ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Volume 1 . Juni 2025, 1-10 ISSN: x-x (Onlin. x-x (Prin. Tersedia online: https://rumahjurnal. id/index. php/arted Strategi dan Metode Pelatihan Musik Tradisional di Sanggar Saandiko: Upaya Pelestarian Seni Melalui Pendidikan Nonformal Annisa Salsabila1*. Yensharti2 Universitas Negeri Padang. Indonesia1,2 Email: annisasalsabila719@gmail. Abstrak: Kesenian tradisional kini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan zaman dan arus globalisasi yang menyebabkan pergeseran minat generasi muda terhadap budaya Salah satu upaya pelestarian seni tradisional dilakukan melalui pendidikan nonformal berbasis komunitas, seperti yang dilakukan oleh Sanggar Saandiko di Kota Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi dan metode pelatihan musik tradisional yang diterapkan di sanggar tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui studi pustaka, wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sanggar Saandiko mengedepankan pendekatan kekeluargaan, pembentukan karakter, serta penanaman nilai-nilai seperti kedisiplinan dan tanggung jawab dalam proses pelatihannya. Metode yang digunakan meliputi latihan terbimbing, mandiri, dan gabungan, yang dilaksanakan secara terpadu dalam suasana kolaboratif. Strategi dan metode ini tidak hanya meningkatkan kemampuan musikal anggota, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat rasa kebersamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa sanggar seni dapat menjadi ruang efektif dalam pelestarian seni tradisi dan pembentukan generasi muda yang berbudaya. Kata Kunci: Strategi Pelatihan. Metode Pelatihan. Musik Tradisional. Pendidikan Nonformal. Abstract: Traditional arts are currently facing major challenges due to the rapid development of the times and the wave of globalization, which have led to a shift in young peopleAos interest away from local culture. One effort to preserve traditional arts is through community-based non-formal education, such as that carried out by the Saandiko Studio in Bukittinggi City. This study aims to describe the strategies and methods of traditional music training implemented at the studio. A qualitative approach with a descriptive method was used. Data were collected through literature review, interviews, observation, and documentation, with the researcher as the main instrument. The results show that Saandiko Studio emphasizes a familial approach, character building, and the instilling of values such as discipline and responsibility in the training process. The methods used include guided, independent, and combined practice, which are carried out in an integrated manner within a collaborative atmosphere. These strategies and methods not only enhance the membersAo musical abilities but also shape character and strengthen a sense of togetherness. The findings indicate that art studios can serve as effective spaces for the preservation of traditional arts and the cultural development of younger generations. Keywords: Training Strategies. Training Methods. Traditional Music. Nonformal Education. DOI: 10. 70078/arted. A Penulis. Diterbitkan oleh CV ALFA EDU KARYA. CC BY SA: Artikel ini didistribusikan di bawah ketentuan Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Pendahuluan Sanggar seni merupakan salah satu wadah pendidikan nonformal yang memiliki kontribusi besar dalam proses pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal di Indonesia (Amalia dkk. , 2024. Putri dkk. , 2025. Rohman dkk. , 2. Di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa perubahan pola hidup, selera, dan sistem nilai dalam masyarakat, eksistensi kesenian tradisional menghadapi tantangan serius. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya populer dan hiburan instan berbasis digital (Wulandari dkk. , 2. , sementara seni tradisional sering dianggap kuno, sulit dipelajari, dan kurang menarik karena membutuhkan waktu, kesabaran, serta proses pembelajaran yang mendalam (Alfaqi, 2. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi keterputusan generasi terhadap warisan budaya lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas bangsa. Hal inilah yang menjadikan Sanggar Saandiko sebagai contoh konkret dari lembaga pendidikan nonformal yang berhasil menjaga eksistensi seni tradisi, khususnya dalam bidang musik Minangkabau. Sejak didirikan oleh Edi Elmitos pada tahun 2003. Sanggar Saandiko menjadi tempat belajar musik tradisional bagi anak-anak dan remaja, dengan pendekatan pembinaan yang tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan penanaman nilai budaya lokal. Yang menarik, sanggar ini tidak terpaku pada bentuk seni tradisi yang murni, tetapi melakukan inovasi dengan menggabungkan alat musik tradisional seperti talempong, canang, tambua, bansi, dan saluang, dengan alat musik modern seperti keyboard, gitar elektrik, dan drum. Perpaduan tersebut menghasilkan karya musik kreasi yang tetap berakar pada tradisi, namun mampu menjangkau selera musikal generasi masa kini. Suasana pelatihan yang dibangun di Sanggar Saandiko bersifat kekeluargaan, inklusif, dan kolaboratif. Setiap anggota diperlakukan sebagai bagian dari komunitas, bukan sekadar murid. Proses latihan tidak hanya dilakukan secara teknis, tetapi juga melibatkan pendekatan emosional, dialog, dan evaluasi bersama. Strategi pembinaan yang diterapkan oleh pendiri sanggar mencerminkan nilai-nilai Minangkabau seperti musyawarah, saling menghargai, dan kerja sama. Selain itu, metode pelatihan seperti latihan terbimbing, latihan mandiri, dan latihan gabungan dilakukan secara terintegrasi dengan fokus pada keberlanjutan proses belajar, bukan hanya hasil jangka pendek. Pendekatan ini telah terbukti efektif, ditandai dengan berbagai penghargaan yang berhasil diraih Sanggar Saandiko di tingkat lokal, nasional, dan bahkan internasional. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pelatihan seni tradisional di sanggar memiliki dampak signifikan terhadap pengembangan keterampilan seni dan pelestarian budaya. Penelitian oleh Chair dkk. , mengungkap bahwa pelatihan talempong kreasi di Sanggar Saandiko mampu meningkatkan keterampilan teknik dan musikalitas anggota, meskipun cakupannya masih terbatas pada alat musik tertentu. Darlenis & Santoso . dalam penelitiannya mengenai Sanggar Sayuk Rukun menyoroti bagaimana pelatihan tari dan karawitan gaya Minang yang dilakukan di luar ranah asal budaya Minang mampu menjadi sarana edukasi lintas budaya. Sementara itu. Maireom dkk. meneliti pelatihan musik bambu di Kepulauan Talaud dan menemukan bahwa metode berbasis praktik langsung dan drill menjadi pendekatan yang dominan. Vol. No. Juni 2. 2 Salsabila & Yensharti Ketiga penelitian tersebut memberikan kontribusi penting dalam pemetaan praktik pelatihan seni tradisional di berbagai daerah, namun belum banyak yang secara khusus mengkaji strategi pembinaan dan metode pelatihan secara terpadu dalam konteks komunitas lokal yang memiliki dinamika sosial dan budaya yang khas seperti di Sanggar Saandiko. Berbeda dari penelitian terdahulu, tulisan ini tidak hanya menyoroti aspek teknis pelatihan seni musik tradisional, tetapi juga melihat bagaimana strategi pelatihan yang berbasis kekeluargaan, pembentukan karakter, serta integrasi alat musik modern dapat berperan dalam menciptakan regenerasi seniman tradisi yang adaptif namun tetap berakar pada budaya lokal. Strategi dan metode pelatihan yang diterapkan oleh Sanggar Saandiko diyakini dapat menjadi model alternatif dalam pendidikan seni berbasis komunitas yang relevan dengan perkembangan zaman. