Jurnal Kesehatan Amanah Volume. 9 Nomor. 2 Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. DOI: https://doi. org/10. 57214/jka. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/jka Analisis Kadar Vitamin C Bawang Putih Majemuk Bawang Hitam dan Bawang Putih Tunggal Serta Aktivitas Antioksidan dengan Metode ABTS Adhiva Berlian Febryanti1*. Danang Raharjo2. Septian Maulid Wicahyo3 Fakultas Farmasi. Univesitas Duta Bangsa Surakarta. Indonesia Penulis Korespondensi: adhivaberlianf@gmail. Abstract. Antioxidants are compounds that can neutralize free radicals and inhibit the continuation of oxidation processes that may cause cellular damage. Vitamin C acts as an antioxidant by protecting biological molecules from oxidative stress. Garlic, both compound and single types, as well as black garlic, are known to contain vitamin C and play a significant role as natural antioxidants in combating free radicals that can damage cells and body tissues. This study aimed to determine the vitamin C content and antioxidant activity of compound garlic (Allium sativum L. ), black garlic, and single garlic (Allium sativum L. The vitamin C content was measured using UV-Vis spectrophotometry, while antioxidant activity was evaluated by the ABTS method, expressed in ICCICA The results showed that black garlic extract had the highest vitamin C content of 51. 516 mg/100 g. In the ABTS assay, black garlic also demonstrated the lowest ICCICA value of 25. 99 g/mL, indicating a very strong antioxidant activity. These findings suggest that the fermentation process of garlic into black garlic significantly increases its vitamin C levels as well as enhances its antioxidant properties. Therefore, black garlic has great potential to be developed as a natural antioxidant source, contributing to the prevention of oxidative stress-related cellular damage and supporting overall health. Keywords: Antioxidants. Black garlic. Compound garlic. Single garlic. Vitamin C Abstrak. Antioksidan adalah zat yang mampu menetralkan radikal bebas dan menghentikan proses oksidasi yang Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dengan melindungi molekul biologis dari kerusakan Bawang putih, baik tunggal maupun majemuk, serta bawang hitam . lack garli. merupakan tanaman yang memiliki kandungan vitamin C yang berperan sebagai antioksidan kuat dalam melawan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan sel atau jaringan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C serta aktivitas antioksidan pada bawang putih majemuk (Allium sativum L. ), bawang hitam . lack garli. , dan bawang putih tunggal (Allium sativum L. Pengujian kadar vitamin C dilakukan dengan metode spektrofotometri UVVis, sedangkan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS yang dinyatakan dalam nilai ICCICA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bawang hitam . lack garli. memiliki kadar vitamin C tertinggi sebesar 51,516 mg/100 g. Pada pengujian aktivitas antioksidan metode ABTS, ekstrak bawang hitam juga menunjukkan nilai ICCICA terendah sebesar 25,99 g/mL, menandakan aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa fermentasi bawang putih menjadi bawang hitam meningkatkan kandungan vitamin C sekaligus memperkuat aktivitas antioksidannya. Oleh karena itu, bawang hitam berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami yang bermanfaat dalam mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas serta mendukung kesehatan tubuh. Kata kunci: Antioksidan. Bawang hitam. Bawang putih majemuk. Bawang putih tunggal. Vitamin C LATAR BELAKANG Vitamin C termasuk nutrien esensial yang berfungsi sebagai antioksidan kuat, berperan dalam meningkatkan sistem pertahanan tubuh serta melindungi sel dari kerusakan yang diakibatkan oleh proses oksidatif (Carr & Maggini, 2. Bawang putih tunggal, bawang putih majemuk, maupun bawang hitam diketahui memiliki kandungan vitamin C yang relatif tinggi sehingga mampu memberikan efek protektif terhadap radikal bebas (Jurwita et al. , 2. Aktivitas antioksidan tersebut