Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2025, 8. , 181-186 Effect of palm leaf extract (Elaeis Guineensis Jacq. ) addition on the viscosity of anti-acne sunscreen cream Pengaruh penambahan ekstrak kental daun kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq. terhadap viskositas krim tabir surya antijerawat Dwi Dominica a*. Yona Harianti Putri a. Riana Versita b. Fahma Shufyani c a Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Program Studi S1 Farmasi. Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia b Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Program Studi D-i Farmasi. Universitas Bengkulu. Bengkulu. Indonesia c Fakultas Farmasi dan Kesehatan. Program Studi S-1 Farmasi. Institut Kesehatan Helvetia. Sumatera Utara. Indonesia Corresponding Authors: dwidominica@unib. Abstract Introduction: ROS due to sun exposure can damage the skin. Skin structures that are damaged or thinned cause the risk of acne on the skin, one of which is that the skin can be infected with acne-causing bacteria. Palm leaf (Elaeis guineensis Jacq. ) is one of the plants that has good antioxidants and antibacterial. The aim: This study aims to determine the effect of the addition of extracts on the viscosity of anti-acne sunscreen Methods: This study was experimental by conducting a viscosity test of sunscreen preparations using a brokfield viscometer. The results of this study show that Formula F1 . 5%) has the highest viscosity of 8,970 cPs, followed by F2 . %) at 7890 cPs, and F3 . 5%) at 7090 cPs which is included in the good viscosity range. Sunscreen creams have pseudoplastic flow properties. Conclusion: the higher the concentration of the extract, the greater the viscosity of the preparation. Keywords: Viscosity. Sunscreen. Acne. Palm Leaf (Elaeis guineensis Jacq. Abstrak Pendahuluan: ROS akibat paparan sinar matahari dapat merusak kulit. Struktur kulit yang mengalami kerusakan atau menipis menyebabkan resiko terjadinya jerawat pada kulit, salah satunya kulit dapat terinfeksi bakteri penyebab jerawat. Salah satu tanaman yang memiliki antioksidan dan antibakteri yang baik adalah daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak terhadap viskositas krim tabir surya antijerawat. Metode Penelitian ini berupa eksperimental dengan melakukan uji viskositas sediaan tabir surya menggunakan viskometer brokfield. Hasil dari penelitian ini menunjukkan Formula F1. ,5%) memiliki viskositas tertinggi sebesar 8. 970 cPs, diikuti oleh F2 . %) sebesar 7890 cPs, dan F3. ,5%) sebesar 7090 cPs yang termasuk ke rentang viskositas yang baik. Krim tabir surya memiliki sifat alir pseudoplastis. Kesimpulan: semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula viskositas sediaan. Kata Kunci: Viskositas, tabir Surya, jerawat. Daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Article History: Received: 01/12/2024. Revised: 06/02/2025 Accepted: 07/02/2025 Available Online: 09/02/2025. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Indonesia memiliki tingkat paparan sinar matahari yang sangat tinggi, karena lokasinya yang tropis di dekat garis khatulistiwa. Dosis tinggi radiasi ultraviolet (UV) yang ditemukan dalam sinar matahari dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, termasuk kulit terbakar, eritema, penyamakan, dan kanker kulit . Sinar matahari dan polutan udara seperti debu dan asap keduanya mengandung radikal bebas yang dapat bereaksi dengan radiasi UV untuk menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS). Infeksi jerawat yang disebabkan oleh bakteri seperti Propionibacterium acnes. Staphylococcus aureus, atau Staphylococcus epidermidis lebih mungkin terjadi pada individu dengan kulit yang rusak atau tipis . Untuk mencegah kerusakan kulit akibat radiasi ultraviolet dapat digunakan pelindung berupa tabir surya, tabir surya mengandung bahan kimia yang menyerap, memantulkan, atau menyebarkan cahaya saat mencapai kulit . Melindungi kulit dari efek berbahaya spesies oksigen reaktif (ROS) dan menggunakan tabir surya antibakteri akan membantu membersihkan jerawat. Tabir surya dan sifat antibakteri dapat ditemukan dalam komponen alami, seperti daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Lahan perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia mencapai 296 hektar pada tahun 2015, menurut catatan . Ekosistem buatan ini berkembang pesat di seluruh negeri, khususnya di Bengkulu. Karakteristik antioksidan daun kelapa sawit dapat melindungi terhadap produksi radikal bebas yang disebabkan oleh radiasi ultraviolet A dan B. Penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak daun kelapa sawit secara efektif menyerap radiasi ultraviolet, khususnya dalam spektrum UVB dan UVA. Hasilnya, dapat digunakan secara topikal sebagai tabir surya alami dan agen pemutih kulit . Menurut penelitian yang dilakukan selama satu dekade, ekstrak etanol dari daun kelapa sawit memiliki nilai IC 50 masing-masing 247 AAg/ml dan 133,58 AAg/ml untuk menghambat radikal DPPH . Daun kelapa sawit memiliki kandungan antioksidan yang tinggi . ,6754%), menurut penelitian lain, dengan nilai IC 50 sebesar 114,59 AAg/mL . Terdapat peningkatan aktivitas antioksidan yang signifikan dalam formulasi krim yang mengandung ekstrak daun kelapa sawit. yang paling efektif di antaranya. Fi, mengandung ekstrak etanol daun kelapa sawit 1,5% dan memiliki nilai IC50 sebesar 97,317 ppm . Sabun yang terbuat dari ekstrak etanol daun kelapa sawit juga menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, bakteri penyebab jerawat . Krim dipilih sebagai bentuk sediaan tabir surya dalam penelitian ini karena kemudahan pengaplikasiannya pada permukaan kulit, yang berkontribusi pada kenyamanan penggunaan kosmetik . Krim, khususnya krim jenis minyak dalam air . , dipilih karena kepraktisannya, nyaman digunakan pada kulit, tidak lengket, dan mudah dicuci dengan air . Penambahan ekstrak tanaman dalam formulasi dapat meningkatkan viskositasnya. Oleh karena itu, uji viskositas harus dilakukan untuk menjamin bahwa formulasi krim tabir surya yang mengandung ekstrak daun kelapa sawit memenuhi kriteria viskositas yang dapat diterima, yaitu berkisar antara 2. 000 hingga 50. Jika viskositas krim terlalu tinggi maka kecepatan sediaan untuk mengalir lambat, yang menyebabkan semakin kecil pula daya sebar sediaan. Viskositas krim yang terlalu tinggi membuat sediaan mengalir lebih lambat, sehingga mengurangi daya sebar dan kenyamanan pengguna . Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Metode Penelitian Alat dan Bahan Panci, batang pengaduk, pelat pemanas, gelas kimia, gelas ukur, neraca analitik, lumpang dan alu, dan viskometer Brookfield semuanya digunakan dalam penelitian ini. Asam stearat. TEA, setil alkohol, gliserin, oleum rosae, air suling, metil paraben, propil paraben, dan ekstrak etanol daun kelapa sawit adalah beberapa bahannya. Pembuatan Krim Tabir Surya Memulai dengan basis krim minyak dalam air (O/A) adalah langkah pertama dalam pembuatan krim. Ada dua fase pada basis ini: fase minyak dan fase air. Langkah pertama dari fase minyak memerlukan pelelehan propil paraben di atas penangas air yang diatur pada suhu 70AC setelah menambahkan asam stearat dan setil alkohol ke dalam cangkir porselen. Cangkir ukur diisi dengan air suling. TEA, gliserin, dan metil paraben, lalu dipanaskan hingga 70AC untuk membuat fase air. Setelah komponen minyak larut, campuran tersebut dimasukkan ke dalam lumpang panas dan diaduk hingga halus. Langkah berikutnya adalah menambahkan fase air secara bertahap sambil diaduk terus-menerus hingga terbentuk massa krim. Langkah berikutnya adalah memasukkan ekstrak daun kelapa sawit yang kental secara bertahap ke dalam campuran krim sambil diaduk terus-menerus hingga semuanya tercampur. Uji Viskositas Viskositas sediaan krim yang dihasilkan diukur menggunakan uji viskositas. Untuk melakukan uji ini, digunakan viskometer Brookfield, yaitu spindel nomor 3 dan kecepatan yang dapat diatur yang ditetapkan ke nilai konstan. Setelah mengisi gelas kimia 100 mL dengan campuran, spindel diturunkan hingga terendam seluruhnya dalam cairan. Kisaran ideal untuk viskositas formulasi krim adalah 2. 000 hingga 50. cPs . Hasil dan Pembahasan Sediaan krim harus memiliki konsistensi yang memudahkan pengaplikasian, sehingga dilakukan uji viskositas untuk menentukan kekentalannya. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil uji viskositas. Table 1. Hasil Uji Vikositas Menggunakan Viskometer Brookfield Formula Kecepatan . Keterangan: F0: Sediaan krim tanpa ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. F1: Sediaan krim dengan 1,5% ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. F2: Sediaan krim dengan 3% ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. F3: Sediaan krim dengan 4,5% ekstrak daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Uji viskositas menunjukkan bahwa konsistensi krim yang ideal akan berada di tengah-tengah, tidak terlalu kental atau terlalu encer. Sediaan krim harus memiliki viskositas antara 2. 000 dan 50. 000 cPs, menurut SNI 16-4399-1996. Krim dengan nilai viskositas yang lebih besar akan lebih kental daripada krim dengan nilai yang lebih rendah. Viskometer Brookfield digunakan untuk tujuan mengukur viskositas. Tabel 1 menunjukkan bahwa viskositas setiap formula bervariasi. Pada 60 rpm, viskositas Formula F1 adalah 8. cPs, sedangkan Formula F2 dan F3 memiliki viskositas masing-masing 7. 890 cPs dan 7. 090 cPs. Untuk mencapai hasil yang tepat, viskositas ditentukan menggunakan nilai %Torque, yang mendekati 100 dan diperoleh pada kecepatan 60 rpm . Hal ini dikarenakan viskositas yang lebih tinggi dihasilkan dari penggunaan ekstrak yang lebih sedikit dalam sediaan krim, sehingga krim menjadi lebih stabil karena partikel dalam sediaan menjadi lebih sulit bergerak dengan peningkatan viskositas. Pedoman SNI masih Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. menetapkan viskositas antara 2. 000 hingga 50. 000 cPs, yang saat ini dicapai oleh semua formula sediaan krim . Ada dua jenis aliran viskositas yang berbeda: Newtonian dan non-Newtonian. Ada lima jenis aliran non-Newtonian yang berbeda: plastis, pseudoplastik, dilatan, tiksotropik, dan antitiksotropik . Pada Tabel 1 kita dapat melihat bahwa sediaan krim tabir surya ekstrak daun kelapa sawit diukur viskositasnya. Sebagai akibat dari variabel penyimpanan dan variasi kandungan ekstrak antar formula, viskositas F0. F1. F2, dan F3 menurun. Semakin konsentrasi besar jumlah ekstrak pada sediaan, maka sediaan yang didapat semakin encer dan semakin rendah nilai viskositasnya karena tidak mampu menahan zat aktif untuk tetap terdispersi sehingga dapat menurunkan viskositas . Formulasi 1 Shearing Stress . yne/cm. Shearing Stress . yne/cm. Formulasi 0 Formulasi 3 Rate of shear . Shearing Stress . yne/cm. Shearing Stress . yne/cm. Formulasi 2 Rate of Shear . Rate of Shear . Rate of Shear . Gambar 1. Rheogram Formulasi 0, 1, 2, dan 3 Berdasarkan hasil perhitungan dan gambar grafik hubungan antara SS vs SR menunjukkan semua sedian sediaan krim tabir surya dengan variasi kosentrasi ekstrak etanol daun kelapa sawit memilki sifat alir pseudoplastis yang mana menunjukkan bahwa viskositas krim sediaan krim tabir surya F0. F1. F2 dan F3 memenuhi syarat karena berkisar antara 2. 000 cP sampai 50. 000 cP . Berdasarkan gambar grafik diatas hasil sifat alir sediaan krim tabir surya menunjukkan sifat alir pseudoplastis. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Pusita et al. yang mana sediaan krim pada umunya memiliki tipe aliran non-newtonian. Viskositas krim yang baik dan tipe alir yang ideal untuk sediaan krim yaitu pseudoplastis karena saat dioleskan pada kulit viskositas sediaan akan menurun yang berakibat daya sebar akan meningkat sehingga memundahkan saat pemakaian sediaan. Semakin besar gaya yang dikenakan, maka aliran akan semakin lancar, dengan kata lain nilai viskositas akan semakin menurun menurun . Journal of Pharmaceutical and Sciences 2025. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kesimpulan Berdasarkan hasil evaluasi viskositas, dapat disimpulkan bahwa penambahan ekstrak etanol daun kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. ) berpengaruh terhadap viskositas krim tabir surya antijerawat. Formula F1 memiliki viskositas tertinggi sebesar 8. 970 cPs, diikuti oleh F2 sebesar 7890 cPs, dan F3 sebesar 7090 cPs. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sedikit ekstrak yang ditambahkan ke dalam sediaan krim, viskositasnya semakin tinggi, sehingga sediaan menjadi lebih stabil karena pergerakan partikel dalam krim menjadi lebih sulit akibat konsistensinya yang lebih kental. Meskipun terdapat perbedaan viskositas pada setiap formula, semua sediaan krim memenuhi standar viskositas yang ditetapkan oleh SNI, yaitu dalam rentang 2000 cPs 000 cPs. Acknowledgment Terimakasih untuk Lembaga LPPM unib yg berkontribusi mendanai penelitian ini dengan Kontrak Penelitian Pembinaan UNIB Nomor: 2913/UN30. 15/PT/2024. Referensi