ISLAM & CONTEMPORARY ISSUES https://doi. org/10. 57251/ici. Vol. No. 1, 2024 | 21-27 Syarifah Salwa Al-Attas dan Majelis Nururrahmah: Menguatkan Muslimah di Medan Artika Hazra Harahap. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Syahna Wulan Andina. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Adrian Marpaung. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Yusra Dewi Siregar*. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia ABSTRACT This study aims to examine the role of Syarifah Salwa Al-Attas and the Nururrahmah Assembly in strengthening the position and role of Muslim women in Medan. Syarifah Salwa Al-Attas is an influential Muslim female figure in her community, while the Nururrahmah Assembly is an organization focused on empowering women through religious education, skill development, and quality of life improvement. Using a qualitative approach with a case study method, this research collects data through indepth interviews, participatory observation, and document analysis. The results show that Syarifah Salwa Al-Attas has successfully inspired many Muslim women in Medan to be more active in social and religious life. The Nururrahmah Assembly has provided various programs that not only enhance religious understanding but also strengthen the economic and social capacities of its members. The study concludes that the combination of inspirational leadership and comprehensive empowerment programs is highly effective in strengthening Muslim women in Medan, making them more independent and competitive in various aspects of life. ARTICLE HISTORY Received 03/06/2024 Revised 06/06/2024 Accepted 10/06/2024 Published 14/06/2024 KEYWORDS Syarifah Salwa Al-Attas. Nururrahmah Assembly. Women's Empowerment. Medan. *CORRESPONDENCE AUTHOR yusradewisiregar@uinsu. PENDAHULUAN Sejak tahun 1905, komunitas Arab di Medan mulai mendirikan perkampungan untuk tempat tinggal mereka. Permukiman orang Arab tersebar di berbagai lokasi seperti Kampung Silalas. Sungai Kera. Pandau Hulu. Jalan Lembu. Jalan Sutrisno, dan Kampung Dadap. Namun, kini hampir semua wilayah tersebut telah dihuni oleh kelompok etnis Di Medan, hanya tersisa satu perkampungan yang masih dihuni oleh komunitas Arab, yaitu Kampung Dadap. Pernyataan ini didukung oleh Usman Balatif yang menyebutkan bahwa "Abi"-nya . lahir di kampung ini sekitar tahun 1920-an, menunjukkan bahwa orang-orang Arab telah tinggal di sana sejak masa penjajahan. Golongan Sayyid mulai datang ke Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, sejak abad ke-19. Kedatangan mereka ke Medan sebagian besar bertujuan untuk berdagang dan membawa barang-barang dari Timur Tengah. Mereka kemudian membentuk komunitas kecil karena mereka adalah sesama pendatang dari wilayah yang sama. Medan, orang-orang Arab memiliki banyak marga, bahkan lebih banyak dibandingkan marga-marga orang Mandailing dan Batak. Biasanya, marga golongan Sayyid di Medan diawali dengan kata AuAlAy, seperti Al-Habsyi. Al-Alaydrus. AlMahdali, dan lain-lain. Namun, tidak semua marga yang diawali dengan "Al" merupakan golongan Sayyid, contohnya Al-Amri (Fitria. Achiria, & Riza, 2. Sejak awal abad ke-20. Medan telah menjadi magnet bagi para imigran dari berbagai daerah untuk bekerja, berdagang, dan melakukan kegiatan lainnya. Hal ini juga berlaku bagi para imigran asal Hadramaut, baik dari golongan Sayyid maupun non-Sayyid, yang datang ke Medan untuk mencari peruntungan. Orang Arab yang datang ke Medan, umumnya dari Hadramaut, biasanya tiba secara individu atau dalam kelompok kecil berjumlah sekitar 10 orang. Medan, mereka biasanya berdagang dengan penduduk setempat. Para imigran Arab yang datang tanpa istri seringkali menikah dengan