Journal Point Equilibrium Manajemen dan Akuntansi ISSN: 2686-1135 . Vol. 7 No. Oktober 2025, pp. Publisher: Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Barat Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketimpangan Pendapatan Ahmad Fauzan Burhan Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia email: ahmadfauzanburhan@gmail. Basri Bado Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia email: basri. bado@unm. Abdul Rajab Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia email: abdulrajab@unm. Sri Astuty Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia email: sri. astuty@unm. Irwandi Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia email: irwandi@unm. Abstract Economic development issues are unavoidable for any country, including Indonesia, particularly in the Province of South Sulawesi. One persistent challenge is income inequality. This phenomenon occurs at various levels, including disparities between urban and rural areas, across regencies/municipalities, and among regions within South Sulawesi. Such inequality reflects a gap in income distribution that must be addressed seriously to achieve more inclusive and equitable regional development. This study aims to analyze the effects of economic growth, unemployment rate, and Human Development Index (HDI) on income inequality in South Sulawesi Province during the period 2014Ae2023. The method employed is panel data regression analysis, combining cross-sectional data from Received: 6 Oktober 2025. Accepted: 11 Oktober 2025. Published: 30 Desember 2025 Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi 24 regencies/municipalities and time series data over ten years. Data processing was carried out using EViews 12. The findings reveal that economic growth and unemployment rate variables have a negative but statistically insignificant relationship with income inequality. Conversely, the Human Development Index has a statistically significant negative effect, with a p-value of 0. 0000, on income disparity in the region. Keywords: Income Inequality. Economic Growth. Unemployment Rate. Human Development Index Permasalahan dalam pembangunan ekonomi merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh suatu negara, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu isu yang masih terus menjadi tantangan adalah ketimpangan pendapatan. Fenomena ini dapat terjadi di berbagai tingkatan, baik antara wilayah perkotaan dan perdesaan, antarkabupaten/kota, maupun antarwilayah di Sulawesi Selatan. Ketimpangan ini mencerminkan adanya kesenjangan dalam distribusi pendapatan yang perlu ditangani secara serius untuk mewujudkan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap ketimpangan pendapatan di Provinsi Sulawesi Selatan selama kurun waktu 2014-2023. Metode yang digunakan adalah analisis regresi data panel, yang menggabungkan data cross-sectional dari 24 kabupaten/kota dan data time series selama sepuluh tahun. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan EViews 12. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran menunjukkan hubungan negatif namun tidak bermakna secara statistik terhadap ketimpangan pendapatan. Sebaliknya, indeks pembangunan manusia menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan sebesar 0,0000 secara statistik terhadap disparitas pendapatan di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Keywords: Ketimpangan Pendapatan. Pertumbuhan Ekonomi. Tingkat Pengangguran. Indeks Pembangunan Manusia Pendahuluan Pembangunan adalah proses peningkatan yang berkelanjutan yang dilakukan dalam sebuah masyarakat atau struktur sosial secara keseluruhan, dengan maksud untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Pembangunan ekonomi merupakan proses peningkatan pendapatan nasional yang dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi yang terus berlanjut, serta adanya perubahan dalam struktur ekonomi suatu negara (Rustan dalam Mokoginta et al. , 2. Pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai proses peningkatan pendapatan per kapita, yang Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. melibatkan perubahan dalam struktur ekonomi, peningkatan distribusi pendapatan, dan pengurangan tingkat kemiskinan. Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat, kesejahteraan bagi semua individu, dan memberikan dukungan pada pendidikan nasional. Agar dapat mencapai kesejahteraan masyarakat yang lebih baik, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang substansial dan distribusi pendapatan yang lebih adil (Wahidin et al. , 2. Isu ketimpangan pendapatan juga menjadi perhatian utama dalam pembangunan setiap negara. Ketimpangan pendapatan mencerminkan sebaran pendapatan di antara masyarakat suatu negara. Semakin tinggi ketimpangan pendapatan, semakin tidak meratanya distribusi pendapatan di antara masyarakat. Hal ini akan meningkatkan disparitas antara kelompok masyarakat dengan ekonomi relatif kuat dan mereka yang berada dalam kategori pendapatan rendah (Febriyani & Anis, 2. Negara-negara berkembang seperti Indonesia seringkali dihadapkan pada tantangan berupa kesenjangan ekonomi dan disparitas dalam distribusi pendapatan. Masalah ketimpangan pendapatan bukan hanya menjadi tantangan bagi negara berkembang, tetapi juga dialami oleh negara maju. Perbedaannya terletak pada tingkat ketimpangan yang terjadi dan tingkat kesulitan penanganannya, yang dipengaruhi oleh faktor seperti luas wilayah dan jumlah penduduk (Damanik et al. Ketidakmerataan distribusi pendapatan ini menciptakan divisi yang jelas antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan Sebagai salah satu provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dari 21 kabupaten dan 3 kota, berdasarkan data BPS Gini Ratio cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Di Sulawesi Selatan, tingkat ketimpangan pendapatan menjadi isu strategis, mengingat provinsi ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang signifikan, namun distribusi hasil pembangunan sering kali tidak merata. Wilayah perkotaan seperti Makassar menikmati akses lebih besar terhadap infrastruktur, pendidikan, dan peluang kerja yang produktif, sementara daerah pedesaan masih bergantung pada sektor pertanian dan perikanan dengan pendapatan yang relatif rendah. Selain itu, distribusi investasi yang tidak merata dan dominasi sektor informal memperburuk kesenjangan ini. Oleh karena itu, penting untuk mengawasi distribusi pendapatan karena pencapaian kesetaraan hasil Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi pembangunan menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional Indonesia. Tabel 1. Koefisien Gini Kabupaten/kota di Sulawesi Selatan Kab/Kota Kep. Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Makassar Pare Pare Palopo SulSel Indonesia Sumber. (BPS Sulawesi Selatan, 2. Data Diolah Dilihat pada tabel 1. Klasifikasi kemerataan berdasarkan Koefisien Gini (KG) di Sulawesi Selatan sejak tahun 2014 hingga tahun 2023, menunjukkan tren menurun tetapi ketimpangan pendapatan sulawesi selatan lebih tinggi dari pada ketimpangan pendapatan di indonesia, yaitu rasio gini Sulawesi Selatan berada di kisaran 0,377 hingga 0,436, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional yang bervariasi dari 0,333 hingga 0,406 selama periode yang sama. Perbedaan ini menunjukkan ketimpangan pendapatan di Sulawesi Selatan lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Ketimpangan ini memiliki pola yang berbeda antar kabupaten/kota. Kota Makassar, sebagai pusat ekonomi, mencatat Rasio Gini yang relatif stabil di kisaran 0,387 hingga 0,400, yang menggambarkan kesenjangan pendapatan yang konsisten di Kota Metropolitan ini. Beberapa daerah seperti Luwu Timur . dan Bone . juga mencatat nilai Rasio Gini yang tinggi, mengindikasikan konsentrasi pendapatan pada kelompok tertentu. Sebaliknya, daerah seperti Kepulauan Selayar . dan Bantaeng . menunjukkan tingkat ketimpangan yang lebih rendah, meskipun masih berada dalam kisaran yang signifikan. Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu daerah di Indonesia yang sangat berkomitmen untuk pembangunan di semua sektor guna meningkatkan standar hidup masyarakatnya. Pertumbuhan ekonomi di daerah ini mencerminkan jumlah pendapatan tambahan yang dihasilkan oleh aktivitas ekonomi dalam periode Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi berarti pendapatan riil yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Irfan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat sering kali disertai dengan distribusi pendapatan yang semakin tidak merata (Wahed et al. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Sulawesi Selatan (Sulse. tumbuh sebesar 4,51% pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2022 . ear-on-yea. Pertumbuhan positif Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi ini terjadi di semua kategori lapangan usaha. Sedangkan tahun 2023 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5,05 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan 5,31 persen yang dicapai pada tahun Salah satu masalah yang berpotensi menimbulkan ketimpangan pendapatan ialah pengangguran dapat mengurangi produktivitas dan pendapatan masyarakat (Simalango & Sri Setiawati, 2. Pengangguran dapat mempengaruhi ketimpangan pendapatan karena ketika sebagian besar individu dalam suatu masyarakat mengalami pengangguran, mereka cenderung memiliki pendapatan yang lebih rendah atau bahkan tidak memiliki pendapatan sama sekali. Sementara itu, sebagian kecil individu yang bekerja atau memiliki pekerjaan yang menguntungkan akan memiliki pendapatan yang lebih tinggi. Akibatnya, kesenjangan antara pendapatan individu yang bekerja dan individu yang tidak bekerja menjadi lebih besar, yang kemudian menyebabkan ketimpangan pendapatan meningkat (Farhan & Sugianto, 2. Tingkat pengangguran di suatu wilayah dinilai dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), dan angka pengangguran di sulawesi selatan masih relatif tinggi, dimana pada tahun 2023 tingkat pengangguran sulawesi selatan yaitu 4,33% sedangkan di indonesia tpt sebesar 5,32 persen. Proses menciptakan pembangunan berkualitas di suatu daerah tidak terlepas dari peran serta penduduk atau masyarakat yang berkualitas (Bhagaskara, 2. Tingkat IPM yang rendah atau tinggi mempengaruhi produktivitas penduduk semakin rendah IPM, semakin rendah produktivitas penduduknya, yang berdampak pada pendapatan. Sebaliknya, semakin tinggi IPM, semakin tinggi produktivitas penduduknya, yang mengakibatkan peningkatan pendapatan (Makipantung et al. , 2. Dilansir dari (BPS Sulawesi Selatan, 2. perkembangan indeks pembangunan manusia di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014-2023 mengalami peningkatan, yaitu dari 68,49 pada tahun 2014 menjadi 73,46 pada tahun 2023. IPM Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014 mencapai 70 poin , sehingga statusnya dari AusedangAy menjadi AutinggiAy. Ini merupakan pencapaian yang membanggakan, karena dapat dikatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Selatan telah Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Permasalahan ketimpangan pendapatan merupakan isu yang sangat penting karena tidak hanya berdampak pada bidang ekonomi, melainkan juga pada bidang sosial. Mengingat dampak yang signifikan dari ketidakmerataan pendapatan, dibutuhkan strategi khusus untuk mengatasi masalah ini yang semakin meningkat di Sulawesi Selatan. Ketimpangan yang semakin buruk di Sulawesi Selatan pada akhirnya akan memperparah ketidakmerataan pendapatan di Indonesia secara Melihat realitas saat ini ketimpangan pendapatan di Sulawesi Selatan tercermin dari Gini Ratio yang berada di kisaran 0,377Ae0,436, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 0,333Ae0,406. Ketimpangan ini juga terlihat dari perbedaan pembangunan antara wilayah perkotaan seperti Makassar, yang lebih maju, dan daerah pedesaan yang masih bergantung pada sektor pertanian dan perikanan. Tingkat pengangguran di Sulawesi Selatan pada 2023 mencapai 4,33%, turut memperburuk disparitas pendapatan. Meski Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 68,49 pada 2014 menjadi 73,46 pada 2023, distribusinya masih belum merata. Sedangkan, kondisi ideal yang diharapkan distribusi pendapatan lebih merata dapat menurunkan Gini Ratio secara signifikan mendekati angka nasional yang lebih rendah. Upaya ini mencakup pengurangan kesenjangan ekonomi antara perkotaan dan pedesaan melalui pemerataan akses pendidikan, infrastruktur, dan peluang kerja ke seluruh kabupaten/kota untuk menciptakan lapangan kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah pedesaan. Selain itu, penguatan kebijakan untuk mengurangi pengangguran, seperti pelatihan kerja, dukungan terhadap UMKM, dan program pembangunan inklusif, menjadi langkah penting. Idealnya, lingkungan investasi yang kondusif juga didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk di sektor-sektor strategis. Dari uraian tersebut diatas menggambarkan bahwa interpendensi antara tingkat pembangunan manusia yang baik dan investasi yang tepat di daerah-daerah, akan mampu menciptakan lapangan kerja yang secara langsung menggalakkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi Namun, jika distribusi tidak merata, kesenjangan pendapatan antar daerah akan tetap terjadi (Mangundap et al. , 2. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk penelitian lebih lanjut dengan topik ketimpangan pendapatan Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi yang berjudul AuAnalisis Faktok-Faktor yang Mempengaruhi Ketimpangan Pendapatan Di Sulawesi SelatanAy. Metode Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS). Data sekunder merupakan data yang diambil dari sumber yang telah tersedia dan umumnya siap untuk digunakan langsung. Pemanfaatan data sekunder mempermudah proses penelitian dengan memanfaatkan informasi yang sudah tersedia. Data sekunder biasanya dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, atau laporan-laporan seperti laporan keuangan dan laporan Data penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi serta data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, data Pertumbuhan Ekonomi (PE). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian ini menggunakan metode analisis data panel yang menggabungkan data runtut waktu . ime serie. dan data silang . ross sectio. secara bersamaan. Menurut (Widarjono, 2. data panel memiliki keunggulan dalam menyediakan jumlah data yang lebih besar serta memungkinkan penggabungan data time series dan cross section. Pengolahan data akan dilakukan dengan bantuan software EViews 12. Model persamaan estimasi yang digunakan sebagai berikut: Yit = CA CAPE1it CCTPT2it CEIPM3it A Keterangan: : Ketimpangan Pendapatan : Pertumbuhan Ekonomi TPT : Tingkat Pengangguran Terbuka IPM : Indeks Pembangunan Manusia : Konstanta CA CC CE : Koefisien Variabel Independen : Error term : Kab/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan : Waktu (Tahu. Metode Estimasi Regresi Panel adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data panel, yakni data yang mencakup Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. observasi beberapa unit individu atau wilayah selama periode waktu Hasil dan Pembahasan Deskripsi Statistik Penelitian ini memanfaatkan data sekunder berupa data panel yang mencakup periode enam tahun, yakni dari 2014 hingga 2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Table 2. Analisis Statistik Deskriptif GINI TPT IPM Mean Median Maximum 0. Minimum 0. Std. Dev. Sumber : Data diolah EViews 12 Berdasarkan Tabel diatas dapat dijelaskan hasil analisis sebagau Nilai rata-rata variabel Ketimpangan Pendapatan (Y) sebesar 0,37 dengan standar deviasi 0,02. Adapun nilai variabel ketimpangan pendapatan tertinggi sebesar 0. 48 dan nilai minimum sebesar 0. Nilai rata-rata variabel Pertumbuhan Ekonomi (X. sebesar 76 dengan standar deviasi 21710. Adapun nilai variabel Pertumbuhan Ekonomi tertinggi sebesar 140197. 9 dan nilai minimum sebesar 2503. Nilai rata-rata variabel Tingkat Pengangguran (X. dengan standar deviasi 2,53. Adapun nilai variabel ketimpangan pendapatan tertinggi sebesar 15,92 dan nilai minimum sebesar 0,43. Nilai rata-rata variabel Indeks Pembangunan Manusia (X. sebesar 69,76 dengan standar deviasi 4,02. Adapun nilai variabel Indeks Pembangunan Manusia tertinggi sebesar 83,52 dan nilai minimum sebesar 61,45. Analisis Regresi Data Panel Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi Data panel adalah jenis data yang menggabungkan elemen crosection dan time series. Terdapat tiga pendekatan utama untuk mengestimasi model regresi dengan data panel, yaitu common effect, fixed effect, dan random effect. Pemilihan model bergantung pada asumsi yang diterapkan oleh peneliti serta kesesuaian dengan persyaratan dalam pengolahan data statistik. Hasil Uji Chow Uji Chow dilakukan dengan membandingkan antara common effect model dan fixed effect model. Apabila nilai probabilitas F Ou 0,05 artinya Ho diterima, yang berarti model yang paling tepat digunakan adalah common effect model. Namun jika nilai probabilitasnya < 0,05 artinya Ho ditolak, yang berarti model yang paling tepat digunakan adalah fixed effect model. Hipotesis uji chow, sebagai berikut: H0 : Common effect H1: Fixed effect Table 3. Hasil Uji Chow Effects Test Statistic Prob. Cross-section F Cross-section Chi-square 135. Sumber: Data diolah EViews 12 Berdasarkan hasil pengujian diatas, didapatkan nilai probabilitas sebesar 0,0000 untuk cross section F, yang berarti Nilai prob 0. 