1461 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 PENGEMBANGAN EDU-AGROWISATA BERBASIS TEKNOLOGI CERDAS: STUDI KASUS DEPOK DENGAN FOKUS PADA MASTERPLAN. PENERIMAAN MASYARAKAT. DAN STRATEGI PROMOSI PARIWISATA DIGITAL Oleh Budiman1. Irina Mildawani2*. Mulya Sari Hadiati3. Julio Aria Nugraha4. Shyntiya Ayu5 1,4,5Prodi Agroteknologi. Universitas Gunadarma 2*Magister Arsitektur. Universitas Gunadarma 3Prodi Pariwisata. Universitas Gunadarma Email: 1budiman@staff. id, 2* irina_milda@staff. mulyasari@staff. id, 4jarianugraha@gmail. 5shyntiyaayu22@gmail. Article History: Received: 02-09-2025 Revised: 09-09-2025 Accepted: 04-10-2025 Keywords: Depok. Edu Agrowisata. Master Plan. Smart Agrotechnology Pariwisata Digital Abstract: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan teknis agroteknologi cerdas . mart agrotechnolog. , merancang Masterplan untuk penataan Kawasan Edu Agrowisata di lahan terbatas, menganalisis penerimaan masyarakat, serta merumuskan implikasi untuk promosi pariwisata melalui konten digital di pinggiran Kota Depok. Menggunakan metode studi kasus kualitatif dan kuantitatif, kegiatan pemberdayaan kemitraan masyarakat (PKM) ini mengintegrasikan sosialisasi, observasi, wawancara, dan kuesioner serta FGD di Kampung Lebak. Sawangan. Hasil evaluasi teknis menunjukkan bahwa teknologi seperti irigasi presisi, sensor lingkungan, dan pertanian vertikal layak diterapkan pada lahan terbatas. Dihasilkan pula konsep Masterplan dengan beberapa zonasi yang terintegrasi dengan teknologi. Penerimaan masyarakat terhadap konsep Kawasan Edu Agrowisata berbasis teknologi cenderung positif, namun terdapat kekhawatiran signifikan terkait kemudahan penggunaan, biaya, dan infrastruktur Kesimpulannya, pendekatan terpadu antara inovasi teknologi, perencanaan spasial, dan pemahaman sosial adalah kunci optimalisasi lahan terbatas. Temuan ini menyarankan bahwa narasi digital yang menyoroti keunggulan teknologi dan pengalaman pengunjung dapat menjadi strategi promosi pariwisata digital yang efektif. PENDAHULUAN Pertumbuhan populasi yang pesat di kawasan perkotaan, termasuk wilayah pinggiran seperti Depok, telah menimbulkan tekanan signifikan terhadap ketersediaan lahan. Fenomena lahan terbatas ini menjadi tantangan krusial yang menghambat pembangunan berkelanjutan, inovasi pemanfaatan ruang, serta kualitas hidup masyarakat. Keterbatasan fisik dan fragmentasi kepemilikan lahan di area perkotaan pinggiran seringkali menyebabkan lahan yang tersisa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan ekonomi produktif, yang berdampak pada kurangnya ruang hijau dan potensi http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 pengembangan wilayah. Di tengah keterbatasan ini, muncul potensi pengembangan sektor edu-agrowisata sebagai alternatif pemanfaatan lahan yang adaptif. Model edu-agrowisata menawarkan solusi inovatif yang tidak hanya berpotensi menghasilkan nilai ekonomi melalui pertanian dan pariwisata, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan rekreasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal serta kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dan lingkungan. Namun, efektivitas dan keberlanjutan model eduagrowisata di lahan terbatas ini sangat bergantung pada bagaimana teknologi dapat diadopsi untuk mengoptimalkan setiap jengkal lahan yang ada. Konsep teknologi cerdas . mart technolog. menawarkan solusi inovatif untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengelola sumber daya secara presisi, dan menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi Penerapan teknologi cerdas, mulai dari sistem pertanian presisi yang mengoptimalkan penggunaan air dan nutrisi, sensor untuk monitoring kondisi lingkungan dan tanaman, hingga platform manajemen informasi terintegrasi, berpotensi mentransformasi lahan terbatas menjadi ruang yang produktif, berkelanjutan, dan inovatif. Integrasi teknologi cerdas dalam pengembangan edu-agrowisata di lahan terbatas menjadi area penelitian yang penting, terutama di kawasan perkotaan pinggiran yang memiliki karakteristik unik, di mana inovasi pemanfaatan ruang menjadi kunci. Lebih lanjut, dalam era digital saat ini, promosi pariwisata memegang peranan sentral dalam menarik pengunjung dan membangun citra destinasi. Edu-agrowisata, dengan keunikan konsepnya yang memadukan pembelajaran dan rekreasi berbasis pertanian modern, memiliki potensi besar untuk dikomunikasikan secara efektif melalui narasi digital konten. Pembuatan konten yang menarik dan informatif, yang menyoroti aspek teknologi cerdas, proses edukatif, dan keindahan alam atau pertanian, dapat menjadi strategi kunci untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan daya saing destinasi di pasar pariwisata yang kompetitif. Oleh karena itu, penelitian yang mengintegrasikan evaluasi teknis smart agrotechnology, perancangan masterplan yang efisien, analisis penerimaan masyarakat, serta pemikiran awal mengenai strategi promosi pariwisata digital menjadi sangat relevan. Berdasarkan latar belakang tersebut, beberapa permasalahan utama yang dihadapi dalam optimalisasi lahan terbatas untuk pengembangan edu-agrowisata di pinggiran Kota Depok melalui inovasi smart agrotechnology dan strategi promosi pariwisata digital adalah: Bagaimana kelayakan teknis implementasi berbagai jenis smart agrotechnology yang sesuai untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi pada lahan terbatas dalam konteks edu-agrowisata? Bagaimana merancang sebuah masterplan yang terintegrasi antara kebutuhan fungsional edu-agrowisata, keterbatasan lahan, dan pemanfaatan smart agrotechnology secara Apa saja faktor-faktor penerimaan masyarakat . osial, ekonomi, buday. yang mempengaruhi adopsi dan keberlanjutan penerapan smart agrotechnology dalam pengembangan edu-agrowisata di kawasan perkotaan pinggiran Depok? Bagaimana implikasi temuan teknis, masterplan, dan penerimaan masyarakat terhadap perumusan strategi promosi pariwisata digital untuk edu-agrowisata yang Tujuan Penulisan