Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 136 - 142 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Strategi Membina Hubungan Antara Konselor Dengan Konseli Untuk Keberhasilan Pelayanan Konseling Desi Harlina1. Mudjiran2. Dina Sukma3 Abstrak Pelayanan konseling merupakaan suatu bantuan yang diberikan secara profesonal oleh konselor kepada konseli untuk membantu mengantaskan segala hal yang mengganggu kehidupan sehari-hari konseli. Sebelum melaksanakan kegiatan konseling, konselor harus memiliki kesiapan dalam membina hubungan dengan konseli. Membina hubungan dalam proses konseling sangat penting untuk keberhasilan dari pelayanan Artikel ini bertujuan untuk membahas mengenai strategi membina hubungan antara konselor dengan klien untuk mencapai keberhasilan dalam pelayanan konseling. Metode penulisan pada artikel ini merusuj pada study literature melalui hasil penelitian relevan maupun bahan bacaan seperti buku yang berkaitan dengan pembahasan pada artikel ini. Berdasarkan pembahasan pada artikel ini, dapat disimpulkan bahwa strategi dalam membina hubungan antara konselor dengan konseli ialah dengan persiapan dalam menerima konseli, menggunakan teknik 3M, teknik refleksi, keterbukaan, menerima konseli secara positif, dan kontak Kata Kunci: Membina Hubungan. Keberhasilan Pelayanan Konseling Abstract Counseling services are professional assistance provided by the counselor to the counselee to help overcome all things that interfere with the counselee's daily life. Before carrying out counseling activities, the counselor must be ready to develop a relationship with the counselee. Fostering relationships in the counseling process is very important for the success of counseling services. This article aims to discuss strategies for building relationships between counselors and clients to achieve success in counseling services. The writing method in this article refers to the study of literature through relevant research results and reading materials, such as books related to the discussion in this article. Based on the discussion in this article, it can be concluded that the strategy in fostering a relationship between the counselor and the counselee is by preparing to receive the counselee, using the 3M technique, reflection techniques, openness, accepting the counselee positively, and eye contact. Keywords: Building Relationships. Success of Counseling Services PENDAHULUAN Konseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara professional untuk membantu orang lain dalam mengentaskan permasalahan yang difokuskan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari konseli tersebut (Petrus, 2. Profesional dalam konseling memberikan arti bahwa praktik konseling dapat melibatkan penggunaan dari keterampilan khusus untuk mencapai tujuan konseli (Bastomi. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 136 - 142 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Dalam hal ini, konseling merupakan seni untuk mempengaruhi oranglain (Habsy, 2. Sebab dengan adanya proses konseling, konseli dapat dipengaruhi secara positif untuk memandang dan bertindak atas masalah yang didahapi dengan memberikan proses perubahan diri yang dapat berlangsung secara alami. Oleh karena itu, konselor membutuhkan seperangkat keterampilan dalam hal konseling untuk dapat mempengaruhi konseli agar konseli dapat memberikan perubahan secara optimal sesuai dengan potensinya (Hariko, 2. Keberhasilan dalam proses konseling sangat berkaitan dengan karakteristik dari konselor dan konseli itu sendiri (Putri, 2. Karakteristik yang ada pada konselor memiliki maksud bahwa konselor mempunyai pengetahuan dan ilmu dalam praktik konseling. Hal tersebut dapat meningkatkan harapan dan memberikan kehangatan positif untuk konseli. Dalam proses konseling, karakteristik konselor berkaitan dengan kualitas pribadi yang ada pada diri Konselor yang memiliki kualitas pribadi yang baik akan menampilkan sikap tulus, empati, hangat, juga dapat menunjukkan rasa kepekaan dalam membangun hubungan yang dapat dilandasi dengan sikap saling mengerti dan tidak menghakimi konseli, dapat menerima konseli tanpa syarat, menunjukkan perhatian, dukungan juga sikap kolaboratif dan menunjukkan penghargaan terhadap potensi yang konseli miliki (Herlena. Azwar & Sumarto, 2. Sehingga konselor harus menunjukkan kemampuan dalam menggunakan keterampilan yang dimiliki untuk melaksanakan proses konseling sesuai dengan tujuan yang akan dicapainya. Tujuan dari penulisan artikel ini ialah agar konselor dapat mengetahui bahwa dalam