05, maka model yang terpilih adalah FEM. Karena hasil Uji Chow menunjukkan hasil model yang lebih tepat untuk digunakan adalah fixed effect model. Sehingga dapat dilanjutkan dengan melakukan uji Hasil Uji Hasuman Uji ini merupakan langkah selanjutnya setelah melakukan uji chow untuk menemukan model terbaik antara fixed effect atau random effect melalui regresi dengan hipotesis, yaitu: H0 : Random Effect H1 : Fixed effect Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Test Summary Table 4. Hasil Uji Hausman Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. Prob. Cross-section random Sumber: Data diolah EViews 12 Hasil output di atas menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0. untuk cross section random, yang berarti nilainya < 0. Karena hasil tersebut menunjukkan bahwa H1 diterima, maka dapat dikatakan bahwa fixed effect model lebih tepat digunakan daripada random effect Sehingga model yang terbaik untuk pengaruh Pertumbuhan Ekonomi. Tingkat Pengangguran Terbuka, dan Indeks Pembangunan Manusia, di Sulawesi Selatan adalah fixed effect model maka tidak perlu dilakukan Uji Lagrange Multiplier. Model Terbaik (Fixed Effect Mode. Analisis regresi data panel melibatkan penggunaan regresi dengan data panel yang merupakan kombinasi antara data runtut waktu . ime serie. dan data silang . ross sectio. Dalam data time series, variabel diamati dalam periode waktu tertentu, sementara dalam data cross section, nilai variabel dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada waktu yang sama. Setelah melakukan uji chow dan uji hausman, model yang berhasil digunakan yaitu fixed effect model. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa model fixed effect memiliki koefisien regresi yang konsisten dari waktu ke waktu, sekaligus menyiratkan hubungan antar variabel maupun antar waktu memiliki kecenderungan tetap atau Table 5 Hasil Estimasi Model Fixed Effect Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. TPT IPM Effects Specification Cross-section fixed . ummy variable. Root MSE R-squared Mean Adjusted Rvar 371246 squared dependent var 0. of regression 0. Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi Akaike Sum squared resid Schwarz criterion -4. Log likelihood Hannan-Quinn F-statistic Durbin-Watson stat 1. Prob(F-statisti. Sumber: Data diolah EViews 12 Persamaan regresi: Yit = CA CAPE1it CCTP2it CEIPM3it A GINI = 0. 8404100- 0. 0005976 (PE) - 0. 0002674 (TPT) 0. 0066606(IPM) A Uji Hipotesis Uji Simultan (Uji F) Untuk mengetahui besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel tetap secara serempak maka dilakukan uji F. Apabila nilai F-hitung > F tabel atau nilai signifikansi < 0,05 maka dikatakan terdapat pengaruh. Berikut adalah hasil Uji F dalam penelitian ini: Table 6 Uji Simultan (Uji F) F-statistic Prob(F-statisti. Sumber: Data diolah EViews 12 Dari hasil analisis dengan dengan menggunakan eviews diketahui nilai Prob (F-statisti. 00000 < 0,05 yang berarti Pertumbuhan Ekonomi. Tingkat Pengangguran, dan Indek Pembangunan Manusia secara bersama-sama mempengaruhi Ketimpangan Pendapatan di Sulawesi Selatan. Uji Parsial (Uji . Uji parsial ( Uji t ) digunakan untuk menguji pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial atau Apabila masing-masing variabel bebas memiliki nilai signifikansi > 0,05, berarti tidak terdapat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Sebaliknya, jika variabel bebas memiliki nilai signifikansi < 0,05 , maka dapat dinyatakan variabel bebas memiliki pengaruh terdahap variabel terikat secara parsial atau sendiri. Berikut hasil uji parsial ( Uji T) dapat dilihat melalui tabel berikut: Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Table 7 Uji Parsial (Uji . Variable Coefficient Std. Error TPT IPM t-Statistic Prob. Sumber: Data diolah EViews 12 . Variabel Pertumbuhan Ekonomi (X. Hipotesis Nol (H. : 1 > 0 (Variabel independen secara parsial tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis Alternatif (H. : 1 < 0 (Variabel independen secara parsial memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Bedasarkan hasil olah data, nilai t-statistik untuk pertumbuhan ekonomi adalah 0. 