gadis-gadis pribumi dan berasimilasi. Setelah kemerdekaan Indonesia, jumlah orang Arab di Medan terus meningkat. Bagi golongan Sayyid, tujuan mereka datang ke Medan bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga untuk Banyak Sultan Melayu menikahkan anak-anak mereka dengan Sayyid yang tiba di Medan. Hal ini karena status kesultanan Islam mereka akan menjadi lebih kuat dan prestisius jika keturunan mereka menikah dengan Sayyid. A 2023 The Author. Islam & Contemporary Issues. ISSN: 2798-3307. Published by Medan Resource Center This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Common Attribution License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/), which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. 22 | Yusra Dewi Siregar. Artika Hazra Harahap. Syahna Wulan Andina, & Adrian Marpaung yang dianggap memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad. Akibatnya, banyak Sayyid yang kemudian menjadi bagian dari kalangan elit dalam keluarga bangsawan Melayu. Dari pernikahan ini, semakin banyak keturunan Sayyid di Medan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka lebih memilih untuk diidentifikasi sebagai orang Melayu daripada sebagai orang Arab dari golongan Sayyid (Batubara. Asari, & Riza, 2. Selain golongan Sayyid, terdapat juga golongan Syarifah yang merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad melalui garis keturunan perempuan. Seperti halnya para Sayyid, para Syarifah juga memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam dan mempertahankan tradisi keagamaan. Di Medan, keturunan Syarifah seringkali mendapatkan penghormatan yang tinggi dalam masyarakat, terutama dalam komunitas Melayu. Mereka tidak hanya dihormati karena garis keturunan mereka, tetapi juga karena kontribusi mereka dalam pendidikan dan dakwah Islam. Peran mereka mencakup berbagai aspek, termasuk memberikan ceramah, mengajar di madrasah, dan memimpin kegiatan keagamaan yang memperkuat nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Pernikahan antara Sayyid dan Syarifah semakin memperkuat jaringan sosial dan keagamaan di Medan, menjadikan komunitas mereka sebagai pilar penting dalam struktur sosial dan budaya setempat. Kombinasi peran Sayyid dan Syarifah ini turut memperkaya warisan Islam di Medan, memperkuat ikatan antar komunitas, dan mempromosikan keharmonisan sosial (Amal & Hajjaj, 2. Melalui kontribusi mereka, tidak hanya ajaran Islam yang tersebar luas, tetapi juga tercipta sinergi yang kuat dalam menjaga keutuhan dan stabilitas komunitas Muslim di Medan. A Adalam bahasa Arab berasal dari akar kata "A"AA A( Ashara. , yang berarti "kehormatan" Kata "syarifah" (A)OAA A Ayang berarti "mulia" atau "terhormat". atau "kemuliaan". "Syarifah" merupakan bentuk feminin dari "syarif" (A)OAA. Kata ini sering digunakan sebagai gelar kehormatan bagi perempuan yang memiliki keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Syarifah merupakan sebuah gelar kehormatan yang diberikan kepada perempuan keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW melalui garis keturunan Hasan dan Husein, cucu-cucu Nabi dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Gelar ini tidak hanya mencerminkan asal-usul yang mulia, tetapi juga diharapkan menjadi cerminan dari akhlak dan keteladanan yang tinggi, sejalan dengan ajaran Islam (Mustafa & Bahram, 2. Salah satu tokoh Syarifah yang ada dalam dunia dakwah adalah Syarifah Salwa Al-Attas. Beliau memulai perjalanan dakwahnya di kota Medan dengan memfasilitasi Majlis Zikir Nururrahmah pada tahun 2017. Majlis ini tidak hanya berfokus pada kegiatan zikir, tetapi juga menjadi wadah untuk berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang bertujuan mempererat