Kutu Kebul (Homoptera : Aleyrodida. pada Tanaman Cabai. Tomat dan Kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi Yuliani. SP. Si. Abstrak Kutu kebul (Hemiptera : Aleyrodida. dapat menyebabkan kerusakan langsung dan tidak langsung pada tanaman. Oleh karena itu diadakan penelitian untuk mengidentifikasi spesies kutu kebul, mengetahui tingkat populasinya dan kejadian penyakit virus yang ditularkan oleh Bemisia tabaci sehingga diperoleh informasi yang membantu keberhasilan tindakan Dari hasil penelitian ini diperoleh empat spesies kutu kebul yang menyerang tanaman cabai, tomat dan kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi, yaitu : Bemisia tabaci. Aleurodicus dispersus. Trialeurodes vaporariorum dan Dialeurodes sp. Semakin tinggi tingkat populasi B. tabaci semakin tinggi pula tingkat kejadian penyakit virus. Semakin tua umur tanaman, populasi B. tabaci menurun namun tingkat kejadian penyakit virus yang telah ditularkan oleh B. tabaci ini tetap terus meningkat. Abstract Both direct and indirect damage of plant can caused by Whitefly (Hemiptera : Aleyrodida. According to the case, the research was conducted to indentify Whitefly species to obtain about its population level and virus disease which is contaminated by Bemisia tabaci. turn, it can be obtained information for successfull preventing action. The result indicated that there are four species of whitefly that attack the plant of chili, tomato and soybean in Bogor. Cianjur and Sukabumi such as : Bemisia tabaci. Aleurodicus dispersus. Trialeurodes vaporariorum and Dialeurodes sp. The more higher the population level of B. tabaci the more higher of virus disease incident When the plant is old, the population of B. tabaci goes down, but the virus disease level that has been contamined by B. tabaci still goes up. PENDAHULUAN Kutu kebul (Hemiptera : Aleyrodida. dapat menyebabkan kerusakan langsung dan tidak langsung pada tanaman. Serangan kutu kebul pada tanaman menimbulkan gejala berupa bintik-bintik klorotik yang terjadi karena luka akibat ditembus Bintik mengakibatkan berkurangnya jumlah klorofil pada daun, tetapi akibat langsung bagi pertumbuhan tanaman kurang begitu berarti. Gangguan terhadap pertumbuhan tanaman akan lebih berarti bila saliva kutu kebul yang masuk kedalam tanaman mengandung toksin atau (Pollard 1955. Kalshoven Penyakit yang ditularkan oleh kutu kebul diantaranya adalah kelompok virus gemini yang dapat menyerang tanaman tomat, cabai, kacang-kacangan, singkong, tembakau dan jagung. Penyakit penghambatan terhadap fotosintesis, * Dosen Fakultas Pertanian UNSUR Kutu Kebul (Homoptera : Aleyrodida. pada Tanaman Cabai. Tomat dan Kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi. Yuliani. SP. Si. pembentukan dan kualitas buah. Beratnya frekuensi serangan dan epidemi pertahun dapat menurunkan hasil tanaman 30-100% (Agrios Kerugian akibat virus gemini juga telah banyak dilaporkan. Salah satu contoh, yaitu : African Cassava Mosaic Virus (ACMV) menyebabkan kerugian hasil sebesar 70% di Afrika. Di negara lain yaitu : Libanon dan Jordania kerugian akibat virus gemini pada tanaman tomat mencapai 5070% (Bock et al. Salah satu spesies kutu kebul yaitu Bemisia tabaci Genn merupakan hama yang dalam beberapa tahun terakhir populasinya