98263 sedangkan probabilitasnya 0. 0,05 yang artinya secara statistik data pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Variabel Tingkat Pengangguran Terbuka (X. Hipotesis Nol (H. : 2 > 0 (Variabel independen secara parsial tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis Alternatif (H. : 2 < 0 (Variabel independen secara parsial memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil olah data, nilai t-statistik untuk tingkat 8416 > 0,05 yang artinya secara statistik data tingkat pengangguran terbuka tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Variabel Indeks Pembangunan Manusia (X. Hipotesis Nol (H. : 3 > 0 Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi (Variabel independen secara parsial tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis Alternatif (H. : 3 < 0 (Variabel independen secara parsial memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil olah data, nilai t-statistik untuk indeks 0000 < 0,05 yang artinya secara statistik data indeks pembangunan manusia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Dan untuk nilai koefisien sebesar 0. 00666, artinya bahwa ketika terjadi kenaikan pada indeks pembangunan manusia 1% maka akan menurunkan ketimpangan pendapatan sebesar 0. Koefisien Determinasi (R. Analisis ini membantu untuk melihat seberapa jauh variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Keputusan diambil berdasarkan nilai Adjusted R-Squared, yang berkisar antara 0 Semakin mendekati nol, variabel Pertumbuhan Ekonomi. Tingkat Pengangguran Terbuka. Indeks Pembangunan Manusia tidak mampu menjelaskan dampaknya terhadap Ketimpangan Pendapatan. Sebaliknya, jika nilai Adjusted R-Squared mendekati satu maka variabel independen dapat menjelaskan dampaknya terhadap tingkat Berikut adalah hasil Uji Koefisien Determinasi dalam penelitian ini: Table 8 Koefisien Determinasi (R. R-squared Adjusted R-squared Sumber: Data diolah EViews 12 Berdasarkan hasil regresi, diketahui bahwa nilai koefisien determinasi sebesar 0. 386 yang berarti variabel bebas telah mempengaruhi variabel terikat sebesar 38%. Sedangkan sisanya sebesar 62% dapat dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pendapatan Hasil Penelitian menunjukkan bahwa PE memiliki nilai prob 3269 > 0,05 artinya menerima H0 dan menolak H1, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap ketimpangan pendapatan, sehingga naik atau turunnya pertumbuhan ekonomi tidak mempengaruhi tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2014-2023. Hal ini diduga karena kondisi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Selatan tidak merata di setiap kabupaten ataupun kota sehingga berdampak pada pendapatan masyarakat di daerah yang pertumbuhan ekonomi rendah sehingga akan mengakibatkan ketimpangan pendapatan dengan daerah yang pertumbuhan ekonominya lebih baik. Dan Hasil temuan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan belum merata. Data tahun 2023 mencatat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 4,51%, yang mengalami pemulihan setelah dampak negatif pandemi COVID19. Namun, kota-kota yang memiliki sektor unggulan, seperti Makassar. Kabupaten Luwu Timur, dan Bone, memiliki industri yang tidak terdapat di daerah lain. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang terfokus pada sektor-sektor tertentu cenderung tidak merata dan malah memperbesar kesenjangan pendapatan. Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi sangat terkait dengan terbatasnya ketersediaan lapangan kerja, yang lebih banyak terkonsentrasi di daerah yang lebih maju, sehingga manfaat ekonomi hanya dirasakan oleh kelompok Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Simon Kuznets, yang menyatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, ketimpangan cenderung meningkat. Namun, seiring berjalannya waktu, ketimpangan akan berkurang, meskipun pada titik tertentu dapat terjadi peningkatan kembali sebelum akhirnya menurun lagi (Kuznets, 1. Pada awalnya, pertumbuhan ekonomi berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan. Namun, jika pertumbuhan tersebut berlangsung tanpa disertai pemerataan