Penulisan ini bertujuan untuk: Mengevaluasi kelayakan teknis dari berbagai inovasi smart agrotechnology yang relevan ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 untuk optimalisasi lahan terbatas dalam pengembangan edu-agrowisata di pinggiran Kota Depok. Menyusun konsep masterplan yang komprehensif untuk pengembangan edu-agrowisata berbasis smart agrotechnology pada lahan terbatas. Menganalisis secara mendalam faktor-faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang memengaruhi persepsi dan penerimaan masyarakat terhadap implementasi smart agrotechnology dalam konteks edu-agrowisata. Merumuskan implikasi temuan penelitian untuk strategi promosi pariwisata digital eduagrowisata yang dikembangkan. Manfaat Penulisan Penulisan ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut: Manfaat Teoritis: Memberikan kontribusi pada pengembangan literatur mengenai aplikasi smart agrotechnology dalam manajemen lahan terbatas, konsep edu-agrowisata perkotaan, model penerimaan inovasi di masyarakat, serta integrasi teknologi dalam strategi promosi pariwisata digital. Manfaat Praktis: Memberikan rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah, pengembang, pelaku usaha pertanian, dan masyarakat dalam merancang, mengimplementasikan, serta mengadopsi teknologi cerdas untuk optimalisasi lahan terbatas. Selain itu, penelitian ini akan memberikan panduan strategis untuk pengembangan sektor edu-agrowisata yang berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu dikomunikasikan secara efektif melalui narasi digital konten untuk menarik minat wisatawan di pinggiran Kota Depok. Ruang Lingkup Penulisan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini difokuskan pada area pinggiran Kota Depok, dengan studi kasus spesifik yang relevan dengan pengembangan edu-agrowisata pada lahan terbatas. Fokus utama analisis mencakup evaluasi teknis smart agrotechnology, perancangan masterplan, analisis faktor penerimaan masyarakat, dan perumusan implikasi untuk strategi promosi pariwisata digital. Penelitian ini tidak mencakup aspek teknis mendalam dari setiap perangkat smart agrotechnology secara individual, namun lebih pada integrasi dan kelayakannya dalam konteks aplikasi yang lebih luas, serta tidak melakukan implementasi penuh dari strategi promosi digital yang dirumuskan. LANDASAN TEORI Konsep Lahan Terbatas di Perkotaan Pertumbuhan populasi yang pesat di wilayah perkotaan secara global telah menyebabkan peningkatan permintaan akan ruang untuk permukiman, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi. Fenomena ini seringkali mengakibatkan konversi lahan pertanian dan ruang terbuka hijau menjadi area terbangun, yang pada akhirnya menciptakan kondisi lahan Lahan terbatas dapat diartikan sebagai area yang memiliki luasan kecil, bentuk tidak beraturan, sulit diakses, atau terfragmentasi, sehingga memerlukan pendekatan perencanaan dan pengelolaan yang inovatif dan cerdas untuk memaksimalkan potensinya. Keterbatasan lahan ini tidak hanya membatasi skala proyek pembangunan, tetapi juga mendorong perlunya strategi pemanfaatan ruang yang lebih efisien, adaptif, dan Di kawasan perkotaan pinggiran, di mana urbanisasi terus berlangsung, lahan terbatas menjadi semakin langka dan mahal, namun juga menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi ruang-ruang multifungsi yang dapat memberikan nilai tambah bagi http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 masyarakat dan lingkungan. Pengelolaan lahan terbatas yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang karakteristik spesifik lahan dan penerapan solusi yang sesuai dengan skala dan konteksnya. Konsep Smart Technology dan Aplikasinya dalam Pengelolaan Lahan/Pertanian Perkotaan Teknologi Cerdas (Smart Technolog. merujuk pada penggunaan berbagai teknologi digital, sensor, analisis data, konektivitas internet (IoT - Internet of Thing. , kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, keberlanjutan, dan pengambilan keputusan dalam berbagai sektor. Dalam konteks pertanian dan pengelolaan lahan perkotaan, smart technology telah merevolusi cara praktik pertanian dilakukan, terutama di area dengan keterbatasan ruang. Penerapan smart technology mencakup sistem irigasi presisi yang mengoptimalkan penggunaan air berdasarkan kebutuhan tanaman melalui sensor kelembaban tanah dan prakiraan cuaca, sensor tanah yang memantau nutrisi, pH, dan kelembaban, teknologi pertanian vertikal . ertical farmin. atau urban farming yang memaksimalkan penggunaan ruang vertikal, serta platform analitik data yang membantu petani dalam pengambilan keputusan agronomi yang lebih baik dan prediktif (Baxendale & Jones, 2021. Chen et al. , 2. Penggunaan teknologi ini tidak hanya berpotensi meningkatkan hasil panen, mengurangi konsumsi sumber daya . ir, energi, pupu. , tetapi juga memungkinkan pengelolaan lahan yang lebih responsif terhadap perubahan lingkungan, iklim, dan tantangan spesifik pertanian perkotaan. Konsep Edu-Agrowisata Edu-agrowisata merupakan sebuah konsep pengembangan pariwisata yang mengintegrasikan tiga pilar utama: edukasi, pertanian, dan rekreasi. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman belajar langsung kepada pengunjung mengenai praktik pertanian modern, teknik budidaya berkelanjutan, pengelolaan lingkungan, serta pemahaman tentang rantai pasok pangan dan potensi ekonomi dari sektor pertanian (Sari & Wijaya, 2. Konsep ini melampaui sekadar wisata alam atau agrikultural biasa, karena menekankan aspek interaksi dan pembelajaran aktif. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan proses produksi pertanian, mengenal teknologi yang digunakan, dan memahami pentingnya ketahanan pangan serta peran sektor pertanian dalam kehidupan perkotaan. Pengembangan edu-agrowisata di lahan terbatas menjadi sangat relevan karena dapat mengubah lahan yang mungkin kurang produktif atau sempit menjadi destinasi yang menarik, edukatif, dan bernilai tambah ekonomi, sekaligus membuka peluang partisipasi dan pemberdayaan bagi masyarakat lokal (Haryono & Kusuma, 2. Prinsip-prinsip Penataan Masterplan Masterplan adalah dokumen perencanaan strategis jangka panjang yang berfungsi sebagai peta jalan untuk pengembangan suatu wilayah, kawasan, atau proyek. Dalam konteks pengembangan edu-agrowisata di lahan terbatas, masterplan berfokus pada penataan ruang yang efisien, penentuan zonasi fungsi yang jelas . isalnya, area produksi pertanian, area edukasi interaktif, area rekreasi dan komersial, area sirkulasi, serta fasilitas pendukun. , serta integrasi infrastruktur yang esensial (Putra & Amalia, 2. Prinsip-prinsip utama dalam penyusunan masterplan yang efektif mencakup keberlanjutan . ingkungan, sosial, ekonom. , efisiensi penggunaan lahan semaksimal mungkin, aksesibilitas yang memadai bagi pengunjung dan operasional, keamanan, kenyamanan, serta koherensi visual dan fungsional antara seluruh elemen kawasan. Khusus untuk lahan terbatas, masterplan harus secara ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 cermat mengalokasikan ruang untuk berbagai fungsi agar setiap area dapat beroperasi secara optimal tanpa mengorbankan fungsi lainnya. Teori Penerimaan Teknologi/Inovasi oleh Masyarakat Penerimaan dan adopsi teknologi baru oleh masyarakat merupakan faktor krusial yang menentukan keberhasilan implementasi dan keberlanjutannya. Salah satu kerangka teori yang paling berpengaruh dalam bidang ini adalah Technology Acceptance Model (TAM) yang pertama kali diperkenalkan oleh Davis . TAM mengemukakan bahwa penerimaan pengguna terhadap suatu sistem teknologi informasi dipengaruhi oleh dua keyakinan utama: persepsi kemanfaatan . erceived usefulnes. Ae sejauh mana seseorang percaya bahwa teknologi tersebut akan meningkatkan kinerjanya, dan persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. Ae sejauh mana seseorang percaya bahwa teknologi tersebut mudah digunakan. Kedua keyakinan ini kemudian membentuk sikap terhadap penggunaan teknologi, yang pada gilirannya memengaruhi niat perilaku untuk Seiring waktu. TAM telah diperluas dan dimodifikasi untuk memasukkan berbagai variabel eksternal seperti pengalaman sebelumnya, dukungan organisasi, faktor sosial, dan karakteristik individu (Venkatesh & Davis, 2. Dalam konteks penelitian ini, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan masyarakat lokal terhadap smart agrotechnology dalam pengembangan edu-agrowisata sangat penting untuk memastikan adopsi yang efektif dan keberlanjutan jangka panjang. Konsep Pemasaran Pariwisata Digital dan Narasi Konten Di era digital, strategi pemasaran pariwisata telah mengalami transformasi signifikan. Pemasaran pariwisata digital memanfaatkan berbagai platform online dan teknologi digital untuk mempromosikan destinasi, produk wisata, dan pengalaman kepada calon wisatawan. Ini mencakup penggunaan media sosial, situs web interaktif, optimasi mesin pencari (SEO), periklanan online, dan pemasaran konten. Inti dari pemasaran pariwisata digital adalah kemampuan untuk menciptakan dan mendistribusikan konten yang menarik, relevan, dan bernilai bagi audiens target (Buhalis & Law, 2. Narasi konten . ontent narrativ. merujuk pada cara cerita atau informasi disajikan untuk membangun koneksi emosional dan intelektual dengan audiens. Dalam konteks edu-agrowisata, narasi digital konten dapat menyoroti keunikan teknologi cerdas yang digunakan, proses edukatif yang menarik, keberlanjutan praktik pertanian, serta keindahan alam atau pengalaman unik yang Konten yang efektif tidak hanya menginformasikan, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi orang untuk berkunjung. Keberhasilan promosi pariwisata digital sangat bergantung pada kemampuan untuk menciptakan cerita yang kuat dan menyampaikannya melalui saluran yang tepat. Penelitian Terdahulu yang Relevan Berbagai penelitian telah mengeksplorasi aspek-aspek yang relevan dengan penelitian ini. Dalam bidang aplikasi teknologi cerdas pada pertanian perkotaan. Lee et al. menemukan bahwa implementasi sensor Internet of Things (IoT) untuk irigasi presisi di kebun vertikal perkotaan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 30%. Studi serupa oleh Chen et al. menyoroti bagaimana sensor lingkungan dan sistem kontrol otomatis dapat mengoptimalkan kondisi tumbuh tanaman di lingkungan perkotaan yang Dalam konteks ekonomi dan potensi edu-agrowisata. Gunawan & Wibowo . menganalisis potensi ekonomi edu-agrowisata di Jawa Barat, menekankan pentingnya diversifikasi produk, atraksi edukatif yang menarik, dan keterlibatan masyarakat lokal untuk http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 mencapai keberlanjutan. Penelitian mengenai penerimaan teknologi di sektor pertanian juga telah banyak dilakukan, misalnya studi oleh Rahmawati & Santoso . yang mengidentifikasi bahwa faktor kepercayaan, dukungan pemerintah, dan literasi digital menjadi kunci adopsi platform digital oleh petani milenial. Sementara itu, studi tentang pemasaran pariwisata digital banyak menggarisbawahi peran konten yang kuat dalam menarik wisatawan (Buhalis & Law, 2. Namun, terdapat celah penelitian yang spesifik mengintegrasikan evaluasi teknis smart agrotechnology yang relevan untuk lahan terbatas, perancangan masterplan yang holistik, analisis penerimaan masyarakat yang mendalam, serta implikasinya terhadap perumusan strategi promosi pariwisata digital dalam konteks edu-agrowisata di kawasan perkotaan pinggiran. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan memberikan pandangan terpadu. METODE Tulisan ini menggunakan pendekatan original research dengan metode studi kasus kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan ini dipilih untuk memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap fenomena optimalisasi lahan terbatas melalui inovasi smart agrotechnology untuk pengembangan edu-agrowisata dalam konteks spesifik di pinggiran Kota Depok, serta analisis penerimaan masyarakat yang komprehensif. Kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif . ixed method. memberikan landasan empiris yang kuat dengan mengintegrasikan kedalaman pemahaman kualitatif dari wawancara dan observasi dengan keluasan data kuantitatif dari kuesioner, sehingga menghasilkan temuan yang lebih holistik dan valid. Data primer dikumpulkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan sebelumnya, yang memberikan konteks lapangan dan akses terhadap subjek penelitian yang relevan, berisi deskripsi tentang proses perencanaan aksi bersama komunitas . engorganisasian komunita. Dalam hal ini dijelaskan siapa subyek pengabdian, tempat dan lokasi pengabdian, keterlibatan subyek dampingan dalam proses perencanaan dan pengorganisasian komunitas, metode atau strategi riset yang digunakan dalam mencapai tujuan yang diharapan dan tahapan-tahapan kegiatan pengabdian Persiapan dan Sosialisasi Laporan Akhir dan Rencana Berkelanjutan Pelatihan dan Pendampingan Monev Laporan Kemajuan Gambar 1. Diagram Pentahapan Kegiatan Lokasi dan Waktu Penelitian ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 Penelitian dilakukan di sebuah kawasan pinggiran Kota Depok yang memiliki potensi pengembangan edu-agrowisata namun terkendala oleh keterbatasan lahan. Lokasi spesifik yang dipilih adalah Kampung Lebak. Kelurahan Sawangan. Kecamatan Sawangan. Kota Depok. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kriteria adanya inisiatif pengembangan lahan terbatas yang sudah berjalan . elalui kegiatan pengabdian masyaraka. , potensi lahan yang dapat dioptimalkan, serta karakteristik demografis dan geografis yang mewakili tantangan di perkotaan pinggiran. Waktu pelaksanaan pengumpulan data lapangan disesuaikan dengan siklus kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah berjalan, yaitu pada periode Agustus 2025 hingga Oktober 2025. Rentang waktu ini dianggap memadai untuk melakukan observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner secara efektif. Subjek dan Objek Penelitian Objek Penelitian: Fokus utama penelitian ini adalah optimalisasi lahan terbatas untuk pengembangan edu-agrowisata melalui implementasi smart technology, yang mencakup proses penataan masterplan yang terintegrasi dan analisis faktor penerimaan masyarakat terhadap inovasi tersebut. Subjek Penelitian: Subjek penelitian yang dilibatkan untuk mendapatkan perspektif yang beragam meliputi: Tokoh Masyarakat/Pemimpin Komunitas Lokal: Bertugas memberikan pandangan mengenai kebutuhan, aspirasi, tantangan sosial-budaya, dan persepsi masyarakat terhadap potensi pengembangan wilayah. Pelaku Usaha/Pengelola Potensial Lahan: Individu atau kelompok yang memiliki atau mengelola lahan terbatas dan berpotensi mengembangkan konsep edu-agrowisata. Mereka diharapkan memberikan insight mengenai aspek teknis, operasional, dan . Masyarakat Lokal (Calon Pengunjung/Pesert. : Kelompok ini menjadi responden utama dalam penyebaran kuesioner untuk mengukur persepsi dan penerimaan mereka terhadap konsep edu-agrowisata berbasis teknologi, serta potensi kunjungan Metode Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui beberapa teknik triangulasi untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan, serta untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif: Observasi Lapangan: Dilakukan secara langsung di lokasi studi kasus untuk mengamati kondisi fisik lahan yang terbatas, pemanfaatan ruang yang ada, infrastruktur pendukung, serta aktivitas masyarakat. Observasi juga mencakup identifikasi potensi integrasi teknologi dan karakteristik lingkungan sekitar. Wawancara Mendalam (In-depth Intervie. : Dilakukan dengan tokoh masyarakat, pelaku usaha potensial, dan perwakilan pemerintah . ika ad. untuk menggali informasi kualitatif mengenai tantangan lahan terbatas, potensi edu-agrowisata, kebutuhan teknis, pandangan terhadap smart technology, serta faktor-faktor sosial dan budaya yang memengaruhi penerimaan masyarakat. Penyebaran Kuesioner: Kuesioner terstruktur disiapkan untuk mengukur persepsi kemanfaatan . erceived usefulnes. dan persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. dari smart agrotechnology, serta faktor-faktor lain yang memengaruhi penerimaan masyarakat . erdasarkan modifikasi TAM dan variabel relevan lainny. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 Kuesioner disebarkan kepada calon pengunjung atau masyarakat lokal yang menjadi target audiens edu-agrowisata. Analisis Dokumen: Data sekunder dikumpulkan melalui analisis dokumen terkait tata ruang wilayah Kota Depok, rencana pengembangan kawasan, laporan kegiatan pengabdian masyarakat sebelumnya, serta kajian literatur yang relevan dengan teknologi yang diusulkan dan konsep edu-agrowisata. Metode Analisis Data Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan metode berikut: Analisis Kualitatif: Data dari observasi dan wawancara mendalam akan dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan insight kunci terkait tantangan lahan, konsep masterplan, serta faktor-faktor penerimaan Analisis Kuantitatif: Data dari kuesioner akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif . rekuensi, persentase, mea. untuk menggambarkan karakteristik responden dan tingkat penerimaan. Analisis inferensial . isalnya, uji korelasi atau regresi sederhana, tergantung jumlah responden dan variabe. dapat digunakan untuk menguji hubungan antar variabel yang memengaruhi penerimaan masyarakat. Analisis Teknis: Data terkait kelayakan teknologi akan dievaluasi berdasarkan spesifikasi teknis, ketersediaan di pasar, perkiraan biaya implementasi, dan potensi efisiensi yang ditawarkan, dengan merujuk pada literatur dan data teknis produk. Perancangan Masterplan: Konsep masterplan akan dikembangkan melalui sintesis temuan dari analisis kualitatif, kuantitatif, dan evaluasi teknis, dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip perencanaan tata ruang yang efisien, berkelanjutan, dan berorientasi pada pengalaman pengunjung. HASIL Deskripsi Lokasi Studi Kasus dan Konteks Edu-Agrowisata Penelitian ini difokuskan pada sebuah area spesifik di pinggiran