Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Volume 5. Number 2, 2022, pp. ISSN: 2622-6022 (Onlin. DOI: 10. 30872/adjektiva. Copyright A 2022 by Author. Tuturan Tradisi Lisan Mandi Tolak Bala Suku Bajau Pulau Balikukup Kecamatan Batu Putih Kabupaten Berau Ditinjau Dari Puisi Lama Meita Setyawati. Waode Suwilta Universitas Mulawarman. Indonesia *Email: meita. setyawati@fkip. ABSTRACT This study aim to describe the form of the oral tradition of bathing rejects reinforcements from the Bajau tribe. Batu Putih District. Berau Regency in terms of old poetry. the oral tradition of bathing rejects reinforcements from the Bajau tribe. Batu Putih District. Berau Regency in terms of old poetry. This type of research is qualitative using descriptive method. Data collection techniques used are observation techniques, reading and note-taking techniques, and interview The steps used are as follows as data analysis in this study, namely collecting data to be analyzed relating to the bathing reject bala tradition, reducing relevant data, analyzing the tradition, namely describing the oral tradition of bathing tolak bala, describing the process of the oral tradition of bathing tolak bala, describe the meaning of the oral tradition of bathing reject reinforcements of the Bajau tribe. Batu Putih District. Berau Regency. From the results of the study, it was found that the form of oral tradition speech was in the form of an old poem with n-n-n-n rhymes, namely poetry, the process and meaning of taking a bath for the Bajau tribe, including making calls using musical instruments, namely gongs, separating men and women, here the first session for women . fter all the series is carried out followed by men with the same proces. Keywords: oral tradition, tolak bala, bajau. Article History Received: 8 September 2022 Revised: 19 September 2022 Accepted: 21 October 2022 Published: 31 October 2022 Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. PENDAHULUAN Indonesia memiliki berbagai ragam suku bangsa yang mempunyai kebudayaan berbedabeda. Setiap daerah masing-masing memiliki keragaman budaya yang dapat terlihat dari ciri khas yang berasal dari setiap daerah tersebut. Tradisi sebagai salah satu sastra daerah yang merupakan identitas suatu daerah. Dalam teori kesusastraan. Rene Wellek dan Austin Warren. Gramedia. Jakarta, 1989, 3, menuliskan bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah cabang seni. Sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Sastra adalah karya imajinatif. Tradisi yang berada di suatu daerah merupakan salah satu karya sastra. Dalam Metode Pengajaran Sastra. Penerbit Kanisius. Yogyakarta, 1988. Rahmanto mengungkapkan bahwa sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah, tidaklah menyuguhkan ilmu pengetahuan Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam dengan Setiap karya sastra selalu menghadirkan sesuatu yang kerap menyajikan banyak hal yang apabila dihayati benar-benar semakin menambah pengetahuan orang yang Ada banyak nilai tradisi yang dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan dan pembinaan kehidupan masyarakat. Tuturan salah satu tradisi yang berkembang dalam Biasanya tuturan digunakan seseorang dalam situasi tertentu untuk mengkhiaskan suatu hal. Tuturan tradisional daerah mengandung makna mendalam berupa sebuah petuah, nasihat dan pesan yang mengandung nilai-nilai moral. Salah satu tradisi yang mungkin asing didengar oleh suku lain atau belum pernah didengar yaitu tradisi mandi tolak bala tradisi yang berasal dari suku bajau. Tolak bala adalah tradisi yang berasal dari suku bajau yang berarti buang sial atau membuang suatu yang buruk dan kembali membersihkan diri. Suku bajau yang mayoritas bertempat tinggal di tepi pantai sehingga sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Hal ini berkaitan dengan tradisi dari turun temurun yaitu melaksanakan mandi buang sial . olak bal. di pinggir pantai dengan berbagai rangkaian. Berdasarkan pernyataan di atas penulis melakukan penelitian tentang tradisi mandi tolak bala . uang sia. yang terdapat di pulau Balikukup Kecamatan