silaturahmi serta meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di kalangan Sejak berdirinya. Majlis Zikir Nururrahmah telah menjadi pusat spiritual bagi banyak orang di Medan. Dengan pendekatan yang inklusif dan penuh kasih. Syarifah Salwa Al-Attas berhasil menarik banyak jamaah untuk bergabung dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan majlis ini. Beliau menyelenggarakan berbagai program seperti kajian keagamaan, pelatihan keterampilan, dan kegiatan sosial yang dirancang untuk memberdayakan komunitas, terutama para Muslimah (Arif, 2. Pendekatan Syarifah Salwa Al-Attas yang penuh hikmah dan kelembutan dalam menyampaikan dakwah telah memberikan dampak positif yang signifikan dalam kehidupan spiritual masyarakat Medan. Selain itu, majlis ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antaranggota komunitas, mempromosikan nilai-nilai kebersamaan, dan menginspirasi banyak orang untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Syarifah Salwa Al-Attas, melalui Majlis Zikir Nururrahmah, telah membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang bijaksana dan program-program yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, perubahan positif dalam masyarakat dapat diwujudkan. Majlis Taklim Syarifah adalah sebuah lembaga pendidikan Islam non-formal yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di bidang mental dan spiritual. Lembaga ini didirikan dengan tujuan untuk mewujudkan harapan masyarakat dalam meningkatkan akidah dan akhlak yang luhur. Majlis Taklim Syarifah berperan penting dalam meningkatkan perkembangan spiritual peserta melalui berbagai kegiatan pendidikan keagamaan yang diajarkan. Salah satu cara Majlis Taklim Syarifah membantu perkembangan spiritual peserta adalah dengan menyelenggarakan kelas-kelas tafsir Al-Qur'an dan hadis yang memberikan pemahaman mendalam tentang ajaran Islam. Selain itu, mereka juga mengadakan ceramah dan diskusi keagamaan yang dipimpin oleh ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka, yang memberikan wawasan serta inspirasi bagi para peserta. Kegiatan rutin seperti zikir bersama, doa, dan pengajian juga menjadi bagian integral dari program mereka, yang tidak hanya memperkuat hubungan peserta dengan Allah SWT, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antaranggota komunitas. Majlis Taklim Syarifah juga mengadakan pelatihan keterampilan hidup seperti manajemen waktu, komunikasi efektif, dan pengembangan pribadi yang berlandaskan nilai-nilai Islam, sehingga peserta dapat mengaplikasikan ajaran Islam & Contemporary Issues | 23 agama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berfokus pada kesejahteraan holistik. Majlis Taklim Syarifah telah berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan spiritual dan mental para pesertanya, menjadikan mereka individu yang lebih berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi Majlis Dzikir Nururrahmah rutin mengadakan berbagai kegiatan keagamaan untuk meningkatkan kualitas spiritual dan akhlak para pesertanya. Kegiatan zikir dan shalawatan diadakan setiap hari Selasa dan Jumat, dengan tema shalawat Hadrah Basaudan dan Adhiyaul LamiAo. Selain itu, majlis ini juga menawarkan pengajian tasawuf dan fiqh kewanitaan yang membantu peserta memahami ajaran Islam secara lebih dalam, meningkatkan kesadaran spiritual, dan kualitas hidup secara lahiriah dan batiniyah. Majlis Taklim Syarifah berperan penting dalam pengembangan akidah dan akhlak peserta melalui pendidikan keagamaan yang komprehensif, sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas hidup baik dari segi duniawi maupun ukhrawiyah (Eliyanto & Khurriyah, 2. Artikel ini akan mengupas lebih lanjut mengenai sosok