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan strategi serta metode pelatihan yang diterapkan di Sanggar Saandiko Kota Bukittinggi. Peneliti berharap hasil kajian ini dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan model pelatihan seni tradisional, serta memberikan inspirasi praktis bagi pengelola sanggar, pendidik seni, dan pemangku kebijakan dalam mengembangkan pendidikan budaya melalui pendekatan yang kontekstual dan berorientasi pada karakter. Metode Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif (Moleong, 2. memahami secara mendalam strategi dan metode pelatihan yang diterapkan di Sanggar Saandiko Kota Bukittinggi. Fokus utama dari penelitian ini adalah bagaimana proses pelatihan musik tradisional berlangsung di lingkungan komunitas sanggar. Objek penelitian ini adalah strategi dan metode pelatihan yang diterapkan dalam proses pembelajaran musik di Sanggar Saandiko. Penelitian ini berorientasi pada pencarian makna dan pemahaman mendalam terhadap praktik pelatihan seni dalam konteks Oleh karena itu, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Gambar 1. Alur Metode Penelitian Vol. No. Juni 2025 | 3 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan pendiri sanggar, pelatih, serta anggota aktif yang mewakili berbagai generasi. Observasi dilakukan secara langsung terhadap kegiatan pelatihan, baik dalam sesi latihan rutin maupun saat persiapan Studi pustaka dilakukan untuk memperkuat dasar teori dan memahami konteks kesenian tradisional Minangkabau serta konsep pelatihan seni dalam pendekatan pendidikan nonformal. Dokumentasi berupa foto dan video digunakan sebagai pendukung visual yang memperkuat hasil temuan lapangan. Peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, didukung oleh alat bantu seperti buku catatan dan kamera handphone. Proses analisis data dilakukan melalui enam tahapan, yaitu: . pengumpulan data, . klasifikasi data, . klarifikasi data, . analisis temuan, . deskripsi hasil, dan . penarikan kesimpulan. Langkahlangkah ini digunakan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga memiliki kedalaman interpretasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Dengan menggunakan pendekatan ini, diharapkan penelitian dapat menggambarkan secara utuh dinamika pelatihan musik tradisional yang berlangsung di Sanggar Saandiko, sekaligus memberikan gambaran nyata bagaimana strategi dan metode yang diterapkan mampu membentuk keterampilan musikal sekaligus nilainilai karakter anggota sanggar. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelatihan di Sanggar Saandiko Kota Bukittinggi berlangsung secara terstruktur namun fleksibel, dengan pendekatan kekeluargaan yang erat antara pelatih dan anggota. Berdasarkan hasil observasi langsung pada tanggal 12Ae13 April 2025, pelatihan dilaksanakan secara rutin setiap akhir pekan, yaitu Jumat . 00Ae17. Sabtu dan Minggu . 00Ae17. , di studio latihan milik pendiri sanggar. Edi Elmitos, yang berlokasi di Jorong Kambing Tujuh. Nagari Gadut. Kabupaten Agam. Strategi Pelatihan Strategi pelatihan utama yang diterapkan adalah: Pendekatan kekeluargaan dan pembentukan karakter, yang terlihat dari cara pelatih memperlakukan semua anggota sebagai bagian dari keluarga. Saat observasi, pelatih tidak hanya memberi arahan teknis, tetapi juga menyisipkan pesan moral tentang kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan sikap menghargai teman latihan. Interaksi yang santai namun tegas menjadikan suasana latihan nyaman dan produktif. Strategi part-to-whole, yaitu melatih bagian-bagian kecil dari materi musik sebelum digabungkan menjadi satu kesatuan utuh. : AuAAnak-anak saya latih dari bagian kecil dulu, misalnya satu bagian melodi atau irama. Setelah itu baru kita gabungkan jadi satu Kalau langsung semua, anak-anak biasanya bingung. Ay (Wawancara bersama Edi Elmitos, 11 April 2. Vol. No. Juni 2. 