1 PERBANDINGAN KONDISI KESEHATAN PERUSAHAAN PADA MASA SEBELUM DAN SELAMA PANDEMI COVID-19 DENGAN MENGGUNAKAN ALTMAN Z-SCORE Farisa Gestiarini. Devi Wahyuningsih deviwahyuningsih90@gmail. IBE Indonesia Pontianak ABSTRACT The research entitled AuComparison of the Health Conditions of Companies Before and During the Covid-19 Pandemic Using the Altman Z-ScoreAy aims to see the differences in the health conditions of companies in the Food and Beverage and Pharmacy Subsectors in 2019 and 2020. The sample selection technique used purposive sampling in order to obtain 36 companies that met the criteria. The data analysis technique used is the Wilcoxon and Mann-Whitney difference test using SPSS version 26. Based on the research, it was found that there was no significant difference in each of the tests carried out between the subsectors and subsectors, both in the same period or in different periods. Keywords: Before and During the Covid-19 Pandemic. Altman Z-Score. Financial Distress PENDAHULUAN Dalam dunia usaha, perusahaan pada umumnya memiliki tujuan untuk menghasilkan keuntungan dan unggul dalam setiap aspek. Unggul dalam persaingan juga menjadi salah satu cara agar perusahaan dapat selalu eksis dan bertahan dalam periode yang lama, serta dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak diinginkan bagi perusahaan seperti masalah kebangkrutan. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang bergerak cepat mengambil langkah dalam mengantisipasi masalah yang tidak diinginkan. Saat memasuki tahun 2020, hampir setiap negara di dunia terkena kasus pandemi Covid-19 yang berawal mewabah di Wuhan. Cina. Di bulan Maret 2020, pemerintah memerintahkan untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan (PPKM). Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan yang mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19 yang melanda di berbagai negara, khususnya di negara Indonesia. Dengan adanya PPKM terhadap aktivitas masyarakat, sulitnya interaksi jual-beli secara langsung, sehingga perusahaan-perusahaan di Indonesia juga mendapat imbasnya. Dalam membantu kebijakan tersebut, perusahaan juga mewajibkan para karyawan bekerja dari rumah (Work From Home / WFH), hal ini mengakibatkan segala kegiatan operasional perusahaan menjadi Pandemi Corona virus Disease 2019 (Covid. pada tahun 2020 mengakibatkan pasar keuangan pertumbuhan ekonomi dunia mengalami kontraksi sebesar 3,5%. (Badan Pusat Statistik, 2. Menteri Bappenas Suharso Manoarfa menyebutkan bahwa berdasarkan data World Bank dimana 60% bisnis mengalami kebangkrutan akibat pandemi. Ini menandakan bahwa pandemi berpengaruh pada aktivitas perusahaan. Situasi seperti ini dapat membawa risiko terhadap perusahaan dalam mencapai tujuannya atau bahkan mengalami kebangkrutan (OkeZone. com, 2. Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyebutkan lebih dari 50 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI mulai mengalami kesulitan cashflow akibat pandemi Covid-19. Dan Wakil Ketua Umum AEI (Bobby Gafur Uma. juga mengatakan bahwa kondisi pandemi ini menyebabkan hampir seluruh bisnis tertekan karena aktivitas perekonomian hampir berhenti. Akibatnya perusahaan di sektor pariwisata, perhotelan, maskapai penerbangan. UMKM, properti yang kehilangan pendapatan dan harus melakukan pemberhentian atau Pemutusan JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan (CNBC Indonesia, 2. Namun masih ada beberapa perusahaan yang mampu bertahan selama masa pandemi. Dengan terjadinya pandemi ini justru memberikan dampak positif kepada beberapa perusahaan selain perhotelan, restoran, tempat hiburan, dan transportasi, pertambangan, dan otomotif. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ada sektor-sektor usaha yang mampu bertahan atau bahkan mengambil peluang dan bertumbuh tinggi. Contohnya adalah jasa logistik, telekomunikasi, elektronika, dan farmasi (CNBC Indonesia, 2. Adapun sektor manufaktur memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II-2020, yaitu sebesar 17,34%. Lima besar kontribusi PDB adalah industri makanan dan minuman yaitu sebesar 6,66%. kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 1,96%. industri barang logam, komputer, barang elektronik, optic dan peralatan listrik sebesar 1,57%. alat angkutan 1,46%, serta industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 1,05% (Kementerian Perindustrian, 2. Dalam perusahaan kesulitan untuk mempertahankan usahanya, yang akhirnya membawa perusahaan pada Sebelum kebangkrutan, sebuah perusahaan biasanya akan mengalami penurunan kemampuan keuangan, fenomena ini dinamakan kesulitan keuangan atau financial distress. Salah satu ciri-ciri perusahaan yang mengalami financial distress adalah perusahaan yang mengalami kerugian. Analisis laporan keuangan terhadap financial distress merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan agar dapat menggambarkan kondisi kesehatan perusahaan melalui laporan keuangan, yang terdampak pandemi Covid-19, baik itu sebelum masa pandemi maupun selama masa pandemi. Karena kondisi kesehatan laporan keuangan perusahaan sangat menarik dan menjadi perhatian bagi berbagai pihak, tidak hanya bagi perusahaan namun bagi pihak eksternal lainnya seperti investor, kreditor, dan pihak lainnya. Berdasarkan beberapa hal yang dijelaskan di atas, hal ini menarik untuk diteliti. Karena di masa pandemi ini, banyak perusahaan yang mengalami financial distress dalam mempertahankan kegiatan operasional demi kelangsungan usaha. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini Bagaimana kondisi kesehatan perusahaan pada subsektor makanan dan minuman serta farmasi pada masa sebelum pandemi Covid-19? Bagaimana kondisi kesehatan perusahaan pada subsektor makanan dan minuman serta farmasi pada masa selama pandemi Covid-19? Apakah terdapat perbedaan kesehatan keuangan perusahaan antara subsektor makanan dan minuman . ebelum dan selama pandemi Covid-. dengan subsektor farmasi . ebelum dan selama pandemi Covid-. ? Apakah terdapat perbedaan kesehatan keuangan perusahaan antara subsektor makanan dan minuman serta farmasi pada masa sebelum dengan selama pandemi Covid-19? TINJAUAN TEORITIS Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah informasi keuangan sebuah perusahaan pada sebuah periode. Laporan keuangan berfungsi untuk menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan perusahaan serta menunjukkan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan (Septiana, 2. Sehingga laporan pertanggungjawaban yang harus dapat dipahami agar informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik bagi para pihak relevan. Dengan adanya informasi tersebut dapat mempermudah para pihak relevan dalam mengambil Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses atau kegiatan menganalisa laporan keuangan dalam menilai kinerja suatu perusahaan. Menurut Septiana . menyimpulkan bahwa analisis laporan keuangan . inancial statement analysi. merupakan proses penganalisaan atau penyidikan terhadap laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi, beserta lampirannya untuk mengetahui posisi laporan keuangan dan tingkat kesehatan perusahaan yang tersusun secara sistematis dengan teknik tertentu. Teknik Analisis Laporan Keuangan Untuk memperoleh informasi terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, maka dibutuhkan teknik dalam menganalisis laporan keuangan. Menurut Tindige et al. dalam Astuti et al. , ada beberapa jenis teknik analisis laporan keuangan yang dapat digunakan, yaitu : analisis perbandingan laporan keuangan, analisis tren, analisis persentase per komponen, analisis sumber dan penggunaan modal kerja, analisis sumber dan penggunaan kas, analisis rasio keuangan, analisis perubahan laba kotor, analisis break even. JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Rasio Keuangan Rasio keuangan merupakan salah satu teknik analisis yang dapat digunakan dalam menganalisis laporan keuangan. Menurut Septiana . mengatakan bahwa rasio keuangan adalah alat analisis keuangan perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada pos laporan keuangan . aporan laba rugi, laporan perubahan modal, neraca, dan laporan arus ka. Kebangkrutan Secara umum perusahaan mengalami pailit disebabkan beberapa faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor internal yang menyebabkan kebangkrutan adalah adanya gangguan bagi kinerja perusahaan yang berasal dari internal perusahaan itu Sedangkan faktor eksternal adalah adanya pengaruh dari luar perusahaan secara langsung. Sebelum perusahaan dinyatakan bangkrut, biasanya akan mengalami penurunan dalam kemampuan keuangan, hal tersebut dinamakan sebagai kesulitan keuangan atau financial distress. Ada berbagai macam model analisis dalam memprediksi kebangkrutan, namun yang sering digunakan dalam penelitian adalah model Springate. Zmijewski, dan Altman Z-Score. Berikut penjelasan ketiga model analisis dalam memprediksi kebangkrutan menurut Supriati et al. , yaitu : Model Springate Model springate merupakan model yang dikembangkan oleh Gorgon L. Springate pada Model ini merupakan model rasio yang menggunakan Multiple Discriminant Analysis (MDA). Model persamaan dari springate adalah : ycI=1,03 ya 3,07 yaA 0,66 ya 0,4 ya Keterangan : S = Indeks Springate A = Working Capital / Total Assets B = Earning Before Interest and Taxes / Total Assets C = Earning Before Taxes / Current Liabilities D = Sales / Total Assets Model Zmijewski Model Zmijewski merupakan model yang ditemukan oleh Zmijewski pada tahun 1983. Dalam penelitiannya. Zmijewski menggunakan sampel 75 perusahaan bangkrut dan 73 perusahaan sehat, dan diperoleh hasilnya bahwa ditemukan adanya perbedaan signifikan antara perusahaan yang sehat dan yang tidak sehat. Model persamaan dari Zmijewski, sebagai berikut : ycU= Oe4,3Oe4,5 ycU1 5,7 ycU2Oe0,004 Keterangan : X1 = Net Income / Total Assets (ROA) X2 = Debt Ratio (TLTA) X3 = Current Ratio (CACL) Model Altman Z-Score Analisis Altman Z-Score adalah suatu alat yang digunakan untuk memprediksi kondisi kesehatan finansial perusahaan. Thohari et al . dalam Kurniawan et al. , . menjelaskan bahwa model Z-Score dapat digunakan dalam menghitung prediksi kebangkrutan perusahaan dengan mengolah data keuangan perusahaan dan hasilnya dapat melihat kesehatan keuangan dari suatu perusahaan. Model persamaan dari Altman Z-Score, sebagai berikut : Z = 1,2 X1 1,4 X2 3,3 X3 0,6 X4 1,0 X5 Keterangan : X1 = Working Capital / Total Asset X2 = Retained Earning / Total Asset X3 = EBIT / Total Asset X4 = Market Value of Equity / Book Value of Total Debt X5 = Sales / Total Asset Z = Overall index METODE PENELITIAN Bentuk Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian Penelitian komparatif adalah jenis penelitian yang bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi tertentu, sekaligus mencoba untuk membandingkan kesehatan keuangan perusahaan pada subsektor makanan dan minuman serta subsektor farmasi pada masa sebelum dan selama pandemi Covid-19. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Definisi operasional adalah pengertian variabel . ang diungkap dalam definisi konse. tersebut, secara operasional, secara praktik, secara nyata dalam lingkup obyek penelitian/obyek yang diteliti (Pakpahan et al. , 2. Operasional variabel digunakan untuk menentukan jenis dan indikator dari variabel-variabel terikat dalam penelitian ini. Adapun operasional variabel yang terdapat dalam judul penelitian ini, sebagai berikut : Working Capital to Total Asset (X. Working Capital to Total Asset menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan modal kerja bersih dari keseluruhan total aktiva perusahaan. JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 ycOyaycNya = yaycyceyc yaycaycuycaycayc Oe yaycnycaycaycnycoycnycycayc yaycaycuycaycayc ycNycuycycayco yaycyceyc Retained Earning to Total Asset (X. Retained Earning to Total Asset menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba ditahan dari total aktiva perusahaan. ycIyaycNya = yaycaycayca yaycnycycaEaycaycu ycNycuycycayco yaycyceyc Earning Before Interest and Taxes to Total Asset (X. Earning Before Interest and Taxes to Total Asset menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva perusahaan, sbeelum melakukan pembayaran bunga dan pajak yayaAyaycNycNya = yaycaycayca ycIyceycayceycoycyco yaAycycuyciyca yccycaycu ycEycaycycayco ycNycuycycayco yaycyceyc Market Value of Equity to Book Value of Total Debt (X. Market Value of Equity to Book Value of Total Debt menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban dari nilai pasar modal sendiri . aham bias. ycAycOyayaAya = ycAycnycoycaycn ycEycaycycayc ycAycuyccycayco ycNycuycycayco yaycnycaycaycnycoycnycycayc Sales to Total Asset (X. Sales to Total Asset menunjukkan kemampuan manajemen dalam menggunakan aktiva untuk menghasilkan penjualan ycEyceycuycycycaycoycaycu ycIyaycNya = ycNycuycycayco yaycyceyc Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 perusahaan pada tahun 2019 dan 43 perusahaan pada tahun 2020. Pengambilan sampel ini menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan mengambil sampel-sampel dengan memiliki kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan Adapun kriteria yang ditentukan dalam penelitian ini yaitu : Perusahaan yang listing tahun 2019 dan tidak di delisting selama tahun 2019 Ae 2020 Perusahaan yang berada di subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi yang terdaftar di BEI Perusahaan yang memiliki laporan kinerja perusahaan secara lengkap untuk variabel yang akan diteliti dari tahun 2019 Ae 2020. Perusahaan yang aktif diperdagangkan di BEI Dari kriteria pengambilan sampel di atas, jumlah sampel dalam penelitian ini sejumlah 36 perusahaan di tahun 2019 dan 36 perusahaan di tahun Metode Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan 2 teknik analisis, yaitu statistik deskriptif dan statistik Dalam pengelolahan data, penelitian ini dibantu dengan SPSS (Statistical Program For Social Scienc. Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data-data yang telah dikumpulkan yaitu : Uji Normalitas Dalam penelitian ini, akan menggunakan uji beda yaitu uji Paired Sample T-Test dan uji Independent Sample T-Test. Kedua uji tersebut merupakan bagian dari uji statistik parametrik, sebagaimana memiliki aturan dasar bahwa data penelitian harus berdistribusi normal. Adapun pengujian kenormalan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas Kolmogorov Smirnov . Uji Paired Sample T-Test Uji Paired Sample T-Test merupakan uji perbandingan yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata dua sampel yang saling berpasangan atau berhubungan (Raharjo. Uji ini memiliki syarat bahwa data yang digunakan harus berdistribusi normal. Jika data yang digunakan tidak berdistribusi normal maka solusi alternatif bisa menggunakan uji Wilcoxon. Uji Independent Sample T-Test Uji Independent sample t-test merupakan uji perbandingan yang tidak memiliki hubungan atau tidak berpasangan . ampel beba. Uji ini bertujuan untuk membandingkan dua sampel yang tidak saling berpasangan (Raharjo, 2015. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari beberapa hasil pengujian yang telah dianalisis menggunakan nilai Altman Z-Score dengan persamaan Z = 1,2 X1 1,4 X2 3,3 X3 0,6 X4 1,0 X5 . Nilai cut off yang digunakan yaitu apabila nilai Z < 1,81 maka perusahaan cenderung mengalami kebangkrutan, apabila nilai Z di antara 1,81 dan 2,99 maka perusahaan berada grey area, dan apabila nilai Z > 2,99 maka perusahaan dalam keadaan sehat. Untuk perusahaan yang berada pada kategori bangkrut dan grey area, maka digolongkan sebagai perusahaan tidak sehat. Pada tahun 2019 merupakan tahun sebelum terjadinya pandemi JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Covid-19. Nilai Z-Score rata-rata untuk perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi sebesar 5,429. Dan sedangkan Nilai Z-Score ratarata pada tahun 2020 yang merupakan tahun terjadinya pandemi Covid-19 untuk perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi yaitu sebesar 5,755. Sehingga disimpulkan bahwa kedua tahun tersebut untuk perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi dalam keadaan sehat atau Healthy Area. Untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan perusahaan dan apakah terdapat perbedaan secara siginifikan atau tidak maka dilakukan pengujian, sebagai berikut : Kondisi Kesehatan Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada Masa Sebelum Pandemi Covid-19 Data keuangan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kesehatan perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada sebelum Pandemi Covid-19 yaitu data keuangan perusahaan pada tahun 2019. Metode prediksi kebangkrutan Altman Z-Score digunakan untuk menganalisis kondisi kesehatan perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada sebelum Pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil perhitungan terdapat 23 perusahaan yang dalam kondisi sehat dan 13 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak sehat. Persentase pada subsektor makanan dan minuman sebesar 62,96% perusahaan dalam kondisi sehat . i antaranya terdapat 17 perusahaan yang dalam kondisi sehat, sedangkan 10 perusahaan dalam kondisi tidak seha. Selanjutnya pada subsektor farmasi sebesar 66,67% perusahaan dalam kondisi sehat . i antaranya terdapat 6 perusahaan dalam kondisi sehat dan 3 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak seha. Kondisi Kesehatan Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada Masa Selama Pandemi Covid-19 Data keuangan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kesehatan perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada selama Pandemi Covid-19 yaitu data keuangan perusahaan pada tahun 2020. Metode prediksi kebangkrutan Altman Z-Score digunakan untuk menganalisis kondisi kesehatan perusahaan subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada selama Pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil perhitungan terdapat 22 perusahaan yang dalam kondisi sehat dan 14 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak sehat. Persentase pada subsektor makanan dan minuman sebesar 55,56% perusahaan dalam kondisi sehat . aitu 15 perusahaan yang dalam kondisi sehat, sedangkan 12 perusahaan lainnya tidak seha. Selanjutnya pada subsektor farmasi sebesar 77,78% perusahaan dalam kondisi sehat . aitu terdapat 7 perusahaan dalam kondisi sehat dan 2 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak seha. Perbandingan Kesehatan Keuangan Perusahaan antara Subsektor Makanan dan Minuman (Sebelum dan Selama Pandemi Covid-. dengan subsektor Farmasi (Sebelum dan Selama Pandemi Covid-. Sebelum dilakukannya uji beda, maka diperlukan untuk melakukan pengujian uji normalitas terlebih dahulu. Adapun kriteria dalam menentukan hasil data tersebut berdistribusi normal atau tidak adalah dengan melihat nilai Sig. kolom Kolmogorov-Smirnov > 0,05 maka data berdistribusi normal. Namun apabila data < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal, sehingga dapat menggunakan nilai Sig. pada kolom Shapiro Wilk dengan ketentuan nilai Sig. > 0,05 maka data berdistribusi normal. Berikut hasil uji normalitas : Tabel 1 Uji Normalitas Berdasarkan output di atas, diperoleh nilai Sig. pada kolom Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,001 untuk kedua subsektor, baik subsektor makanan dan minuman maupun subsektor farmasi. Artinya nilai pada kedua subsektor tersebut tidak berdistribusi normal karena lebih kecil dari 0,05 Pada kolom Shapiro-Wilk juga memiliki nilai < 0,05 baik subsektor makanan dan minuman maupun subsektor farmasi, yaitu sebesar 0,00. Sehingga penulis melakukan uji Mann Whitney sebagai pengganti uji Independent Sample T-Test. Berikut hasil pengujiannya : JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 Tabel 2 Hasil Uji Mann Witney Pada tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,428 lebih besar dari 0,05. Artinya dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kesehatan perusahaan antara kedua subsektor tersebut baik sebelum maupun selama terjadinya pandemi Covid-19. Perbandingan Kesehatan Keuangan Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi pada Masa Sebelum dengan Selama Pandemi Covid-19 Selanjunya dilakukan pengujian kembali pada uji normalitas untuk melihat perbandingan data pada subsektor makanan dan minuman serta farmasi pada masa sebelum dan selama pandemi Covid-19. Adapun hasil uji normalitasnya sebagai berikut : Tabel 3 Uji Normalitas Berdasarkan hasil pada tabel 3 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Sig. pada kolom KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk memiliki nilai lebih kecil daripada 0,05. Artinya