Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Kajian Lafadz Taubah dan InAbah Dalam Al-QurAoan (Aplikasi Teori Anti Sinonimitas Muhammad Syahru. Muhammad Uzairon Salim Universitas Islam Negeri Mataram. Indonesia Email: suzairon@gmail. Keywords: muhammad syahrur, antisynonymity theory, taubah, inAbah Kata Kunci: muhammad syahrur, teori anti sinonimitas, taubah, inAbah Abstract The Qur'an, as a universal and timeless guide, continues to be interpreted through various approaches, including contemporary linguistic One of the ongoing debates in QurAoanic studies concerns the concept of synonymity, particularly the theory of anti-synonymity proposed by Muhammad Syahrur, who argues that no two words in the QurAoan share identical meanings. This study aims to examine the discourse of antisynonymity theory and analyze its application in distinguishing the meanings of the terms taubah and inAbah in the QurAoan. This research employs a qualitative approach with a library research method, utilizing primary and secondary sources, and applying a linguistic analytical framework, including syntagmatic and paradigmatic analysis. The findings reveal that taubah refers to returning to God after committing sins, characterized by regret, repentance, and a commitment to moral In contrast, inAbah emphasizes a continuous spiritual return to God based on devotion, submission, and awareness, not necessarily linked to sin. The study concludes that the two terms are not synonymous but represent distinct spiritual concepts, thereby supporting SyahrurAos antisynonymity theory. This research contributes to a deeper understanding of QurAoanic linguistic nuances and encourages more critical and contextual interpretations of sacred texts. Abstrak Al-QurAoan sebagai kitab suci yang bersifat universal dan relevan sepanjang zaman terus ditafsirkan melalui berbagai pendekatan, termasuk pendekatan linguistik kontemporer. Salah satu perdebatan penting dalam studi Al-QurAoan adalah mengenai sinonimitas, khususnya teori anti sinonimitas yang dikemukakan oleh Muhammad Syahrur, yang menolak adanya kesamaan makna mutlak antar kata dalam Al-QurAoan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji diskursus teori anti sinonimitas serta menganalisis penerapannya dalam membedakan makna lafaz taubah dan inAbah dalam Al-QurAoan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan . ibrary researc. , memanfaatkan sumber data primer dan sekunder, serta menggunakan analisis linguistik berupa analisis sintagmatik dan paradigmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taubah bermakna kembali kepada Allah setelah melakukan dosa yang disertai penyesalan dan perbaikan diri, sedangkan inAbah menunjukkan makna kembali kepada Allah secara terus-menerus sebagai bentuk ketundukan, kedekatan spiritual, dan kesadaran, tidak selalu berkaitan dengan dosa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua lafaz tersebut tidak bersinonim, melainkan memiliki perbedaan makna yang signifikan, sehingga mendukung teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian linguistik Al-QurAoan dan memperkaya pemahaman makna terminologi keislaman secara lebih PENDAHULUAN Umat Islam meyakini bahwa al-QurAoan adalah kitab yang berisi pesan-pesan Tuhan sebagai pedoman dan petunjuk bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan untuk meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat (Haris, 2003. Mustaqim, 2010, 2. Maka barangsiapa yang menjadikan al-QurAoan sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan di dunia dipastikan akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, sedangkan yang tidak percaya dan berpaling dari al-QurAoan maka akan mendapatkan kehidupan yang sengsara baik di dunia maupun di akhirat (Al-Nawawi, n. Mustaqim & Syamsudin, 2002. Ridho. Sebagai kitab petunjuk dan pedoman, al-QurAoan bukan hanya diperuntukkan bagi orangorang dahulu di zaman Nabi saja, tetapi juga bagi orang di zaman sekarang dan bahkan untuk orang di masa mendatang (Fawaid, 2015. MaAoarif, 1985. Umar, 1. Sehingga merupakan suatu hal yang masuk akal jika dikatakan bahwa isi kandungan al-QurAoan, baik makna dan petunjuknya akan senantiasa relevan untuk setiap waktu dan tempat . hAlih li kulli zamAn wa makA. dan akan senantiasa terpelihara sampai akhir zaman (Al-AshfahAni, 2009. Manzhr. Ridho, 2. Asumsi bahwa al-QurAoan adalah shAlih li kulli zamAn wa makAn ini oleh ulama klasik dan kontemporer memiliki paradigma yang berbeda dalam memahaminya. Ulama klasik dalam asumsi ini berpandangan bahwa penafsiran terhadap al-QurAoan sudah final, sehingga semua konteks dipaksakan ke dalam teks . l-AshfahAni, 2017. Hidayat, 2017. Rosyidin, 2. Sehingga penafsiran seperti ini terkesan hanya mengulang-ulang penafsiran sebelumnya . iraAoah mutakarrira. Pemahaman seperti ini menurut Rasyid merupakan suatu hal yang fundamentalis dan tradisional ekstrem, yang telah membuat banyak kekeliruan, yaitu mengubah pesan Islam yang universal menjadi sempit dan di lain sisi menyebabkan keilmuan menjadi stagnan dan statis (Basri, 2020. Emzir, 2014. Flantika, 2022. Tyas, 2. Fenomena yang terjadi ini kemudian membuat beberapa kalangan pemikir al-QurAoan kontemporer merasakan kekhawatiran. Salah satu tokoh yang merasakan kekhawatiran ini adalah Muhammad Syahrur (Almaany Arabic Dictionary, n. Fatimah, 2019. , n. Usman & Akbar, 2. Dalam bukuya. Abdul Mustaqim menjelaskan bahwa Syahrur memiliki pandangan dalam merealisasikan asumsi al-QurAoan shAlih li kulli zamAn wa makAn adalah dengan melakukan penafsiran terhadap al-QurAoan sesuai dengan semangat zaman penafsir. Kemudian menghilangkan anggapan bahwa hasil penafsiran terdahulu . urAt. sebagai suatu hal yang memiliki kebenaran yang absolut (Al-QurAoan Kementerian Agama RI, n. AlThabAri, 2001. FAris, 1979a, 1979. Lebih lanjut Syahrur menyarankan agar turAts tersebut dibaca lebih mendalam dan objektif dan melakukan kritik terhadap hasilnya jika hal itu penting Hal ini dilakukan supaya tidak ada istilah sakralisasi dalam pemikiran keagamaan (Hakim, 2024. Khairunnisa, 2003. Manzur, 2005. Muasyaroh, 2. Selain itu, dalam rangka menjaga kerelevanan isi kandungan al-QurAoan, para mufassir kontemporer berusaha mengembangkan metodologi dan studi al-QurAoan sesuai dengan akselerasi perkembangan sosial, budaya, politik dan peradaban manusia (Adz-Dzahabi, 2009. al-Baqi, 1945. Al-Qaththan, 2007. Alfian, 2. Muhammad Syahrur contohnya, dalam karya monumentalnya Al-KitAb wa Al-QurAoAn. QiraAoah MuAoAshirah, seperti yang dijelaskan JaAofar Dik al-Bab dalam muqaddimah kitab tersebut bahwa Syahrur berusaha mengembangkan metodologi penafsiran dalam bidang linguistik. Syahrur dalam usaha mengungkap dan memahami makna kandungan al-QurAoan menggunakan pendekatan Historis-Ilmiah dalam Studi Lingusitik . l-ManhAj al-Tarkhi al-AoIlmi fi al-DirAsah al-Lughawiyya. (Kholison. Syahrr, 1990, 1996, 2. Dari pendekatan yang dilakukan oleh Syahrur ini, nampaknya Syahrur sependapat dengan Ibnu Faris yang berpandangan bahwa dalam bahasa Arab tidak ada sinonimitas. Sinonim menurut Imam al-Ghazali yang dikutip oleh Muhammad Kholison adalah lafadzlafadz yang berbeda dan lafadz-lafadz yang berbeda itu mengacu pada satu penamaan . (Fanani, 2010. Shihab, 2013. Syahrur, 2004. Yusuf, 2. Dalam kaitan anti sinonimitas di dalam al-QurAoan, terjadi kontroversi antara para ulama di dalamnya (Isyanto, 2023. Tawwab. Ada sebagian kelompok ulama yang setuju dengan adanya sinonim dalam al-QurAoan dan sebagian lainnya mengingkari akan keberadaanya. Ulama klasik yang mendukung sinonim dalam al-QurAoan adalah seperti Imam Sibawaih dan AshmuAoi yang menyatakan bahwa di dalam bahasa Arab dan al-QurAoan terdapat sinonim. Sedangkan sebagian ulama ahli linguistik yang mengingkarinya adalah seperti Ibnu Faris yang menegaskan bahwa apa yang dianggap sebagai kata-kata yang sinonim dalam kajian bahasa sebenarnya tidak benar-benar sinonim, tetapi ada perbedaan aksentuasi makna tersendiri, hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Abdul Mustaqim dalam bukunya (Muhlisin, n. Nugraha & Abdurrohman, 2020. Ridwan, 2008. Sarmin. Muhammad Syahrur adalah termasuk kelompok ulama yang berpandangan menolak adanya sinonim di dalam