meningkat dan menyerang tanaman kedelai di daerah di Indonesia. Serangan pertama dilaporkan terjadi di Indramayu pada tahun 1980, dengan luas serangan sekitar 30-50 ha. Tahun berikutnya terjadi lagi serangan pada pertanaman kedelai dan kacang hijau di Cirebon seluas 300 ha. Pada bulan Pebruari dan Maret tahun 1982 serangan meluas di daerah Lampung Tengah dengan luas serangan sekitar 100 ha. Di laporkan juga pada musim tanam 1983/1984 hama ini menyerang pertanaman kedelai di Purworejo dan Wonosari daerah Yogyakarta (Saranga Di Sulswesi Utara khususnya Manado. Minahasa dan sekitarnya terjadi ledakan populasi suatu spesies Aleyrodidae. Bahkan penyebaran spesies ini sudah mencakup hampir seluruh Indonesia. Ledakan populasi itu cukup menimbulkan masalah bagi petani, tanaman yang terserang berat dapat mati, dan spesies ini memiliki tanaman inang yang luas. Menurut dugaan spesies yang menyerang itu adalah Aleurodicus disppersus Russel (Maramis 1. Banyak pengendalian suatu serangga hama disebabkan oleh kesalahan dalam mengidentifikasi atau menentukan nama ilmiah spesies (Watson 1. Penelitian-penelitian baru mengenai keragaman spesies kutu kebul, ekologi, luas dan seranggannya masih kurang. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi spesies kutu kebul, mengetahui sebaran inangnya, tingkat populasi kutu kebul dan kejadian penyakit virus yang di tularkan oleh kutu kebul, sehingga diperoleh informasi yang membantu BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di lahan pertanian yang berlokasi di Bogor. Cianjur. Sukabumi dan di laboratorium Taksonomi Serangga. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bahan dan alat yang digunakan antara lain : kantung plastik alkohol 50%, 70%, 80%, 95% dan alkohol absolut. KOH 10%, asam fuchsin, asam asetat glacial, carbol xylene, minyak cengkeh, canada balsam, gelas objek, gelas penutup, gelas arloji, tabung reaksi, label. Pegoleksian kutu kebul : Pengoleksian dilakukan dari puparium yang melekat pada jaringan daun tanaman tomat Journal Of Agroscience. Vol. 1 Th. 1 Juli Ae Desember 2008 (Lycopersicon esculentu. , cabai (Capsicum annu. , dengan cara memotong daun dari tanaman contoh dengan pola acak sederhana (Rauf 2000. Untung 1. Di laboratorium, puparium ini dilepas dari jaringan daun secara perlahan bertangkai yang tipis dilakukan di puparium ini disimpan dalam alkohol 70% hingga siap untuk diawetkan dalam bentuk preparat mikroskop. Pembuatan preparat mikroskop Puparium dipindahkan kedalam alkohol 95% yang ditempatkan pada gelas arloji, lalu dipindahkan secara hati-hati ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan KOH 10% dipanaskan selama 5-10 menit . ampai transpara. , setelah itu cuci dengan akuades sebanyak 2 kali, kemudian masukkan ke dalam alkohol 50% selama menit, lalu ditambahkan 3 tetes asam fuchsin selama 20 menit, dan ditambah lagi dengan 1 tetes asam asetat glacial, diamkan selama 10 menit, setelah itu dimasukkan ke dalam alkohol 80% selama 5-10 menit lalu ganti dengan alkohol absolutselama 5-10 menit, setelah itu masukkan kedalam carbol xylene selama 1 menit, dan diganti lagi dengan alkohol absolut selama 5-10 Perendaman terakhir dilakukan dalam minyak cengkeh selama 10 menit, setelah itu ditempatkan pada gelas objek dengan menggunakan canada balsam. Preparat mikroskop yang telah jadi, dikeringkan di atas dengan kunci identifikasi Martin . 