4 Salsabila & Yensharti . Strategi reflektif, yaitu dengan merekam proses latihan menggunakan handphone, lalu meninjau kembali hasilnya bersama anggota. Dokumentasi ini digunakan sebagai bahan AuASaya rekam latihan mereka, lalu kami nonton sama-sama. Saya biarkan mereka sendiri yang sadar. Aooh di sini aku salah,Ao jadi mereka bisa koreksi diri. Ay (Wawancara dengan Edi Elmitos, 11 April 2. Metode Pelatihan Metode pelatihan di Sanggar Saandiko terdiri atas tiga jenis, yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut: Latihan Terbimbing (Guided Practic. Latihan ini dilakukan secara langsung di bawah bimbingan pelatih, terutama bagi anggota baru. Berdasarkan hasil observasi, anggota yang masih pemula diarahkan untuk mengulang teknik dasar seperti pola pukulan talempong dan irama tambua. Pelatih memberikan contoh terlebih dahulu, lalu meminta anggota menirukan sambil sesekali memberikan koreksi. Metode ini menekankan pembiasaan motorik dan pendalaman teknik dasar sebelum masuk ke materi pertunjukan. Latihan Mandiri (Independent Practic. Latihan ini dilakukan di luar jadwal resmi. Setiap anggota diberi tanggung jawab untuk mempelajari bagian yang telah ditentukan secara individu. AuAAKami disuruh latihan sendiri di rumah. Kalau enggak bisa, nanti pas latihan hari Minggu dibantu. Tapi kami harus udah hafal dulu bagian kami. Ay (Wawancara bersama Citra, 11 April 2. Metode ini mendorong rasa tanggung jawab pribadi dan menanamkan kemandirian dalam proses belajar musik. Latihan Gabungan (Ensemble Practic. Latihan ini melibatkan seluruh anggota aktif sanggar untuk menyatukan bagian-bagian musik yang telah dipelajari secara terpisah. Suasana latihan gabungan sangat dinamis dan penuh energi. Gambar 2. Suasana latihan rutin anggota Sanggar Saandiko Vol. No. Juni 2025 | 5 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Dari dokumentasi foto tampak anggota dengan berbagai alat musik tradisional dan modern berlatih secara bersama. Latihan ini biasanya difokuskan untuk persiapan pertunjukan, baik skala lokal maupun nasional. Komposisi dan Dinamika Anggota Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi, anggota Sanggar Saandiko berasal dari rentang usia 10Ae22 tahun, terdiri dari siswa SD. SMP. SMA, hingga mahasiswa. Tidak terdapat jenjang pelatihan yang kaku. Rekrutmen dilakukan secara alami berdasarkan ketertarikan, kedisiplinan, dan komitmen mengikuti latihan. AuAASaya lebih suka yang kecil-kecil, karena mereka belum punya gaya. Masih bisa dibentuk. Yang penting dia rajin datang Ay (Wawancara bersama Edi Elmitos, 11 April 2. Sistem ini menciptakan suasana regeneratif di mana anggota lama membimbing anggota baru, dan pembelajaran berlangsung secara kolaboratif. Kolaborasi Alat Musik Tradisional dan Modern Salah satu ciri khas dari Sanggar Saandiko adalah keberaniannya menggabungkan alat musik tradisional Minangkabau seperti talempong, canang, tambua, dan pupuik dengan alat musik modern seperti keyboard, gitar elektrik, bass, dan drum. Kolaborasi ini bertujuan agar pertunjukan musik tradisi lebih mudah diterima oleh generasi muda dan masyarakat luas. AuAA. Kami tidak mau meninggalkan tradisi, tapi juga tidak ingin tampil yang itu-itu saja. Anak-anak sekarang suka yang modern, jadi kami padukan. Ay (Wawancara bersama Edi Elmitos, 11 April 2. Gambar 3. Keyboard yang digunakan Sanggar Saandiko Gambar 4. Bass dan Ampli yang digunakan Sanggar Saandiko Vol. No. Juni 2. 