JUMAKES : Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 4 NOMOR 2 | MARET 2022 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 2714-5409 GAMBARAN MCV DAN MCH PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI DESCRIPTION OF MCV AND MCH IN PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS IN GAMBIRAN HOSPITAL. KEDIRI Firda Fredenna Faradita1*. Elfred Rinaldo Kasimo2. Rochmad Kris Sanjaya3 1,2,3 Program Studi Teknologi Laboratorium Medis. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Kadiri Kediri *Corresponding : @firda090500@gmail. ABSTRAK Tuberkulosis paru merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan komplikasi. Salah satu komplikasi yaitu anemia, maka dari itu diperlukan pemeriksaan indeks eritrosit Mean Corpuscular Volume (MCV) dan Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) untuk mendiagnosis jenis anemia. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran MCV dan MCH pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Gambiran Kota Kediri. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif observasional dengan desain cross sectional. Populasi berjumlah 76 pasien tuberkulosis paru di RSUD Gambiran Kota Kediri periode Januari-Desember 2021. Sampel berjumlah 43 orang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi . urposive samplin. menggunakan data rekam medis. Hasilnya terdapat 33 orang memiliki nilai MCV rendah . dan 27 orang memiliki MCH rendah . Kadar MCV dan MCH rendah dikarenakan kekurangan asupan zat besi. Zat besi dapat berkurang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobaterium tuberculosis. Bakteri tersebut menyebabkan peradangan yang kemudian menghambat produksi hemoglobin dalam eritrosit. Akibatnya eritrosit tidak berfungsi maksimal untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh dan kualitas tubuh menjadi menurun. Pasien tuberkulosis paru di RSUD Gambiran Kota Kediri periode Januari-Desember 2021 sebagian besar mengalami anemia mikrositik hipokromik. Kata kunci: tuberkulosis paru. MCV. MCH ABSTRACT Pulmonary tuberculosis is a health problem that can cause complications. One of the complications is anemia, therefore it is necessary to check the erythrocyte index Mean Corpuscular Volume (MCV) and Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) to diagnose the type of anemia. This study aims to determine the description of MCV and MCH in pulmonary tuberculosis patients at Gambiran Hospital. Kediri City. The method used is a descriptive observational method with a cross sectional design. The population is 76 pulmonary tuberculosis patients at Gambiran Hospital. Kediri City. JanuaryDecember 2021. The sample is 43 people according to the inclusion and exclusion criteria . urposive samplin. using medical record data. The results showed that 33 people had low MCV values . and 27 people had low MCH . Low levels of MCV and MCH due to lack of iron intake. Iron can be reduced due to infection with the bacterium Mycobacterium tuberculosis. These bacteria cause inflammation which then inhibits the production of hemoglobin in erythrocytes. As a result, erythrocytes do not function optimally to circulate oxygen throughout the body and the quality of the body decreases. Pulmonary tuberculosis patients at the Gambiran Hospital. Kediri City for the period January-December 2021, mostly experienced hypochromic microcytic anemia. Keywords: pulmonary tuberculosis. MCV. MCH PENDAHULUAN Tahun 2020 1,3 juta kematian tuberkulosis paru orang Human Immunodeficiency Virus (HIV) negatif . aik dari 1,2 juta pada 2. dan tambahan 214. 