Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 82 Ae 94 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Interaksi Sosial Murid Reguler dan Murid Inklusi Kelas VII di SMPN 4 Sidoarjo Lestria Ines Kurniati . Ali Imron . Niswatin . Asnimawati . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk interaksi sosial antara murid inklusi dan murid reguler di kelas VII SMPN 4 Sidoarjo serta mengidentifikasi peran guru dan hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan guru, guru pendamping khusus (GPK), murid reguler, dan murid inklusi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi di SMPN 4 Sidoarjo berlangsung secara bertahap dan bersifat dinamis. Bentuk interaksi yang terjalin meliputi kerja sama dalam pembelajaran, solidaritas sosial, serta tumbuhnya penerimaan sosial dan empati. Program Sobat Inklusi menjadi salah satu sarana efektif dalam mendorong interaksi yang suportif dan setara. Guru berperan sebagai fasilitator, mediator konflik, serta pemberi pemahaman sosial yang membantu menciptakan iklim kelas inklusif. Namun demikian, ditemukan pula tantangan seperti ketakutan atau kecanggungan murid reguler dalam menghadapi perilaku emosional murid inklusi yang sulit diprediksi, seperti tantrum atau kemarahan mendadak. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan berkelanjutan dari guru dan pihak sekolah dalam membentuk pola interaksi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. interaksi sosial, murid inklusi, murid reguler, pendidikan inklusi Kata Kunci: interaksi sosial, murid inklusi, murid reguler, pendidikan inklusi Abstract This study aims to describe the forms of social interaction between inclusive students and regular students in Grade VII at SMPN 4 Sidoarjo, as well as to identify the roles of teachers and the challenges faced during this process. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques include observation, in-depth interviews with teachers, special education support teachers (GPK), regular students, and inclusive students, as well as documentation. The findings show that social interaction between regular and inclusive students at SMPN 4 Sidoarjo occurs gradually and dynamically. The forms of interaction observed include collaboration in learning, social solidarity, and the development of social acceptance and empathy. The Sobat Inklusi (Inclusive Budd. program serves as an effective medium to promote supportive and equitable interaction. Teachers act as facilitators, conflict mediators, and providers of social understanding, which helps create an inclusive classroom environment. However, the study also reveals challenges such as fear or discomfort among regular students when faced with the unpredictable emotional behaviors of inclusive students, such as tantrums or sudden outbursts. These findings highlight the need for continuous support from teachers and the school to foster healthy, inclusive, and sustainable interaction patterns. Keywords: social interaction, inclusive students, regular students, inclusive education How to Cite: Kurniati. Imron. Ali. Niswatin. Asnimawati . Interaksi Sosial Murid Reguler dan Murid Inklusi Kelas VII di SMPN 4 Sidoarjo. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5 (No . : halaman 82-94 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 PENDAHULUAN Pendidikan inklusi adalah sistem pendidikan yang mengintegrasikan anak Ae anak dengan kebutuhan khusus bersama anak yang normal didalam satu lingkungan yang sama (Amiruddin. Konsep ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan dalam pendidikan dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk berkembang secara akademik maupun sosial. Indonesia, pendidikan inklusi diatur oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional ( Permendiknas ) Nomor 70 Tahun 2009. Dalam peraturan tersebut pendidikan inklusi didefinisikan sebagai suatu sistem sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik yang memiliki kelainan atau potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran di lingkungan yang sama dengan peserta didik lainnya pada umumnya (Amiruddin, 2. Pendidikan inklusi yang sesuai dengan pengertian Undang-Undang yang berlaku adalah pendidikan yang memiliki sistem berbeda dari pendidikan pada umumunya. Pendidikan inklusi memberikan akses kepada siswa yang tidak berkebutuhan atau normal dan siswa berkebutuhan khusus untuk dapat belajar dalam lingkungan yang sama. Konsep pendidikan inklusi memberikan pengalaman belajar yang sama dan setara yang dirasakan oleh murid inklusi dan murid regular. Lingkungan sosial di sekolah inklusi diharapkan dapat mendukung proses interaksi sosial siswa inklusi di lingkungan sekolah. Interaksi sosial menurut Soekanto interaksi sosial merupakan proses sosial yang menjadi syarat utama terjadinya aktivitas sosial (Fahri & Qusyairi, 2. Interaksi sosial dalam pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak. Dikarenakan masa anak Ae anak merupakan masa peralihan dari lingkungan keluarga menuju lingkungan sekolah serta masyarakat (Iskandar & Indaryani, 2. Pendidikan inklusi menjadi salah satu solusi agar siswa berkebutuhan khusus dapat berinteraksi dengan teman Ae teman seusianya yang tidak berkebutuhan khusus. sehingga tidak adanya batasan yang memisahkan antara anak yang berkebutuhan dan anak yang tidak berkebutuhan khusus atau anak yang normal. Adanya pendidikan inklusi anak berkebutuhan khsusus dapat berinteraksi secara bebas dengan masyarakat umum dan tanpa merasa terpojokan. Sekolah inklusi menyediakan layanan bagi anak berkebutuhan khusus di dalam lingkungan sekolah regular dimana mereka didampingi oleh guru pendamping atau atau shadow untuk mendukung proses belajar murid yang berkebutuhan Proses interaksi sosial murid inklusi di sekolah inklusi masih mengalami berbagai hambatan. Salah satunya komunikasi yang terbatas dari siswa inklusi yang seringkali belum mampu melakukan interaksi secara dua arah. Menurut Kaplan dan Sadock menjelaskan bahwa siswa autis tidak dapat menunjukkan ketertarikan dalam interaksi sosial, yang dapat terlihat dari minimnya kontak mata serta kurangnya ekspresi wajah. Perilaku yang tidak terkontrol dan perubahan