berlangsung melalui mekanisme donasi elektron yang dapat Naskah Masuk: 16 September 2025. Revisi: 30 September 2025. Diterima: 04 Oktober 2025. Terbit: 06 Oktober 2025 Analisis Kadar Vitamin C Bawang Putih Majemuk Bawang Hitam dan Bawang Putih Tunggal Serta Aktivitas Antioksidan dengan Metode ABTS menetralkan radikal bebas, di mana pembentukannya dipicu oleh paparan polusi, asap rokok, debu, serta pola konsumsi makanan yang tidak seimbang (Saputra et al. , 2. Bawang putih (Allium sativum L) telah lama dimanfaatkan di bidang pangan dan Fermentasinya menghasilkan bawang hitam dengan aktivitas antioksidan lebih tinggi, terutama karena peningkatan senyawa S-allyl cysteine, polifenol, flavonoid, dan asam Aktivitas tertinggi tercapai pada fermentasi 21 hari (Pramitha & Sundari, 2. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa bawang putih tunggal memiliki aktivitas antioksidan sedang . ,61%) berkat kandungan allicin dan fenolik (Layli & Saraswati, 2. Kandungan vitamin C pada bawang putih tunggal sebesar 0,28%, bawang putih majemuk 0,27%, sedangkan pada bawang hitam meningkat seiring fermentasi, dari 0,29% . ari ke-. menjadi 0,32% . ari ke-. (Jurwita et al. , 2. Hasil lain menunjukkan kadar vitamin C bawang putih 35,0216 mg/g dan bawang hitam 40,1146 mg/g (Suci, 2. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kadar vitamin C serta aktivitas antioksidan pada bawang putih majemuk, bawang putih tunggal, dan bawang hitam dengan metode ABTS. TINJAUAN PUSTAKA Bawang putih mengandung senyawa bioaktif seperti allicin, flavonoid, dan polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan (Untari, 2. Fermentasi menghasilkan bawang hitam dengan kandungan S-allyl cysteine (SAC), flavonoid, dan vitamin C lebih tinggi, sehingga aktivitas antioksidannya meningkat (Pramitha & Sundari, 2. Vitamin C sendiri merupakan antioksidan larut air yang berfungsi mendonorkan elektron untuk menetralkan radikal bebas (Carr & Maggini, 2. Radikal bebas terbentuk akibat polusi, asap, maupun pola makan tidak seimbang (Rahmi, 2. dan dapat menyebabkan stres oksidatif yang memicu penyakit degeneratif (Phaniendra et al. , 2. Aktivitas antioksidan biasanya dinilai dengan metode ABTS, yang sederhana dan cepat, dengan parameter ICCICA (Tri et al. , 2. METODE PENELITIAN Preparasi Sampel Umbi Bawang Putih (Allium sativum L) Tumbuhan yang digunakan adalah bawang putih majemuk (Allium sativum L) segar sebanyak 1000 gram dan bawang putih tunggal (Allium sativum L) segar sebanyak 500 gram yang diperoleh di Desa Nglebak. Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah. Lokasi pengambilan sampel berada pada koordinat 7A39'42. 8" LS dan 111A06'48. 1" BT. Bahan Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume. 9 Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. tanaman tersebut akan dideterminasi di determinasi di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu. Karanganyar. Jawa Tengah. Kemudian, dilakukan preparasi sampel dengan tahapan yakni sortasi basah basah, pencucian, pengeringan dibawah sinar matahari dan sortasi kering. Pengolahan serbuk dilaksanakan melalui penggunaan blender dan diayak dengan mesh No. sampai menjadi serbuk. Proses Ekstrasi Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Serbuk simplisia bawang putih majemuk, bawang putih tunggal, dan bawang hitam dimasukkan ke dalam wadah tertutup yang berisi pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:10. Proses maserasi dilakukan selama 3 hari pada suhu ruangan sambil sesekali diaduk untuk memastikan zat aktif terekstrak secara optimal. Setelah 3 hari, ekstrak disaring menggunakan kertas saring. Residu yang diperoleh diekstrak kembali sebanyak 2 kali untuk memastikan semua senyawa terekstrak. Setelah proses penyaringan, filtrat diuapkan menggunakan rotary evaporator dengan pengaturan suhu antara 40AC dan 60AC, lalu dikentalkan lebih lanjut di atas waterbath (Depkes RI, 2. Penetapan Kadar Vitamin C Penetapan kadar vitamin C pada ekstrak sampel dilakukan secara kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Pengukuran