pelaksanaan proses konseling, sebagai konselor harus dapat menyiapkan strategi maupun metode yang dapat diberikan dalam membina hubungan antara konselor dan konseli itu sendiri sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam proses konselingKonseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara professional untuk membantu orang lain dalam mengentaskan permasalahan yang difokuskan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan dari konseli tersebut (Petrus, 2. Profesional dalam konseling memberikan arti bahwa praktik konseling dapat melibatkan penggunaan dari keterampilan khusus untuk mencapai tujuan konseli (Bastomi, 2. Dalam hal ini, konseling merupakan seni untuk mempengaruhi oranglain (Habsy, 2. Sebab dengan adanya proses konseling, konseli dapat dipengaruhi secara positif untuk memandang dan bertindak atas masalah yang didahapi dengan memberikan proses perubahan diri yang dapat berlangsung secara alami. Oleh karena itu, konselor membutuhkan seperangkat keterampilan dalam hal konseling untuk dapat mempengaruhi konseli agar konseli dapat memberikan perubahan secara optimal sesuai dengan potensinya (Hariko, 2. Keberhasilan dalam proses konseling sangat berkaitan dengan karakteristik dari konselor dan konseli itu sendiri (Putri, 2. Karakteristik yang ada pada konselor memiliki maksud bahwa konselor mempunyai pengetahuan dan ilmu dalam praktik konseling. Hal tersebut dapat meningkatkan harapan dan memberikan kehangatan positif untuk konseli. Dalam proses konseling, karakteristik konselor berkaitan dengan kualitas pribadi yang ada pada diri Konselor yang memiliki kualitas pribadi yang baik akan menampilkan sikap tulus, empati, hangat, juga dapat menunjukkan rasa kepekaan dalam membangun hubungan yang dapat dilandasi dengan sikap saling mengerti dan tidak menghakimi konseli, dapat menerima konseli tanpa syarat, menunjukkan perhatian, dukungan juga sikap kolaboratif dan menunjukkan penghargaan Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 136 - 142 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. terhadap potensi yang konseli miliki (Herlena. Azwar & Sumarto, 2. Sehingga konselor harus menunjukkan kemampuan dalam menggunakan keterampilan yang dimiliki untuk melaksanakan proses konseling sesuai dengan tujuan yang akan dicapainya. Tujuan dari penulisan artikel ini ialah agar konselor dapat mengetahui bahwa dalam pelaksanaan proses konseling, sebagai konselor harus dapat menyiapkan strategi maupun metode yang dapat diberikan dalam membina hubungan antara konselor dan konseli itu sendiri sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam proses konseling. KAJIAN TEORI Konsep Hubungan dalam Konseling Menurut Taufik & Karneli . hubungan antara konselor dengan konseli merupakan bagian dari proses konseling yang dapat menentukan kelancaran dan keberhasilan dalam kegiatan konseling. Hal ini dikarenakan apabila seorang konselor tidak mampu dalam menciptakan hubungan yang baik dengan konselinya maka akan sukar untuk dicapai keberhasilan dari konseling itu sendiri. Hubungan dalam konseling memiliki peran yang penting dalam membantu terlaksananya kegiatan konseling. Hubungan dalam konseling bersifat dinamis, yang artinya terus berubah baik secara verbal maupun nonverbal (Bastomi, 2. Hubungan merupakan kesadaran utama untuk konseli dan konselor dalam mengekspresikan dan memenuhi kebutuhan dalam tercapainya keberhasilan dalam konseling. Hubungan dapat menekankan pada aspek afektif, karena hubungan umumnya mendefinisikan kualitas emosional yang dapat disimpulkan dari interaksi (Petrus, 2. Strategi Membina Hubungan antara Konselor dan Konseli Taufik & Karneli . mengemukakan bahwa terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam membangun hubungan konseling, ialah sebagai Persiapan dalam menerima konseli Persiapan yang perlukan dalam menerima konseli tidak hanya mempersiapkan dari segi sarana yang ada pada ruangan konseling saja, akan tetapi harus dapat melalui usaha dalam mengajak konseli untuk dapat memanfaatkan proses pelaksanaan konseling. Konselor juga dapat memberikan informasi mengenai kesediaan konselor dalam membantu mengentaskan permasalahan dan mendorong konseli dalam menggunakan bantuan tersebut. Penerimaan konseli dengan tepat akan mempengaruhi hubungan konseling Ketika konselor melakukan penerimaan terhadap konseli, maka konseli akan merasa diterima sebagaimana adanya dan secara sukarela melaksanakan konselung dengan sungguh-sungguh Mengunakan Strategi Memperhatikan. Memahami, dan Merespon . M) Teknik 3M sebagai salah satu teknik