GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 MENGGUNAKAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA Zuhra Imarah Millati Dosen Tetap Yayasan STKIP An-Nur. Jl. Lamgugob (Belakang Mesjid Syuhad. Desa Lamgugob. Banda Aceh. E-mail: zuhraazhar@gmail. Abstrak: Penelitian ini berjudul AuMenggunakan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan BerbicaraAy bertujuan untuk . menemukan apakah ada peningkatan kemampuan siswa berbicara dengan menggunakan metode Problem Based Learning dan . untuk melihat respon siswa terhadap penggunaan metode Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan berbicara. Penelitian ini telah dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus sampai dengan 11 September 2020 di kelas XI IPA Pesantren Inshafuddin. Banda Aceh. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, butir kuesioner, dan pedoman wawancara. Tes berupa tes berbicara yang digunakan untuk memperoleh data apakah ada peningkatan kemampuan siswa dalam berbicara dengan menggunakan metode Problem Based Learning. Sedangkan butir kuesioner disiapkan untuk melihat bagaimana respon siswa terhadap penggunaan metode Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan berbicara. Kemudian, pedoman wawancara bertujuan untuk mengetahui pendapat lebih lanjut dari data hasil respon siswa terhadap kuesioner. Pedoman wawancara yang digunakan adalah pedoman semi terstruktur. Berdasarkan pada hasil analisis tes kemampuan berbicara dengan menggunakan metode Problem Based Learning yaitu kemampuan berbicara siswa meningkat yang ditandai dengan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa pada pos-tes. Rata-rata siswa pada pre-tes adalah 6,75 sedangkan rata-rata siswa pada pos tes adalah 9. Kemudian, hasil analisis kuesioner menunjukan bahwa para siswa tertarik dalam berbicara ketika menggunakan metode Problem Based Learning. Selanjutnya, hasil analisis wawancara menunjukan bahwa permasalahan yang dihadapi pada saat berbicara disebabkan oleh pengaruh tekanan psikologi. Sehingga penggunaan metode Problem Based Learning dalam meningkatkan kemapuan berbicara siswa sangat disarankan karena telah menunjukan peningkatan hasil. Kata-kata kunci: Menggunakan. Problem Based Learning. Berbicara. Hal Pendahuluan Bahasa Inggris terdiri dari beberapa temui dalam pembelajaran speaking . Speaking berarti menyampaikan ide yang dimaksud dan bisa dipahami dengan Keempat keahlian ini harus dikuasai baik oleh si pendengar. Berbicara itu bisa jadi dan dicapai standar minimal oleh para siswa mudah atau sulit tergantung pada faktor sesuai ketetapan kebijakan sekolah masing- pendukung bicara itu sendiri. Ada beberapa Dalam hal ini, para siswa sering faktor yang menyebabkan berbicara bahasa sekali memiliki kendala pada saat diminta Inggris untuk mengungkapkan ide mereka tentang suatu topik atau pada saat diajak berbicara face to face dengan guru mata pelajaran mudah atau sulit, eksternal bahasa. Jika si pembicara memiliki GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 maupun eksternal yang memadai, berbicara akan menjadi hal mudah baginya. Problem Based Salah Learning dalam pengajaran Speaking dan ini menjadi pijakan awal bagi peneliti untuk Lingkungan Inggris meninjau di sisi lain yakni sejauh mana Inggris melemahnya motivasi untuk berbicara dan mengajar bahasa Inggris, khususnya Speaking akhirnya penggunaan bahasa tidak berulang- Kemudian peneliti juga ingin melihat Sementara kenyataannya, lingkungan kita masih mayoritas menggunakan bahasa ibu penggunanaan metode tersebut. ataupun bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Keterbatasan Rumusan Masalah mengeksplor ide mereka yang menjadi fokus Adakah dalam penelitian ini. Dalam hal ini peneliti dalam mengajar Speaking skill? Problem Based Learning untuk meningkatkan Problem Based Learning Bagaimanakah response siswa terhadap kemampuan