Kota Depok, yaitu Kampung Lebak. Kelurahan Sawangan. Kecamatan Sawangan. Kota Depok Kawasan ini dipilih karena merepresentasikan tantangan umum yang dihadapi oleh banyak wilayah perkotaan pinggiran: pertumbuhan permukiman yang pesat telah mendesak keberadaan lahan pertanian, menyisakan area yang semakin terbatas dan terfragmentasi. Kampung Lebak dicirikan oleh topografi yang relatif datar hingga sedikit bergelombang, dengan kedekatan geografis terhadap sungai Pesanggrahan. Luasan lahan yang tersisa untuk potensi pertanian dan pengembangan kini sangat terbatas, seringkali dimiliki oleh beberapa keluarga dengan ukuran petak yang kecil, menjadikannya sebagai representasi ideal untuk studi kasus lahan terbatas. Meskipun menghadapi keterbatasan lahan yang signifikan. Kampung Lebak menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan menjadi destinasi edu-agrowisata. Potensi ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Pertama, lokasinya yang strategis di pinggiran Depok memberikan aksesibilitas yang baik bagi penduduk dari wilayah Jabodetabek yang mencari alternatif rekreasi dan edukasi di luar hiruk pikuk kota. Kedua, terdapat sisa lahan yang masih dapat dioptimalkan untuk budidaya sayuran organik, tanaman obat, herba aromatik, atau bahkan perikanan skala kecil, yang dapat menjadi daya tarik edukatif. Ketiga, kegiatan pengabdian masyarakat yang mendahului penelitian ini telah berhasil membangun antusiasme awal di kalangan sebagian masyarakat ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 lokal terhadap ide pengembangan usaha berbasis pertanian inovatif. Keempat, meningkatnya kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan dan kebutuhan edukasi bagi generasi muda mengenai asal-usul makanan serta praktik pertanian berkelanjutan, menjadikan konsep edu-agrowisata sangat relevan. Dalam konteks ini, visi pengembangan edu-agrowisata di Kampung Lebak adalah untuk mentransformasi lahan terbatas menjadi sebuah ekosistem terpadu yang menggabungkan aktivitas pertanian produktif, pembelajaran interaktif, dan pengalaman rekreasi yang menyenangkan, dengan teknologi cerdas sebagai enabler utama untuk efisiensi dan daya tarik. Evaluasi Teknis Implementasi Smart Technology Untuk memaksimalkan potensi lahan terbatas dalam pengembangan edu-agrowisata, integrasi smart agrotechnology menjadi krusial guna meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, dan pengalaman edukatif. Berdasarkan kajian literatur dan konteks lapangan, beberapa inovasi smart technology diidentifikasi memiliki kelayakan teknis yang tinggi dan relevansi spesifik untuk diterapkan pada skala lahan terbatas di kawasan perkotaan pinggiran seperti Depok. Evaluasi ini berfokus pada teknologi yang dapat mengatasi tantangan lahan sempit, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta menyajikan aspek demonstratif yang menarik bagi pengunjung. Sistem Irigasi Presisi (Precision Irrigation System. Deskripsi Teknis: Sistem ini memanfaatkan sensor kelembaban tanah, sensor cuaca, dan controller otomatis untuk mendistribusikan air irigasi secara tepat sesuai kebutuhan spesifik tanaman, waktu, dan lokasi. Teknologi ini seringkali terintegrasi dengan sistem drip irrigation atau fertigation . emberian nutrisi cair bersamaan dengan irigas. untuk efisiensi Relevansi untuk Lahan Terbatas & Edu-Agrowisata: Pada lahan terbatas, manajemen air yang efisien adalah kunci untuk menghindari pemborosan dan memastikan tanaman tumbuh optimal. Sistem ini dapat mengurangi penggunaan air hingga 30-50% dibandingkan metode konvensional (Lee et al. , 2. , yang sangat penting di area perkotaan yang sumber airnya bisa terbatas. Dari sisi edukasi, demonstrasi sistem irigasi presisi ini menjadi daya tarik kuat bagi pengunjung untuk memahami konsep pertanian berkelanjutan dan efisiensi sumber daya. Ketersediaan komponen yang relatif terjangkau dan kemudahan instalasi untuk skala menengah membuatnya layak dipertimbangkan. Sensor Monitoring Lingkungan dan Tanaman Deskripsi Teknis: Meliputi berbagai jenis sensor yang dirancang untuk memantau parameter kunci pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungan, seperti suhu udara dan tanah, kelembaban udara, intensitas cahaya, pH, dan konduktivitas listrik (EC) tanah. Data yang dikumpulkan dapat diintegrasikan ke dalam dashboard atau aplikasi mobile untuk analisis real-time. Relevansi untuk Lahan Terbatas & Edu-Agrowisata: Di lahan yang sempit, setiap parameter lingkungan memiliki dampak signifikan terhadap hasil panen. Sensor ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi masalah . isalnya, serangan hama, kekurangan nutrisi, atau stres ai. , sehingga kerugian hasil panen dapat diminimalkan. Secara edukatif, pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi digunakan untuk memantau kesehatan tanaman dan lingkungan, yang sangat relevan dengan konsep pertanian organik atau berkelanjutan. Sistem Pertanian Vertikal/Hidroponik Sederhana (Urban Farming Module. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 Deskripsi Teknis: Merupakan solusi inovatif untuk memaksimalkan produksi pada ruang horizontal yang sangat terbatas. Sistem ini melibatkan penanaman tanaman dalam rak bertingkat . ertical farmin. atau di media tanam tanpa tanah dengan pasokan nutrisi terkontrol . , seringkali dikombinasikan dengan pencahayaan LED yang Relevansi untuk Lahan Terbatas & Edu-Agrowisata: Teknologi ini secara dramatis meningkatkan hasil panen per meter persegi, menjadikannya sangat ideal untuk menanam sayuran daun, herba, atau buah-buahan kecil di lahan yang sangat sempit. Dari sisi edukasi, ini merupakan demonstrasi teknologi pertanian modern yang efisien, ramah lingkungan, dan minim lahan. Modul yang dapat diskalakan memungkinkan implementasi bertahap sesuai ketersediaan lahan dan anggaran. Platform Manajemen Pertanian Terintegrasi (Basic Agri-Management Platfor. Deskripsi Teknis: Sebuah software atau aplikasi yang berfungsi sebagai pusat kendali untuk mengintegrasikan data dari berbagai