6 Salsabila & Yensharti Meskipun dalam dokumentasi visual . belum seluruh alat musik modern terekam secara bersamaan dengan alat tradisional dalam satu sesi latihan, keterangan dari wawancara serta pengamatan penulis selama observasi menunjukkan bahwa unsur kolaboratif ini memang diterapkan secara bergiliran dalam berbagai sesi dan acara. Dalam pertunjukan tertentu, anggota yang memainkan alat musik modern tampil mendampingi kelompok tradisional, menciptakan harmoni yang khas dan atraktif. Dengan pendekatan ini. Sanggar Saandiko mampu menciptakan identitas musikal yang unik, memadukan elemen musik tradisional dengan sentuhan kekinian. Kolaborasi lintas instrumen ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga relevansi seni tradisi di tengah perkembangan zaman. Pembahasan Strategi Pelatihan sebagai Representasi Pembelajaran Komunitas Penelitian ini menemukan bahwa strategi pelatihan di Sanggar Saandiko merepresentasikan model pembelajaran seni berbasis komunitas yang inklusif dan berorientasi karakter. Proses pembinaan dilakukan dengan pendekatan part-to-whole, yaitu melatih bagian-bagian kecil dari komposisi musik sebelum menyatukannya menjadi pertunjukan utuh. Strategi ini sejalan dengan teori Sloboda . alam Hidayatullah, 2. , yang menegaskan bahwa penguasaan bagian-bagian musik secara bertahap dapat mempermudah pemahaman keseluruhan struktur musikal. Hal ini terbukti efektif di Sanggar Saandiko, yang memainkan musik tradisional Minangkabau dengan pola ritmik dan polifonik yang cukup kompleks. Selain itu. Sanggar Saandiko juga menerapkan strategi refleksi melalui rekaman audio-visual, di mana peserta merekam dan meninjau kembali penampilan mereka. Strategi ini menunjukkan adaptasi terhadap pendekatan modern, memperkuat kemampuan evaluasi diri, dan menumbuhkan kesadaran musikal. Goolsby . menyebut bahwa refleksi berbasis teknologi membantu peserta belajar mengenali kekuatan dan kelemahan mereka secara lebih objektif, meningkatkan kualitas performatif dan interpretatif. Pembentukan Karakter dan Nilai Sosial dalam Proses Pelatihan Lebih dari sekadar mengembangkan keterampilan musikal, proses pelatihan di Sanggar Saandiko secara eksplisit menanamkan nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai. Ini terlihat dari cara Edi Elmitos . memberi penekanan pada ketepatan waktu latihan, komitmen mengikuti jadwal, serta pembagian tugas dan tanggung jawab selama pertunjukan. Nilai-nilai ini tidak diajarkan secara formal, melainkan melalui pembiasaan dan keteladanan dalam suasana kekeluargaan. Pendekatan ini sejalan dengan strategi pembinaan karakter yang dikemukakan Bertens . alam Ramayanti dkk. , 2. , yaitu menanamkan nilai dan sikap melalui proses interaksi sosial yang bermakna. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari AurohAy pertunjukan Sanggar Saandiko yang tidak hanya memukau secara musikal, tetapi juga kuat dalam rasa kebersamaan dan kohesi kelompok. Vol. No. Juni 2025 | 7 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Sesuai dengan konsep Eisner . dalam education through art dari pelatihan seni di Saandiko bukan hanya bertujuan mencetak pemain musik, tetapi juga membentuk individu yang berbudaya, memiliki etika, dan mampu bekerja dalam tim secara Metode Pelatihan yang Fleksibel dan Kolaboratif Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sanggar Saandiko menggunakan metode pelatihan terbimbing, mandiri, dan gabungan, yang disesuaikan dengan tingkat keterampilan dan kesiapan anggota. Metode ini bersifat fleksibel, namun tetap dalam koridor struktur yang jelas, sehingga memberikan ruang bagi peserta untuk berkembang secara bertahap dan mandiri. Prinsip ini senada dengan teori Vygotsky . mengenai zone of proximal development, di mana perkembangan peserta akan lebih optimal ketika dibimbing melalui interaksi sosial dan kerja kolektif. Pelatihan secara kolaboratif memungkinkan terjadinya tutor sebaya, transfer pengetahuan antar anggota, dan pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman langsung. Inovasi Musikal dalam Integrasi Tradisi dan Modernitas Salah satu strategi penting Sanggar Saandiko adalah integrasi alat musik tradisional . alempong, canang, pupui. dengan alat musik modern . eyboard, bass, dru. Kombinasi ini menciptakan bentuk musikal yang inovatif tanpa meninggalkan akar Pendekatan lintas-genre ini mendukung teori Campbell . alam Hidayatullah, 2. tentang