Journal of Midwifery Tiara Bunda E-ISSN : 3025-9754 Volume 1 . Nomor 1 . Februari 2024 . Page 00-00 Doi : https://doi. org/xx. x/jmtb. Website : https://jurnal. id/index. php/jmtb PENGARUH KOMBINASI PIJAT OKSITOSIN DAN KONSUMSI DAUN KATUK DENGAN KELANCARAN ASI PADA IBU NIFAS DI PMB E KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2023 Dwi Reza Wahyuni,1 Politeknik Tiara Bunda ABSTRACT Latar belakang : Pemberian ASI secara eksklusif menurut World Health Organization (WHO) adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin sampai bayi berusia 2 tahun. Untuk meningkatkan kecukupan ASI dapat dilakukan dengan mengkonsumsi daun katuk berupa rebusan atau sayur bening maupun ekstrak daun katuk karena mengandung alkaloid dan sterol yang dapat meningkatkan kelancaran ASI. Selain itu daun katuk mengandung vitamin A. B1. C, tanin, saponin alkaloid papaverin. Tujuan : Penelitian in bertujuan untuk mengetahui hubungan mengkonsumsi daun katuk terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas di PMB E Kabupaten Bandung. Metode : Jenis rancangan penelitian yang digunakan adalah adalah deskriptif analitik dan pendeketan croos-sectional. Populasi pada penelitian berjumlah 90 responden, dengan jumlah sampel 30 responden ibu nifas dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Selanjutnya data yang terkumpul diolah dengan menggunakan komputer program SPSS versi 26. 0 untuk dianalisa dengan uji rank spearman dengan tingkat kemaknaan () O0,05. Kesimpulan : Penelitian ini menggunakan rank spearman dimana hasil penelitian di dapat nilai p value = 0. 001 dimana hal ini berarti nilai p sign < 0. 05 sehingga Ha dapat diterima artinya terdapat hubungan mengkonsumsi daun katuk dengan kelancaran asi pada ibu nifas di PMB E Kabupaten BandungTahun 2023 Kata kunci : Daun katuk. Kelancaran ibu ASI. Ibu nifas Page - 1 Journal of Midwifery Tiara Bunda Pendahuluan Pemberian ASI secara eksklusif menurut World Health Organization (WHO) adalah memberikan hanya ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan vitamin sampai bayi berusia 2 tahun (WHO, 2. Menurut WHO . menjelaskan cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya sekitar 39% sejak periode Pada tahun 2021 WHO menyatakan hanya sekitar 44% bayi usia 0 - 6 bulan yang diberi ASI eksklusif (WHO, 2. Menurut data ASEAM per tahun 2020, hanya 44% bayi di dunia yang menpdapatkan ASI Eksklusif dalam 6 bulan Sementara di Asia Selatan dan Asia Pasifik berturut-turut hanya sebesar 57% dan 30% ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (ASEAN, 2. Berdasarkan data dari Kemenkes RI tahun 2020, pada tahun 2019 secara nasional cakupan bayi mendapat ASI eksklusif yaitu sebesar 67,74%, angka tersebut sudah melampaui target Renstra tahun 2019 yaitu Meskipun di tahun 2019 ASI eksklusif sudah mencapai target, tetapi bayi yang kurang dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif merupakan indikator yang tercantum pada Renstra Kementerian Kesehatan periode 2020-2022 (Kemenkes, 2. Berdasarkan data capaian Pemberian ASI eksklusif di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2020 sebesar 76,11%, tahun 2021 sebesar 76,46% dan mengalami peningkatan 0,5% sebelumnya yaitu tahun 2022 sebesar 77% (Riskesdas, 2. Menurut profil Kesehatan Kabupaten Kabupaten Bandung, cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2022 sebesar 74,8 % dan cakupan terendah di Kabupaten Kabupaten Bandung berada di wilayah kerja Puskesmas Surian yaitu hanya 44%. Cakupan ini lebih rendah dibandingkan dengan cakupan ASI Eksklusif Puskesmas Hariang sebesar 89,4% pada tahun 2021 (Profil Kesehatan Kabupaten Bandung, 2. Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mencapai target cakupan ASI Eksklusif Indonesia Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif untuk melindungi, mendukung dan mempromosikan pemberian ASI eksklusif dengan tujuan CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan berusia 6 . bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya, memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dan meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat. Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI eksklusif (Permenkes, 2. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif ini dapat berdampak pada kualitas hidup generasi penerus bangsa dan juga pada perekonomian nasional (Permenkes, 2. Penyebab kurang lancarnya ASI kemungkinan karena faktor hormon atau memperlancar ASI salah satunya dapat dilakukan dengan mengkonsumsi daun katuk. Daun katuk dapat berasal dari sesuatu yang dijumpai di lingkungan sekitar kita. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kelancaran ASI adalah dengan ibu mengkonsumsi daun katuk. Daun katuk adalah sejenis sayuran daun yang memiliki nama latin Sauropus androgynus dan termasuk famili Euphorbiaceae. Salah satu manfaat daun katuk yang cukup populer adalah kemampuannya untuk memperlancar dan memproduksi ASI (Alisa, 2. Untuk meningkatkan kecukupan ASI dapat dilakukan dengan mengkonsumsi daun katuk berupa rebusan atau sayur bening maupun ekstrak daun katuk karena mengandung alkaloid dan sterol yang dapat meningkatkan kelancaran ASI. Selain itu daun katuk mengandung vitamin A. B1. C, tanin, saponin alkaloid papaverin (Rahmanisa. Daun katuk mengandung hampir 7% protein dan 19% serat kasar, vitamin K, provitamin A . eta karote. Vitamin B dan C. Mineral yang dikandung adalah Kalsium . ,8%) zat besi, kalium, fosfor dan magnesium. Daun katuk sudah dikenal oleh nenek moyang kita sebagai sayur pelancar ASI (Suyanti. Daun katuk sangat efektif dan terbukti terhadap kecukupan air susu ibu. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Ari Madianti . Dengan hasil penelitian ada hubungan konsumsi daun katuk dengan kecukupan ASI pada Ibu Menyusui, dibuktikan p-value = 0,000 < = 0,05. Nilai ODDS Ratio sebesar 36. Selain itu sejalan dengan penelitian Pebrianty . yang mengatakan bahwa ada pengaruh pemberian rebusan daun katuk terhadap produksi ASI pada ibu post partum. Page - 2 Journal of Midwifery Tiara Bunda Penelitian tentang daun katuk dengan kelancaran ASI belum pernah dilakukan di Kabupaten Kabupaten Bandung. Selain itu juga belum pernah ada yang melakukan penelitian tentang hubungan mengkonsumsi daun katuk dengan kelancaran asi pada ibu nifas di desa jati mekar. Studi pendahuluan yang dilakukan di PMB E Kabupaten Bandung pada tanggal 23 April 2024 menunjukkan terdapat 6 ibu nifas yang menyusui mengalami masalah pada produksi ASI. 3 responden mengatakan ASI tidak merembes keluar, dan 3 responden mengatakan bayi seperti tidak puas saat setelah menyusui. Dengan salah satu upaya untuk memperbanyak ASI yaitu 3 responden mengatakan mengkonsumsi daun katuk dengan cara ditumbuk untuk mengambil airnya, dan 3 responden lainnya mengatakan mengkonsumsi daun katuk dengan cara dimasak menjadi sayur untuk merangsang pengeluaran ASI. Selain itu juga ibu nifas percaya dengan mengkonsumsi daun katuk dapat mengembalikan kesehatan pasca melahirkan dan juga dapat memperlancar ASI. Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuPengaruh Pijat Oksitosin dan konsumsi Daun Katuk Dengan Kelancaran Asi Pada Ibu Nifas Di PMB E Kabupaten Bandung Tahun 2023Ay. Metode Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitif dengan desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dan pendeketan croos- sectional, dimana peneliti ingin mengetahui hubungan mengkonsumsi daun katuk dengan kelancaran asi pada ibu nifas di PMB E Kabupaten Bandung. Berdasarkan independen daun katuk dengan kelancaran asi dan variabel dependen kelancaran asi (Indarwati et al. Populasi pada penelitian adalah ibu nifas yang sedang menyusui yang berjumlah 90 Ibu nifas. Teknik menggunakan teknik purposive sampling yang terdapat 37 sample ibu nifas yang sedang menyusui sebagai responden sesuai dengan karakteristik yang ada di Desa Jati Mekar Kabupaten Bandung Tahun 2023. Hasil dan Pembahasan CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. Hasil analisis dalam penelitian ini tertera pada table berdasarkan karakteristik responden di wiliyah Desa Jati Mekar Kabupaten Bandung yang meliputi usia, pendidikan terakhir dan Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 37 orang ibu nifas di PMB E Kabupaten Bandung. Univariat Table 4. Distribusi frekuensi karakteristik Responden Ibu Nifas Pada table 4. 