Analisis Tindakan Rasis Dalam Film Thailand AuA Little Thing Called LoveAy Feby Vitaloka . Sri Narti . Dilmai Putra . 1,2,. Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial. Universitas Dehasen Bengkulu Email: . Srinarti@Unived. ARTICLE HISTORY Received . Oktober 2. Revised . Desember 2. Accepted . Desember 2. KEYWORDS Racims. Film. Thailand. Roland Barthes Theory. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Film merupakan medium seni yang berpengaruh kuat dalam masyarakat, berperan sebagai sumber hiburan, pendidikan, dan pembentuk perspektif sosial melalui pengalaman audio-visual. "A Little Thing Called Love" film Thailand yang disutradarai oleh Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong, mengisahkan perjuangan seorang gadis bernama Nam dalam meraih perhatian Shone, siswa populer di sekolahnya. Film ini menampilkan isu rasis dan standar kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan rasis dalam film Thailand AuA Little Thing Called Love". Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang analisi teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis semiotik Roland Barthes digunakan untuk meneliti representasi rasis dan standar kecantikan dalam film ini, terutama melalui denotasi, konotasi, dan mitos yang tercermin dalam karakter dan alur cerita. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film AuA Little Thing Called LoveAy menyampaikan pesan berlapis melalui analisis semiotik pada tingkat denotatif, konotatif, dan mitos. dialog seperti AuDasar Hitam!Ay pada menit 06:51 mencerminkan bias rasial dan tekanan sosial terhadap standar kecantikan, berdampak pada rasa minder karakter Nam. Pada menit 35:15, dialog AuMereka semua jelekAy menyoroti dinamika pengelompokkan sosial berbasis penampilan, sementara dialog pada menit 35:57. AuJika tidak yakin kalau cantik, bisa ke klub yang lainAy, mempertegas ekspetasi terhadap kecantikan fisik. Klimaks pada menit 1:51:56 menggambarkan transformasi Nam menjadi pribadi yang percaya diri, memberikan pesan bahwa nilai seseorang terletak pada pencapaian dan kepercayaan diri, bukan semata penampilan. ABSTRACT Film is a powerful artistic medium in society, serving as a source of entertainment, education, and shaping social perspectives through audio-visual experiences. *A Little Thing Called Love*, a Thai film directed by Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn and Wasin Pokpong, tells the story of a girl named Nam who struggles to gain the attention of Shone, the popular student at her school. The film highlights issues of racism and beauty standards. This study aims to explore the racist actions depicted in the Thai film *A Little Thing Called Love*. The research method used is descriptive qualitative, with data collection techniques through observation and documentation. The theoretical framework employed is Roland BarthesAo semiotic analysis, which is used to examine the representation of racism and beauty standards in the film, particularly through denotation, connotation, and myth as reflected in the characters and storyline. The findings of this study indicate that *A Little Thing Called Love* delivers layered messages through semiotic analysis at the denotative, connotative, and mythic levels. Dialogues like "Dasar Hitam!" at 06:51 reflect racial bias and social pressure regarding beauty standards, impacting Nam's self-esteem. At 35:15, the dialogue "Mereka semua jelek" highlights the social grouping dynamics based on appearance, while the dialogue at 35:57, "Jika tidak yakin kalau cantik, bisa ke klub yang lain," emphasizes expectations regarding physical beauty. The climax at 1:51:56 portrays NamAos transformation into a confident individual, conveying the message that a personAos worth lies in their achievements and self-confidence, not just their appearance. PENDAHULUAN Film AuA Little Thing Called LoveAy karya sutradara Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong, meskipun tampil sebagai film ringan dengan tema cinta remaja, ternyata memiliki dimensi yang lebih mendalam terkait isu sosial, terutama tentang rasisme dan stereotip budaya. Kisah film ini berfokus pada perjalanan cinta pertama seorang gadis bernama Nam yang berusaha menarik perhatian Shone, seorang siswa populer. Film ini menceritakan tentang romansa dan persahabatan, film ini juga menyentuh isu-isu sosial yang lebih luas, terutama mengenai diskriminasi warna kulit dan asal etnis yang terjadi dalam masyarakat Thailand. Dalam film ini menggambarkan rasisme yang tidak hanya terlihat