emosi yang tiba-tiba seperti marah atau menangis semakin menyulitkan untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Hal ini membuat murid dengan berkebutuhan khusus sering dijauhi oleh teman sebaya. Selain itu. Sikap siswa regular yang cenderung acuh tak acuh terhadap siswa inklusi dikarenakan adanya faktor persepsi dan penerimaan sosial. Pandangan siswa reguler terhadap konsep inklusi masih belum sepenuhnya positif. Faktanya, banyak siswa reguler yang kurang menunjukkan kepedulian terhadap murid berkebutuhan khusus yang bertentangan dengan prinsip dan tujuan dari pendidikan inklusif (Dwi et al. , 2. Pendidikan inklusi di Kabupaten Sidoarjo mulai dikembangkan sejak tahun 2009, ditandai dengan penunjukan SMPN 4 Sidoarjo sebagai sekolah inklusi percontohan pertama. Komitmen pemerintah daerah dalam mengembangkan pendidikan inklusi terlihat dari banyaknya sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di berbagai jenjang, serta penghargaan yang pernah diraih sebagai Kabupaten Pelopor Pendidikan Inklusi. Meski demikian, pelaksanaan pendidikan inklusi di Sidoarjo masih menghadapi sejumlah tantangan. Hasil studi terhadap 23 sekolah inklusi menunjukkan bahwa banyak guru belum mampu melakukan modifikasi materi, metode, dan media pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, keterbatasan sarana fisik dan media Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 pembelajaran turut menghambat proses belajar mengajar yang efektif bagi siswa inklusi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Lizana melakukan studi eksplorasi penanganan siswa berkebutuhan khusus di SD Mumtaz Sidoarjo. Penelitian ini menyoroti peran penting Guru Pembimbing Khusus (GPK) dalam memfasilitasi integrasi ABK ke dalam lingkungan belajar, serta berbagai terapi yang diberikan untuk mendukung perkembangan siswa. Tantangan utama yang dihadapi meliputi kurangnya fasilitas khusus, keterbatasan metode pembelajaran yang adaptif, dan kendala integrasi sosial di lingkungan sekolah (Nadiyah et al. , 2. Kondisi di SMPN 4 Sidoarjo masih menghadapi beberapa tantangan dalam proses interaksi sosial antara siswa reguler dan siswa inklusi. Meskipun sekolah ini telah menerapkan pendidikan inklusi, interaksi antar siswa belum sepenuhnya berjalan secara harmonis. Terdapat jarak secara sosial antara murid reguler dan murid inklusi yang disebabkan oleh kurangnya penerimaan sosial, empati, dan keterampilan komunikasi dari sebagian siswa reguler. Di sisi lain, beberapa murid inklusi juga mengalami kesulitan dalam membangun interaksi sosial karena keterbatasan dalam komunikasi, rasa percaya diri yang rendah, serta kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Observasi awal yang menunjukkan pasifnya peran murid inklusi dalam interaksi saat pembelajaran atau kegiatan sekolah menyoroti adanya ketidaksetaraan dalam peran. Selain itu, siswa reguler lebih sering berinteraksi dan menjalin pertemanan hanya dengan sesama siswa reguler, tanpa melibatkan siswa inklusi dalam kegiatan bersama. Hambatan ini semakin memperkuat jarak sosial yang ada dan menghambat terjadinya proses interaksi sosial sosial. Selain itu, belum adanya program khusus yang secara konsisten membangun kesadaran inklusif dan keterlibatan bersama dalam kegiatan sekolah menjadi salah satu faktor yang memperlambat terciptanya lingkungan yang ramah inklusi. Penelitian mengenai permasalahan yang terjadi di sekolah yang menerapkan inklusi jarang di teliti secara mendalam, terutama yang berfokus pada interaksi sosial murid reguler dan murid sedangkan interaksi sosial merupakan keberhasilan implementasi pendidikan inklusi. Hal ini relevan dalam pembelajaran IPS yang menekankan nilai-nilai sosial, solidaritas sosial, dan pemahaman terhadap keberagaman. Pembelajaran IPS dapat menjadi sarana strategis untuk memperkuar hubungtan sosial di anatara siswa melalui pendekatan kolaboratif, diskusi kelompok, serta penguatan nilai toleransi dan empati. Mata Pelajaran IPS tidak hanya sebagai sarana untuk menyampaikan materi akademik, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter sosial siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam mengatasi permasalahan yang ada di SMPN 4 Sidoarjo. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMPN 4 Sidoarjo dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti berupaya memahami secara mendalam dinamika interaksi sosial yang terjadi antara murid reguler dan murid inklusi di lingkungan kelas VII SMPN 4 Sidoarjo. Pemelihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa sekolah SMPN 4 Sidoarjo merupakan sekolah penyelenggara inklusi pertama di Sidoarjo. Sekolah ini mendukung adanya program pendidikan inklusi dengan menyediakan guru pendamping khusus (GPK) dan program pembelajaran yang melibatkan murid inklusi secara langsung dalam kelas reguler. Kondisi ini memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengamati secara langsung interaksi yang terbangun antara murid reguler dan murid inklusi dalam situasi nyata. Subjek pada penelitian ini mencakup murid reguler kelas VII, murid inklusi kelas VII, guru pendamping khusus (GPK) dan guru kelas dengan menggunakan metode purposive. Subjek penelitian dipilih dikarenakan memiliki pengalaman secara langsung dalam proses interaksi sosial yang terjadi di lingkungan sekolah dan memiliki pengetahuan yang relevan mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial yang terjadi di lingkungan sekolah SMPN 4 Sidoarjo. Proses pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan mengamati dan mencermati pola-pola interaksi sosial yang terbentuk dalam kelas maupun luar kelas, seperti saat istirahat. Data yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisis Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 melalui proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Data yang telah diolah kemudian diuji melalui keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode dengan cara membandingkan informasi yang disampaikan oleh informan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian yang dilakukan di SMPN 4 Sidoarjo menunjukkan bahwa interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi berjalan secara