1 menunjukan bahwa responden terbanyak dengan ibu nifas yang berusia 21-30 tahun sebanyak 20 responden . ,1%), mayoritas pendidikan terakhir ibu nifas adalah SMK sebanyak 21 responden . ,8%), sebagian besar pekerjaan ibu nifas adalah ibu rumah tangga sebanyak 21 responden . ,8%). Table 4. Distribusi frekuensi ibu nifas yang mengkonsumsi daun katuk Berdasarkan distribusi data pada Tabel 2 yang disajikan di atas, mayoritas responden mengkonsumsi daun katuk sebanyak 27 responden dengan persentase . ,0%) Page - 3 Journal of Midwifery Tiara Bunda Table 4. Distribusi frekuensi Kelancaran ASI pada ibu nifas Berdasarkan distribusi data pada Tabel 1 yang disajikan di atas, mayoritas responden memiliki kelancaran asi yang lancar sebanyak 30 responden dengan persentase . 1%). Bivariat Tabel 4. Berdasarkan tabel 4. 4 di atas, pengujian bivariat menggunakan uji rank spearman hasil analisis hipotesis hubungan mengkonsumsi daun katuk terhadap tingkat kelancaran asi dapat diterima dibuktikan dengan nilai p-value 0,001 . -value O 0,. Hasil ini mengindikasikan bahwa daun katuk berpengaruh terhadap kelancaran asi pada ibu nifas. Pembahasan Univariat Usia Data yang didapat peneliti yaitu sebagian besar responden terbanyak dengan ibu nifas yang berusia 21-30 tahun sebanyak 20 responden . ,1%). Pada penelitian Widiastuti . menunjukkan bahwa hasil penelitian menunjukakn bahwa sebagian besar dari responden berada pada usia reproduksi yaitu pada rentang usia 20-35 Perempuan pada usia reproduksi masuk dalam kategori dewasa muda, dimana keputusan mandiri dan memberikan yang terbaik pada bayinya (Kodrat, 2. Menurut Pudjiadi . bahwa ibu yang berada pada usia reproduksi mampu memproduksi ASI lebih banyak dibandingkan dengan ibu yang berada pada usia resiko reproduksi, yaitu usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. Hal ini disebabkan karena fisiologi tubuh masih baik dan optimal. Ibu yang masuk kategori usia reproduksi sehat lebih banyak memberikan ASI eksklusif, dibandingkan dengan ibu yang usianya dia tas 35 tahun. Usia akan mempengaruhi bagaimana cara berfikir, manganalisa dan dan mengambi sikap. Seperti diketahui bahwa usia di rentang 20-35 tahun merupakan usia reproduksi sehat, dimana usia tersebut meruapakan usia yang aman untuk hamil, melahirkan dan menyusui bukan hanya secara fisik saja tetapi juga secara mental dan hormonal. Proses laktasi sangat dipengaruhi oleh hormon terutama adalah oksitiosin dan prolaktin, dengan usia ibu yang optimal dalam keseimbangan hormon tentunya akan berpengaruh terhadap proses laktasi (Aksari & Sundari, 2. Menurut asumsi peneliti ibu yang memberikan ASI eksklusif umur 20-30 tahun merupakan masa reproduksi sehat sehingga ibu mampu memecahkan masalah secara emosional, terutama dalam menghadapi kehamilan, persalinan, nifas, dan merawat bayinya sendiri. Pendidikan Data yang didapat peneliti yaitu mayoritas pendidikan terakhir ibu nifas adalah SMK sebanyak 21 responden . ,8%). Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kelancaran produksi ASI. Pendidikan pengetahuan yang dimiliki sesorang, dimana seseorang yang memiliki pendidikan tinggi diharapkan memiliki wacana, pengetahuan yang baik sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang positif. Menurut Notoatmodjo . , semakin tinggi pendidikan seseorang, maka orang tesebut semakin mudah menerima informasi sehingga meningkat Ibu pendidikan menengah sampai tinggi mampu menerima informasi baru sertra dapat menerima perubahan untuk meningkatkan kesehatan dalam hal ini adalah tentang menyusui atau laktasi. Mereka memiliki motivasi untuk mencari informasi sehingga meningkatkan pengetahuan dan kemampuan terkait laktasi (Hartini, 2. Tingkat pengetahuan dan pemahamn yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan dalam menagemen diri dan waktu serta manajemen laktasi sehingga Page - 4 Journal of Midwifery Tiara Bunda ASI memaksimalkan pemberian asi eksklusif. Menurut asumsi peneliti semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, semakin mudah ia menerima informasi dan semakin banyak pengetahuan yang ia miliki sehingga mempengaruhi perilaku seseorang. Akan tetapi, walaupun seorang ibu memiliki pendidikan formal rendah belum tentu ia tidak mampu memberikan ASI secara eksklusif dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi. Namun, tetap menjadi pertimbangan bahwa faktor tingkat pendidikan turut menentukan mudah atau tidaknya menyerap dan memahami pengetahuan yang diperoleh ibu. Pekerjaan Data yang didapat peneliti yaitu sebagian besar pekerjaan ibu nifas adalah ibu rumah tangga sebanyak 21 responden . ,8%). Status menunjukkan mayoritas responden tidak Pekerjaan ibu erat kaitannya dengan ketersediaan waktu ibu untuk bersama dengan bayinya, ibu tidak bekerja memiliki waktu luang lebih banyak bersama bayinya. Riksani . menyatakan bahwa ibu rumah tangga memiliki cukup waktu untuk istirahat, sehingga ibu tidak terlalu lelah dan akan memengaruhi pelepasan hormon oksitosin dan prolactin yang memperlancar produksi dan pengeluaran ASI. Namun disisi lain meskipun ibu tidak bekerja, setiap hari Ibu melakukan kegiatan keseharian sebagai ibu rumah tangga yang multy task. Tugas seorang ibu rumah tangga sangat banyak diantaranya yitu memasak, mencuci, mengurus anak dan suami. Hal ini terkait beban kerja berlebihan. Apabila tidak ada dukungan atau support dari suami dan keluarga, pekerjaan yang bertumpuk dapat menimbulkan kelelahan atau letih dan stress pada ibu yang memicu penurunan produksi ASI. Ibu yang mengalami stres maka akan terjadi blokade dari 287 refleks letdown. Hal ini disebabkan karena adanya pelepasan dari adrenalin . yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah alveoli kelancaran pengeluaran ASI (Soetjiningsih. Menurut asumsi peneliti pekerjaan dapat menggambarkan tingkat kehidupan seseorang karena dapat mempengaruhi sebagian aspek kehidupan seorang termasuk CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. pemeliharaan kesehatan. Semakin tinggi pekerjaan seseorang maka akan memberikan kesempatan luas bagi responden untuk menerima informasi kesehatan dari lingkungan bekerja maupun fasilitas ataupun media informasi yang lebih maju, misalnya dengan mengikuti seminar tentang kesehatan ataupun memperoleh informasi kesehatan dan hal ini mendukung pengetahuan responden tentang kolostrum, karena semakin tinggi pekerjaan seorang semakin tinggi informasi yang Konsumsi Daun Katuk Data yang didapat peneliti yaitu mayoritas ibu nifas di PMB E Kabupaten Bandung mengkonsumsi daun katuk sebanyak 27 responden dengan persentase . ,0%) dan yang tidak mengkonsumsi daun katuk sebanyak 10 responden dengan persentase . 0%). Setelah dilakukan wawancara singkat tentang pertanyaan kuesioner AuApakahAnda rutin mengunakan daun katuk untuk menjaga kesehatan?Ay beberapa responden menjawab 7 responden menjawab tidak mengkonsumsi daun katuk dan 3 lainnya menjawab hanya mengkonsumsi buah papaya untuk upaya melancarkan asi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ari Madiyanti . bahwa sebagian besar responden tidak cukup mengonsumsi daun katuk yaitu 35 orang . 2%). Responden yang dikatakan cukup mengkonsumsi daun katuk adalah responden yang mengkonsumsi daun katuk lebih dari tujuh hari dari 14 hari terakhir masa nifas. Daun katuk dapat meningkatkan produksi ASI karena terdapat kandungan alkaloid, sterol dan mengandung senyawa seskuiterna dari daun katuk sehingga dapat meningkatkan produksi ASI menjadi lebih banyak karena dapat meningkatkan metabolisme glukosa untuk sintesis laktosa sehingga produksi ASI Kelancaran ASI pada ibu nifas Data yang didapat peneliti yaitu mayoritas ibu nifas di PMB E Kabupaten Bandung memiliki tingkat kelancaran asi yang lancar sebanyak 30 responden dengan persentase . 