Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Partnership Patterns and Income of Cattle Farmers At KPT Maju Sejahtera Tanjung Sari Sub-District of South Lampung Regency Fahriza Anjaya Jazim*. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani Program Studi Magister Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung Jl. Soemantri Brojonegoro No. Kota Bandar Lampung. Provinsi Lampung *Email: rezaabizafran@gmail. (Diterima 14-04-2025. Disetujui 04-07-2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola, mekanisme, hak dan kewajiban serta evaluasi kemitraan yang dilaksanakan oleh KPT Maju Sejahtera, menganalisis pendapatan peternak sapi mitra dan nonmitra, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak dalam bermitra. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja . dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu sentra populasi atau kawasan sapi potong di Provinsi Lampung dan KPT Maju Sejahtera telah melakukan program kemitraan sejak tahun 2017. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 66 orang yang diambil secara acak. Waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2024. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan pertama adalah analisis deskriptif kualitatif, tujuan ke dua menggunakan analisis usahatani, dan tujuan ke tiga menggunakan analisis regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kemitraan yang terjalin antara KPT Maju Sejahtera dengan IACCB adalah pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis, hasil evaluasi dari kemitraan yang terjalin antara IACCB dan KPT Maju Sejahtera menunjukkan bahwa kemitraan yang dilakukan berjalan dengan baik sesuai dengan perjanjian kerjasama yang disepakati. Rata-rata pendapatan peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari berturut-turut adalah sebesar sebesar Rp23. 363,64 per 2,82 ekor dan Rp19. 909,09 per 2,73 ekor. Pendidikan serta modal awal bakalan sapi jantan dan betina berpengaruh nyata positif, sedangkan jumlah ternak awal berpengaruh nyata negatif terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan. Kata kunci: keputusan, mitra, pendapatan, peternak, sapi potong ABSTRACT The objectives of this study are to: identify the patterns, mechanisms, rights and responsibilities, and evaluate the partnerships implemented by KPT Maju Sejahtera. analyze the income of both partner and nonpartner cattle farmers. and examine the factors influencing cattle farmers decisions to engage in The research location was chosen purposively, considering that KPT Maju Sejahtera has been implementing a partnership program since 2017 and that South Lampung District is one of the population centres or beef cattle areas in Lampung Province. About 66 participants were chosen at random to participate in the research as respondents. The months of January through February in 2024 were used for data collection. The analysis method used to answer the first purpose was descriptive qualitative analysis. farming business analysis was used to answer the second. and binary logistic regression analysis was used to answer the third. The results showed that KPT Maju Sejahtera and IACCB had formed an agribusiness operational cooperation patternship pattern. The evaluation results of the partnership esmemengaruhiished between IACCB and KPT Maju Sejahtera showed that the partnership was going well in accordance with the agreed cooperation agreement. The average income of partner and non-partner cattle farmers in Tanjung Sari District was IDR 23. 363,64 per 2,82 heads and IDR 19. 909,09 per 2,73 heads, respectively. Education level and initial capital for male and female cattle had a significantly positive effect, while the initial number of cattle had a significantly negative effect on the likelihood of farmers deciding to participate in partner with IACCB. Keywords: beef cattle, cattle farmer, decision, income, partnership Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Fahriza Anjaya Jazim. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani PENDAHULUAN Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian penting sebagai tombak perekenomian negara dari sisi pangan. Subsistem peternakan mempunyai potensi usaha dan peluang dikembangkan karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani rakyat baik usaha perseorangan atau kelompok. Salah satu jenis ternak yang mempunyai potensi besar dikembangkan yakni sapi potong. Nursan dan Septiadi, . menyatakan bahwa salah satu sumber penghasilan yang memiliki nilai ekonomi tinggi yaitu ternak sapi potong, sehingga dianggap penting keberadaannya dalam kehidupan masyarakat. Tujuan utama masyarakat dalam budidaya sapi potong yaitu penghasil daging. Daging sapi menjadi salah satu sumber pemenuhan protein hewani yang dibutuhkan masyarakat dan hingga kini masih menjadi komoditi unggulan di industri peternakan. Provinsi Lampung merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang mempunyai potensi dalam pengembangan ternak, khususnya komoditas sapi potong. Populasi sapi potong di Provinsi Lampung Tahun 2021 sebanyak 861. 988 ekor, meningkat sebesar 6,49% dari jumlah populasi di Tahun 2020 sebanyak 809. 445 ekor. Dari jumlah populasi tersebut. Provinsi Lampung menempati urutan ke-2 terbanyak di Pulau Sumatera setelah Sumatera Utara. Berdasarkan data BPS Provinsi Lampung . Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu lumbung ternak di Provinsi Lampung, peringkat ke-3 . terbanyak dengan jumlah populasi ternak sapi di tahun 2021 sebanyak 124. 089 ekor. Kabupaten Lampung Selatan, khususnya Kecamatan Tanjung Sari merupakan salah satu wilayah sentra/ kawasan pengembangan sapi yang ditetapkan berdasarkan peraturan: . Keputusan Menteri Pertanian RI No: 375/Kpts /PK. 040/6/2015 tentang Penetapan Kabupaten Lampung Selatan Sebagai Wilayah Sumber Bibit Sapi PO. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 472/Kpts/RC. 040/6/2018 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional. Peraturan Gubernur Lampung Nomor 46 Tahun 2021 tentang Pengembangan Kawasan Peternakan. Usaha peternakan sapi potong terbagi menjadi usaha pembibitan dan penggemukan yang sebagian besar pengelolaan di masyarakat masih dipelihara dengan cara tradisional, menjadi usaha sampingan, manajemen pemeliharaan sederhana, skala kepemilikan antara 1 Ae 3 ekor per rumah tangga dan sebagai tabungan oleh peternak yang dapat dijual sewaktu-waktu sesuai kebutuhan. Dengan pemeliharaan ternak yang bersifat tradisional dapat merugikan masyarakat atau peternak, karena hasil produksi yang diperoleh kurang optimal. Pertambahan bobot harian ternak sapi sangat rendah, yang berpengaruh terhadap rendahnya produksi atau produktivitas ternak. Sehingga dengan keterbatasan dalam hal permodalan, pemanfaatan teknologi dan sumber daya manusia, peternak membutuhkan peran kemitraan dalam menunjang pengembangan produksi peternakan. Menurut Harsita dan Amam . , kemitraan usaha peternakan terjalin karena lemahnya posisi tawar peternak terhadap sumber daya, karena sumber daya memiliki peran penting terhadap pengembangan usaha serta keberlanjutan usaha ternak. Adapun beberapa pola kemitraan pada peternakan sapi potong yang muncul di masyarakat diantaranya yaitu custom feeding, sewa kandang, pola bagi hasil, build operate transfer (BOT) dan kontrak harga. Implementasi kemitraan pada komoditas sapi potong masih belum optimal, terlihat banyak keluhan dari pelaku usaha yang menyangkut pola serta sistem yang dijalankan dan dirasa belum memberikan manfaat yang menguntungkan, khususnya yang menyangkut keselarasan dan keseimbangan dalam mendapatkan nilai tambah usaha. Hal ini terjadi pada kemitraan pola bagi hasil pembibitan sapi potong rakyat, dimana beban peternak terlalu berat. Peternak mengharapkan adanya perbaikan yang dapat meningkatkan keseimbangan, keberlanjutan dan keuntungan dalam kemitraan (Tawaf, 2. Koperasi Produksi Ternak (KPT) Maju Sejahtera merupakan gabungan kelompok ternak yang berlokasi di Kecamatan Tanjung Sari. Lampung Selatan. Didirikan pada Tahun 2014 dengan akte notaris nomor 37/BH/X. 1/i. 08/VI/2014, saat ini jumlah anggota sebanyak 281 orang. KPT Maju Sejahtera telah melakukan kemitraan dengan Indonesia Australia Commercial Cattle Breeding Program (IACCB). Kemitraan antara IACCB dengan KPT Maju Sejahtera tertuang dalam perjanjian kerjasama Nomor: 005/P/IACCB/IV/2017. Kesepakatan tersebut menjelaskan bahwa IACCB memberikan hibah ternak sebanyak 105 ekor, yang terdiri dari 100 ekor sapi indukan (Heife. produktif dari Australia serta sapi jantan (Bul. sebanyak 5 ekor. KPT Maju Sejahtera berkewajiban menyediakan sarana prasarana pendukung seperti kandang, lahan hijauan, pakan dan tenaga kerja. Bergabungnya peternak menjadi anggota koperasi serta menjalin kemitraan dengan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 pihak lain, diharapkan peternak dapat memperoleh berbagai manfaat bagi keberlangsungan usaha serta meningkatkan pendapatan dan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan. Meskipun kemitraan memberikan berbagai manfaat dan keuntungan, namun sebagian besar peternak anggota KPT Maju Sejahtera belum mengikuti program kemitraan. Keputusan peternak untuk bergabung dengan program kemitraan tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Faktor seperti kepercayaan terhadap mitra, persepsi risiko, akses terhadap informasi program, dan tingkat pendidikan dapat memengaruhi minat peternak untuk bermitra. Selain itu kerjasama kemitraan dilakukan karena usaha pemeliharaan sapi di Kecamatan Tanjungsari khususnya di KPT Maju Sejahtera masih dilakukan secara tradisional, berskala kecil, sebagai usaha sampingan, tabungan keluarga serta terbatasnya pemasaran. Sehingga, budidaya peternakan yang dilaksanakan belum efektif dan belum memberikan hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola, mekanisme, hak dan kewajiban serta evaluasi kemitraan yang dilaksanakan oleh KPT Maju Sejahtera, menganalisis pendapatan peternak sapi di KPT Maju Sejahtera yang tergabung dalam kemitraan dan peternak yang tidak tergabung dalam kemitraan dengan IACCB dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak dalam mengikuti kemitraan di KPT Maju Sejahtera. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di KPT Maju Sejahtera. Kecamatan Tanjung Sari. Kabupaten Lampung Selatan. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja . , dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu sentra populasi/ kawasan sapi potong di Provinsi Lampung dan KPT Maju Sejahtera telah melakukan program kemitraan sejak Tahun 2017. Adapun waktu pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan Februari Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari hasil observasi dan wawancara langsung dengan peternak responden, sementara data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait yaitu Kementerian Pertanian. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lampung Selatan. Badan Pusat Statistik, dan literatur atau penelitian sebelumnya. Metode dasar penelitian yang digunakan adalah metode survei. Menurut Sujarweni . penelitian survei yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan kepada Pada penelitian ini, jumlah sampel responden yang diambil sebanyak 66 orang. Responden peternak yang bermitra dengan IACCB sebanyak 33 orang, sedangkan responden peternak nonmitra sebanyak 33 orang. Kemudian responden yang dijadikan sampel penelitian dipilih secara acak dengan menggunakan metode acak sederhana . imple random samplin. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan observasi dan wawancara langsung kepada peternak dengan menggunakan kuesioner. Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan dari penelitian yaitu dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, analisis usahatani dan analisis regresi logistik. Analisis Pola. Mekanisme. Hak dan Kewajiban serta Evaluasi Kemitraan Untuk mengetahui pola kemitraan, mekanisme serta pelaksanaan hak dan kewajiban berdasarkan perjanjian kerjasama kemitraan . dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Perjanjian kerjasama kemitraan yang terjalin antara KPT Maju Sejahtera dengan IACCB ditelaah dan dibandingkan dengan pelaksanaan kegiatan. Menurut Mukhtar . metode penelitian kualitatif deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk menemukan pengetahuan atau teori terhadap penelitian pada satu waktu tertentu. Selanjutnya Winartha . menyatakan bahwa metode analisis deskriptif kualitatif adalah menggambarkan, menganalisis, dan meringkas berbagai situasi dan kondisi dari berbagai data yang dikumpulkan yang berupa hasil wawancara atau pengamatan tentang masalah yang diteliti atau yang terjadi di lapangan. Pelaksanaan evaluasi kemitraan dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perwakilan peternak yang melakukan kemitraan, pihak mitra serta pihak lain yang terkait. Analisis Pendapatan Peternak Sapi Mitra dan Nonmitra Pendapatan usaha ternak sapi peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari dihitung menggunakan rumus berikut (Soekartawi, 2. = TR-TC. Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Fahriza Anjaya Jazim. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani = Y. Py Ae Xi. Pxi - BTT. Keterangan: = Pendapatan usaha ternak sapi (R. TR = Total penerimaan (R. TC = Total biaya (R. = Jumlah produksi . g/eko. = Harga satuan produksi (Rp/kg/eko. = Faktor produksi . = Harga faktor produksi (Rp/satua. BTT = Biaya tetap total (R. Selanjutnya untuk melihat apakah usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari layak atau tidak untuk diusahakan dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Soekartawi, 2. R/C = TR TCA. Keterangan : R/C = Nisbah penerimaan dan biaya = Total revenue atau penerimaan total (R. = Total cost atau biaya total (R. Dengan Kriteria: R/C > 1 berarti usaha peternakan dinyatakan menguntungkan dan layak R/C < 1 berarti usaha peternakan dinyatakan belum menguntungkan R/C = 1 berarti usaha peternakan mencapai titik impas . idak untung juga tidak rug. Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Peternak dalam Mengikuti Kemitraan Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan adalah analisis regresi logistik. Analisis ini digunakan karena variabel dependen (Y) yang akan diuji berupa dummy . yang hanya mempunyai dua kriteria menggunakan nilai 0 dan 1. Hosmer dkk . menyatakan bahwa variabel tak bebas pada regresi logistik berupa variabel yang bersifat kategorik, dengan dua atau lebih kategori. Jika variabel tak bebas hanya memiliki dua kategori, maka dapat menggunakan regresi logistik biner. Dalam penelitian ini, regresi logistik biner merupakan suatu alat analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor keputusan peternak untuk bermitra di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan. Dalam penelitian ini, keputusan peternak yaitu bermitra (Y=. atau tidak bermitra (Y=. Keputusan peternak untuk bermitra dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur, pengalaman beternak, jumlah ternak, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, pendapatan usaha ternak, serta modal awal bakan sapi jantan dan betina. Model regresi logistik biner yang memengaruhi keputusan peternak untuk bermitra yaitu : Pi = F (Z. = F ( 1X1 2X2 3X3 4X4 5X5 6X6 7X7 AA Dimana untuk mencari Zi digunakan rumus : Zi = Ln A1-p A 1X1 2X2 3X3 4X4 5X5 6X6 7X7 AA Keterangan : = Peluang peternak untuk bermitra jika Xi diketahui = Peluang peternak untuk bermitra Z1 = Peluang peternak untuk bermitra Z0 = Peluang peternak untuk tidak bermitra = Konstanta i = Koefisien regresi parameter yang ditaksir . = 1 Ae . Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 = Umur . = Pengalaman beternak . = Pendidikan . = Jumlah anggota keluarga . = Jumlah ternak awal . = Pendapatan usaha ternak . upiah/tahu. = Modal awal bakalan sapi jantan dan betina . = Error atau galat HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Peternak mitra dan nonmitra didominasi oleh peternak yang berumur antara 39 sampai dengan 51 tahun dengan persentase masing-masing peternak sebesar 63,64 persen dan 66,67 persen dan masuk ke dalam kategori kelompok usia produktif berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh BPS. Peternak mitra didominasi oleh peternak yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA dengan persentase 39,39 persen sedangkan pendidikan terakhir peternak nonmitra didominasi pada jenjang SMP dengan persentase sebesar 27,27 persen. Mayoritas peternak mitra dan nonmitra memiliki tanggungan keluarga sebanyak tiga sampai 4 orang dengan persentase masing-masing peternak sebesar 72,73 persen dan 78,79 persen. Peternak mitra dan nonmitra memiliki pengalaman beternak antara 5 sampai dengan 14 tahun dengan persentase masing-masing peternak berturutturut sebesar 42,42 persen dan 66,67 persen. Peternak mitra dan nonmitra memiliki ternak sapi dengan jumlah kepemilikan sebanyak 3 sampai 4 ekor sapi dengan persentase masing-masing sebesar 54,55 persen dan 66,67 persen. Berdasarkan hasil penelitian, perkembangan populasi sapi peternak mitra dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2023 mencapai 186 ekor sapi, sementara perkembangan populasi sapi peternak nonmitra dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2023 sebanyak 144 ekor. Mayoritas peternak mitra dan nonmitra memiliki kandang dengan luasan kandang sebesar 15 m2 sampai dengan 35 m2. Secara keseluruhan pendapatan usaha ternak atas biaya tunai peternak mitra dan nonmitra berkisar dari Rp12. 000 sampai Rp47. 000 per Rata-rata peternak mitra dan nonmitra memiliki modal awal bakalan sapi jantan dan betina antara Rp21. 576,76 dan Rp18. 272,73. Kemitraan antara Peternak Sapi Potong di Kecamatan Tanjung Sari dengan IndonesiaAustralia Commercial Cattle Breeding Program (IACCB) IACCB merupakan organisasi yang dibentuk dalam rangka pelaksanaan Program Indonesia Ae Australia pembibitan sapi secara komersial yang dimulai sejak Tahun 2016, yang merupakan program dukungan dari Kemitraan Indonesia Ae Australia untuk Ketahanan Pangan di sektor sapi dan daging merah dengan tujuan mempromosikan pembibitan sapi secara komersial dan berkelanjutan di Indonesia. Kemitraan antara KPT Maju Sejahtera dengan IACCB tertuang dalam Kontrak atau Kesepakatan Nomor : 005/ P/ IACCB/IV/ 2017 tanggal 12 April 2017 tentang Perjanjian Kerjasama Pembibitan Sapi antara IACCB dan KPT Maju Sejahtera Lampung Selatan. Perjanjian tersebut. IACCB sebagai Pihak Pertama diwakili oleh Direktur Program IACCB (Richard Stanle. dan KPT Maju Sejahtera sebagai Pihak Kedua diwakili oleh Ketua Kelompok (Suhad. Isi dari perjanjian tersebut. Pihak Pertama memberikan hibah indukan sapi betina produktif sebanyak 100 ekor umur 18 Ae 24 bulan dan sapi jantan impor Australia sebanyak 5 ekor umur 24 Ae 36 bulan serta sarana pendukung. KPT Maju Sejahtera bersama dengan anggota/ peternak terpilih mengelola usaha peternakan sapi berdasarkan sebuah model pemeliharaan yang telah disepakati yang disediakan oleh Tim IACCB di bawah pengawasan dan dukungan IACCB. Pemeliharaan ternak menggunakan sistem breedlot yaitu sapi betina dan jantan produktif ditempatkan dan disatukan dalam kandang bersama. Manfaat utama yang dihasilkan dari kemitraan ini antara lain: Bagi KPT Maju Sejahtera dan Kabupaten Lampung Selatan yaitu kapasitas beternak sapi dan keberhasilan serta kemampuan meraih keuntungan dan kesejahteraan. Hal ini memberikan kesempatan peternak untuk meningkatkan produksi sapi lokal yang signifikan dengan tingkat Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Fahriza Anjaya Jazim. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani pembiakan yang lebih baik, bobot dan nilai jual yang lebih tinggi mencapai pertumbuhan ternak yang stabil dan margin profit yang berkelanjutan bagi semua anggota peternak. Bagi ternak sapi Indonesia yaitu potensi perluasan usaha peternakan melalui investasi sektor privat dalam usaha pembibitan sapi skala kecil serta meningkatnya indukan betina dan pejantan Bagi Pemerintah yaitu sebuah model praktik terbaik dari usaha pembibitan sapi skala kecil yang mentransformasi sentra peternakan rakyat (SPR) menjadi suatu badan usaha yang berkelanjutan dan hasilnya menjadi modal politik dan sosial bagi IACCB, yang hasilnya dapat direproduksi, diadaptasi dan digunakan dalam publikasi cetak atau online. Pola kemitraan yang terjalin antara KPT Maju Sejahtera dengan IACCB adalah pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardjo dkk. yang menyatakan kemitraan pola kerjasama operasional agribisnis merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan pemisahan mitra usaha yang didalamnya kelompok mitra menyediakan sarana, lahan, tenaga, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya, modal usaha, sarana dan teknologi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditas. IACCB sebagai Pihak Pertama menyediakan ternak indukan sapi betina sebanyak 100 ekor dan sapi pejantan sebanyak 5 ekor serta pendampingan atau pembinaan teknis. Sementara Pihak Kedua (KPT Maju Sejahter. menyediakan lahan, peralatan, dukungan pembiayaan dan tenaga kerja yang mendukung proses pemeliharaan. Komunikasi dan pelaporan secara berkala dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan kendala selama pemeliharaan. Meskipun pelaksanaan perjanjian kemitraan telah berakhir pada tahun 2019 namun hingga kini ternak keturunan dari indukan sapi IACCB masih dipelihara oleh peternak yang bermitra. IACCB juga masih melakukan komunikasi terkait perkembangan populasi, manajemen pemeliharaan dan kelembagaan kelompok serta mengundang KPT Maju Sejahtera sebagai narasumber berbagai acara yang diadakan oleh IACCB. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan focus group discussion (FGD) evaluasi kemitraan pada tanggal 31 Januari 2024 yang dihadiri oleh IACCB, perwakilan peternak anggota KPT Maju Sejahtera dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lampung Selatan, yang mempunyai kewajiban melakukan pendampingan dan pembinaan terkait pemeliharaan ternak. Beberapa hal hasil pertemuan evaluasi antara lain: Keberhasilan kemitraan Kemitraan yang dilakukan antara IACCB dan KPT Maju Sejahtera berjalan dengan baik sesuai dengan perjanjian kerjasama yang disepakati. Terdapat peningkatan produksi dan populasi ternak milik masyarakat, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan, bertambahnya sarana prasarana dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi peternak. Model pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak KPT Maju Sejahtera diterapkan oleh masyarakat lain di lingkungan Aspek keberlanjutan Perjanjian kemitraan telah berakhir pada Tahun 2019. IACCB tetap memberikan perhatian dan komunikasi kepada KPT Maju Sejahera. IACCB terkadang melibatkan KPT Maju Sejahtera, sebagai narasumber baik offline atau secara online . dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh IACCB. Manfaat ekonomi dan sosial Pertambahan jumlah ternak sapi yang dipelihara melalui hibah bantuan ternak maupun hasil keturunan selama pemeliharaan, memberikan dampak langsung terhadap bertambahnya aset dan peningkatan pendapatan peternak. Sementara dampak sosial yang dirasakan yaitu peningkatan keterampilan dan pengetahuan peternak, meningkatnya jejaring dan relasi, penguatan kelembagaan kelompok, serta meningkatnya posisi tawar KPT Maju Sejahtera di lingkup Pemerintah dan pihak Swasta. Tantangan dan Hambatan Faktor penyakit ternak pada sapi seperti penyakit mulut dan kuku (PMK), brucellosis, cacingan, lato-lato (LSD) dan sebagainya menjadi hambatan dan kendala dalam pemeliharaan ternak. Manajemen kesehatan yang baik, pemberian vitamin rutin, pelaksanaan vaksinasi dan program pencegahan penyakit secara teratur yang melibatkan instansi pemerintah diperlukan untuk meminimalisir munculnya penyakit. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 Keragaan Usaha Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tanjung Sari Usaha ternak sapi potong menjadi salah satu pilihan usaha sebagian besar rumah tangga di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan sebagai sumber pendapatan mereka. Kegiatan pemelihaaraan sapi potong oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari yang harus diperhatikan diantaranya adalah sanitasi kandang, pencarian pakan, pemberian pakan dan minum, penanganan penyakit dan sistem perkawinan. Sanitasi kandang merupakan proses membersihkan kandang sapi untuk mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kesehatan sapi. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembersihan kotoran, sisa makanan, dan bahan organik lainnya serta dilakukan penyemprotan disinfektan untuk membunuh patogen. Pencarian pakan hijauan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari dilakukan setiap hari pada pagi dan sore Perawatan sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari selanjutnya adalah pemberian pakan. Pakan yang diberikan untuk sapi ternak mereka tidak hanya berupa pakan hijauan tetapi juga peternak memberikan pakan tambahan seperti ampas tahu, onggok, bungkil, kulit kopi, molases dan garam kasar. Pemberian pakan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari dilakukan pada pagi, siang dan sore hari. Pemberian pakan hijauan sebanyak dua kali dalam sehari dan biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari, sementara untuk pakan tambahan diberikan sebanyak satu kali pada waktu siang hari. Pemeliharaan selanjutnya yang dilakukan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari adalah pemberian air minum. Air minum harus segera diberikan apabila tempat penampungan air sudah kosong. Pemberian air minum untuk sapi selain untuk mencegah agar sapi tidak dehidrasi, namun juga berguna untuk menjaga suhu tubuh sapi dan membantu proses pencernaan. Kebutuhan air minum untuk satu ekor sapi setiap hari sebanyak 3 sampai 6 liter air atau setara dengan 1 kilogram pakan kering. Pemeliharaan sapi potong selanjutnya terkait kesehatan dan penanganan penyakit pada ternak sapi. Upaya yang dilakukan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari untuk menjaga kesehatan ternak sapi potong mereka dengan menerapkan kandang karantina, walaupun tidak semua peternak mempunyainya. Selain itu peternak mitra dan nonmitra memberikan vaksinasi kepada ternak mereka untuk mencegah penyakit yang mampu menyerang sapi. Pemeliharaan terakhir pada usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari adalah sistem perkawinan. Terdapat dua sistem perkawinan yang diterapkan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari yaitu sistem perkawinan alami dan inseminasi buatan. Perkawinan alami dilakukan tanpa bantuan peternak, peternak hanya berperan untuk menyeleksi pejantan pemacek untuk mengawini sapi betina yang sedang birahi, dengan cara menaiki betina Sementara inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik dilakukan dengan teknik tertentu yaitu dengan memasukkan mani . perma atau seme. yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan alat khusus yang disebut insemination gun. Penggunaan Sarana dan Biaya Produksi Usaha Ternak Sapi Penggunaan sarana produksi pada kegiatan usaha ternak menjadi salah satu elemen penting yang mendukung keberhasilan operasional usaha ternak yang dijalankan. Peternak mitra maupun nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari lebih banyak membeli bakalan sapi betina. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, alasan peternak lebih banyak membeli calon indukan sapi betina dibandingkan bakalan sapi jantan karena sapi betina dapat melahirkan anak sehingga meningkatkan populasi ternak yang dimiliki. Peternak mitra mengeluarkan biaya untuk bakalan sapi pada tahun 2022 investasi sebesar Rp21. 575,76 dan peternak nonmitra mengeluarkan biaya untuk bakalan sapi sebesar Rp18. 272,73. Peternak sapi potong mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari memberikan pakan untuk sapi ternak mereka berupa pakan hijauan dan pakan tambahan . eed Pakan hijauan yang digunakan oleh peternak berupa rumput gajah, sementara pakan tambahan yang diberikan oleh peternak di Kecamatan Tanjung Sari berupa ampas tahu, onggok, bungkil, kulit kopi, molases dan garam kasar. Rata-rata total biaya pakan yang dikeluarkan oleh peternak mitra lebih tinggi dibandingkan peternak nonmitra yaitu sebesar Rp1. 484,85 per Tingginya biaya pakan yang harus dikeluarkan oleh peternak sesuai dengan informasi yang diperoleh dari Dinas Perikanan dan Peternakan Pemerintah Kabupaten Banyumas . , yang menyebutkan bahwa dalam manajemen pemeliharaan ternak sapi, pakan merupakan kebutuhan yang paling tinggi yaitu 60 sampai dengan 70 persen dari seluruh biaya produksi. Peternak mitra maupun nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari hanya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Fahriza Anjaya Jazim. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani (TKDK) dalam melaksanakan kegiatan usaha ternak yang dijalankan. Berdasarkan informasi pada saat penelitian, peternak lebih banyak mencurahkan tenaganya maupun tenaga anggota keluarganya untuk mengurangi biaya operasional karena tidak perlu membayar upah tambahan. Rata-rata penggunaan tenaga kerja terbanyak dalam kegiatan usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari yaitu pada kegiatan pencarian pakan hijauan. Peternak mitra dan nonmitra lebih banyak mencurahkan tenaga untuk mencari pakan, dengan penggunaan TKDK pada peternak mitra sebesar 113,18 HKP dan peternak nonmitra sebesar 122,73 HKP. Adapun total biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari sebesar Rp11. 133,45 per tahun dan peternak nonmitra sebesar Rp12. 362,68 per tahun. Usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari membutuhkan prasarana berupa kandang dan sarana lainnya berupa peralatan untuk mendukung kegiatan operasional sehari-hari. Biaya penyusutan peternak mitra lebih besar dibandingkan peternak nonmitra sebesar Rp945. 508,39 per Biaya penyusutan paling besar bersumber dari prasarana yang digunakan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari yaitu kandang, dengan biaya penyusutan masingmasing sebesar Rp693. 290,04 per tahun dan Rp343. 380,23 per tahun. Adapun sarana yang menyumbang biaya penyusutan terbesar pada usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tanjung Sari adalah bentor . ecak moto. dengan biaya rata-rata penyusutan sebesar Rp79. 545,45 per tahun. Rata-rata biaya vaksin yang dikeluarkan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari berturut-turut sebesar Rp68. 030,30 per tahun dan Rp50. 000,00 per tahun. Selain itu, rata-rata biaya inseminasi buatan yang dikeluarkan oleh peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari sebesar Rp146. 969,70 per tahun dan nonmitra sebesar Rp124. 242,42 per tahun. Kemudian biaya listrik yang dikeluarkan oleh peternak nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari lebih besar dibandingkan peternak mitra yaitu sebesar Rp803. 030,3018 per tahun. Selanjutnya diketahui bahwa biaya transportasi peternak mitra lebih besar dibandingkan peternak nonmitra yaitu sebesar Rp300. 