berbicara. Problem Based Learning dalam mengajar Speaking skill? Dalam hal ini penggunaan metode PBL ini menunjukan bahwa siswa harus Tujuan Penelitian berkomunikasi dengan teman-teman dalam grupnya guna menyelesaikan permasalahan yang ada. PBL adalah salah satu metode yang digunakan dalam pengajaran Speaking dan telah menunjukan adanya peningkatan hasil Hal penelitian Siti Khotimah . dengan judul Ingin mengetahui sejauh mana pengaruh menggunakan metode Problem Based Learning dalam mengajar Speaking skill. Ingin mengetahui response siswa dari penggunaan metode Problem Based Learning dalam mengajar Speaking skill. The Use of Problem Based Learning to Improve StudentsAo Speaking Skill penelitian Laksnorya and Irawati . dengan judul Using Problem Based Learning Tinjauan Pustaka 1 Berbicara Berbicara Strategy to Enhance StudentsAo Speaking Skill dimana seseorang mengungkapkan idenya of The Seventh Grade Students of SMPN 21 dengan lawan bicara secara oral. Beberapa Malang. Berdasarkan pada hasil penelitian orang pakar bahasa mengkategorikan fungsi tersebut yang menunjukan adanya signifikansi berbicara dalam interaksi. Fungsi berbicara GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 diklasifikasikan ke dalam 3 kategori: sebagi interaksi, transaksi, dan performa. Setiap masing-masing baik dari segi bentuk dan fungsi dan memerlukan pendekatan mengajar yang berbeda pula. Berbicara sebagai Interaksi Komunikasi sehari-hari termasuk ke Karena interaksi tersebut bertujuan untuk hubungan Dalam hal ini, kemampuan berbicara Problem Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang mana para siswa belajar melalui pemecahan masalah. Permasalahan secara kontekstual bersama dengan tim. Bisa berinteraksi dalam bahasa itu 2 Problem Based Learning Para siswa menggunakan pengetahuan untuk memecahkan strategi-strategi menyelesaikan masalah. mendapatkan komunikasi yang baik. Kemudian, siswa Problem Based Berbicara sebagai Transaksional Tipe bicara ini merujuk pada situasi Learning (PBL) berkolaborasi di dalam yang mana fokusnya terletak pada apa yang sebuah grup kecil disampaikan dan dilakukan. Hanya pesan dari berbicara itu Melalui yang menjadi fokus utama dan menjadikan diri sendiri untuk memahami secara jelas dan tepat interaksi yang berlangsung. cenderung seperti kesenjangan-kesenjangan dengan pengetahuan mereka masing- masing untuk memutuskan informasi apa Berbicara sebagai Performa Berbicara monolog dari menyelesaikan masalah tersebut iv. Berbicara sebagai Problem Based Learning (PBL) performa seperti pengumuman, dakwah, atau merupakan pendekatan tanpa pengajaran Dalam hal ini dampak dari berbicara dalam tipe ini sering dievaluasi menurut keefektifan atau dampaknya pada pendengar, berbeda dengan apa yang berdasarkan pada silabus selama semester terjadi dalam berbicara sebagai interaksi atau transaksional. Problem Based Learning (PBL) GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 mengajar karena pendekatan Berfokus lebih fokus pada pengembangan siswa dengan metode belajar mandiri . elf Meskipun berdasarkann masalah mungkin berpusat Pembelajaran PBL pada mata pelajaran tertentu, memberikan kesempatan kepada siswa yang akan diselidiki telah dipilih benar- keterampilan mengatasi masalah dengan pemecahannya, siswa meninjau masalah terlibat di berbagai situasi kehidupan dari banyak mata pelajaran. Ini memberikan makna bahwa Penyelidikan autentik sebagian besar Pembelajaran berdasarkan masalah dapat diperkenalkan penyelidikan autentik terhadap masalah Program Mereka harus menganalisis dan karakteristik-karakteristik mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan. pembelajaran seperti pendekatan pembelajaran lainnya. Menghasilkan produk dan Pembelajaran 1 Karakteristik PBL Model PBL memiliki karakteristik sebagai menghasilkan produk tertentu Pengajuan pertanyaan atau masalah peragaan