Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 11 No. 4 Desember 2022 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 56 Ae 65 ANALISIS PENGARUH TRANSFER PRICING DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP TAX AVOIDANCE (Penelitian pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 - 2. Oleh : Dematria Pringgabayu 1,2. Imas Purnamasari2. Budi Supriatono Purnomo2 Politeknik Pajajaran ICB Bandung. Indonesia Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pendidikan Indonesia Article Info Article History : Received 16 Des - 2022 Accepted 25 Des - 2022 Available Online 30 Des Ae 2022 Abstract This study aims to examine the influence of transfer pricing variables, institutional ownership, and managerial ownership to tax avoidance either partially or simultaneously. This research method used is quantitative method by using descriptive explanative method. This study uses secondary data in the form of financial statements of manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange period 2017 to 2021 with a population of 33 companies and 132 samples. The analytical method used to measure the effect of transfer pricing, ownership structure to tax avoidance is multiple linear regressions. The results show that transfer pricing does not affect tax avoidance because it does not have significant implications . o effec. because the potential taxable income . lthough shifted from one to another agenc. was still within the same jurisdiction of taxation. Meanwhile, the result of the research shows that the variable of institutional ownership has a negative effect on tax avoidance because the large concentration of institutional ownership will influence the aggressive tax policy and the managerial ownership does not affect the tax avoidance because the company in Indonesia has a very small managerial ownership of about 5%. Keyword : Transfer Pricing. Ownership Structure. Aggressive Tax Avoidance. dalam catatan pajak perusahaa. terhadap laba sebelum pajak pada perusahaan (Dyreng. Hanlon. Maydew. Aggressive tax avoidance juga didefinisikan sebagai tindakan manajemen untuk mengecilkan perencanaan pajak (Richardson. , & Lanis. Frank. Lynach. , & Rego. Chen. Shuping. Xia Chen. Qiang Cheng. Hanlon. Mills. , & Slemrod. Selain itu karena perusahaan Multinasional memiliki posisi dalam hal prinsip yaitu apa yang digunakannya pasti akan menguntungkan bagi kelompoknya, sehingga perusahaan multinasional menggunakan harga yang menyimpang dari harga yang berlaku umum. Maka. Multinasional dapat menggunakan transfer pricing yang rendah dari armAos length price, yang tujuannya mengefisienkan beban pajak atau dengan cara menggunakan harga yang tinggi dari PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk menguji transfer pricing dan struktur kepemilikan berpengaruh terhadap Agrresive Tax Avoidance. Secara umum transfer pricing merupakan jumlah harga atas penyerahan barang atau imbalan atas penyerahan jasa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dalam transaksi bisnis financial maupun transaksi lainnya. (Gunadi, 2. Menurut Tsurumi . dalam Gunadi, 2007 suatu grup perusahaan, transfer pricing . ering disebut dengan istilah intercompany pricing, intercorporate pricing, interdivisional pricing, atau internal pricin. , merupakan harga yang diperhitungkan untuk pengendalian manajemen . anagement contro. atas transfer barang dan jasa dalam satu grup perusahaan. Tax avoidance membayar jumlah kas pajak yang rendah/CashETR . ebagai lawan GAAP-beban pajak yang ada armAos length price untuk tujuan tertentu. Oleh karena itu kegiatan aggressive tax ini mencakup kegiatan perencanaan pajak yang legal atau yang mendekati grey area, serta kegiatan yang ilegal (Richardson. , & Lanis. Beberapa kasus transfer pricing diantaranya PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan kinerja ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) mereka pada tahun lalu. Jumlahnya mencatat rekor yakni lebih dari 118 ribu unit. Jumlah ini setara dengan 70 persen total ekspor kendaraan dari Indonesia tahun Jika ditambah dengan produk mobil terurai atau complete knock down (CKD) dan komponen kendaraan, maka nilai ekspor