000,00 per tahun. Biaya transportasi menjadi salah satu komponen biaya operasional yang paling banyak dikeluarkan oleh peternak mitra karena pada kelompok usaha ternak mitra IACCB memiliki bentor 1 unit yang digunakan secara bersama oleh kelompok. Semakin tinggi intensitas penggunaan bentor sebagai alat angkutan hewan ternak, pengangkutan pakan dan hasil ternak menyebabkan peternak mitra harus mengeluarkan biaya untuk bahan bakar lebih besar. Analisis Pendapatan Usaha Ternak Sapi Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata produksi sapi potong peternak mitra yang dijual sebanyak 3 sampai 4 ekor per tahun, sedangkan rata-rata produksi sapi potong peternak nonmitra yang dijual hanya 2 sampai 3 ekor per tahun. Harga sapi yang diterima oleh masing-masing peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung sari berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah jenis kelamin, penampilan sapi, umur, kepercayaan adat seperti bulu kipas ekor harus hitam dan teracak. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa total penerimaan yang diperoleh peternak mitra lebih tinggi dibandingkan dengan peternak non mitra dengan selisih Rp7. 030,31 per tahun. Proporsi penerimaan terbesar yang diperoleh peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari dihasilkan dari penjualan sapi jantan dewasa, hal ini disebabkan karena harga sapi jantan lebih tinggi dibandingkan sapi betina. Selain itu, dari informasi yang didapat pada saat penelitian peternak mitra lebih memilih untuk menjual sapi ternak mereka pada saat menjelang Hari Raya Idul Adha dengan rata-rata penjualan sebanyak 1 sampai 3 ekor. Selama periode ini, banyak umat Muslim yang membeli sapi jantan untuk kurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha. Kondisi dimana permintaan meningkat dan persediaan tetap atau berkurang maka menyebabkan harga sapi jantan cenderung meningkat drastis. Hal ini didukung dari data yang diperoleh dari SIMPONI-ternak Kementerian Pertanian, di mana pada bulan Mei 2023 atau satu bulan saat menjelang hari raya harga sapi per kilogram bobot hidup rata-rata sebesar Rp49. 433,00 sementara pada bulan Juni 2023 harga sapi mencapai Rp51. 916,00 per kilogram bobot hidup (Kementerian Pertanian, 2. Selanjutnya penerimaan yang diperoleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari dengan proporsi terbesar ke-dua dihasilkan dari penjualan sapi betina. Berdasarkan informasi yang didapat pada saat penelitian, baik peternak mitra dan nonmitra lebih memilih untuk menjual sapi betina yang sudah tidak produktif untuk menutupi kebutuhan peternak yang tidak terduga contohnya seperti pembayaran anak sekolah, pesta/ hajatan dan biaya untuk berobat. Selain penerimaan dari penjualan sapi, sebagian dari peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari memperoleh penerimaan dari penjualan kompos atau pupuk Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 organik yang bersumber dari kotoran sapi dan produk olahan sapi berupa abon, serundeng dan bakso sapi. Meskipun tidak memberikan kontribusi yang tinggi, namun penerimaan yang diperoleh tersebut mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari peternak. Pendapatan peternak mitra dan non mitra di Kecamatan Tanjung Sari dari kegiatan usaha ternak sapi potong dianalisis menggunakan analisis revenue of cost ratio (R/C rasi. untuk mengetahui kelayakan usaha ternak yang dijalankan. Pendapatan peternak mitra dan nonmitra dihitung dengan cara mengurangkan penerimaan dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak. Pendapatan peternak mitra dan nonmitra pada penelitian ini dihitung selama satu tahun masa produksi, dengan batasan data yang diperoleh dari Juni 2022 sampai Juni 2023. Kemudian pendapatan peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari akan dikategorikan menjadi dua kategori yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Semakin besar pendapatan yang diterima oleh peternak mitra dan nonmitra akan menyebabkan peternak semakin diuntungkan. Analisis pendapatan usaha ternak sapi potong peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa pendapatan atas biaya tunai usaha ternak sapi potong peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari adalah sebesar Rp23. 363,64 per 2,82 ekor atau sebesar Rp8. 781,43 per ekor dan pendapatan atas biaya tunai peternak nonmitra sebesar Rp19. 909,09 per 2,73 ekor atau sebesar Rp7. 336,66 per Kemudian dari hasil analisis juga diketahui bahwa pendapatan atas biaya total usaha ternak sapi potong peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari adalah sebesar Rp9. 509,68 per 2,82 ekor atau sebesar Rp3. 960,88 per ekor dan pendapatan atas biaya total peternak nonmitra sebesar Rp6. 380,46 per 2,73 ekor atau sebesar Rp2. 062,44 per ekor. Hasil ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima oleh peternak sapi mitra lebih besar dibandingkan peternak non mitra, perbedaan ini disebabkan karena peternak yang tergabung kedalam program kemitraan IACCB mendapatkan bantuan atau hibah sapi sehingga jumlah aset awal sapi lebih banyak dari peternak nonmitra. Banyaknya sapi yang dimiliki oleh peternak mitra cenderung membuat peternak mitra lebih banyak menjual sapi yang dimiliki dibandingkan peternak nonmitra sehingga hal inilah yang menyebabkan perbedaan pendapatan yang cukup signifikan. Hasil analisis nisbah penerimaan yang disajikan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata nisbah penerimaan atas biaya tunai usaha ternak sapi potong peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari berturut-turut sebesar 2,01 dan 1,98. Kemudian pada tabel juga dapat dilihat bahwa nisbah penerimaan atas biaya total peternak mitra dan nonmitra berturut-turut sebesar 1,27 dan 1,20. Nisbah penerimaan yang dihasilkan dari analisis, menunjukkan bahwa usaha ternak sapi potong yang dilakukan oleh peternak mitra dan nonmitra di Kecamatan Tanjung Sari menguntungkan dan layak untuk diusahakan karena nilai revenue of cost ratio lebih besar dari satu (R/C>. Nilai R/C rasio atas biaya tunai pada usaha ternak sapi potong peternak mitra sebesar 2,01 dan atas biaya total sebesar 1,27 artinya setiap Rp1. 000,00 biaya yang dikeluarkan oleh peternak mitra, maka peternak akan memperoleh penerimaan sebesar Rp2. 010,00 atas biaya tunai dan Rp1. 270,00 atas biaya total. Kemudian nilai R/C rasio atas biaya tunai pada usaha ternak sapi potong peternak nonmitra sebesar 1,98 dan atas biaya total sebesar 1,20 artinya setiap Rp1. 000,00 biaya yang dikeluarkan oleh peternak nonmitra, maka peternak akan memperoleh penerimaan sebesar Rp1. 