yang menjelaskan atau mewakili Pembelajaran Problem Based Learning atau belajar karya nyata artefak dan bentuk penyelesaian masalah yang mereka berdasarkan masalah merupakan proses pert an yaan pembahasan m ateri pembel ajaran. GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 Kolaborasi Problem Pembelajaran yang telah menunjukan keefektifitasnya Based Learning dalam meningkatkan kemampuan siswa. Sebagai rujukan dasar peneliti melakukan dicirikan oleh siswa yang bekerja sama dengan yang lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk Based Learning tersebut. Hal inilah yang secara berkelanjutan terlibat dalam tugas- menjadi kebaruan dari penelitian ini. Problem peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog Metode Penelitian dan untuk mengembangkan keterampilan Metode penelitian yang akan digunakan dalam sosial dan keterampilan berfikir. Untuk merujuk pada penelitian dasar yang telah Khotimah . dengan judul The Use of Problem Based Learning to Improve StudentsAo Speaking Skill dan penelitian Laksnorya and Irawati . dengan judul Using Problem Based Learning Strategy to Enhance StudentsAo Speaking Skill of The Seventh Grade Students Deskriptif kualitatif adalah metode yang digunakan peneliti dalam menguraikan penelitian yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan yang mana cara pandang penelitian bersifat induktif, berfokus terhadap makna individual dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan. Populasi dan Sampel of SMPN 21 Malang. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut yang menunjukan adanya signifikansi peningkatan kemampuan siswa dengan menggunakan metode Problem Based Learning dalam pengajaran Speaking Populasi penelitian adalah seluruh MAS Banda Inshafuddin Aceh. Sample sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sample sampling dilakukan dengan meminta rekomendasi guru mata pelajaran Berdasarkan pada Road Map di atas yang menunjukan studi terdahulu terkait Problem Penelitian Kualitatif adalah merupakan metode Hal ini ditunjukan oleh penelitian Siti hasil analisa data secara utuh dan terperinci. dilakukan terlebih dahulu. bahasa inggris untuk kelas yang akan dipilih sebagai sampel pada penelitian ini. Based Learning merupakan salah satu metode ajar Tehnik Pengumpulan Data GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 Tehnik pengumpulan data dilakukan Sampel 7 dengan memberikan pre dan pos tes, menjawab Sampel 8 Sampel 9 Sampel 10 Sampel 11 Sampel 12 penggunaan tehnik Problem Based Learning. Sampel 13 Tes yang digunakan adalah tes lisan dimana Sampel 14 Sampel 15 Sampel 16 butir kuesioner, dan wawancara. Pre tes dan pos tes yang diberikan berupa tes kemampuan para siswa harus mengeksplor informasi apa saja yang didapatkan dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Kemudian siswa Berdasarkan pada tabel kategori hasil di atas menunjukan bahwa . secara keseluruhan hasil pertanyaan dari kuesiner yang disiapkan oleh capaian siswa dari pre tes ke pos tes guna mengetahui respon mereka menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat dilihat PBL dalam dari adanya peningkatan nilai dari pre tes ke pos mengajar Speaking. Kemudian, untuk lebih tes sehingga nilai Mean dan Standar Deviasi lanjut dan mendalam, pedoman wawancara pada pos tes juga meningkat. Karena adanya semi terstruktur juga ikut digunakan sebagai peningkatan nilai Mean dan Standar Deviasi alat pengumpul data. Pedoman wawancara semi pada pos tes maka perolehan kategori tinggi (T) terstruktur ini digunakan untuk memperoleh pada pos tes hanya dicapai oleh 3 orang siswa data tentang berbagai permasalahan dalam saja, sedangkan pada pre tes terdapat 5 siswa Speaking yang ditunjukan siswa pada saat tes yang mencapai nilai kategori tinggi (T). Secara kategorisasi hasil capaian siswa dari pre tes ke pos tes hanya terdapat dua sampel . ampel