000 orang HIV positif . aik dari 209. 000 pada 2. (World Health Organization, 2. Jumlah kasus tuberkulosis paru di Indonesia sebanyak 235 kalsus pada tahun 2021 (Kemenkes RI, 2. Kasus tuberkulosis di Jawa Timur tahun 2021 ditemukan sebanyak 43. 247 kalsus (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2. Kota di Jawa Timur yaitu Kota Kediri memiliki kasus tuberkulosis paru sebanyak 1. 419 kasus (Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim, 2. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menular saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Mycobalcterium tuberculosis (Ain et al. , 2. Masuknya M. tuberculosis melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (Ujiani & Nuraini, 2. Bakteri M. tuberculosis berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga disebut dengan Basil Tahan Asam (BTA) (Tirta & Syarif, 2. Kemungkinan tertular penyakit tuberkulosis paru yaitu kontak secara langsung dengan pasien tuberkulosis paru (Maulidiyanti, 2. Gejala pasien tuberkulosis paru yaitu batuk selama 2 minggu atau lebih. Kemudian batuk berdahak yang bercampur darah, sesak nafas, nafsu makan menurun, lemas, malaise, berkeringat malam hari, demam dan berat badan menurun (Kemenkes RI, 2. Faktor resiko terduga tuberkulosis paru adalah orang yang tinggal bersama dengan penderita tuberkulosis paru BTA positif. Faktor lain yaitu pendidikan, merokok, lingkungan dan daya tahan tubuh. Apabila terdapat gejala-gejala terinfeksi tuberkulosis paru maka harus segera melakukan pemeriksaan (Kristini & Hamidah, 2. Pemeriksaan M. tuberculosis dapat di deteksi pada sputum (Ramadhan et al. , 2. , rontgen dada. Computerized Tomography Scanning (CT Sca. dan pemeriksaan darah. Sputum dapat menunjukkan BTA dan juga tidak. Pemeriksaan rontgen dada dapat menunjukkan lesi pada apeks paru. CT scan juga dapat mengevaluasi proses yang ada di dekat paru dan tulang belakang (Suprapto, 2. Pemeriksaan darah yaitu Interferon-Gamma Release Assays (IGRA. dan indeks Pemeriksaan IGRA mengaktifkan makrofag yang diperlukan untuk membunuh basil tuberkulosis paru dan melindungi inang (Mahartini et al. , 2. Indeks eritrosit digunakan untuk diagnosis tuberkulosis paru, karena kelainan hematologi dapat disebabkan oleh proses infeksi tuberkulosis palru atau efek salmping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) (Karwiti et al. , 2. Pemeriksaan darah diperlukan sebagai penunjang supaya tidak terjadi komplikasi (Sulochana et al. Komplikasi penyakit tuberkulosis paru berupa penurunan kadar hemoglobin (H. atau anemia (Talakua et al. , 2. Pemeriksaan diagnosis anemia yaitu dengan indeks eritrosit (Rosidah et al. , hemoglobin (Nidianti et al. , 2. , ferritin serum (Idaman et al. , 2. dan hematokrit (Nuraeni, 2. Tuberkulosis paru dapat menimbukan kelainan hematologi, baik sel-sel hematopoiesis maupun komponen plasma. Kelainan hematologis merupakan bukti sebagai petanda diagnosis atau petunjuk adanya komplikasi (Suhartati, 2. JUMAKES : Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 4 NOMOR 2 | MARET 2022 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 2714-5409 Hematopoiesis ditentukan melalui pengukuran nilai indeks eritrosit. Indeks eritrosit terdiri atas Mean Corpuscular Volume (MCV). Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) daln Mean Corpuscular Hemoglobin Concentraltion (MCHC) (Laloan et al. , 2. MCV adalah volume rata-rata dari sel darah merah yang didapatkan dari hematokrit dikali dengan 10/Red Blood Cell (RBC). MCH merupakan perhitungan jumlah hemoglobin rata-rata pada satu sel darah merah, dan didapatkan dari pembagian antara hemoglobin dengan RBC. MCHC merupakan rata-rata dari konsentrasi hemoglobin pada satu sel darah merah, kadarnya dihitung dari hemoglobin dibagi hematokrit (Oktaviani et al. , 2. Berdasarkan penelitian Ujiani pada tahun 2020 terhadap 40 pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Bandar Lampung, didapatkan sebagian besar responden mengalami anemia yaitu sebesar 80%. Kemudian penelitian Talakua tahun 2020 didapatkan 67,7% pasien tuberkulosis paru yang mengalami anemia. Berdasarkan latar belakang diatas disebutkan bahwa pemeriksaan diagnosis anemia dapat didiagnosis dengan indeks eritrosit, maka peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran kadar MCV dan MCH pada penderita tuberkulosis paru di RSUD Gambiran Kota Kediri. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode cross sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa rekam medis pasien tuberkulosis paru di RSUD Gambiran Kota Kediri periode Januari-Desember 2021. Pasien yang akan diteliti harus memenuhi kriteria inklusi dan HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Data Demografi Pasien Tuberkulosis Paru Berdasarkan Usia Kategori Frekuensi Presentase . %) Total Pada tabel 1. menunjukkan bahwa rentang usia 46-80 tahun merupakan pasien paling banyak terkena infeksi tuberkulosis paru yaitu sebesar 58% dengan jumlah pasien 25 orang. Sedangkan rentang usia 11-25 tahun memiliki presentase paling sedikit yaitu 5% dan hanya sebanyak 2 orang. Tabel 2. Data Demografi Pasien Tuberkulosis Paru Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Presentase . %) Perempuan Laki-laki Total Pada tabel 2. dapat dilihat bahwa jenis kelamin laki-laki mempunyai jumlah pasien sebanyak 27 orang dengan presentase 63%. Kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan yang terdiri dari 16 orang dengan presentase 37%. MCV Tabel 3. Data Nilai MCV Berdasarkan Usia ANEMIA TIDAK ANEMIA ,9%) ,6%) ,2%) ,9%) ,8%) ,2%) Total ,7%) ,3%) Pada tabel 3. menunjukkan presentase terbesar yang mengalami anemia terdapat pada rentang usia 46-80 tahun dengan presentase 41,8% sebanyak 18 orang. MCH Tabel 4. Data Nilai MCH Berdasarkan Usia ANEMIA TIDAK ANEMIA ,9%) ,6%) ,9%) ,3%) ,2%) ,9%) Total ,8%) ,2%) Pada tabel 4. menunjukkan presentase terbesar yang mengalami anemia terdapat pada rentang usia 46-80 tahun dengan presentase 30,2% sebanyak 13 orang. Tabel 5. Data Nilai MCV Berdasarkan Jenis Kelamin MCV ANEMIA TIDAK ANEMIA Perempuan 12 . ,9%) 4 . ,3%) Laki-laki 21 . ,8%) 6 . ,9%) TOTAL ,7%) ,3%) Pada tabel 5. didistribusikan bahwa jenis kelamin laki-laki yang mengalami anemia sebanyak 21 orang dengan presentase 48,8%. Sedangkan jenis kelalmin perempuan yang mengalami anemia lebih rendah yaitu sebanyak 12 orang dengan presentase 27,9%. Tabel 6. Data Nilai MCH Berdasarkan Jenis Kelamin MCH ANEMIA TIDAK ANEMIA Perempuan 11 . ,5%) 5 . ,6%) Laki-laki 18 . ,8%) 11 . ,5%) TOTAL ,8%) Pada tabel 6. didistribusikan bahwa jenis kelamin laki-laki yang mengalami anemia sebanyak 18 orang dengan presentase 41,8%. Sedangkan jenis kelamin perempuan yang mengalami anemia lebih rendah yaitu sebanyak 11 orang dengan presentase 25,5%. Tabel 7. Data Hasil Pemeriksaan MCV Dan MCH Pada Pasien Tuberkulosis Paru Kategori Jumlah Presentase . %) Normal Tidak normal TOTAL Pada tabel 7. dapat dilihat dari hasil pemeriksaan MCV dan MCH pada pasien tuberkulosis paru yang tidak mengalami anemia sebanyak 10 orang dengan presentase 23%. Sedangkan pasien yang mengalami anemia sebanyak 33 orang dengan presentase 77%. Pada tabel 1. menunjukkan bahwa rentang