Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum E-ISSN : 2809-9265 Volume 4. Nomor 3. Desember 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Pengaruh Media Sosial Terhadap Keterlibatan Politik Generasi Z dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024 Vita Cita Emia Tarigan, b. Iqbal Asnawi, c. Mustika Putra Rokan, d. Lode Wijk P. Girsang, e. Noviana Simbolon. Universitas Sumatera Utara. Universitas Samudra. Aksara Law Centre corresponding author, email: vcet@usu. https://doi. org/10. 56128/jkih. ABSTRAK ABSTRACT Penelitian ini mengkaji pengaruh media sosial terhadap keterlibatan politik Generasi Z dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Dengan pendekatan mix method . uantitatif dan kualitati. dan FGD dengan 10 peserta dari 5 universitas di Medan, ditemukan bahwa minat politik Gen Z cukup tinggi meskipun keterlibatan aktif masih perlu ditingkatkan. Media sosial berperan utama dalam membentuk pandangan politik mereka secara positif dan negatif, sehingga diperlukan ruang klarifikasi informasi dari KPU serta peningkatan literasi politik melalui kolaborasi antara KPU, lembaga pendidikan, dan media sosial. This study examines the impact of social media on the political engagement of Generation Z in the 2024 North Sumatra gubernatorial election. Employing a mixed-method approach . oth quantitative and qualitativ. and a focus group discussion (FGD) with 10 participants from 5 universities in Medan, the study found that while Generation Z exhibits relatively high political interest, their active participation still requires Social media plays a central role in shaping their political perspectives both positively and negatively. Consequently, the establishment of an information clarification platform by the KPU is deemed necessary, along with enhancing political literacy through collaboration among the KPU, educational institutions, and social media. Kata Kunci: Generasi Z. Media Sosial. Pemilihan Gubernur. Politik. Keywords: Generation Z. Governor Election. Politics. Social Media. Article History Received: December 20, 2024 --- Revised: December 27, 2024 --- Accepted: December 30, 2024 Pendahuluan Generasi Z (AuGen ZA. adalah mereka yang lahir antara tahun 1997 Ae 2012 (Lev. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, mereka yang masuk dalam kategori Gen Z dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok AopemudaAo. Gen Z merupakan generasi yang sangat akrab dengan dunia digital karena mereka telah dihadapkan dengan teknologi semenjak mereka lahir melalui penggunaan gadget seperti smartphone dan akses terhadap media sosial seperti YouTube. Snapchat. Instagram. Facebook, ataupun Twitter. Generasi ini menerima banyak informasi hampir 24 jam sehari dari media sosial, termasuk salah satunya adalah pesan politik. Media sosial menjadi salah satu sumber kekuatan besar dalam melakukan penyebaran informasi bagi ISSN 2809-9265 Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum Vol. No. Desember 2024, 99-106 Gen Z, meskipun informasi yang tersajikan belum memiliki tingkat akurasi kebenaran karena cenderung tidak dilakukan konfirmasi terhadap berita atau peristiwa yang akan disajikan (Anshori, 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . Gen Z adalah generasi dengan proporsi penduduk terbanyak berdasarkan sensus penduduk 2020, yaitu 27,94 persen dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Di Indonesia, dapat diprediksi bahwa para elit politik akan berlomba-lomba untuk Kembali berupaya mendulang suara Gen Z yang akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu tahun 2024, seperti yang telah dilakukan pada tahun 2019. Menjelang pemilihan kepala daerah di Sumatera Utara pada tahun 2024, penting untuk memahami bagaimana media sosial dapat memengaruhi minat dan keterlibatan politik Generasi Z. Berdasarkan data KPU, partisipasi pemilih muda cenderung lebih rendah, dengan hanya 40% pemilih di bawah usia 30 yang berpartisipasi dalam pemilu sebelumnya (Evita, 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa media sosial dapat meningkatkan kesadaran politik dan mendorong partisipasi, tetapi dampaknya pada Generasi Z di Sumatera Utara masih perlu diteliti lebih dalam (Putra et al. , 2. (Wirayanti & Putra, 2. (Riyanti et al. , 2. Dengan memahami bagaimana media sosial mempengaruhi keterlibatan politik mereka, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mendorong