pabrik mobil yang 95 persen sahamnya dikuasai Toyota Motor Corporation (TMC) Jepang tersebut mencapai US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan memiliki bukti bahwa Toyota Motor Manufacturing memanfaatkan transaksi antar perusahaan terafiliasi di dalam dan luar negeri Pemindahan memanipulasi harga secara tidak wajar. Telah terungkap bahwa seribu mobil buatan Toyota Motor Manufacturing Indonesia harus dijual dulu ke kantor Toyota Asia Pasifik di Singapura, sebelum berangkat dan dijual ke Filipina dan Thailand. Hal ini dilakukan untuk menghindari membayar pajak yang tinggi di Indonesia. Dengan kata lain. Toyota di Indonesia hanya bertindak Auatas namaAy Toyota Motor Asia Pacific Pte. Ltd Ae yaitu nama unit bisnis Toyota yang berkantor di Singapura. Dari kasus diatas disimpulkan bahwa PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia untuk menghindari pajak di Indonesia apabila menjual langsung ke Filipina dan Thailand mereka dengan sengaja menjual produk tersebut ke Toyota Motor Asia Pasific Ltd dikarenakan memanfaatkan tax heaven country yang ada di Singapura. Starbucks Inggris memanfaatkan celah hukum dan tax heaven di Belanda melalui cabang starbucks yang berada di Belanda. Penghasilan starbucks Inggris ditransfer ke starbucks Belanda bernama Stabucks Coffee EMEA BV sebagai biaya lisensi dan royalti bagi Starbucks Coffee EMEA BV di Belanda. Jika menggunakan pola antitransfer pricing yang benar, starbucks Inggris seharusnya menstransfer biaya itu pada cabang terdekat Stabucks Coffee EMEA BV yang berada di Inggris. Untuk meyakinkan bahwa kerugian yang didapat starbucks Inggris adalah benar, operasi Starbucks Inggris dibiayai melalui utang dari cabang-cabang Starbucks lainnya di negara Sehingga, biaya pembayaran utang dan bunga akan mengurangi penghasilan dari starbucks Inggris, sementara keuntungannya ditransfer ke negara Belanda yang tarif pajaknya sangat kecil. Agar lebih meyakinkan lagi, pembelian biji kopi starbucks dibeli dari starbucks di Swiss. Meski sebenarnya biji kopi itu tidak dibeli dari starbucks Inggris, melainkan dari banyak negara Hal yang digunakan adalah karena starbucks di Swiss yang memiliki hak hukum atas biji kopi tersebut, sehingga seakan-akan starbucks Inggris membeli biji kopi dari starbucks Swiss yang pajak penjualannya rendah, hanya sebesar 2% dari nilai Hal utama dari pemanfaatan tax heaven oleh starbucks adalah transfer penghasilan starbucks di Inggris ke luar negeri, yaitu ke Belanda sebagai negara tax heaven. Dalam kurun waktu 3 tahun, dengan berbagai praktik yang dilakukan, starbucks Inggris mengakui kerugian dan tidak dikenakan pajak selama itu juga di Inggris. Kaitan kasus starbucks dengan etika bisnis internasional adalah etika bisnis internasional ada untuk mengurangi tindak kecurangan-kecurangan yang dilakukan perusahaan dan menghindari eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh pihak perusahaan, dalam kasus starbucks, eksploitasi yang dilakukan adalah eksploitasi keuntungan. Bila mengacu kepada De George Rule, yaitu 10 aturan internasional yang mengatur keberlangsungan korporasi multinasional, starbucks Inggris telah melanggar aturan pertama dan keenam dalam etika bisnis internasional, yaitu . korporasi multinasional tidak boleh dengan sengaja mengakibatkan kerugian langsung dan . korporasi internasional harus membayar pajak dengan fair . Sehingga, dapat disimpulkan bahwa starbucks Inggris telah melanggar etika bisnis internasional dan bertindak amoral seperti yang dikatakan oleh salah satu perwakilan otoritas pajak Inggris yang mengintrogasi CFO starbucks Inggris. ttp://merrydewiputri. com/2021/06/02/taxplanning-dalam-transfer-pricing-versi-perusahaanstarbucks/ . iakses tanggal 11 Juni 2. Penelitian ini meneliti kembali atas penelitianpenilitian sebelumnya untuk menguji Tax Avoidance. Untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang penelitian ini, maka penelitian ini di organisir dalam 5 . Setelah pendahuluan, bagian 2 mengulas kajian teoritis dan perumusan hipotesis, bagian 3 menjelaskan metode penelitian ini, dilanjutkan dengan bagian 4 yang menjelaskan hasil penelitian dan pembahasannya, dan diakhiri kesimpulan dan saran. KAJIAN