al-QurAoan. Dengan kata lain. Syahrur dalam permasalahan ini anti terhadap sinonimitas (Labaso & Hestiana, 2023. Sulkifli & Rajab, 2023. Sutanto, 2013. Tarbiyah, 2. Hal ini bisa dilihat dari redefinisi yang dilakukannya terhadap kata dalam alQurAoan yang dianggap sinonim seperti kata al-KitAb, al-FurqAn, al-QurAoAn dan sebagainya. Seperti yang dijelaskan oleh Abdul Mustaqim dalam bukunya bahwa Muhammad Syahrur mengingkari sinonimitas dalam al-QurAoan dengan alasan bahwa menerima sinonimitas sama dengan menolak historisitas perkembangan bahasa. Padahal faktanya bahasa itu mengalami perkembangan diakronis. Muhammad Syahrur sampai pada tahap mengkritisi dan melakukan redefinisi terhadap kata-kata dalam al-QurAoan yang dianggap sinonim sehingga melahirkan makna yang baru dan segar (Al-Faruq, 2024. Hanifah, 2021. K, 2022. Kebudayaan, 1995. Wahyuddin, 2. Salah satu contoh kata dalam al-QurAoan yang sinonim adalah kata bAq dan khAlid yang dalam terjemahan bahasa Indonesia diartikan dengan makna kekal. Contoh ayatnya yang ada di dalam al-QurAoan adalah sebagai berikut: Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Nabi Muhamma. Maka, jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal? Dalam terjemahan bahasa Indonesia kata KhAlid dan BAq diartikan dengan pemaknaan yang sama yakni kekal. Pemaknaan seperti ini menimbulkan pemahaman bahwa kedua lafadz ini memiliki makna yang sama tanpa perbedaan sedikitpun, sehingga ketika mengganti lafadz yang satu dengan yang lain dalam konteks yang berbeda bukan merupakan suatu permasalahan. Padahal jika ditelaah lebih dalam lagi, kedua lafadz tersebut memiliki perbedaan makna yang Rasyid Ridho menjelaskan dalam bukunya bahwa Kata khAlid biasanya digunakan pada konteks yang menunjukkan kepada kekekalan yang memiliki akhir, sedangkan kata bAq digunakan dalam konteks kekekalan yang tiada akhirnya. Oleh karena itu, jika sekiranya dua lafadz tersebut dimaknai dengan makna yang sama, maka akan menimbulkan pemahaman bahwa antara kekekalan Allah dengan makhluk-Nya itu sama, padahal jika ditinjau dari segi akidah. Allah memiliki sifat wajib mukhalAfatuh li alhawAdits . erbeda dengan makhluk-Ny. baik itu wujud maupun sifat-Nya. Maka dari itu kajian lebih mendalam untuk mengetahui makna masing-masing kata tersebut sangat penting dilakukan untuk menghindari pemahaman yang keliru bagi orang-orang yang ingin mengkaji isi kandungan al-QurAoan. Selain contoh di atas, masih banyak kata-kata di dalam al-QurAoan yang dianggap sinonim, namun pada penelitian ini peneliti akan memfokuskan kajiannya pada lafadz taubah dan inAbah yang di mana kedua lafadz ini apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia diartikan AubertaubatAy. Dalam dunia akademisi pemaknaan dua ragam lafadz tersebut yang hanya terbatas pada makna AubertaubatAy dianggap tidak memiliki konsep yang utuh dan komprehensif, sehingga pemaknaannya kurang memuaskan karena wilayah makna khusus yang belum tereksplorasi. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji lebih lanjut tentang makna kedua lafadz ini untuk memahami apakah benar keduanya bisa dianggap sinonim atau memiliki perbedaan makna yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbedaan makna antara kedua lafadz tersebut dan menganalisanya berdasarkan teori anti sinonimitas yang dikemukakan oleh Muhammad Syahrur. Peneliti memiliki beberapa alasan akademik mengapa memilih penelitian dengan tema Auteori anti sinonimitasAy dan memilih Muhammad Syahrur sebagai tokoh dalam penelitian ini, dan bukan tokoh yang lain, serta memilih lafadz taubah dan inAbah sebagai fokus kajian Pertama, teori anti sinonimitas dalam studi al-QurAoan merupakan suatu tema yang kontroversial dan masih menjadi perdebatan di antara para ulama, baik ulama klasik maupun Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan titik terang bagaimana perkembangan teori anti sinonimitas dari waktu ke waktu. Kedua, peneliti merasa sangat penting menganalisa tokoh Muhammad Syahrur karena diketahui Syahrur adalah seorang pemikir al-QurAoan kontemporer yang tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu-ilmu keagamaan secara intensif, berbeda dengan pemikir-pemikir al-QurAoan kontemporer lainnya. Peneliti secara pribadi menanggapi hal ini sebagai hal yang unik sehingga terdorong rasa untuk menganalisis metodologi, pendekatan dan langkah apa saja yang ditempuh oleh Syahrur dalam usaha pengungkapan makna suatu lafadz di dalam alQurAoan. Ketiga, peneliti memilih lafadz taubah dan inAbah dalam penelitian ini karena peneliti merasa masih jarang peneliti yang lain menjadikannya sebagai fokus penelitian terutama di Pogram Studi Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Universitas Islam Negeri Mataram. Hal ini yang mendorong peneliti dan merasa sangat perlu untuk meneliti kedua lafadz tersebut. Sehingga penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumbangan pengetahuan baru dalam kajian tafsir di Program Studi Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir. Keempat. Selain itu, peneliti juga memilih lafadz taubah dan inAbah karena merasa belum puas dengan hanya sekedar pemaknaan AubertaubatAy saja. Mengingat bahwa perintah bertaubat adalah perintah yang sangat dianjurkan dan harus senantiasa untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, karena manusia merupakan makhluk yang memiliki sifat selalu salah dan lupa. Maka peneliti merasa sangat penting untuk menggali makna kedua lafadz tersebut supaya pengamalan terhadap perintah ini nanti akan lebih sesuai dengan realita zaman. Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, peneliti mendapatkan inspirasi untuk mengangkat permasalahan interpretasi terhadap dua lafadz dalam al-QurAoan yang dianggap sinonim, dengan judul AuKajian Lafadz Taubah dan InAbah dalam Al-QurAoan (Aplikasi Teori Anti Sinonimitas Muhammad SyahrurAy. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini merumuskan permasalahan dalam bentuk pertanyaan yang akan dikaji secara mendalam. Penelitian ini berupaya untuk memahami bagaimana diskursus teori anti sinonimitas berkembang dalam tafsir al-QurAoan, serta bagaimana teori tersebut diaplikasikan oleh Muhammad Syahrur dalam mendeskripsikan perbedaan makna antara lafaz taubah dan inAbah di dalam al-QurAoan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji secara komprehensif diskursus teori anti sinonimitas dalam tafsir al-QurAoan, serta untuk menganalisis secara mendalam penerapan teori anti sinonimitas menurut Muhammad Syahrur dalam menjelaskan perbedaan makna antara lafaz taubah dan inAbah di dalam al-QurAoan. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat berupa kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian linguistik al-QurAoan, khususnya terkait pemaknaan lafaz yang sering dianggap sinonim, serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi pembaca mengenai nuansa makna dalam terminologi keislaman. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Feny Rita Flantika menyimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami fenomena tertentu yang dapat berupa perilaku, persepsi tindakan dan sebagainya yang dideskripsikan dalam bentuk kata-kata yang menggambarkan kondisi apa adanya. Penelitian ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dokumen dan kepustakaan. Pendekatan Penelitian Sementara pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan linguistik atau kebahasaan. Linguistik sebagai ilmu bahasa dipandang dapat mencapai status ilmiah karena memiliki metode yang kokoh. Pendekatan linguistik adalah suatu pendekatan yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Pendekatan linguistik ini dimaksudkan pada upaya bagaimana melihat bahasa dalam sudut pandang sebagai sistem yang membentuk bahasa, karena sudut pandang ini dinilai memiliki implikasi yang objektif. Pendekatan linguistik ini dijadikan sebagai pisau analisis demi terjaminnya ketajaman hasil eksplorasi makna kedua lafadz yang peneliti pilih sehingga dapat menghasilkan perbedaan makna yang kontras dan signifikan. Sumber Data Sumber-sumber data penelitian ini di antaranya yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang menjadi rujukan utama dalam memperoleh landasan yang akan dianalisis. Data