1%). Berdasarkan hasil kuesioner pada pertanyaan AuASI yang banyak dapat merembes keluar melalui putting?Ay dapat diketahui bahwa dari 37 jumlah Page - 5 Journal of Midwifery Tiara Bunda responden, 27 responden mengatakan bahwa asi merembes keluar dari putting merasa nyaman dan tidak kesakitan pada saat Hal ini sejalan dengan penelitian dengan Dariyah . bahwa 20 responden . %) yang mengkonsumsi jamu uyup-uyup pengeluaran ASInya lancar. Hal ini terbukti dari 20 responden . %) merasakan ASI menetes atau merembes melalui puting, ibu merasa nyaman dan tidak kesakitan pada saat menyusui, bayi menyusu 8-12 kali sehari, bayi kuat menghisap dan menelan pada saat menyusui, bayi BAK > 6 kali sehari dan BAB > 4 kali sehari. Selain itu, ibu merasakan aliran ASI pada saat menyusi dan pengosongan payudara setelah menyusui. CC Attribution-ShareAlike 4. 0 License. diproses secara alami dan hygenis tanpa tambahan bahan apapun dan tetap menjaga khasiat daun katuk. Kapsul ekstrak daun katuk tidak ada efek samping apapun sehingga aman di konsumsi untuk ibu dalam masa menyusui dan penyembuhan beberapa penyakit (Pebrianthy, 2. Berdasarkan asumsi peneliti, terdapat mengkonsumsi daun katuk dengan kelancaran ASI di PMB E Kabupaten Bandung. Dengan (Sauropusandrogynu. pada ibu menyusui dapat mempengaruhi peningkatan produksi ASI. Dimana adanya kandungan alkaloid dan sterol yang terdapat didalam ekstrak daun katuk itulah yang dapat mempengaruhi peningkatan produksi ASI. Bivariat Kesimpulan Setelah dilakukan pengujian bivariat menggunakan uji rank spearman hasil analisis hipotesis hubungan daun katuk terhadap tingkat kelancaran asi dapat diterima dibuktikan dengan nilai p-value 0,001 . - value O 0,. yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan mengkonsumsi daun katuk dengan kelancaran ASI di PMB E Kabupaten Bandung. Hasil pemberian daun katuk dapat membantu terjadinya peningkatan volume ASI pada ibu Hal ini sejalan dengan penelitian Ari Madiyanti . hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square didapatkan nilai A value sebesar 0,000 (<0,. , sehingga Ha diterima dan Ho ditolak, berarti ada ada hubungan konsumsi daun katuk dengan kecukupan ASI pada Ibu Menyusui. Jika dilihat dari Nilai ODDS Ratio didapatkan sebesar . responden dengan konsumsi daun katuk 36 kali lebih besar memiliki kecukupan ASI mengonsumsi daun katuk (Ari Madiyanti. Daun katuk selain berhasiat untuk memperlancar ASI, juga mudah untuk dicari, saat ini daun katuk ada yang berbentuk kapsul atau biasa disebut ektrak daun katuk yang saat ini mudah diperoleh dimana saja. Jadi daun katuk saat ini selain berbentuk sayuran juga bias berbentuk kapsul. Daun katuk dibuat dalam bentuk kapsul siap minum yang mengandung 100% ekstrak daun hijau yang Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan oleh peneliti di bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Diketahui bahwa mayoritas responden terbanyak dengan ibu nifas yang berusia 21-30 tahun sebanyak 20 responden . ,1%), mayoritas pendidikan terakhir ibu nifas adalah SMK sebanyak 21 responden . ,8%), sebagian besar pekerjaan ibu nifas adalah ibu rumah tangga sebanyak 21 responden . ,8%). Diketahui bahwa mayoritas responden mengkonsumsi daun katuk sebanyak 27 Diketahui Bahwa mayoritas responden memiliki kelancaran asi yang lancar sebanyak 30 responden. Terdapat hubungan mengkonsumsi daun katuk terhadap tingkat kelancaran asi di PMB E Kabupaten BandungTahun 2023 Ucapan Terima Kasih Ucapan ditujukan kepada pemberi dana penelitian atau Ucapan terima kasih dapat juga disampaikan kepada pihak-pihak yang membantu pelaksanaan penelitian. Daftar Pustaka