pembangunan, dampaknya terhadap pengurangan ketimpangan pendapatan menjadi kurang signifikan, meskipun ekonomi terus meningkat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Julihanza & Khoirudin, 2. dengan hasil penelitian yaitu pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Dimana pertumbuhan ekonomi pada tahap Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi awal berpotensi menurunkan ketimpangan pendapatan. Namun, jika pertumbuhan ekonomi terus berlanjut tanpa diimbangi dengan pemerataan pembangunan, peningkatan pertumbuhan tersebut tidak akan memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi ketimpangan pendapatan. Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka Terhadap Ketimpangan Pendapatan Hasil Penelitian menunjukkan bahwa TPT memiliki nilai prob 8416 > 0,05 artinya menerima H0 dan menolak H1, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap ketimpangan pendapatan di Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian sesuai dengan (Hindun et al. , 2. bahwa pengangguran tidak berpengaruh terhadap ketimpangan di Indonesia. Ini berarti bahwa berapa pun tingkat pengangguran yang ada, hal tersebut tidak akan mempengaruhi ketimpangan pendapatan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan teori ekonomi klasik, pengangguran dapat menurunkan pendapatan individu dan memperburuk kesenjangan ekonomi. Penurunan angka pengangguran akan berdampak pada berkurangnya kesenjangan pendapatan, artinya pembagian pendapatan menjadi lebih adil. Sebaliknya, jika pengangguran meningkat, semakin banyak orang yang tidak memiliki penghasilan, sehingga berpotensi menurunkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Untuk mewujudkan pemerataan pendapatan di suatu negara, perlu dibuka lapangan kerja seluas mungkin. Pemerintah harus mendorong dan memfasilitasi hal ini agar berjalan optimal, sehingga dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan pendapatan di Sulawesi Selatan mungkin lebih dipengaruhi oleh variabel struktural seperti kesenjangan pendidikan, akses terhadap modal, atau pertumbuhan sektor ekonomi tertentu yang tidak merata. Misalnya, dominasi sektor pertanian yang bersifat subsisten atau ketergantungan pada industri tertentu dapat menyebabkan distribusi pendapatan yang timpang meskipun tingkat pengangguran relatif terkendali. Temuan ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengangguran tidak selalu menjadi faktor utama ketimpangan jika terdapat mekanisme redistribusi pendapatan atau program bantuan sosial yang efektif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, tingkat pengangguran terbuka (TPT) provinsi ini pada Februari 2023 sebesar 5,82%, lebih rendah dari Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. rata-rata nasional . ,86%) dan menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya . isalnya, 6,26% pada 2. (BPS Sulawesi Selatan, 2. Namun, hal ini tidak serta-merta memperbaiki distribusi pendapatan. Ketimpangan tetap terjadi akibat faktor-faktor lain yang lebih dominan, seperti kesenjangan upah antarsektor, konsentrasi kepemilikan sumber daya ekonomi, dan ketimpangan akses terhadap peluang kerja berkualitas. Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian (Hariani, 2. yang menyatakan bahwa pada tahun 2012-2015 di Jawa Timur, pengangguran tidak mempunyai pengaruh terhadap ketimpangan pendapatan di Jawa Timur. Tingkat pengangguran di daerah tersebut relatif rendah, sehingga tidak memberikan dampak besar terhadap distribusi pendapatan. Selain itu, keberagaman struktur ekonomi di Jawa Timur, dengan banyak penduduk bergantung pada sektor informal dan pertanian sebagai mata pencaharian utama, menyebabkan pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terhadap ketimpangan pendapatan menjadi kurang terlihat. Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Ketimpangan Pendapatan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa IPM berpengaruh positif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Dengan nilai prob sebesar 0. 0000 < 0. 05 artinya menolak H0 dan menerima H1, jika IPM meningkat sebesar 1%, maka ketimpangan pendapatan akan menurun sebesar 0. 