primer yang peneliti gunakan adalah berupa buku-buku yang terambil dari tangan-tangan pertama yang membahas secara mendalam tentang makna kata-kata mutarAdif, kaitannya dengan ini, peneliti menggunakan karya monumental Dr. Muhammad Syahrur dengan judul Al-KitAb wa Al-QurAoAn. QiraAoah MuAoAshirah. Al-ImAn wa Al-IslAm: Al-Manzumat Al-Qiyam. Nahwa Ushl Jaddah li Al-Fiqhi Al-IslAm. Fiqh AlMarAoah. Al-Washiyyah. Al-Irts. Al-QiwAmah. Al-TaAoaddudiyyah. Al-LibAs. Sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data yang memiliki keterkaitan dengan tema dari penelitian sehingga dengan itu akan menambah dan memperdalam kajian suatu Sedangkan sumber data sekunder penelitian ini adalah hasil kajian tentang pemikiran Muhammad Syahrur yang dapat ditemukan dalam bentuk situs internet, makalah, artikel, skripsi dan sebagainya. Seperti buku yang ditulis oleh Abdul Rasyid Ridho yakni AuTeori Asinonimitas Muhammad Syahrur Konsep dan Aplikasinya dalam Al-QurAoanAy. Pengumpulan Data Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan . ibrary researc. Dalam usaha pengumpulan data, peneliti menggunakan metode dokumentasi yakni metode pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Sehingga teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer dan data sekunder baik berupa buku-buku, artikel, jurnal, skripsi, tesis dan berbagai data yang bersumber dari kepustakaan yang berkaitan dengan tema Pengolahan Data Dalam pengolahan data, pertama-tama peneliti mengumpulkan data-data dari sumbersumber yang sudah disebutkan di atas yang ingin difokuskan dalam tema penelitian. Kemudian melakukan analisis terhadap lafadz taubah dan inAbah dengan meliputi langkah-langkah: 1. mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan lafadz taubah dan inAbah, 2. ) mencari makna dasar lafadz taubah dan inAbah, 3. ) melakukan anlisis sintagmatik dan paradigmatik terhadap kedua lafadz tersebut, sehingga dihasilkan kesimpulan yang tepat dan jelas. Sehingga dengan hal tersebut, akan bisa dijelaskan bagaimana relevansi teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur dalam al-QurAoan. Analisis Data Dirujuk dari buku karya Emzir dijelaskan bahwa analisis data merupakan suatu proses sistematis pencarian dan pengaturan materi-materi yang telah dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi-materi tersebut dan untuk memungkinkan peneliti menyajikan apa yang sudah ditemukan kepada orang lain. Sehingga dalam suatu penelitian, usaha analisis data sangat penting untuk dilakukan supaya data-data yang sudah dikumpulkan kembali dianalisis untuk memutuskan objek mana yang ingin difokuskan dalam penelitian. Setelah menelusuri dan membaca literatur-literatur primer dan sekunder, peneliti kemudian menganalisis data tersebut dengan metode deskriptif analitis yaitu dengan memaparkan latar belakang pemikiran Muhammad Syahrur mengenai gagasan teori anti sinonimitas, kemudian mengambil sampel dua kosakata dalam al-QurAoan yang dianggap sinonim yang dalam penelitian ini adalah kata taubah dan inAbah. Kemudian dikorelasikan dengan teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur. HASIL DAN PEMBAHASAN Diskursus dan Aplikasi Teori Anti Sinonimitas Muhammad Syahrur Terhadap Lafadz Taubah dan InAbah Pandangan Muhammad Syahrur terhadap Sinonimitas Sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya kaitannya dengan pendekatan yang digunakan dalam mengkaji kandungan al-QurAoan, yaitu menggunakan metode dan pendekatan yang diusung oleh Abu Ali al-FArisi, al-Jinni dan al-JurjAni yang diperkenalkan oleh JaAofar Dikk al-BAb yang pada akhirnya berujung pada penolakan terhadap sinonimitas atau penganut teori anti sinonimitas. Syahrur menjadikan MuAojam MaqAyys al-Lughah sebagai rujukan wajibnya yang pengarangnya adalah Ibnu FAris yang merupakan tokoh penganut teori anti sinonimitas. Syahrur sejalan dengan tokoh yang menolak sinonimitas. Syahrur mengatakan bahwa dengan menerima sinonim dalam bahasa maka sama saja dia telah mengingkari kesejarahan bahasa yang asalnya bersentuhan dengan konteks sosial sehingga bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan berubah dan berkembangnya konteks sosial. Sehingga dari hal ini menjadikan suatu lafadz tidak akan sama arti dan maknanya dengan lafadz yang lain. Muhammad Syahrur menawarkan prinsip takwil dengan berpegang teguh bahwa bahasa Arab tidak mengandung sinonim, bahkan sebaliknya bisa saja satu kosa kata memiliki makna lebih dari satu. Tidak ada satu pun kata yang dapat menggantikan kata yang lain tanpa mengubah maknanya baik sedikit ataupun banyak. Sehingga Syahrur berusaha menelaah lafadz-lafadz sinonim dan mendapatkan makna yang berbeda satu sama lainnya. Penolakannya terhadap sinonimitas ini dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang sebelumnya dari ahli linguistik yang menolak sinonimitas. Contohnya dari Ibnu FAris yang mengungkapkan bahwa Aukata-kata yang dianggap sinonim dalam kajian bahasa sebenarnya tidak benar-benar sama, akan tetapi memiliki perbedaan aksentuasi makannya tersendiri. Namun demikian, sikap keterbukaan Syahrur yang menawarkan prnsip-prinsip baru dalam penafsiran al-QurAoan tidaklah bersifat final. Syahrur tidak menutup diri dari kritikan dan penolakan terhadap pemikirannya. Hal ini sesuai dengan prinsip yang dianutnya bahwa hasil pemikiran manusia bersifat nisbi-relatif yang kebenarannya tidak absolut bahkan jika kebenaran yang diyakini adalah kebenaran yang paling dipercaya pada suatu zaman akan bisa berubah dengan perubahan dan perkembangan zaman. Selain itu agar proses analisis dan interpretasi terhadap al-QurAoan terus berjalan sampai akhir zaman sehingga pemikiran keislaman tidak mengalami stagnan. Aplikasi Teori Anti Sinonimitas Muhammad Syahrur terhadap Lafadz Taubah dan InAbah Makna Dasar Taubah dan InAbah dalam Al-QurAoan Makna Dasar Lafadz Taubah Taubat adalah sebuah kata yang diambil dari bahasa Arab, yaitu taubah. Taubat merupakan suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang hamba atas segala dosa yang Imam Nawawi menjelaskan dalam kitabnya bahwa suatu taubat akan diterima apabila memenuhi beberapa syarat. Apabila seorang hamba berbuat maksiat kepada Allah maka syarat taubatnya adalah, pertama berhenti dari perbuatan maksiat, kedua menyesali atas perbuatan maksiat yang telah dilakukan, ketiga berjuang dan berupaya untuk tidak kembali kepada Aoperbuatan maksiat tersebut selamanya. Jika maksiat itu berkaitan dengan hak sesama manusia, maka syarat taubat itu ditambah satu yaitu mengembalikan setiap hak manusia yang telah diambil haknya. Dalam bahasa Arab, taubah adalah suatu kata masdar yang diambil dari akar kata tAbA. Selain taubah, kata tAbA memiliki bentuk kata masdar yang lain seperti tauban, matAban, tAbatan dan tatwibatan. Dalam kitab MuAojam MaqAys al-Lughah dijelaskan bahwa taubah adalah kata yang terdiri dari tiga huruf, yaitu taAo, waw dan baAo. Secara etimologi kata taubah diambil dari bahasa Arab yaitu A o Ae aA- A ciAyang menunjukkan kepada arti A( Akembal. Seperti suatu ibarat yang diungkapkan A a eAsama dengan ungkapan AO U o coaA A( O oacaAkembali kepada Allah dengan meninggalkan dos. Secara etimologis taubah dapat dimaknai sebagai al-rujuAo . dan al-nadm . Sementara menurut terminologi taubah adalah kembali kepada Allah dengan sepenuh hati dan dengan penuh kepasrahan serta melaksanakan semua perintah Allah. Sehingga taubah dapat dimaknai sebagai suatu perbuatan kembali kepada Allah atas perbuatan maksiat dan dosa yang telah dilakukan dan menggantinya dengan perbuatan shalih serta menyesali seluruh perbuatan dosa yang telah dilakukan. Dalam LisAn al-AoArab dijelaskan bahwa lafadz taubah bermakna kembali dari suatu perbuatan maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah. Abu Manshur juga menjelaskan bahwa taubah adalah kembali kepada Allah untuk mengharapkan ampunan atas dosa-dosa yang diperbuat. Al-RAghib al-AshfahAni dalam kitabnya menjelaskan bahwa lafadz taubah bermakna meninggalkan perbuatan dosa dengan cara terbaik. Dalam artian taubah ini adalah sebuah bentuk permintaan maaf seorang hamba kepada Allah dengan cara yang paling mengena, yaitu dengan mengakui bahwa perbuatan dosa yang dilakukannya adalah perbuatan yang salah