positif. Hal ini tampak dari berbagai bentuk interaksi yang terjadi, baik dalam konteks pembelajaran di kelas maupun aktivitas di luar kelas. Murid reguler menunjukkan sikap saling menghargai, empati, dan keterbukaan terhadap murid inklusi. Sebaliknya, murid inklusi juga berusaha untuk aktif dalam interaksi sosial dan menunjukkan inisiatif untuk berinteraksi. Proses terbentuknya interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi berjalan secara bertahap dengan dorongan yang dilakukan oleh guru. Faktor-faktor pendorong proses interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi seperti imitasi yang ditunjukkan oleh perilaku dan sikap guru dalam membantu dan menghadapi murid inklusi yang kemudian di imitasi oleh murid reguler. Beberapa faktor lain seperti simpati dan empati yang tumbuh dalam diri peserta didik dengan adanya murid inklusi di sekolah. Kemampuan empati yang kemampuan memahami kondisi emosional murid inklusi, yang mendorong munculnya sikap toleran dan penerimaan sosial yang murni dari murid reguler. Melalui tindakan nyata seperti mengajak murid bekerja sama dalam kelompok campuran, memberikan pemahaman tentang keberagaman, dan menjadi teladan dalam bersikap adil, guru memunculkan contoh konkret yang kemudian diimitasi oleh murid reguler. Beberapa indikator interaksi sosial yang ditemukan di lapangan antara lain: Kolaborasi dalam Pembelajaran Berkelompok Murid reguler secara aktif menunjukkan penerimaan terhadap kehadiran murid inklusi dalam kelompok belajar, dengan membagi tugas sesuai kemampuan masing-masing anggota secara Murid reguler memberikan peran yang sesuai dengan kemampuan murid inklusi di dalam kelompok belajar. Guru berperan penting dalam memfasilitasi kolaborasi ini melalui pembentukan kelompok belajar yang heterogen, sehingga murid reguler memiliki kesempatan untuk membimbing dan berinteraksi langsung dengan murid inklusi. Bentuk interaksi yang terjadi mencakup menjelaskan ulang materi, mengajak berdiskusi, serta mendampingi murid inklusi saat melakukan presentasi Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman terhadap materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial seperti toleransi, komunikasi efektif, kerja sama, dan tanggung jawab. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai inklusif secara nyata tertanam dalam dinamika pembelajaran sehari-hari. Kolaborasi dalam pembelajaran peran murid reguler tidak hanya bertindak sebagai rekan belajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu murid inklusi merasa diterima dan dihargai dalam lingkungan kelas. Dengan demikian, kolaborasi dalam pembelajaran menjadi jembatan penting dalam membangun interaksi yang positif dan bermakna antara murid reguler dan murid inklusi. Solidaritas Sosial dalam Bentuk Sobat Inklusi Solidaritas sosial antara murid reguler dan murid inklusi terwujud melalui program "Sobat Inklusi" yang digagas oleh sekolah. Program ini memberikan ruang bagi murid reguler untuk menjadi pendamping atau teman dekat murid inklusi dalam kegiatan belajar dan aktivitas di luar Dalam praktiknya, murid reguler yang menjadi sobat inklusi menunjukkan kepedulian dan empati, seperti membantu murid inklusi ketika mengalami konflik dengan murid reguler dengan menyampaikan advokasi murid inklusi kepada guru atau pihak sekolah. Selain itu, bentuk solidaritas juga tampak dalam tindakan-tindakan sederhana namun bermakna, seperti memberikan perhatian saat murid inklusi terlihat kesulitan, mengajak bermain, serta melibatkan mereka dalam diskusi kelompok atau tugas bersama. Hubungan sosial yang terbangun melalui peran sobat inklusi ini menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung, sehingga murid inklusi merasa diterima dan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 tidak terasingkan. Solidaritas sosial ini menjadi bukti bahwa interaksi yang positif dan saling mendukung dapat tumbuh secara alami di lingkungan sekolah yang inklusif. Penerimaan Sosial Murid Reguler dan Murid inklusi Penerimaan sosial murid reguler terhadap murid inklusi di SMPN 4 Sidoarjo tercermin dari sikap terbuka dan inklusif dalam berinteraksi. Murid reguler menunjukkan kemauan untuk menjalin komunikasi, menjadikan murid inklusi sebagai bagian dari kelompok belajar, serta melibatkan mereka dalam kegiatan kelas dan luar kelas. Tidak ada pengucilan atau perlakuan berbeda yang mencolok sebaliknya, murid reguler menunjukkan empati dan kesabaran, terutama saat membantu murid inklusi dalam memahami pelajaran atau mengikuti instruksi guru. Kesiapan murid reguler untuk membangun relasi sosial yang setara menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif. Sebaliknya, murid inklusi juga menunjukkan upaya dalam membangun penerimaan sosial terhadap teman-teman reguler. Meskipun beberapa dari mereka memiliki hambatan dalam komunikasi atau adaptasi sosial, mereka tetap berusaha merespons ajakan bermain, mengikuti kerja kelompok, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah. Ada pula murid inklusi yang mampu menjalin persahabatan akrab dengan murid reguler dan merasa nyaman berada dalam lingkungan kelas. Proses penerimaan ini bersifat timbal balik, didukung oleh peran guru sebagai mediator sosial yang menciptakan suasana saling menghargai dan menyetarakan semua murid di kelas. Dengan demikian, penerimaan sosial antara murid reguler dan inklusi tidak hanya terjadi satu arah, tetapi berkembang dalam hubungan dua arah yang saling mendukung. Hambatan dan Tantangan Interaksi Sosial Murid Reguler dan Murid Inklusi Interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi di SMPN 4 Sidoarjo tidak terlepas dari berbagai hambatan dan tantangan. Salah satu hambatan utama berasal dari keterbatasan komunikasi, khususnya bagi murid inklusi yang memiliki gangguan dalam berbicara atau memahami Kondisi ini membuat sebagian murid reguler merasa kesulitan untuk membangun percakapan yang lancar, sehingga menimbulkan jarak sosial dalam beberapa situasi. Selain itu, terdapat juga tantangan berupa kurangnya pemahaman sebagian murid reguler terhadap kondisi murid inklusi, yang kadang menimbulkan sikap canggung atau ragu untuk berinteraksi. Di sisi lain, tantangan juga