7, 2. Penghitungan populasi B. Penghitugan dengan cara mengambil tanaman contoh dari seluruh populasi tanaman dalam satu petak. Tanaman menggunakan metode sistematik dua dimensi seperti pada gambar 1 (Untung 1. Jumlah populasi B. tabaci berupa telur, nimfa dan kantung pupa pertanaman contoh dicatat, lalu dihitung rata-rata populasi B. tabaci pertanaman. Gambar 1. Contoh pengambilan sample dengan metode sistematik dua dimensi. Pengamatan kejadian penyakit Dilakukan terserang virus yang ditularkan, oleh kutu kebul. Kejadian penyakit virus dihitung dengan rumus : Kejadian penyakit (%) = jumlah tanaman terserang x 100% jumlah tanaman seluruhnya Penghitungan populasi kutu kebul dan pengamatan kejadian penyakit virus dilakukan pada pertanaman tomat dan cabai di enam lokasi. Identifikasi kutu kebul : Spesies-spesies kutu kebul yang diperoleh ini diidentifikasi Kutu Kebul (Homoptera : Aleyrodida. pada Tanaman Cabai. Tomat dan Kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi. Yuliani. SP. Si. HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Spesies Kutu Kebul Dari hasil penelitian ini ditemukan empat spesies kutu kebul yang menyerang tanaman tomat (Lycopersicon esculentu. , cabai (Capsicum annu. yang berasal dari beberapa lokasi di daerah Bogor. Cianjur dan Sukabumi. Tabel 1. Spesies-spesies kutu kebul tanaman inang dan kisaran lokasi Spesies kutu kebul Tanaman inang Lokasi penyebaran Bemisia tabaci Cabai Citayam. Bogor Cugenang. Cianjur Goalpara. Sukabumi Kedelai Ciapus. Bogor Cimanggu. Bogor Citayam. Bogor Tomat Cibeurem. Bogor Cibodas. Cianjur Sukaraja. Sukabumi Trialeurodes Tomat Saungnirwan. Cianjur Pasir Srg. Cianjur Goalpara. Sukabumi Dialeurodes sp Tomat Kedelai Ciloto. Cianjur Sukaraja. Sukabumi Aleurodicus Cabai Sukaraja. Sukabumi Ciri-ciri B. Subdorsum Lingula sangat bervariasi, namun tidak besar dan berbentuk Pupa kurang memanjang, jarang yang lebih dari 1,65 kali lebar. Permukaan dorsal tanpa duri yang Lebih dari setengah vasiform orifice hanya ditempati oleh operculum atau oleh operculum bersama dengan kepala lingula. Vasiform orifice seringkali terdapat di pinggir posterior dari kantung pupa dengan jarak sama dengan panjang vasiform orifice. Pada submargin hampir tidak ada deretan papila. Kepala lingula jika terlihat, tidak lobular. Kutikula kantung pupa berwarna pucat, kadang-kadang dengan tanda kecoklatan terlokalisasi. Bukaan trakea torak dan kauda pada pinggir ditandai dengan sisir terdiri dari gigi-gigi yang jelas, atau tidak ditandai demikian. Permukaan discus dorsal atau area Journal Of Agroscience. Vol. 1 Th. 1 Juli Ae Desember 2008 submedian sebagian dibatasi, tetapi batasan itu bukan lipatan menyerupai Panjang ruas VII abdomen berkurang banyak di bagian tengah, sering tertutup oleh kantung-kantung sehingga hanya 7 ruas yang terlihat. Vasiform orifice berbentuk segitiga, lebih panjang dari lebar dasarnya, sisinya lurus atau konkaf. Alur kauda ada dan Panjang vasiform orifice > panjang alur kauda. Ciri-ciri A. Subdorsum memiliki pori majemuk penghasil lilin, satu pasang pada daerah kepala dan 4 pasang pada Lingula besar, berbentuk lidah, memanjang melebihi bagian tepi