dasar yang apa pada keseluruhan dari proses konseling itu sendiri. Kemampuan konselor dalam penggunaan teknik 3M sangat dibutuhkan. Hal ini disebabkan agar pada saat konseli sedang mengemukakan permasalahannya, konselor dapat menangkap makna dari pembicaraan konseli. Sehingga, keberhasilan dalam penggunakan teknik ini dapat menentukan keberhasilan pada teknik berikutnya. Sebab, jika tidak Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 136 - 142 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. memperhatikan dengan baik, konselor tidak bisa memahami maupun tanpa memahami, konselor juga tidak dapat memberika respon yang tepat. Konselor dalam memperhatikan dapat lebih memudahkan untuk memahami konseli. Oleh sebab itu, tanpa pemahaman yang baik akan berdampak negative pada diri konseli. Sehingga konseli akan merasa bosan, tidak semanagat dalam melaksanakan konsleing juga menurunnya kepercayaan dari konseli kepada konselor dalam menjalani proses konseling. Penerimaan positif Penerimaan positif kepada konseli akan menghasilkan perasaan diterima dan nyaman pada diri konseli. Dalam hal ini konselor harus memandang bahwa setiap individu itu berbeda satu sama lain dengan segala bentuk dan caranya, selain itu, konselor juga harus memandang bahwa setiap individu memiliki pengalaman, pemikiran, usaha, maupun perasaannya masingmasing. Keterbukaan Keterbukaan dalam proses konseling sangat dibutuhkan. Hal tersbeut dikarenakan agar konselu dapat terdorong untuk menjadi terbuka kepada Dalam hal ini, konselor dapat menyampaikan penerimaannya secara positif dengan menjelaskan bahwa ia menghargai kedatangan konseli tepat waktu sesuai perjanjian, atau kegembiraannya karena sudah dipercaya untuk membantu klien dalam mengatasi permasalahannya. Kontak mata Kontak mata merupakan pusat pandangan konselor yang tertuju pada sasaran yang tepat pada konseli. Pusat pandangan konselor dalam proses konseling diharapkan berkisar di daerah pas poto konseli. Selanjutnya Brammer & Shostrom . menjelaskan bahwa strategi untuk dapat membina hubungan antara konselor dan konseli, perlu dilakukan teknik membina hubungan yang bersifat refleksi. Teknik ini digunakan untuk memfpkuskan konseli agar dapat memahami apa yang terkandung dalam ucapan konseli itu sendiri. Refleksi lebih menekankan pada kata gantu seperti AuandaAy. Auanda merasaAy maupun Auanda berfikirAy (Mulyani, 2. Refleksi penting dilakukan agar mendorong konseli untuk dapat memikirkan gagasan maupun perasaan yang akan diungkapkan agar konseli mampu untuk mengenal diri pribadinya tanpa ada pengaruh dari luar dirinya. Refleksi juga digunakan sebagai teknik perantara ketika terciptanya hubungan awal yang baik dan dapat berjalan sebelum penyampaian informasi dan juga kesimpulan. Refleksi perasaan merupakan salah satu usaha konselor dalam memfarafrasekan kalimat maupun sikap dasar yang diekspresikan oleh klien. Konselor harus berusaha dalam memantulkan sikap konseli untuk dapat memahami dirinya dengan lebih baik dan konselor juga memperlihatkan kepada konselu bahwa konselor dapat memahami keadaan yang dihadapinya saat ini. Pelayanan Konseling yang Berhasil Menurut Prayitno . pelayanan konseling yang berhasil merupakan salah satu strategi pelayanan konseling yang dilakukan secara menyeluruh, teoritik, praktis maupun praktik berdasarkan prinsip yang telah ditentukan. Pelayanan konseling yang menyelurh dapat dilakukan dengan menentukan sasaran layanan,kajian yang akan didiagnosis maupun praktik dari layanannya ataupun kegiatan pendukung (Lase, 2. Oleh sebab itu, pelayanan konseling harus memiliki arah dan focus tujuan untuk tercapainya keberhasilan dalam pelayanan konseling. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 136 - 142 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. Keberhasilan dalam pelayanan konseling dapat membawa perubahan bagi konseli (Romadhon, 2. Perubahan yang akan ditampilkan oleh konseli yaitu pandangan yang realistis terhadap dirinya, percaya diri dan mampu dalam mengarahkan dirinya, berpandangan positif terhadap diri pribadi, mampu bersikap dewasa ketika menghadapi stres dan memiliki struktruk kepribadian yang baik (Daud, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literature atau tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka sebagai salah satu metode penelitian yang dilakukan untuk dapat mendeskripsikan strategi dalam membina hubungan antara konselor dengan klien untuk kenerhasilan pelayanan konseling. Artikel ini merujuk berdasarkan studi artikel atau jurnal dan buku sesuai dengan pembahasan