sensor dan perangkat smart technology. Platform ini memungkinkan pengelola untuk memantau, menganalisis, dan mengontrol seluruh sistem pertanian dari satu antarmuka, mencakup penjadwalan irigasi, pemantauan kesehatan tanaman, pencatatan panen, dan prediksi kebutuhan sumber daya. Relevansi untuk Lahan Terbatas & Edu-Agrowisata: Memberikan gambaran operasional yang utuh dan kontrol terpusat, yang sangat penting untuk pengelolaan lahan dan sumber daya yang presisi di area terbatas. Bagi aspek edukasi, platform ini dapat disajikan kepada pengunjung sebagai "pusat komando" pertanian modern, menunjukkan peran data dan teknologi dalam pengambilan keputusan agronomi yang cerdas. Kelayakan Umum dan Integrasi: Secara umum, teknologi ini menunjukkan kelayakan teknis yang kuat untuk diterapkan dalam skala yang dapat disesuaikan di lahan terbatas. Integrasi antar sistem . isalnya, sensor lingkungan yang terhubung ke platform manajeme. akan meningkatkan efektivitas secara keseluruhan. Tantangan utama yang perlu diatasi untuk implementasi yang sukses meliputi biaya awal investasi, kebutuhan akan pasokan listrik yang andal, ketersediaan tenaga ahli untuk instalasi dan pemeliharaan, serta pelatihan yang memadai bagi pengelola dan masyarakat. Namun, dengan fokus pada solusi yang relatif terjangkau, mudah dioperasikan, dan memiliki potensi demonstrasi edukatif yang kuat, implementasi teknologi ini sangat memungkinkan. Konsep Penataan Masterplan Edu-Agrowisata Berbasis Smart Technology Untuk memaksimalkan potensi lahan terbatas dalam pengembangan edu-agrowisata yang didukung oleh smart technology, sebuah konsep masterplan yang terintegrasi dan efisien menjadi esensial. Masterplan ini dirancang tidak hanya untuk menata ruang secara fungsional, tetapi juga untuk mengintegrasikan teknologi cerdas sebagai tulang punggung operasional dan edukatif, serta menciptakan pengalaman yang optimal bagi pengunjung. Konsep ini berlandaskan pada prinsip efisiensi penggunaan lahan, keberlanjutan lingkungan, dan daya tarik edukatif-rekreatif yang kuat. Masterplan ini mengusulkan pembagian lahan terbatas yang tersedia ke dalam beberapa zona spesifik, dengan alokasi area yang proporsional berdasarkan fungsi, kebutuhan integrasi teknologi, dan pengalaman pengunjung yang diinginkan: Zona Produksi Pertanian Cerdas (Smart Farming Zon. Deskripsi: Merupakan area inti untuk aktivitas pertanian, di mana berbagai ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 komoditas yang sesuai dengan kondisi lokal dan pasar . isalnya, sayuran organik, herba aromatik, buah-buahan kecil, atau jamu. akan dibudidayakan. Di zona ini, berbagai smart technology akan diimplementasikan secara demonstratif untuk edukasi dan efisiensi. Implementasi Teknologi: Pertanian vertikal/hidroponik akan ditempatkan pada area yang paling sempit atau vertikal untuk memaksimalkan hasil per satuan luas. Sistem irigasi presisi dan sensor lingkungan akan diintegrasikan pada bedengan tanam atau media tanam untuk demonstrasi efisiensi air dan monitoring kondisi tanaman secara real-time. Sebuah area demonstrasi IoT (Internet of Thing. dapat disediakan, di mana pengunjung dapat melihat data langsung dari sensor melalui layar interaktif. Fungsi Edukatif: Pengunjung dapat belajar langsung tentang teknik budidaya modern yang efisien, cara kerja sensor, dan pentingnya data dalam pertanian presisi. Zona Edukasi Interaktif (Interactive Learning Zon. Deskripsi: Area ini didedikasikan untuk kegiatan pembelajaran langsung dan Dapat berupa ruang kelas terbuka, area workshop, atau ruang display teknologi yang dirancang untuk kenyamanan dan partisipasi pengunjung. Implementasi Teknologi: Penggunaan layar interaktif atau tablet untuk menampilkan informasi detail tentang tanaman, proses budidaya, konsep smart agrotechnology, serta kuis interaktif. Simulasi teknologi sederhana, seperti penggunaan smart irrigation controller atau interpretasi data dari sensor, dapat disediakan. Area ini juga berfungsi sebagai ruang presentasi untuk sesi edukasi oleh pengelola atau pakar. Fungsi Edukatif: Memberikan pemahaman mendalam tentang aspek teoritis dan praktis dari pertanian cerdas dan konsep edu-agrowisata. Zona Penerima & Rekreasi (Visitor Information & Recreation Zon. Deskripsi: Mencakup jalur pejalan kaki yang nyaman, area istirahat, taman kecil, atau spot foto yang dirancang untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman pengunjung. Implementasi Teknologi: Penerangan cerdas . mart lightin. menggunakan lampu bertenaga surya dengan sensor gerak untuk efisiensi energi dan keamanan. Sistem informasi digital, seperti papan informasi interaktif atau QR Code yang mengarahkan ke informasi detail di gawai pengunjung, akan mempermudah navigasi dan memberikan informasi Fungsi Edukatif & Rekreatif: Memberikan pengalaman yang menyenangkan, mudah dinavigasi, dan menunjukkan bagaimana teknologi dapat meningkatkan kenyamanan dan efisiensi operasional di area publik. Zona Pendukung (Supporting Zon. Deskripsi: Area minimal yang mencakup fasilitas pendukung seperti area penerimaan pengunjung, pos penjagaan, toilet, dan area kecil untuk penjualan produk hasil pertanian atau suvenir. Implementasi Teknologi: Sistem manajemen informasi loket atau penjualan sederhana menggunakan aplikasi kasir digital atau sistem POS (Point of Sal. untuk efisiensi Fungsi Operasional: Mendukung kelancaran operasional dan kenyamanan pengunjung secara keseluruhan. Integrasi Teknologi dalam Masterplan: Seluruh zona akan dihubungkan melalui konsep smart connectivity. Data dari berbagai sensor dan sistem akan dikumpulkan dan dikelola oleh platform manajemen http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 pertanian terintegrasi, yang berperan sebagai "otak" dari seluruh operasional. Platform ini memungkinkan pengelola untuk memantau kondisi lahan, mengontrol irigasi dan pencahayaan, serta menganalisis data untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Dari sisi pengunjung, integrasi ini menciptakan