JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG https://jurnal. stikesht-tpi. DOI: https://doi. org/10. 59870/bd6cm658 Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia The Relationship Between Knowledge And Attitudes With The Incidence Of Hypertension In The Elderly Jessanta Kristina Telaumbanua 1. Delisman Waruwu 2. Raviatul Rahma 3. Maharani 4. Tiarnida Nababan 5 1,2,3,4,5 Universitas Prima Indonesia E-mail Korespondensi: jessantatel32055@gmail. Abstrak Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang melampaui ambang batas yang sehat, yang menyebabkan masalah pada pembuluh darah. Faktor-faktor seperti pengetahuan, perilaku, dan sikap dapat memengaruhi perkembangan hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan dan sikap mengenai prevalensi hipertensi di kalangan orang dewasa yang lebih tua. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan menggunakan metode Survei Analitik dan kerangka kerja Cross Sectional yang difokuskan pada Wilayah UPT Puskesmas Lolofitumoi. Populasi sasaran penelitian ini mencakup semua orang lanjut usia yang didiagnosis hipertensi, berjumlah 290 peserta, dan teknik pengambilan sampel purposif digunakan berdasarkan rumus Slovin, sehingga menghasilkan ukuran sampel sebanyak 74 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, dan analisis bivariat dilakukan melalui metode chi square. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar peserta menunjukkan pengetahuan yang baik, dengan 39 orang . ,7%) menunjukkan sifat ini, sementara 38 orang . ,4%) mempertahankan sikap positif, dan sebagian besar kasus hipertensi sebenarnya tidak hipertensi, yaitu sebanyak 42 orang . ,8%). Analisis tersebut menghasilkan hasil chi square dengan nilai p signifikan sebesar 0,004, yang menunjukkan adanya korelasi antara pengetahuan dan kejadian hipertensi pada lansia. Selain itu, nilai p sebesar 0,003 menunjukkan adanya hubungan antara sikap dan kejadian hipertensi pada kelompok usia ini. Kata kunci: Pengetahuan. Sikap. Hipertensi. Lansia Abstract Hypertension refers to elevated blood pressure that surpasses healthy thresholds, leading to issues with blood vessels. Factors such as knowledge, behaviors, and attitudes can influence thedevelopment The objective of this research is toexplore the connection betweennknowledge and attitudes regarding the prevalence offhypertension among older adults. This study employed a quantitative design utilizing the Analytical Survey method and a Cross Sectional framework focused on the UPT Lolofitumoi Health Center Area. The study's target population included all elderly individuals Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. diagnosed with hypertension, totaling 290 participants, and a purposivessamplingttechnique waseemployed based on the Slovin formula, resulting in a sample size of 74 individuals. Data were gatheredusing a questionnaire, andbivariate analysis was performedthrough the chi square method. Findings revealed that a significant portion of participants demonstrated good knowledge, with 39 individuals . 7%) exhibiting this trait, while 38 individuals . 4%) maintained a positive attitude, and most of the hypertension cases were actually non-hypertensive, accounting for 42 individuals . 8%). The analysis yielded chissquare results with a significantp-value of 0. 004, indicating a correlation betweennknowledge and the incidence ofhypertension among theelderly. Additionally, a pvalue of 0. 