Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi informasi Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, hal. 50 Ae 63 ISSN 2598-2079 . | ISSN 2597-9671 . ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH Fitria Nilamsari1*. Wahyu Ichsan2. Rinny Asasunnaja3. Fathia Sabrina4 1,3,4 Departemen Informatika. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Indonesia Departemen Ekonomi SyariAoah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. UIN Ar-Raniry. Banda Aceh. Indonesia E-mail: 1 fitrianilamsari@usk. id 2 wichsan. id@gmail. asasunnaja@usk. id 4 fathia. sabrina@usk. Corresponding author: fitrianilamsari@usk. Abstract This study examines the ethical implications of ChatGPT usage in Islamic higher education, by placing the discussion in the ethical framework of Islamic science . and educational values based on sharia, especially within the domains of Islamic economics and Sharia-based finance. As generative AI tools gain popularity among students and educators. ChatGPT is increasingly being used for academic activities such as concept explanation, drafting, and exploratory learning, presenting both educational support potential and ethical challenges, including risks of plagiarism, diminished critical thinking, religious misinformation, and excessive technological dependence. Adopting a qualitative exploratory approach, this research integrates library studies with expert interviews involving scholars in Islamic economic thought and Islamic banking. To enrich the analysis, a machine learning-based text similarity comparison was conducted between ChatGPTAos responses and expert opinions on selected topics, specifically examining how AI-generated answers align with established Islamic scholarly perspectives. This comparative analysis quantitatively measured content alignment, revealing high levels of similarity . Ae90%) in Sharia banking discourse and over 90% in Islamic economic The study employs both thematic analysis and normative evaluation grounded in Maqasid al-ShariAoah, focusing on the preservation of religion . ife al-d. , upholding intellectual integrity . ife al-aq. , and protection of the soul/life . ife al-naf. The results demonstrate that ChatGPT can be a valuable academic support tool when framed as a supplementary resource rather than an authoritative religious source, yet it must be used with critical supervision and scholarly The paper concludes by emphasizing the urgent need for Islamic higher education institutions to develop AI ethics guidelines that are contextually rooted in Sharia principles, ensuring that AI integration enhances rather than compromises Islamic educational integrity. ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH Keywords: ChatGPT. AI Ethics. Maqashid al-ShariAoah. Islamic Education. Islamic Economics Abstrak Penelitian ini mengkaji dampak etika dari penggunaan ChatGPT dalam pendidikan tinggi Islam, dengan menempatkan diskusi dalam kerangka etika ilmu pengetahuan Islam . dan nilai-nilai pendidikan berdasarkan syariah, khususnya dalam bidang pemikiran ekonomi Islam dan perbankan syariah. Seiring dengan meningkatnya popularitas alat AI generatif di kalangan mahasiswa dan dosen. ChatGPT semakin banyak digunakan untuk kegiatan akademik seperti penjelasan konsep, penyusunan draf, dan pembelajaran eksploratif yang menghadirkan potensi dukungan pendidikan sekaligus tantangan etika, termasuk risiko plagiarisme, penurunan kemampuan berpikir kritis, informasi yang salah tentang agama, dan ketergantungan teknologi yang berlebihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif, dengan menggabungkan studi pustaka dan wawancara pakar dari bidang ekonomi Islam dan keuangan syariah. Selain itu sebagai pelengkap analisis, penelitian ini menerapkan metode machine learning untuk membandingkan tingkat kemiripan substansi antara jawaban yang dihasilkan oleh ChatGPT dan pendapat para pakar. Hasil analisis menunjukkan tingkat kemiripan yang tinggi, yaitu 85Ae90% dalam topik perbankan syariah dan lebih dari 90% dalam kajian dasar ekonomi Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis tematik dan analisis normatifmaqasidi dengan kerangka Maqasid al-ShariAoah, yang menekankan pada perlindungan agama . ife al-di. , perlindungan akal . ife al-aq. , dan perlindungan jiwa . ife al-naf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang bermanfaat ketika dipandang sebagai sumber tambahan dan bukan sebagai sumber keagamaan yang otoritatif, penggunaannya harus disertai dengan validasi keilmuan dan pendampingan etis. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan tinggi Islam untuk merumuskan pedoman etika AI yang kontekstual dan selaras dengan prinsip-prinsip syariah, agar integritas keilmuan dan nilai-nilai Islam tetap terjaga di era digital. Kata Kunci: ChatGPT. Etika AI. Maqashid al-ShariAoah. Pendidikan Islam. Ekonomi Islam Pendahuluan Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya model berbasis bahasa seperti ChatGPT, telah merambah ke berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ranah Pendidikan Islam. Sebelum berkembangnya model bahasa generatif, teknologi AI dalam pendidikan umumnya hadir dalam bentuk expert systems, intelligent tutoring systems, recommender systems, serta learning analytics yang dimanfaatkan untuk personalisasi pembelajaran, evaluasi kinerja mahasiswa, dan pengambilan keputusan akademik. Selain itu. AI berbasis machine learning dan computer vision juga telah digunakan dalam digitalisasi manuskrip Islam, pengenalan tulisan Arab, 51 | Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Fitria Nilamsari. Wahyu Ichsan. Rinny Asasunnaja. Fathia Sabrina serta sistem penilaian otomatis. Teknologi ini digunakan sebagai alat bantu untuk mengakses, merangkum, dan mereproduksi informasi mengenai ajaran Islam secara cepat dan efisien, baik dalam aspek akidah, fiqh, sejarah, bahkan tafsir ChatGPT bahkan mampu menghasilkan teks yang menyerupai pemikiran manusia, sehingga memudahkan pelajar dan akademisi dalam menyusun esai, menjawab pertanyaan akademik, dan mencari literatur ilmiah . ChatGPT merupakan salah satu aplikasi AI berbasis Large Language Model yang dikembangkan oleh OpenAI dan pertama kali diperkenalkan kepada publik akhir tahun Model ini dibangun di atas arsitektur Generative Pre-trained Transformer (GPT) yang dilatih menggunakan data teks dalam skala besar, sehingga mampu memahami konteks, melakukan dialog, serta menghasilkan teks yang koheren dan relevan. Kemampuan ini menjadikan ChatGPT cepat diadopsi dalam lingkungan akademik, termasuk di perguruan tinggi Islam. Namun demikian, pemanfaatan AI dalam konteks pendidikan tinggi Islam menimbulkan sejumlah persoalan etis dan pedagogis yang tidak dapat diabaikan. antara tantangan yang muncul adalah potensi meningkatnya plagiarisme, merosotnya kemampuan berpikir kritis, penyebaran informasi yang keliru . , pelanggaran terhadap privasi dan keamanan data pengguna, serta terpinggirkannya peran pendidik sebagai pembimbing nilai dan adab, terutama bila teknologi ini digunakan tanpa pengawasan dan kerangka nilai agama yang memadai . Etika AI secara luas telah dibahas dalam sejumlah penelitian dan sebagian saat ini mulai mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam. Namun dalam Islam, etika tidak hanya norma sosial, tapi juga bagian dari hukum Ilahiyah yang berlaku secara universal. Seperti yang disebutkan dalam penelitian yang dikerjakan oleh Mawloud . menjelaskan tentang tantangan etis dan serius dalam perkembangan AI menurut aturan keislaman . Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji pemanfaatan AI dalam dunia Pendidikan Islam, baik dalam bentuk sistem pembelajaran (Intelligent Learning System. maupun kajian etika teknologi secara umum. Berbagai studi menekankan potensi AI dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis nilai Islam. Dalam penelitian lain juga menyoroti resiko keilmuan dan moral dari penggunaan teknologi dalam bidang Sedangkan penelitian yang dengan khusus membahas ChatGPT dalam kerangka Maqashid al-ShariAoah dalam konteks Pendidikan tinggi Islam masih relative Pemanfaatan ChatGPT perlu dipertimbangkan secara etis dalam bingkai Islam terkhusus Maqasid al-ShariAoah, sebuah konsep etika dan hukum Islam yang berorientasi pada perlindungan dan pemeliharaan lima prinsip utama: pemeliharaan agama . ifz aldi. , jiwa . ifz al-naf. , akal . ifz al-Aoaq. , keturunan . ifz al-nas. , dan harta . ifz alma. Melalui pendekatan ini, memberikan dasar untuk menilai apakah teknologi saat ini membawa kemaslahatan atau justru menimbulkan mafsadah . bagi masyarakat maupun individu. Urgensi penelitian ini semakin mengemuka mengingat pesatnya adopsi teknologi AI di kalangan mahasiswa dan dosen di lingkungan perguruan tinggi Islam, tanpa disertai Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi | 52 ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH pemahaman yang memadai tentang konsekuensi etis dan syarAoinya. Dalam kondisi ini, pendekatan Maqasid al-ShariAoah bukan hanya menawarkan kerangka evaluatif, tetapi juga mampu memandu arah pemanfaatan teknologi agar tidak sekadar efisien secara fungsional, melainkan juga sesuai dengan tujuan-tujuan luhur syariat. Dengan demikian, studi ini tidak hanya bersifat kritis, tetapi juga konstruktif dalam merumuskan prinsipprinsip etika penggunaan ChatGPT yang islami, kontekstual, dan aplikatif dalam dunia Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan ChatGPT dalam pendidikan tinggi Islam dengan menitikberatkan pada tinjauan etis berdasarkan kerangka maqasid al-shariAoah. Dengan menggabungkan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. dan wawancara pakar . xpert intervie. , penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam merumuskan pedoman etika penggunaan AI yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariat Islam, khususnya dalam konteks pendidikan tinggi. Metode Penelitian 1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan tujuan menggali secara mendalam fenomena penggunaan ChatGPT dalam pendidikan tinggi Islam dari perspektif etika Islam, khususnya melalui kerangka Maqasid al-ShariAoah. Metode ini dipilih karena sesuai untuk mengidentifikasi makna, persepsi, serta dinamika nilai yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, penulis menggabungkan dua teknik pengumpulan data, yaitu studi pustaka . ibrary researc. dan wawancara pakar . xpert intervie. Studi Pustaka (Library Researc. Data dikumpulkan melalui penelusuran dan analisis literatur dari berbagai sumber ilmiah seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, dokumen kebijakan, dan panduan etika terkait kecerdasan buatan (AI) dalam konteks global dan Islam. Literatur yang digunakan mencakup kajian-kajian tentang dampak AI dalam dunia pendidikan, prinsip-prinsip etika AI, serta konsep dan penerapan Maqasid alShariAoah dalam konteks kontemporer. Studi pustaka ini berfungsi sebagai dasar teoretis dalam merumuskan indikator evaluatif yang digunakan dalam analisis Wawancara Pakar (Expert Intervie. Wawancara dilakukan terhadap dua orang pakar yang memiliki kompetensi di bidang perbankan syariah dan pemikiran ekonomi Islam. Pemilihan narasumber dilakukan secara purposif, berdasarkan relevansi keilmuan dan pengalaman mereka dalam menghadapi isu-isu kontemporer yang berkaitan dengan etika dan teknologi dalam perspektif Islam. Wawancara dilakukan secara langsung dan semi-terstruktur untuk menggali secara mendalam pandangan mereka tentang penggunaan AI . hususnya ChatGPT) dalam pendidikan Islam. Hasil wawancara ini kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan jawaban serta tanggapan yang diberikan oleh ChatGPT 53 | Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Fitria Nilamsari. Wahyu Ichsan. Rinny Asasunnaja. Fathia Sabrina terhadap sejumlah pertanyaan yang sama. Tujuannya adalah untuk menilai sejauh mana respons AI dapat dipertanggungjawabkan secara etis, serta bagaimana prinsipprinsip Maqasid al-ShariAoah dapat dijadikan acuan dalam menyusun etika penggunaan teknologi ini di lingkungan pendidikan tinggi Islam. Alur penelitian dalam studi ini disajikan pada gambar dibawah ini untuk memberikan gambaran sistematis mengenai tahapan penelitian yang dilakukan, mulai dari perumusan masalah hingga penarikan kesimpulan. Gambar 1. Alur Penelitian 2 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni kajian teks dan sintesis literatur, serta wawancara pakar. Kedua pendekatan ini saling melengkapi guna memberikan gambaran yang utuh dan mendalam mengenai pemanfaatan ChatGPT dalam pendidikan tinggi