Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Doi: 10. 30868/im. P-ISSN: 2614-4018 E-ISSN: 2614-8846 MANAJEMEN STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DAN DAKWAH UNTUK GENERASI MILENIAL Hasan Basri Tanjung1 Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IUQI Bogor email: hb. tanjung@yahoo. Received: 02/06/2020. Accepted: 14/07/2020. Published: 31/07/2020 ABSTRACT Education is one comprehensive sub-system of human life which involves varieties of aspect, such as mission, vision, purpose, curriculum, teacher, student, method, strategy, facility, etc. Not only does dakwah exist in educational management, but it also consists of educational management. It means that within educational management, there is dakwah, and within dakwah, there is educational management. Moreover, it is even purposed that both are interchangable due to the similarity of concepts, methodologies, and purposes which are to humanize human beings and to guide them in the direction of Allah SWTAos way in order to achieve the eternal happiness, both in the world and in the As the method and process were introduced by Rasulullah, strategy and development for the respective education and dakwah program are necessary. This study applies library research method by using relevant sources, including Al-QurAoan. Hadits, and also contemporary books written by scholars of education and dakwah. Data are collected and analysed by applying descriptive analysis method. The research findings obtained ten strategies and dakwah ethics required for a DaAoi in the millennial era, they are that dakwah is: . not deceiving, but inviting, . not striking, but embracing, . not abandoning, but guiding, . not suffocating, but calming, . not worrying, but soothing . not depriving, but reviving . not cornering, but reconciling . not bringing others down, but raising them up . not scolding, but educating . not resenting, but loving. This research also aims to inspire DaAois and Muballighs in this dynamically developing millennial era upon the never-ending advancement of science and technology. Keywords: Strategic management, education, dakwah. ABSTRAK Pendidikan merupakan sub sistem dari sistem kehidupan manusia yang sangat komprehensif dimulai aspek misi, visi, tujuan, kurikulum, pendidik, peserta didik, metode, strategi, sarana prasarana, dan aspek lainnya. Dalam manajemen pendidikan ada kegiatan dakwah dan dalam proses dakwah ada kegiatan manajemen pendidikan. Bahkan sebagian kalangan menganggap tidak perlu lagi memisahkan atau membedakan antara keduanya, karena baik konsep, metodologi dan tujuan memiliki kesamaan yakni memanusiakan manusia dan mengajak manusia ke jalan Allah SWT untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan metode dan proses yang telah diajarkan Rasulullah, maka program pendidikan dan dakwah diperlukan strategi dan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research atau penelitian kepustakaan dari berbagai literatur yang relevan baik sumber alQurAoan dan Hadits serta buku-buku kontemporer karya ahli pendidikan dan dakwah. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan metode deskriptif analisis. Tulisan ini disimpulkan bahwa strategi dan etika dakwah yang harus dipegang teguh para DaAoi di era milenial, antara lain: . Dakwah itu mengajak bukan menjebak, . merangkul bukan memukul, . membimbing bukan membanting, . meneduhkan bukan menggerahkan, . mendamaikan bukan meresahkan, . menghidupkan bukan mematikan, . menengahkan bukan menyudutkan, . memuji bukan mencaci, . mendidik bukan menghardik, dan . Dakwah itu ramah bukan marah. Semoga tulisan ini menambah semangat dakwah para DaAoi dan Muballigh di era milenial yang terus berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata Kunci: Manajemen strategi, pendidikan, dakwah. PENDAHULUAN Perkembangan pendidikan dapat dilihat dan dirasakan dengan perkembangan teknologi yang telah terbukti membawa perubahan besar pada kehidupan di dunia, terutama di negara-negara Barat yang mengaku sebagai pelopor teknologi. Arus globalisasi tersebut, disamping berdampak positif juga membawa dampak negatif yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap cara pandang kehidupan manusia (Syamsul Rizal Mz, 2018: Maka, kehadiran Nabi Muhammad S. di muka bumi sebagai pembawa risalah islamiyah dengan penuh rahmat dan kasih sayang mengajak manusia untuk kembali ke jalan Allah S. kebobrokan moral yang luar biasa di tengah masyarakat Quraisy, terutama dalam akidah dan akhlak, telah menjadi tantangan dakwah yang sangat besar. Namun bagaimana pun juga. Nabi S. hanya sebagai pembawa risalah (DaAo. bagi seluruh manusia, buka pemberi hidayah. Allah S. menguatkan peran dakwah beliau dalam Kita Suci. AuDan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk . rahmat bagi semesta alamAy (Q. Al-Anbiya . Beliau pun menegaskan tujuan kehadirannya di muka bumi sebagai DaAoi. Muballigh dan Murabbi untuk menyempurnakan atau memperbaiki akhlak manusia. AuSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Ahma. Dalam perjalanan