dan buruk kemudian bersedia untuk meninggalkannya serta akan menggantinya dengan perbuatanperbuatan baik. Kemudian menurut SyariAoat lafadz taubah bermakna meninggalkan dosa karena jeleknya perbuatan tersebut, menyesali akan perbuatan yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan tersebut, dan sebisa mungkin untuk memperbaiki diri dengan menggantinya dengan perbuatan yang baik. Dalam kitab Al-MufradAt fi Gharib Al-QurAoAn dijelaskan bahwa lafadz taubah memiliki beberapa derivasi di dalam al-QurAoan. di antaranya kalimat tAba ila AllAh memiliki arti kepada mengingat sesuatu yang dapat mendorong kita untuk kembali kepada Allah. Hal ini bisa dilihat dalam ayat al-QurAoan QS. An-Nur 24: 3I AaO aecae aa A Aa aaeUUa aa eaeIaaeaI aUaaue aeiaaeaIAe Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. Kemudian lafadz al-taib menunjukkan arti kepada seorang hamba yang berusaha keras untuk bertaubat kepada Allah, namun terkadang juga menunjukkan kepada arti terhadap Dzat yang Maha menerima taubat. Sehingga bisa dikatakan alAoabdu tAibun ila AllAh . amba itu berusaha keras untuk bertaubat kepada Allah )dan berkata Allahu tAibun AoalA Aoabdihi (Allah menerima taubat dari hamba-Ny. Sedangkan lafadz al-tawwAb menunjukkan kepada arti hamba yang banyak melakukan taubat, yaitu hamba yang menggunakan setiap waktunya untuk berusaha meninggalkan dosa secara berangsur-angsur, sehingga dapat meninggalkan semua dosa. Akan tetapi di lain konteks lafadz ini juga dapat berarti bahwa Allah selalu menerima taubat yang dilakukan hamba-Nya setiap saat. Kemudian yang terakhir adalah lafadz matAba yang menunjukkan kepada arti pekerjaan taubat yang dilakukan secara sempurna. Kesempurnaan taubat itu ditunjukkan dengan menggabungkan antara meninggalkan perbuatan dosa dan menggantinya dengan perbuatan amal shalih. Hal ini bisa dilihat dalam ayat al-QurAoan QS. Al-FurqAn . : 71. Aa ao aacUaAe a aUa ea ao aeA A aa A a A aOA a AaOae a a AUa Siapa yang bertobat dan beramal saleh sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya. Dikutip dari kitab al-MuAojam al-Mufharas li AlfAzh al-QurAoAn al-Karm, bahwa lafadz taubah beserta derivasinya diulang sebanyak 87 kali di dalam al-QurAoan. Setelah menelusuri dan menganalisa lafadz taubah dalam al-QurAoan melalui kitab MuAojam al-Mufharas li AlfAzh al-QurAoAn al-Karm, peneliti mendapatkan beberapa makna yang ditunjukkan oleh lafadz taubah, di antaranya sebagai berikut: Allah menerima taubat hamba-Nya, ini terdapat dalam QS. 2:37, 2:54, 2:187, 5:71, 9:117, 9:118, 20:122, 25: 71, 2:160, 3:128, 4:117, 4:26, 4:27, 33:73, 9:104, dan 42:25. Kembali taat setelah melakukan suatu perbuatan dosa, terdapat dalam QS. 5:39, 6:54, 4:16, 3:89, 4:146, 5:34 7:153, 16:119, 24:5, 2:160, dan 5:34. Perintah bertaubat dan kembali kepada ketaatan, terdapat dalam QS. 58:13, 9:5, dan 9:11. Allah memberikan keringanan kepada hamba-Nya, terdapat dalam QS. 73:20. Pengakuan taubat dari seorang hamba, terdapat dalam QS. 4:18, 7:143, dan 46:15. Pertaubatan yang ditolak oleh Allah, terdapat dalam QS. 3:90. Anjuran untuk melakukan taubat, terdapat dalam QS. 2:279, 9:3, 66:4, 9:74, 5:74, dan 9:126. Berharap taubatnya diterima, terdapat dalam QS. 2:128. Jenis pertaubatan, terdapat dalam QS. 4:17, 4:18, 4:92, 66:8, dan 25:71. Allah Maha Penerima Taubat, terdapat dalam QS. 40:3, 2:37, 2:54, 2:128, 2:160, 9:104, 9:118, 24:10, 24:49, 24:12, 4:16, 4:64, 4:110, 4:3, dan 13:30. Balasan bagi orang yang bertaubat, terdapat dalam QS. 19:60, 25:70, 28:67, dan 11:3. Balasan bagi hamba yang tidak mau bertaubat, terdapat dalam QS. 49:11 dan 85:10. Allah memberikan ampunan bagi orang-orang yang bertaubat, terdapat dalam QS. 20:82, dan 40:7. Perintah untuk bertaubat, terdapat dalam QS. 2:45, 11:52, 11:61, 11:90, 24:31, 66:8. Hak prerogatif Allah untuk menerima atau tidaknya taubat seorang hamba, terdapat dalam QS. 9:15, 9:27, 9:102, 9:106, dan 33:24. Perintah istiqomah pada ketaatan bagi orang yang bertaubat, terdapat dalam QS. 11:112. Laki-laki yang bertaubat, terdapat dalam QS. 9:112. Perempuan yang bertaubat, terdapat dalam QS. 66:5. Dari beberapa definisi yang didapatkan dari beberapa literatur dan sumber kamus terdahulu, dapat diambil kesimpulan bahwa lafadz taubah bermakna suatu perbuatan kembali kepada Allah karena telah melakukan suatu perbuatan dosa dan kesalahan dan menggantinya dengan ketaatan kepada Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan shalih yang dapat mendatangkan ampunan Allah. Makna Dasar Lafadz InAbah Secara etimologis lafadz inAbah berasal dari akar kata yang terkonstruksi dari tiga huruf yaitu nun, waw dan baAo yaitu AA U AaeA. Diambil dari kata UA aO aecaiA- A aecUaA- AA a A aaeA- AA a a. Dalam kitab Lisan al-AoArab dijelaskan bahwa lafadz naubun bermakna suatu tempat yang berjarak denganmu seperti perjalanan satu hari satu malam. Lafadz nauba juga dapat diartikan sebagai tempat yang dekat sebagaimana dapat ditemukan dalam syair-syair pra Islam, sebagai contoh dapat dilihat dalam syair berikut ini: An uN a ua oa oaA Aku seperti musafir yang merindukan sumber air, tempat tongkatnya menancap di tanah. Dalam syair ini lafadz naub diartikan dengan makna tempat yang dekat akan tetapi lafadz naub disandingkan dengan lafadz ghairi sehingga bermakna tempat yang tidak dekat. Penyair ini hendak mengungkapkan kerinduannya kepada seorang kekasih yang jaraknya sangat jauh dengannya, kerinduannya itu ia umpamakan seperti seorang musafir yang sangat merindukan sumber air yang ia tidak tahu di mana tempatnya karena jauh jarak antara dirinya dengan sumber air. Ibnu AAorAbi juga mengatakan bahwa naubu bermakna kembali untuk mendatangi suatu tempat berkali-kali. Ia mencontohkan pada kalimat sebagai berikut: A e U a oacA,A I E c cau aA Naubu adalah menuntun seekor unta ke sumber air pada pagi hari, maka unta itu datang lagi ke sumber air tersebut pada sore hari. Dalam kalimat ini lafadz intAba memiliki makna kembali kepada suatu tempat berkalikali. Ibnu AAorAbi mengumpamakannya seperti seekor unta yang selalu kembali untuk mendatangi sumber air yang sudah diketahuinya, hal ini dilakukan karena unta tersebut membutuhkan air sehingga selalu mendatangi sumber air tersebut berulang-ulang. Kata InAbah ini memiliki makna asal yaitu AA a A( aeAkembal. Al-AshfahAni mengartikan lafadz inAbah dengan rujAou al-syaiAoi marrotan baAoda ukhrA . embalinya sesuatu berkali-kal. Sedangkan Ibnu Manzhur memaknai lafadz inAbah dengan pengertian luzm althAAoah wa al-iqbAl Aoala AllAh wa al-rujAo ilA amrillAh bi al-taubah . emaksakan diri dalam menjalankan ketaatan, menghadap kepada Allah, dan kembali kepada perintah Allah dengan melaksanakan tauba. Hal ini bisa dilihat di dalam al-QurAoan Al-Zumar . : 54: AaO aaeea ee a a accaueA A( aO aeaae aAkembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Ny. Dijelaskan bahwa ayat ini diturunkan kepada suatu kaum yang diberikan ujian dalam agama dengan keluar dari agama Islam. Dengan itu Allah memberikan kepada orang-orang tersebut azab sehingga mereka kembali memeluk agama Islam. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan ampunan dari Allah setelah mereka kembali kepada agama Islam. Maka Allah memberitahukan bahwa mereka akan diampuni apabila mereka bertaubat dan berserah diri kepada Allah. Dalam kitab MuAojam MaqAys al-Lughah dijelaskan bahwa lafadz inAbah diambil dari kata nawaba yang menunjukkan kepada makna iAotiyAdu makAnin . erkunjung kepada suatu Maksudnya adalah datang kepada suatu tempat tertentu secara rutin atau bergiliran. Kemudian lafadz inAbah juga dimaknai dengan al-nahl . , dikatakan lebah karena diketahui bahwa lebah memiliki rasa suka . untuk kembali dan kebiasaannya kembali . erulang-ulang datan. kembali kepada tempatnya. Ibnu AoAthAAoillAh berpendapat bahwa inAbah adalah suatu bentuk taubat seorang hamba yang takut akan siksaan Allah. Sedangkan menurut ImAm Qusyairy pengertian inAbah adalah merupakan suatu sifat yang dimiliki oleh orang-orang mulia seperti para Wali dan Nabi Allah. Hal ini sesuai dengan firman yang tercantum dalam al-QurAoan: a U AaI aecaaea aeU aONU aaeA Sesungguhnya Ibrahim itu penyantun, lembut hati dan suka kembali. Dikutip dari kitab MuAojam Mufharas li AlfAzh al-QurAoAn al-Karm, bahwa lafadz inAbah beserta derivasinya diulang sebanyak 18 kali di dalam al-QurAoan. Setelah menelusuri dan manganalisa lafadz inAbah tersebut, peneliti mendapatkan beberapa makna yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut, di antaranya sebagai berikut: Allah memberikan petunjuk kepada orang yang senantiasa bertaubat, terdapat dalam QS. 13:27 dan 42:13. Perintah untuk mengikuti jalan orang yang selalu bertaubat, terdapat dalam QS. 31:15. Melakukan pertaubatan setelah diberikan suatu ujian atau rasa takut, terdapat dalam QS. 38:24, 38:34, 39:17, 39:8 dan 30:33. Penyerahan diri seorang hamba dan kembali kepada Allah dengan sepenuh hati, terdapat dalam QS. 60:4, 11:88 dan 42:10. Orang yang selalu bertaubat dapat menangkap dan mengambil pelajaran dari segala fenomena yang terjadi di alam semesta, terdapat dalam QS. 40:13, 34:9 dan 50:8. Perintah untuk selalu dan senantiasa kembali kepada Allah, terdapat dalam QS. 39:54 dan 30:31. Orang yang selalu bertaubat adalah termasuk orang-orang yang mulia, terdapat dalam QS. 11:75 dan 38:24. Orang yang selalu bertaubat adalah merupakan ciri-ciri penghuni surga, terdapat dalam QS. 50:33. Dari beberapa definisi yang telah dipaparkan di atas, peneliti berkesimpulan bahwa lafadz inAbah bermakna suatu perbuatan taubat dengan kembali kepada Allah secara terus menerus untuk menjadikan hubungannya dengan Allah semakin dekat, hal ini karena pertaubatan ini merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkannya. Selain itu pertaubatan ini juga dilakukan atas dasar ketakutan seseorang tehadap murka dan siksa dari Allah yang akan ditimpakan jika tidak bertaubat. Analisis Sintagmatik pada Lafadz Taubah dan InAbah Analisis sintagmatik adalah analisis yang mencoba untuk mencari arti dalam sebuah kata dengan melihat kata-kata sebelum dan sesudahnya yang sudah tercantum. Pada bagian ini peneliti akan menggunakan metode analisis ini untuk mendapatkan makna yang terdapat pada lafadz taubah dan inAbah di dalam al-QurAoan. Lafadz Taubah Setelah mengumpulkan dan menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan lafadz taubah pada pembahasan sebelumnya, lafadz taubah beserta derivasinya disebutkan di dalam alQurAoan sebanyak 87 kali. Secara umum lafadz taubah menunjukkan makna kembali kepada ketaatan setelah melakukan suatu perbuatan dosa. Namun ketika melihat beberapa ayat atau kata yang berada di sekitar lafadz taubah, maka akan ditemukan makna yang menunjukkan kepada beberapa pemaknaan, yaitu sebagai berikut: AaO aecae aa A Aa aaeUUa aa eaeIaaeaI aUaaue aeiaaeaIAe Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu Taubah bermakna kembali setelah melakukan dosa Ketika memperhatikan ayat-ayat yang menggunakan lafadz taubah, maka akan banyak ditemukan lafadz tersebut digunakan dalam konteks perintah Allah kepada seorang hamba untuk kembali kepada kebenaran setelah melakukan suatu perbuatan dosa dan kezhaliman. Dalam artian, lafadz taubah secara khusus diperuntukkan kepada pertaubatan yang dikerjakan setelah melakukan perbuatan dosa, dan perintah bertaubat yang menggunakan lafadz tb ditujukan dan diperuntukkan kepada hamba yang melakukan perbuatan dosa. Pemaknaan seperti ini banyak kita temukan dalam al-QurAoan, seperti dalam ayat berikut: a A ae caeUaA a ae AaiaeU aeUA a Aa ao aeAe e a Aean aOA AUaea aI A a eaI A a AA a Aeaae a Maka, siapa yang bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam kitab tafsir al-Thabari dijelaskan bahwa ayat ini turun karena peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah. Seorang perempuan mencuri sebuah perhiasan namun ia tertangkap oleh pemilik perhiasan sehingga pencuri tersebut dilaporkan kepada Rasulullah. Maka Rasulullah memerintahkan agar pencuri tersebut dipotong tangan kanannya. Maka pencuri tersebut bertanya Auapakah ini termasuk sebuah pertaubatan ya Rasulullah?Ay Rasulullah menjawab: AuHari ini engkau telah suci dari kesalahan seperti engkau baru dilahirkan ibumuAy. Taubah bermakna meminta ampun Selanjutnya, perintah taubat yang menggunakan lafadz tb sering disandingkan dengan perintah istaghfir . inta ampunla. Sehingga pertaubatan ini menuntut kepada penerimaan taubat dari Allah, hal ini bertujuan untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Dalam hal ini dapat kita lihat dalam ayat alQurAoan berikut: a e as eA e aAO eA a A OaeIAyIAA U AO aaI eo aeaaiaeO acaue u a aeca ee aaea aa ao ceUaue o a a a aOaeI aae ea ac ee a a AUa a aas A a AUa aA e A au aA A aesI auaeesA a AUaeaueA a AUaA Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu . i duni. sampai waktu yang telah ditentukan . dan memberikan pahala-Nya . i akhira. kepada setiap orang yang beramal saleh. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu . ditimpa azab pada hari yang besar . Sehingga bagi orang-orang yang melakukan suatu perbuatan dosa, maka mereka diperintahkan untuk bertaubat dengan sebaik-baiknya, hal ini agar pertaubatan yang dilakukannya itu diterima oleh Allah. Jika seseorang sudah melakukan taubat, maka dengan kekuasaan-Nya apakah taubatnya diterima atau ditolak. Sehingga apabila taubat orang tersebut dilakukan dengan sebenar-benarnya maka kesalahannya akan dihapus dan akan dimasukkan ke dalam surga. Hal ini termaktub dalam al-QurAoan, yaitu: s A acaue aOaeaue aA AnA A ea a aea aae aeca ee aa A a Aa aecaiU Ae a AeUaA a AU acaue aeI au aicaA a AUeaueA Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurnimurninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga. Taubah bermakna memberi keringanan a Aia aOu aau a aOA e A aI acao aeUaa aao aoaeaI ae ae u aau a a ea aOaA AiaiU aca aea aUaao aO Ayea a AUaa aeI e aeA aAeNA a Aa aoa aca ea aOae Aa aa eoaeaIA AUaeaue eaaeaaeO aa aa A a AA a Aeao a Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Nabi Muhamma. kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan . emikian pul. segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menghitungnya . ecara terperinci waktu-waktu tersebut sehingga menyulitkanmu dalam melaksanakan salat mala. Maka. Dia kembali . emberi keringana. Akhirnya, dari pemaparan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa taubat yang menggunakan lafadz taubah menunjukkan kepada taubat yang dilakukan oleh seorang hamba yang berdosa kemudian kembali kepada ketaatan dan berusaha mengganti kesalahankesalahannya dengan perbuatan-perbuatan shalih. Sehingga dari hal itu taubat yang menggunakan lafadz taubah ditujukan kepada manusia biasa secara umum, yakni manusia yang tidak terlepas dari perbuatan dosa sehari-hari. Sehingga ketika manusia melakukan perbuatan dosa maka dianjurkan supaya bersegera dalam bertaubat untuk menghapus dosa yang telah dikerjakannya. Lafadz InAbah Setelah mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan lafadz inAbah beserta derivasinya di dalam al-QurAoan, maka lafadz inAbah dapat dipahami kepada beberapa makna seperti sebagai berikut: Inabah bermakna kembali dan berpasrah diri kepada Allah AaeOaIA a AaO aaeea ee a a accaue aO aeaae a ae aeea aeI E eaua eUa a A u a a aeA Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserahdirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong. Pada ayat sebelumnya Allah memberikan pernyataan kepada hamba yang melampaui batas agar jangan pernah berputus asa atas rahmat dan ampunan Allah, karena sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang ampunannya sangat luas walaupun hamba tersebut membawa dosa yang sangat banyak. Selanjutnya dalam ayat ini, hamba tersebut diperintah untuk selalu bertaubat dan kembali menuju ketaatan kepada Allah dengan selalu mengerjakan perintah Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pertaubatan ini ditekankan untuk selalu dikerjakan dan dibiasakan dalam keadaan bagaimanapun agar terhindar dari suatu adzab atau bencana yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah. InAbah bermakna kembali untuk mendapatkan hidayah Taubat yang menggunakan lafadz inAbah menunjukkan kepada sebuah perbuatan taubat yang senantiasa dilakukan dan dibiasakan dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini bertujuan agar seseorang menjadi selalu dekat dan senantiasa mengingat Tuhannya dalam setiap keadaan sehingga akan menjauhkan dirinya dari kelalaian. Orang