multicultural music education, bahwa kolaborasi lintas budaya mampu memperluas wawasan musikal peserta serta membangun penghargaan terhadap keragaman. Integrasi ini juga berdampak positif terhadap minat generasi muda, karena mereka merasa terhubung baik dengan identitas lokal maupun dengan dunia musikal yang lebih luas. Inklusivitas dan Pembelajaran Berbasis Komunitas Keanggotaan Sanggar Saandiko bersifat terbuka dan tidak memandang usia, latar belakang pendidikan, maupun keterampilan awal. Pendekatan ini mencerminkan prinsip pendidikan yang inklusif dan partisipatif, seperti dijelaskan oleh Banks . alam Windayani dkk. , 2. , bahwa pendidikan seni yang efektif harus mampu merangkul keragaman peserta dan memperlakukan setiap individu secara setara. Dalam praktiknya, pendekatan ini menciptakan suasana komunitas yang hangat dan saling mendukung. Anggota baru dibimbing tanpa diskriminasi, dan perkembangan mereka disesuaikan dengan kapasitas masing-masing. Ini menjadikan sanggar tidak hanya sebagai ruang belajar seni, tetapi juga sebagai ruang aman untuk bertumbuh secara sosial dan emosional. Sanggar Saandiko berhasil membangun model pembelajaran seni berbasis komunitas yang inklusif, fleksibel, dan berorientasi Strategi pelatihannya menggabungkan pendekatan part-to-whole dan refleksi audio-visual untuk memperkuat pemahaman musikal serta evaluasi diri. Vol. No. Juni 2. 8 Salsabila & Yensharti Pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan musik, tetapi juga membentuk nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama melalui keteladanan dan praktik langsung. Metode yang digunakan bersifat kolaboratif dan disesuaikan dengan kemampuan peserta, memungkinkan terjadinya pembelajaran kontekstual dan bimbingan dari sesama anggota. Inovasi musikal melalui integrasi alat tradisional dan modern menjadikan sanggar relevan bagi generasi muda. Selain itu, sifat keanggotaannya yang terbuka menjadikan sanggar sebagai ruang aman untuk tumbuh secara sosial, emosional, dan artistik bagi semua kalangan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, data yang dikumpulkan bersifat kualitatif dan terbatas pada satu lokasi, yakni Sanggar Saandiko di Bukittinggi. Oleh karena itu, hasil temuan tidak dapat digeneralisasi untuk semua sanggar seni di Indonesia. Kedua, karena penelitian ini menggunakan pendekatan observasi dan wawancara, maka subjektivitas dari narasumber maupun peneliti dapat memengaruhi interpretasi data. Selain itu, studi ini belum mengkaji secara mendalam dampak jangka panjang dari pelatihan terhadap karier atau perkembangan kepribadian peserta. Penelitian lanjutan disarankan untuk menelusuri aspek tersebut secara longitudinal, serta melakukan komparasi dengan sanggar lain yang memiliki metode pelatihan Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa Sanggar Saandiko berhasil mengimplementasikan pendekatan pelatihan seni berbasis komunitas yang efektif dalam membentuk keterampilan musikal dan karakter generasi muda. Keberhasilan sanggar tidak semata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, melainkan oleh kekuatan strategi pembinaan yang humanistik, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai budaya lokal. Pelatihan di Sanggar Saandiko mengintegrasikan pembelajaran teknik musik, kolaborasi sosial, dan penanaman nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap saling menghargai. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seni, ketika dilaksanakan dalam konteks budaya dan komunitas yang mendukung, mampu menjadi ruang pembentukan identitas, etika, dan solidaritas sosial. Sanggar Saandiko menjadi representasi bahwa pelestarian seni tradisional dapat berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan inovasi artistik, menjadikannya model pendidikan seni alternatif yang relevan di tengah tantangan modernisasi. Referensi