980,00 atas biaya tunai dan Rp1. 200,00 atas biaya total. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Zulkarnain dkk. , yang menyimpulkan bahwa usaha ternak sapi potong peternak sapi mitra dan peternak sapi nonmitra sama-sama menguntungkan jika dilihat dari nilai R/C rasio lebih dari satu. Dengan adanya kemitraan maka peternak dapat dengan mudah memaksimalkan penggunaan sarana produksi, di mana sebelumnya peternak susah mendapat sarana produksi sehingga menjadi kendala bagi peternak untuk kelangsungan usahanya. Hasil penelitian serupa yang dilakukan oleh Martha dkk. , menyimpulkan hal sama bahwa usaha ternak sapi potong kelompok ternak limousin di Desa Astomulyo layak dan menguntungkan karena memperoleh rasio penerimaan dengan biaya tunai dan total biaya lebih dari satu (R/C>. yaitu 1,44 dan 1,41. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Usmany . juga menyimpulkan bahwa berdasarkan kriteria kelayakan dengan nilai R/C rasio sebesar 3,67 maka usaha peternakan sapi potong di Kecamatan Letti Kabupaten Maluku Barat Daya layak untuk diusahakan. Merangkum dari ke-tiga penelitian yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa usaha ternak sapi potong menguntungkan dan layak untuk diusahakan kembali. Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Fahriza Anjaya Jazim. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani Tabel 1. Analisis Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong Peternak Mitra dan Nonmitra Uraian Penerimaan Penjualan ternak Anakan . Anakan . Sapi jantan dewasa Sapi betina dewasa Kompos Produk olahan Abon Sapi Total Penerimaan Biaya Produksi Biaya Tunai . Biaya Variabel Bibit Sapi Pedet jantan Pedet betina Sapi jantan dewasa Sapi betina dewasa Pakan tambahan Ampas tahu Onggok Bungkil Kulit kopi Molases Garam Kasar Vaksin Inseminasi buatan Tenaga kerja luar keluarga Biaya listrik Biaya transportasi Biaya Tetap Pajak Bumi dan Bangunan Total Biaya Tunai Biaya Diperhitungkan . Biaya Variabel TK Dalam Keluarga Pakan Hijauan . Biaya Tetap Biaya penyusutan Total Biaya Diperhitungan Total Biaya Pendapatan atas biaya tunai Pendapatan atas biaya total R/C atas biaya Tunai R/C atas biaya Total Peternak Mitra . er 2,82 eko. Nilai (R. Peternak Mitra . er Nilai (R. Peternak Non Mitra . er 2,73 eko. Nilai (R. Peternak Non Mitra . er Nilai (R. 757,58 909,09 484,85 393,94 212,12 212,12 969,70 609,07 152,16 689,66 877,28 784,44 983,02 095,64 848,48 000,00 272,73 484,85 030,30 303,03 939,39 200,91 600,73 403,93 258,19 142,97 100,01 706,74 454,55 090,91 272,73 757,58 643,46 372,66 082,53 048,79 727,27 090,91 969,70 484,85 200,47 000,33 651,90 803,97 727,27 909,09 272,73 909,09 393,94 060,61 030,30 969,70 0,00 848,48 000,00 250,81 875,56 947,78 669,89 877,28 241,35 124,22 116,91 0,00 854,07 382,98 727,27 545,45 272,73 303,03 000,00 242,42 0,00 030,30 090,91 292,04 397,60 664,00 774,00 315,02 510,05 0,00 150,29 590,08 909,09 606,06 825,92 314,21 545,45 030,30 020,31 370,07 133,45 212,12 224,63 309,26 362,68 272,73 971,68 480,85 508,39 853,96 460,02 363,64 509,68 2,01 1,27 286,66 820,55 134,76 781,43 960,88 2,01 1,27 165,95 528,63 558,93 909,09 380,46 1,98 1,20 302,54 274,22 644,30 336,66 062,44 1,98 1,20 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Peternak untuk Bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Pada penelitian ini, faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan dianalisis dengan menggunakan regresi logistik. Variabel dependen (Y) yang akan diuji berupa dummy . yang hanya mempunyai dua kriteria menggunakan nilai 0 dan 1. Keputusan peternak yaitu melakukan kemitraan (Y=. dan tidak melakukan kemitraan (Y=. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak untuk bermitra disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Regresi Logistik Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Peternak untuk Bermitra dengan IACCB Di Kecamatan Tanjung Sri Kabupaten Lampung Selatan Variabel Koefisien Prob. Odds ratio Konstanta (C) -7,875221*** 0,0306 0,00038 Umur (X. -0,011162*** 0,8479 0,98890 Pengalaman beternak (X. 0,127031*** 0,1347 1,13545 Pendidikan (X. 0,403116*** 0,0091 1,49648 Jumlah tanggungan keluarga (X. 0,220793*** 0,5826 1,24707 Jumlah ternak awal (X. -9,391672*** 0,0005 0,00008 Pendapatan usaha ternak (X. 0,00000007*** 0,3685 1,00000 Modal awal bakalan sapi jantan dan betina (X. 0,000001*** 0,0004 1,00000 McFadden R-squared 0,353511 LR stat. 32,34466 Restr. log likelihood -45,74771 Prob. 0,000035 Log likelihood -29,57538 Keterangan : ** : tingkat kepercayaan 95% *** : tingkat kepercayaan 99% Hasil regresi pada Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai McFadeen R-squared adalah sebesar 0,353 artinya 35,3 persen variasi peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB dapat dijelaskan oleh variabel-varibel bebas yang dimasukkan ke dalam model, sedangkan sisanya sebesar 64,7 persen dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya yang tidak dimasukkan ke dalam Hasil LR statistik yang didapatkan yaitu sebesar 32,344 artinya secara bersama-sama variabel bebas yang dimasukkan ke dalam model berpengaruh nyata terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB dengan tingkat kepercayaan 99 persen. Umur Umur tidak berpengaruh nyata terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB karena tingkat kepercayaan dibawah 90 persen. Peternak muda maupun peternak tua memiliki peluang yang sama untuk melakukan kemitraan sesuai dengan pertimbangannya masingmasing guna meningkatkan dan mengembangkan usaha peternakan yang dimiliki. Soekartawi . menyatakan bahwa umur seseorang dapat memengaruhi keputusan dalam penerapan teknologi dan inovasi baru. Peternak yang lebih tua cenderung kurang responsif terhadap perubahan yang terjadi. Peternak yang berumur muda dengan keadaan fisik yang kuat biasanya lebih cepat dan lebih dinamis dalam menerima inovasi dan teknologi baru dibandingkan dengan petani yang sudah berusia lanjut. Pengalaman beternak Pengalaman beternak tidak berpengaruh nyata terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan karena tingkat kepercayaan dibawah 90 persen. Pengalaman seseorang dapat memperkirakan suatu keadaan yang telah dilaluinya, memperhitungkan untung ruginya, baik buruknya keputusan yang