ini didasarkan pada reaksi antara asam askorbat dengan pereaksi 2,6-diklorofenol indofenol yang menghasilkan perubahan warna. Absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum, dan hasilnya dikonversi menjadi konsentrasi melalui kurva standar vitamin C yang telah dibuat sebelumnya. Nilai akhir kadar vitamin C dinyatakan dalam mg per 100 gram sampel . g/100. Uji Aktivitas Antioksidan Metode ABTS Aktivitas antioksidan dari ekstrak diuji menggunakan metode ABTS . ,2'-azino-bis. ethylbenzothiazoline-6-sulphonic aci. Larutan radikal ABTS dibuat dengan mereaksikan ABTS dan kalium persulfat, lalu diinkubasi di tempat gelap. Selanjutnya, larutan radikal tersebut dicampur dengan larutan sampel ekstrak pada berbagai konsentrasi. Setelah inkubasi, absorbansi diukur pada panjang gelombang 734 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Aktivitas antioksidan diukur berdasarkan kemampuan sampel dalam meredam radikal bebas, dan hasilnya dinyatakan dalam nilai ICCICA (AAg/mL). Semakin kecil nilai ICCICA, semakin kuat aktivitas antioksidan sampel. Analisis Kadar Vitamin C Bawang Putih Majemuk Bawang Hitam dan Bawang Putih Tunggal Serta Aktivitas Antioksidan dengan Metode ABTS HASIL DAN PEMBAHASAN Determinasi Tanaman Sebelum dilaksanakan penelitian lebih lanjut, proses determinasi terlebih dahulu dilangsungkan dengan tujuan untuk memastikan kebenaran kebenaran atau keaslian jenis suatu tumbuhan berdasarkan klasifikasinya, sehingga menghindari terjadinya kesalahan penggunaan sampel dalam penelitian ini. Hasil determinasi dengan nomor 811. 1/UDB. D2/C. 5-PG/i/2025 didapat bahwa sampel yang dipakai ialah tanaman bawang putih dengan suku Amaryllidaceae, kelas Magnoliopsida, dan jenis Allium sativum L. Skrining Fitokimia Skrining fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan golongan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak etanol bawang putih majemuk, bawang putih tunggal, dan bawang hitam. Keberadaan senyawa-senyawa ini penting karena seringkali berkorelasi dengan aktivitas farmakologis, termasuk antioksidan. Hasil positif pada ketiga jenis ekstrak menunjukkan adanya senyawa alkaloid dan saponin. Alkaloid adalah senyawa organik yang mengandung nitrogen dan menunjukkan berbagai aktivitas farmakologis, sementara saponin dikenal sebagai senyawa dengan kemampuan antioksidan yang kuat dalam menangkal radikal Hasil identifikasi senyawa flavonoid dan saponin pada uji tabung dari setiap sampel dapat dilihat pada Gambar 1. Flavonoid ekstrak . Flavonoid ekstrak bawang putih majemuk bawang putih Tunggal bawang hitam (Black (Allium sativum L) (Allium sativum L) Garli. Flavonoid ekstrak Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume. 9 Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. Saponin ekstrak bawang . Saponin ekstrak bawang . Saponin ekstrak bawang putih majemuk (Allium putih Tunggal (Allium sativum L) sativum L) hitam (Black Garli. Gambar 1 Hasil Identifikasi Uji Tabung Sumber : Data Penelitian . Pengujian flavonoid dilakukan dengan metode shinoda, yaitu dengan menambahkan serbuk Mg dan larutan asam klorida (HCI) pekat disetiap sampel uji. Tujuan dilakukan penambahan asam klorida dan serbuk magnesium untuk mereduksi ikatan glikosida dengan flavonoid. Agar flavonoid dapat diidentifikasi, maka ikatan glikosida dengan flavonoid harus diputus dengan mereduksi ikatan tersebut yang mana hasil yang (Muthmainnah. Terbentuknya warna jingga atau kuning pada uji tabung . , . menunjukkan hasil yang positif. Pengujian saponin dilakukan dengan menambahkan aquadest dan HCI 2N disetiap sampel uji. Pada uji tabung . , . dihasilkan positif karena terbentuk buih stabil setinggi 1 cm, timbulnya buih pada uji saponin menunjukkan adanya glikosida yang mempunyai kemampuan untuk membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya. Buih yang dihasilkan saponin tidak terpengaruh oleh asam klorida 2N sehingga penambahan larutan asam klorida 2N buih tetap stabil dan tidak hilang (Marliana et al. ,2. Penetapan Kadar Vitamin C