muncul dari faktor internal murid inklusi sendiri, seperti rasa minder, kecemasan sosial, atau ketergantungan tinggi terhadap guru pendamping khusus (GPK). Hal ini terkadang membuat mereka menarik diri dan kurang inisiatif dalam menjalin relasi sosial dengan teman sebaya. Selain itu, dalam konteks kegiatan kelompok, beberapa murid reguler menunjukkan kecenderungan memilih teman yang sudah akrab atau dianggap lebih mampu secara akademik, sehingga murid inklusi tidak selalu terlibat aktif. Kurangnya pelatihan atau pendekatan khusus bagi murid reguler dalam menghadapi keberagaman kebutuhan belajar juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, peran guru dalam membangun jembatan interaksi serta menciptakan lingkungan sosial yang suportif sangat penting untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Peran Guru dan Sekolah dalam Membantu Proses Interaksi Sosial Guru dan pihak sekolah memiliki peran sentral dalam membangun dan memfasilitasi interaksi sosial yang positif antara murid reguler dan murid inklusi. Guru tidak hanya bertindak sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai mediator sosial yang aktif menciptakan suasana kelas yang inklusif. Salah satu bentuk peran guru adalah dengan menyusun strategi pembelajaran kolaboratif, seperti membentuk kelompok belajar heterogen yang memungkinkan murid reguler dan inklusi saling bekerja sama. Guru juga memberikan bimbingan khusus kepada murid reguler agar dapat memahami karakteristik dan kebutuhan teman-teman inklusi, serta mendorong mereka untuk bersikap empati, sabar, dan terbuka dalam menjalin komunikasi. Selain guru kelas, keberadaan Guru Pendamping Khusus (GPK) juga sangat krusial. GPK berperan dalam mendampingi murid inklusi selama proses pembelajaran dan membantu menjembatani komunikasi antara murid inklusi dan murid reguler. Di sisi lain, sekolah mendukung proses interaksi sosial ini melalui kebijakan dan program khusus, seperti program "Sobat Inklusi" yang mendorong murid reguler menjadi pendamping sosial bagi murid inklusi Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 Pembahasan Kolaborasi dalam Pembelajaran Berkelompok Interaksi yang terjalin antara murid reguler dan murid inklusi di SMPN 4 Sidoarjo menunjukkan adanya kolaborasi yang terjadi antara kedua murid tersebut. kolaborasi ini terlihat saat murid melakukan bekerjasama dalam tugas kelompok, diskusi kelas maupun kegiatan yang berbasis Kolaborasi yang terjalin antara murid reguler dan murid inklusi melalui proses interaksi sosial berulang dan pembiasaan yang didorong dari pihak guru. Guru juga memberikan stimulus kepada murid untuk dapat berinteraksi dan saling membantu saat pembelajaran. Kolaborasi ini terjadi karena adanya dorongan dari guru dengan membentuk kelompok saat pembelajaran di kelas. Kolaborasi ini ditunjukkan dengan adanya peran aktif dari murid reguler yang memberikan ruang terhadap murid inklusi untuk berpartisipasi saat kegiatan berkelompok walaupun murid inklusi diberikan peran yang Kolaborasi dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk interaksi sosial secara Menurut teori Gillin dan Gillin interaksi sosial adalah proses dinamis yang menyangkut hubungan antarindividu dan kelompok (Soekanto, 2. Kolaborasi dalam pembelajaran menunjukkan adanya interaksi sosial secara kerjasama yang muncul karena adanya nilai sosial yang dianut (Elisa et al. , 2. Kolaborasi dalam pembelajaran menjadi bentuk nyata dari interaksi sosial kerjasama yang mana murid reguler dan murid inklusi bekerjsama untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses kolaborasi ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial antar siswa. Murid reguler dan murid inklusi tidak hanya menyelesaikan tugas secara akademik tetapi menyesuaikan diri satu sama lain. Kolaborasi yang tercipta antara murid reguler dan murid inklusi tidak terjadi secara instan tetapi melalui interaksi sosial secara berkelanjutan. Selain itu, interaksi sosial ini terjalin karena adanya peran guru dalam proses interaksi sosialnya. Guru secara sadar membentuk kelompok belajar yang heterogen, memberikan tugas-tugas kelompok yang melibatkan semua siswa, dan mendorong murid reguler untuk melibatkan teman Dalam teori Gillin dan Gillin bentuk kerja sama . muncul apabila terdapat kesadaran bersama akan tujuan kolektif, saling ketergantungan antarindividu, serta adanya pengendalian diri dalam bertindak sesuai dengan norma yang berlaku (Soekanto, 2. Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan kondisi sosial yang mendukung terbentuknya kerja sama Guru tidak hanya membentuk pembagian kelompok belajar secara heterogen, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sosial seperti empati, tanggung jawab, dan toleransi dalam interaksi Dengan strategi pembelajaran yang dirancang secara sadar dan responsif terhadap Lingkungan interaksi yang secara sengaja diarahkan untuk menciptakan hubungan sosial yang saling melengkapi, bukan hanya bersifat simbolik atau formalitas semata. Kolaborasi antara murid reguler dan murid inklusi tidak hanya mencerminkan interaksi dalam konteks akademik tetapi juga menjadi media penting untuk proses adaptasi sosial. Dalam kerja kelompok, murid reguler secara bertahap belajar memahami gaya komunikasi, kebutuhan, dan keterbatasan temannya yang berkebutuhan khusus. Murid inklusi juga terdorong untuk membuka diri, mencoba memahami kerja kelompok, serta berani mengambil peran walaupun sederhana. Interaksi ini mencerminkan adanya proses penyesuaian sosial dua arah yang berlangsung secara bertahap dan membangun. Menurut Gillin dan Gillin bentuk kerja sama dalam interaksi sosial dapat mendorong akomodasi yang dimana suatu hubungan hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi yang menunjuk pada suatu proses dimana makhluk hidup menyesuaikan dengan alam sekitarnya (Soekanto, 2. Menurut pengertian teori tersebut dimaksudkan bahwa individu yang saling melakukan penyesuaian diri untuk bertahan di lingkungan sekitar. Proses interaksi sosial secara akomodasi ini didukung karena adanya proses penyesuaian secara dua arah untuk mengurangi perbedaan dan pertentangan yang muncul antara kedua murid tersebut. Murid inklusi