Hasil dan Pembahasan 4 dan . yang mengalami perubahan nilai dari Hasil Analisis Tinggi ke Rendah, sementara yang lain berada Tabel 1. Hasil Capaian dan Kategori Capaian No. Kat. Sampel 1 Score Pre Test Sampel 2 pada kategorisasi yang sama. Namun demikian, secara skor nilai terlihat mengalami peningkatan Kat. Score Pos Test Sampel 3 Sampel 4 Sampel 5 penggunaan metode Problem Based Learning Sampel 6 (PBL) dari pre tes ke pos tes. Berdasarkan pada hasil analisis hasil response siswa terhadap butir kuesioner yang GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 berbicara menunjukan response positif. Dengan peningkatan nilai Mean dan Standar Deviasi kata lain, mereka merasa tertarik belajar pada pos tes maka perolehan kategori tinggi (T) mengungkapkan pendapat/ speaking dengan pada pos tes hanya dicapai oleh 3 orang siswa saja, sedangkan pada pre tes terdapat 5 siswa ditunjukan oleh mayoritas siswa memilih pilihan yang mencapai nilai kategori tinggi (T). jawaban AuYaAy untuk beberapa butir kuesioner Secara kategorisasi hasil capaian siswa dari pre arah positif atau yang biasa dikenal dengan tes ke pos tes hanya terdapat dua sampel . ampel istilah favourable items dari kuesioner terhadap 4 dan . yang mengalami perubahan nilai dari Butir Tinggi ke Rendah, sementara yang lain berada kuesioner arah favourable yang dimaksud adalah pada kategorisasi yang sama. Namun demikian, kuesioner nomor 1, 2, 3, 5, 6, 8, 12, 13, 16, 19, secara skor nilai terlihat mengalami peningkatan 20, 21, 22, 23, 24, dan 25. Untuk masing-masing dari pre tes ke pos tes. PBL Hal Speaking. pernyataan atau pertanyaan kuesioner tersebut Hasil pada pre tes cenderung rendah, hal dapat dilihat seperti yang tertera dalam tabel di ini dapat dilihat dari perbandingan nilai rata-rata hasil capaian pada pre tes adalah 6,75 sedangkan Kemudian, dari hasil analisis wawancara rata-rata hasil capaian pada pos tes adalah 9. Pre ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan di tes merupakan tes awal yang diberikan kepada dalam berbicara dengan menggunakan bahasa siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka Inggris tentang topik yang diberikan. Faktor yang psikologi, misalnya gugup atau tidak percaya menyebabkan hasil capaian pada pre tes rendah diri atau stuck ketika ingin mengungkapkan dikarenakan gangguan kecemasan siswa pada saat menghadapi pre tes. Ganguan kecemasan dapat ditandai dengan adanya gejala-gejala Pembahasan reaksi psikologis dan fisiologis. Gejala reaksi Dari hasil analisis tes Speaking dapat dilihat psikologis dapat dilihat dari adanya perasaan bahwa adanya peningkatan nilai dari pre tes ke tegang, tidak tenang . , takut, lemah, pos tes. Berdasarkan pada tabel kategori hasil di kurang percaya diri, tidak bisa berkonsentrasi atas menunjukan bahwa . secara keseluruhan hasil capaian siswa dari pre tes ke pos tes Sedangkan gejala reaksi secara fisiologis seperti menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat dilihat berkeringat yang berlebihan, sirkulasi darah dari adanya peningkatan nilai dari pre tes ke pos yang tidak menentu, perasaan berdebar-debar, tes sehingga nilai Mean dan Standar Deviasi tangan dan bibir gemetar, mual-mual, sakit perasaan-perasaan pada pos tes juga meningkat. Karena adanya GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 kepala, sakit pada leher, sakit perut, sukar mereka sudah pernah melalui tes seperti itu dan bernafas (Slameto, 2010: 185-. terbiasa pada saat diberi perlakuan. Menurut Fauziah Gejala kecemasan diamati pada saat pre AuTimbulnya gangguan kecemasan yang paling tes terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan besar di sekolah pada semua tingkat adalah pada pada saat pos tes. Hal ini dibuktikan dengan nilai waktu siswa menghadapi tes atau ujian, hasil tes pada saat pre tes cenderung lebih rendah dan akan mempengaruhi keputusan pendidikan