e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Manfaatan Media Audiovisual Sebagai Strategi Pembelajaran Diferensiasi di MTs Nurul Islam Indonesia Hairun Tsaniah Azhari1. Anggi Agustiani Samosir2. Cindy Cintiya Nst3. Ulfia Husna4. Surya Dermawan Damanik5 1,2,3,4,5 Pendidikan Agama Islam. Universitas Al-Washliyah Medan Email: hairuntsaniahazhari@gmail. com1, anggisamo@gmail. com2, cindycintiyanst@gmail. ulfiahusna19@gmail. com4, suryasurya01747@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi di MTs Nurul Islam Indonesia. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada adanya perbedaan karakteristik peserta didik dalam hal gaya belajar, kemampuan, dan tingkat pemahaman yang menuntut penerapan strategi pembelajaran yang adaptif dan inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi pembelajaran, wawancara dengan guru dan peserta didik, serta dokumentasi kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media audiovisual dimanfaatkan secara terencana dalam proses pembelajaran, baik sebagai pengantar materi, penjelasan konsep, maupun penguatan pemahaman peserta didik. Penerapan media audiovisual yang dikombinasikan dengan diskusi kelompok mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan belajar peserta didik, meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar, serta memperkuat pemahaman konsep. Selain itu, peran guru terbukti sangat menentukan keberhasilan pembelajaran diferensiasi melalui pengelolaan media, pengaturan diskusi, dan pemberian umpan balik yang konstruktif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk menciptakan proses belajar yang bermakna, partisipatif, dan berkeadilan di lingkungan madrasah. Kata Kunci : Media Audiovisual. Pembelajaran Diferensiasi. Keaktifan Belajar. Madrasah Tsanawiyah ABSTRACT This study aims to describe the utilization of audiovisual media as a differentiated learning strategy at MTs Nurul Islam Indonesia. The background of this research is based on the diversity of studentsAo characteristics in terms of learning styles, abilities, and levels of understanding, which requires adaptive and inclusive learning strategies. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through classroom observations, interviews with teachers and students, and documentation of learning activities. The results indicate that audiovisual media were systematically utilized in the learning process as an introduction to the material, a means of concept explanation, and a tool for reinforcing studentsAo The integration of audiovisual media with group discussion activities was able to accommodate differences in studentsAo learning abilities, increase learning motivation and classroom participation, and enhance conceptual understanding. Furthermore, the role of teachers was found to be crucial in the successful implementation of differentiated learning, particularly in managing media use, facilitating discussions, and providing constructive feedback. This study concludes that the use of audiovisual media as a differentiated learning strategy can serve as an effective alternative to create meaningful, participatory, and equitable learning experiences in madrasah education. Keywords: Audiovisual Media. Differentiated Learning. Learning Engagement. Islamic Junior High School e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PENDAHULUAN Di era digital saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Salah satu implikasi pentingnya adalah kemunculan dan pemanfaatan media audiovisual sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Media audiovisual terdiri atas kombinasi elemen suara dan gambar yang dirancang untuk membantu penyampaian materi secara lebih konkret, menarik, serta mampu menjembatani beragam gaya belajar siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan Secara teoritis, media audiovisual berdasarkan teori pembelajaran multimedia mampu memperkuat pemrosesan informasi dalam memori jangka panjang karena keterlibatan dua saluran sensorik sekaligus . uditori dan visua. Hal ini mendukung pemahaman konsep, motivasi belajar, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar mengajar (Fahmi Rohim. Arif Abdurrahman, 2. Berbagai