Syarifah Salwa Al-Attas, seorang tokoh penting dalam dunia dakwah yang telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat semangat keagamaan di kota Medan. Perjalanan dakwahnya dimulai dengan mendirikan Majlis Zikir Nururrahmah pada tahun 2017, sebuah lembaga yang tidak hanya berfokus pada kegiatan zikir, tetapi juga berperan sebagai pusat pendidikan dan pemberdayaan Melalui kepemimpinannya. Syarifah Salwa Al-Attas berhasil membangun majlis ini menjadi tempat yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam kegiatan keagamaan seperti zikir rutin, shalawatan, pengajian tasawuf, dan fiqh kewanitaan. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran spiritual para peserta, tetapi juga membantu mereka memperkuat akidah dan akhlak, serta meningkatkan kualitas hidup secara lahiriah dan batiniah. Artikel ini akan membahas bagaimana pendekatan inklusif dan penuh kasih dari Syarifah Salwa Al-Attas telah berhasil menarik banyak jamaah dan menjadikan Majlis Zikir Nururrahmah sebagai pilar penting dalam struktur sosial dan keagamaan di Medan, sekaligus menginspirasi komunitas untuk lebih aktif dan harmonis dalam menjalankan kehidupan beragama. METODE Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Syarifah Salwa Al-Attas dan Majelis Nururrahmah dalam menguatkan Muslimah di Medan. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mendapatkan pemahaman mendalam mengenai kontribusi kedua subjek dalam meningkatkan kehidupan spiritual dan sosial Muslimah di kota tersebut. Penelitian ini dirancang sebagai studi kasus yang memungkinkan analisis mendalam tentang fenomena yang diteliti (Abdussamad, 2. Studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi dan memahami konteks spesifik serta dinamika yang kompleks terkait dengan peran dan dampak Syarifah Salwa Al-Attas dan Majelis Nururrahmah. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara mendalam akan melibatkan partisipan seperti Syarifah Salwa Al-Attas, anggota aktif Majelis Nururrahmah, serta peserta program majelis. Wawancara akan dilakukan secara tatap muka dan direkam untuk analisis lebih lanjut, dengan pertanyaan yang berfokus pada pengalaman, pandangan, dan persepsi mengenai peran Syarifah Salwa Al-Attas dan kegiatan yang diadakan oleh Majelis Nururrahmah. Observasi partisipatif akan dilakukan di lokasi kegiatan rutin Majelis Nururrahmah seperti zikir, shalawatan, pengajian tasawuf, dan fiqh kewanitaan, di mana peneliti akan berpartisipasi dan mengamati secara langsung untuk memahami dinamika dan interaksi yang terjadi selama kegiatan (Rasyid, 2. Dokumentasi akan mencakup sumber seperti dokumen resmi Majelis Nururrahmah, rekaman ceramah, materi pengajian, serta artikel dan publikasi terkait. Analisis dokumen akan digunakan untuk melengkapi data dari wawancara dan observasi, serta memberikan konteks historis dan struktural mengenai majelis dan pengaruhnya. Teknik analisis data akan melibatkan transkripsi dan koding wawancara serta observasi untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul, analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan hubungan antar data, serta triangulasi untuk membandingkan dan memverifikasi data dari berbagai sumber guna memastikan keabsahan dan konsistensi temuan (Sulistiyo, 2. PEMBAHASAN Awal Mula Dibentuknya Majelis Nurrurahmah Majelis Nururrahmah merupakan sebuah organisasi keagamaan yang didirikan pada tahun 2017 oleh seorang tokoh yang berasal dari Solo, yang juga merupakan ipar dari Syarifah Salwa Al-Attas. Pembentukan majelis ini berawal dari masa ketika Syarifah Salwa Al-Attas masih berada di Tarim untuk menjalankan pendidikan agamanya. Pada awal 24 | Yusra Dewi Siregar. Artika Hazra Harahap. Syahna Wulan