dari kedua data subsektor makanan dan minuman serta farmasi pada tahun 2019 dan 2020 tidak berdistribusi normal. Sehingga pada uji beda selanjutnya menggunakan Uji Wilcoxon sebagai pengganti uji Paired Sample TTest. Adapun hasilnya sebagai berikut : Tabel 4 Hasil Uji Wilcoxon Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,987 lebih besar dari 0,05. Artinya dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kesehatan perusahaan subsektor makanan dan minuman serta farmasi pada masa sebelum dan selama masa pandemi Covid-19. Sehingga dapat disimpulkan pula bahwa tidak ada pengaruh adanya pandemi Covid-19 terhadap kesehatan perusahaan subsektor tersebut. Hasil dari keseluruhan setiap pengujian di atas, dapat disimpulkan bahwa memiliki hasil yang sama, yaitu tidak adanya perbedaan secara signifikan terhadap kondisi kesehatan perusahaan, baik perbandingan antar subsektor maupun antar periode sebelum dan selama adanya pandemi Covid-19. Meskipun dari segi ekonomi, pandemi Covid-19 dapat menghambat operasional yang berpotensi perusahaan, hal ini tidak berpengaruh pada perusahaan subsektor makanan dan minuman serta Kemungkinan menjadi penyebab naiknya kondisi kesehatan perusahaan pada kedua subsektor tersebut adalah naiknya volume penjualan sehingga perusahaan mampu dalam meningkatkan laba di masa terjadinya pandemi Covid-19. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan perusahaan pada masa sebelum dan selama pandemi Covid-19 dengan menggunakan Altman Z-Score, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Kondisi kesehatan pada perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi di tahun 2019 . ebelum terjadinya pandemi Covid-. , terdapat 23 perusahaan yang dalam kondisi sehat dan 13 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak Persentase pada subsektor makanan dan minuman sebesar 62,96% perusahaan dalam kondisi sehat . i antaranya terdapat 17 JES [Jurnal Ekonomi STIEP] Vol. No. 2 ,November 2022 perusahaan yang dalam kondisi sehat, sedangkan 10 perusahaan dalam kondisi tidak seha. Selanjutnya pada subsektor farmasi sebesar 66,67% perusahaan dalam kondisi sehat . i antaranya terdapat 6 perusahaan dalam kondisi sehat dan 3 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak seha. Kondisi kesehatan pada perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi di tahun 2020 . elama terjadinya pandemi Covid-. , terdapat 22 perusahaan yang dalam kondisi sehat dan 14 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak Persentase pada subsektor makanan dan minuman sebesar 55,56% perusahaan dalam kondisi sehat . aitu 15 perusahaan yang dalam kondisi sehat, sedangkan 12 perusahaan lainnya tidak seha. Selanjutnya pada subsektor farmasi sebesar 77,78% perusahaan dalam kondisi sehat . aitu terdapat 7 perusahaan dalam kondisi sehat dan 2 perusahaan lainnya dalam kondisi tidak Membandingan perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman . ebelum dan selama pandemi Covid-. dengan Subsektor Farmasi . ebelum dan selama pandemi Covid-. bahwa tidak ada perbedaan kesehatan keuangan perusahaan antara kedua subsektor tersebut. Membandingan pada Subsektor Makanan dan Minuman serta Farmasi di tahun 2019 dengan Untuk melihat perbedaannya, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kesehatan keuangan perusahaan antara kedua tahun tersebut, baik sebelum maupun selama terjadinya pandemi Covid-19. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas maka saran yang dapat diajukan oleh penulis Bagi investor maupun calon investor dapat berinvestasi pada perusahaan subsektor makanan dan minuman serta farmasi. Karena perusahaan pada subsektor tersebut mampu bertahan dalam situasi pandemi Covid-19. Bagi penelitian selanjutnya dapat menambah periode tahun penelitian minimal 2 tahun terakhir sebelum terjadinya pandemi dengan 2 tahun terjadinya pandemi. Sehingga dapat mengetahui perkembangan kondisi kesehatan perusahaan. Kemudian dapat juga menggunakan sampel perusahaan selain subsektor makanan dan minuman maupun subsektor farmasi, sehingga dapat menggunakan metode Altman Z-Score lainnya atau teori kebangrutan lainnya. DAFTAR PUSTAKA