penelitian telah mengungkapkan manfaat media audiovisual dalam konteks pembelajaran. Misalnya. Meliana et al. menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran audiovisual mampu meningkatkan partisipasi aktif, perhatian, minat, dan semangat belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn melalui peningkatan keterlibatan diskusi dan respons siswa terhadap materi yang disajikan secara visualauditori. Selanjutnya, penelitian di MTs Negeri 1 Jombang menunjukkan bahwa media audiovisual seperti film, animasi, dan presentasi interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi fiqih sekaligus meningkatkan motivasi melalui lingkungan belajar yang lebih dinamis dan menyenangkan (Salim. Nur, 2. Hasil serupa juga ditemukan dalam konteks tematik di SD, di mana media audiovisual berbasis YouTube terbukti berpengaruh positif terhadap pemahaman konsep peserta didik (Azizah & Widiyanto. Namun demikian, efektivitas media audiovisual tidak hanya terletak pada peningkatan pemahaman materi saja. Dalam ranah pedagogi modern, pembelajaran perlu mengakomodasi perbedaan karakteristik peserta didik, baik dalam hal gaya belajar, kemampuan awal, maupun minat belajar. Konsep pembelajaran ini dikenal sebagai pembelajaran diferensiasi . ifferentiated instructio. , di mana guru menyesuaikan konten, proses, produk, dan lingkungan belajar untuk memenuhi kebutuhan individual peserta didik. Penelitian di kelas bahasa menunjukkan bahwa strategi pembelajaran diferensiasi dapat meningkatkan minat, pemahaman, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris, khususnya ketika pendekatan ini memberikan ruang bagi kemampuan berbeda tiap individu (Fowen. Eric, 2. Meski demikian, sebagian besar penelitian yang ada masih terfokus pada efektivitas media audiovisual secara umum dalam meningkatkan hasil belajar . isalnya pemahaman konsep, motivasi, atau hasil akademi. , sedangkan studi yang menghubungkan pemanfaatan media audiovisual secara khusus sebagai strategi pembelajaran diferensiasi di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MT. masih sangat terbatas. Studi oleh Siti Norma Abd. Gafar. Misnah . menunjukkan implementasi pembelajaran diferensiasi melalui media audiovisual dapat meningkatkan sikap toleransi siswa dalam mata pelajaran IPA di sekolah dasar, menandakan manfaat integratif antara media dan pendekatan diferensiasi. Namun, penelitian tersebut masih berada pada tingkat SD dan menitikberatkan pada aspek sikap siswa, bukan pada pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi diferensiasi pembelajaran yang komprehensif di tingkat MTs, khususnya di konteks lokal seperti MTs Nurul Islam Indonesia. Mayoritas penelitian terdahulu cenderung bersifat deskriptif atau evaluatif terhadap praktik media audiovisual, tanpa mengulas secara mendalam bagaimana media tersebut diintegrasikan ke dalam strategi pembelajaran diferensiasi, baik dari sisi desain pembelajaran, penyesuaian terhadap karakteristik siswa, maupun peran guru dalam mengimplementasikannya secara efektif. Ini merupakan kesenjangan konseptual . esearch ga. yang penting karena meskipun teknologi media audiovisual bisa memperkaya pengalaman belajar siswa, tanpa strategi pedagogis yang tepat seperti diferensiasi potensi maksimal media tersebut dalam menjawab kebutuhan beragam peserta didik mungkin tidak akan tercapai secara optimal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mengeksplorasi secara komprehensif pemanfaatan media audiovisual sebagai bagian dari strategi pembelajaran diferensiasi di MTs Nurul Islam Indonesia. Fokus penelitian mencakup bagaimana media audiovisual digunakan untuk menyesuaikan materi dan proses pembelajaran dengan karakteristik individu peserta didik, serta melihat sejauh mana strategi tersebut berkontribusi terhadap keterlibatan aktif dan pemahaman konsep peserta didik dalam konteks pembelajaran nyata di kelas. Dengan demikian, penelitian e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. ini tidak hanya akan mengkonfirmasi efektivitas media audiovisual dalam konteks umum, tetapi juga memberikan wawasan baru terkait keterpaduan antara teknologi pembelajaran dan strategi diferensiasi dalam praktik pendidikan Islam di tingkat menengah pertama sebuah area yang sampai saat ini masih jarang diteliti dan terdokumentasi dalam kajian ilmiah. Hal ini menjadi novelty . dari penelitian ini. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN 1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena secara mendalam dan kontekstual terkait pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi di MTs Nurul Islam Indonesia. Pendekatan kualitatif dipilih karena karakteristiknya yang memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman holistik dari fenomena sosial dan pendidikan dengan melihat perspektif langsung pelaku di lapangan (Creswell, 2. Metode deskriptif kualitatif menekankan pada narasi data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, lalu disajikan secara sistematis untuk memberikan gambaran nyata praktik pembelajaran di kelas (Moleong. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya pemahaman kontekstual dalam kajian media pembelajaran, di mana teknik pengumpulan data dikombinasikan untuk meminimalkan bias dan memperkaya temuan (Sugiyono, 2. 2 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di MTs Nurul Islam Indonesia, yang merupakan lembaga pendidikan menengah tingkat pertama dengan karakteristik lingkungan belajar yang heterogen dan peserta didik yang memiliki latar belakang kemampuan serta gaya belajar berbeda. Waktu pelaksanaan penelitian berlangsung selama 8 minggu, mulai dari fase persiapan, observasi kelas, pengumpulan data, hingga analisis awal. 3 Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian meliputi guru mata pelajaran yang menggunakan media audiovisual dalam proses pembelajaran dan peserta didik kelas Vi yang terlibat langsung dalam kegiatan belajar menggunakan media Objek penelitian adalah pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi, termasuk praktik pembelajaran, respons siswa, serta peran guru dalam menyesuaikan media terhadap kebutuhan individu peserta didik. 4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik berikut: Observasi Kelas Observasi dilakukan untuk mengamati langsung praktik pembelajaran di kelas ketika media audiovisual digunakan. Teknik ini memungkinkan peneliti mencatat interaksi guru-siswa, respons siswa terhadap media, serta strategi diferensiasi yang diterapkan guru selama pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian pendidikan, observasi partisipatif terbukti efektif untuk menangkap fenomena pembelajaran secara Wawancara Semi-Struktural Wawancara dilakukan kepada guru mata pelajaran dan beberapa perwakilan peserta didik untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam terkait persepsi dan pengalaman mereka terhadap penggunaan media audiovisual. Wawancara semi-struktural digunakan untuk memberikan ruang fleksibilitas responden dalam mengungkapkan pandangan serta pengalaman belajar mereka secara lebih detail. Dokumentasi Dokumentasi meliputi pengumpulan bahan ajar, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan materi audiovisual yang digunakan dalam pembelajaran. Dokumentasi ini juga mencakup catatan harian guru terkait implementasi strategi diferensiasi di kelas (Sugiyono, 2. 5 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian utama adalah peneliti itu sendiri selaku alat pengumpul data. Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan aktif dalam mengamati, mencatat, dan melakukan refleksi terhadap fenomena yang terjadi di lapangan sehingga data yang dikumpulkan bersifat kaya dan kontekstual. Selain itu, digunakan pedoman wawancara dan lembar observasi yang telah diuji validitasnya melalui kajian pustaka dan uji coba awal. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. 6 Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis melalui beberapa tahapan, yakni: . Reduksi Data. Menyederhanakan data mentah menjadi unit analisis yang lebih fokus pada fenomena inti. Penyajian Data. Data disajikan dalam bentuk naratif deskriptif yang memetakan praktik pembelajaran audiovisual serta strategi diferensiasi secara sistematis. Penarikan Kesimpulan. Berdasarkan pola temuan dan hubungan antar variabel, peneliti menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan penelitian. Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan, serta dilengkapi dengan triangulasi untuk memperkuat kredibilitas temuan (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. 7 Validitas dan Reliabilitas Untuk menjamin validitas data, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber data . bservasi, wawancara, dokumentas. dan triangulasi teknik guna meminimalkan bias interpretasi. Seluruh temuan diverifikasi melalui silang sumber serta dikonfirmasi oleh partisipan untuk memastikan akurasi dan HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Bentuk Pemanfaatan Media Audiovisual dalam Proses Pembelajaran di MTs Nurul Islam Indonesia Berdasarkan hasil observasi pembelajaran yang dilakukan di MTs Nurul Islam Indonesia, pemanfaatan media audiovisual telah menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran di kelas, khususnya pada mata pelajaran yang menuntut pemahaman konseptual dan kontekstual. Media audiovisual yang digunakan meliputi video pembelajaran berbasis animasi, tayangan presentasi visual (PowerPoin. , serta video kontekstual yang relevan dengan materi pelajaran. Penggunaan media tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu penyampaian materi, tetapi juga sebagai sarana untuk memancing perhatian dan partisipasi aktif peserta didik. Guru menggunakan media audiovisual pada tahap pendahuluan untuk membangun apersepsi, pada tahap inti untuk menjelaskan konsep, serta pada tahap penutup sebagai sarana penguatan materi. Pola ini menunjukkan bahwa media audiovisual tidak digunakan secara sporadis, melainkan direncanakan sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang sistematis. Hasil ini sejalan dengan temuan Nur Salim dan Jumari . yang menyatakan bahwa media audiovisual berperan efektif ketika diintegrasikan ke dalam tahapan pembelajaran secara utuh, bukan hanya sebagai pelengkap semata . Guru juga memanfaatkan media audiovisual untuk menyederhanakan materi abstrak menjadi lebih Misalnya, konsep yang sulit dipahami melalui penjelasan verbal semata disajikan melalui video animasi atau visual bergerak sehingga peserta didik lebih mudah menangkap inti pembelajaran. Hal ini memperkuat pandangan Mayer dalam teori multimedia learning yang menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif ketika informasi disajikan melalui kombinasi saluran visual dan auditori (Yunita Sari. Fitri Dewi Puspita, 2. Hasil observasi di MTs Nurul Islam Indonesia menunjukkan bahwa strategi penggunaan media audiovisual juga melibatkan unsur integrasi media yang lebih dinamis dan kontekstual. Secara spesifik, guru dalam beberapa pertemuan menggunakan klip pendek yang relevan secara kultural dan kontekstual dengan kebutuhan peserta didik sehingga informasi tidak hanya disampaikan secara visual, tetapi juga mampu memicu refleksi tinggi peserta didik terhadap konten materi. Konfigurasi audiovisual semacam ini tidak hanya tampil sebagai sekadar media hiburan, tetapi berfungsi sebagai sumber representasi konsep yang mendukung pembelajaran bermakna. Misalnya, penggunaan video dokumenter singkat yang menggambarkan praktik nyata suatu fenomena dalam kehidupan sehari-hari ternyata mampu membuat siswa lebih cepat menangkap hubungan antara teori dan konteks nyata. Temuan ini sejalan dengan penelitian meta-analisis nasional yang menunjukkan bahwa media audiovisual memiliki efek signifikan dalam meningkatkan pemahaman materi karena mampu membangkitkan keterlibatan kognitif dan afektif peserta didik melalui kombinasi suara dan visual yang kontekstual. Dalam studi meta-analisis tersebut, nilai effect size rata-rata media audiovisual termasuk dalam kategori efek besarterhadap pemahaman materi siswa, yang memperkuat peran media sebagai komponen penting dalam proses pembelajaran formal di sekolah dasar hingga menengah (Yunita Sari. Fitri Dewi Puspita, 2. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Strategi pemanfaatan media yang berhasil di lapangan tidak terbatas pada satu format media saja, tetapi melibatkan integrasi antara video, visual teks, dan audio naratif untuk membentuk suatu pengalaman belajar multimedia yang komprehensif. Misalnya, dalam pembelajaran tematik atau materi yang sifatnya prosedural atau deskriptif, media audiovisual berupa tayangan naratif bergambar yang dilengkapi dengan suara instruksional terstruktur mampu memfasilitasi peserta didik menangkap alur materi secara sistematis suatu pendekatan yang mendukung keterlibatan multisensorik peserta didik. Pendekatan integratif ini substansial karena sesuai dengan prinsip pembelajaran multimedia yang menyatakan bahwa pemrosesan informasi yang melibatkan dua saluran . isual & auditor. sekaligus cenderung menghasilkan pemahaman yang lebih baik dibandingkan pembelajaran verbal atau visual saja. Studi-studi empiris dalam literatur pendidikan modern juga memperlihatkan bahwa penggunaan media audiovisual secara optimal mendukung keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar yang lebih kompleks, seperti analisis kasus, identifikasi hubungan sebab-akibat, dan sintesis informasi melalui diskusi kelompok pascapemutaran media (Salim. Nur, 2. Selain meningkatkan pemahaman kognitif, bentuk pemanfaatan media audiovisual yang variatif juga terbukti berpengaruh terhadap motivasi dan keterlibatan emosional peserta didik. Pemanfaatan suara, narasi, dan visual dinamis telah dilaporkan dalam beberapa penelitian sebagai faktor yang meningkatkan minat belajar siswa karena pengalaman belajar terasa lebih relevan, interaktif, dan tidak monoton dibandingkan metode ceramah tradisional semata. Hasil observasi di MTs Nurul Islam Indonesia juga mengonfirmasi bahwa tingkat fokus siswa terhadap materi meningkat signifikan ketika media audiovisual digunakan sebagai pengantar materi dan sebagai pemantik diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media audiovisual di MTs Nurul Islam Indonesia telah berjalan secara fungsional dan kontekstual, meskipun masih bergantung pada kreativitas dan kesiapan guru dalam mengelola media tersebut. 2 Penerapan Media Audiovisual sebagai Strategi Pembelajaran Diferensiasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa media audiovisual digunakan oleh guru sebagai sarana untuk mengakomodasi perbedaan karakteristik peserta didik, khususnya dalam hal kemampuan memahami materi dan gaya belajar. Peserta didik yang memiliki kecenderungan visual lebih mudah memahami materi melalui tampilan gambar dan video, sementara peserta didik dengan gaya belajar auditori terbantu melalui penjelasan suara dalam media audiovisual. Guru mengombinasikan pemanfaatan media audiovisual dengan diskusi kelompok dan penugasan yang bervariasi. Peserta didik dengan kemampuan akademik tinggi diberi tugas untuk menganalisis isi video secara lebih mendalam, sedangkan peserta didik dengan kemampuan sedang dan rendah difokuskan pada pemahaman inti materi yang disajikan dalam media. Strategi ini mencerminkan penerapan pembelajaran diferensiasi pada aspek prosesdan produk pembelajaran. Dalam praktik di MTs Nurul Islam Indonesia, guru memulai penerapan strategi diferensiasi dengan melakukan asesmen diagnostik awal untuk mengetahui profil belajar peserta didik. Asesmen ini mencakup penilaian gaya belajar . isual, auditori, kinesteti. , kesiapan akademik dalam materi yang akan dipelajari, serta preferensi media belajar. Hasil asesmen ini kemudian menjadi dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran yang variatif dengan memanfaatkan media audiovisual sesuai karakteristik peserta didik. Pola ini sejalan dengan prinsip diferensiasi yang digagas oleh Tomlinson, yakni menyesuaikan pengalaman belajar agar setiap peserta didik dapat mencapai kompetensi sesuai kemampuan mereka masing-masing. Setelah asesmen awal, guru mengintegrasikan media audiovisual ke dalam tiga aspek utama strategi diferensiasi: konten, proses, dan produk pembelajaran. Pada aspek konten, materi pelajaran disajikan dalam berbagai format audiovisual yang dapat diakses secara fleksibel oleh peserta didik. Misalnya, materi yang abstrak atau kompleks ditransformasikan menjadi tayangan video ilustratif atau animasi yang menyederhanakan konsep sehingga peserta didik dengan gaya belajar visual dan auditori sekaligus dapat mengonsumsinya secara optimal. Penggunaan konten audiovisual ini mendukung multiple representations pembelajaran, di mana materi yang sama disampaikan melalui beberapa