dalam interaksi langsung antar karakter, tetapi juga dalam penggambaran sosial yang ada dalam masyarakat. Salah satu bentuk diskriminasi yang paling jelas adalah terkait dengan warna kulit, di mana masyarakat Thailand secara luas lebih mengagungkan kulit putih dan memandang rendah mereka yang berkulit gelap. Hal ini tercermin dalam cerita, ketika Nam, yang awalnya digambarkan sebagai gadis berkulit gelap yang Jurnal Professional. Vol. 11 No. 2 Desember 2024 page: 741 Ae 746 | 741 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X dianggap tidak menarik, mengalami transformasi besar setelah ia memutihkan kulitnya dan mengubah penampilannya agar lebih sesuai dengan standar kecantikan masyarakat yang dominan. Hal ini memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh pandangan estetika yang dikaitkan dengan kulit putih dalam masyarakat Thailand. Film ini juga menggambarkan diskriminasi berdasarkan asal etnis, di mana karakter-karakter dari kelompok etnis minoritas, terutama mereka yang berasal dari negara tetangga, sering kali mengalami Dalam beberapa adegan, diskriminasi ini tampak dalam bentuk stereotip negatif yang diperlakukan terhadap mereka, baik dalam interaksi sosial maupun dalam akses mereka terhadap kesempatan ekonomi. Film ini, meskipun dengan cara yang halus, memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan rasisme dan stereotip etnis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Penggambaran Nam yang kemudian berhasil berubah menjadi lebih menarik setelah memperbaiki penampilannya sesuai dengan standar kecantikan yang lebih AuBaratAy, menggambarkan bagaimana standar kecantikan yang terdistorsi mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap diri mereka sendiri. Ini menciptakan tekanan bagi individu, khususnya perempuan, untuk memenuhi standar tersebut, yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketidakpuasan dan masalah kepercayaan diri. Dalam konteks ini, film ini menjadi lebih dari sekedar kisah cinta, tetapi juga kritik terhadap norma kecantikan yang berlaku di masyarakat. Analisis terhadap film ini menggunakan teori Roland Barthes mengenai denotasi, konotasi, dan mitos memberikan perspektif yang lebih dalam mengenai bagaimana elemen-elemen visual dan naratif dalam film ini menciptakan makna tentang rasisme. Denotasi dalam film ini terlihat pada penggambaran karakter Nam yang berkulit gelap di awal film, yang kemudian mengalami perubahan visual yang signifikan. Konotasinya menunjukkan bahwa perubahan ini merupakan simbol dari perubahan status sosial dan penerimaan dalam masyarakat Thailand, yang lebih mengutamakan tampilan fisik, khususnya kulit yang lebih cerah. Mitos yang muncul adalah pandangan bahwa individu yang berkulit putih dianggap lebih menarik, lebih sukses, dan lebih diterima dalam Film ini juga menyentuh aspek psikologis dari standar kecantikan, yang menciptakan tekanan pada individu untuk memenuhi harapan yang tidak realistis. Bagi Nam, perubahan fisik menjadi cara untuk memperoleh penerimaan dan mendapatkan cinta, namun pada saat yang sama, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perubahan tersebut bukan hanya sekedar perubahan penampilan, tetapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat menilai nilai diri seseorang berdasarkan penampilan fisik. Dampak psikologis dari penggambaran ini bisa sangat merugikan, menyebabkan stres, kecemasan, dan ketidakpuasan diri yang dapat memengaruhi kesehatan mental individu. Secara keseluruhan. AuA Little Thing Called LoveAy tidak hanya menawarkan kisah cinta remaja yang menyentuh hati, tetapi juga berfungsi sebagai cermin sosial yang menggugah penonton untuk merenungkan lebih dalam mengenai persepsi terhadap ras, warna kulit, dan standar kecantikan yang sering kali dipengaruhi oleh norma sosial dan stereotip. Film ini memberi wawasan penting mengenai bagaimana media, termasuk film, dapat memperkuat atau menantang pandangan sosial yang ada, dan mendorong kita untuk mempertimbangkan keberagaman dalam kecantikan dan identitas rasial. Penelitian lebih lanjut mengenai tema rasisme dalam film ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana media memengaruhi pandangan kita terhadap kecantikan dan identitas, serta dampaknya terhadap persepsi sosial. Film ini memberikan kontribusi signifikan dalam memperlihatkan bagaimana narasi budaya dan norma estetika dapat membentuk cara individu melihat diri mereka sendiri dan orang lain. Dengan demikian, film seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai alat refleksi sosial