66%, dengan asumsi variabel lainnya tidak berubah. Hal ini sejalan dengan hipotesis bahwa IPM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimapangan pendapatan. Menurut teori Human Development dari (UNDP, 1. , peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan daya beli dapat menciptakan distribusi pendapatan yang lebih merata. Data penelitian menunjukkan bahwa IPM Sulawesi Selatan meningkat dari 68,49 pada tahun 2014 menjadi 73,46 pada tahun 2023, menandakan adanya kemajuan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat. Semakin tinggi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), semakin berkurang ketimpangan pendapatan, terutama karena pengaruh pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja. Pekerja yang sehat lebih produktif, sementara yang sering sakit cenderung mengalami penurunan gaji dan kinerja, terutama di sektor pekerjaan Ahmad Fauzan Burhan. Basri Bado. Abdul Rajab . Sri Astuty dan Irwandi manual seperti di Sulawesi Selatan. Selain itu, individu dengan pendidikan lebih tinggi umumnya mendapatkan pekerjaan dengan upah lebih besar, yang meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan Dengan demikian, peningkatan IPM berkontribusi pada penurunan ketimpangan pendapatan. Temuan ini memperkuat argumen bahwa pembangunan manusia yang inklusif merupakan kunci dalam mengurangi ketimpangan. Namun, efektivitas IPM dalam menekan disparitas pendapatan juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti pertumbuhan ekonomi daerah, ketersediaan lapangan kerja, dan kebijakan redistribusi pemerintah. Oleh karena itu, upaya peningkatan IPM harus diikuti dengan programprogram pendukung, seperti pelatihan keterampilan, perluasan jaminan kesehatan, dan stimulus ekonomi di sektor-sektor yang berpotensi menyerap tenaga kerja. Dengan demikian, peningkatan kualitas manusia tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Maorencia & Marwan, 2. peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) mencerminkan adanya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang berarti bahwa aspek kesehatan dan pendidikan juga mengalami perbaikan. Hal ini pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas individu, yang disebabkan oleh semakin Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Ini berarti bahwa naik atau turunnya pertumbuhan ekonomi belum tentu berdampak langsung pada distribusi pendapatan yang lebih merata. Salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di setiap daerah, sehingga hanya sebagian wilayah yang menikmati manfaat ekonomi, sedangkan daerah lain tetap tertinggal. Tingkat pengangguran terbuka juga tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor struktural seperti kesenjangan pendidikan, akses modal, dan pertumbuhan sektor ekonomi yang tidak merata, bukan semata oleh tingkat pengangguran. Meski angka pengangguran lebih rendah dari nasional dan terus menurun, ketimpangan tetap terjadi akibat disparitas upah, konsentrasi sumber daya ekonomi, dan keterbatasan akses Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. pekerjaan berkualitas. Temuan ini menegaskan perlunya kebijakan komprehensif yang fokus pada pemerataan pendidikan dan ekonomi serta program redistribusi yang efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPM memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan pendapatan. Ini berarti bahwa semakin tinggi IPM, semakin rendah tingkat ketimpangan Peningkatan IPM, khususnya dalam aspek pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan pendidikan yang lebih baik, individu cenderung mendapatkan pekerjaan dengan upah lebih tinggi, sementara kesehatan yang lebih baik meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Akibatnya, distribusi pendapatan menjadi lebih merata. Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan ekonomi yang inklusif dan tidak hanya terpusat di daerah Ini bisa dilakukan dengan mengembangkan infrastruktur dan memberikan insentif bagi industri dan usaha di daerah tertinggal agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan secara merata. Meskipun tingkat pengangguran tidak berpengaruh signifikan terhadap ketimpangan, pemerintah tetap dapat mengadakan program pelatihan kerja guna meningkatkan kompetensi masyarakat. Di samping itu, peningkatan mutu pendidikan dan dorongan untuk berwirausaha juga diperlukan agar sumber daya manusia memiliki kompetensi yang memadai serta mampu membuka lapangan pekerjaan baru Reference