003 suggested a connectionbetween attitudes and the occurrences of hypertension in this age group. Keywords: Knowledge. Attitude. Hypertension. Elderly PENDAHULUAN Kemajuan kesehatan di Indonesia melibatkan berbagai inisiatif yang bertujuan untuk memberdayakan individu agar mampu menjalani gaya hidup sehat, dan pada akhirnya berupaya mencapai hasil kesehatan terbaik. Pencapaian pemerintah dalam bidang kesehatan dapat meningkatkan standar kesehatan masyarakat dan meningkatkan Harapan Hidup. Kemajuan ini terbukti dari meningkatnya jumlah warga lanjut usia yang tinggal di Indonesia. (Imelda. Sjaaf, and Puspita 2. Hipertensi, yang sering disebut sebagai tekanan darahhtinggi, termasuk salah satuppenyebab utama kematian dini di seluruh dunia, sehingga mendapat julukan "pembunuh diam-diam" karena banyak orang dengan kondisi ini tidak menyadari gejalanya. Setiap tahun, hampir satu miliar orang meninggal di seluruh dunia, dengan dua pertiga dari mereka yang terkena hipertensi tinggal di negara negara Diperkirakan 1,56 miliar orang diperkirakan menderita tekanan darah tinggi pada tahun Setiap tahunnya, tekanan darah tinggi menyebabkan hampir 8 juta kematian, dan di Asia Tenggara, sekitar 1,5 juta orang, yaitu sekitar sepertiga dari seluruh populasi, terkena dampak masalah kesehatan ini (Ruus et al. , n. Menurut WHO (World Healt Organitatio. pada tahun 2017, populasi global penderita tekanan darah tinggi mencapai 600 juta orang, dan penyakit ini menyebabkan 3 juta kematian setiap tahunnya. Angka kejadian hipertensi diperkirakan akan meningkat dari 639 juta kasus pada tahun 2020 menjadi 1,15 miliar kasus pada tahun 2025, meningkat 80%, terutama di negara-negara berkembang. (Wiliyanarti Berdasarkan temuan Riskesdas, kejadian tekanan darah tinggi di Indonesia angka tekanan darah pada pendudukkusia 18 tahun ke atas meningkatddari 25,8% pada 2013 menjadi 34,1% pada Riskesdas (Sahroni. Anshari, and Kriabto 2. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, angka kejadian hipertensi di Provinsi Sumatera Utara tercatat 162 orang. Statistik menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi terbanyak adalah perempuan, yakni sebanyak 27. 021 orang. Kelompok usia yang paling banyak terkena hipertensi adalah mereka yang berusia diatas 55 tahun,yakni sebanyak 22. 618 kasus, diikuti oleh kelompok usia18-44 tahun sebanyak 14. 984 kasus, dan kelompok usia 45-55 tahun sebanyak 12. 560 kasus. (Provinsi and Utara, n. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. Hanya sebagian kecil, khususnya 5%, permasalahan perawatan kesehatan yang dihadapi oleh orang lanjut usia ditangani oleh fasilitas, meskipun seperempat dari semua resep obat untuk warga lanjut usia menderita penyakit jangka panjang, hampir 40% terkait dengan berbagai penyakit . , kemungkinan komplikasi meningkat secara signifikan ketika lansia menjadi tidak sehat. Respons pengobatan mereka dapat menurun, dan fungsi kognitif dapat memburuk seiring bertambahnya usia, membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit, bersamaan dengan berkurangnya ketahanan terhadap tekanan mental, lingkungan, dan fisik. Kesulitan yang dihadapi oleh para lansia karena keterbatasan yang mereka miliki antara lain ketergantungan pada orang lain untuk mendapatkan dukungan fisik dan finansial, selain masalah kesehatan yang berkelanjutan seperti Artritis Reumatoid yang memengaruhi 44%. Hipertensi sebesar 39%, gangguan pendengaran atau tuli sebesar 28%, dan kondisi jantung sebesar 27% (Ningsih et al. Hipertensi dipengaruhi oleh banyak elemen, terutama kesadaran dan pola pikir. Kesadaran berasal dari respons manusia terhadap isyarat lingkungan melalui pemahaman berbagai entitas, sehingga memungkinkan kemungkinan pengetahuan yang baik. Hasil dari pemahaman ini muncul setelah mendeteksi entitas tertentu (Lembu. Kuansing, and Urat 2. Sikap merupakan penilaian umum yang dibuat individu tentang diri mereka sendiri, individu lain, barang, atau topik. Sikap merupakan bentuk reaksi atau umpan balik yang bersifat internal bagi seseorang terkait pemicu atau objek dan menunjukkan tingkat