PUSTAKA PENGEMBANGAN HIPOTESIS Landasan Teori Teori Stakeholders DAN Istilah diperkenalkan oleh Stanford Research Institute (SRI) pada tahun 1963. Stakeholder didefinisikan sebagai AuAny group or individual who can affected by the achievement of an organizationAos objectiveAy. Yang artinya stakeholder merupakan kelompok maupun individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh proses pencapaian tujuan Tanggung jawab perusahaan yang semula fokus pada indikator ekonomi dalam laporan keuangan, saat ini telah bergeser dan lebih memperhitungkan faktor-faktor sosial terhadap stakeholder, baik internal maupun eksternal (Hamdani, 2. Untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan, sangat tegantung kepada dukungan para stakeholder. Makin banyak dukungan dari stakeholder, makin besar kemampuan perusahaan beradaptasi dengan Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari dialog antara perusahaan dengan stakeholder. Menurut Hamdani . , stakeholder perusahaan terdiri dari Shareholder. Investor. Costumer. Suplliers. Government. Natural Enviroment, dan Local Comminities. Teori Kepatuhan Pajak Machfud Sidik yang dikutip oleh Siti Kurnia Rahayu 0:137-. Kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela merupakan tulang punggung sistem self assestment system, dimana wajib pajak bertanggung jawab menetapkan sendiri kewajiban perpajakan dan kemudian secara akurat dan tepat waktu membayar dan melaporkan pajaknya tersebut. Teori Keagenan Teori keagenan yang menjelaskan hubungan antara manajemen perusahaan . dengan pemegang saham . pertama kali dikemukakan oleh Jensen dan Meckling . Hubungan keagenan didefinisikan sebagai suatu kontrak yang mana satu atau lebih principal menggunakan orang lain atau agen untuk menjalankan aktivitas perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976 dalam Natasari, 2. Transfer Pricing Transfer Pricing mengukur efektifitas departemen dari suatu perusahaan untuk melihat kinerja keseluruhan perusahaan tersebut. Suandy . Penelitian yang dilakukan Richardson. Grantley . yang berkaitan dengan transfer pricing dimana penelitian yang berjudul Determinants of Transfer Pricing Aggressiveness: Empirical Evidence from Australian profitabilitas, leverage, aset tidak berwujud dan multinasional berhubungan positif terhadap transfer pricing agresivitas, sedangkan hasil dari regresi tambahan menunjukkan Transfer Pricing meningkat melalui aset tidak berwujud dan multinasionality serta adanya variable kontrol yang digunakan yaitu ukuran perusahaan dan sektor Pada prinsipnya transfer pricing dapat melibatkan baik transaksi domestik maupun global. Dari aspek pajak penghasilan, transfer pricing domestik tidak membawa implikasi yang signifikan karena potensi penghasilan kena pajaknya . alaupun digeser dari satu ke lain bada. masih berada dalam satu yuridiksi pemajakan yang sama, (Gunadi, 2. Penggeseran potensi pajak tersebut dapat memberikan manfaat pada grup perusahaan secara keseluruhan dalam rangka, misalnya . pemerataan penghasilan kena pajak . ase averagin. dengan mengalokasikan laba pada beberapa subyek pajak untuk mengurangi kemungkinan terkenia progresivitas tarif . % atau 15%), dan . arbitrage kerugian . oss arbitrag. dengan menggeser laba kepada subjek pajak yang masih berhak atas kompensasi kerugian. (Gunadi. Struktur Kepemilikan Struktur kepemilikan perusahaan timbul akibat adanya perbandingan jumlah pemilik saham dalam perusahaan. Sebuah perusahaan dapat dimiliki oleh seseorang secara individu, masyarakat luas, pemerintah, pihak asing, maupun orang dalam perusahaan tersebut . (Tamba, 2. Kepemilikan Institusional Gedajlovic Shapiro berpendapat bahwa kepemilikan saham oleh institusi atau perusahaan akan mampu memberikan pengendalian yang efektif bagi manajemen perusahaan karena padatnya jaringan bisnis, utang, dan modal perusahaan. Kepemilikan Manajerial Kepemilikan manajerial merupakan pemisahan kepemilikan antara pihak outsider dengan pihak insider. Jika dalam suatu perusahaan memiliki banyak pemilik saham, maka kelompok besar individu tersebut sudah jelas tidak dapat berpartisipasi dengan aktif dalam manajemen perusahaan sehari-hari. Karenanya, mereka memilih