media yang berbeda untuk memenuhi gaya laji belajar yang berlainan (Muzammil. Izzah, 2. Pada aspek proses, media audiovisual dimanfaatkan sebagai titik awal bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar yang lebih aktif. Sebagai contoh, setelah pemutaran video materi, peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil heterogen untuk mendiskusikan isi video, mengevaluasi respon masing- e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. masing, dan menyusun ringkasan bersama. Teknik pembelajaran semacam ini mampu mengakomodasi peserta didik yang secara alami cenderung belajar melalui diskusi dan interaksi sosial, sekaligus memberi ruang bagi peserta didik yang lebih pasif untuk berpikir reflektif setelah menyaksikan media audiovisual. Bentuk pembelajaran diferensiasi semacam ini terbukti relevan dengan praktik nyata di kelas karena tidak memaksakan satu gaya belajar saja, melainkan menciptakan rangkaian kegiatan yang adaptif terhadap variasi gaya belajar di kelas. Pentingnya peran media audiovisual dalam strategi diferensiasi juga tercermin pada produk Produk pembelajaran di sini tidak hanya berupa hasil tes tertulis, tetapi juga hasil representasi siswa melalui proyek multimedia, presentasi kelompok, atau tugas kreatif yang memanfaatkan elemen Misalnya, peserta didik dapat diminta membuat video singkat yang menjelaskan ulang konsep pelajaran dengan gaya mereka sendiri, atau menyusun narasi visual untuk mempresentasikan pemahamannya terhadap suatu topik. Produk seperti ini memungkinkan peserta didik menunjukkan kompetensi mereka secara lebih luas bukan hanya dalam bentuk tulisan atau ulangan konvensional sehingga guru dapat menilai pemahaman siswa secara lebih holistik. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembelajaran diferensiasi yang dikemukakan oleh Tomlinson dalam (Ekaningtiass et al. , 2. bahwa diferensiasi dapat dilakukan melalui penyesuaian konten, proses, dan hasil belajar sesuai kebutuhan peserta didik. Penelitian oleh Amanta & Wahidin . juga menunjukkan bahwa integrasi media audiovisual dalam pembelajaran diferensiasi mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan karena peserta didik merasa kebutuhan belajarnya diperhatikan . Dengan demikian, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa media audiovisual tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu visual, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam menerapkan pembelajaran diferensiasi di kelas. 3 Manfaat Media Audiovisual terhadap Keaktifan. Motivasi, dan Pemahaman Peserta Didik Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, penggunaan media audiovisual memberikan dampak positif terhadap keaktifan, motivasi, dan pemahaman peserta didik. Peserta didik terlihat lebih fokus mengikuti pembelajaran, lebih berani mengemukakan pendapat, serta lebih aktif dalam diskusi kelompok setelah menyimak tayangan audiovisual. Manfaat tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Dampak Penggunaan Media Audiovisual terhadap Aktivitas Belajar Peserta Didik Aspek yang Diamati Sebelum Media Audiovisual Setelah Media Audiovisual Keaktifan bertanya Rendah Meningkat Partisipasi diskusi Terbatas Lebih merata Fokus pembelajaran Mudah teralihkan Lebih terjaga Pemahaman materi Bersifat parsial Lebih menyeluruh Peningkatan keaktifan dan pemahaman peserta didik ini sejalan dengan penelitian Kalang et al. yang menyatakan bahwa media audiovisual mampu meningkatkan motivasi intrinsik siswa karena pembelajaran terasa lebih menarik dan tidak monoton. Azizah dan Widiyanto . juga menemukan bahwa penggunaan media audiovisual berbasis video berdampak signifikan terhadap pemahaman konsep peserta didik karena penyajian materi menjadi lebih kontekstual dan mudah dipahami . Temuan ini memperkuat asumsi bahwa media audiovisual memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya ketika dikaitkan dengan strategi pembelajaran diferensiasi. 