Panjang gelombang maksimum . untuk larutan baku vitamin C dengan konsentrasi 100 ppm ditentukan menggunakan spektrofotometri pada rentang 480Ae530 nm. Pengukuran menunjukkan max berada pada 515 nm, yang mengonfirmasi serapan maksimum pada daerah UV-Vis. Sebagai kontrol positif, vitamin c digunakan karena dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Mekanisme kerjanya adalah dengan mendonorkan elektron untuk menetralkan radikal bebas seperti ABTS. Nilai IC50 yang rendah berarti suatu zat memiliki Analisis Kadar Vitamin C Bawang Putih Majemuk Bawang Hitam dan Bawang Putih Tunggal Serta Aktivitas Antioksidan dengan Metode ABTS aktivitas antioksidan yang tinggi atau kuat. Dalam penelitian ini, vitamin c menghasilkan nilai IC50 sebesar 5,546g/mL. Berdasarkan kategori yang digunakan . ilai IC50 di bawah 50g/mL dianggap aktivitas sangat kua. , nilai vitamin c ini menunjukkan bahwa ia adalah antioksidan yang sangat kuat (Lung & Destiani, 2. Kurva kalibrasi dibuat untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi dan absorbansi vitamin c. Absorbansi diukur pada lima konsentrasi berbeda . , 4, 6, 8, dan 10 pp. pada panjang gelombang 515 nm. Dari data tersebut, diperoleh persamaan regresi Y = 0,0429X 0,1543, yang digunakan untuk menghitung konsentrasi sampel. Kurva kalibrasi larutan baku vitamin c dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Grafik Kurva Baku Vitamin C Sumber : Data Penelitian . Kadar vitamin C dalam berbagai ekstrak bawang diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Kurva kalibrasi dibuat dari larutan standar vitamin C dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Persamaan regresi yang dihasilkan menunjukkan nilai koefisien determinasi (R. sebesar 0,996, mengindikasikan linearitas yang kuat. Selanjutnya, kandungan vitamin C ditentukan pada ekstrak bawang putih majemuk, bawang putih tunggal (Allium sativum L), dan bawang hitam. Konsentrasi dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan regresi dari kurva Untuk memastikan akurasi dan rentang pengukuran yang valid, setiap sampel dianalisis dalam tiga replikasi untuk memperoleh nilai rata-rata dan standar deviasi (SD). Hasil pengukuran kadar vitamin C pada sampel-sampel tersebut tertera pada Tabel 1. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume. 9 Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. Tabel 1 Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Sampel Uji Replikasi Ekstrak Bawang Putih Majemuk Ekstrak Bawang Putih Tunggal Ekstrak Bawang Hitam Kadar Vitamin C Tiap Gram Sampel g/gra. 3,152 2,802 2,965 4,294 3,944 4,037 7,324 6,951 7,231 Rata-Rata A SD 0,281 A 0,175 0,329 A 0,181 0,461 A 0,194 Nilai standar deviasi (SD) yang relatif kecil pada semua sampel . ,175Ae0,. menunjukkan homogenitas dan keandalan data replikasi. Bawang Putih Tunggal memiliki kandungan vitamin C rata-rata . ,092 mg/gra. yang lebih tinggi dibandingkan Bawang Putih Majemuk . ,973 mg/gra. , yang mengindikasikan potensi antioksidan alami yang lebih kuat pada jenis tunggal. Bawang Hitam menunjukkan kadar vitamin C tertinggi . ,169 mg/gra. di antara ketiga sampel. Peningkatan signifikan ini diduga kuat disebabkan oleh proses fermentasi pada suhu 60Ae80AC. Proses ini, melalui reaksi Maillard dan transformasi senyawa, meningkatkan stabilitas dan ketersediaan senyawa larut air seperti asam askorbat (Sung et al. , 2. , sehingga menghasilkan kandungan antioksidan yang optimal. Uji Aktivitas Antioksidan Metode ABTS Panjang gelombang 730,0 nm . iperoleh dari larutan standar 16 pp. digunakan sebagai acuan untuk menentukan waktu kerja optimum . perating tim. Tujuan penentuan ini adalah untuk memastikan waktu reaksi yang sempurna bagi larutan pembanding, yaitu vitamin Waktu kerja optimum ditetapkan pada saat nilai absorbansi mulai stabil, yang ditunjukkan oleh perbedaan nilai serapan yang minimal terhadap perubahan waktu. Pengolahan data kurva baku vitamin C dilakukan menggunakan Microsoft Excel untuk mendapatkan persamaan regresi linear dan nilai koefisien determinasi (R. dari hubungan antara konsentrasi vitamin C dan persen inhibisi. Persamaan regresi ini selanjutnya digunakan untuk menghitung aktivitas antioksidan sampel. Kurva baku vitamin C terhadap persentase inhibisi radikal ABTS disajikan pada Gambar 3. Analisis Kadar Vitamin C Bawang Putih Majemuk Bawang Hitam dan Bawang Putih Tunggal Serta Aktivitas Antioksidan dengan Metode ABTS Gambar 3 Grafik Kurva Baku Vitamin C ABTS Sumber : Data Penelitian . Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS . ,2'-azino-bis. ethylbenzothiazoline-6-sulfonic aci. ) dimulai dengan menyiapkan berbagai tingkat konsentrasi . eret konsentras. dari ekstrak yang diteliti dan zat pembanding . aku Setelah deret konsentrasi tersebut dibuat, larutan ABTS ditambahkan ke setiap Selanjutnya, dilakukan pembacaan absorbansi larutan pada panjang gelombang 730 nm. Pembacaan absorbansi ini dilakukan tepat pada menit ke-24, yaitu waktu operasi . perating tim. yang telah ditetapkan. Dari data absorbansi yang didapat, selanjutnya dihitung persentase peredaman radikal bebas. Hasil pengukuran absorbansi larutan uji secara lengkap tertera pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan Metode ABTS Sampel Vitamin c Ekstrak Bawangputih Majemuk (Allium sativum L) Ekstrak Bawangputih Tunggal (Allium sativum L) Ekstrak Hitam Garli. Bawang (Black Konsentrasi % Inhibisi 36,24 39,77 49,23 57,09 75,61 40,11 44,05 51,05 63,02 79,49 43,82 47,98 55,27 66,50 81,31 43,99 51,68 57,26 48,549 52,671 IC50 5,546 (Sangat Kua. 51,14 (Kua. 32,84 (Kuat-Sangat Kua. 25,99 (Sangat Kua. Sumber : Data Penelitian . Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume. 9 Nomor 2. Oktober 2025 e-ISSN : 2962-6366. p-ISSN : 2580-4189. Hal. Nilai IC50 didefinisikan sebagai konsentrasi ekstrak yang diperlukan untuk menghambat 50% radikal bebas. Nilai IC50 yang rendah mengindikasikan aktivitas antioksidan yang kuat, karena membutuhkan konsentrasi senyawa bioaktif yang lebih sedikit untuk mencapai efek inhibisi yang sama. Tingginya kandungan senyawa bioaktif, yang dapat mendonorkan elektron, secara langsung berkorelasi dengan aktivitas antioksidan yang lebih kuat dan nilai IC50 yang lebih rendah. Variasi nilai IC50 antar sampel dapat dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi senyawa aktif, serta faktor lingkungan tumbuh seperti unsur hara, iklim, cahaya, dan air. Menurut klasifikasi (Fatmawati et al. , 2. aktivitas antioksidan dapat dikelompokkan ke dalam lima tingkatan, yakni sangat kuat (<50 AAg/mL), kuat . Ae100 AAg/mL), sedang . Ae 250 AAg/mL), lemah . Ae500 AAg/mL), serta tidak aktif (>500 AAg/mL). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vitamin C memiliki nilai ICCICA sebesar 5,546 AAg/mL yang termasuk kategori sangat kuat. Bawang hitam . lack garli. berada pada 25,99 AAg/mL . angat kua. , bawang putih tunggal (Allium sativum L. ) sebesar 32,84 AAg/mL . uat hingga sangat kua. , sedangkan bawang putih majemuk (Allium sativum L. ) memiliki nilai ICCICA 51,14 AAg/mL yang masuk dalam kategori kuat. Dari hasil pengujian Bawang Hitam menunjukkan aktivitas antioksidan yang paling kuat di antara ekstrak yang diuji, dengan nilai IC50 sebesar 25,99 g/mL, yang tergolong sangat kuat dan mendekati nilai kontrol positif . Perbedaan komponen aktif dan faktor eksternal . eografis, iklim, esensia. mempengaruhi besarnya aktivitas antioksidan pada (Ria et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan, didapat kesimpulannya sebagai berikut : 1. ) Kadar Vitamin c : Ekstrak bawang hitam memiliki kandungan vitamin C tertinggi . ,516 mg/100 . , sementara ekstrak bawang putih majemuk memiliki kadar terendah . ,319 mg/100 . ,2. ) Aktivitas Antioksidan (IC. : Ekstrak bawang hitam menunjukkan aktivitas antioksidan paling kuat dengan nilai IC50 terendah sebesar 25,99 g/mL . ategori sangat kua. Nilai ini diikuti oleh bawang putih tunggal . ,84 g/mL) dan bawang putih majemuk . ,14 g/mL). Analisis Kadar Vitamin C Bawang Putih Majemuk Bawang Hitam dan Bawang Putih Tunggal Serta Aktivitas Antioksidan dengan Metode ABTS Saran