usia 46-80 tahun merupakan pasien paling banyak terkena infeksi tuberkulosis yaitu sebesar 58% dengan jumlah pasien 25 orang. Sedangkan rentang usia 11-25 tahun memiliki presentase paling sedikit yaitu 5% dan hanya sebanyak 2 orang. Pada usia dewasa akhir fungsi organ tubuh terutama paru-paru mengalami penurunan dalam melawan bakteri penyebab infeksi tuberkulosis paru, sehingga ketika bakteri penyakit tuberkulosis paru masuk ke dalam tubuh tidak dapat dilawan oleh sistem kekebalan tubuh (Situmorang & Napitupulu, 2. Pada tabel 2. dapat dilihat bahwa jenis kelamin laki-laki mempunyai jumlah pasien sebanyak 27 orang dengan presentase 63%. Kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan yang terdiri dari 16 orang dengan presentase 37%. Penelitian ini sama halnya dengan JUMAKES : Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 4 NOMOR 2 | MARET 2022 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 2714-5409 penelitian Sarvasti pada tahun 2020. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak terkena infeksi bakteri dikarenakan laki-laki mempunyai hormon testosteron yang berdampak menghambat sistem imun, sehingga rentan untuk terinfeksi. Sedangkan perempuan memliki hormon estrogen yang berfungsi meningkatkan sistem imunitas tubuh, sehingga perempuan dapat melawan infeksi bakteri (Sarvasti. Pada tabel 3. menunjukkan presentase terbesar yang mengalami anemia terdapat pada rentang usia 46-80 tahun dengan presentase 41,8% sebanyak 18 orang. Pada tabel 4. presentase terbesar yang mengalami anemia terdapat pada rentang usia 46-80 tahun dengan presentase 30,2% sebanyak 13 orang. Hal ini sejalan dengan penelitian Talakua pada tahun 2020 bahwa kelompok usia tua mengalami kasus anemia sebanyak 80%. Usia 46-80 tahun kekebalan tubuh manusia akan menurun, akibatnya seseorang akan mudah terserang penyakit (Talakua et al. Kadar hemoglobin juga akan mengalami penurunan saat usia sudah renta (Mursalim et al. Hal tersebut terjadi karena fungsi eritrosit juga menurun (Situmorang & Napitupulu, 2. Sedangkan usia muda tidak mengalami anemia dipengaruhi oleh pertahanan tubuh yang baik dan konsumsi zat besi yang cukup (Maulidiyanti, 2. Pada tabel 5. didistribusikan bahwa jenis kelamin laki-laki yang mengalalmi anemia sebanyak 21 orang dengan presentalse 48,8%. Sedangkan jenis kelalmin perempuan yang mengalami anemia lebih rendah yaitu sebanyak 12 orang dengan presentase 27,9%. Pada tabel 6. didistribusikan bahwa jenis kelamin laki-laki yang mengalami anemia sebanyak 18 orang dengan presentase 41,8%. Sedangkan jenis kelamin perempuan yang mengalami anemia lebih rendah yaitu sebanyak 11 orang dengan presentase 25,5%. Perbedaan jumlah kasus dapat berkaitan dengan tingkat perkembangan infeksi atau layanan kesehatan (Talakua et al. , 2. Kasus ini sama dengan penelitian Situmorang pada tahun 2020, karena biasanya laki-laki lebih banyak beraktivitas di lingkungan luar rumah yang beresiko terkena paparan udara yang sudah terkontaminasi bakteri pembawa penyakit infeksi (Situmorang & Napitupulu, 2. Pada tabel 7. dapat dilihat dari hasil pemeriksaan MCV dan MCH pada pasien yang mengalami anemia sebanyak 33 orang dengan presentase 77%. Berdasarkan hasil penelitian terdapat banyak pasien yang mengalami anemia. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Ujiani pada tahun 2020 bahwa pasien yang mengalami anemia sebesar 80%. Anemia ditandai dengan penurunan cadangan besi dalam sumsum tulang. Kondisi tersebut dapat terjadi karena infeksi penyakit tuberkulosis paru yang menyebabkan peradangan (Ujiani & Nuraini, 2. Pasien tuberkulosis paru yang tidak mengalami anemia sebanyak 10 orang dengan presentase 23%. Keadaan tersebut dapat dipengaruhi oleh menjaga gizi makanan, hidup di lingkungan yang bersih, kepatuhan pasien menjalani terapi dan mengonsumsi suplemen yang dapat menambah kadar hemoglobin dalam tubuh (Maulidiyanti, 2. Kadar MCV yang rendah bisa terjadi karena kekurangan asupan besi (Saputra et al. , 2. Kekurangan asupan besi dikarenakan pendarahan akut sehingga sel darah menjadi hipokromik (Setiawan et al. , 2. MCV yang rendah menunjukkan penurunan . , sering kali dijumpai pada anemia defisiensi besi yang disebabkan oleh pasokan besi dalam tubuh tidak memadai yang dapat mempengaruhi terbentuknya hemoglobin sehingga eritrosit berkurang dan berakibat terangkutnya oksigen ke seluruh tubuh tidak maksimal. MCH yang abnormal menggambarkan penurunan . , biasanya terjadi pada defisiensi besi atau thalasemia. Anemia jenis mikrositik hipokromik adalah jenis anemia yang terjadi pada pasien tuberkulosis paru. Anemial penyakit kronik sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi dan keduanya memberikan gambaran penurunan besi (Tirta & Syarif, 2. Tuberkulosis paru dapat menyebabkan berkurangnya cadangan zat besi dalam tubuh manusia. Respon tubuh bila terkena infeksi yaitu berupa peradangan. Peradangan akan mengakibatkan eritropoesis tertekan. Apabila eritropoesis tertekan, maka zat besi dalam tubuh akan berkurang. Keadaan tersebut lama-kelamaan menyebabkan morfologi eritrosit berubah menjadi lebih kecil atau mikrositik (Talakua et al. , 2. Anemia mikrositik ditandai dengan penurunan nilai MCV daln MCH yang disebabkan defisiensi besi. Apabila anemia terjadi maka eritrosit tidak berfungsi maksimal untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Anemia juga menyebabkan berkurangnya kualitas tubuh karena seseorang yang mengalaminya akan mudah lelah dan mengurangi kemampuan berpikir (Setiawan et al. , 2. Penderita tuberkulosis paru yang kadar hemoglobinnya rendah dikarenakan daya tahan tubuh yang lemah, kurangnya konsumsi makanan mengandung zat besi seperti sayur dan buah, efek samping OAT juga dapat mempengaruhi nafsu makan penderita tuberkulosis paru. Pembuluh darah yang pecah karena batuk darah yang terjadi dalam jangka waktu lama juga akan menyebabkan menurunnya kadar hemoglobin. Sedangkan penderita tuberkulosis paru yang memiliki kadar hemoglobin normal dikarenakan daya tahan tubuh yang baik, menjaga kandungan gizi dalam makanan, mengonsumsi zat besi secara teratur dan istirahat yang cukup (Mursalim et al. , 2. Sistem pertahanan tubuh pada manusia dipengaruhi oleh status gizi, tingkat kecukupan energi dan protein merupakan faktor yang berhubungan dengan angka kecukupan status gizi pada penderita tuberkulosis paru (Maulidiyanti, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Penderita tuberkulosis paru RSUD Gambiran Kota Kediri sebagian besar memiliki nilai MCV yang rendah dengan jumlah 33 orang mengalami anemia mikrositik dan juga memiliki nilai MCH yang rendah dengan jumlah 27 orang mengalami anemia hipokromik. Hal tersebut dikarenakan daya tahan tubuh yang lemah, kurangnya konsumsi makanan mengalndung zat besi seperti sayur dan buah, efek samping OAT dapat mempengaruhi nafsu makan penderita tuberkulosis paru. Saran dari peneliti sebaiknya profil hematologi anemia pada penderita tuberkulosis paru juga diteliti. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah berkontribusi dalam penyusunan penelitian ini. Terimakasih juga kepada staff diklat dan staff instalasi rekam medik RSUD Gambiran Kota Kediri. DAFTAR PUSTAKA