Andina, & Adrian Marpaung pendirian majelis ini, ipar Syarifah Salwa Al-Attas memiliki peran yang cukup signifikan, membantu membangun fondasi dan struktur organisasi. Meskipun iparnya kini telah kembali ke Solo, kontribusinya dalam proses awal pendirian Majelis Nururrahmah tetap menjadi bagian integral dari sejarah dan perkembangan majelis ini. Dukungan keluarga, terutama dari iparnya, menunjukkan betapa pentingnya peran keluarga dalam pembentukan dan pengembangan awal organisasi keagamaan. Hal ini tidak hanya memperkuat fondasi Majelis Nururrahmah, tetapi juga menegaskan pentingnya jaringan dan hubungan keluarga dalam mendukung upaya dakwah dan pendidikan agama yang lebih luas. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Tarim pada tahun 2019. Syarifah Salwa Al-attas kembali ke Indonesia dan melanjutkan kegiatan keagamaan melalui Majelis Nururrahmah. Kembalinya ke tanah air memberikan momentum baru bagi Syarifah Salwa untuk mengembangkan majelis ini dengan lebih intensif, menerapkan ilmu dan pengalaman yang diperolehnya selama di Tarim. Majelis Nururrahmah mengalami beberapa perubahan signifikan, terutama terkait dengan lokasi kegiatannya. Pada awal merintisnya. Syarifah Salwa memulai kegiatan majelis ini dengan mengadakan pertemuan dari rumah ke rumah, secara aktif mengajak para jamaah untuk berpartisipasi dan meramaikan Majelis Nururrahmah. Pendekatan ini tidak hanya memungkinkan penyebaran ajaran agama yang lebih luas, tetapi juga menciptakan ikatan yang lebih erat di antara anggota majelis. Dengan dedikasi dan pengetahuannya yang mendalam. Syarifah Salwa berhasil memperluas jangkauan majelis, menarik lebih banyak pengikut, dan memperkuat peran Majelis Nururrahmah sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan spiritual di masyarakat (Faisal, 2. Pembentukan Majelis Nururrahmah oleh Syarifah Salwa Al-Attas mencerminkan dedikasi yang mendalam terhadap dakwah Islam. Syarifah Salwa memulai majelis ini dari nol, secara bertahap mengumpulkan jamaah dan membangun komunitas yang solid berkat komitmen dan kesungguhan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam. Dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Syarifah Salwa juga melibatkan anaknya, sebuah strategi yang tidak hanya mempermudah beliau dalam menyeimbangkan tugas keluarga dan dakwah, tetapi juga berperan dalam mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam sejak dini. Dengan mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan majelis. Syarifah Salwa Al-Attas memberikan contoh nyata tentang integrasi antara tanggung jawab sebagai ibu dan komitmen terhadap pengembangan spiritual dan pendidikan agama. Strategi ini membantu membentuk karakter dan pemahaman agama pada generasi berikutnya, sekaligus memperkuat struktur dan keberlanjutan majelis, menjadikannya sebagai pusat dakwah yang tidak hanya berfungsi dalam konteks saat ini tetapi juga berkontribusi pada masa depan komunitas Muslim. Perjuangan dakwah yang dilakukan oleh Syarifah Salwa Al-Attas tidak hanya mencerminkan keteguhannya dalam memimpin Majelis Nururrahmah, tetapi juga memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menyeimbangkan peran publik dan peran seorang ibu. Dalam perannya sebagai pemimpin dakwah. Syarifah Salwa berhasil mengorganisir dan mengembangkan majelis dengan dedikasi penuh, sembari tidak melupakan tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya. Integrasi antara aktivitas dakwah dan kehidupan keluarga yang dijalankannya mencerminkan kematangan dan keahlian beliau dalam menghadapi tantangan besar yang sering dihadapi oleh banyak pemimpin Dengan membagi waktu secara efektif antara kepemimpinan majelis dan perhatian kepada keluarga. Syarifah