yang senantiasa membiasakan dirinya selalu kembali kepada Allah, maka dia akan selalu mendapatkan petunjuk atas segala masalah yang dialaminya dan akan lebih mudah menangkap pelajaran dari fenomena-fenomena alam yang terjadi. Hal ini bisa dibuktikan dari ayat sebagai berikut: e a AaOaoaeaE aea auiaaeO aeA a AA ae A ee a aOaeaA AUaea aiU ace acc n ae aI A a A aeaaEA a n AO aaea ae a a a Aa Ae Orang-orang yang kufur berkata. AuMengapa tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhamma. dari Tuhannya?Ay Katakanlah (Nabi Muhamma. AuSesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk ke . -Nya bagi orang yang Ay a AO aaeaue aon aOacaE aaue aca A a a aeUa aOaa ao aaua a ae aeA e a aA Dialah yang memperlihatkan tanda-tanda . -Nya kepadamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Yang mendapat pelajaran tidak lain, kecuali orang-orang yang kembali . epada Alla. InAbah bermakna taubat yang senantiasa dilakukan Pertaubatan yang senantiasa dikerjakan dan selalu dibiasakan dalam aktivitas seharihari akan mengakibatkan kepada kebersihan hati dari kotoran dosa dan kelalaian yang dapat menghalangi masuknya hidayah dan petunjuk atas fenomena-fenomena yang terjadi dalam Itulah sebabnya orang-orang yang selalu membiasakan dirinya untuk bertaubat dan selalu menjalankan ketaatan kepada Allah dapat dengan mudah mendapatkan hidayah dari Allah dan dapat dengan mudah mengangkap pelajaran dari suatu peristiwa. Sehingga orangorang yang terbiasa untuk selalu bertaubat termasuk ke dalam orang-orang yang mulia dan termasuk ciri-ciri dari penghuni surga. Dalam al-QurAoan. Allah berfirman: a U AaI aecaea aeU aONU aeA Sesungguhnya Ibrahim benar-benar penyantun, pengiba, lagi suka kembali . epada Alla. a s o Aa aeA s Aa aOa acoaeA a A ea acaeaaeA a Aae a (Diala. orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih . dia tidak melihat-Nya dan dia datang . enghadap Alla. dengan hati yang bertobat. InAbah bermakna kembali karena takut Selanjutnya, di dalam al-QurAoan lafadz inAbah biasa digunakan untuk menunjukkan pertaubatan yang dilakukan bukan karena telah melakukan dosa atau kesalahan, melainkan disebabkan rasa takut. Rasa takut ini terbagi menjadi dua, yaitu, pertama rasa takut karena suatu peristiwa membahayakan yang akan menimpanya, seperti dalam ayat sebagai berikut: AUe acae aeaeea aaea u a aae ae acea aeaiU aa eaaeUn aceae aca accae aeaaueoaIA a AA AaOaa a A a aA A a A aA Apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali . kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya. kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Tuhannya. Kedua, rasa takut yang disebabkan karena mendapatkan suatu ujian dari Allah berupa sakit dan sebagainya. Sehingga hamba tersebut bertaubat agar diberikan kekuatan dalam menghadapinya dan bisa selamat dari ujian yang diberikan oleh Allah. a AaOaoae eao a a Aaea aO aeoaea a AU u a a a AU auea acn aA Sungguh. Kami benar-benar telah menguji Sulaiman dan Kami menggeletakkan(-ny. di atas kursinya sebagai tubuh . ang lemah karena saki. , kemudian dia bertobat. Dari ayat ini maka dapat kita pahami bahwa pertaubatan yang menggunakan lafadz inAbah di dalam al-QurAoan itu menunjukkan kepada makna pertaubatan yang dilakukan oleh seorang hamba bukan karena perbuatan dosa yang dilakukannya, melainkan karena ada perasaan takut akan suatu yang tidak diinginkannya terjadi pada dirinya, baik berupa suatu bahaya atau ujian yang diberikan oleh Allah jika ia tidak kembali. a AUaea aaueA a a An aOaaea aaeA a ayAaOaa aeaeeao ee a acaA Tidak ada kemampuan bagiku . ntuk mendatangkan perbaika. melainkan dengan . Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya . aku kembali. InAbah bermakna selalu berbuat kebaikan Hal ini bisa dilihat dari firman Allah dalam al-QurAoan QS. Az-Zumar . : 17. AaOaea eo aaea A c a a a eeaeoO eaeAe a AEaA Ae aUeaa aoA a AaeA A aeI eUeaaeOaa aO aca ee aa A Orang-orang yang menjauhi tagut, . tidak menyembahnya dan kembali . kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. Pada teks al-QurAoan ini dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak menyembah thagut . erhala dan sejenisny. dan selalu kembali kepada Allah maka mereka termasuk ke dalam hamba yang mendapatkan kabar gembira. Dalam ayat ini lafadz inAbah tidak disandingkan dengan perbuatan dosa dan kezhaliman, sehingga dapat dipahami taubat yang menggunakan lafadz inAbah bukan berarti karena telah melakukan dosa akan tetapi karena dasar ketaatan kepada Allah sehingga membiasakan dirinya untuk kembali kepada Allah. Aao aea a AyeAa aOA a Aao ae aOa eaeeayeAa aO aOAe a Aaea aeo aaUaeaI eoaeaE eaao aeUaeaI aeA (Yait. mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab . rang-orang yang mempunyai akal seha. Pada ayat selanjutnya yaitu Al-Zumar . : 18. Allah memberikan ciri-ciri orang yang selalu kembali, yaitu orang-orang yang selalu mendengarkan perkataan Tuhannya dan mengikuti semua kebaikan yang diperintahkan. Sehingga dengan itu ia menjadi orang yang mendapatkan hidayah dan termasuk kepada golongan hamba ulul albAb yaitu orang yang memiliki akal sehat. Teks ayat al-QurAoan di atas dapat menguatkan pendapat bahwa lafadz inAbah digunakan untuk menunjukkan makna taubat untuk usaha meningkatkan ketaatan kepada Allah bukan karena telah melakukan dosa. Di dalam al-QurAoan, lafadz inAbah tidak pernah disandingkan dengan lafadz istagfara . ermohonan ampun atas dos. Akan tetapi lafadz inAbah sering disandingkan dengan lafadz tawakkala atau aslama yang menunjukkan kepada makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam artian pertaubatan yang menggunakan lafadz inAbah dilakukan untuk usaha selalu bisa mendekatkan diri dengan Allah sehingga dapat melakukan ketaatan secara terus menerus. Analisis Paradigmatik pada Lafadz Taubah dan InAbah Analisis paradigmatik adalah metode analisis linguistik yang berfokus pada hubungan antara unsur-unsur bahasa seperti kata-kata atau tanda yang dapat dipertukarkan atau memilki kesamaan dalam suatu konteks tertentu, baik yang hadir maupun tidak hadir dalam teks Analisis ini mengidentifikasi hubungan potensial antara elemen dalam teks dengan elemen lain yang dapat menggantikannya. Contohnya dalam kalimat AoMuhammad membaca bukuAo, kata Muhammad bisa diganti dengan kata murid atau kata buku bisa diganti dengan kata al-QurAoan. Lafadz Taubah Pada analisis ini yaitu dalam pencarian lafadz yang memiliki kesamaan dengan lafadz taubah, maka peneliti menggunakan bantuan aplikasi atau website online yaitu muAojam alMaAoAniy. Peneliti mendapatkan beberapa lafadz yang mendekati makna lafadz taubah, yaitu: AOciA Dikutip dari kamus al-QurAoan karya al-Ashfahani lafadz aubah bermakna kembali. Namun kembali pada lafadz ini tidak dikatakan kecuali hanya untuk hewan yang memiliki keinginan untuk kembali. Lafadz aubah merupakan kata mashdAr, isim zamAn . eterangan wakt. , dan isim makAn . eterangan tempa. dari akar kata maAoAba. Sehingga lafadz ini memiliki tiga pemaknaan yaitu, proses kembali, waktu kembali dan tempat kembali. Sedangkan untuk lafadz al-AwwAb sama seperti al-TawwAb yaitu hamba yang kembali kepada Allah dari kemaksiatan yang telah dilakukan kemudian melakukan ketaatan kepada Allah. Seperti firman Allah dalam QS. Ad . : 30. U Aaea aeUa eUaeea a e aOA a aOaOaeeaa aaOA Kami menganugerahkan kepada Daud . nak bernam. Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik Sesungguhnya dia sangat taat . epada Alla. IqlAAo merupakan kata yang diambil dari kata dasar tiga huruf yaitu huruf qaf, lam dan Aoain. Dalam kitab MuAojam MaqAyis al-Lughah dijelaskan bahwa iqla bermakna mencabut sesuatu dari sesuatu. Lafadz iqlAAo juga dapat bermakna berhenti, menahan diri dan ini dapat kita temukan di dalam al-QurAoan QS. Hd . : 44. e A eaea aOeo a AO a aOaea caeUU aceoaeaIA a AaOaea ea aeA a AA a aA ea aOA a A ecaaUe aE aOA a a aeaaUe aOaaeA c AUa eaeaA a a A A AOaaeaA Difirmankan . leh Alla. AuWahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah . encurahkan huja. Ay Air pun disurutkan dan urusan . embinasaan para pendurhak. pun diselesaikan dan . apal itu pu. berlabuh di atas gunung Judi. dan dikatakan. AuKebinasaanlah bagi kaum yang zalim. Ay Sehingga dapat dipahami bahwa kedua lafadz ini memiliki kemiripan makna, taubah bermakna berhenti dalam melakukan kemaksiatan, sedangkan lafadz iqlAAo juga bermakna berhenti yang pada konteks ayat ini Allah menyuruh langit untuk berhenti menurunkan air ke atas bumi untuk menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir besar. Kata ini diambil dari akar kata hasara yang dalam kamus al-QurAoan diartikan melepaskan pakaian dari sesuatu yang memakainya. Dikatakan hasartu Aoan ad-dzirAAo . aya melepaskan baju-baju pelindung dari yang sedang dipaka. Maknanya bahwa orang yang tidak mengenakan pakaian pelindung badan dan kepala. Hasrah juga memiliki arti penyesalan, hal ini bisa dilihat dari ayat al-QurAoan QS. Al-Baqarah . :167. s AA AUaeae aOaa aeA AanOaE aea eaUae ae aI a au U eaao aea a aeae auaa aeaaeO aa auaao aaeaa A a AA a Aa aeUae aAe AU acaaea aa a Orang-orang yang mengikuti berkata. AuAndaikan saja kami mendapat kesempatan kembali . e duni. , tentu kami akan berlepas tangan dari mereka sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami. Ay Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan bagi mereka. Mereka sungguh tidak akan keluar dari neraka. AiA Merupakan lafadz yang diambil dari akar kata nadima yang berarti menyesal. Maksudnya merasa rugi atas perubahan berpikir yang terjadi atas pekerjaan yang sudah berlalu. Sebagaimana firman Allah dalam al-QurAoan QS. Al-MA'idah . :31 Aeaa aa aaeaA e a Aea Maka, jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal. Dua lafadz terakhir, hasrah dan nadAmah memiliki kedekatan makna dengan lafadz taubah yaitu memiliki perasaan menyesal atas perbuatan yang pernah dilakukan, sehingga dengan perasaan itu ia merasa bersalah dan rugi atas perbuatan salah yang pernah dilakukan. Lafadz InAbah Sedangkan pada lafadz inAbah, penulis mendapatkan beberapa lafadz yang mendekati makna lafadz inabah, yaitu: Dikutip dari kamus al-QurAoan lafadz takhwil memiliki arti pemberian. Ada yang mengatakan pemberian Allah berupa suatu kenikmatan. Ada yang mengatakan memberikan sesuatu yang menjadi pemberian baginya. Ada yang mengatakan memberikan sesuatu yang ia harus jaga dengan baik. Sebagaimana dalam firman Allah QS. Al-AnAoAm . : 94 a AaOaoae aUeo aaeaa eaaO auaa aaeoaue aOaE as O aaeuo ae a aeaue aOa AaeaauoeA (Kin. kamu benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya. Kamu sudah meninggalkan di belakangmu . i duni. apa yang telah Kami karuniakan kepadamu. AiA Lafadz ini diambil dari akar kata fawwadha yang memiliki arti menyerahkan diri Hal ini merujuk pada ayat al-QurAoan QS. GAfir . :44 AeU acaeaUea ee A aeaA a Ao aeauaeOaI aa e aaeaE aaue aO aea c aA Aa aI Ae AO aa A a aA a cAe a aAeA Kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. Ay Ayat ini menjelaskan tentang nasihat dan dakwah yang dilakukan orang yang beriman kepada kaumnya. Setalah dakwahnya tidak didengarkan maka mereka mengakhiri dakwahnya dengan mengatakan bahwa di akhirat kelak kalian akan mengetahui kebenaran yang aku sampaikan dan pada hari itu penyesalan tidaklah berguna. Aku menyerahkan segala urusanku kepada Allah yang maha mengurus segala sesuatu di dunia ini. AuA Tawkil adalah lafadz yang diambil dari akar kata wakkala. Dalam kamus al-QurAoan dijelaskan bahwa lafadz tawkil memiliki makna menyandarkan diri kepada orang lain dan menjadikannya sebagai wakil. Sebagaimana firman Allah dalam al-QurAoan QS. An-NisA' . :81 Aa aOaueUAyAaOaui acaA Cukuplah Allah sebagai pelindung. Maksudnya cukuplah dengan Allah sebagai Dzat yang menguasai segala perkaramu dan sandarkanlah kepada-Nya. Kata tawkil dapat diartikan dalam dua jenis. pertama disebutkan dalam sebuah kalimat tawakkaltu li fulAn artinya aku menjadi wakil bagi fulan, maksudnya akan akan mengurusi urusannya. Kedua disebutkan dalam sebuah kalimat wakkaltuhu artinya aku menyandarkan padanya, sehingga ia menjadi wakilku yang mengurusi urusanku. Analisis Perbedaan Makna Taubah dengan InAbah Menurut Muhammad Syahrur Al-QurAoan dalam mengungkapkan tentang taubat tidak menggunakan satu lafadz, namun menggunakan lafadz yang beragam, di antaranya lafadz taubah dan inAbah. Kedua lafadz tersebut ditemukan di dalam al-QurAoan dengan keadaan berbeda sehingga dengan perbedaan tersebut akan mudah menemukan perbedaan makna yang dimiliki oleh masingmasing lafadz. Pada sub bab ini, peneliti membahas mengenai analisis perbedaan makna antara lafadz taubah dan inAbah dalam Al-QurAoan dengan menggunakan teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur. Teori ini menegaskan bahwa tidak ada dua kata dalam al-QurAoan yang memiliki makna sama persis . inonim mutla. Setiap perbedaan lafadz, sekecil apapun, mengandung perbedaan makna. Oleh karena itu, meskipun dalam literatur tafsir klasik kedua lafadz ini sering dianggap memiliki makna serupa. Syahrur menolak pandangan tersebut dan menekankan adanya perbedaan makna antara keduanya. Hal yang paling mendasar untuk dapat membuktikan perbedaan tersebut adalah dengan melihat kata dasar dari setiap lafadz. Kata taubah berasal dari akar kata A O Ayang bermakna AukembaliAy atau Auberpaling dari sesuatu menuju yang lainAy. Dalam konteks religius, taubah bermakna kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan atau dosa, dengan disertai penyesalan, permohonan ampun, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Sedangkan lafadz inAbah berasala dari akar kata A I O Ayang juga bermakna AukembaliAy namun lebih menekankan pada makna kembali dengan penuh kesadaran, ketundukan, dan kepasrahan total. Ulama Tafsir mendefiniskannya dengan rujAou al-syaiAoi marrotan baAoda ukhrA . embalinya sesuatu berkali-kal. Sedangkan ulama lain memaknai lafadz inabah dengan pengertian luzm al-thAAoah wa al-iqbAl Aoala AllAh wa al-rujAo ilA amrillAh bi al-taubah . emaksakan diri dalam menjalankan ketaatan, menghadap kepada Allah, dan kembali kepada perintah Allah dengan melaksanakan tauba. Sehingga dari definisi tersebut dapat dimaknai bahwa lafadz inabah tidak selalu terkait dengan dosa, melainkan lebih pada kesadaran spiritual seorang hamba untuk kembali dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sehingga dari perbedaan makna dasar dari kedua lafadz tersebut dapat ditarik suatu perbedaan makna antara kedua lafadz tersebut. Lafadz taubah menunjukkan kepada makna kembali kepada Allah karena perbuatan dosa yang dilakukan, sedangkan lafadz inabah menunjukkan kepada makna kembali kepada Allah karena ketundukan dan kepasrahan total dan merasa membutuhkan kepada perbuatan tersebut sehingga melakukannya secara rutin setiap saat. Selain itu, setelah melakukan analisis sintagmatik dan paradigmatik terdapat perbedaan makna yang mencolok antara lafadz taubah dan inAbah. Di dalam al-QurAoan sangat sering kita temukan bahwa lafadz taubah sering diiringi dengan kalimat gafara . Hal ini bisa dilihat dari ayat al-QurAoan QS. Ali AoImrAn . :89 a ae AaiaeU aeUA e a Aa aea aacae ae caeUa aao aOA ae eaI A kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki . Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hal ini menunjukkan bahwa lafadz taubah adalah kembali kepada Allah untuk meminta dan mengharapkan ampunan Allah atas dosa-dosanya. Konteks ayat tersebut menunjukkan bahwa taubah digunakan dalam situasi kesalahan dan kebutuhan untuk memperbaiki diri. Berbeda dengan lafadz inAbah, lafadz ini sering beriringan dengan lafadz tawakkala . erserah dir. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-QurAoan QS. Hd . : 88. a aE oaeaI aeo ae aeI aueA AUea aeI aaea aA a AUa Oaa e aaea aeI aiaaue a aa e aeaueA a AnA a AU ca acasi ace acce aOae aea aeUa aA a a a aa eoA a AUea aauA a AEeUA a a An aOaea aeA e A e aA a ayAn aOaa aeaeeao ee a acaA Dia (Syuai. AuWahai kaumku, jelaskan pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahiku rezeki yang baik . antaskah aku menyalahi perintah-Ny. Aku . tidak ingin berbeda sikap denganmu . alu melakuka. apa yang aku sendiri larang. Aku hanya bermaksud . perbaikan sesuai dengan Tidak ada kemampuan bagiku . ntuk mendatangkan perbaika. melainkan dengan . Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya . aku kembali. Hal ini menunjukkan bahwa lafadz inAbah bermakna kembali kepada Allah untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah atas segala perkara yang dia anggap sulit. Konteks ayat tersebut menunjukkan bahwa inAbah digunakan dalam suasana spiritual, penghambaan, dan kesadaran untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah. Berdasarkan hasil analisis peneliti, maka peneliti berpandangan bahwa teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur yang diaplikasikan pada lafadz taubah dan inAbah sesuai dengan teori tafsir kontemporer. Hal ini tercermin dari ciri-ciri tafsir kontemporer yang terdapat pada analisa peneliti. Di antaranya sebagai berikut: Bernuansa hermeneutis Hal ini tercermin dengan bagaimana Syahrur menginterpretasi dua lafadz yang sebelumnya dianggap sinonim menjadi lafadz-lafadz yang memiliki makna berbeda. Langkahlangkah yang Syahrur gunakan untuk mengidentifikasi perbedaan makna tersebut meliputi 1. mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu tema yang dikaji. ) mencari makna dasar dari setiap lafadz yang ingin dikaji. ) melakukan analisis sintagmatik. Dan 4. melakukan analisis paradigmatik. Langkah-langkah dan metodologi ini merupakan suatu inovasi yang diberikan Syahrur dalam menafsirkan al-QurAoan, sehingga dengan ini hasil tafsir yang didapatkan lebih mendalam dari pada hasil penafsiran terdahulu. Maka dengan metodologi dan langkah baru dalam menafsirkan al-QurAoan yang dilakukan Syahrur dapat menghasilkan penafsiran yang lebih relevan pada masa kini sehingga dapat mencerminkan ciri-ciri tafsir kontemporer yaitu bernuansa hermeneutis. Kontekstual Dalam menafsirkan teks al-QurAoan. Syahrur tidak sepenuhnya menggunakan metode para mufassir klasik, akan tetapi memformulasikan metode yang baru. Hal ini dilakukan agar keilmuan keislaman tidak mengalami stagnan, selain itu dengan metode yang terbaru tersebut, maka para mufassir akan mendapatkan makna suatu teks yang lebih mendalam. Ilmiah dan kritis Keilmiahan ini dapat dibuktikan dengan langkah dan metodologi yang digunakan Muhammad Syahrur dalam usaha interpretasi makna yang meliputi pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu tema tertentu, mencari makna dasar dari objek lafadz yang diteliti kemudian memperdalam interpretasinya dengan menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik sehingga dengan langkah-langkah tersebut dapat menghasilkan suatu penafsiran yang lebih mendalam dan hasil penafsiran akan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian pada bagian kritis tercermin dari tokoh Muhammad Syahrur yang dalam menafsirkan al-QurAoan tidak bergantung kepada suatu madzhab tertentu. Bahkan Syahrur dengan sangat tegas dan kritis terhadap pendapat ulama-ulama baik klasik maupun kontemporer yang ia anggap sebagai suatu hal yang tidak relevan lagi. Selanjutnya analisis peneliti sesuai dengan teori anti sinonimitas yang ditawarkan Muhammad Syahrur. Hal ini terlihat dari penemuan peneliti terhadap perbedaan makna antara lafadz taubah dan inAbah setelah melakukan analisis dengan teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur dan melalui langkah-langkah interpretasi Muhammad Syahrur. Sehingga dengan ini, penelitian ini sekaligus menguatkan teori anti sinonimitas yang dibawakan oleh pemikir sebelumnya seperti Abu al-AoAbbas Ahmad bin Yahya. Ibnu Jinni. Ibnu Faris. Abdul Qahir al-Jurjani, dan Muhammad Syahrur. Begitu pula dengan pemikir barat yang menolak adanya sinonimitas dalam kata seperti Goodman dan Stork yang mereka berpendapat bahwa setiap kata-kata memiliki pengaruh emosional dan memiliki isyarat-isyarat, sehingga mustahil terdapat kata bersinonim sempurna sehingga tidak ada dua kata yang mungkin salah satunya menggantikan kedudukan yang lain tanpa mengubah makna dasarnya. KESIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah yang peneliti susun, maka dapat disimpulkan bahwa, pertama diskursus teori anti sinonimitas dalam tafsir al-QurAoan pemikiran Imam Sibawaih. Abu Fatah Utsman Ibnu Jinni al-Mushiliy berpendapat adanya sinonimitas. Di lain sisi, pakar bahasa seperti Abu al-Abbas Ahmad bin Yahya TsaAolab. Abu Faris. Abu Hilal al-AoAskari dalam karya mereka menolak adanya sinonimitas. Muhammad Syahrur adalah salah satu tokoh yang menolak adanya sinonimitas dalam penafsiran al-QurAoan. Syahrur tokoh pemikir keislaman yang selalu gencar dalam mempromosikan teori anti sinonimitas, yakni teori yang berpandangan bahwa di dalam bahasa Arab dan al-QurAoan tidak ada kata yang sinonim. Setelah mengaplikasikan teori anti sinonimitas Muhammad Syahrur terhadap lafadz taubah dan inAbah, dengan melalui langkah-langkah berikut: pertama, mencari makna dasar dari lafadz taubah dan inAbah dan mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan kedua lafadz tersebut. Kedua, melakukan analisis sintagmatik terhadap lafadz taubah dan inAbah. Dan yang ketiga, melakukan analisis paradigmatik teerhadap lafadz taubah dan inAbah, sehingga ditemukan perbedaan makna yang signifikan. Lafadz taubah memiliki makna kembali kepada Allah untuk meminta dan mengharapkan ampunan Allah atas dosa-dosanya, sedangkan lafadz inAbah suatu perbuatan kembali kepada Allah yang dilakukan sebagai bentuk kepatuhan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga dari hasil penelitian peneliti ini secara tidak langsung menguatkan teori anti sinonimitas yang ditawarkan Muhammad Syahrur. REFERENSI Adz-Dzahabi. Ensiklopedia Tafsir. In terj. Nabhani Idris. Kalam Mulia. al-AshfahAni. -R. Kamus Al-QurAoan. In terj. Ahmad Zaini Dahlan. Pustaka Khazanah FawaAoid. Al-AshfahAni. -R. Al-MufradAt fi Gharib Al-QurAoAn. Maktabah NazAr MusthafA AlBAz. al-Baqi. AoAbd. Al-MuAojam Al-Mufahras Li AlfAzh Al-QurAoAn Al-Karm. Dar AlKutub Al-Mishriyyah. Al-Faruq. Al-Nasikh dan Al-Mansukh. Jurnal Pendidikan Islam, 1. Al-Nawawi. RiyAdh Al-ShAlihin. Dar Al-AoAbidin. Al-Qaththan. Studi Ilmu-Ilmu Al-QurAoan. In terj. Mudzakir AS. Pustaka Litera AntarNusa. Al-QurAoan Kementerian Agama RI. https://w. Al-ThabAri. Tafsir Al-ThabAri: JamiAo Al-BayAni Aoan Takwil ayyi Al-QurAoAn (Vol. DAr Hijr li Al-ThibAAoah wa Al-Nasyr wa Al-TawzhiAo wa Al-IAolAn. Alfian. Pemikiran Muhammad Syahrur. Hermeneutik: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 10. Almaany Arabic Dictionary. https://w. Basri. Metode Tartil dalam Penafsiran Al-QurAoan (Teori Interpretasi Muhammad Syahru. Jurnal Al-Wajid, 1. Emzir. Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. PT RajaGrafindo Persada. Fanani. Fiqih Madani. Konstruksi Hukum Islam di Dunia Moderen. LkiS. FAris. MuAojam MaqAyyis al-Lughah (Vol. Dar al-Jail. FAris. MuAojam MaqAyyis al-Lughah (Vol. Dar al-Jail. Fatimah. Analisis Semantik pada kata Safara Derivasinya dalam al-QurAoan: Studi Analisis Musytarak Lafdzi. Al-Suniyat, 2. Fawaid. Kaidah Mutaradif Al-Alfaz dalam Al-Quran. Mutawati: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis, 5. Flantika. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Global Eksekutif Teknologi. Hakim. Epistemologi Muhammad Syahrur: Penafsiran Kontemporer Al-QurAoan. ElMuAojam: Jurnal Kajian Al-QurAoan Dan Hadis, 4. Hanifah. Analisis Sinonimitas Kata Nazara Dalam Al-Quran (Studi Kitab Tafsir AlKasysyaf Karya Zamakhsyar. UIN Sultan Maulana Hasanuddin. Haris. Pembongkaran Muhammad Syahrur Terhadap Islam Ideologis. Sebuah Pengantar atas ide-ide Pemikiran Islam Kontemporer dalam Al-Kitab wa Al-QurAoan: QiraAoah MuAoasyirah. Jurnal Ijtihad, 3. Hidayat. Metode Penafsiran Al-QurAoan Menggunakan Pendekatan Linguistik Telaah Pemikiran M. Syahrur. Jurnal Madaniyah, 7. Isyanto. Asbabun Nuzul dalam Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer. Journal of QurAoan and Tafsir, 1. Inabah Dalam Al-QurAoan (Suatu Kajian Tahlili dalam Surah AlZumar/39:. UIN Alauddin Makassar. Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Khairunnisa. Hermeneutika Hudud menurut Muhammad Syahrur: Telaah tentang Relevansi Pemakaian Jilbab dengan Perkembangan Zaman. Tafse: Journal of QurAoanic Studies, 8. Kholison. Semantik Al-QurAoan: Mengurai Relasi Sinonimi dalam Al-QurAoan dan Fitur-Fitur Maknanya (Cet. Ke-. Pondok Pesantren Lisan Arabi. Labaso. , & Hestiana. Pendekatan Linguistik Dalam Pengkajian Islam. PEKERTI: Jurnal Pendidikan Islam & Budi Pekerti, 5. MaAoarif. Islam dan Modernitas. Tentang Transformasi Intelektual Fazlurrahman. Pustaka.