dakwahnya, berjalan secara simetris antara pendidikan . dan dakwah . aAowa. , sehingga seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Dalam pendidikan ada kegiatan dakwah dan dalam proses dakwah pun ada kegiatan Bahkan sebagian kalangan menganggap tidak perlu lagi memisahkan atau membedakan antara keduanya, karena baik konsep, metodologi dan tujuan memiliki kesamaan yakni memanusiakan manusia dan mengajak manusia ke jalan Allah S. Keduanya menjadi saling mengisi dan melengkapi dalam melahirkan generasi yang baik atau beradab. Secara operasional, nampaknya dakwah mendahului tarbiyah, sebab diperlukan lebih dahulu ajakan atau penyampaian pesan, barulah ditindaklanjuti dengan pendidikan atau bimbingan intensif. Jika dakwah berfungsi untuk menyampaikan ajaran Islam . dan mengajak manusia ke jalan Allah S. , maka fungsi pendidikan . adalah untuk mendidik, membimbing dan menanamkan ajaran Islam itu secara sistematis dan komprehensif, sehingga melahirkan manusia terdidik yang mampu merancang kehidupan yang baik di masa depan. Sudah banyak pakar yang menjelaskan hakikat dakwah yang sebenarnya memiliki makna yang sama dengan pendidikan Islam (Toto Tasmara, 1997: Dengan demikian, ketika penulis menggunakan salah satu kata tersebut, maka sesungguhnya telah mengandung arti kedua termonologi tersebut. Sejatinya, pendidikan dan dakwah itu merupakan proses yang bertahap, sistematis, berkelanjutan dan sungguh-sungguh dalam melakukan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Maka dalam pelaksanaannya membutuhkan konsep manajemen atau Dalam hal ini. Ade Wahidin . 9: . , mengemukakan bahwa manajemen adalah suatu aktivitas untuk mencapai suatu tujuan dengan melalui proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian. Keempat unsur ini yaitu. organizing, leading and controlling. Berdasarkan teori di atas, baik program pendidikan maupun dakwah, tidak bisa dilakukan secara mendadak, karena setiap kegiatan yang mendadak itu tidak mendidik . dan tidak menghasilkan capaian yang memuaskan. Artinya, pelaksanaan dan dakwah itu perlu didukung oleh teori-teori manajemen, karena pada umumnya mentalitas instan . epat jadi dan muda. telah merasuk dan melanda generasi muda Islam milenial, yakni menuntut hasil yang cepat jadi tanpa melalui proses yang mencukupi . Fenomena ini bukan hanya masalah bagi masyarakat sebagai MadAou, tetapi juga memengaruhi kebijakan pemerintah dalam menyajikan kurikulum pendidikan nasional. Misalnya, penguatan pendidikan karakter di sekolah yang acap kali dipandang sebagai pengajaran di kelas dengan jumlah waktu antara dua hingga empat jam pelajaran Sehingga, ketuntasan pengajaran mata pelajaran karakter . dianggap tercapai dengan selesainya pembelajaran tersebut. Artinya, pendidikan karakter anak didik hanya ditanamkan melalui mata pelajaran di ruangan kelas dengan waktu yang terbatas. Padahal, pendidikan dan dakwah itu sendiri membutuhkan proses alami dan berkesinambungan sesuai dengan tahapan dan waktu yang ditentukan, melalui keteladanan dan pembiasaan dalam keseharian. Dalam proses pendidikan dan dakwah tersebut selalu melibatkan banyak aspek dan pihak yang berkepentingan . yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Pendidikan merupakan salah satu bagian . dari sistem kehidupan manusia yang paling penting dan menentukan kemajuan hidup suatu masyarakat dimasa Pendidikan dan dakwah merupakan investasi masa depan yang sangat berharga yang membutuhkan waktu yang relatif lama dan proses yang bertahap serta berkelanjutan. Oleh karena itulah, merancang pendidikan dan dakwah harus sepenuh hati, pikiran, waktu dan tenaga serta menjadi tanggung jawab seluruh pihak, sehingga hasil yang akan dicapai lebih baik untuk melahirkan generasi terbaik . nsan adab. Fenomena sosial di tengah masyarakat terutama di kalangan generasi milenial, semakin tumbuh subur karakter instan yakni ingin cepat mendapatkan segala sesuatu secara mudah tanpa melalui proses dan perjuangan yang sulit. Padahal, pendidikan dan dakwah yang baik harus berorientasi pada proses tanpa mengabaikan hasil. Hasil atau nilai dari pembelajaran itu penting, tapi bagaimana proses pembelajaran dilakukan itu jauh lebih Karena, dalam proses pembelajaranlah akan tertanam dan tumbuhnya karakter anak didik yang kelak menghiasi kepribadiannya. Tentu saja, dalam menjalankan proses itu melelahkan, butuh waktu, tenaga, biaya dan pikiran tidak sedikit. Kemampuan bahasa dan komunikasi yang baik dalam dakwah menjadi sangat penting dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah agar mudah diterima oleh MadAou, sesuai dengan kadar dan kapasitasnya yang cepat dinamis. Berdasarkan permasalahan di atas, maka program pendidikan dan dakwah memerlukan strategi khusus sebagai upaya mencapai tujuan dan sasaran dakwah (MadAo. secara efektif dan efisien. Strategi khusus yang dimaksudkan disini bisa juga dalam bentuk strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran pada hakikatnya adalah pengetahuan atau seni mendayagunakan semua faktor kekuatan untuk mengamankan sasaran kependidikan yang hendak dicapai