Salwa Al-Attas menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak harus mengorbankan tanggung jawab keluarga, melainkan dapat saling mendukung dan memperkuat. Keberhasilannya dalam mengelola kedua peran ini memberikan inspirasi dan contoh nyata bagi banyak wanita yang ingin menjalankan peran serupa dalam masyarakat. Riwayat Hidup Syarifah Umi Alatas Syarifah Salwa Al-Attas, yang lahir pada tanggal 5 Februari 1996, memulai pendidikan formalnya di Taman Kanak-kanak (TK) di Medan sebelum melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD). Ia menghabiskan tiga tahun pertama SD-nya di Medan dan tiga tahun berikutnya di Aceh. Pendidikan menengahnya, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), dijalani di Langsa. Aceh. Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA. Syarifah Salwa menikah dengan Habib Hayqal Alaydrus dan mengikuti suaminya ke Tarim. Di Tarim, beliau melanjutkan pendidikannya di sebuah pondok yang dikelola oleh Habib Umar bin Hafidzh, sebuah institusi pendidikan khusus untuk wanita yang terkenal dengan kualitas pengajaran agama dan pengembangan spiritualnya. Langkah ini tidak hanya mencerminkan komitmennya terhadap pendidikan agama yang mendalam tetapi juga memperlihatkan dukungannya terhadap tradisi keagamaan yang kuat dalam keluarganya. Kisah pendidikan dan perjalanan hidup Syarifah Salwa Al-attas merupakan cerminan dedikasi dan komitmen yang luar biasa dalam menuntut ilmu, bahkan setelah memasuki kehidupan berkeluarga. Pendidikannya di pondok Islam & Contemporary Issues | 25 Habib Umar bin Hafidzh di Tarim. Yaman, tidak hanya memberikan beliau pengetahuan yang mendalam dalam bidang keagamaan, tetapi juga membentuk karakter dan visi hidupnya. Tarim, yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam dengan tradisi keilmuan yang kuat, menjadi tempat Syarifah Salwa mengasah pemahaman agamanya, mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, dan mengembangkan spiritualitasnya. Pengalaman belajar di lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai Islam tradisional ini memperkaya wawasan dan memperluas perspektif Syarifah Salwa, membekalinya dengan fondasi kuat untuk mengajar dan membimbing umat setelah kembali ke tanah air. Keputusannya untuk menempuh pendidikan lanjutan di usia yang tidak lagi muda dan sudah berkeluarga menunjukkan tekad dan semangat belajar yang tinggi, sekaligus menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa usia dan status pernikahan bukanlah hambatan dalam mengejar ilmu dan mengembangkan diri. Perjalanan pendidikan Syarifah Salwa ini tidak hanya membentuk dirinya sebagai seorang ulama yang berpengetahuan luas, tetapi juga sebagai teladan dalam kesungguhan menuntut ilmu dan mengamalkannya untuk kemaslahatan umat. Aktivitas Rutin dan Tim Majelis Nururrahmah Majelis Nururrahmah mengadakan kegiatan rutin pada hari Selasa dan Jumat dengan fokus materi yang berbeda untuk setiap pertemuannya. Pada hari Selasa, kegiatan utama adalah Hadrah Basaudan dan kajian tasawuf, sementara pada hari Jumat difokuskan pada pembacaan Adh-Dhiya'ullami' dan kajian fiqh. Hari Selasa: Hadrah Basaudan dan Kajian Tasawuf Hadrah Basaudan: Merupakan sesi pembacaan dan pelantunan syair-syair pujian yang dikenal sebagai Hadrah Basaudan. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rohani tetapi juga sebagai media untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Syair-syair yang dilantunkan mengandung makna yang mendalam dan diharapkan mampu menambah kekhusyukan serta pemahaman spiritual anggota majelis. Kajian Tasawuf: Setelah sesi Hadrah Basaudan, kegiatan dilanjutkan dengan kajian tasawuf yang fokus pada pemahaman mendalam tentang ihsan dan perjalanan spiritual seorang Muslim. Kajian ini bertujuan untuk membentuk karakter yang lebih baik melalui penghayatan nilai-nilai sufistik, mengarahkan anggota majelis untuk mencapai kedekatan yang lebih tinggi dengan Allah SWT. Hari Jumat: Adh-Dhiya'ullami' dan Kajian Fiqh Adh-Dhiya'ullami': Fokus kegiatan pada hari Jumat adalah pembacaan kitab Adh-Dhiya'ullami', yang merupakan kumpulan doa dan wirid dengan keutamaan khusus. Pembacaan kitab ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa-doa yang diajarkan oleh para ulama besar. Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan spiritual anggota majelis dalam berdoa dan berdzikir. Kajian Fiqh: Selain pembacaan kitab, kegiatan di hari Jumat juga diisi dengan kajian fiqh yang membahas berbagai aspek hukum Islam. Kajian ini memberikan pemahaman praktis kepada anggota majelis mengenai pelaksanaan ibadah dan muamalah dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi fiqh yang dibahas membantu anggota majelis memahami dan menerapkan hukum-hukum Islam dengan lebih Hadrah adalah tradisi seni Islam yang berasal dari Timur Tengah dan telah menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia, seiring dengan kedatangan Islam di kawasan ini oleh para pendatang dari Arab. Istilah "hadrah" dalam bahasa Arab berarti "kehadiran," yang pada awalnya merujuk pada "kehadiran Allah," namun sejak abad ke-18, istilah ini lebih sering diartikan sebagai "kehadiran spiritual Muhammad. " Hadrah umumnya melibatkan pertemuan jamaah sufi pada hari Jumat untuk berzikir, yaitu pembacaan doa yang dinyanyikan baik secara individu maupun di hadapan publik. Acara ini dimulai dengan pembacaan doa, diikuti dengan zikir dan ritual lainnya, serta digunakan untuk merayakan festival Islam tertentu dan ritus peralihan, baik di rumah, masjid, majelis kelompok sufi, maupun tempat Hadrah Majelis Nururrahmah ini didirikan oleh Syarifah Salwa Al-attas pada tahun 2019. Syarifah Salwa Alattas mendirikan hadrah ini dalam jangka waktu beberapa bulan setelah berdirinya Majelis Nururrahmah. Pada awalnya hadrah dari Majelis Nururrahmah hanya di isi oleh tiga orang saja yang terdiri dari, satu orang menyanyi dan dua orang lainnya bermain alat musik hadrah. Meskipun jumlah anggotanya sedikit, semangat dan dedikasi mereka dalam melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW sangat tinggi. Seiring berjalannya waktu, kelompok hadrah di Majelis Nururrahmah semakin berkembang dan menarik lebih banyak anggota, menjadikannya sebagai salah satu aktivitas utama yang rutin dilaksanakan. Hadrah tidak hanya digunakan pada acara-acara khusus, tetapi juga menjadi bagian integral dari pertemuan rutin majelis. Para anggota 26 | Yusra Dewi Siregar. Artika Hazra Harahap. Syahna Wulan Andina, & Adrian Marpaung berkumpul untuk berlatih dan melantunkan syair-syair hadrah bersama-sama, menciptakan suasana kebersamaan dan kekhusyukan yang mendalam. Dengan didirikannya kelompok hadrah. Syarifah Salwa Al-Attas telah memberikan kontribusi penting dalam memperkaya kegiatan di Majelis Nururrahmah. Kelompok ini tidak hanya berfungsi sebagai media pelestarian tradisi Islam, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar anggota majelis melalui musik dan pujian spiritual, memperdalam kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan memperkuat ikatan spiritual di antara mereka. Hadrah, sebuah seni musik dan tarian spiritual Islam, telah menyebar ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan pendidikan, menjadi bagian integral dari perkembangan budaya Islam di nusantara. Orang-orang Arab yang menetap di Indonesia tidak hanya berperan dalam memperluas jaringan perdagangan, tetapi juga menjadi agen penting dalam penyebaran agama Islam