Islam serta relevansinya dengan prinsipprinsip Maqasid al-ShariAoah. Kajian Teks dan Sintesis Literatur Teknik ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi, membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti jurnal akademik, buku, laporan riset, dan dokumen kebijakan. Fokus utama kajian ini adalah pada literatur yang membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI) secara umum, dampaknya dalam dunia pendidikan, serta pendekatan etika Islam terutama dalam kerangka Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi | 54 ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH Maqasid al-ShariAoah. Sintesis literatur ini bertujuan untuk merumuskan dasar teoretis serta membangun kerangka konseptual dalam menganalisis penggunaan ChatGPT secara etis dalam konteks pendidikan Islam. Wawancara Pakar Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur kepada narasumber yang dianggap memiliki otoritas keilmuan dan pengalaman praktis dalam bidang ekonomi Islam dan perbankan syariah. Teknik ini memungkinkan peneliti mengeksplorasi pandangan para pakar mengenai pemanfaatan ChatGPT, baik dari sisi etika, regulasi, maupun implikasinya dalam praktik keilmuan mereka. Selain itu, wawancara juga diarahkan untuk mengetahui bagaimana mereka menilai jawaban yang dihasilkan oleh ChatGPT, terutama ketika dibandingkan dengan prinsip-prinsip etika Islam. Hasil wawancara ini kemudian digunakan sebagai bahan analisis komparatif dengan output ChatGPT guna menilai kesesuaian dan akurasi jawaban AI dalam perspektif Maqasid al-ShariAoah. 3 Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, data dianalisis menggunakan dua pendekatan utama, yakni analisis tematik dan analisis normatif-maqasidi. Keduanya digunakan secara komplementer untuk mengungkap makna, pola, dan implikasi etis dari penggunaan ChatGPT dalam konteks pendidikan tinggi Islam: Analisis Tematik (Thematic Analysi. Analisis tematik dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mengelompokkan data ke dalam tema-tema utama yang dianggap relevan dan memiliki urgensi dalam konteks pendidikan Islam. Tema-tema tersebut dikonstruksi berdasarkan hasil wawancara dengan para pakar serta hasil sintesis literatur, dengan fokus utama pada bidang Perbankan SyariAoah dan Pemikiran Ekonomi Islam. Wawancara dilakukan terhadap dua orang pakar yang memiliki latar belakang akademik dan keilmuan dalam bidang ekonomi Islam dan perbankan syariAoah, baik sebagai akademisi dan praktisi. Dua pakar tersebut dilakukan secara purposif dengan pertimbangan kompetensi keilmuan, pengalaman serta keterlibatan langsung dalam pengembangan dan pengajaran ekonomi Islam. Setiap hasil wawancara dianalisis untuk mengekstraksi gagasan-gagasan utama, yang kemudian dibandingkan dengan jawaban yang diberikan oleh ChatGPT terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sama. Penggunaan pakar dalam penelitian ini memiliki urgensi dan pertimbangan ilmiah karena pandangan pakar merepresentasikan otoritas keilmuan dan rujukan normatif yang sahih dalam kajian ekonomi Islam, sehingga dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai akurasi, keselarasan, dan batasan pengetahuan yang dihasilkan oleh ChatGPT. Dari perbandingan tersebut, dilakukan penilaian terhadap tingkat kemiripan substansi antara respons pakar dan respons ChatGPT, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, untuk mengidentifikasi akurasi dan keselarasan informasi yang dihasilkan oleh AI. 55 | Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Fitria Nilamsari. Wahyu Ichsan. Rinny Asasunnaja. Fathia Sabrina Analisis Normatif-Maqasidi Selain analisis tematik, penelitian ini juga menggunakan pendekatan analisis normatif-maqasidi sebagai kerangka evaluatif. Analisis ini bertujuan menilai apakah penggunaan ChatGPT selaras atau bertentangan dengan nilai-nilai dasar syariat Islam sebagaimana tercermin dalam Maqasid al-ShariAoah: Hifz al-Din . erlindungan agam. : penilaian difokuskan apakah ChatGPT membantu menjaga pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama, atau justru menimbulkan penyimpangan. Hifz al-AoAql . erlindungan aka. : analisis diarahkan sejauh mana penggunaan ChatGPT mendorong penguatan