keterlibatan politik Generasi Z dalam konteks pemilihan kepala daerah Gubernur Sumatera Utara 2024, sehingga dapat memberikan rekomendasi yang bermanfaat bagi peningkatan partisipasi politik mereka di pemilihan kepala daerah Provinsi Sumatera Utara 2024. Adapun pemantik ide diskusi ini membahas mengenai bagaimana peserta melihat minat politik generasi Z, terutama menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024, bagaimana peserta melihat peran media sosial dalam membentuk pandangan politik generasi Z, terutama menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024, dan apakah perlu ruang klarifikasi informasi untuk memverifikasi . encaritahu kebenara. informasi terkait pemilihan gubernur yang disediakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umu. Metode Penelitian ini menggunakan metode gabungan . ixed method. , yang mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif bertujuan untuk mengumpulkan data numerik yang dapat dianalisis secara statistik. Kualitatif berfokus pada pemahaman mendalam tentang pengalaman dan perspektif peserta. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode Forum Group Discussion dengan manghadirkan 10 peserta. Mereka adalah Generasi-Z yang berasal dari berbabagi daerah di Sumtera Utara dan sedang menembpuh pendidikan di Kota Medan yang berasal dari universitas yang berbeda. FGD mendatangkan narasumber dari KPU Provinsi Sumatera Utara dan Influencer Generasi-Z yang giat melakukan Gerakan pendidikan dan kampanye Hasil & Pembahasan Minat Politik Generasi Z Menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024 Hasil dari kegiatan Forum Group Discussion (FGD) dan wawancara menunjukkan bahwa minat politik Generasi Z menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024 cukup beragam. Minat ini dapat dianalisis berdasarkan tiga aspek utama, yaitu kesadaran politik, keterlibatan, dan polarisasi sikap. Kesadaran Politik Kesadaran politik mengacu pada pemahaman individu dan kelompok dalam keterlibatan politik. Milbrath dalam Fatwa . menyatakan bahwa kesadaran politik adalah aspek kunci yang menentukan partisipasi seseorang dalam politik. Hasil diskusi menunjukkan bahwa banyak peserta memiliki kesadaran politik yang cukup tinggi, meskipun tidak semuanya memiliki sikap yang optimis terhadap sistem politik yang ada. Generasi Z sadar bahwa kebijakan pemerintah memiliki dampak langsung terhadap kehidupan mereka, seperti dalam sektor pendidikan, harga barang kebutuhan pokok, dan peluang pekerjaan. Namun, meskipun mereka memahami pentingnya politik, sikap skeptis tetap muncul akibat pengalaman sebelumnya yang membuat mereka ragu akan efektivitas perubahan yang dijanjikan oleh para pemimpin politik. Keterlibatan Politik Kesadaran politik yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan keterlibatan politik yang aktif. Paige . alam Fatwa, 2. menekankan bahwa kesadaran politik merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi tingkat partisipasi seseorang dalam Namun, keterlibatan ini sangat bergantung pada faktor lain, termasuk lingkungan sosial dan akses terhadap informasi yang kredibel. Sebagian besar peserta FGD mengakui bahwa mereka sudah memiliki preferensi politik tertentu. Namun, minat tersebut sering kali masih bersifat pasif, seperti hanya sekadar membaca berita tanpa melakukan riset lebih lanjut atau terlibat dalam diskusi Beberapa peserta menyebutkan bahwa ketertarikan mereka terhadap politik sering kali dipicu oleh isu-isu viral, terutama yang ramai dibahas di media sosial. Dengan kata lain, keterlibatan mereka dalam politik lebih bersifat reaktif daripada aktif, di mana partisipasi mereka cenderung meningkat saat ada topik yang sedang hangat Polarisasi Sikap Dalam era digital yang semakin berkembang, media sosial menjadi platform utama bagi Generasi Z dalam mengakses dan mendiskusikan isu-isu politik. Namun, keterlibatan mereka dalam politik tidak bersifat seragam dan dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola sikap utama, yaitu dapat dijelaskan berikut. Vita Cita Emia Tarigan, et. AuPengaruh Media Sosial Terhadap Keterlibatan Politik Gen Z AAy ISSN 2809-9265 Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum Vol. No. Desember 2024, 99-106 Sebagian dari mereka menunjukkan semangat untuk perubahan signifikan, mendukung kandidat baru yang mereka anggap mampu membawa pembaruan. Sikap ini sering kali dipengaruhi oleh paparan