akan dihasilkan karena pengalaman seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga penyelesaiannya (Hasan, 2. Pendidikan Pendidikan berpengaruh nyata positif terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Nilai odd rasio pendidikan yaitu sebesar 0,403116 menunjukkan bahwa setiap peningkatan pendidikan peternak, maka peluang keputusan peternak untuk bermitra akan meningkat sebesar 0,403116 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ratarata pendidikan terakhir peternak yang bermitra lebih tinggi dibandingkan peternak non mitra. Pola Kemitraan dan Pendapatan Peternak di KPT Maju Sejahtera Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan Fahriza Anjaya Jazim. Erlina Rufaidah. Yaktiworo Indriani Berdasarkan hasil tersebut, peternak yang memiliki pendidikan terakhir yang lebih tinggi akan lebih terbuka pemikirannya untuk melakukan suatu inovasi yaitu untuk melakukan kemitraan dengan IACCB karena akan menambah pengetahuan mengenai kegiatan usaha peternakan melalui pelatihan serta mendapatkan tambahan bakalan sapi baru yang dapat meningkatkan pendapatan Jumlah tanggungan keluarga Jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB karena tingkat kepercayaan dibawah 90 persen. Banyaknya jumlah anggota keluarga tidak menjadi jaminan bagi peternak untuk bermitra. Hasil penelitian Yulistiono dan Hapsari . menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga adalah salah satu faktor yang tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan petani. Jumlah ternak awal Jumlah ternak awal berpengaruh nyata negatif terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan dengan tingkat kepercayaan 99 persen. Nilai odd rasio jumlah ternak awal yaitu sebesar 0,00008 menunjukkan bahwa setiap peningkatan pendidikan peternak, maka peluang keputusan peternak untuk bermitra akan meningkat sebesar 0,00008 kali. Program kemitraan ini dilakukan oleh IACBB sebagai pihak pertama dengan memberikan hibah indukan sapi betina produktif kepada peternak yang tergabung dalam kemitraan, sehingga dapat disimpulkan bahwa peternak yang memiliki jumlah ternak awal sedikit akan lebih tertarik untuk melakukan kemitraan karena akan mendapatkan hibah indukan sapi betina produktif yang dapat dijadikan sebagai modal tambahan untuk menghasilkan anakananakan sapi lebih banyak guna mengembangkan dan meningkatkan pendapatan usaha Pendapatan usaha ternak Pendapatan usaha ternak tidak berpengaruh nyata terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan karena tingkat kepercayaan dibawah 90 persen. Faktor yang memengaruhi kehidupan dan perilaku peternak yaitu keberhasilan produksi dan tingkat harga (Yulistiono dan Hapsari, 2. Tingkat harga dan pendapatan peternak yang tinggi akan mendorong peternak untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan usaha peternakan yang dimiliki. Modal awal bakalan sapi jantan dan betina Modal awal bakalan sapi jantan dan betina berpengaruh nyata positif terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan dengan tingkat kepercayaan dibawah 99 persen. Koefisien positif mengartikan bahwa semakin banyak modal awal bakalan sapi jantan dan betina yang dimiliki peternak, maka peluang keputusan peternak untuk bermitra akan meningkat. Nilai odd rasio modal awal bakalan sapi jantan dan betina yaitu sebesar 1,000000 menunjukkan bahwa setiap peningkatan modal awal bakalan sapi jantan dan betina, maka peluang keputusan peternak untuk bermitra akan meningkat sebesar 1,000000 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Pola kemitraan yang terjalin antara KPT Maju Sejahtera dengan IACCB adalah pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis (KOA). IACCB sebagai Pihak Pertama menyediakan ternak indukan sapi betina sebanyak 100 ekor dan sapi pejantan sebanyak 5 ekor serta pendampingan atau pembinaan teknis. Sementara Pihak Kedua (KPT Maju Sejahter. menyediakan lahan, peralatan, dukungan pembiayaan dan tenaga kerja yang mendukung proses pemeliharaan. Komunikasi dan pelaporan secara berkala dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan kendala selama pemeliharaan. Adapun hasil evaluasi dari kemitraan yang terjalin antara IACCB dan KPT Maju Sejahtera menunjukkan bahwa kemitraan yang dilakukan berjalan dengan baik sesuai dengan perjanjian kerjasama yang disepakati. Selain itu terdapat peningkatan produksi dan populasi ternak milik masyarakat, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peternak dan bertambahnya sarana Pendapatan atas biaya tunai usaha ternak sapi potong peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari adalah sebesar Rp23. 363,64 per 2,82 ekor atau sebesar Rp8. 781,43 per ekor Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2824-2837 dan pendapatan atas biaya tunai peternak nonmitra sebesar Rp19. 909,09 per 2,73 ekor atau sebesar Rp7. 336,66 per ekor. Sementara pendapatan atas biaya total usaha ternak sapi potong peternak mitra di Kecamatan Tanjung Sari adalah sebesar Rp9. 509,68 per 2,82 ekor atau sebesar Rp3. 960,88 per ekor dan pendapatan atas biaya total peternak nonmitra sebesar Rp6. 380,46 per 2,73 ekor atau sebesar Rp2. 062,44 per ekor. Pendidikan serta modal awal bakalan sapi jantan dan betina berpengaruh nyata positif, sedangkan jumlah ternak awal berpengaruh nyata negatif terhadap peluang keputusan peternak untuk bermitra dengan IACCB di Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan. Saran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan antara lain bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan, diharapkan lebih aktif mendukung, serta memberikan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan peternak mitra dan nonmitra sehingga peternak dapat mengatasi kendala yang dihadapi seperti manajemen pemeliharaan sapi potong yang baik dan aspek kesehatan ternak agar budidaya sapi lebih optimal. Bagi peneliti lain, disarankan disarankan untuk melakukan penelitian terkait perkembangan program hibah 1. 000 ekor sapi serta analisis tingkat kesejahteraan rumah tangga peternak di Kecamatan Tanjung Sari karena keterbatasan dalam penelitian ini hanya menganalisis pendapatan usaha on farm peternakan tanpa mengukur kontribusi dari pendapatan rumah tangga yang diperoleh peternak dan manfaat yang dirasakan oleh peternak. DAFTAR PUSTAKA