intelektual dan nalar kritis mahasiswa, atau . Hifz al-Nafs . erlindungan jiw. : evaluasi dilakukan terhadap dampak teknologi dalam mendukung kesejahteraan psikis, etis, dan moral individu dalam proses . Hifz al-Nasl . erlindungan keturuna. : prinsip ini berkaitan dengan perlindungan keluarga, moralitas sosial, dan keberlanjutan generasi. Hifz al-Mal . erlindungan hart. : berkaitan dengan perlindungan aset, transaksi ekonomi, dan keadilan finansial Dalam konteks ini, penilaian difokuskan pada tiga tujuan utama syariat, yaitu hifz aldin, hifz al-Aoaql dan hifz al-nafs, karena ketiganya memiliki keterkaitan langsung dengan praktik akademik, proses pembelajaran, pembentukan karakter intelektual dan moral mahasiswa di Pendidikan tinggi. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya mengevaluasi output ChatGPT secara konten, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai normatif Islam untuk memberikan penilaian yang bersifat etis, kontekstual dan holistik. 4 Etika Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip etika akademik dan integritas ilmiah. Seluruh proses pengumpulan data, khususnya melalui wawancara, dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab. Para narasumber terlebih dahulu diberikan penjelasan menyeluruh mengenai tujuan, ruang lingkup, dan penggunaan data hasil wawancara. Setelah itu, persetujuan mereka diminta secara eksplisit melalui proses informed consent, baik terkait partisipasi dalam wawancara maupun pencantuman identitas mereka dalam publikasi, jika disetujui. Data yang diperoleh dari para pakar digunakan semata-mata untuk kepentingan akademik, dan tidak disalahgunakan untuk tujuan lain di luar ruang lingkup penelitian Peneliti berkomitmen untuk menjaga kerahasiaan informasi sensitif, menjunjung tinggi independensi dalam analisis, serta menghindari segala bentuk manipulasi data. Analisis dilakukan secara objektif dengan mengedepankan kejujuran ilmiah, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, etis, dan moral. Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi | 56 ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH Hasil dan Pembahasan 1 ChatGPT dalam Pendidikan Tinggi Islam Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan ChatGPT di lingkungan perguruan tinggi Islam mengalami peningkatan yang signifikan, terutama di kalangan mahasiswa generasi digital. Temuan di lapangan, baik dari hasil observasi maupun wawancara pakar, menunjukkan bahwa mahasiswa memanfaatkan ChatGPT untuk beragam kebutuhan akademik, mulai dari pencarian literatur, penyusunan ringkasan materi kuliah, penulisan esai dan makalah, hingga sebagai alat bantu dalam menyusun draft awal skripsi. Tren ini menunjukkan bahwa ChatGPT menjadi aplikasi kecerdasan buatan paling populer di kalangan mahasiswa generasi Z, dengan tingkat penggunaan mencapai 52%, mengungguli platform AI lainnya. Popularitas ChatGPT dalam lingkungan akademik disebabkan oleh kemampuannya memberikan respons secara cepat, lugas, dan mudah dipahami. Mahasiswa melaporkan bahwa alat ini sangat membantu dalam memahami konsep yang kompleks, baik dalam studi Islam seperti fiqh dan Aoaqidah, maupun dalam bidang-bidang umum seperti ekonomi, teknologi, dan politik. Selain itu. ChatGPT juga dianggap mampu mendukung proses berpikir kritis melalui penyediaan landasan awal yang dapat dikembangkan dalam diskusi kelas maupun tugas akademik. Namun, kemudahan akses dan efisiensi yang ditawarkan ChatGPT tidak terlepas dari sejumlah konsekuensi etis yang perlu dicermati secara kritis. Di antaranya adalah risiko plagiarisme akibat penggunaan konten yang disalin langsung tanpa proses pemahaman mendalam, potensi penurunan kemampuan literasi dan analisis mahasiswa, serta kecenderungan untuk bergantung secara berlebihan pada teknologi. Jika tidak dikawal dengan nilai-nilai keislaman, penggunaan ChatGPT dalam pendidikan tinggi berpotensi menggeser peran dosen bukan hanya sebagai sumber ilmu, tetapi juga sebagai pembimbing adab, etika, dan kepribadian mahasiswa. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi peran dan dampak ChatGPT secara menyeluruh melalui kerangka normatif Islam, khususnya dengan menggunakan pendekatan Maqasid al-ShariAoah. Evaluasi ini diperlukan agar teknologi tidak sematamata menjadi alat produktivitas, melainkan juga selaras dengan nilai-nilai luhur pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak dan pelestarian maqasid al-shariAoah, seperti perlindungan akal . ifz al-Aoaq. , perlindungan agama . ifz al-di. , dan perlindungan jiwa . ifz al-naf. 2 Isu Etis yang Muncul Penggunaan ChatGPT dalam pendidikan tinggi Islam membawa serta sejumlah isu etis yang kompleks dan mendalam. Salah satu isu paling krusial adalah potensi Banyak mahasiswa cenderung menyalin teks yang dihasilkan oleh ChatGPT tanpa melalui proses pemahaman dan penyesuaian dengan konteks akademik yang Ini secara langsung merusak integritas akademik dan mengabaikan prinsip Selain itu, terdapat kekhawatiran serius terhadap penurunan daya pikir kritis, 57 | Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Fitria Nilamsari. Wahyu Ichsan. Rinny Asasunnaja. Fathia Sabrina karena mahasiswa mulai lebih mengandalkan jawaban instan daripada melakukan eksplorasi dan analisis secara mandiri . Dalam beberapa studi lain disebutkan bahwa penggunaan berlebihan terhadap AI seperti ChatGPT berpotensi menyebabkan penurunan fungsi kognitif dan ketajaman intelektual, terutama dalam hal kemampuan menalar dan menyintesis . enggabungkan beberapa sumber baru untuk membentuk pemikiran bar. guna membuat informasi secara mandiri. Kondisi ini jelas bertentangan dengan prinsip hifz al-Aoaql . enjaga aka. , salah satu pilar utama dalam maqasid al-shariAoah, yang menekankan pentingnya akal sebagai instrumen utama dalam memahami ilmu dan membedakan antara kebenaran dan Ketergantungan terhadap teknologi tanpa penguatan nalar justru berpotensi merusak tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Isu kedua menyangkut ketergantungan terhadap teknologi. Dalam wawancara ditemukan bahwa sebagian mahasiswa merasa cemas, bingung, bahkan tidak percaya diri saat mengerjakan tugas tanpa bantuan ChatGPT. Fenomena ini menunjukkan gejala hilangnya kemandirian intelektual dan peningkatan stres akademik akibat tekanan untuk "selalu benar" dan "selalu cepat". Dari perspektif maqasid al-shariAoah, hal ini bersinggungan dengan prinsip hifz al-nafs . enjaga jiw. , karena penggunaan teknologi yang tidak proporsional dapat mengganggu stabilitas psikologis dan kesehatan mental Ketidakseimbangan ini dapat memicu kecemasan, kelelahan mental, bahkan ketergantungan yang bersifat adiktif terhadap teknologi. Isu ketiga adalah disinformasi keagamaan. ChatGPT sering kali digunakan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan aqidah, fiqh, dan tafsir, padahal sistem ini tidak dirancang sebagai otoritas keislaman yang memiliki otentisitas sanad dan kompetensi ijtihad. Meskipun mampu merujuk pada sumber-sumber klasik dan kontemporer. ChatGPT tidak dapat memverifikasi konteks, keabsahan dalil, ataupun otoritas ulama yang dikutip. Akibatnya, terdapat potensi tinggi terjadinya penyebaran informasi keagamaan yang tidak akurat dan menyesatkan. Dalam hal ini, prinsip hifz aldin . enjaga agam. menjadi sangat relevan, karena menjaga keaslian dan kemurnian ajaran Islam merupakan prioritas utama dalam kerangka maqasid al-shariAoah. Dengan demikian, ketiga isu etis ini. plagiarisme dan lemahnya nalar kritis . ifz alAoaq. , ketergantungan teknologi dan dampaknya pada kesehatan mental . ifz al-naf. , serta disinformasi keagamaan . ifz al-di. menunjukkan perlunya pengawasan yang ketat dan pengembangan panduan etika Islami dalam penggunaan teknologi AI seperti ChatGPT di lingkungan pendidikan tinggi. Penanaman kesadaran terhadap nilai-nilai maqasid tidak hanya menjadi filter moral, tetapi juga sebagai pilar fundamental untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi secara bijak dan maslahat. 