yang mulai terbuka untuk berkomunikasi dengan murid reguler dan murid reguler yang dan murid reguler yang menunjukkan sikap penerimaan serta kesediaan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 untuk membangun relasi. Timbulnya benih-benih toleransi dan sikap penerimaan antara murid reguler dan murid inklusi menunjukkan interaksi sosial dalam taraf lebih lanjut seperti asimilasi. Menurut teori Gillin dan Gillin asimilasi merupakan taraf lebih lanjut dari akomodasi dengan ditunjukkan adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan antara kelompok atau pereorangan (Soekanto, 2. Dalam konteks ini, kolaborasi dalam pembelajaran menjadi sarana efektif bagi murid reguler dan murid inklusi untuk menyamakan persepsi dan membentuk rasa kebersamaan melalui kontak sosial yang berulang dan bermakna. Keterlibatan siswa inklusi dalam kerja kelompok mempercepat proses sosialisasi dan penerimaan oleh teman sebayanya. Dalam lingkungan belajar yang mendukung dan kolaboratif, siswa inklusi merasa lebih percaya diri untuk berpartisipasi, sementara siswa reguler cenderung mengembangkan sikap empati dan tanggung jawab sosial. Semakin sering murid terlibat dalam kegiatan bersama semakin tinggi penyesuaian diri murid antara satu sama lain Solidaritas Sosial dalam Bentuk Sobat Inklusi Solidaritas sosial terbentuk antara murid reguler dan murid inklusi terbentuk karena adanya pembiasaan yang berkelanjutan dari pengaruh guru atau teman sebaya. Solidaritas yang terjadi di SMPN 4 Sidoarjo dapat dilihat dengan adanya program sobat inklusi yang beranggotakan murid Program ini memberikan ruang bagi murid reguler untuk membantu dan meningkatkan rasa kepedulian murid reguler terhadap murid inklusi. Sobat inklusi juga sebagai penyalur advokasi bagi siswa inklusi apabila terjadi konflik atau pembullyan disekolah. Program ini tidak hanya membantu murid inklusi di luar pembelajaran tetapi di dalam pembelajaran. Dengan adanya program Ausobat inklusiAy yang ada di lingkungan sekolah mengakibatkan munculnya dorongan murid lain untuk membantu murid inklusi dan meningkatkan rasa kepedulian murid reguler terhadap murid inklusi. Bentuk solidaritas ini terlihat dari keterlibatan murid reguler yang bukan hanya sebatas membantu memahami materi pelajaran, tetapi juga mendampingi dalam beradaptasi secara sosial di lingkungan sekolah seperti saat bermain, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau menghadapi kesulitan emosional. Keterikatan yang terbangun dalam relasi sobat inklusi mencerminkan solidaritas sosial yang bersifat alami karena dilakukan tanpa paksaan dan berdasarkan empati serta kepedulian. Solidaritas sosial yang terbentuk melalui program Sobat Inklusi di SMPN 4 Sidoarjo mencerminkan hasil dari interaksi yang berlangsung secara berulang dan bermakna antara murid reguler dan murid Melalui pengalaman langsung sebagai teman pendamping, murid reguler belajar memahami kebutuhan, kebiasaan, serta emosi yang dialami murid inklusi. Murid reguler juga mulai menyesuaikan sikap dan cara berinteraksi misalnya dengan berbicara lebih pelan, membantu teman inklusi yang merasa kesulitan atau melibatkan teman inklusi dalam kegiatan kelas dan non akademik. Program Sobat Inklusi menjadi ruang yang memfasilitasi proses tersebut. Murid reguler yang terbiasa mendampingi temannya secara tidak langsung mengalami perubahan cara pandang, dari yang awalnya merasa berbeda atau canggung menjadi lebih terbuka dan empatik. Solidaritas yang muncul pun bersifat alami karena tumbuh dari hubungan sosial yang bermakna. Bukan karena adanya faktor eksternal paksaan atau instruksi formal. Dengan demikian, program ini berhasil menciptakan kondisi interaksi yang membentuk rasa kebersamaan dan penerimaan melalui proses Proses sosial inklusi di lingkungan sekolah penyelenggara inklusi diawali dengan interaksi sosial secara akomodasi. Teori Gillin dan Gillin yang menyebutkan akomodasi adalah bentuk suatu keseimbangan dalam interaksi perorangan atau kelompok dalam kaitannya dengan norma sosial atau didefinisikan sebagai bentuk usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan (Soekanto, 2. Dalam konteks solidaritas sosial melalui sobat inklusi bentuk akomodasi yang terjadi adalah proses penyesuaian diri lingkungan sekolah SMPN 4 sidoarjo untuk memenuhi kebutuhan murid inklusi melalui toleransi dan mediasi yang ditunjukkan ketika murid inklusi dan murid reguler mengalami Sobat inklusi sebagai mediator antara murid inklusi dan murid reguler tersebut. Interaksi sosial secara akomodasi ini ditunjukkan dengan adanya proses penyesuaian individu yang terjadi antara murid reguler dan murid inklusi karena latar belakang yang berbeda. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 Interaksi sosial secara akomodasi dilihat dari proses murid reguler menyesuaikan diri dengan lingkungan yang inklusif. Melalui proses pembiasaan dan pengarahan yang diberikan oleh guru proses interaksi sosial ini dapat berjalan dengan baik dan murid mulai terbiasa dengan lingkungan yang heterogen. Setelah proses akomodasi berjalan dengan baik dan membentuk interaksi yang intensif dan berkelanjutan yang mengarah pada proses interaksi sosial secara asimilasi. Menurut teori interaksi sosial Gillin dan Gillin proses interaksi sosial secara asimilasi adalah usaha untuk mengurangi adanya perbedaan (Soekanto, 2. Nilai-nilai empati dan solidaritas melebur menjadi budaya bersama. Sobat Inklusi menjadi media asimilasi sosial antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus, yang melalui interaksi intensif, saling pengertian, dan dukungan, mampu menghapus stigma dan perbedaan sosial sehingga tercipta solidaritas sosial yang kokoh. Proses asimilasi ini didukung oleh berbagai faktor di SMPN 4 Sidoarjo seperti adanya dukungan dari guru dan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam memperkuat solidaritas sosial di lingkungan sekolah. Sobat inklusi sebagai bentuk solidaritas sosial dapat dipahami sebagai bentuk implementasi teori asimilasi di mana perbedaan sosial antara siswa reguler dan siswa inklusi disatukan melalui interaksi sosial yang intens dan saling mendukung dan integrasi yang harmonis di SMPN 4 Sidoarjo. Penerimaan