Namun, masih banyak yang belum memperhatikan kesejahteraan hewan, keamanan daging, dan aspek distribusinya. Pra penyembelihan, pemeriksaan kesehatan hewan qurban sering kali diabaikan, dan penampungan hewan dilakukan di tempat terbuka yang terpapar panas dan hujan. Saat penyembelihan, hewan dijatuhkan bersama-sama tanpa memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan. Pasca penyembelihan, daging kerap diletakkan dan dikemas seadanya, tanpa memperhatikan standar kebersihan dan keamanan pangan bagi penerimanya (Utami et al. , 2. Proses penyembelihan ternak ini menjadi salah satu titik kritis dalam penyediaan daging yang Aman. Sehat. Utuh, dan Halal (ASUH). Apabila tidak dilakukan sesuai prosedur, daging yang dihasilkan bisa jadi tidak memenuhi kriteria ASUH (Winarso et al. , 2. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Di beberapa wilayah padat penduduk, termasuk BTN Tamarunang Indah 1 di Kabupaten Gowa, pelaksanaan penyembelihan qurban masih belum memenuhi prosedur standar kebersihan dan keamanan pangan. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi silang dan penyebaran zoonosis. Selain itu, kegiatan penyembelihan yang dilakukan di tempat ibadah atau lapangan terbuka seringkali tidak sesuai prinsip kebersihan Akibatnya, kualitas daging yang dihasilkan dapat menurun, dan limbah organik yang tidak terkelola dengan baik menjadi penyumbang pencemaran lingkungan Kurangnya pengetahuan inilah yang mendorong pentingnya pendampingan dan edukasi tentang penyembelihan hewan qurban berbasis ASUH. Hal ini bukan hanya untuk menjamin keamanan dan kesehatan daging yang dikonsumsi masyarakat, tetapi juga sebagai wujud tanggung jawab sosial dalam menjaga lingkungan dan kesejahteraan hewan (Yulianto et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menjawab tantangan di atas melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya panitia qurban dan pelaku penyembelihan. Kegiatan ini diarahkan untuk memastikan proses penyembelihan yang benar, sesuai syariat Islam, serta memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan pangan. Harapannya, kegiatan ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penyembelihan yang halal, thoyyib, dan aman, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi risiko penyakit zoonosis dan pencemaran lingkungan. METODE Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Masjid Jabal Taqwa. BTN Tamarunang Indah 1. Kabupaten Gowa. Lokasi ini dipilih karena merupakan pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang rutin menyelenggarakan ibadah qurban, sehingga pelatihan penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban ini diharapkan memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar. Peserta pelatihan terdiri dari panitia qurban, masyarakat sekitar masjid, serta beberapa pemuda yang terlibat aktif dalam pelaksanaan penyembelihan hewan qurban. Total peserta sebanyak 31 orang, yang memiliki latar belakang beragam, mulai dari pemula yang belum pernah terlibat hingga yang sudah memiliki pengalaman dalam penyembelihan hewan qurban. Metode pelatihan yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang mendorong keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahap kegiatan (Hayati & Yulianto, 2. Materi pelatihan disampaikan melalui ceramah interaktif yang membahas syariat penyembelihan hewan qurban, prinsip halal dan thoyyib, serta aspek keamanan pangan dan kesehatan hewan (Putra Purnama et al. , 2. Ceramah ini dirancang agar peserta dapat memahami teori dasar secara mendalam sebelum terjun ke praktik lapangan (Basuki et al. , 2022. Darmawan et al. , 2. Selanjutnya, dilakukan diskusi kelompok yang bertujuan untuk menggali pengalaman para peserta, mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi, serta mendiskusikan solusi yang relevan dan Diskusi ini menjadi media penting untuk berbagi pengalaman dan memperkuat pemahaman peserta dalam konteks lokal. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Tahap berikutnya adalah praktik langsung yang dilaksanakan melalui pengisian instrumen penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban yang sesuai dengan standar ASUH (Aman. Sehat. Utuh, dan Hala. Praktik ini dipandu dan didampingi oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Ilmu Peternakan UIN Alauddin Makassar. Peserta diajak untuk secara aktif mengisi instrumen tersebut selama praktik berlangsung, sehingga mereka dapat menilai dan memastikan langkah-langkah penyembelihan yang dilakukan telah memenuhi standar syariat Islam dan aspek kesehatan hewan yang ditetapkan. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan teknis sekaligus memperkuat pemahaman peserta tentang prinsip-prinsip penyembelihan hewan qurban yang benar dan sesuai standar. Instrumen penilaian yang digunakan dalam kegiatan ini berupa observasi langsung dan formulir checklist indikator kepatuhan. Data kuantitatif diperoleh dengan menghitung persentase tingkat kepatuhan peserta berdasarkan checklist yang telah diisi, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui diskusi dan wawancara dengan peserta untuk mendokumentasikan kendala yang mereka hadapi serta solusi yang mereka temukan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan tingkat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam penerapan praktik penyembelihan yang benar. Hasil observasi dan pengisian checklist disajikan dalam bentuk persentase keberhasilan, sedangkan hasil diskusi dan wawancara dikompilasi sebagai masukan dan rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan penyembelihan hewan qurban di masa mendatang. Metode partisipatif yang diterapkan diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, mendorong penerapan standar penyembelihan yang sesuai syariat dan kesehatan, serta meningkatkan kemandirian peserta dalam pelaksanaan qurban di lingkungan masing-masing. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan pelatihan penyembelihan hewan qurban berbasis partisipatif di BTN Tamarunang Indah 1 dan Masjid Jabal Taqwa diselenggarakan dengan partisipasi aktif dari berbagai anggota masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan ibadah qurban, khususnya para jamaah dan panitia pelaksana. Materi pelatihan disampaikan secara komprehensif mengenai teknik penyembelihan hewan qurban yang sesuai dengan syariat Islam serta prinsip kesejahteraan hewan . nimal welfar. Dalam pelaksanaan pelatihan, peserta diberikan pemahaman mendalam tentang tata cara penyembelihan yang halal dan higienis, mulai dari persiapan alat dan hewan, proses penyembelihan, hingga pengelolaan daging qurban agar tetap aman dan sehat untuk dikonsumsi (Gambar . BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Gambar 1. Sosialisasi penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama pelatihan berlangsung. Mereka aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait pelaksanaan qurban di lingkungan masing-masing. Umpan balik yang diberikan umumnya positif, menyoroti manfaat pelatihan ini dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan teknis yang sangat diperlukan dalam rangka pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai standar syariat dan kesehatan. Serta memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan ibadah qurban secara benar, higienis, dan sesuai syariat Islam. Beberapa peserta juga menyampaikan harapan agar pelatihan serupa dapat rutin diadakan sebagai bentuk pembinaan dan peningkatan kapasitas Selain penyampaian materi secara teori, kegiatan ini juga mengutamakan praktik langsung dengan bimbingan narasumber yang berpengalaman. Hal ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami konsep tetapi juga mampu mengaplikasikan teknik penyembelihan yang benar secara mandiri. praktik langsung yang dilaksanakan melalui pengisian instrumen penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban (Gambar . yang sesuai dengan standar ASUH (Aman. Sehat. Utuh, dan Hala. Gambar 2. Praktik bersama Narasumber dan Peserta Instrumen penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban (Tabel . disusun berdasarkan standar ASUH (Aman. Sehat. Utuh, dan Hala. , yang mencakup tiga komponen utama, yaitu: kandang dan tempat penampungan sementara ternak, tempat penanganan daging, serta kondisi lokasi, sarana serta peralatan penyembelihan hewan Masing-masing instrumen dilengkapi dengan sejumlah indikator penilaian yang dijabarkan secara rinci dalam Tabel 1 sesuai dengan aspek yang dinilai. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Tabel 1. Instrumen Penatalaksanaan Penyembelihan Hewan Qurban Indikator Kandang Tempat Penampungan Sementara Ternak Terdapat yang terlindung dari panas dan hujan serta sirkulasi udara Tersedia air minum dan penampungan sementara Kandang sementara bersih dan kotoran dibuang secara rutin Ada kesehatan ternak di kandang Kandang sementara memiliki pagar pembatas yang kuat Luas tempat penampungan minimal 1,75 mA/ekor sapi, dan 0,8 mA/kambing/domba Ventilasi dan pencahayaan penampungan sementara Tali pengikat ternak tidak panjangnya sesuai sehingga ternak tidak tercekik Indikator Tempat Penanganan Daging Tempat penanganan daging tertutup dan tidak terpapar langsung oleh sinar matahari dan Kebersihan tempat penanganan daging terjaga Daging diletakkan di tempat dibersihkan, tidak bersentuhan langsung dengan lantai Pengemasan wadah food grade . isalnya plastik food grade atau bo. Jenis kemasan daging dibedakan antara jeroan dan daging utama Daging didistribusi secara tertib, sesuai jumlah kupon dan sasaran Daging dikemas dan disimpan terpisah dari bahan non halal dan limbah qurban Personel yang menangani daging tidak sedang sakit, mengenakan sarung tangan dan masker, anggota tubuh bersih Indikator Kondisi Lokasi. Sarana Peralatan Penyembelihan Hewan Qurban Lokasi penyembelihan tidak berada di dekat tempat sampah, saluran air limbah, atau toilet Tersedia air bersih yang cukup untuk proses penyembelihan dan pencucian alat Tersedia alat penyembelih yang tajam dan steril . isau, golok, dl. Alat tidak digunakan secara bergantian untuk hewan yang berbeda tanpa dibersihkan Tersedia tempat khusus untuk penampungan darah dan Petugas penyembelih memiliki keterampilan dan memahami teknik penyembelihan sesuai Petugas penyembelih tidak merokok, makan, atau minum Lokasi memiliki sistem pembuangan limbah yang memadai Pelaksanaan pelatihan penyembelihan hewan qurban berbasis partisipatif ini menunjukkan keberhasilan yang signifikan, yang ditandai dengan pencapaian 90% indikator penyembelihan sesuai syariat dan standar kesehatan. Keberhasilan ini dapat dianalisis melalui beberapa faktor kunci. Pertama, pendekatan partisipatif yang digunakan dalam pelatihan terbukti efektif karena memungkinkan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh proses pembelajaran. Hal ini selaras dengan prinsip pembelajaran orang dewasa . yang menekankan pengalaman langsung dan relevansi konteks (Darmawan et al. , 2. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan teknis dalam praktik penyembelihan. Faktor kedua yang mendorong keberhasilan pelatihan ini adalah adanya dukungan penuh dari narasumber yang kompeten serta kolaborasi antara akademisi dan Kolaborasi ini menciptakan lingkungan belajar yang suportif, yang BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ memperkuat motivasi internal peserta. Pelatihan ini juga memanfaatkan media pembelajaran yang variatif . eramah, diskusi, prakti. , yang telah terbukti secara pedagogis mampu meningkatkan retensi pengetahuan dan keterampilan (Hayati & Yulianto, 2. Selain itu, pemilihan lokasi pelatihan yang strategis dan berbasis komunitas memperkuat penerimaan materi oleh peserta. Namun demikian, terdapat tantangan dalam pelaksanaan yang perlu dicermati, terutama bila model pelatihan ini direplikasi di lokasi lain. Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan infrastruktur yang mendukung, seperti meja pemotongan dan sarana pengemasan yang memenuhi prinsip ramah lingkungan. Di lokasi lain, terutama daerah pedesaan atau wilayah dengan akses terbatas, kendala logistik ini bisa menjadi penghambat utama. Selain itu, resistensi budaya dan perbedaan tingkat literasi juga dapat mempengaruhi efektivitas pendekatan partisipatif. Oleh karena itu, perlu ada adaptasi lokal dan pemetaan aktor kunci sebelum pelatihan dilaksanakan secara luas. Dari capaian indikator sebesar 90%, secara konseptual dapat dimaknai sebagai representasi dari efektivitas pelatihan dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan teknis masyarakat. Angka ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan dalam aspek prosedural, tetapi juga merupakan indikator dari terbentuknya kesadaran