melalui perencanaan dan pengarahan dalam operasionalisasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan yang ada. Termasuk pula perkiraan tentang hambatan-hambatannya baik berupa fisik maupun yang bersifat non fisik . eperti mental spiritual dan moral, baik dari subjek maupun lingkungan sekita. Hambatan fisik berupa kekurangan fasilitas sarana prasarana, bahan bacaan, peraga, alat komunikasi, dan informasi. Hambatan non fisik berupa faktor mental kejiwaan, psikologis, dan latar belakang sosial (M. Hidayat Ginanjar, 2019: . Strategi sangatlah penting, mengingat kesuksesan program pendidikan dan dakwah akan sangat ditentukan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal berasal dari sistem pembelajaran yang diterapkan, faktor tenaga pengajar, metode pengajaran, materi yang diberikan, sarana dan prasarana. Faktor eksternal berasal dari lingkungan anak seperti orangtua, teman dan lingkungan sosial. Tulisan singkat ini kiranya dapat memberikan kontribusi dalam menguatkan eksistensi dakwah Islam di tengah masyarakat yang terus berkembang mengikuti zaman. Semua itu harus dikemas melalui serangkaian strategi, manajemen yang baik, bahasa dakwah yang menarik, sejuk dan damai, sehingga melahirkan generasi yang Ausantun berkata dan bijak bersamaAy di tengah keberagaman anak bangsa. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah riset kepustakaan, oleh karena itu metode yang digunakan adalah library research, yaitu bentuk pengumpulan data dan informasi dengan bahan yang ada di perpustakaan berupa kitab klasik, buku, jurnal, majalah, dan bahan pustaka lainnya. Beberapa langkah yang akan diambil oleh penulis adalah sebagai berikut: Teknik Pengumpulan Data Langkah pertama yang penulis tempuh adalah melihat kajian yang telah dilakukan tentang konsep manajemen pendidikan dan dakwah, kemudian dilanjutkan dengan menghimpun data primer berupa karya-karya ilmiah yang berhubungan dengan kajian Untuk menunjang pemahaman terhadap konsepsi manajemen pendidikan dan dakwah, penulis juga mengkaji tema-tema lain yang sejenis yang tidak termasuk sebagai sumber data primer, kemudian hasil kajian tersebut ditempatkan sebagai kerangka teoritis dalam membedah konsepsi strategi dakwah untuk kemudian dianalisa agar ditemukan pemikiran baru dan dimasukkan dalam kategori sumber data sekunder. Data yang dianalisis kemudian dikaji, mana pendapat yang relevan dengan pengembangan dan prespektif realitas . ashowwur al-waCqiA. , kemudian dikomparasikan dengan pemikiranpemikiran terdahulu yang relevan. Dari pengumpulan data seperti ini, diharapkan akan ditemukan jawaban bagi permasalahan yang menjadi objek kajian permasalahan ini. Sumber Data Secara garis besar, seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa sumber data yang bisa dijadikan sumber dan rujukan dalam penelitian ini ada dua bentuk, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer di ambil dari berbagai kitab-kitab fiqhud dakwah, baik klasik maupun kitab-kitab kaidah dakwah yang ditulis oleh ulama-ulama kontemporer secara Sedangkan data sekunder diambil dari bahan pustaka lain yang telah disebutkan sebelumnya baik berupa dokumen, majalah, artikel maupun bahan pustaka lainnya yang relevan dengan bidang kajian ini. Kajian konsepsional dilakukan oleh peneliti secara analitik dan kritis dengan mengelaborasi semua temuan data dari berbagai sumber kepustakaan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jenis Penelitian Sesuai objek dan tema kajian dalam penelitian, penelitian ini masuk dalam kategori penelitian kepustakaan . ibrary researc. , yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh dari studi pustaka atau literatur terkait, kemudian dianalisis, disintesakan dan dikaitkan relevansinya dengan kontekstualisasinya, sehingga penulis melakukan kajian dan pembahasan yang berkaitan dengan teorisasi manajemen strategi pengembangan pendidikan dan dakwah untuk generasi milenial. Penelitian ini juga berusaha untuk mencari sumber data sekunder yang mendukung penelitian, serta untuk mengetahui sampai kemana masalah yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang, sampai ke mana terdapat kesimpulan dan degeneralisasi yang telah pernah dibuat, sehingga situasi yang diperlukan dapat diperoleh (Moh. Nazir, 2003: . PEMBAHASAN Dakwah Tradisional Tak Tergantikan Dakwah . aAowa. secara harfiyah berarti menyeru atau mengajak. Beragam defenisi yang dikemukakan para ahli tentang batasan dakwah dalam berbagai referensi ilmu Pengertian yang secara sedehana dapat dikatakan bahwa dakwah itu suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktekkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari (Faizah, 2018: . Guru Besar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Asep Usman Ismail . 