informasi di media sosial, yang memperkuat pandangan bahwa kepemimpinan baru dapat menawarkan solusi yang lebih baik bagi permasalahan yang mereka hadapi. Narasi perubahan yang banyak beredar di berbagai platform digital mendorong kelompok ini untuk lebih aktif dalam menyuarakan aspirasi dan mendukung kandidat yang sejalan dengan nilai serta harapan mereka. Di sisi lain, terdapat kelompok yang cenderung mendukung keberlanjutan kepemimpinan petahana. Mereka melihat bahwa program-program yang telah berjalan memiliki manfaat nyata, sehingga lebih memilih kestabilan dibandingkan perubahan yang belum teruji. Pola ini juga didukung oleh narasi yang berkembang di media sosial, di mana kelompok ini kerap menerima informasi yang menyoroti keberhasilan program pemerintahan sebelumnya dan mendorong mereka untuk mempertahankan kepemimpinan yang ada. Namun demikian, tidak sedikit pula yang bersikap apatis terhadap politik. Sikap ini sering kali berakar pada kekecewaan terhadap kepemimpinan sebelumnya, sehingga mereka meragukan efektivitas perubahan politik. Mariani Aritonang mengungkapkan bahwa meskipun Gen Z memiliki kesadaran politik yang tinggi, banyak di antara mereka yang bersikap skeptis karena pengalaman masa lalu yang mengecewakan. Media sosial, dalam hal ini, berperan sebagai ruang di mana mereka mengekspresikan kekecewaan dan skeptisisme mereka, baik melalui kritik tajam terhadap sistem politik maupun dengan memilih untuk menjauh dari diskusi politik secara keseluruhan. Ketiga pola sikap ini menunjukkan bagaimana media sosial menjadi faktor yang berpengaruh dalam membentuk keterlibatan politik Generasi Z. Platform digital tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga medan pertarungan opini yang memengaruhi cara mereka merespons dinamika politik di Sumatera Utara menjelang pemilihan gubernur. Peran Media Sosial dalam Membentuk Pandangan Politik Generasi Z. Terutama Menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024 Di era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi pilar utama dalam membentuk pandangan politik Generasi Z, khususnya menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Dengan sifatnya yang dinamis dan interaktif, platform digital tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai ruang diskusi, ekspresi, dan bahkan mobilisasi politik bagi anak muda. Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa TikTok dan Instagram menjadi media yang paling banyak digunakan oleh Generasi Z dalam mengakses informasi politik. Dalam keseharian mereka, rata-rata anak muda menghabiskan 6-7 jam per hari di media sosial, sebuah angka yang mencerminkan betapa besar pengaruhnya dalam membentuk persepsi dan opini politik mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Yani Tarigan, "Media sosial sangat memengaruhi, terutama TikTok dan Instagram. Itu yang sering kami gunakan. Fenomena ini tidak mengherankan, mengingat karakteristik Generasi Z yang lebih tertarik pada konten visual dan interaktif dibandingkan dengan teks panjang dan formal. TikTok, misalnya, memungkinkan penyebaran informasi politik melalui video singkat yang mudah dipahami dan dibagikan secara luas. Sementara itu. Instagram berfungsi sebagai ruang untuk memperkuat opini melalui infografis, postingan berita, serta diskusi di kolom komentar. Tingginya konsumsi media sosial. Generasi Z memiliki akses yang lebih cepat terhadap berbagai perspektif politik. Namun, di sisi lain, mereka juga rentan terhadap misinformasi dan polarisasi. Informasi yang bersifat viral belum tentu akurat, dan algoritma media sosial sering kali memperkuat bias dengan menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi masing-masing pengguna. Akibatnya, keterlibatan politik mereka bisa sangat dipengaruhi oleh tren, influencer, atau narasi yang dominan di dunia maya. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium yang berperan dalam membentuk pola pikir dan sikap politik anak Baik sebagai sumber informasi utama maupun sebagai ruang bagi diskusi dan perdebatan, media sosial memiliki dampak besar dalam menentukan arah keterlibatan politik Generasi Z, terutama dalam menghadapi momentum penting seperti Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Jenis Konten Media sosial telah menjadi arena utama bagi Generasi Z dalam mengakses dan berpartisipasi dalam diskusi politik. Konten yang mereka temui di platform digital sangat beragam, mulai dari berita politik yang menyajikan informasi terkini, meme yang menyindir atau mengomentari situasi politik dengan cara yang ringan dan mudah dicerna, hingga opini publik yang mencerminkan berbagai sudut pandang masyarakat. Dalam lingkungan digital yang bergerak cepat, konten viral cenderung lebih menarik perhatian dan memiliki dampak besar dalam membentuk opini politik anak muda. Media sosial memiliki dua sisi dalam memengaruhi keterlibatan politik Generasi Z. Dari sisi positif, platform ini memberikan akses cepat ke informasi terkini, meningkatkan kesadaran politik, dan membuka ruang diskusi yang memungkinkan pengguna untuk saling bertukar pendapat. Generasi Z kini lebih mudah mengikuti perkembangan politik dan memahami isu-isu yang sedang terjadi tanpa harus bergantung pada media konvensional. Di sisi lain, arus informasi yang begitu deras juga membawa tantangan tersendiri. Banyaknya konten yang bias atau bahkan hoaks membuat anak muda kerap kesulitan membedakan informasi yang valid dengan yang menyesatkan. Algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten sesuai preferensi pengguna juga dapat memperkuat bias politik, menciptakan ruang gema . cho chambe. yang membatasi eksposur mereka terhadap sudut pandang yang berbeda. Vita Cita Emia Tarigan, et. AuPengaruh Media Sosial Terhadap Keterlibatan Politik Gen Z AAy ISSN 2809-9265 Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum Vol. No. Desember 2024, 99-106 Generasi Z menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk berpartisipasi dalam politik melalui media sosial. Mereka lebih memilih untuk menunjukkan dukungan atau kritik terhadap kandidat dan kebijakan dengan membagikan konten, menyukai, atau memberikan komentar pada unggahan politik. Partisipasi digital ini menjadi bentuk keterlibatan politik yang lebih nyaman bagi mereka dibandingkan dengan turun langsung ke lapangan. Salah satu faktor yang semakin menguat dalam politik digital adalah viralitas. Popularitas di media sosial dapat meningkatkan daya tarik seorang kandidat, membuat mereka lebih dikenal oleh publik. Seperti yang diungkapkan oleh Monica Sinaga dalam diskusi kelompok, "Viral itu penting. Kalau tidak viral, calon jadi kurang dikenal. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberadaan di media sosial dan kemampuan menciptakan keterlibatan online bisa menjadi strategi penting dalam kampanye politik. Meskipun viralitas dapat meningkatkan eksposur seorang kandidat, hal itu tidak selalu menjadi faktor penentu dalam keputusan memilih. Beberapa peserta diskusi mengungkapkan bahwa mereka tetap menaruh curiga terhadap kandidat yang hanya terlihat aktif di media sosial tetapi tidak memiliki dampak nyata di dunia nyata. Iman, salah satu peserta FGD, menyoroti hal ini dengan mengatakan, "Saya lihat di media, ada calon yang terlihat bekerja, tapi kenyataannya tidak ada perubahan nyata. " Pernyataan ini mencerminkan kesadaran kritis sebagian Generasi Z terhadap fenomena pencitraan politik di media sosial, di mana popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Media sosial tidak hanya menjadi sumber informasi bagi Generasi Z, tetapi juga arena yang membentuk dinamika politik mereka. Kecepatan penyebaran informasi, kekuatan viralitas, serta tantangan dalam memilah informasi yang kredibel membuat media sosial menjadi faktor yang semakin krusial dalam menentukan keterlibatan politik anak muda, khususnya menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Kebutuhan Ruang Klarifikasi Informasi untuk Memverifikasi Berita Seputar Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024 Dalam era digital yang dipenuhi dengan arus informasi cepat, tantangan utama yang dihadapi Generasi Z adalah membedakan antara berita yang valid dan hoaks. Menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024, kebutuhan akan sumber informasi yang kredibel semakin meningkat, terutama di tengah maraknya informasi yang simpang siur di media sosial. Hampir semua peserta diskusi sepakat bahwa harus ada ruang klarifikasi informasi yang dapat diakses dengan mudah, khususnya yang disediakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umu. Banyaknya berita hoaks dan informasi yang tidak valid menimbulkan kebingungan, sehingga Generasi Z membutuhkan platform resmi yang dapat mereka andalkan untuk memverifikasi fakta terkait pemilu. Seperti yang diungkapkan oleh Yani Tarigan. AuKami butuh tempat untuk klarifikasi berita. Banyak berita yang bikin bingung,A KPU harus lebih aktif bekerja sama dengan media sosial supaya berita yang benar bisa langsung diketahui. Kalau ada aplikasi dari KPU, itu akan sangat membantu kami untuk tahu informasi yang benar. Ay Berdasarkan masukan peserta, salah satu usulan utama adalah agar KPU menyediakan portal daring atau aplikasi khusus untuk klarifikasi informasi seputar pemilu. Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi resmi, tetapi juga harus memiliki fitur interaktif seperti chatbot atau forum diskusi, sehingga memungkinkan Generasi Z untuk langsung mengajukan pertanyaan atau berdiskusi tentang isu-isu pemilu dengan sumber yang kredibel. Selain itu, kerja sama antara KPU dan platform media sosial juga dianggap penting. Dengan adanya kolaborasi ini, konten yang telah diverifikasi dapat ditandai secara resmi, membantu pengguna media sosial membedakan antara berita yang valid dan informasi yang belum terkonfirmasi. Fitur seperti label verifikasi atau pop-up peringatan dapat digunakan untuk menandai berita pemilu yang telah diperiksa kebenarannya, sehingga meminimalkan penyebaran hoaks. Keberadaan ruang klarifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan Generasi Z terhadap proses pemilu. Dengan adanya akses ke informasi yang akurat, mereka akan merasa lebih yakin dalam menentukan pilihan politiknya serta terdorong untuk lebih aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi. Kejelasan informasi bukan hanya tentang memastikan pemilih mendapatkan berita yang benar, tetapi juga tentang membangun kesadaran politik yang lebih kuat dan mencegah manipulasi informasi yang dapat merugikan proses pemilihan. Penutup Hasil dari riset ini menegaskan bahwa Generasi Z memiliki minat politik yang cukup signifikan menjelang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Namun, meskipun kesadaran politik mereka tinggi, tingkat keterlibatan aktif dalam proses politik masih perlu Media sosial terbukti menjadi faktor utama yang membentuk pandangan politik mereka, baik dalam memberikan akses cepat ke informasi maupun dalam menciptakan tantangan, seperti penyebaran informasi yang bias dan hoaks. Keberadaan ruang klarifikasi informasi yang disediakan oleh KPU menjadi kebutuhan yang mendesak. Generasi Z membutuhkan sumber terpercaya yang dapat membantu mereka memverifikasi informasi pemilu, sehingga mereka dapat membuat keputusan politik berdasarkan data yang valid. Tanpa adanya upaya yang terstruktur untuk menyediakan informasi yang akurat, risiko penyebaran misinformasi dan polarisasi politik akan semakin tinggi. Sebagai tindak lanjut dari temuan ini, beberapa rekomendasi yang dapat diusulkan Vita Cita Emia Tarigan, et. AuPengaruh Media Sosial Terhadap Keterlibatan Politik Gen Z AAy ISSN 2809-9265 Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum Vol. No. Desember 2024, 99-106 Peningkatan Literasi Politik Generasi Z KPU perlu berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dan media sosial untuk meningkatkan pemahaman politik anak muda. Program literasi digital yang mengajarkan cara membedakan berita valid dari hoaks dapat membantu Generasi Z menjadi pemilih yang lebih kritis. Pengembangan Platform Klarifikasi Informasi KPU perlu membangun portal daring atau aplikasi resmi yang berfungsi sebagai pusat klarifikasi informasi terkait pemilu. Platform ini harus mudah diakses, memiliki fitur interaktif seperti chatbot atau forum diskusi, serta bekerja sama dengan media sosial untuk menandai berita yang telah diverifikasi. Mendorong Partisipasi Politik Digital yang Lebih Aktif Dengan memahami bahwa Generasi Z lebih nyaman berpolitik melalui media sosial, kampanye politik yang ditujukan kepada mereka harus menggunakan pendekatan yang lebih interaktif, seperti diskusi daring, webinar, atau kolaborasi dengan influencer yang memiliki kredibilitas di kalangan anak muda. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa media sosial memiliki dampak besar dalam membentuk keterlibatan politik Generasi Z. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih sistematis untuk memastikan bahwa informasi yang mereka terima tidak hanya menarik dan mudah diakses, tetapi juga akurat dan dapat dipercaya. Dengan langkah-langkah yang tepat, keterlibatan politik Generasi Z dapat ditingkatkan, sehingga mereka dapat berperan lebih aktif dalam menentukan arah masa depan politik daerah mereka. Referensi