dewan komisaris, yang memilih dan mengawasi manajemen perusahaan. Struktur ini berarti bahwa pemilik berbeda dengan manajer Hal ini memberikan stabilitas bagi perusahaan yang tidak dimiliki oleh perusahaan dengan pemilik merangkap manajer, (Bodie: Profitabilitas Menurut Niresh dan Velnampy . Profitabilitas adalah sejumlah uang perusahaan yang dapat dihasilkan dari sumberdaya apapun yang dimiliki perusahaan. Profitabilitas menurut Brigham dan Houston . adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Profitabilitas dapat ditetapkan dengan menghitung berbagai tolak ukur yang relevan. Salah satu tolak ukur tersebut adalah dengan rasio keuangan sebagai salah satu analisa dalam menganalisa kondisi keuangan, hasil operasi dan tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Definisi lain yang dikemukakan oleh Fahmi . bahwa rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin tinggi rasio profitabilitas maka akan semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan. Size Menurut Machfoedz . dalam Suwito dan Herawati . menyatakan bahwa ukuran perusahaan adalah suatu skala yang dapat perusahaan besar dan kecil menurut berbagai cara seperti total aset atau total aset perusahaan, nilai pasar saham, rata-rata tingkat penjualan dan jumlah penjualan. Sedangkan menurut Brigham dan Houston . ukuran perusahaan adalah skala besar kecilnya perusahaan yang dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai cara antara lain dengan ukuran pendapatan, total aset dan total Perusahaan yang memiliki total aset besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut relatif lebih stabil dan mampu menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang memiliki total aset sedikit atau rendah, (Rachmawati dan Triatmoko, 2. Tahap kedewasaan perusahaan ditentukan berdasarkan total aset, semakin besar total aset menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek baik dalam jangka waktu yang relatif panjang, hal ini juga menggambarkan bahwa perusahaan lebih stabil dan lebih mampu dalam menghasilkan laba dibandingkan perusahaan dengan total aset yang kecil, (Rachmawati dan Triatmoko, 2. Penghindaran Pajak (Tax Avoidanc. Menurut Darussalam . Tax avoidance biasanya dapat diartikan sebagai suatu skema transaksi yang ditujukan untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan kelemahankelemahan . ketentuan perpajakan suatu Sementara menurut OECD Tax Avoidance biasanya dipergunakan untuk menjelaskan usahausaha wajib pajak untuk mengurangi beban Menurut Lanis dan Richardson . menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan menggunakan GAAP ETR untuk mengukur Aggresivitas Pajak karena GAAP ETR yang paling banyak digunakan untuk mengukur Tax Avoidance dalam literatur. Lanis dan Richardson . alasan menggunakan GAAP ETR bahwa GAAP ETR merupakan proksi yang paling banyak digunakan pada literatur penelitian terdahulu. Semakin rendah nilai GAAP ETR yang dimiliki perusahaan maka semakin tinggi tingkat agresivitas pajak. Leverage Leverage menurut Sartono . adalah penggunaan sumber dana yang dimiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Beban tetap ini dapat berupa bunga pinjaman, jika perusahaan menggunakan sumber pembelanjaan dari luar . odal asin. , sedangkan apabila perusahaan menggunakan mesin-mesin, maka menanggung beban tetap yang berupa biaya penyusutan mesinmesin . Wild. Subramanyan, dan Hasley . mengemukakan bahwa Aumotivasi utama perusahaan memperoleh pendanaan usaha melalui utang adalah potensi biaya yang lebih rendahAy. Dari sudut pandang pemegang saham, utang lebih murah dibandingkan dengan penggunaan eukitas, hal ini didasarkan karena bunga sebagian besar jumlahnya tetap, dan jika bunga lebih kecil dari pengembalian yang diperoleh dari pendaan utang, selisih lebih dari atas pengembalian akan menjadi keuntungan bagi investor ekuitas Wild. Subramanyan, dan Hasley . Selain itu, bunga merupakan beban yang dapat mengurangi pajak sedangkan deviden tidak, dampaknya adalah besarnya pajak yang ditanggung perusahaan akan semakin kecil sebagai akibat dari penggunaan utang dalam struktur modal perusahaan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pengembalian. Wild. Subramanyan, dan