8: . , mengatakan bahwa dakwah berarti mengajak, menyeru, memanggil dan berdoAoa. Dakwah islam berarti mengajak, menyeru dan memanggil umat manusia ke dalam Islam. Kegiatan dakwah meliputi tiga kegiatan yakni tabligh . , daAowah mengajak, menyeru dan memanggil, dan irsyad . embimbing umat yang sudah menerima dakwah Islam untuk mengamalkan ajaran islam dengan baik dan benar dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Pengertian ini sangat komprehensif dan mendalam untuk memahami dakwah sebagai sebuah kegiatan yang utuh dan berkesinambungan dengan pendidikan di tengah masyarakat milenial. Sementara itu, tradisional dapat diartikan sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun (Depdikbud, 1. Segala kegiatan yang disandarkan kepada tradisional akan memberikan makna sifat dan sikap yang selalu melekat dengan nilai-nilai adat istiadat atau kebiasaan yang sudah mendarah daging di sebuah kehidupan masyarakat. Kata ini pula sering kali dimaknai dengan pola atau sikap yang genuin dari masyarakat desa yang hidup dalam kesederhanaan dengan memegang tegus prinsip kebersamaan dan kekerabatan. Beranjak dari pengertian di atas, maka dapat dipahami bahwa dakwah tradisional merupakan kegiatan dakwah Islam yang dilakukan dengan cara atau tindakan yang sudah biasa dari waktu ke waktu di tengah masyarakat tertentu. Strategi, metode dan media dakwah yang digunakan adalah tatap muka berupa ceramah atau dialog dengan para ustadz . omunikasi langsung, face to fac. yang memiliki kapasitas keilmuan mumpuni dan dihormati, baik di melalui mimbar, media massa maupun aksi sosial. Pada dasarnya, hakekatnya dakwah apa pun AuembelembelnyaAy adalah mengajak manusia ke jalan Allah dengan cara yang bijak, nasehat dan dialog yang beradab. Sebagaimana pesan Al-Quran: a an ao a A acE OI OaOEa aNA AE aEaE OI a OOE OIO aOa EO OIO a OO OEaI aEacaa N OO O O aI ua acI Oac OA Aa ua O aE Oa aOE Oa OA AE aN OO OEO aI aaOI OA a a AOIA AOOaN OO OEO aI E aINO OA AuSerulah . kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjukAy (Q. AnNahl: . Pakar Tafsir. Ibnu Katsir menjelaskan makna bil-hikmah yakni dengan berbagai larangan dan perintah yang terdapat di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, agar mereka waspada terhadap siksa Allah. Selain tiga metode tersebut, prinsip yang lebih penting bagi seorang daAoi adalah kesadaran bahwa AuDia yang mengetahui siapa yang celaka diantara mereka dan siapa yang bahagia. Serulah mereka ke jalan Allah TaAoala, janganlah kamu bersedih lantara mereka, sebab menunjukkan mereka bukanlah tugasmu. Sesungguhnya tugasmu hanyalah memberi peringatan dan penyampai risalah, dan Kamilah yang menilainyaAy (Muhammad Nasib Ar-Rifai, 1999: 1. Dalam perspektif Psikologi Dakwah, ayat tersebut mengandung tiga prinsip bagi pelaksanaan dakwah yakni: Pertama, kebijakan yang baik yaitu kebijaksanaan yang siambil atas pertimbangan yang matang berlandaskan pada informasi tentang hakikat kehidupan psikologis manusia sebagai objek dakwah. Kedua, perilaku yang dinyatakan dalam bentuk penasehatan atau ajakan serta keterangan-keterangan yang disampaikan dengan metode yang cukup baik dilihat dari segi kedayagunaan psikologis manusia. Ketiga, sistem penyampaian secara tatap muka . ace to fac. antar pribadi atau kelompok yang dilakukan secara tertib dan berlangsung secara konsisten atas dasar pendekatanpendekatan psikologis (Arifin, 1994: . Dakwah tradisional tersebut bukan hanya berlaku di tengah masyarakat yang memang secara kultur masih memegang nilai-nilai tradisi . ampung atau des. , tetapi juga masyarakat kota yang hidup dalam kemajuan yang berbalut teknologi komunikasi dan Beranjak dari pengalaman penulis yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam kegiatan dakwah di Ibu Kota Jakarta, dakwah tradisonal tetap eksis dan diminati di tengah masyarakat megapolitan sekali pun. Kajian Islam di Mushalla. Masjid. Majlis Taklim hingga perkantoran elit yang dilakukan secara langsung . tanpa menggunakan media komunikasi digital masih tetap diminati. Sebab, persoalannya tidak selalu bergantung pada media teknologi, tetapi pada figur daAoi yang mumpuni dan disukai. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus menerus terjadi sepanjang masa dan peradaban umat manusia. Setiap zaman ada kemajuan yang dicapai dan menjadi sesuatu yang baru atau modern pada masanya. Lalu, seiering pergantian waktu, akan muncul kembali penemuan baru, lalu yang lama disebut tradisonal dan yang baru kembali disebut modern. Hingga sepuluh tahun terakhir, teknologi kominikasi semakin canggih dengan menggunakan sinyal . , dan dikalim sebaik media komunikasi digital yang modern dan canggih. Kedepan, kita tidak tahu akan seperti apa lagi kemajuam yang akan dicapai oleh manusia, hingga akan terjadi pencapaian yang belum pernah diprediksi. Kemajuan industri 4. 