pengalaman yang kohesif, di mana teknologi terlihat berfungsi di berbagai titik dan berkontribusi pada efisiensi serta daya tarik Masterplan ini dirancang agar fleksibel, memungkinkan penyesuaian seiring ketersediaan lahan yang sebenarnya, anggaran, dan perkembangan teknologi di masa depan Analisis Faktor Penerimaan Masyarakat Penerimaan masyarakat terhadap implementasi smart agrotechnology dalam konteks pengembangan edu-agrowisata di lahan terbatas merupakan faktor krusial bagi keberhasilan dan keberlanjutan program ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 20 orang responden masyarakat lokal dan wawancara mendalam dengan 5 orang informan pelaku usaha potensial serta tokoh masyarakat, analisis menunjukkan beberapa faktor kunci yang memengaruhi persepsi dan kesiapan masyarakat di Kampung Lebak. Sawangan. Depok. Persepsi Kemanfaatan (Perceived Usefulnes. Mayoritas responden . ekitar 75%) menyatakan persepsi kemanfaatan yang tinggi terhadap konsep edu-agrowisata yang didukung oleh teknologi cerdas. Mereka melihat potensi teknologi ini sebagai alat yang dapat: Meningkatkan Produktivitas Lahan: Dengan irigasi yang lebih efisien dan monitoring lingkungan yang akurat, hasil panen diharapkan lebih baik dan konsisten meskipun lahan yang tersedia sempit. Ini menjadi daya tarik utama bagi mereka yang memiliki keterbatasan lahan pertanian. Menarik Pengunjung dan Menciptakan Atraksi Unik: Konsep "pertanian modern" dan "teknologi canggih" dianggap sebagai elemen yang dapat membedakan edu-agrowisata ini dari destinasi wisata lainnya, berpotensi menarik minat pengunjung kota yang mencari pengalaman baru. Menciptakan Peluang Ekonomi Baru: Adanya pengembangan usaha di sekitar area edu-agrowisata, seperti penjualan produk segar, paket edukasi, atau jasa pendukung lainnya, dipandang positif sebagai sumber pendapatan tambahan bagi komunitas. Namun, sebagian kecil responden . ekitar 15%) masih menunjukkan keraguan mengenai efektivitas teknologi pada skala lahan yang benar-benar kecil atau bagaimana teknologi tersebut dapat diaplikasikan secara praktis pada kondisi lahan spesifik mereka. Persepsi Kemudahan Penggunaan (Perceived Ease of Us. Tingkat persepsi kemudahan penggunaan menunjukkan variasi yang lebih besar di antara responden. Sekitar 40% responden merasa yakin bahwa teknologi yang didemonstrasikan dalam kegiatan pengabdian masyarakat . eperti panel kontrol irigasi sederhana atau aplikasi monitoring dasa. relatif mudah dipelajari dan dioperasikan, terutama jika didukung oleh pendampingan yang memadai. Mereka melihat antarmuka yang disajikan cenderung intuitif. Sebaliknya, sebagian besar responden . ekitar 50%) mengungkapkan kekhawatiran mengenai kompleksitas operasional dan kebutuhan keterampilan teknis yang mungkin belum mereka miliki. Kekhawatiran ini terutama muncul dari segmen masyarakat yang memiliki literasi digital lebih rendah atau belum terbiasa dengan penggunaan perangkat teknologi canggih. Mereka secara eksplisit menyatakan kebutuhan akan pelatihan yang ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 intensif dan dukungan teknis berkelanjutan agar dapat merasa nyaman dalam mengoperasikan teknologi tersebut. Faktor Sosial dan Budaya Dukungan Komunitas dan Kepercayaan: Mayoritas responden . ekitar 80%) menyambut baik ide pengembangan edu-agrowisata sebagai inisiatif yang berpotensi membawa manfaat positif bagi komunitas, seperti peningkatan lapangan kerja, promosi daerah, dan penguatan identitas lokal. Namun, partisipasi aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatan teknologi masih perlu didorong. Kepercayaan terhadap teknologi baru seringkali dipengaruhi oleh pandangan dan pengalaman orang-orang di oleh karena itu, demonstrasi yang berhasil dan testimoni positif dari pengguna awal akan sangat krusial. Kearifan Lokal vs. Teknologi Baru: Sebagian masyarakat masih memiliki keterikatan kuat dengan metode pertanian tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Diperlukan edukasi yang baik untuk menunjukkan bagaimana smart technology dapat melengkapi dan meningkatkan praktik pertanian yang ada, bukan menggantikannya sepenuhnya, sehingga nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga. Faktor Ekonomi dan Infrastruktur Biaya Implementasi dan Pemeliharaan: Kekhawatiran mengenai biaya awal investasi untuk pengadaan teknologi dan biaya pemeliharaan jangka panjang menjadi isu penting bagi sebagian pelaku usaha potensial dan petani. Mereka membutuhkan informasi yang jelas mengenai model bisnis yang menguntungkan dan potensi dukungan finansial atau Ketersediaan Infrastruktur Pendukung: Akses terhadap pasokan listrik yang stabil dan konektivitas internet yang memadai menjadi prasyarat fundamental bagi banyak aplikasi smart technology. Di beberapa titik di pinggiran Depok, ketersediaan infrastruktur ini masih menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk implementasi teknologi yang efektif (Rahmawati & Santoso, 2. Faktor Kebijakan dan Dukungan Institusional Dukungan yang kuat dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk regulasi yang kondusif maupun bantuan teknis dan finansial, sangat diharapkan oleh masyarakat. Adanya program pendampingan yang berkelanjutan dari lembaga seperti perguruan tinggi . elalui kegiatan pengabdian masyaraka. juga dinilai sangat membantu dalam mengatasi kesenjangan pengetahuan dan keterampilan. Secara keseluruhan, penerimaan masyarakat terhadap konsep edu-agrowisata dan potensi smart technology cenderung positif, namun terdapat kesenjangan yang signifikan terkait persepsi kemudahan penggunaan, kekhawatiran akan biaya, dan ketergantungan pada infrastruktur pendukung. Pendekatan implementasi yang menekankan pada pelatihan yang relevan, demonstrasi yang terbukti berhasil, dan dukungan berkelanjutan akan menjadi kunci untuk mengatasi hambatan-hambatan ini. Integrasi Temuan dan Diskusi Temuan dari studi kasus di Kampung Lebak, pinggiran Kota Depok, ini secara meyakinkan menggarisbawahi bahwa optimalisasi lahan