yang kuat. LANDASAN TEORI Teori Roland Barthes Roland Barthes mengemukakan konsep denotasi dan konotasi sebagai bagian integral dari analisis semiotika. Dalam sistem tanda, denotasi mengacu pada makna langsung dan spesifik yang terkandung dalam suatu tanda, yaitu hubungan antara penanda . dan petanda . , yang mencerminkan realitas eksternal. Sebaliknya, konotasi merujuk pada makna kedua yang lebih subjektif, yang muncul ketika tanda berinteraksi dengan perasaan, emosi, dan nilai-nilai budaya seseorang. Konotasi tidak selalu disadari oleh pembaca dan bisa sering dianggap sebagai makna denotatif, sehingga analisis semiotika bertujuan untuk mengungkap makna tersembunyi ini, mengatasi terjadinya kesalahan dalam pembacaan tanda . dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap tanda-tanda yang digunakan dalam komunikasi. Mitos, dalam perspektif Barthes, adalah cara-cara budaya menjelaskan dan memahami aspek-aspek realitas atau gejala alam. Mitos dapat berfungsi 742 | Feby Vitaloka. Sri Narti . Dilmai Putra . Analisis Tindakan Rasis Dalam Film . sebagai bentuk ideologi yang mendominasi dalam masyarakat, dan dalam komunikasi, mitos ini menjadi alat untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu yang diterima sebagai kebenaran. Dalam semiotika, mitos tidak hanya berfungsi sebagai representasi budaya, tetapi juga sebagai cara wacana mengkonstruksi makna dari berbagai tanda yang ada. Mitos ini, menurut Barthes, terbentuk melalui konotasi-konotasi yang muncul dalam teks dan praktik budaya, yang membentuk pandangan masyarakat terhadap sesuatu tanpa mereka sadari. Sebagai contoh, ideologi mengenai maskulinitas atau feminitas bisa dipahami sebagai mitos yang terbentuk dalam kebudayaan tertentu. Mitos ini bukanlah pengetahuan yang dibentuk melalui penyelidikan, melainkan melalui anggapan dan pengamatan kasar yang diterima secara umum dalam Mitos ini memainkan peran penting dalam membentuk sikap dan prasangka seseorang terhadap berbagai hal, yang sering kali dibuktikan melalui tindakan nyata atau gosip dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Barthes, mitos tidak hanya berfungsi sebagai objek atau ide, melainkan sebagai cara untuk memaknai dan menginterpretasi dunia di sekitar kita, menjadi sistem komunikasi yang membentuk persepsi sosial secara keseluruhan. Seiring waktu, konotasi dan mitos dapat berkembang menjadi pengaruh budaya yang sangat kuat, mengarahkan individu dan masyarakat untuk menerima nilai-nilai atau pandangan tertentu tanpa pertanyaan lebih lanjut. METODE PENELITIAN Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik Roland Barthes untuk mengungkap makna tersembunyi dalam film A Little Thing Called Love. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam film tersebut, dengan fokus pada tindakan rasisme yang ada di dalamnya. Metode kualitatif berfokus pada pemahaman fenomena sosial melalui deskripsi holistik dan mendalam tentang pengalaman, perilaku, serta persepsi subjek Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi, di mana peneliti mengamati adegan-adegan yang mengandung unsur rasisme dalam film dan menganalisisnya berdasarkan teori semiotik Barthes. Melalui teknik analisis semiotik, penelitian ini membahas tiga tingkat analisis: denotatif, konotatif, dan mitos. Pada tingkat denotatif, peneliti menjelaskan makna literal dari adegan, seperti karakter yang mengabaikan orang berkulit gelap. Analisis konotatif menggali makna yang lebih dalam terkait dengan stereotip negatif yang melekat pada kulit gelap, sedangkan analisis mitos berfokus pada makna ideologis yang lebih luas mengenai rasisme dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, penelitian bertujuan untuk mengungkap bagaimana film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat penyampaian ideologi sosial dan budaya, memperkuat stereotip dan persepsi audiens tentang perbedaan rasial serta memberikan wawasan lebih dalam tentang dampak media populer terhadap pandangan HASIL DAN PEMBAHASAN Film A Little Thing Called Love menghadirkan kisah yang sangat relate dengan dinamika sosial yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, termasuk isu rasisme dan standar kecantikan. Dengan menggunakan analisis semiotik Roland Barthes, penelitian ini mengurai makna di balik adegan-adegan yang mengandung unsur rasisme dan stereotip sosial. Barthes membagi analisis menjadi tiga lapisan: denotatif, konotatif, dan mitos, yang memungkinkan peneliti untuk mendalami konteks yang lebih dalam dari setiap adegan. Melalui pendekatan