0 yang berpaku pada kemajuan teknologi digital yang saat ini menjadi keganduran umat manusia, bukan babak akhir dari penemuan para ilmuan. Artinya, setelah generasi milinenial yang kehidupannya tak terpisahkan dengan digital, boleh jadi akan lahier lagi generasi baru yang lebih canggih atau justru kembali lagi ke tatanan hidup yang sederhana bersahabat dengan alam . Kemajuan teknologi modern tersebut sebenarnya menjadi tantangan dan peluang bagi dakwah Islam sebagai media yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih Namun, strategi, metode dan media yang terus berubah dan modern tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan tidak meninggalkan peran dakwah tradisional di tengah masyarakat. Bahkan, secanggih apapun media komunikasi yang dicapai dan dipakai, tetap saja pola dakwah tradisional yang hidup di tengah masyarakat akan tetap hidup dan dihidupkan. Artinya, teknologi tidak bisa menggantikan semua sisi dari kemanusiaan manusia sebagai makhluk kultural, sosial dan spritual. Sentuhan budaya, rasa dan ikatan emosional, kasih sayang dan kesetiaan tidak tergantikan dengan teknologi Demikian juga dengan prinsip-prinsip, nilai dan etika dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah S. tidak akan berubah walaupun zaman terus berubah. Kegiatan dakwah Nabi S. sejak di Makkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun, mengalami banyak perubahan dalam strategi, metode dan media Perubahan tersebut selalu diawali adanya tuntutan dan perubahan kondisi masyarakat (MadAo. yang dihadapi. Artinya, strategi, metode dan media dakwah akan terus berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat yang terus berubah dari waktu ke waktu. Metode dakwah dengan media yang sederhana tersebut, yakni bertatap muka secara langsung, membimbing baik personal maupun kelompok di majlis atau masjid, sampai saat ini tetap berjalan dengan baik. Model dakwah semacam ini yang sering disebut tradisional yakni mengikuti tradisi, adat atau kebiasaan yang sudah turun temurun terjadi di tengah Jika merujuk kepada dakwah Nabi S. sangat jelas dilakukan secara tradisonal dengaun ukuran pemahaman kita saat ini. Meskipun, ketika itu boleh jadi dianggap sebagai metode atau media dakwah yang paling maju dan relevan dengan kondisi masyarakatnya. Menurut Guru Besar FIDK UIN Jakarta dan Dosen Penulis. Murodi . 3: . saat kuliah dahulu tahun 1991 . ala itu masih Fakultas Dakwah IAIN Jakart. , menguatkan hal Ia mengemukakan bahwa langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad dalam berdakwah secara terbuka adalah mengundang dan menyeru kerabat dekatnya dari Bani Muthalib, lalu mengumpulkan mereka sekitar 30 orang. Lalu Beliau bersabda. AuSaya tidak melihat seorang pun dari kalangan Arab yang dapat membawa sesuatu ke tengah-twengah mereka lebih baik dari apa yang saya bawa kepada kalian. Saya bawakan kepada kalian dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan memerintahkan saya untuk mengajak kalian semua. Siapakah diantara kalian yang mau mendukung saya dalam hal ini ? Peran pendidikan dan dakwah Islam di tengah masyarakat tradisonal maupun modern seiring sejalan dalam menguatkan karakter masyarakat terutama anak-anak dalam Untuk menanamkan pendidikan Islam yang kuat diperlukan ketekunan yang luar biasa dari orang tua dan guru sebagai pionir utama dalam pendidikan anak. Seperti disebutkan di atas, bahwa prinsip dan nilai dakwah yang termasuk dalam materi dakwah yang berkaitan dengan akidah tauhid, syariah . dan akhlak karimah, akan abadi . ak beruba. , namun harus dikemas dalam bentuk yang menarik perhatian generasi yang telah berubah sikap dan pola pikirnya. Komponen DaAoi, metode, materi, media dan tujuan dakwah harus terpadu, sehingga mudah menyentuh dan mempengaruhi pikiran serta perasaan masyarakat penerima dakwah (MadAo. Kultur dakwah tradisonal masyarakat Indonesia yang sangat berorientasi pada bicara . dan mendengar bukan menulis apalgi doalog. Karenanya, sebagian besar DaAoi yang muncul ke permukaan hanya mampu ceramah atau khutbah . akwah bil lisa. , namun tidak bisa melakukan dakwah melalui tulisan . il qalam atau bil kitaba. Hal ini sangat terkait dengan budaya mendengar, bukan membaca apalagi menulis di kalangan masyarakat Islam. Padahal, budaya baca dan menulis merupakan kultur dunia islam yang sejak semula digaungkan oleh Nabi S. dengan ayat pertama surat al-Alaq ayat 1-5 yakni AuIqraAy . Sementara, generasi milenial yang akrab dengan digital, bukan hanya mendengarkan taushiyah yang berbentuk video tetapi juga membaca lewat on line atau kedua-duanya secara bersamaan. Sebenarnya, dakwah tradisonal yang dikewat media digital bukan untuk merubah prinsip, nilai atau materi dakwah, tetapi hanya mempercantik hidangan atau memperkaya menu dakwah yang sesuai dengan kebutuhan dan selera MadAou. Perubahan bukan pada konten yang prinsip . , tetapi pada aspek pemahaman atau cabang . uruAoiya. yakni media dan metode yang digunakan. Oleh karenanya, materi dakwah hanya boleh berbeda dalam aspek yang boleh diperselisihkan . , bukan pada hal mendasar atau prinsip. Namun demikian, materi dakwah yang berkaitan dengan khilafiyah . erbeedaan pendapt para ulam. harus dikemas secara bijak dan lengkap, agar tidak menimbulkan perpecahan dan keresahan di kalangan jamaah. Pada kenyataannya, materi dakwah yang berkaitan dengan Fiqh seringkali menjadi ajang perselisihan, karena DaAoi tidak mampu menyajikan dengan utuh dan berimbang. Seorang ahli pendidikan dan dakwah Islam. Khalid bin Hamid Al-Hazimy . 