4 Peran Guru dalam Mengintegrasikan Media Audiovisual dengan Strategi Diskusi Kelompok Peran guru dalam mengintegrasikan media audiovisual dengan strategi diskusi kelompok sangat krusial untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan bermakna. Sebagai perencana pembelajaran, guru bertanggung jawab untuk memilih media yang relevan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, sehingga dapat merangsang minat siswa. Guru juga berfungsi sebagai fasilitator diskusi, mendorong siswa untuk berbagi pendapat dan berdiskusi tentang materi yang telah ditonton, serta memberikan arahan yang jelas mengenai tujuan dan aturan diskusi. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Guru perlu mengatur kelompok dengan bijak, memastikan setiap siswa memiliki kesempatan untuk Dalam perannya sebagai pengamat, guru juga dapat memberikan umpan balik konstruktif terhadap interaksi siswa dan menilai pemahaman mereka. Dengan menghubungkan teori dengan praktik melalui media audiovisual, guru membantu siswa mengaitkan konsep yang dipelajari dengan dunia nyata. Secara keseluruhan, peran aktif guru dalam proses ini tidak hanya memperkaya pembelajaran tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan kreativitas siswa dalam diskusi kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru sangat menentukan keberhasilan pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi. Guru tidak hanya berperan sebagai penyaji media, tetapi juga sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik dalam memahami dan mengolah informasi yang diperoleh dari media audiovisual. Guru secara aktif mengelompokkan peserta didik berdasarkan tingkat pemahaman dan mengarahkan diskusi agar setiap peserta didik dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuannya. Diskusi kelompok setelah pemutaran media audiovisual menjadi ruang refleksi dan penguatan materi, sekaligus sarana untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan kerja sama. Peran ini sesuai dengan temuan penelitian Mailatul Azizah dan Widiyanto . yang menegaskan bahwa efektivitas media audiovisual sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengelola interaksi kelas dan memberikan stimulus lanjutan melalui diskusi dan tanya jawab . Dengan demikian, media audiovisual tidak berdiri sendiri, melainkan harus diintegrasikan dengan strategi pedagogis yang tepat agar manfaatnya optimal. KESIMPULAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi di MTs Nurul Islam Indonesia, dapat disimpulkan bahwa media audiovisual telah berperan penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Media audiovisual tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu penyampaian materi, tetapi juga menjadi sarana strategis yang mampu menjembatani perbedaan karakteristik peserta didik, baik dari segi gaya belajar, tingkat pemahaman, maupun partisipasi belajar. Penggunaan media yang dirancang dan diterapkan secara terencana terbukti mampu membuat pembelajaran lebih konkret, kontekstual, dan mudah dipahami oleh peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media audiovisual yang dikombinasikan dengan strategi pembelajaran diferensiasi mampu meningkatkan keaktifan, motivasi, dan pemahaman peserta didik secara signifikan. Peserta didik menjadi lebih fokus, lebih berani mengemukakan pendapat, serta lebih terlibat dalam diskusi kelompok setelah menyimak tayangan audiovisual. Perbedaan kemampuan akademik di dalam kelas tidak menjadi penghambat proses pembelajaran, karena guru mampu mengelola media dan aktivitas belajar dengan memberikan ruang yang setara bagi setiap peserta didik untuk berpartisipasi sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih inklusif dan berkeadilan. Penelitian ini menegaskan bahwa peran guru sangat menentukan keberhasilan pemanfaatan media audiovisual sebagai strategi pembelajaran diferensiasi. Guru tidak hanya berperan sebagai pengguna media, tetapi juga sebagai perancang pembelajaran, fasilitator diskusi, dan pemberi umpan balik yang konstruktif. Kemampuan guru dalam mengintegrasikan media audiovisual dengan diskusi kelompok dan kegiatan reflektif menjadi faktor utama dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna. Oleh karena itu, pemanfaatan media audiovisual yang didukung oleh kompetensi pedagogis guru dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif dalam menghadapi keberagaman peserta didik di madrasah, khususnya di MTs Nurul Islam Indonesia. Ucapan Terima Kasih