3 Analisis Perspektif Maqasid al-ShariAoah Dari sisi maqasid al-shariAoah, penggunaan ChatGPT dalam pendidikan perlu dievaluasi berdasarkan asas maslahah . dan mafsadah . Jika digunakan secara bijak dan disertai dengan pendampingan nilai-nilai Islam. ChatGPT dapat menjadi sarana maslahah yang mempercepat akses ilmu, membantu pemahaman Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi | 58 ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH konsep dan mendukung pembelajaran mandiri. Namun, jika digunakan tanpa kendali, ia dapat menimbulkan mafsadah berupa ketergantungan, disinformasi, serta penurunan kualitas akademik dan spiritual. Wawancara dengan dua pakar menegaskan bahwa penggunaan ChatGPT sifatnya hanya sebagai alat bantu bukan sebagai pengganti berpikir. Prof. Dr. Hafas Furqani. Ec. - Guru Besar Ekonomi Islam. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh menyatakan bahwa AI sifatnya hanya sebagai referensi awal yang harus dievaluasi dan divalidasi kepada pakar yang rasikh ilmunya. Ini sejalan dengan prinsip melindungi agama . ifz al-di. karena melindungi umat dari pemahaman agama yang keliru dan mendorong agar sumber ajaran Islam tetap berdasarkan dari sumber yang sah bukan dari mesin yang memahami agama tanpa Iman dan konteks syariAoah. Begitupun ketika ada perbedaan antara AI dan para pakar maka sudah seharusnya melakukan investigasi ilmiah lebih lanjut. Hal ini menegaskan pentingnya menjaga akal . ifz al-Aoaq. sebagai salah satu pilar dalam maqasid al-shariAoah yang menuntut penggunaan nalar secara aktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam memahami dan memverifikasi informasi. Disisi praktisi Perbankan SyariAoah. Bapak Saiful Musafir. - Wakil Direktur Bank Syariah Indonesia (BSI) mengatakan tidak semua kebijakan praktis yang ada didalam perbankan Syariah bisa dijelaskan secara komprehensif oleh ChatGPT, karena informasi terkait hal itu bersifat internal dan hanya bisa diakses oleh pihak yang memiliki otorisasi khusus. Oleh karena itu, pemahaman mendalam atas praktik operasional lembaga keuangan syariah tetap memerlukan perspektif praktisi dan akses langsung terhadap data institusional. Dalam konteks Maqasid al-ShariAoah, hal ini berkaitan erat dengan prinsip hifz alnafs . erlindungan jiw. , karena menjaga kerahasiaan dan keakuratan informasi operasional lembaga keuangan syariah merupakan bagian dari menjaga keamanan, stabilitas, dan keselamatan para nasabah serta masyarakat luas. Penjelasan yang tidak akurat atau bersifat spekulatif tentang proses internal lembaga keuangan berpotensi menimbulkan kerugian, kesalahpahaman, bahkan krisis kepercayaan yang pada akhirnya dapat membahayakan aspek kehidupan dan kesejahteraan umat. Oleh sebab itu, keterlibatan langsung praktisi dan otoritas yang berwenang tidak hanya penting dari sisi teknis, tetapi juga merupakan bentuk perlindungan jiwa dan kepentingan publik sebagaimana ditekankan dalam Maqasid al-ShariAoah. Lebih dari itu, hal ini juga terkait langsung dengan prinsip hifz al-din . enjagaan agam. , karena sistem keuangan syariah adalah implementasi nilai agama dalam konteks Praktik Syariah yang tidak akurat dalam perbankan dapat merusak pemahaman terhadap agama Islam itu sendiri. Realitanya saat ini, meskipun AI semakin luas dimanfaatkan penerapannya disektor syariah, namun mayoritas negara Muslim belum memiliki kerangka panduan yang dirancang khusus mengatur penggunaan AI berdasarkan prinsip-prinsip maqasid al-shariAoah . Selain analisis kualitatif terhadap isi wawancara dan literatur, penelitian ini juga melakukan komparasi isi antara jawaban ChatGPT dan tanggapan pakar terkait isu-isu 59 | Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Fitria Nilamsari. Wahyu Ichsan. Rinny Asasunnaja. Fathia Sabrina utama dalam berbagai bidang yaitu Perbankan Syariah dan Pemikiran Ekonomi Islam. Peneliti menggunakan metode machine learning seperti jaccard similarity, cosine similar Euclidean distance dan untuk membandingkan tingkat kemiripan antara 2 teks yaitu jawaban dari ChatGPT dan jawaban langsung dari pakar yang kami wawancarai. Berdasarkan wawancara dengan pakar dari Perbankan Syariah. Hasil perbandingan menggunakan metode jaccard similarity, cosine similarity dan euclidean distance menunjukkan bahwa sekitar 85-90% substansi pernyataan ChatGPT dinilai sejalan dengan pandangan pakar. Dimana jawaban dari ChatGPT menekankan pada kaidah fiqh, dalil dan pendekatan akademik sedangkan pakar menekankan pada praktik, fatwa dan regulasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait perbankan syariah. Sementara itu, berdasarkan hasil wawancara pakar terkait pemikiran ekonomi Islam. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa ChatGPT menunjukkan persentase kemiripan yang sangat besar dengan jawaban pakar dengan persentase kemiripan diatas 90%. Hal ini mengindikasikan bahwa ChatGPT mampu menjawab konsep dasar ekonomi Islam secara cukup akurat, sekaligus menunjukkan bahwa ChatGPT hanya untuk mendukung pemahaman dasar. Pemahaman dan pengamalan hukum Islam lebih mendalam haruslah berasal dari pihak otoritas keilmuan yang sah . akar keilmua. Dalam konteks uife al-mAl . enjaga hart. , prinsip ini tetap relevan dalam aspek informasi keuangan syariah. Penggunaan ChatGPT perlu dikontrol agar tidak menimbulkan kerugian materi akibat kesalahan informasi. Namun, aspek ini tidak dibahas secara eksplisit dalam wawancara dengan dua pakar di atas. Demikian pula dengan uife al-nasl . enjaga keturuna. , pembahasannya tidak terlalu mendalam dalam penelitian ini karena fokus kajian terletak pada aspek akademik, bukan pada aspek sosial keluarga atau moral generasi. Meski demikian, kedua prinsip tersebut tetap menjadi pengingat penting agar penggunaan teknologi dapat diarahkan untuk membentuk generasi yang beradab dan berakhlak mulia, bukan sebaliknya justru menurunkan kualitas moral. Kesimpulan dan Saran 1 Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan ChatGPT di lingkungan pendidikan tinggi Islam membawa dampak yang ambivalen yaitu memiliki dua perasaan atau sikap yang saling bertentangan terhadap sesuatu secara bersamaan. Di satu sisi. ChatGPT menawarkan potensi besar dalam mendukung proses pembelajaran, mempercepat akses informasi, dan mendorong efisiensi akademik. Namun di sisi lain, teknologi ini juga menghadirkan berbagai tantangan etis yang signifikan, seperti plagiarisme, ketergantungan berlebih, penyebaran informasi keagamaan yang tidak akurat, serta penurunan daya kritis mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara dan analisis komparatif, dapat disimpulkan bahwa penggunaan ChatGPT dalam konteks pendidikan dan kajian ekonomi Islam memiliki potensi besar sebagai alat bantu pembelajaran yang bermanfaat, selama digunakan secara Cyberspace: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi | 60 ETIKA PENGGUNAAN CHATGPT DALAM PENDIDIKAN DAN EKONOMI ISLAM: TINJAUAN MAQASID AL-SHARIAoAH bijak dan disertai dengan pendampingan keilmuan . erasal dari pakar ataupun gur. Sebagaimana populer perkataan diantara kalangan para ulama: AII IE OEI EN O AON EOIA AuBarangsiapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan? (Tafsir Ruhul Bayan fi Tafsir al-Quran. Ismail Haqqi al-Hanafi, 5/. ChatGPT dinilai mampu menjawab isu-isu mendasar dalam ekonomi Islam dengan tingkat kemiripan substansi yang tinggi terhadap pandangan para pakar, yaitu sekitar 85Ae 90% dalam isu Perbankan Syariah dan lebih dari 90% dalam pemikiran ekonomi Islam. Namun, baik Prof. Dr. Hafas Furqani. Ec maupun Bapak Saiful Musafir. ST. menegaskan bahwa peran AI harus dibatasi pada level referensi awal dan tidak boleh menggantikan peran intelektual manusia serta otoritas keilmuan. Dalam kerangka Maqaid al-Shariah, temuan ini menegaskan pentingnya menjaga agama . ife al-d. , akal . ife al-aq. , dan jiwa . ife al-naf. melalui penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, valid, dan berbasis nilai. ChatGPT dapat mempercepat akses ilmu dan mendukung pembelajaran, namun pemahaman mendalam terhadap syariah tetap harus ditopang oleh keilmuan yang otoritatif dan praktis yang sahih agar tidak terjadi penyimpangan, disinformasi, maupun distorsi nilai agama. 2 Saran Berdasarkan temuan dan analisis penelitian, berikut rekomendasi dalam penerapan penggunaan ChatGPT dalam lingkungan Pendidikan tinggi Islam: Sistem perlu mencantumkan pelabelan sumber . isalnya: tafsir, fatwa DSN-MUI, kitab fik. dan sumber otorisasi . isalnya: Aupendapat mayoritas ulamaAy. Aurujukan muAotabarAy. Ausumber belum terverifikasi dengan jelasA. Sistem perlu menyertakan peringatan untuk merujuk ke pakar keilmuan sebelum mengamalkan isi jawaban. Kampus-kampus Islam perlu membatasi mahasiswa dalam menjadikan ChatGPT sebagai referensi dalam penulisan karya ilmiah serta mengadakan sanksi terhadap Daftar Pustaka