0: . , mengemukakan tiga karakteristik dasar orientasi yang menjadi ciri khas pendidikan dan dakwah Islam yakni penanaman, pemeliharaan dan penyembuhan, yaitu: . Inmaoii . enanaman atau penumbuha. , . Wiqaoi . erlindungan atau pemeliharaa. , dan . AoIlaajii . rientasi penyembuha. Karakteritik pendidikan dan dakwah Islam yang pertama adalah orientasi penanaman atau penumbuhan. Al-Hazimy menegaskan bahwa sesungguhnya Islam mengarahkan manusia pada tuntunan-tuntunannya agar tidak menyeleweng dari jalan yang lurus yang menyebabkan terjadinya kerusakan. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menanamkan akhlak yang mulia adalah pembersihan jiwa . azkiyah an-nufuu. Untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas mesti diawali dengan menanam, menumbuhkan dan mengembangkannya dengan cara dan media yang baik atau berkualitas yang didasari keikhlasan dan kesungguhan. Melahirkan generasi terbaik . hairul bariyya. , laksana menanam sebuah pohon lalu tumbuh dan berdiri dengan batang dahan besar lagi kokoh yang menjulang ke langit, akarnya menghunjam ke perut bumi dan berbuah banyak disepanjang musim. Itulah pohon terbaik yang dijadikan sebagai ibarat seorang Mukmin dalam Al-QurAoan (QS. 14:24-. Pohon akan tumbuh dengan baik dan subur jika dipupuk serta dijaga dari ganguan hama. Demikian juga menciptakan manusia yang beriman kepada Allah dan RasulNya, menjalankan syariat Islam dan berakhlak karimah. Menanamkan dan menumbuhkan akidah yang lurus membutuhkan kerja keras dan waktu yang lama (Hasan Basri Tanjung, 2018: . Senantiasa membersihkan diri dari segala macam dosa yang mengotorinya. Hal ini sejalan dengan ayat al-QurAoan surat Asy-Syams ayat 9-. Penjabaran lebih luas istilah kata Wiqaoi yang merupakan karakteristik kedua yaitu bahwa pendidikan Islam adalah perlindungan atau pemeliharaan yang merupakan satu kesatuan dengan penanaman atau penumbuhan. Lebih lanjut Al-Hazimy mengatakan bahwa karakteristik pendidikan QurAoani juga mengandung sisi perlindungan atau pemeliharaan terhadap anak atau objek pendidikan. Diantara orientasi perlindungan tersebut adalah Ittiqaoi Al-Syubhaat . enjaga diri dari syubha. : Ittiqaoi Al-Syahawaat . engendalian syahwat Wiqaayah al-Aqli mimma Yafsuduhu . enjaga akal dari apa-apa yang merusakny. Al-Wiqaayah bi Iqamah Al-Huduud (Penegakan Huku. Sejalan dengan pemaknaan di atas. KH. Didin Hafidhuddin . 0: . , mengatakan bahwa ayat itu sejalan dengan penjelasan dalam surat An-NisaAo ayat 135 yang mengandung tuntutan agar berlaku adil, baik kepada diri sendiri, orang tua, maupun sanak saudara dan kawan sendiri. Jika mampu menegakkan keadilan tersebut, maka akan lebih bisa menegakkan keadilan itu jika berhadapan dengan orang lain. Hal ini relevan dengan sikap Rasulullah S. yang tegas dalam penegakan hukum. Au. Sesungguhnya kehancuran generasi sebelummu adalah karena bila orang mulia dari mereka mencuri, maka mereka Bila orang rendah dari mereka mencuri, maka mereka menegakkan potong tangan Demi Zat yang diriku ada di tanganNya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannyaAy. (H. Al-Bukhar. Pakar Pendidikan dan Dakwah Islam. Abdullah Nashih AoUlwan juga mengatakan bahwa prinsip-prinsip syariat Islam memerangi rahbaniyyah . karena bertolak belakang dengan fitrah, kecenderungan, kerinduan dan naluri manusia (Muhammad Nasih AoUlwan, 1996: . Adapun karakteristik yang ketiga dari pendidikan Islam yang sangat penting setelah penanaman dan pemeliharaan adalah penyembuhan atau pengobatan (AoIlaaj. Sebagian manusia terjerumus dalam lembah kenistaan seperti zina, minum khamar, adu domba, berbohong, pencurian, kejahatan dan keburukan. Perbuatan itu terus menerus dilakukan sehingga mereka dikuasai kejahatan. Mereka adalah jiwa-jiwa hewani yang belum mencapai derajat jiwa manusia apalagi jiwa malaikat. Jika mereka menyadari, maka masih mungkin diobati. Namun, seringkali hati semakin keras tapi tidak menyadari (Alhazimy, 2000: . Karakteristik pendidikan dan dakwah Islam tersebut di atas, tidak terlepas dari ajaran Islam yang moderat atau pertengahan/tengahan . Menurut Quraish Shihab . 1: . , bahwa wasathiyah . oderasi/posisi tenga. mengundang umat Islam berinteraksi, berdialog dan terbuka dengan semua pihak, agama, budaya, peradaban karena mereka dapat menjadi saksi atau berlaku adil jika mereka tertutup atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global. Sikap ini menjadi sangat penting menghiasi para DAoai di era milenial yang sarat dengan pemahaman-pemahaman yang ekstrim, baik kiri . maupun kanan . Etika Dakwah Islam Era Milenial Seiering kemajuan zaman, maka sikap dan perilaku MadAou pun turut berubah. Periaku DaAoi dan MadAou cenderung cepat berubah dikarenakan kemjauan teknologi informasi yang Generasi milenial yang lahir setelah tahun 80 puluhan hingga 2000 an, telah menunjukkan sikaop yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jamal MaAomur Asmani misalnya, menidentifikasi beberapa sikap dan karakter buruk kaum milenial tersebut, yaitu. suka memburu trend negatif, tidak suka proses, suka menjadi konsumen, mengagungkan hedonisme dan hilangnya jiwa pejuang (Jamal Makmur Asmuni, 2011: . Keberhasilan dakwah juga sangat