kolektif untuk melaksanakan ibadah qurban secara profesional, aman, dan sesuai syariat. Dalam kerangka community-based development, pencapaian ini menunjukkan adanya peningkatan capacity building yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan spiritual (Missouri et al. , 2. Capaian ini juga mengindikasikan keberhasilan dalam membangun norma baru dalam masyarakat terkait praktik penyembelihan yang etis dan Lebih jauh, pendekatan partisipatif juga memperlihatkan dampak sosial berupa terbentuknya kohesi sosial dan kolaborasi antaranggota masyarakat. Selama proses diskusi dan praktik lapangan, peserta tidak hanya belajar, tetapi juga membentuk jaringan kerja sama yang dapat berlanjut dalam kegiatan qurban di masa depan. Hal ini memperkuat gagasan bahwa pendekatan partisipatif bukan hanya sebuah metode, tetapi juga strategi pemberdayaan yang mampu meningkatkan kapasitas sosial masyarakat (Kusumadinata & Sumah, 2024. Achmad, 2024. Kaseng, 2023. Muslim. Prasojo, 2004. Yulian et al. , 2. Kegiatan pelatihan ini berjalan secara interaktif dan partisipatif, sehingga suasana belajar menjadi kondusif dan menyenangkan. Peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan langsung langkah-langkah penyembelihan yang benar, mulai dari pemilihan hewan, teknik penyembelihan, hingga pengelolaan daging. Praktik langsung ini sangat membantu peserta dalam memahami dan menguasai proses secara nyata, sehingga mereka lebih percaya diri dalam melaksanakan penyembelihan qurban secara mandiri di lingkungan mereka masing-masing. Selain peningkatan keterampilan teknis, pelatihan ini juga berkontribusi dalam mempererat hubungan sosial antar peserta yang merupakan bagian dari jamaah dan panitia qurban. Diskusi dan kerja sama selama kegiatan mendorong terciptanya solidaritas dan rasa tanggung jawab bersama dalam melaksanakan ibadah qurban dengan cara yang benar dan beretika. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat disebarluaskan lebih luas di BARAKATI: Journal of Community Service Volume 04 Nomor 1 | Agustus 2025: 16-25 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ masyarakat sehingga pelaksanaan qurban di masa mendatang menjadi lebih tertib, aman, dan bermanfaat. Secara keseluruhan, pelatihan penatalaksanaan penyembelihan hewan qurban ini berhasil meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menjalankan ibadah qurban secara sesuai syariat dan memperhatikan aspek kesehatan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pelaksanaan qurban yang berkualitas, beretika, dan Dalam konteks keberlanjutan . , keberhasilan pelatihan ini membuka peluang pengembangan program lanjutan seperti pembentukan kader qurban atau pelatihan untuk wilayah binaan lain. Untuk itu, dokumentasi proses dan hasil pelatihan menjadi penting agar model ini dapat diadopsi dan disesuaikan dengan konteks lokal masing-masing daerah. Keberhasilan pelatihan ini juga membuka peluang untuk mengadakan program pembinaan lanjutan yang fokus pada pengembangan keterampilan dan pengetahuan masyarakat dalam berbagai aspek ibadah dan sosial keagamaan lainnya. KESIMPULAN Pelatihan penyembelihan hewan qurban berbasis partisipatif ini berhasil meningkatkan keterampilan masyarakat, terbukti dengan 90% indikator penyembelihan yang telah sesuai syariat dan standar kesehatan. Kendala seperti tidak tersedianya meja pemotongan dan penggunaan kemasan yang kurang ramah lingkungan dapat diatasi melalui pemanfaatan meja warga dan kotak plastik food grade. Pelatihan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas dan keamanan daging qurban, tetapi juga memperkuat peran masyarakat sebagai agen perubahan dalam pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai dengan tuntunan agama dan kesehatan. Untuk mendukung keberlanjutan program, disarankan agar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), pemerintah desa, dan dinas terkait berkolaborasi dalam menyusun program pembinaan rutin serta mengembangkan modul pelatihan standar dan instrumen evaluasi yang terstruktur agar kegiatan serupa dapat direplikasi secara sistematis di berbagai wilayah. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Makassar yang telah memberikan dukungan terhadap pengabdian ini. REFERENSI