ini, film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk menggambarkan dan mengkritisi norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Salah satu adegan yang mencerminkan unsur rasisme terjadi pada menit 06:51, di mana seorang guru berkata, "Dasar Hitam!" kepada karakter Nam. Secara denotatif, adegan ini hanya menunjukkan suasana kelas di mana guru sedang memimpin Namun, pada tingkat konotatif, kata-kata tersebut membawa konotasi negatif terhadap Nam, khususnya terkait dengan warna kulitnya. Hal ini menunjukkan adanya diskriminasi dalam bentuk verbal, di mana guru, yang merupakan figur otoritas, menggunakan kata-kata merendahkan untuk memperlakukan siswa berdasarkan penampilan fisiknya. Pada tingkat mitos, adegan ini mencerminkan bias warna kulit yang berlaku dalam budaya Thailand, di mana kulit gelap sering diasosiasikan dengan hal-hal negatif dan inferioritas. Jurnal Professional. Vol. 11 No. 2 Desember 2024 page: 741 Ae 746 | 743 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Pada menit 35:15, terdapat dialog yang mengatakan, "Tidak seperti siswa klub drama. Mereka semua jelek," yang menyoroti stereotip sosial yang ada di kalangan siswa. Adegan ini secara denotatif menggambarkan sekelompok siswa perempuan yang sedang berbincang di lapangan sekolah. Dialog ini mengandung makna konotatif yang menunjukkan diskriminasi sosial terhadap siswa klub drama, yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku. Dalam konteks mitos, dialog ini memperkuat narasi budaya yang menilai kecantikan sebagai salah satu tolok ukur nilai diri, terutama di kalangan Di banyak budaya Asia, termasuk Thailand, kecantikan fisik sering kali menjadi prioritas utama, sehingga menciptakan hierarki sosial berdasarkan penampilan. Selanjutnya, pada menit 36:57, sebuah dialog lain muncul, yaitu "Jika tidak yakin kalau cantik, bisa ke klub lain," yang memperlihatkan tekanan sosial terhadap perempuan untuk memenuhi standar kecantikan tertentu. Denotatifnya, adegan ini menunjukkan beberapa siswa perempuan yang berkumpul, dengan salah satu di antaranya menyampaikan komentar tersebut. Secara konotatif, ucapan ini mencerminkan diskriminasi di sekolah, di mana kecantikan menjadi syarat tidak resmi untuk diterima dalam kelompok sosial tertentu. Di tingkat mitos, dialog ini menguatkan pandangan budaya yang menilai kecantikan sebagai nilai utama bagi perempuan agar diterima oleh Norma ini memberi tekanan yang besar kepada perempuan untuk memenuhi ekspektasi fisik yang sering kali tidak realistis, yang berdampak pada rasa minder dan ketidakpercayaan diri. Adegan klimaks emosional dalam film terjadi pada menit 1:51:56, di mana Nam menerima buket bunga dari Shone. Secara denotatif, adegan ini menggambarkan momen romantis di bawah pencahayaan dramatis. Dalam konotasinya, pemberian bunga melambangkan kasih sayang dan penghormatan, sedangkan latar belakang yang cerah menciptakan suasana bahagia dan harapan. tingkat mitos, adegan ini mencerminkan narasi budaya populer tentang romansa ideal, di mana cinta selalu digambarkan dengan cara yang indah dan penuh emosi mendalam. Transformasi Nam dari gadis sederhana menjadi perempuan percaya diri yang sukses menunjukkan bagaimana ia berhasil melampaui tekanan sosial, memperlihatkan bahwa nilai diri tidak hanya terletak pada penampilan fisik, tetapi juga pada pencapaian dan keberanian untuk berubah. Film ini, melalui analisis semiotik, menggambarkan bagaimana isu-isu sosial seperti rasisme, stereotip gender, dan tekanan terhadap standar kecantikan tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga berfungsi untuk menguatkan norma-norma budaya yang ada. Melalui lapisan-lapisan makna denotatif, konotatif, dan mitos, film ini membuka ruang untuk memahami bagaimana masyarakat menilai individu berdasarkan penampilan fisik dan peran sosial yang telah ditentukan. Meskipun cerita ini menyentuh sisi emosional penonton, pesan-pesan tersembunyi dalam film ini mengajak kita untuk lebih kritis terhadap bagaimana media mengkonstruksi persepsi kita tentang kecantikan dan perbedaan rasial. Film ini juga memperlihatkan tekanan sosial yang besar terhadap remaja, terutama perempuan, untuk memenuhi standar kecantikan tertentu. Tekanan ini tidak hanya berasal dari media, tetapi juga dari interaksi sosial sehari-hari, seperti yang digambarkan dalam adegan-adegan yang menonjolkan diskriminasi berdasarkan penampilan fisik. Proses transformasi Nam menjadi simbol keberanian untuk mengatasi standar kecantikan yang mengekang dan mengembangkan percaya diri adalah salah satu elemen yang menyentuh