dipengaruhi oleh kemasan dan etika yang bagus dan menarik bagi para penerimanya. Setiap generasi memiliki pola dan rasa bahasa yang berbeda dan khas. Sehingga, diperlukan kejelian daAoi dalam mengebas bahasa dakwah, metode yang tepat dan materi yang sesuai dengan kebuthan khalayak (MadAo. Banyak pesan dakwah yang tidak sampai kepada khalayak, karena daAoi tidak mampu berkomunikasi secara efektif, tidak mampu menuangkan pesannya dalam bahasa yang benar dan baik. Dakwah yang disajikan kering, gersang dan hambar (Djamaludin Abidin AS, 1996: . Bahasa menunjukkan kualitas seorang daAoi dalam menjalankan dakwahnya. Setiap kata adalah narasi yang mengandung makna dan bisa memberikan interpretasi yang berbeda bagi setiap orang yang mendengarnya. Narasi dakwah yang menyejukkan akan menyentuh hati dan pikiran MadAou untuk melakukan tindakan yang damai dan maslahat. Namun, narasi dakwah yang keras dan menghujat juga bisa melahirkan pemikiran dan tindakan yang keras dan menghantam orang yang tidak sepaham dengannya. Sebenarnya, bibit radikalisme dalam agama seringkali muncul dari narasi dakwah yang kurang tepat yang disampaikan oleh daAoi. Dalam kegiatan dakwah wajib dipahami etika dan nilai dakwah Nabi S. , sebagai Alm. Prof. Dr. Mustafa Yakub . 7: . , yang sangat dikenal sebagai pakar Ilmu Hadits menyebutkan tujuh kode etika dakwah Nabi S. yang wajib diikuti oleh para daAoi, yaitu antara lain: . Tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan. Nabi S. tidak pernah memisahkan antara kata dan tindakan. Apa yang dia periuntahkan pasti dikerjakannya. Hal ini sesuai dengan pesan Al-Qur`an, agar orang-orang yang beriman jangan mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan (QS. Al-Saff:2-. , . Tidak melakukan tolerasi agama. Artinya, dalam soal akidah, toleransi . tidak diperkenankan. Namun dalam bisa muamalah sangatlah dianjurkan. Ketegasan dalam akidah sangat penting dijaga, agar kemurniannya tidak terkotori oleh persoalan hubungan kemanusiaan, sejalan dengan makna surat Al-Kafirun, . Tidak mencerca sesembahan MadAou. Dalam dakwah Nabi S. tidak memberi teladan dalam mencerca sesembahan orang kafir Quraish. Meskipun pada awalnya, orang-orang Muslim ketika itu sering mencerca tuhan berhala mereka. Kemudian turun teguran kepada umat Islam agar jangan mencerca tuhan mereka karena mereka pun akan melakukan hal yang sama (QS. al-AnAoam:. , . Tidak melakukan diskriminasi. Nabi S. tidak melakukan diskriminasi dakwah tetapi memposisikan mereka secara adil dan sederajat, baik kalangan elit maupun rakyat jelata. Meskipun pada awalnya Nabi S. sempat memberikan perlakuakn terhormat kepada para petinggi suku yang menemuinya, agar tidak disatukan dalam satu majlis dengan para Namun, tindakan itu ditegur Allah S. (Q. Al-AnAoam: . , . Tidak memungut imbalan. Demikianlah etika dakwah Nabi S. dan para sahabat yang tidak pernah memungut imbalan dari orang yang didakwahinya. Mereka hanya mengharap imbalan dari Allah S. (Q. As-saba`: . Meskipun kemudiam terjadi wacana dalam persoalan imbalan dalam kegiatan dakwah sesuai perkembangan dan kesulitan dakwah. Sebagian membolehkan dan sebagaian lagi mengharamkan, . Tidak mengawani pelaku Tidak patut seorang daAoi berkawan dengan pelaku maksiat dalam menjalankan Sebab, pelaku maksiat akan beranggapan bahwa perbuatan masiatnya direstui oleh daAoi. Namun, jika untuk membujuk pelaku maksiat untukbertobat, maka mendekatinya menjadi strategi dakwah yang bisa dilakukan, dan . Tidak menyampaikan hal-hal yang tidak diketahui. Tak pantas seorang DaAoi menyampaikan suatu perkara yang tidak diketahuinya. Sebab, persoalan hukum halan dan haram wajib didasarkan pada ilmu yang benar. Jika menyampaikan sesuatu yang tidak diketahuinya, maka akan terjadi pembodohan atau penyesatan yang membahayakan orang lain (Q. Al-Isra: . Etika dakwah Nabi S. tersebut di atas merupakan konsep strategi dan pantas menjadi rujukan dakwah bagi para daAoi di setiap zaman, terlebih pada era milenial yang seringkali terkapar dan terpapar oleh media digital dan mulai kurang berminat dengan dakwah tradisional. Meskipun konteks dan kondisi MadAou terus berkembang sesuai zamannya, namun nilai dan etika dakwah tetap harus dijaga dengan baik. Sebab, hanya dengan berpegang pada nilai dan etika dakwah Nabi tersebut, kegiatan dakwah di segala zaman sekarang akan memiliki kaitan dan ruh secara langsung kepada pembawa risalah dakwah tersebut. Salah satu strategi dan etika dakwah Nabi Muhammad S. yang mulai dilupakan oleh para DaAoi adalah kelembutan dalam berdakwah. Padahal, kelembutan bukan kelemahan tetapi kekuatan yang dikemas dengan kesantunan. Sikap Nabi S. ini pula yang membawa kesuksesan dalam dakwahnya. Sebagaimana Firman Allah S. Al-QurAoan mengisahkan bagaimana Nabi S. bersikap dihadapan para tokoh kaum Qurasih dahulu. aa as a A EI OCEIA AO I aA I OEaII OO O aOIaN IIA A AOUc OEaIO OA A OaEII OA IacO aI II O IOE OA AE na AO IA a AA A OEaII oa OOEO IO aEII OA AAOa OI O IeO I OI cEE EII OA AA OII aN II OO IA aa a ao AOA ca A AOO OOacE IE OEOO cEEa a acI cEEO aaOA A EI aIO OOEE I OA a IaEO II