yang beberapa siswa terlihat tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Oleh karena itu, untuk menemukan . menimbulkan gangguan kecemasan pada setiap siswaAy. Oleh karena itu, dapat disimpulkan wawancara kepada setiap siswa dengan metode bahwa pada saat pengambilan data pre tes para wawancara semi terstruktur. siswa mengalami gangguan kecemasan yang Kemudian dari hasil analisis kuesioner tinggi sehingga mempengaruhi pencapaian hasil dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pre tes mereka yang rendah. Problem Sedangkan hasil pada pos tes meningkat Based Learning (PBL) disebabkan oleh tingkat gangguan kecemasan menunjukan response positif terhadap aitem- siswa menurun. Slameto . aitem kuesioner favourabel. Dengan kata lain. AuSiswa dengan tingkat gangguan kecemasan mereka merasa tertarik belajar mengungkapkan baik daripada metode tersebut. gangguan kecemasan mempengaruhi hasil belajar siswaAy. Dengan kata lain, rendahnya tingkat Kesimpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan uraian percaya diri lebih dalam menghadapi pos tes di atas dapat disimpulkan bahwa . secara yang diberikan kepada mereka sehingga mereka keseluruhan hasil capaian siswa dari pre tes ke pos tes menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat secara maksimal. Menurut Kirkland, seperti dilihat dari adanya peningkatan nilai dari pre tes yang dikutip dalam Ulfiani Rahman dkk . ke pos tes sehingga nilai Mean dan Standar 89 AuBila siswa cukup mengenal jenis tes yang Deviasi pada pos tes juga meningkat. Karena adanya peningkatan nilai Mean dan Standar berkurangAy. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Deviasi pada pos tes maka perolehan kategori pada saat pengambilan nilai pos tes siswa sudah tinggi (T) pada pos tes hanya dicapai oleh 3 mengenal jenis tes yang akan diberikan karena orang siswa saja, sedangkan pada pre tes GENTA MULIA Volume XII No. Januari 2021 Page : 271-280 ISSN: 2301-6671 terdapat 5 siswa yang mencapai nilai kategori SMPN 21 Malang. Berdasarkan pada hasil tinggi (T). penelitian tersebut yang menunjukan adanya Secara kategorisasi hasil capaian siswa signifikansi peningkatan kemampuan siswa dari pre tes ke pos tes hanya terdapat dua sampel dengan menggunakan metode Problem Based . ampel 4 dan . yang mengalami perubahan Learning dalam pengajaran Speaking dan ini nilai dari Tinggi ke Rendah, sementara yang lain menjadi pijakan awal bagi peneliti untuk berada pada kategorisasi yang sama. Namun meninjau di sisi lain yakni sejauh mana demikian, secara skor nilai terlihat mengalami peningkatan dari pre tes ke pos tes. Hasil pada menggunakan metode tersebut dalam mengajar pre tes cenderung rendah, hal ini dapat dilihat bahasa Inggris, khususnya speaking skill. Inggris dari perbandingan nilai rata-rata hasil capaian pada pre tes adalah 6,75 sedangkan rata-rata hasil capaian pada pos tes meningkat menjadi 9. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat belajar atau motivasi siswa adalah penggunaan metode atau tehnik mengajar yang bervariasi yang disesuaikan dengan studentsAo Saran Berdasarkan pada hasil dan pembahasan di atas, learning preferences juga. peneliti ingin menyarankan bahwa metode Problem Based Learning ini dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam pembelajaran bahasa Inggris. Dalam hal ini penggunaan metode PBL ini menunjukan bahwa siswa harus teman-teman grupnya guna menyelesaikan permasalahan yang PBL adalah salah satu metode yang digunakan dalam pengajaran speaking dan telah menunjukan adanya peningkatan hasil belajar Hal ini ditunjukan oleh penelitian Siti Khotimah . dengan judul The Use of Problem Based Learning to Improve StudentsAo Speaking Skill dan penelitian Laksnorya and Irawati . dengan judul Using Problem Based Learning Strategy to Enhance StudentsAo Speaking Skill of The Seventh Grade Students of DAFTAR PUSTAKA