kepada masyarakat pribumi. Mereka mendirikan madrasah-madrasah dan sekolah agama di berbagai wilayah, memberikan kesempatan bagi penduduk setempat untuk mempelajari ajaran Islam secara mendalam. Sejak awal abad ke-20, hadrah telah mengalami perkembangan signifikan di Indonesia, menyebar ke berbagai wilayah seperti Jawa. Sumatra, dan pulau-pulau lainnya, menjadi bagian tak terpisahkan dari ekspresi budaya Islam lokal. Dalam perjalanannya, hadrah di Indonesia telah mengalami beberapa adaptasi dan inovasi, seperti penggunaan alat musik yang beragam sesuai dengan kekayaan budaya setempat, serta penambahan gerakan tari yang lebih dinamis yang mencerminkan perpaduan antara tradisi Arab dan budaya Indonesia. Perkembangan ini tidak hanya memperkaya khazanah seni Islam di Indonesia, tetapi juga menjadi media dakwah yang efektif, menggabungkan unsur spiritual dengan hiburan yang menarik bagi berbagai lapisan masyarakat. Hadrah kini tidak hanya menjadi simbol identitas keislaman, tetapi juga menjadi jembatan budaya yang menghubungkan tradisi Arab dengan kearifan lokal Indonesia, menciptakan sebuah bentuk seni yang unik dan khas yang terus berkembang dan dilestarikan oleh generasi ke generasi. Hadrah telah menjadi bagian integral dari budaya Islam di Indonesia, memainkan peran multifaset yang melampaui fungsi religiusnya semata. Sebagai bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan musik, nyanyian, dan tarian. Hadrah berfungsi sebagai sarana penghormatan dan pujian kepada Allah SWT, sekaligus menjadi medium ekspresi artistik yang kaya akan nilai-nilai Islam. Kesenian ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya nasional, tetapi juga berperan penting dalam membina dan mempertinggi akhlak masyarakat Muslim. Melalui lirik-lirik yang sarat makna spiritual dan gerakan-gerakan yang penuh simbolisme. Hadrah menjadi alat pendidikan moral yang efektif, menanamkan nilai-nilai keislaman seperti kesabaran, kerendahan hati, dan cinta kepada Allah serta Rasul-Nya. Lebih dari itu. Hadrah telah berkembang menjadi jembatan budaya yang menghubungkan tradisi lokal dengan nilainilai universal Islam, menciptakan sintesis unik yang mencerminkan keragaman dan kekayaan budaya Indonesia. Dalam konteks modern. Hadrah terus beradaptasi, tidak hanya sebagai bentuk pelestarian warisan budaya, tetapi juga sebagai cara untuk meneguhkan identitas Muslim Indonesia di tengah arus globalisasi, membuktikan bahwa tradisi Islam dapat tetap relevan dan dinamis dalam menghadapi perubahan zaman. SIMPULAN Majelis Nururrahmah adalah organisasi keagamaan yang didirikan pada tahun 2017 oleh ipar Syarifah Salwa Al-Attas. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Tarim pada 2019. Syarifah Salwa kembali ke Indonesia dan mengembangkan majelis ini secara intensif. Majelis ini mengadakan kegiatan rutin pada hari Selasa (Hadrah Basaudan dan kajian tasawu. dan Jumat . embacaan Adh-Dhiya'ullami' dan kajian fiq. Syarifah Salwa Al-Attas, lahir pada 5 Februari 1996, menempuh pendidikan dari TK hingga SMA di Medan dan Aceh sebelum melanjutkan studinya di pondok Habib Umar bin Hafidzh di Tarim. Yaman. Pengalaman pendidikannya membentuk karakter dan visinya dalam memimpin Majelis Nururrahmah. Hadrah, yang merupakan bagian penting dari kegiatan majelis, didirikan oleh Syarifah Salwa pada tahun Tradisi seni Islam ini telah menyebar ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan pendidikan, menjadi bagian integral dari budaya Islam di nusantara. Hadrah tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni dan spiritual, tetapi juga sebagai media dakwah yang efektif, menggabungkan unsur spiritual dengan hiburan yang menarik bagi berbagai lapisan masyarakat. REFERENSI