dalam film ini. Namun, film ini juga menggambarkan dampak negatif dari ekspektasi kecantikan yang tidak realistis terhadap kesehatan mental remaja perempuan, yang dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan masalah harga diri. Melalui analisis semiotik, film ini menunjukkan bagaimana representasi yang dibangun melalui media dapat mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap isu sosial yang kompleks. Dengan menyoroti tema rasisme dan diskriminasi, film ini mengajak penonton untuk merenungkan bagaimana standar kecantikan dan stereotip sosial tidak hanya membentuk persepsi individu, tetapi juga memperkuat ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Mitos yang ada dalam film ini memperlihatkan bagaimana diskriminasi berdasarkan ras dan kecantikan masih menjadi bagian dari struktur sosial yang perlu diperbaiki. Sebagai kesimpulan, film A Little Thing Called Love lebih dari sekadar kisah romansa ia juga merupakan cerminan dari masalah sosial yang masih ada di masyarakat. Analisis semiotik pada film ini memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana media berperan dalam menggambarkan dan memperkuat norma sosial, baik itu terkait dengan rasialisme, stereotip, atau Dengan kesadaran ini, penonton diharapkan dapat lebih kritis terhadap representasi yang ada dalam media dan mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif dan adil. Film ini mengingatkan kita bahwa kecantikan sejati bukan hanya terletak pada penampilan fisik, tetapi juga pada keberanian untuk menjadi diri sendiri. 744 | Feby Vitaloka. Sri Narti . Dilmai Putra . Analisis Tindakan Rasis Dalam Film . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Film AuA Little Thing Called LoveAy dianalisis menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes, yang membedah makna melalui tiga tingkatan: denotasi, konotasi, dan mitos. Adegan di ruang kelas . menggambarkan hubungan hierarkis guru-murid secara denotatif, sementara konotasi dan mitosnya menyoroti bias warna kulit dan stereotip kecantikan di masyarakat Thailand. Hal ini berdampak pada Nam, karakter utama, yang menjadi minder akibat bullying verbal. Pada menit 35:15, adegan siswa perempuan mencela anggota klub drama mencerminkan norma sosial yang mendasarkan penghargaan pada kecantikan fisik. Denotasinya adalah interaksi sehari-hari di sekolah, sementara konotasi dan mitosnya mengungkap pengelompokan sosial dan tekanan standar kecantikan. Komentar seperti "Mereka semua jelek" menciptakan dampak psikologis, seperti rasa minder dan stres. Adegan romantis, seperti pemberian bunga dengan latar pencahayaan dramatis, merepresentasikan cinta secara konotatif dan mitos cinta ideal yang sering didiktekan media. Film ini tidak hanya mengangkat isu kecantikan, hierarki sosial, dan romansa, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang penerimaan diri. Transformasi Nam menjadi simbol perlawanan terhadap norma sosial yang mengekang, sekaligus mendorong penonton untuk mengevaluasi dampak stereotip dalam kehidupan. Saran Penelitian ini memberikan beberapa saran untuk penelitian lanjutan yang dapat memperluas pemahaman kita tentang representasi rasisme dalam media, khususnya film. Pertama, disarankan untuk melakukan analisis perbandingan representasi tindakan rasis dalam film-film dari berbagai negara di Asia Tenggara. Penelitian semacam ini akan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana rasisme digambarkan dalam konteks budaya yang berbeda, serta memahami perbedaan pola dan pengaruh historis yang memengaruhi representasi tersebut di layar. Hal ini akan membuka ruang untuk menilai relevansi representasi rasisme dalam film dengan realitas sosial di masing-masing negara. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat berfokus pada pengaruh representasi tindakan rasis dalam film terhadap persepsi penonton muda, khususnya bagaimana film seperti A Little Thing Called Love dapat memengaruhi pandangan mereka terhadap isu diskriminasi rasial. Dengan menggunakan pendekatan survei atau wawancara, penelitian ini dapat mengukur sejauh mana film tersebut membentuk atau memperkuat stereotip rasial di kalangan penonton muda. Saran lainnya adalah untuk meneliti strategi naratif yang digunakan dalam film Thailand, termasuk teknik sinematografi, dialog, dan pengembangan karakter, untuk menyampaikan pesan sosial, seperti rasisme. Penelitian ini bisa membantu mengungkap bagaimana elemen-elemen naratif tersebut digunakan untuk mengkritik atau merefleksikan isu-isu sosial dalam masyarakat. DAFTAR PUSTAKA