Batu Putih Kabupaten Berau sebagai inventarisasi kebudayaan yang sangat penting untuk dipelajari dan sebagai bahan pengetahuan budaya bagi penerus suku bajau itu sendiri dan diakrenakan budaya adat istiadat masih sangat kuat di suku bajau. Adapun alasan penulis memilih objek ini yaitu pentingnya meneliti tuturan tradisi lisan sebagai bagian dari sastra lisan yang mengandung etika, akhlak, moral, serta sebagai bentuk pelestarian kebudayaan daerah yang kemudian dapat diajarkan dan diwariskan kembali kepada generasi penerus. Contohnya dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan suku bajau, mengenali tradisi yang akan dikembangkan dan menjadi suatu identitas bagi daerah sehingga tradisi mandi tolak bala . uang sia. tersebut tidak punah. METODE PENELITIAN Penelitian yang penulis lakukan adalah jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif yaitu mendeskripsikan tradisi lisan yang terdapat di pulau Balikukup dalam tradisi AuTolak BalaAy tersebut. Dengan menggunakan metode ini, data yang diperoleh secara akurat dicatat dan dikumpulkan sebanyak-banyaknya kemudian dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian (Djajasudarma, 1993:. Menurut Moleong . pendekatan kualitatif adalah Audata yang dikumpulkan bukan berupa dalam bentuk angka melainkan data tersebut dari naskah wawancara, catatan lapangan dokumentasi pribadi, catatan memo dan dokumen resmi lainnyaAy. Data penelitian ini berupa nilai tradisi lisan dalam tradisi AuTolak BalaAy yang berkembang di kalangan masyarakat pulau Balikukup. Sumber data dalam penelitian ini hasil wawancara dengan informan yang relevan. Pengumpulan data di lapangan tentu berkaitan dengan teknik penggalian data, dan ia berkaitan pula dengan sumber dan jenis data. Alhadharah setidaknya sumber data dalam penelitian kualitatif berupa: . kata-kata dan . tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen atau sumber data tertulis dan foto. Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes, pengambilan foto, atau film. Sedangkan sumber data tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi (Moleong, 2000:112-. PENYAJIAN DATA DAN PEMBAHASAN Dari tradisi tuturan mandi tolak bala . uang sia. di pulau Balikukup Kecamatan Batu Putih Kabupaten Berau yang telah di analisis terdapat bentuk tuutran mandi tolak bala ditinjau dari puisi lama. Proses tuturan tradisi mandi tolak bala dan makna tuturan tradisi mandi tolak bala suku bajau di pulau balikukup kecamatan Batu Putih. Setyawati & Suwilta Bentuk dari tuturan tradisi lisan mandi tolak bala suku bajau di pulau Balikukup Kecamatan Batu Putih Kabupaten Berau ditinjau dari puisi lama,berikut bentuk teks mantra mandi tolak bala di pulau Balikukup. PelantaAoun min bala deAoenun nah keselamatan DeAo enun damai Me lahat tagan kami temban DeAo enun kemmemon kesucian DeAo enun rezeki dan kehaapan Dapat dilihat bahwa bentuk dari tuturan yang dibacakan dalam tradisi mandi tolak bala adalah mantra yang merupakan salah satu jenis puisi lama. Selain itu dilihat dari sajak yang berakhir n-n-n-n termasuk dalam Syair dengan yang memiliki ciri bersajak a-a-a-a. Proses merupakan rangkaian kegiatan dalam menghasilkan tujuan tertentu, dalam hal ini untuk melaksanakan mandi buang sial dilakukan beberapa proses. Adapun proses mandi tolak bala yang dilakukan masyarakat suku bajau yaitu: Membuat panggilan menggunakan alat musik yaitu gong, memisahkan laki-laki dan perempuan, disini sesi pertama kaum perempuan . etelah semua rangkaian dilakukan dilanjutkan oleh laki-laki dengan proses yang sam. Mengumandangkan azan setelah itu dilanjutkan iqomah. Menyiram para peserta upacara menggunakan tapis beras. Dilanjutkan dengan membaca shalawat dan mantra suku bajau dan membaca doa keselamatan Dunia dan Selain bentuk dan proses terdapat juga makna dalam tutruran mandi tolak bala di pulau Balikukup Kecamatan Batu Putih Kabupaten Berau. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia ) makna adalah maksud pembicara atau penulis, pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Memahami makna puisi atau sajak tidaklah mudah, akan tetapi makna harus dipahami sebagai maksud tujuan dalam sebuah puisi, sajak atau lainnya. Pemaknaan ini berhubungan dengan memberikan perhatian kepada pembaca, akan tetapi pemberian makna itu tidak boleh semau-maunya melainkan berdasarkan kerangka karya sastra itu. Adapun makna atau maksud dari mandi tolak bala sebagai berikut. Menbuat panggilan menggunakan alat musik yaitu gong. Makna dari dibunyikan gong yaitu panggilan kepada masyarakat suku bajau agar berkumpul menjadi satu di tempat sumber suara tersebut. Gong dipercaya dapat mengumpulkan masyarakat karena memiliki suara yang keras, hal ini sudah sering dilakukan oleh masyarakat suku bajau. Memisahkan laki-laki dan perempuan. Memisahkan yaitu membedakan antara suatu hal dengan yang lainnya. Memisahkan dengan arti membatasi agar tercapai tujuan tertentu. Makna dari memisahkan laki-laki dan perempuan yaitu untuk menjaga karena dianggap banyak masyarakat yang belum berkeluarga . Acara adat ini diikuti oleh seluruh masyarakat suku bajau tanpa batas usia namun, aturan dalam upacara mandi tolak bala ini tetap berlaku yaitu memisahkan laki-laki dan perempuan sebagai bentuk menghargai perempuan agar tidak terjadi hal-hal yang buruk. Mengumandangkan azan setelah itu dilanjutkan iqomah. Suku bajau merupakan mayoritas islam, sebagai umat yang percaya kepada Allah SWT. Mereka percaya bahwa lahir ke dunia dikumandangkan adzan di telinga kanan kemudian iqomah di telinga kiri. Saat meninggalkan duniapun adzan dan iqomah tetap dikumandangkan. Adzan bukan untuk panggian shoat saja namu dalam mandi tolak bala suku bajaupun tetap dikumandangkan. Makna adzan dalam upacara mandi tolak bala sebagai pengingat bahwa disetiap langkah hidup dan mati di tangan Allah. Selain itu adzan dan iqomah juga sebagai bentuk taat kepada Allah. Para peserta upacara disiram menggunakan tapis beras. Dilanjutkan dengan membaca shalawat dan mantra suku bajau. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI ) tapis adalah alat yang dibuat dari kain dan sebagainya untuk memisahkan benda cair dari benda padat pencemar atau endapan untuk memisahkan benda padat yang berbeda ukurannya. Menggunakan tapis untuk menyiram peserta bermaksud agar air yang dibasuh tidak bercampur kotoran karena air tersebut di anggap suci. Setelah penyiraman maka dilanjutkan membaca shalawat nabi, sebagai umat islam masyatakat suku bajau diberikan arahan agar senantiasa mengingat perjuangan nabi Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Muhammad oleh sebab itu dalam acara mandi tolak bala ini shalawat di bacakan. Rangkaian berikutnya yaitu membacakan mantra suku bajau yang dianggap sakral, adapun makna dari tiap bait bacaan tersebut yaitu : PelantaAoun min bala deAoenun nah keselamatan, arti dari kalimat diatas adalah Jauhkanlah dari hal buruk dan berikanlah Makna dari ungkapan tersebut yaitu meminta kepada yang kuasa agar seluruh masyarakat suku bajau dijauhkan dari hal-hal buruk seperti gangguan makhluk gaib, pertengkaran, kesalahpahaman dan lainnya. Selain itu meminta diberikan keselamatan baik dalam melakukan pekerjaan, ibadah, perjalan, dan lainnya. DeAo enun damai Me lahat tagan kami temban, arti dari kalimat diatas adalah berikan kedamain ditempat kami tinggal. Ungkapan agar pada bait kedua ini mempunyai makna masyarakat suku bajau meminta perlindungan pulau Balikukup senantiasa diberikan kedamaian seperti masyarakat selalu toleransi terhadap perbedaan agama, suku, pekerjaan dan jenis kelamin. DeAo enun kemmemon kesucian Arti dari ungkapan bait ketiga adalah berikan kesucian untuk semuanya. Adapun makna dari kalimat diats yaitu masyarakat suku bajau meminta kepada yang kuasa agar segala dosa-dosa yang pernah dilakukan dimpuni, sucikan kembali seperti pertama kali lahir kedunia. DeAo enun rezeki dan kehaapan, arti dari bait terakhir yaitu berikan rezeki dan hal-hal yang baik. Pada bait keempat ini memilki makna yaitu masyarakat senantiasa meminta kepada yang kuasa agar diberikan rezeki seperti pakaian, makanan, kesempatan, pendapatan dan sebagainya. Adapun kalimat hal-hal baik yaitu bermakna diberikan perilaku atau karakter yang baik agar menjadi manusia yang berguna dan damai. Doa Keselamatan Dunia dan akhirat. Allahumma inna nas aluka salaamatanfiddiin, waAoaafiyatan fil jasad, wa ziyadatan filAoilmi, wabarokatan dir rizqi, wa taubatan qoblat maut, warohman indal maut, wa maghfirotan baAodal maut. Allahumma hawwin Aoalainaa fii sakarootil maut, wan najaata minan naar, wal Aoafwa indal hisab. Artinya Ya. Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan ketika beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, tobat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut. Ya. Allah mudahkanlah kami dalam menghadapi sakraratul maut, berikanlah kami kselamatan dari api neraka dan ampunan pada saat hisab. Pada proses yang terakhir yaitu meminta doAoa keselamatan duni dan akhirat, adapun makna pada kalimat diatas yaitu sebagai umat islam yang dipercayai akan kembali ke Allah maka masyarakat suku bajau mengharapan keselamatan baik dalam menjalani hidup di dunia maupun di akhirat nanti. KESIMPULAN Berdasarkan analisis dan hasil penelitian pada tuturan tradisi lisan mandi tolak bala suku Bajau Kecamatan Batu Putih Kabupaten Berau ditinjau dari puisi lama, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Bentuk dari tuturan tradisi lisan mandi tolak bala suku bajau, dari tuturan yang dibacakan dalam tradisi mandi tolak bala adalah mantra yang merupakan salah satu jenis puisi Selain itu dilihat dari sajak yang berakhir n-n-n-n termasuk dalam Syair dengan yang memiliki ciri bersajak a-a-a-a. Proses tuturan tradisi lisan mandi tolak bala suku najau diantaranya adalah Menbuat panggilan menggunakan alat musik yaitu gong, memisahkan laki-laki dan perempuan, disini sesi pertama kaum perempuan setelah semua rangkaian dilakukan dilanjutkan oleh laki-laki dengan proses yang sam. Mengumandangkan azan setelah itu dilanjutkan iqomah. Menyiram para peserta upacara menggunakan tapis beras. Dilanjutkan dengan membaca shalawat dan mantra suku bajau dan Doa Keselamatan Dunia dan akhirat. Makna dari dibunyikan gong yaitu panggilan kepada masyarakat suku bajau agar berkumpul menjadi satu di tempat sumber suara tersebut. Memisahkan dengan arti membatasi agar tercapai tujuan tertentu. Makna dari memisahkan laki-laki dan perempuan yaitu untuk menjaga karena dianggap banyak masyarakat yang belum berkeluarga . Makna adzan dalam upacara mandi tolak bala sebagai pengingat bahwa disetiap langkah hidup dan mati di tangan Allah. Selain itu adzan dan iqomah juga sebagai bentuk taat kepada Allah. Menggunakan Setyawati & Suwilta tapis untuk menyiram peserta bermaksud agar air yang dibasuh tidak bercampur kotoran karena air tersebut di anggap suci. Setelah penyiraman maka dilanjutkan membaca shalawat nabi, sebagai umat islam masyatakat suku bajau diberikan arahan agar senantiasa mengingat perjuangan nabi Muhammad oleh sebab itu dalam acara mandi tolak bala ini shalawat di Membacakan mantra mandi tolak bala diantaranya: PelantaAoun min bala deAoenun nah keselamatan. Makna dari ungkapan tersebut yaitu meminta kepada yang kuasa agar seluruh masyarakat suku bajau dijauhkan dari hal-hal buruk seperti gangguan makhluk gaib, pertengkaran, kesalahpahaman dan lainnya. DeAo enun damai Me lahat tagan kami temban. Ungkapan agar pada bait kedua ini mempunyai makna masyarakat suku bajau meminta perlindungan pulau Balikukup senantiasa diberikan kedamaian seperti masyarakat selalu toleransi terhadap perbedaan agama, suku, pekerjaan dan jenis kelamin. DeAo enun kemmemon Adapun makna dari kalimat diats yaitu masyarakat suku bajau meminta kepada yang kuasa agar segala dosa-dosa yang pernah dilakukan dimpuni, sucikan kembali seperti pertama kali lahir kedunia. DeAo enun rezeki dan kehaapan, memilki makna yaitu masyarakat senantiasa meminta kepada yang kuasa agar diberikan rezeki seperti pakaian, makanan, kesempatan, pendapatan dan sebagainya. Pada proses yang terakhir yaitu meminta doAoa keselamatan duni dan akhirat, adapun makna dari doa tersebut yaitu sebagai umat islam yang dipercayai akan kembali ke Allah maka masyarakat suku bajau mengharapan keselamatan baik dalam menjalani hidup di dunia maupun di akhirat nanti. REFERENSI