yang dibuat pada artikel ini HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas yang dilakukan dalam proses konseling, pada dasarnya ialah sebagai interaksi timbal balik yang didalamnya terjadi hubungan saling mempengaruhi antara konselor sebagai pihak yang dapat membantu dan konseli sebagai pihak yang akan dibantu. Relasi yang dibangun antara konselor dan klien sangat dibutuhkan untuk tercapainya tujuan konseling (Rufaedah & Ikhwanarrafiq. Hal ini dikarenakan kapasitas dari konselor itu sendiri sebagai pribadi untuk membimbing konseli dalam pelaksanaan konseling (Putri, 2. Hubungan dalam konseling membantu dalam mempromosikan petumbuhan, perkembangan, maupun kematangan peningkatan fungsi dalam menghadapi kehidupan (Lesmana, 2. Tercipanya hubungan yang hangat, amanah yang dilakukan antara konselor dan konseli dalam mendasari setipa strategi ataupun pendekatan yang dapat membantu kondisi dasar dari keberhasilan setiap proses konseling. Konselor bertanggung jawab dalam menciptakan hubungan dengan konselu dengan meningkatkan tuntutan keterlibatan konseli maupun komitmen yang diberikan kepada konseli (Petrus. Membina hubungan dalam konseling sangat penting dan dapat menentukan proses dari pelaksakaan konseling. Jika seorang konselor tidak mampu dalam membina hubungan dan tidak memahami ataupun mengenali diri konseli, kegiatan konseling tentu akan terganggu dan tidak tercapainya tujuan proses konseling (Petrus, 2. Sehubung dengan hal tersebut, penelitian Rukmana . mengemukakan bahwa membangun hubungan dalam konseling sangatlah penting. Hal tersebut dikarenakan dalam membangun hubungan akan tercipta komunikasi yang baik bagu konselor dan konseli. Sehingga komunikasi yang baik tersebut dalam menjadikan suasana dalam memberikan layanan konseling agar konseli merasa nyaman (Fatchurahman, 2. Selanjutnya, strategi yang dapat dilakukan untuk tercapainya keberhailan dalam konseling ialah dengan memberikan teknik-teknik yang dapat membantu mengatasi permasalahan konseli. Salah satunya ialah teknik refleksi. Refleksi sebagai salah satu teknik yang dapat diaktualisasikan dalam proses konseling dapat melebihi refleksi verbal ialah refleksi pengalaman yang dilakukan sebagai suatu metode untuk dapat membaca tingkah laku (Mustofa & Mollah, 2. Dalam hal ini konselor dapat mengamati postur tubuh, gerakan isyarat, suara maupun mata dari konseli. Teknik refleksi yang dilakukan konselor bukan hanya dari Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 2. Nomor 2. Oktober 2023, 136 - 142 https://jurnal. id/index. php/jgt E-ISSN: 2830-182X DOI: https://doi. org/10. 59342/jgt. ungkapan perasaan konseli, juga pesan yang dari tigkah laku non verbal konseli (Hidayani, 2. Teknik refleksi pengalaman merupakan teknik yang dapat dikonfrontasikan dari apa yang dikatakan mengenai perasaan konseli dengan apa yang diamati oleh konselor (Syahra, 2. Dengan demikian, konselor juga harus berani mengemukakan tentang persepsinya terhadap konseli sebagaimana perasaan yang dikemukakan konseli. Konselor dikatakan telah memahami keadaan dari konseli, apabila konselor sudah mampu dalam mengukur situasi untuk dapat mengetahui waktu yang dirasa tepat dalam menerapkan teknik khusus pada saat kegiatan konseling sedang berlangsung (Syahri. Mudjiran. Sukma & Syahrial, 2. Maka dari itu, konselor harus dapat memiliki strategi yang tepat agar dapat membangun hubungan psikologis sehingga dapat terlibat secara emosional untuk dapat membantu konseli mengatasi spermasalahan, hal tersebut tentu dilakukan agar tercapainya keberhasilan dalam proses konseling. KESIMPULAN Proses konseling akan berjalan dengan efektif apabila konselor mampu membangun hubungan dengan konseli. Untuk membangun hubungan dengan konseli, perlunya strategi yang dapat dilakukan untuk terciptanya hubungan positif bagi konselor maupun konseli. Beberapa strategi yang dapat dilakukan ialah dengan melakukan persiapan dalam penerimaan konseli, menggunakan teknik 3M, keterbukaan, penerimaan positif dan kontak mata. Dengan demikian strategi yang dilakukan dapat membantu untuk tercapainya keberhasilan dalam proses pelaksanaan konseling SARAN Penulisan artikel ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi maupun hasil pembahasan yang dikemukakan, maka bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih mendalam terkait strategi dalam membina hubungan antara konselor dengan konseli untuk keberhasilan pelayanan konseling, perlunya melakukan penelitian ke lapangan untuk bisa mendapatkan bukti maupun kebenaran mengenai pembahasan tersbeut. DAFTAR PUSTAKA