perasaan yang mungkin menguntungkan atau tidak menguntungkan, yang berkaitan dengan entitas psikologis (Tahun 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Setiarini . , hasil evaluasi statistik menunjukkan Nilai p sebesar 1,00 menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan responden dengan penatalaksanaan hipertensi di Puskesmas Dangung Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2018, karena hipotesis nol (H. diterima dan hipotesis alternatif (H. ditolak karena (P>0,. Berdasarkan hasil penelitian statistik, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden dengan penatalaksanaan hipertensi di Puskesmas Dangung Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2018, terbukti dari nilai p sebesar 0,427 . >0,. yang berarti Ho masih valid dan Ha ditolak. (Health and Who 2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Anggreani pada tahun 2019, terdapat korelasi yang cukup signifikan antara kesadaran lansia terhadap hipertensi dengan kemampuan mereka dalam mengelola tekanan darah, yang ditunjukkan dengan nilai p sebesar 0,009 . <0,. Selain itu, penelitian ini juga ada hubungan antara pandangan lansia terhadap hipertensi dengan pengelolaan tekanan darah mereka, yang ditandai dengan nilai p sebesar 0,004 (<0,. (Kabupaten and Serdang 2. METODE Desain penelitian ini adalah cross-sectional dan kuantitatif, dengan menggunakan metode Analytical Survey di UPT Wilayah Puskesmas Lolofitumoi. Pengambilan sampel secara purposive menggunakan rumus Slovin dilakukan terhadap 74 partisipan dari populasi 290 lansia hipertensi yang menjadi populasi penelitian. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan analisis bivariat chi square. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Karakteristik Responden Usia 50-55 Tahun 56-60 Tahun 61-65 Tahun >65 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Agama Kristen Protestan Katolik Total Pendidikan S-1 SMA SMP Total Pekerjaan PNS Wiraswsta Petani Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan hasil Tabel 1, karakteristik usia peserta menunjukkan bahwa sebagian besar berusia antara 56 hingga 60 tahun, yaitu sebanyak 28 orang . ,8%), sedangkan kelompok terkecil adalah mereka yang berusia di atas 65 tahun, yaitu sebanyak 8 orang . ,8%). Dari segi jenis kelamin,laki-laki lebih dominan, yaitu sebanyak 50 orang . ,6%), dibandingkan dengan perempuan yang jumlahnya lebih sedikit, yaitu sebanyak 24 orang . ,4%). Mengenai agama, mayoritas mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen Protestan, yaitu sebanyak 46 orang . ,2%), sedangkan penganut Katolik merupakan minoritas, yaitu sebanyak 28 orang . ,8%). Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, sebagian besar responden telah menyelesaikan sekolah menengah atas, yaitu sebanyak 33 orang . ,6%), sedangkan kelompok yang hanya berpendidikan dasar sebanyak 9 orang . ,2%). Terakhir, dari segi pekerjaan, mayoritas bekerja di bidang pertanian, yaitu sebanyak 44 orang . ,5%), sedangkan minoritas bekerja sebagai pegawai negeri sipil, yaitu sebanyak 4 orang . ,4%). Pengetahuan Baik Frekuensi . Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. Persentase (%) Cukup Kurang Total Dari hasil yang disajikan pada tabel 2, terlihat bahwa dari 74 peserta, sebagian besar menunjukkan pemahaman yang baik, yakni sebanyak 39 orang . ,7%), sedangkan kelompok yang lebih kecil menunjukkan pengetahuan yang terbatas, yakni sebanyak 13 orang . ,6%). Sikap Positif Negatif Total Frekuensi . Persentase (%) Menurut temuan yang disajikan dalam tabel 3, perspektif dari 74 peserta sebagian besar baik, dengan 38 individu . ,4%) menyatakan pandangan positif, sementara segmen yang lebih kecil, yang terdiri dari 36 individu . ,6%), memiliki pendapat negatif. Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan hasil yang disajikan pada tabel 4, sebagian besar dari 74 orang yang disurvei tidak memiliki hipertensi, dengan 42 responden . ,8%) tergolong tidak hipertensi, sedangkan kelompok yang lebih kecil, yang terdiri dari 32 orang . ,2%), diidentifikasi sebagai hipertensi. No Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Kejadian Hipertensi Tidak Hipertensi Hipertensi Jumlah Signifikan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa pada tabulasi silang pengetahuan dan kejadian hipertensi didapatkan mayoritas pengetahuan baik 39 . 5%) dan minoritas kurang 13 . 2%) sedangkan pada kategori kejadian hipertensi diadapatkan mayoritas hipertensi 42 . 8%) dan minoritas tidak hipertensi 32 . 3%) dan uji Chi square didapatkan p-value 0,004 yang artinya ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian hipertensi pada lansia. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. No Sikap Positif Negatif Total Kejadian Hipertensi Tidak Hipertensi Hipertensi Jumlah Signifikan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada table diatas dapat dijelaskan bahwa pada tabulasi silang didapatkan mayoritas kategori sikap positif sebanyak 38 . 4%) dan minoritas sikap negatif 36 . 6%) dan kategori kejadian hipertensi mayoritas hipertensi sebanyak 42 . 7%) dan minoritas tidak hipertensi 32 . 4%) serta uji Chi square didapatkan p-value 0,003, artinya ada hubungan antara sikap dengan kejadian hipertensi pada lansia. PEMBAHASAN Frekuensi Pengetahuan dengan Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Lolofitu Moi Tahun 2024. Hasil penelitian tentang pengetahuan lansai mengenai hipertensi didapatkan mayoritas berpengetahuan baik dan minoritas kurang mengenai penyakit yang Pentingnya pengetahuan tentang penyakit yang dialam oleh lansia tentang hipertensi sangat penting untuk kesembuhan penyakit yang dialaminya. Pengetahuan yang dimaksud seperti penyebab, tanda dan gejala, diet makanan, cara mengedalikan tekanan darah tinggi, olahraga, cara minum obat, serta pengobatan yang perlu dilakukan oleh lansia. Masih adanya lansia yang memiliki darah tinggi disebabkan oleh salah satunya pengetahuan yang kurang, untuk itu pentingnya edukasi pengetahuan dari tenaga kesehatan khususnya perawat dalam mengimplementasikan perannya sebagai perawat pendidik. Penelitian ini sejalan dengan peneliti (Devi and Putri 2. dalam penelitiannya didapatkan mayoritas responden berpengetahuan baik setelah diberikan pendidikan kesehatan. Peneliti (Irianti. Antara, and Jati 2. dalam penelitiannya menjelaskan bahwa pengetahuan responden dengan kategori jumlah terbanyak yaitu baik. Berbeda dengan hasil penelitian (Asih and Rohimah 2. menunjukkan bahwa sebagian besar orang lanjut usia tidak menyadari cara terbaik untuk mengelola hipertensi dan menghindari masalah. Menurut (Irianti. Antara, and Jati 2. Unsur-unsur yang memengaruhi pengetahuan berasal dari informasi dan platform sosial yang dikumpulkan dari berbagai bentuk pendidikan, baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur, yang dapat menyebabkan efek langsung, mendatangkan perubahan atau peningkatan pemahaman. Pengetahuan yang baik mampu meningkatkan kualitas hidup dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku dalam mencapai tujuan hidup sehat (Erika and Rosalina 2. Dengan memperoleh informasi yang akurat, diharapkan individu yang menghadapi hipertensi akan memperoleh pemahaman yang diperlukan untuk menerapkan cara hidup yang lebih sehat dan mengurangi risiko mengalami komplikasi. (Oktaria et al. Satu aspek lagi yang mempengaruhi pemahaman, perspektif, dan tindakan lansia dalam mengendalikan dan menangani hipertensi tercermin dari belum memadainya pemanfaatan pusat kesehatan (Asih and Rohimah 2. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. Frekuensi Sikap dengan Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Lolofitu Moi Tahun 2024. Hasil penelitian tentang sikap lansia mayoritas positif dengan penyakit hipertensi yang dialaminya. Sikap positif yang dimiliki oleh lansia mendorong lansia untuk semangat menjalani pengobatan hipertensi, sikap ini dapat dilihat dari semangat lansia untuk menjalani pengobatan di Puskesmas Lolofitumoi. Sikap negatif lansia terhadap penyakit hipertensi menjadi penghambat dalam percepatan penyembuhan penyakitnya dan kurangnya pemanfaatan layanan kesehatan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Rohimah Kumullah and Chotimah 2. menjelaskan dalam penelitiannya bahwa mayoritas responden memiliki sikap yang baik. Peneliti (Maulidah. Neni, and Maywati 2. mengatakan bahwa responden memiliki pandangan yang lebih optimis dalam mengelola hipertensi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pandangan negatif. Serta peneliti (Simanjuntak and Situmorang 2. dalam penelitiannya menjelaskan bahwa responden memiliki sikap mayoritas dengan kategori cukup dalam menyikapi hipertensi yang dialaminya. Menurut (Purnamasari. Komariyah, and Indrianisa 2. dengan memiliki sikap yang dapat dicapai melalui langkah-langkah praktis yang menetapkan metode efektif untuk mengelola hipertensi pada Perilaku yang diteliti meliputi lansia yang secara konsisten memantau tekanan darah mereka, lansia yang menghindari makanan asin, tidak mengonsumsi tembakau, lakukan olahraga teratur dan jauhi alkohol. , memilih olahraga daripada suplemen penurun berat badan untuk mengatasi obesitas, dan secara konsisten mengonsumsi obat antihipertensi yang diresepkan (Asiah 2. Frekuensi Kejadian Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Lolofitu Moi Tahun 2024. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan mayoritas responden tidak mimiliki hipertensi. Tekanan darah tinggi yang dialami oleh peserta memengaruhi kemungkinan hipertensi kambuh. Ini termasuk unsur gaya hidup seperti diet rendah garam, penggunaan obat-obatan, rutinitas olahraga yang konsisten, dan teknik yang tidak konsisten untuk mengelola stres. Hasil penelitian ini sama dengan peneliti (Sunariyah et al. Dalam penelitian yang dilakukannya, sebanyak 18 partisipan atau sebanyak 60% melaporkan mengalami hipertensi, sedangkan 12 partisipan atau 40% menyatakan tidak mengalami hipertensi. Penelitian berbeda dengan hasil penelitian (Sidik 2. di mana sebagian besar peserta menderita hipertensi, sebanyak 66 orang . ,8%) mengalami hipertensi, sedangkan sebanyak 29 orang . ,5%) tidak mengalami tekanan darah Menurut (Azizah, 2. faktor yang mempengaruhi tingginya hipertensi adalah kurangnya pemeriksaan diri secara rutin dan kurang perduli akan kesehatannya walaupun lansia mengeluhkan sakit kepala, dan memiliki pola tidur yang kurang baik. Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Lolofitu Moi Tahun 2024. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa pada tabulasi silang pengetahuan dan kejadian hipertensi didapatkan mayoritas pengetahuan baik 39 . 5%) dan minoritas kurang 13 . 2%) sedangkan pada kategori kejadian hipertensi diadapatkan mayoritas hipertensi 42 . 8%) dan minoritas tidak hipertensi 32 . 3%) dan p= 0,004. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Sukamti. Putri, and Helen 2. menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antarapemahaman dan tingkat kepatuhan terhadap pengobatan Efektivitas kebiasaan pencegahan hipertensi pada mereka yang memiliki tingkat pengetahuan rendah . ,1%) melampaui mereka yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi . ,0%), dengan nilai p sebesar 0,028 yangmenunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kesadaran dan perilakudalam mencegah hipertensi (Elsi Setiandari L. O 2. Menurut (Sukamti. Putri, and Helen 2. orang yang menderita hipertensi harus memahami faktorfaktor yang menyebabkan kondisi ini, tanda dan gejala yang dapat dikenali, dan pentingnya mengubah gaya hidup mereka untuk mencegah komplikasi. Ini termasuk mengurangi penggunaan tembakau, mengelola kadar kolesterol, mempertahankan rutinitas olahraga aktif, dan memanfaatkan sumber daya kesehatan dengan mengunjungi klinik atau rumah sakit. Pemahaman yang lebih baik tentang hipertensi di antara pasien akan memotivasi mereka untuk mengadopsi kebiasaan yang lebih sehat, memastikan tekanan darah mereka tetap teratur. (Wiranto. Tambunan, and Baringbing 2. Hubungan Sikap dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Lolofitu Moi Tahun 2024. Berdasarkan penelitianyang telah dilakukan,pada table diatas dapat dijelaskan bahwa pada tabulasi silang didapatkan mayoritas kategori sikap positif sebanyak 38 . dan minoritas sikap negatif 36 . 6%) dan kategori kejadian hipertensi mayoritas hipertensi sebanyak 42 . 7%) dan minoritas tidak hipertensi 32 . 4%) serta hasil uji Chi square dengan nilaip-value 0,003 atau p< . Hasil penelitian ini sejalan dengan (Simanjuntak and Situmorang 2. terdapat hubungan penting antara pola pikir individu dan pengaturan tekanan darah pada pasien yang menderita hipertensi, dengan nilai p sebesar 0,002. Peneliti (Sidik and Sari 2. menunjukkan melalui analisis statistika adanya hubungan antara persepsi dengan strategi pencegahan hipertensi di Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang tahun 2022. Menurut (Purnamasari. Komariyah, and Indrianisa 2. pola pikir positif di kalangan lansia dapat mengarah pada pengelolaan hipertensi yang lebih baik dan membantu mencegah eskalasinya menjadi kondisi yang lebih serius. Hal ini karena sikap mereka dapat melibatkan aspek kognitif, emosional, dan perilaku mereka, mendorong mereka untuk mengambil langkah-langkah aktif guna menjaga kesehatan dan menghindari hipertensi. Sikap mengacu pada respons internal individu terhadap rangsangan atau situasi tertentu, yang mencakup pikiran dan perasaan mereka, baik atau buruk, menyenangkan atau tidak, dan sebagainya. Jika seseorang mengalami hipertensi tetapi gagal menumbuhkan sikap yang mendukung pencegahan, hal itu dapat mengakibatkan kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami episode berulang. Akar penyebab dari kejadian berulang ini sering kali berasal dari sikap yang tidak tepat, terutama ketika individu tidak mematuhi pedoman diet yang (Sumarni et al. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan temuan, pemahaman dari 74 peserta sebagian besar baik, dengan 39 orang . ,7%) menunjukkan pengetahuan yang baik, sementara jumlah yang lebih kecil, yaitu 13 orang . ,6%), menunjukkan kekurangan. Dalam hal sikap, mayoritas, yang terdiri dari 38 peserta . ,4%), menunjukkan pandangan positif, sedangkan 36 peserta . ,6%) memiliki perspektif negatif. Analisis Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. mengungkapkan bahwa di antara 74 responden, sebagian besar individu, khususnya 42 orang . ,8%), tidak didiagnosis dengan hipertensi, berbeda dengan 32 orang . ,2%) yang hipertensi. Ada korelasi antara pengetahuan dan kejadian hipertensi di kalangan lansia, serta hubungan antara sikap dan kejadian hipertensi dalam demografi ini. Saran Penelitian ini bertujuan untuk menjadi sumber bagi para akademisi di masa mendatang yang dapat mengembangkannya dengan memanfaatkan kelompok partisipan yang lebih banyak. Diharapkan para profesional di bidang perawatan kesehatan akan memanfaatkan penelitian ini sebagai referensi untuk memberikan perawatan kepada individu yang menderita tekanan darah tinggi. Jurnal Keperawatan STIkes Hang Tuah Tanjungpinang Volume 15 No. DAFTAR PUSTAKA