a AO O OOII OA AuMaka berkat rahmat Allah engkau (Muhamma. berlaku lemah lembut terhadap Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh. Allah mencintai orang yang bertawakalAy (Q. An-NisaAo:. Jika strategi dan etika dakwah ini diabaikan oleh para DaAoi dan malah terjebak dalam cengkeraman media sosial dan digital yang provokatif, maka kegiatan dakwah dan pendidikan akan kehilangan esensi dan tujuan yang mulia yakni mengajak manusia ke jalan Allah swt . ii sabililla. Gerakan dakwah akan lemah dan suram bahkan tergilas oleh gerakan kebatilan yang terus menerus merongrong dakwah Islam. Tentu hal ini tidak boleh terjadi di tengah umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, khususnya Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi memiliki tanggung jawab besar dalam mengembangkan dan menjalankan amanah pelanjut risalah dakwah hingga akhir KESIMPULAN Strategi dakwah dan pendidikan harus dikemas sedemikian rupa sehingga relevan dengan perkembangan zaman dan tempat dimana pelaku dakwah senantiasa hadir di tengah masyarakat yang dinamis dan majemuk. Materi dakwah secara esensial dan prinsip memang tidak akan mengalami perubahan hingga akhir zaman, yakni akidah, syariah dan Sebab. Nabi S. adalah contoh, model dan teladan yang sempurna untuk umat Namun materi dakwah terus berkembang sesuai dengan kemjuan peradaban manusia, sehingga perlu dikemas sedemikian rupa, agar menarik dan diminati MadAou pada setiap masa dan generasi. Kemasan itu penting sebagaimana petingnya penggunaan media dan bahasa dakwah yang dimengerti oleh suatu kaum. Sehingga, setiap masyarakat punya bahasa dan budayanya sendiri. Para DaAoi harus tampil sesuai dengan kondisi dan kebutuhan MadAounya, agar terjalin hubungan yang akrab dan hangat dalam Selain itu, sikap dan perilaku DaAoi sangat besar peranannya dalam mengubah pemikiran dan perasaan serta tindakan MadAounya, apalagi di tengah kultur masyarakat tradisonal yang figuristik. Tidak jarang terjadi perubahan pada diri seseorang, setelah ia menemukan seorang DaAoi atau guru yang merasuki pikirannya. Semula ia berbahsa dan bersikap santun, lalu tiba-tiba akrab dengan ungkapan kasar atau berujar penuh kebencian bahkan tindakannya membahayakan orang lain seperti membunuh dengan alasan agama . indakan teror atas nama agam. Oleh karena itu, kemasan dakwah dalam bahasa dan perilaku DaAoi, baik dalam dakwah tradisonal maupun digital menjadi sangat menentukan dalam menyebarkan dakwah sejuk, damai, toleran . dan moderat . Oleh karena itu, etika dakwah di era milinal ini menjadi sanat urgen ditanamkan kepada para DaAoi dan MadAou agar upaya menebar Islam Rahmatan LilAoalamin . slam yang mendamaikan dan menyejukka. dapat tercapai dengan baik di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, baik dari aspek agama, ras, suku, budaya, sosial, pendidikan dan seterusnya. Paling tidak, penulis merumuskan 10 strategi dan etika dakwah yang harus dipegang teguh umat Islam, terutama oleh para DaAoi di era milenial, yaitu antara lain: . Dakwah itu semestinya mengajak bukan menjebak, . Dakwah itu merangkul bukan memukul, . Dakwah itu membimbing bukan membanting, . Dakwah itu meneduhkan bukan menggerahkan, . Dakwah itu mendamaikan bukan meresahkan, . Dakwah itu menghidupkan bukan mematikan, . Dakwah itu menengahkan bukan menyudutkan, . Dakwah itu memuji bukan mencaci, . Dakwah itu mendidik bukan menghardik, dan . Dakwah itu ramah bukan marah. Sepuluh strategi dan etika dakwah tersebut memiliki makna yang mendalam dan meluas untuk diterjemahkan dalam berbagai situasi dan kondisi sosial masyarakat yang Secara prinsip, etika dakwah tersebut merupakan turunan dari etika dakwah Nabi yang sangat esensial dan mencerahkan. Oleh karena itulah, kecakapan seorang DaAoi menjadi sangat penting dalam mengaplikasikan dan menampilkan dakwah yang beretika dan berkeadaban. Dakwah Islam dengan pola tradisonal sebagai gerakan dakwah kultural masyarakat Indonesia, akan tetap memiliki tempatnya sendiri di hati umat, walaupun mereka hidup di alam modern yang serba digital. Kekuatan dakwah tradisonal terletak pada jalinan psikologis antara DaAoi dan MadAou yang begitu kuat dan hangat. Ikatan emosional yang terjalin kuat akibat adanya kontak mata dan bahasa secara langsung serta raut wajah pun ikut andil membangun kekuatan psikologis dengan MadAounya. Walaupun dinamika masyarakat terus berubah dan berkembang maju, namun metode dan media dakwah tradisional tetap berperan besar dalam gerakan dakwah merajut hubungan sosial yang kuat di tengah masyarakat. Tentu saja, pola dakwah tradisional tersebut akan semakin mudah dipahamiu dan dan digemari oleh generasi milenial ketika disajikan dengan media digital yang menarik. Strategi dakwah mesti mengikuti pola Jika tidak, ia akan ditinggalkan oleh MadAounya. Selain itu, semaju apa pun metode dan media yang digunakan, namun sosok DaAoi tetap tidak bisa digantikan, meskipun dunia maya mampu menghadirkan segala informasi, namun tidak mampu memberikan teladan dan kehangatan emosional dalam jalinan kebersamaan dalam dakwah. DAFTAR PUSTAKA