Hasley . METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini meliputi perusahaan-perusahaan di sektor manufaktur yang telah go public dan sahamnya terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dengan menggunakan metode purposive sampling, maka terdapat 33 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2017 sampai dengan tahun 2021 yang dijadikan sampel. Pengukuran variabel independen yang meliputi transfer pricing dan struktur kepemilikan diukur sebagai berikut : Variabel transfer pricing diukur dengan menggunakan TP Disclosure Index dilakukan dengan menggunakan pendekatan dikotomi, yaitu setiap item TP dalam instrumen penelitian diberi nilai 1 jika diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak Rumus perhitungan TP adalah sebagai berikut: ROA = Net Income / Total Asset Leverage. Dalam penelitian ini leverage diukur menggunakan Debt to Total Asset Ratio (DAR), dengan menggunakan rumus sebagai berikut: DER = Total debt / Total Equity * 100% Size Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat ukuran perusahaan adalah Ln total asset. Pengukuran variabel dependen yaitu tax avoidance menggunakan GAAP ETR dalam penelitian Lanis. Richardson . Hanlon dan Heinztman . yaitu dengan rumus : TP = GAAP ETR= Beban Pajak Penghasilan Pendapatan Sebelum Pajak OcXij Dimana: TP : TP Disclosure Index perusahaan nj : jumlah item untuk perusahaan j, nj = 7 Xij : 1 = jika item i diungkapkan. 0 = jika item i tidak diungkapkan. Model penelitian regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan software eviews. Untuk menganalisis data, penulis melakukan analisis deskriptif untuk menentukan batas model regresi, pengujian R2 dan pengujian hipotesis pada hasil regresi menggunakan t-statistik dan F-statistik. Berikut model yang akan diuji : Kepemilikan Institusional Dalam penelitian ini kepemilikan institusional akan diukur dengan menghitung total saham yang dimiliki pemegang saham institusi dibandingkan dengan total saham yang beredar, seperti yang dilakukan oleh Koubaa dan Anis . Kepemilikan isntitusional dihitung dengan rumus sebagai berikut: KEI = Total Saham yang Dimiliki Pemegang Saham Institusi Total Saham yang Beredar = yu yu 1 Transfer Pricing yu 2 Kepemilikan Institusional yu 3 Kepemilikan Manajerial e Dimana: yu = Konstanta = Tax Avoidance dengan GAAP ETR yu = Slope atau koefisien regresi atau = Transfer Pricing X2. = Kepemilikan Institusional X2. = Kepemilikan Manajerial =Eror Kepemilikan Manajerial Dalam penelitian ini kepemilikan manajerial akan diukur dengan menghitung persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen/Direksi perusahaan dibandingkan dengan jumlah seluruh saham yang beredar seperti yang dilakukan oleh Melinda . Kepemilikan manajerial ini dihitung dengan rumus sebagai KM = Jumlah Saham yang Dimiliki Manajemen / Direksi Perusahaan Total Saham yang Beredar Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai variabel kontrol, diantaranya : Profitabilitas. Dalam penelitian ini Return On Asset (ROA) Return on Assest (ROA) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai HASIL PENELITIAN Tabel 1 Hasil Uji Deskriptif K_INS K_MGT PROFIT LEV SIZE Valid N . Sumber : eviews, data diolah Descriptive Statistics Mean Maximum ,40476190 ,571429 ,71210674 ,981923 ,04399681 ,488427 ,16133225 4,276634 ,78592439 5,152418 28,74306974 33,198812 ,25130284 ,326509 Tabel 1 menunjukan hasil analisis deskriptif dengan jumlah laporan Tahunan (N) dari penelitian ini ada 132 data dari 33 perusahaan yang menjadi Minimum Std. Deviation ,000000 ,134622731 ,000000 ,177823811 ,000000 ,104899947 ,019469 ,375259734 ,109234 ,669522147 25,676961 1,704462568 ,177549 ,024612093 Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable bebas . Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Uji Multikolinieritas Tabel 2 Hasil Uji Multikolinieritas Variance Inflation Factors Date: 07/15/17 Time: 20:32 Sample: 1 132 Included observations: 132 Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF K_INS K_MGT PROFIT LEV SIZE 46E-06 17E-06 65E-06 Sumber : Eviews 9 data diolah kembali Koefisien determinasi (R. pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol sampai satu .