posterior vasiform orifice. Lingula memiliki 4 setae yang jelas, tetapi kadang-kadang ada yang tereduksi. Pupa sering ditutupi sekresi kelenjar Semua pori majemuk berukuran sama terdapat pada abdomen segmen i - VI. Diskus dorsal dengan poripori septate yang jelas di daerah Ciri-ciri T. Subdorsum Submargin umumnya ada deret papila yang jelas. Permukaan dorsal tanpa pola duri yang kokoh. Lebih dari setengah vasiform orifice hanya ditempati oleh operculum atau operculum bersama dengan kepala Kepala lingula selalu lobular, walau kadang-kadang terhalang oleh operculum dan sulit dilihat. Kepala lingula pada dasarnya ada cuping yang ditutupi oleh operculum. Bukaan trakea torak dan kauda pada pinggirnya kadangkadang ditandai dengan sisir terdiri dari gigi-gigi tumpul. Papila di submargin tidak terlalu rapat, kurang tajam, agak Subdorsal kadang-kadang dengan beberapa papila yang lebih Pada dasar tungkai tengah dan belakang terdapat seta yang kecil dan halus. Kepala lingula, jika terlihat, tidak lobular. Bukaan trakea torak dan kauda pada pinggir ditandai oleh lekukan pori-pori, yang bagian dalamnya mungkin halus atau Sutura longitudinal dan transverse tidak menyatu, sutura longitudinal meluas ke pinggir kantung pupa, sedangkan sutura transverse tidak Ciri-ciri Dialeurodes sp : Subdorsum tanpa pori Pupa kurang memanjang, jarang yang lebih dari 1,65 kali lebar. Permukaan dorsal tanpa pola duri yang kokoh. Lebih dari setengah vasiform orifice hanya ditempati oleh operculum. Submargin tanpa deret rambut atau duri teratur. Pada submargin tidak ada deret papila. Kutu Kebul (Homoptera : Aleyrodida. pada Tanaman Cabai. Tomat dan Kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi. Yuliani. SP. Si. Gambar 5. Kantung pupa Dialeurodes sp. Gambar 2. Kantung pupa Gambar 3. Kantung pupa Gambar 4. Kantung pupa Populasi B. Dari hasil pengamatan diperoleh tingkat populasi B. dari enam lokasi pertanaman cabai dan tomat (Gambar 6 dan . Pada awal umur tanaman, populasi kutu ini keberadaannya sangat sedikit, makin tua umur meningkat dan mencapai puncak pada umur tanaman 63 Ae 77 hari setelah tanam, yang kemudian akan menurun kembali. Rata-rata populasi B. tertinggi terdapat pada pertanaman cabai di lokasi I (Citayam. Bogo. , secara langsung maupun tidak langsung oleh Menurut Lanya . hujan adalah unsur iklim dan cuaca kelangsungan hidup kutu kebul ini, menyebabkan mortalitas imago Berkurangnya hujan sampai pada taraf tertentu menberi peluang untuk pertumbuhan dan perkembangan serangga kutu kebul. Setelah mencapai puncak pada umur tanaman 63 Ae 77 hari. Journal Of Agroscience. Vol. 1 Th. 1 Juli Ae Desember 2008 umumnya populasi B. tabaci mulai menurun (Gambar 6 dan . Menurut Lanya . tanaman setelah berumur 45 hari, kepadatan populasi telur, nimfa dan puparium menurun, pada umur tersebut kurang sesuai atau tidak disukai lagi sebagai makanan dan sebagai tempat peletakan telur oleh imago, karena relung ekologisnya yaitu daun-daun muda tidak ada atau Kejadian Penyakit Virus Hasil pengamatan terhadap banyaknya tanaman cabai dan tomat terserang virus yang ditularkan oleh kutu kebul pada enam lokasi dapat dilihat pada gambar 7 dan 9. Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus bervariasi yang berkisar dari daun menggulung ke atas, mosaic mengguning, kerdil dan campuran Sedangkan ditimbulkan oleh virus gemini tergantung pada strain virus, jenis tanaman, fase pertumbuhan dan beberapa faktor lain. Costa . 4 Sudiono ditimbulkan oleh virus gemini yang ditularkan kutu kebul menjadi tiga kategori yaitu . gejala daun mosaic, . gejala daun keriting dan . gejala daun kuning. Hasil identifikasi kutu kebul yang menularkan penyakit virus pada keenam lokasi pertanaman cabai dan tomat ini adalah spesies : B. Spesies B. tabaci ini menularkan virus gemini sub kelompok i. Menurut Dhar and Singh . kutu kebul dapat menusukkan stiletnya sampai kedalam jaringan floem sehingga sangat efektif menularkan virus Gemini yang menyerang jaringan Proses penularan virus gemini oleh B. tabaci melalui beberapa tahapan yaitu periode akuisisi, periode laten dan periode Periode makan akuisisi yang paling baik untuk penularan yang efisien adalah 10 menit dengan periode laten 4 Ae 21 jam dan periode makan inokulasi 24 jam (Dhar and Singh 1. Setelah 5 Ae 20 hari virus akan hilang dari tubuh vektor. Pada awal umur tanaman tingkat populasi kutu kebul masih rendah dan kejadian penyakit virus belum terlihat. (Gambar 6 Ae . Puncak populasi kutu kebul umumnya terjadi pada umur tanaman 63 Ae 77 hari. Semakin tinggi tingkat populasi B. tabaci maka semakin tinggi tingkat kejadian penyakit pada pertanaman tersebut. Semakin tua umur tanaman, laju kenaikkan populasi kutu kebul lebih menurun dan lebih rendah dibandingkan pertanaman tersebut, walaupun tingkat populasi kutu kebul semakin lama semakin menurun namun tingkat kejadian penyait virus pada tanaman yang telah ditularkan oleh serangga ini tetap terus meningkat. Kutu Kebul (Homoptera : Aleyrodida. pada Tanaman Cabai. Tomat dan Kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi. Yuliani. SP. Si. Populasi Citayam Citayam Cugenang Cugenang Goalpara Goalpara Umur Tanaman . Gambar 6. Rata-rata populasi B. tabaci pada beberapa lokasi di pertanaman Kejadian Penyakit (%) Citayam Citayam Cugenang Cugenang Goalpara Goalpara 7 2114 2821 3528 4235 4942 5649 6356 7063 7770 8477 84 Umur Tanaman . Gambar 7. Kejadian penyakit virus pada pertanaman cabai Populasi Cibeureum Cibeureum Cibodas Cibodas Sukaraja Sukaraja 7 14 21 28 35 42 49 56 63 70 77 84 7 14 21 28 35 42 49 56 63 70 77 84 Um ur Tanam an . Kejadian Penyakit (%) Gambar 8. Cibeureum Cibeureum Cibodas Cibodas Sukaraja Sukaraja 7 14 21 28 35 42 49 56 63 70 77 84 Rata-rata populasi T. vaporariorum pada beberapa lokasi di pertanaman tomat 21 28 35Um 42 ur 49 Tanam 56 63 70 Gambar 9. Kejadian penyakit virus pada pertanaman tomat Journal Of Agroscience. Vol. 1 Th. 1 Juli Ae Desember 2008 KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat Terdapat empat spesies kutu kebul yang menyerang tanaman cabai, tomat dan kedelai di Bogor. Cianjur dan Sukabumi, yaitu : B. Dialeurodes sp. Pada awal umur tanamantingkat populasi B. tabaci masih rendah dan kejadian penyakit virus belum terlihat. Puncak populasi B. tabaci umumnya terjadi pada umur 60- 70 hari. Semakin tinggi tingkat populasi B. tabaci semakin tinggi pula kejadian penyakit virus. Semakin tua umur tanaman, populasi kutu kebul menurun namun tingkat kejadian penyakit virus yang telah ditularkan oleh B. tabaci ini tetap terus DAFTAR PUSTAKA