Sosial Murid Reguler dan Murid Inklusi SMPN 4 Sidoarjo menunjukkan proses penerimaan sosial yang ditunjukkan dengan adanya komunikasi yang terjalin dengan baik antara murid reguler dan murid inklusi. Penerimaan sosial ini terbentuk dengan adanya kondisi saling memahami kondisi satu sama lain. Dalam pandangan murid reguler, kehadiran murid inklusi tidak mengganggu atau menghambat proses kegiatan pembelajaran yang terjadi di sekolah. Tetapi, dalam pandangan beberapa murid reguler kehadiran murid inklusi di lingkungan sekolah masih belum sepenuhnya diterima dengan baik. Beberapa hal yang menjadi faktor penghambat penerimaan sosial murid inklusi di lingkungan sekolah reguler. Dikarenakan sikap murid inklusi yang masih belum dapat terkontrol dengan baik yang menyebabkan beberapa murid reguler merasa sulit untuk melakukan interaksi dengan murid inklusi. emosional murid inklusi yang masih sering berubah mengakibatkan kesulitan bagi murid reguler untuk melakukan interaksi sosial dengan murid inklusi di sekolah. Beberapa dari murid reguler yang memiliki pendapat bahwa kehadiran murid inklusi dapat diterima dengan baik tetapi tidak dapat menerima kehadiran murid inklusi apabila murid inklusi berperilaku negatif. Hal ini dikarenakan masih banyak murid inklusi yang berilaku negatif seperti tantrum dan suka marah yang mengakibatkan murid reguler memiliki persepsi bahwa kehadiran murid inklusi dapat mengganggu proses kegiatan beajar di sekolah. Namun, beberapa murid reguler juga banyak yang menerima kehadiran murid inklusi ditengah-tengah sekolah reguler. Penelitian yang dilakukan oleh Wijiastusti memperkuat yang menunjukkan bahwa tingkat penerimaan murid reguler dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang ditempuh oleh siswa. Siswa dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung menerima dengan baik kehadiran murid inklusi di lingkungan sekolah. Sedangkan penerimaan sosial murid yang tingkat pendidikan lebih rendah masih belum sepenuhnya menerima kehadiran murid inklusi di lingkungan sekolah. Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa pandangan dan penerimaan sosial murid reguler bergantung pada sikap murid inklusi. murid reguler dapat menerima dengan baik kehadiran murid inklusi apabila murid inklusi berperilaku dengan baik, dan kurang menerima kehadiran murid inklusi apabila murid inklusi melakukan sikap yang buruk (Wijiastuti, 2. Fenomena ini sesuai dengan penerimaan sosial yang terjadi di SMPN 4 Sidoarjo yang mana murid reguler dapat menerima dengan baik murid inklusi di lingkungan sekolah apabila murid inklusi tidak melakukan sikap yang buruk atau negatif. Penerimaan sosial murid reguler terhadap murid inklusi juga dipengaruhi dengan persepsi murid reguler terhadap murid inklusi. Murid reguler yang memiliki persepsi negatif terhadap kehadiran murid inklusi dapat berpengaruh pada penerimaan sosial murid inklusi di sekolah. Sebaliknya penerimaan sosial murid reguler akan cenderung lebih positif apabila murid reguler memiliki persepsi yang positif terhadap kehadiran murid inklusi (Tania et al. , 2. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 Di SMPN 4 Sidoarjo proses penerimaan sosial murid reguler dan murid inklusi masih menunjukkan penerimaan yang positif melalui berbagai interaksi sosial seperti Murid reguler mulai memperlakukan teman inklusinya secara setara, mengajak bermain saat istirahat, duduk bersama dalam pembelajaran, hingga menyapa dan mengobrol di luar kelas. Penerimaan sosial murid reguler terhadap murid inklusi menunjukkan adanya bentuk interaksi sosial secara asimilasi. Menurut teori interaksi sosial Gillin dan Gillin proses interaksi sosial secara akomodasi dengan tahapan awal murid mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekolah (Soekanto, 2. Dalam tahapan ini masih ada perasaan canggung antara murid reguler dan murid inklusi, dan perasaan tidak nyaman, kebingungan, ketidaktahuan dengan keadaan murid inklusi. Kemudian berposes dengan adanya dukungan guru dan pembiasaan melalui pembelajaran berkelompok secara heterogen, pendekatan sosial di dalam kelas maupun diluar kelas. Murid reguler mulai beradaptasi secara sosial dan Proses interaksi secara akomodasi menciptakan adanya proses interaksi sosial yang tidak menimbulkan konflik dan membuka ruang untuk munculnya penerimaan sosial yang lebih baik. Proses asimilasi ditunjukkan dengan yaitu proses sosial di mana perbedaan antarindividu atau kelompok secara perlahan melebur karena adanya interaksi yang berkelanjutan. Dalam konteks interaksi sosia secara asimilasi murid reguler tidak mememperlakukan murid inklusi sebagai Auorang lainAy yang berbeda, melainkan sebagai bagian dari kelompok yang sama. Kedua murid belajar menyesuaikan cara berkomunikasi, memahami kebutuhan teman inklusi, dan mengembangkan empati sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di sekolah. Melalui proses ini, murid reguler dan murid inklusi menyesuaikan sikap dan perilaku satu sama lain. Penerimaan sosial muncul sebagai hasil dari pembiasaan interaksi yang disertai dengan sikap empati dan keterbukaan. Asimilasi akan terjadi apabila terdapat hubungan sosial yang cukup lama, sikap saling menerima, dan interaksi yang tidak didasarkan pada paksaan (Soekanto, 2. Hal ini terlihat jelas dalam dinamika kelas inklusi di SMPN 4 Sidoarjo yang mana penerimaan sosial tumbuh bukan karena kewajiban, tetapi karena interaksi sosial yang dibangun secara konsisten melalui pengalaman bersama. Dalam jangka yang berkelanjutan proses ini mendorong terbentuknya kohesi sosial yaitu keterikatan antarindividu yang saling mendukung dan menghargai perbedaan. Proses ini juga diperkuat oleh peran guru yang secara aktif menanamkan nilai-nilai empati, toleransi, dan kerja sama. Melalui kegiatan pembelajaran kolaboratif dan pengelolaan kelas yang Guru berperan aktif membantu mempercepat terjadinya proses asimilasi sosial tersebut. Penerimaan sosial tidak hanya terlihat dari sikap sopan murid reguler terhadap murid inklusi, tetapi dari munculnya relasi yang setara, alami, dan saling melengkapi dalam kehidupan sekolah seharihari. Penerimaan sosial terbentuk melalui interaksi simbolik seperti