terbatas untuk pengembangan eduagrowisata melalui integrasi smart technology dan masterplan yang matang adalah sebuah pendekatan yang sangat potensial. Evaluasi teknis menunjukkan bahwa teknologi seperti sistem irigasi presisi, sensor lingkungan, dan modul pertanian vertikal/hidroponik memiliki kelayakan teknis yang baik untuk skala yang dapat disesuaikan, sejalan dengan temuan http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Oktober 2025 penelitian sebelumnya (Lee et al. , 2023. Chen et al. , 2. mengenai efisiensi sumber daya dan potensi adaptasi di lingkungan perkotaan. Konsep masterplan yang diusulkan, dengan zonasi yang terstrukturAimeliputi area produksi cerdas, edukasi interaktif, kunjungan rekreasi, dan fasilitas pendukungAimemberikan kerangka kerja fungsional untuk mengintegrasikan teknologi ini ke dalam tata ruang yang efisien. Ini memastikan bahwa setiap jengkal lahan dimanfaatkan secara optimal untuk tujuan produksi, edukasi, dan rekreasi, selaras dengan prinsip-prinsip perencanaan tata ruang yang efisien pada lahan sempit (Putra & Amalia, 2. Namun, keberhasilan implementasi dan keberlanjutan dari konsep ini sangat bergantung pada penerimaan masyarakat. Analisis faktor penerimaan menunjukkan bahwa meskipun terdapat persepsi kemanfaatan yang tinggi terhadap konsep edu-agrowisata dan potensi teknologi cerdas . ejalan dengan teori TAM oleh Davis, 1. , tantangan signifikan muncul dari aspek persepsi kemudahan penggunaan, kekhawatiran akan biaya investasi dan pemeliharaan, serta ketergantungan pada infrastruktur pendukung seperti listrik dan internet yang stabil (Rahmawati & Santoso, 2. Kesenjangan antara potensi teknis yang terbukti dan kesiapan adopsi masyarakat mengindikasikan perlunya strategi implementasi yang berfokus pada pelatihan yang intensif, demonstrasi yang relevan dan terbukti berhasil, serta dukungan teknis dan kelembagaan yang berkelanjutan. Kedua, pemahaman mengenai persepsi masyarakat terhadap kemudahan penggunaan dan kemanfaatan dapat membentuk narasi yang lebih relevan bagi calon Jika masyarakat lokal masih ragu akan kemudahan penggunaan teknologi, konten digital dapat secara proaktif menunjukkan bagaimana teknologi tersebut dirancang agar mudah diakses oleh pengunjung, atau bagaimana teknologi tersebut mempermudah proses belajar dan pengalaman mereka. Misalnya, konten yang menjelaskan bagaimana pengunjung dapat berinteraksi dengan sensor melalui aplikasi atau layar interaktif. Ketiga, masterplan yang terstruktur dan zonasi yang jelas memberikan dasar untuk konten yang terorganisir. Setiap zona dapat menjadi fokus konten terpisah, misalnya, video tur singkat di Zona Produksi Cerdas, atau sesi tanya jawab virtual dengan pengelola di Zona Edukasi Interaktif. Narasi yang kuat dapat dibangun dengan menghubungkan aspek edukatif, keberlanjutan, dan pengalaman unik yang ditawarkan di setiap zona, serta bagaimana teknologi mendukung semua itu. Secara keseluruhan, pengembangan edu-agrowisata di lahan terbatas bukan hanya tentang inovasi teknologi dan perencanaan spasial, tetapi juga tentang membangun kapasitas masyarakat dan menciptakan cerita yang menarik untuk dipromosikan. Tanpa strategi implementasi yang matang yang mempertimbangkan aspek teknis, spasial, dan sosial, potensi ini bisa terhambat. Keterbatasan Penulisan: Penulisan ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, studi kasus difokuskan pada satu lokasi spesifik di pinggiran Kota Depok, sehingga generalisasi temuan ke wilayah lain perlu dilakukan dengan hati-hati. Kedua, analisis penerimaan masyarakat didasarkan pada persepsi awal dan data dari kegiatan pengabdian yang mungkin belum mencerminkan adopsi jangka panjang atau pengalaman penggunaan teknologi secara mandiri. Ketiga, evaluasi teknis bersifat konseptual berdasarkan literatur dan observasi awal, belum mencakup uji coba teknis mendalam di lapangan dalam skala penuh. KESIMPULAN ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 5 Oktober 2025 Penelitian ini telah berhasil mengeksplorasi potensi optimalisasi lahan terbatas untuk pengembangan edu-agrowisata di pinggiran Kota Depok melalui integrasi teknologi cerdas, perancangan masterplan yang matang, serta analisis mendalam terhadap faktor penerimaan Temuan utama penelitian ini dapat dirangkum sebagai berikut: Kelayakan Teknis Teknologi Cerdas: Berbagai inovasi smart agrotechnology, seperti sistem irigasi presisi, sensor lingkungan, dan modul pertanian vertikal/hidroponik, teridentifikasi memiliki kelayakan teknis yang baik untuk diterapkan pada lahan Teknologi ini menawarkan potensi signifikan dalam peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya . ir, energi, nutris. dan produktivitas pertanian, yang sangat relevan untuk konteks lahan sempit di perkotaan. Konsep Masterplan Terintegrasi: Konsep masterplan yang mengusulkan zonasi spesifikAimeliputi area produksi cerdas, edukasi interaktif, kunjungan rekreasi, dan fasilitas pendukungAidengan penekanan pada pemanfaatan ruang secara efisien dan integrasi konektivitas teknologi, dapat menjadi kerangka kerja yang efektif untuk pengembangan edu-agrowisata di lahan sempit. Masterplan ini dirancang untuk memaksimalkan fungsi setiap area dan pengalaman pengunjung. Faktor Penerimaan Masyarakat: Penerimaan masyarakat terhadap konsep eduagrowisata berbasis teknologi cenderung positif, didorong oleh persepsi kemanfaatan yang tinggi terhadap potensi ekonomi dan edukatif. Namun, terdapat tantangan signifikan yang perlu diatasi, yaitu pada persepsi kemudahan penggunaan teknologi, kekhawatiran akan biaya investasi dan pemeliharaan, serta ketergantungan pada ketersediaan infrastruktur pendukung . istrik dan internet stabi. Secara keseluruhan, pendekatan terpadu yang menggabungkan inovasi teknologi, perencanaan spasial yang cerdas, dan pemahaman mendalam terhadap dinamika sosialekonomi masyarakat adalah kunci untuk mewujudkan potensi lahan terbatas menjadi aset yang produktif, berkelanjutan, dan menarik dalam bentuk edu-agrowisata. SARAN