Vol. No. 1 Mei 2025 RASIONALITAS MAHASISWA DALAM MENGGUNAKAN HAK PILIH PADA PEMILIHAN UMUM 2024 Muhammad Anasrulloh . Maria Argatha Sri W H . Universitas Bhinneka PGRI e-mail : m. anasrulloh@ubhi. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan rasionalitas mahasiswa Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung dalam Pemilu tahun 2024. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kuantitatif deskriptif dengan persentase. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 15% responden dari populasinya yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi yang menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2024 yang berjumlah 348. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teori tindakan sosial yang dikemukakan oleh Max Weber. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik kuantitatif deskriptif dengan persentase. hasil penelitian menunjukkan tentang rasionalitas mahasiswa dalam memilih calon pemimpin, ditemukan bahwa rasionalitas instrumental dan nilai menjadi pertimbangan utama. Sebagian besar responden . ,4%) memilih berdasarkan manfaat langsung dari program kerja calon pemimpin, sementara 53,8% menilai kesesuaian program dengan nilai dan prinsip yang dianut. Kata kunci : rasionalitas, hak pilih, pemilihan umum. Abstract The purpose of this study is to describe the rationality of Bhinneka PGRI Tulungagung University students in the 2024 elections. This research uses a descriptive quantitative approach with The number of samples in this study were 15% of respondents from the population, namely students of the Economics Education Study Program who used their voting rights in the 2024 elections, totaling 348. The theory used in this study is to use the theory of social action put forward by Max Weber. The data collection technique used a questionnaire. The results showed that regarding the rationality of students in choosing prospective leaders, it was found that instrumental rationality and value were the main considerations. Most respondents . 4%) chose based on the direct benefits of the candidate leader's work program, while 53. 8% assessed the suitability of the program with the values and principles adopted. Keywords: rationality, voting rights, general election. dari lima pendekatan yakni pendekatan struktural, sosiologis, ekologis, psikologi sosial, dan pilihan rasional (Simanullang et al. , 2. Pendekatan struktural akan melihat kegiatan memilih sebagai produk dengan konteks yang luas seperti struktur sosial, sistem partai, sistem pemilihan umum, permasalahan dan program yang ditonjolkan oleh partai politik. Pendekatan sosial cenderung menempatkan pemilih pada konteks sosial seperti pemilih memilih karena status sosialnya, ekonomi, jenis kelamin, umur, tempat tinggal. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara demokrasi melaksanakan pemilihan umum yang merupakan sarana legal dalam pergantian Pemilihan umum juga merupakan ruang evaluasi atas kinerja kepemimpinan selama lima tahunan oleh masyarakat (Meilinda, 2. Dalam tataran praktisnya, pemilu untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu mulai dari Keikutsertaan menggunakan hak pilihnya dapat terlihat Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 agama dan Pendidikan (Firdaus, 2. Pendekatan ekologis cenderung menilai karakteristik pemilih memilih dikarenakan faktor teritorial seperti desa, kecamatan, kabupaten, propinsi bahkan Pendekatan psikologi sosial yakni pemilih dalam menentukan pilihannya dikarenakan ada keterikatan emosional pemilih dengan partai tertentu (Hertanto. Dan pendekatan rasional yang mana pemilih memilih dikarenakan pertimbangan untung rugi. Pemilih akan mengenai keuntungan yang diperoleh dalam memilih partai atau kandidat tertentu sehingga akan mempengaruhi keputusan memilih atau tidak dalam pemilu (Meliala, 2. Pilihan rasional melihat kegiatan perilaku memilih sebagai produk kalkulasi antara untung dan rugi. Ini disebabkan karena pemilih tidak hanya mempertimbangkan ongkos memilih dan mempengaruhi hasil yang diharapkan, tetapi juga perbedaan dari alternatifalternatif berupa pilihan yang ada. Pemilih di dalam pendekatan ini diasumsikan memiliki motivasi, prinsip, pendidikan, pengetahuan, dan informasi yang cukup (Hesti & Adi, 2. Pilihan politik yang mereka ambil dalam pemilu bukanlah karena faktor kebetulan atau kebiasaan melainkan menurut pemikiran dan pertimbangan yang logis. Berdasarkan informasi, pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki pemilih memutuskan harus pertimbangan untung dan ruginya untuk menetapkan pilihan atas alternatif alternatif yang ada kepada pilihan yang terbaik dan yang paling menguntungkan baik untuk kepentingan sendiri . elf interes. maupun untuk kepentingan umum (Mansyur et al. , 2. Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemil. yang menjadi sorotan selama ini adalah partisipasi pemilih untuk hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menyalurkan hak suaranya di bilik suara. Legitimasi pemilu sering sekali dikaitkan dengan partisipasi masyarakat dalam Semakin partisipasi maka ligitimasi hasil pemilu dianggap kuat dan begitu pula sebaliknya (Prasetya, 2. Bagi peserta pemilu, politik uang adalah konsekuensi logis dalam mendanai proses politik mereka. Mereka tahu bahwa politik uang adalah larangan namun mereka berkilah bahwa hal tersebut adalah biaya politik yang harus dikeluarkan (Hesti & Adi, 2. Masyarakat merasa bahwa uang yang mereka dapatkan sebelum hari pencoblosan adalah hal yang lumrah sebagai pemberian calon yang sering terjadi dari pemilu ke pemilu . Peserta pemilu dalam melakukan politik uang dengan merekrut para juragan sebagai tim pemenangan mereka dalam pemilu (Benu & Muskanan, 2. Keterlibatan para juragan ini dianggap penting bagi para elit dikarenakan mereka dianggap sebagai alat meraup suara yang efektif di tataran mahasiswa. Mereka dianggap memiliki kekuasaan akan profesi anak buah mereka sebagai Dari kondisi sosial dan politik tersebut yang peneliti dapatkan dalam observasi awal ternyata mempunyai hubungan terhadap partisipasi pemilih di TPS. Partisipasi mereka sangatlah tinggi dan ini terjadi dari pemilu ke pemilu. Hal ini menarik dikarenakan mereka merasa bahwa bantuan kandidat yang menjadi peserta pemilihan umum yang telah duduk dalam jabatan politik belum dirasakan membantu mengangkat kesejahteraan mereka namun mereka tetap berpartisipasi dalam pemilihan umum. Penelitian ini akan mengaitkan dengan orientasi politik dari baik orientasi kognitif sekitar akurat atau tidaknya pengetahuan individu tentang sistem politik yang mencakup beberapa unsur, seperti kesadaran politik ataupun orientasi afektif dari masyarakat yaitu orientasi-orientasi perasaan terhadap politik, atau dengan kata lain, perasaan menerima atau menolak hal-hal yang mempengaruhi sikap politik mahasiswa Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 (Anshori et al. , 2. Sebagian besar penelitian tentang perilaku pemilih mahasiswa lebih sering menggunakan pendekatan psikologis, sosiologis, atau ekonomi, tanpa secara spesifik mengacu pada teori rasionalitas Max Weber. Teori Weber membedakan rasionalitas ke dalam beberapa tipe, . erorientasi tujua. dan rasionalitas nilai . erorientasi memberikan wawasan lebih mendalam terkait motivasi mahasiswa dalam menggunakan hak pilih mereka. Namun, eksplorasi ini masih terbatas dalam konteks pemilu mahasiswa. Penelitianpenelitian berfokus pada rasionalitas pemilih umum tanpa memisahkan karakteristik khusus dari pemilih mahasiswa. Mahasiswa, sebagai kelompok yang memiliki akses terhadap informasi luas dan dianggap memiliki tingkat literasi politik yang tinggi, kemungkinan menunjukkan polapola rasionalitas yang berbeda dari kelompok pemilih lainnya. Penelitian ini dapat menjembatani kesenjangan tersebut dengan fokus pada mahasiswa di Indonesia. Dari uraian di atas maka penulis akan mengajukan penelitian dengan judul AuRasionalitas Mahasiswa dalam Menggunakan Hak Pilih pada Pemilu Tahun 2024Ay. melalui survei menggunakan kuesioner terstruktur yang dirancang khusus untuk mengukur dimensi rasionalitas, sesuai dengan tipologi Weber: rasionalitas instrumental dan rasionalitas nilai. Responden mahasiswa aktif di beberapa perguruan tinggi, dengan metode pengambilan sampel acak stratifikasi. Pendekatan ini belakang mahasiswa, seperti program studi, tahun angkatan, dan tingkat partisipasi politik. Kuesioner akan terdiri dari serangkaian pernyataan yang mengukur sikap, motivasi, dan preferensi mahasiswa terkait penggunaan hak pilih mereka. Misalnya, pernyataan dapat mencakup alasan-alasan yang berorientasi tujuan . eperti harapan mendapatkan kebijakan alasan-alasan berorientasi nilai . eperti keyakinan moral atau etik. Responden diminta untuk menilai sejauh mana mereka setuju dengan pernyataan-pernyataan tersebut menggunakan skala Likert 1-5, di mana 1 menunjukkan sangat tidak setuju dan 5 menunjukkan sangat setuju. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif. Statistik seperti distribusi frekuensi, akan digunakan untuk menggambarkan pola umum dalam jawaban mahasiswa. Selain itu, analisis persentase akan memberikan informasi tentang proporsi mahasiswa rasionalitas instrumental atau nilai dalam pengambilan keputusan politik mereka. Visualisasi data dalam bentuk tabel akan membantu mempermudah interpretasi Hasil analisis ini akan dijelaskan secara naratif untuk menggambarkan mahasiswa, termasuk kecenderungan dominasi salah satu tipe rasionalitas dan variasi yang mungkin muncul berdasarkan faktor demografis tertentu. Temuan ini METODE Metode deskriptif untuk mengkaji rasionalitas mahasiswa dalam menggunakan hak pilih, berdasarkan teori rasionalitas Max Weber, dirancang untuk memberikan gambaran mendalam mengenai pola-pola perilaku mahasiswa dalam pengambilan keputusan Penelitian ini bersifat kuantitatif dikumpulkan akan dianalisis untuk menggambarkan fenomena secara rinci tanpa melakukan pengujian hubungan kausal atau hipotesis. Proses pengumpulan data dilakukan Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 mengenai pola-pola berpikir mahasiswa dalam konteks penggunaan hak pilih serta relevansinya terhadap teori rasionalitas Weber. Selain itu, hasil ini juga akan dijadikan dasar untuk merekomendasikan strategi pendidikan politik yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Valid 1. Percent Valid Percent Cumul Percen Frequenc Valid Percent Valid Percent Tabel 3. Hasil Pengisian Angket Rasionalitas Afektif Cum Valid Perce Percent Valid Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 52 responden, yang menjawab sangat tidak setuju sejumlah 4 responden, yang menjawab tidak setuju sejumlah 7 responden, yang menjawab netral sejumlah 12 responden, yang menjawab setuju sejumlah 21 responden, dan yang menjawab sangat setuju sejumlah 8 Dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa paling tinggi yaitu 40% mahasiswa memilih setuju atau memilih calon pemimpin berdasarkan program kerja yang dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadi. Tabel 2. Hasil Pengisian Angket Rasionalitas Nilai Cumu Perce Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 52 responden, yang menjawab netral sejumlah 14 responden, yang menjawab setuju sejumlah 28 responden, dan yang menjawab sangat setuju sejumlah 10 Dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa paling tinggi yaitu 53% mahasiswa memilih setuju atau memilih karena merasa program calon pemimpin sesuai dengan nilai dan prinsip yang HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Hasil Pengisian Angket Rasionalitas Instrumental Frequency Valid Frequency Percent Tabel 4. Hasil Pengisian Angket Rasionalitas Tradisional Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Total Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 52 responden, yang menjawab sangat tidak setuju sejumlah 6 responden, yang menjawab tidak setuju sejumlah 17 responden, yang menjawab netral sejumlah 17 responden, yang menjawab setuju sejumlah 8 responden, dan yang menjawab sangat setuju sejumlah 4 Dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa paling tinggi yaitu 32% mahasiswa memilih setuju atau memilih calon yang memberikan rasa harapan dan semangat secara pribadi, meskipun program kerjanya kurang jelas. Tabel tersebut menunjukkan bahwa dari 52 responden, yang menjawab sangat Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 tidak setuju sejumlah 1 responden, yang menjawab tidak setuju sejumlah 18 responden, yang menjawab netral sejumlah 20 responden, yang menjawab setuju sejumlah 8 responden, dan yang menjawab sangat setuju sejumlah 5 Dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa paling tinggi yaitu 38% mahasiswa memilih netral atau keputusan memilih dipengaruhi oleh keyakinan bahwa semua orang di sekitar juga mengindikasikan bahwa mahasiswa lebih cenderung menggunakan rasionalitas instrumental dan nilai dalam memilih calon pemimpin, dibandingkan dengan aspek afektif maupun tradisional. Hal ini menegaskan pentingnya program kerja dan nilai-nilai yang diusung calon pemimpin sebagai faktor penentu utama dalam proses pemilihan. DAFTAR PUSTAKA