bahasa, gerak tubuh, dan pengalaman bersama. Murid reguler membangun pemahaman terhadap murid inklusi melalui pengalaman sehari-hari dan menunjukkan kesadaran untuk menyesuaikan diri dalam berinteraksi, misalnya dengan bersikap lebih sabar. Penerimaan sosial meningkat seiring dengan intensitas interaksi dalam kegiatan kelompok. Keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah yang membentuk kebiasaan interaksi positif dan menanamkan nilai toleransi. Hambatan dan Tantangan Interaksi Sosial Murid Reguler dan Murid Inklusi Hambatan dan tantangan murid reguler dan murid inklusi dilihat dari proses pemahaman sosial yang terkadang terhambat oleh perbedaan pemahaman kedua murid tersebut. Pemahaman yang disampaikan oleh murid inklusi terkadang tidak dapat dipahami oleh murid reguler. Pemahaman yang berbeda ini dikarenakan perbedaan latar belakang yang terjadi antara murid reguler dan murid inklusi. perbedaan pemahaman ini dikarenakan murid inklusi di SMPN 4 Sidoarjo memiliki keterbatasan dalam pengungkapan kalimat dengan jelas. Sehingga menjadi tantangan bagi murid reguler untuk memahami maksud dari murid inklusi saat melakukan interaksi sosial. 101 Dari sisi murid inklusi hambatan dalam proses interaksi sosial dengan murid reguler karena ada beberapa murid reguler yang belum terbiasa dengan kehadiran murid inklusi. perbedaan pemahaman ini dapat berujung pada konflik antara murid reguler dan murid inklusi. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 Beberapa hal yang menghambat akan adanya interaksi sosial murid reguler dan murid inklusi di sekolah SMPN 4 Sidoarjo ditunjukkan dengan adanya beberapa konflik yang terjadi. Dari sisi murid inklusi, yang menyebutkan bahwa murid reguler terkadang berperilaku negatif seperti mengejek atau jahil dengan murid inklusi yang membuat murid inklusi tidak nyaman dengan keadaan tersebut. berbeda dari sisi murid reguler yang menyatakan bahwa murid inklusi sering berperilaku marah dan selalu ingin dipahami. Perbedaan pemahaman yang muncul antara murid reguler dan murid inklusi dapat memicu adanya konflik sosial antara murid reguler dan murid Kondisi semacam ini termasuk dalam interaksi sosial disosiatif yaitu bentuk interaksi yang menjauhkan hubungan sosial, seperti konflik, kontravensi, dan kompetisi (Soekanto, 2. Ketika perbedaan persepsi dan pemahaman tidak dikelola, maka interaksi yang seharusnya bersifat membangun malah berubah menjadi hubungan yang renggang, bahkan menimbulkan sikap saling Konflik yang muncul tidak selalu dalam bentuk pertengkaran terbuka, tetapi bisa dalam bentuk keengganan untuk bekerja sama atau pengucilan secara halus. Penelitian yang dilakukan oleh Wijiastuti memperkuat dengan mengungkapkan bahwa "murid reguler menerima kehadiran murid inklusi tetapi tidak dengan sikap negatifnya", yang menunjukkan adanya batas penerimaan yang dipengaruhi oleh perilaku murid inklusi yang belum dipahami secara menyeluruh (Wijiastuti, 2. Dalam jangka panjang, sikap seperti ini bisa menciptakan jarak sosial dan memperkuat stereotip negatif terhadap siswa berkebutuhan khusus. Penelitian lainnya menyatakan bahwa "diskriminasi terjadi dalam bentuk secara tidak langsung atau dengan tidak menyakiti fisik". Diskriminasi non-verbal dan perlakuan berbeda yang dialami murid inklusi meskipun tidak tampak secara fisik tetap menjadi penghalang yang serius dalam membentuk hubungan sosial yang sehat dan inklusif (Pratiwi & Wahyudi, 2. Bentuk diskriminasi seperti ini bisa berupa penolakan untuk duduk bersama, tidak diajak diskusi, atau bahkan tidak diberi kesempatan berbicara dalam forum kelompok. Dengan demikian, tantangan dalam membangun interaksi sosial yang positif antara murid reguler dan murid inklusi bukan hanya terletak pada karakteristik murid inklusi, tetapi juga pada kurangnya pemahaman dan kesiapan sosial dari murid Diperlukan peran aktif guru sebagai fasilitator sosial untuk membimbing proses ini agar mengarah pada bentuk interaksi akomodasi, yaitu penyesuaian dua pihak yang memungkinkan terciptanya hubungan yang lebih harmonis dan saling menerima di lingkungan belajar inklusif. Strategi Guru Dalam Membentuk Interaksi Sosial Melalui Pembelajaran Berkelompok Metode pembelajaran berkelompok menjadi salah satu bentuk konkret yang diterapkan guru dalam memfasilitasi interaksi sosial antara siswa reguler dan siswa inklusi. Dengan menggabungkan siswa dari latar belakang yang berbeda dalam satu kelompok. Guru menciptakan ruang kolaboratif di mana siswa bisa saling bertukar pendapat, bekerja sama, dan membangun komunikasi Pendekatan ini secara efektif meningkatkan kemampuan sosial siswa inklusi serta menumbuhkan nilai-nilai empati, toleransi, dan kebersamaan di antara seluruh siswa. Selain membantu secara akademik, strategi ini juga mendukung keterlibatan emosional dan sosial siswa inklusi dalam kehidupan kelas sehari-hari. Dalam pembelajaran kelompok murid reguler dan murid inklusi secara alami berinteraksi dan saling memahami satu sama lain. Secara teori, konsep interaksi sosial menegaskan bahwa kerja sama . dalam interaksi sosial merupakan bentuk interaksi asosiatif yang menghasilkan integrasi sosial dan hubungan harmonis. Pembelajaran berkelompok sebagai bentuk kerja sama secara langsung merealisasikan teori ini dengan menciptakan ruang interaksi sosial yang memungkinkan siswa reguler dan inklusi saling menyesuaikan diri, memahami perbedaan, dan membangun solidaritas (Soekanto, 2. Dengan demikian, pembelajaran berkelompok bukan hanya menjadi metode pembelajaran yang efektif secara akademik, tetapi juga menjadi alat strategis dalam membangun relasi sosial yang inklusif, memperkuat keterampilan sosial siswa serta menumbuhkan iklim kelas yang saling menerima dan menghargai perbedaan. Dalam pelaksanaannya, guru di SMPN 4 Sidoarjo menggunakan berbagai pendekatan teknis untuk memastikan setiap anggota kelompok dapat berperan aktif sesuai kemampuannya. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 Guru biasanya memberikan pembagian tugas yang fleksibel dan mempertimbangkan karakteristik siswa, sehingga murid inklusi tetap bisa terlibat tanpa merasa terbebani. Contohnya, murid inklusi diberikan bagian tugas yang lebih sederhana, seperti menempel gambar, membacakan instruksi, atau menjawab pertanyaan singkat, sementara murid reguler membantu menjelaskan dan Strategi ini penting untuk menciptakan pengalaman belajar yang setara dan tidak Guru juga melakukan pemantauan secara aktif dengan berkeliling ke setiap kelompok, memberikan bimbingan saat muncul hambatan komunikasi, serta memberikan penguatan positif ketika interaksi berjalan dengan baik. Dengan demikian, pembelajaran berkelompok tidak hanya menjadi ruang kerja akademik, tetapi juga menjadi media sosial yang dirancang secara sadar untuk menumbuhkan interaksi lintas perbedaan dan memperkuat kebersamaan antar siswa. Guru Sebagai Mediator dalam Konflik Sosial Antara Murid Reguler dan Murid Inklusi Lingkungan pendidikan inklusif perbedaan karakter dan ekspresi sosial antara murid reguler dan murid inklusi kerap menimbulkan dinamika yang tidak selalu mudah. Meskipun sebagian besar murid reguler mampu menunjukkan penerimaan yang baik tidak jarang terjadi kesalahpahaman, ketakutan, atau jarak sosial akibat perbedaan dalam cara berkomunikasi maupun dalam mengekspresikan emosi. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting sebagai pihak yang mampu menjadi penengah sekaligus membimbing proses interaksi sosial agar tetap berjalan positif. Di kelas VII SMPN 4 Sidoarjo, guru memiliki sensitivitas terhadap situasi ini. Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa salah satu bentuk tantangan yang sering muncul adalah saat murid inklusi mengalami ledakan emosi, seperti marah secara tiba-tiba atau tantrum di ruang kelas. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori interaksi sosial yang di mana interaksi tidak selalu berlangsung dalam bentuk kerja sama, tetapi juga dapat memunculkan pertentangan atau kesalahpahaman yang kemudian diselesaikan melalui proses akomodasi. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator akomodasi sosial, yaitu menyelaraskan perbedaan dengan cara yang Peran guru sebagai mediator tidak hanya menyelesaikan konflik di permukaan, tetapi juga membantu murid memahami bahwa perbedaan dalam perilaku bukanlah ancaman, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang harus diterima. Melalui kehadiran dan arahan guru, murid reguler belajar untuk tidak menilai teman inklusi dari perilaku sesaat, melainkan memahami latar belakang dan kebutuhan khusus yang dimiliki. Di sisi lain, murid inklusi juga merasa lebih aman karena tahu bahwa gurunya akan membantu menjelaskan situasi kepada teman-teman mereka. Penelitian Yola Saskia memperkuat dengan menunjukkan bahwa Guru Pendamping Khusus (GPK) memiliki peran strategis dalam menjadi penghubung antara siswa berkebutuhan khusus dengan teman sebaya serta guru reguler. GPK membantu menjembatani komunikasi dan memberikan strategi pembelajaran yang sesuai, sekaligus meningkatkan kesadaran guru reguler terhadap kebutuhan siswa inklusi (Saskia et al. , 2. Hal ini memperkuat fungsi guru sebagai mediator konflik dan fasilitator akomodasi sosial, sebagaimana dijelaskan dalam teori interaksi sosial yang menekankan pentingnya akomodasi untuk menyelaraskan perbedaan dan membangun hubungan sosial harmonis (Soekanto, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan interaksi sosial dalam pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada kebijakan sekolah atau program tertentu, tetapi juga sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif guru sebagai mediator. Guru yang hadir secara emosional dan sosial menjadi penentu terciptanya lingkungan kelas yang inklusif, penolakan sosial dan stigma, serta menumbuhkan empati dan toleransi. Hal ini sesuai dengan rumusan masalah yang menyoroti pentingnya peran guru dalam menengahi dan membimbing interaksi sosial agar tetap positif di kelas inklusi. Dengan demikian, peran guru sebagai mediator bukan hanya menyelesaikan konflik permukaan, tetapi juga membentuk budaya sekolah inklusif yang terbuka dan suportif terhadap perbedaan, yang pada akhirnya mendukung perkembangan sosial dan akademik seluruh siswa. KESIMPULAN Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 82 - 94 Interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi di kelas VII menunjukkan kecenderungan yang cukup positif. Murid reguler secara umum mampu menunjukkan sikap penerimaan, toleransi, dan empati terhadap murid inklusi, baik dalam konteks akademik maupun non-akademik. Interaksi ini terwujud dalam bentuk kolaborasi pembelajaran melalui kerja kelompok, diskusi kelas, hingga keterlibatan dalam kegiatan di luar kelas seperti istirahat dan ekstrakurikuler. Program sobat inklusi juga membentuk adanya solidaritas yang terjalin dari murid reguler kepada murid inklusi. Melalui program sobat inklusi konflik yang terjadi antara murid reguler dan murid inklusi dapat meminimalisir adanya konflik yang terjadi antara murid reguler dan murid inklusi. Program ini memungkinkan terciptanya hubungan yang lebih dekat, pemahaman antar individu yang lebih baik, serta peningkatan empati dari murid reguler terhadap kondisi dan kebutuhan murid Namun demikian, masih terdapat hambatan terutama dalam hal komunikasi dan partisipasi aktif dari murid inklusi yang memiliki keterbatasan tertentu. Meskipun begitu, kebiasaan berinteraksi yang dilakukan secara berulang meembantu terciptanya hubungan sosial yang lebih inklusif dan Guru dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang inklusif. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai fasilitator dan mediator dalam interaksi sosial antar murid. Strategi yang diterapkan oleh guru antara lain pembentukan kelompok belajar campuran, pemberian tugas kolaboratif, serta pemberian penguatan positif terhadap sikap inklusif murid reguler. Guru juga berperan sebagai mediator konflik dengan melakukan pendekatan yang efektif dalam membantu siswa yang mengalami konflik. Di sisi lain, sekolah turut mendukung melalui program Sobat Inklusi yang mendorong solidaritas dan pendampingan sosial bagi murid inklusi. Dengan peran aktif guru dan adanya program yang mendukung dari pihak sekolah, interaksi sosial antara murid reguler dan murid inklusi dapat berkembang secara lebih sehat dan bermakna. DAFTAR PUSTAKA